MEA CULPA [Chap. 9]

Author : Aitsil96

“Mungkinkah… caramu bertahan hidup selama ini… sama seperti Seung Hyun?”

Deg!

Tenggorokanku tiba-tiba tercekat mendengar pertanyaan tak terduga itu mengalun merdu dari bibir cherinya. Seung Hyun? Bagaimana ia bisa tahu tentang pria itu? Mungkinkah mereka telah saling mengenal sebelumnya? Lalu… apa hubungan gadis ini dengan Seung Hyun?

“Mak… maksudmu?”

Manik hazel itu menatap lurus padaku. Tajam. Entah penglihatanku yang salah, namun dari jarak sedekat ini aku bisa melihat genangan air di pelupuk matanya. Kepedihan tersirat di sana. Melihat rasa kesakitan itu tergambar di riak wajahnya hanya membuat jantungku serasa diremas dengan begitu keras. Ada yang sesak di dadaku, namun aku tak tahu apa penyebab pastinya.

“Kau menjual dirimu?”

Bagai dihunus sebilah pedang tajam, pertanyaan singkatnya mampu mengoyak jantungku. Berhamburan hingga ke dalam bentuk mengenaskan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tak pernah ku dengar pertanyaan singkat sekasar itu. Terutama diucapkan dengan lugu dan seolah tanpa ada seberkas rasa salah.

Aku menyeringai. Mengapa ini terasa amat hina?

“Darimana kau tahu tentang Seung Hyun?”

Gadis itu memalingkan wajahnya lalu tersenyum mengejek, “Jadi… benar?”

Mwo?”

“Kau! Kau sama saja dengan yang lain!”

Telunjuknya mengarah tepat di depan wajahku, bisa ku dengar napasnya yang memburu seakan-akan menahan amarah. Hendak melangkah untuk menjauh, namun gerakan tanganku lebih cepat untuk manahan lengannya.

Wae geurae?”

“Lepaskan!” bentaknya yang masih memunggungiku.

“Aku tak akan melepaskanmu sebelum aku tahu alasanmu melakukan ini padaku.”

“Memangnya apa… pedulimu?”

Manik hazel itu melirikku tajam, menoleh melewati bahunya. Ia menggigit bibir bawahnya yang gemetaran. Oh, shit! Mengapa hanya dengan melihat bibir cheri itu mampu membuatku membayangkan hal lain yang tidak semestinya? Imajinasiku bergerak liar. Di luar kendali, aku bahkan membayangkan betapa manisnya bibir itu untuk aku cicipi. Terkutuklah kau, Kwon Ji Yong!

Di tengah ketidakwarasan yang melanda, Sandara akhirnya berhasil melepaskan cengkeramanku, “Mengapa… harus kau?”

Mataku tertumbuk padanya. Alisku berkerut samar dengan lidah yang masih kelu. Ucapan serta kelakuannya membuatku luar biasa bingung. Apa yang gadis itu maksudkan? Apa yang ia harapkan dari pria sepertiku? Tanpa sadar, ada gemetar aneh merayapi hingga membuatku luar biasa risih. Seolah-olah… aku telah melakukan kesalahan fatal padanya.

Bukankah ini aneh? Aku bahkan tak mempunyai alasan untuk menjelaskan jati diriku yang sebenarnya pada Sandara. Ia tak memunyai hak untuk mencampuri lebih jauh tentang kehidupan pribadiku. Memangnya… hubungan macam apa yang terjalin di antara kami hingga aku harus merasa bersalah padanya?

“Mengapa kau sama saja dengan yang lain?”

Ucapannya sempurna menarikku ke alam sadar. Aku menoleh dengan tatapan yang masih diselimuti kebingungan, “Dara-ssi…”

“Jangan!” ia menampik uluran tanganku, “Jangan pernah temui aku lagi untuk alasan apapun!”

Dengan berakhirnya ucapan itu, maka yang bisa ku lakukan selanjutnya adalah berdiri mematung seraya menatap punggung ringkih milik Sandara yang menjauh. Aku tak bisa menahannya lebih lama. Seolah ada cengkeraman kasar di kakiku yang menahanku untuk tidak mengejarnya. Lagipula… untuk apa? Apa alasanku harus menjelaskan semua ini padanya?

Akhirnya aku hanya bisa menunduk seraya menghela napas kasar. Sadarlah, Kwon Ji Yong! Ia bukan siapa-siapa bagimu!

*****

Sandara terdiam di ujung lorong sepi itu dengan napas memburu. Satu tangannya ia gunakan untuk berpegangan pada dinding, sementara satu lainnya untuk memegang dadanya. Sesak. Paru-parunya seakan terhimpit bongkahan batu besar hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. Matanya memanas dengan sorot pandang yang tak bisa lagi fokus. Cairan asin itu menggenang di pelupuknya.

Menangis? Ck, Sandara bahkan tak sudi untuk mengakuinya.

Setelah meninggalkan Ji Yong yang masih terpaku di tempatnya, gadis itu melangkah sembarang tanpa tujuan hingga berakhir di sini. Lorong sepi dan cukup gelap yang masih berada di dalam rumah megah milik Seung Ri. Bukan ia tak hapal jalan keluarnya, namun Sandara tak sanggup melangkah lebih jauh.

Walaupun pria itu tak menjawab kebenaran yang ditanyakan tentang pekerjaannya, namun ekspresi yang tergambar sudah terpampang jelas bagi Sandara. Ji Yong memang melakukan pekerjaan itu. Terlebih kehadiran Seung Hyun di sana telah membuat Sandara yakin bahwa tak ada kesalahpahaman tentang anggapannya pada Ji Yong.

Gadis itu mendesah frustasi, ia bahkan tak sanggup mengingat pekerjaan kotor macam apa yang pria itu lakukan. Ini aneh!

Bukankah tak seharusnya gadis itu merasa marah pada Ji Yong? Mengapa? Mengapa ia harus merasakan amarah yang membludak ini pada pria yang bahkan namanya saja baru ia ingat beberapa saat lalu?

Ia juga… menangis? Haruskah? Memangnya… untuk siapa ia menangis? Menangisi Ji Yong? Namun… mengapa? Apa hubungan mereka hingga bahkan Sandara harus repot-repot membuang air mata miliknya yang terlalu berharga untuk menangisi Ji Yong? Berbagai pertanyaan tak waras mulai berkelebatan dalam benaknya. Membuat kepala gadis itu serasa penuh dan membuat pening kepalanya.

Shit! Ini sama sekali tidak masuk akal!

“Dara-ya?”

Gadis itu menoleh cepat dengan jantung yang hampir melompat dari tempatnya, “Ne?”

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Sandara menghela napas lega begitumendapati Seung Ri yang berada di hadapannya. Dengan gerakan samar ia mengusap wajahnya seraya berusaha untuk menghapus jejak air mata yang masih membekas di pipinya.

Mian, tadinya aku akan pulang.”

“Pulang?” Seung Ri melirik arloji di tangan kirinya, “Ini bahkan baru jam sebelas, Dara-ya.”

“Aku merasa tak enak badan, jadi…”

“Biar ku antar kau pulang.”

Manik hazelnya membulat, “Ne?!”

“Ku antar kau pulang. Kajja.”

Belum sempat Seung Ri menggapai tangan Sandara, pergerakan gadis itu telah lebih cepat untuk menampik, “Kau… mabuk.”

Seung Ri mendecak seraya mengacak asal surai pirangnya, “Apakah baunya begitu menyengat?”

Sandara hanya tersenyum samar untuk menanggapi, “Gwaenchanna. Aku bisa pulang sendiri.”

“Kenapa tak dengan Ji Yong saja?”

Deg! Kerongkongan gadis itu bahkan hampir tersedak karena tiba-tiba mengering saat mendengar nama itu.

“Oh ya, dimana dia?”

“Ah, ia… masih di dapur,” ucapnya tersendat setelah mengendalikan diri dengan susah payah.

Wajah Seung Ri tiba-tiba mendekat dengan alis yang bertatut, “Apa saja yang telah kau lakukan dengannya? Ku lihat… kalian semakin dekat.”

Sandara mengibaskan tangannya yang terangkat di udara, “A… ani. Apa yang kau maksud? Kami tak sedekat itu.”

Jinjja?” tanyanya penuh curiga.

Tawa canggung akhirnya menjadi pilihan Sandara untuk menutup topik pembicaraan yang dirasa makin membuatnya risih itu. Ia dan Ji Yong… dekat? Oh, omong kosong macam apa yang Seung Ri maksudkan?

“Awas saja jika pria sialan itu berani mendekatimu! Ingat! Kau sudah menjadi incaranku, Dara-ya.”

Sandara hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Kehadiran Seung Ri setidaknya mampu mencairkan suasana hatinya yang sempat memburuk entah karena alasan apa.

“Dimana Bom-ie?”

Seung Ri mendecak, “Kenapa kau harus selalu menanyakan kehadirannya? Sementara di depan matamu telah ada pria menggoda yang selalu kau abaikan.”

“Berhentilah membual! Aku harus mengajaknya pulang.”

“Terakhir kali ku lihat ia sedang bersama Seung Hyun.”

Mwo?!”

Wae? Kau kenal Seung Hyun?”

“Tidak,” jawabnya cepat, bahkan terlalu cepat untuk orang yang tengah dilanda kegugupan sepertinya, “Tidak, tentu saja. Hanya… gadis itu terlalu liar jika sudah berada di pesta.”

Seung Ri mengangguk, “Bom noona memang sangat menyukai pesta.”

Sandara tersenyum menanggapi lalu pamit. Walau setengah hati menolak, namun Seung Ri tidak bisa untuk tidak mengizinkan gadis itu untuk pulang. Tidak setelah melihat riak muka Sandara yang diselimuti aura tak biasa. Dalam diamnya dahi Seung Ri mengkerut samar. Mungkinkah… itu karena Ji Yong?

“Kau yakin kau bisa pulang sendiri? Bus terakhir pasti sudah berangkat. Setidaknya kau harus menemukan taksi.”

“Dee!”

Satu teriakan nyaring menginterupsi. Itu Bom. Ia datang dengan tergopoh-gopoh seraya masih memegang wine di salah satu tangannya. Perhatian Sandara maupun Seung Ri langsung teralihkan pada gadis serampangan yang mengenakan dress merah ketat berbelahan dada rendah tersebut.

“Kau kemana saja? Aku mencarimu sedari tadi.”

“Harusnya aku yang menanyakan itu padamu, Bom-ie.”

Cengiran tanpa dosa tersungging di bibirnya, “Mian.”

“Kau terlalu menikmati pestanya, noona,” ledek Seung Ri yang disambut cebikkan Bom.

“Aku pulang duluan.”

“Pulang? Ke… rumahmu?”

Seung Ri menyela, “Kau pikir ke mana lagi?”

“Diamlah, bocah!” hardik Bom lalu mengalihkan tatapan pada Sandara, “Kau… yakin?”

Ada nada khawatir dari Bom dan Sandara hanya bisa tersenyum, mengerti akan maksud pertanyaan itu. Ya, ini sudah larut malam dan ia sebenarnya tak mungkin untuk pulang ke rumah. Selain karena ia telah berbohong untuk menginap di rumah Bom, ia juga tak ingin menerima kemungkinan jika harus bertemu wanita yang amat dihindarinya di rumah.

Desahan menjijikkan mungkin saat ini tengah menggema di ruang tamunya, dan ia tak sanggup jika harus melihat pemandangan hina lain yang akan mencemari penglihatannya. Sandara mendengus, memikirkan itu hanya membuat kepalanya tambah pening.

Gwaenchanna, Bom-ie.”

“Bawa saja kunci kamarku.”

Sandara menggeleng, lalu teringat akan perkataan Seung Ri. Bukankah seharusnya Bom bersama Seung Hyun? Sial! Ia tak boleh bertemu pria itu di sini.

“Aku pamit,” ucapnya singkat seraya berbalik.

Setelahnya, Seung Ri beranjak ke balik booth DJ dan mulai bergabung dengan pestanya kembali. Sementara Bom melangkah menuju tempat yang tadi sempat ia tinggalkan. Sebuah meja di ujung kolam dengan seorang pria jangkung yang telah menunggunya di sana. Seung Hyun.

“Kau membuatku menunggu, Sweety,” suara bariton menyapa dengan seringaian menggoda.

Mian. Aku baru saja menemui temanku dulu,” jawab Bom seraya mengambil tempat di samping pria tersebut.

Tatapan Seung Hyun mengikuti pandangan Bom, terarah pada gerbang keluar dan mendapati punggung gadis mungil yang menjauh lalu menghilang di ujung, “Itu temanmu?”

Bom mengangguk seraya bergumam singkat untuk menjawab, sementara pandangan Seung Hyun masih tertuju pada ujung gerbang. Tanpa berkedip, benaknya mulai dipenuhi pertanyaan. Sepertinya ia mengenal dan pernah melihat pemilik punggung ringkih itu. Tapi… dimana?

*****

Satu jam. Waktu yang telah ku lewati di pinggiran jalan ini seorang diri kini telah genap satu jam. Memandangi kerikil yang tak ada sisi menariknya seraya beberapa kali menendangnya jauh. Sebenarnya apa yang ku lakukan di sini? Aku pun sama sekali tak mempunyai jawaban untuk itu. Suara musik masih terdengar samar-samar. Haruskah aku menunggu pestanya berakhir agar bisa kembali ke rumah itu?

Aku menghela napas kasar seraya menjambak rambutku cukup keras. Sialan! Kenapa tas ku harus tertinggal di dapur rumah Seung Ri?

Semua barangku ada di sana. Aku bahkan tak memegang ponsel untuk menghubungi Bom. Lagipula aku tak mungkin menghubunginya, ia saat ini mungkin tengah bersenang-senang dengan Seung Hyun. Aku mendecak, mengapa harus ada pria itu? Ternyata dunia tak seluas yang ku kira.

Aku tak mungkin kembali ke pesta itu. Selain ada Seung Hyun yang harus ku hindari, satu orang pria lain membuat langkahku tertahan di pinggiran jalan yang menuju gerbang rumah Seung Ri. Aku kembali mendecak seraya menggigit bibir bawahku. Namun setelah dipikirkan kembali, aku memang tak mempunyai tempat yang harus ku tuju. Tidak dengan rumah, juga kamar sewaan milik Bom.

Aku hanya ingin menyendiri untuk sementara, namun bukan berarti harus tertahan di bawah lampu jalan seperti ini! Setidaknya dengan uang di dompetku, aku bisa mencari taksi dan mencari tempat yang lebih layak untuk berdiam diri.

Suara berdecit dari gerbang rumah Seung Ri membuatku menoleh. Sebuah mobil audi hitam keluar dari sana dengan perlahan dan tiba-tiba berhenti di depanku. Manikku melebar, menyadari mobil ini adalah mobil yang aku kenali. Mobil yang dikendarai pria itu tadi sore untuk menjemputku.

Kaca depannya perlahan turun dengan wajahku yang masih tampak dungu. Aku terpaku kembali mendapati kehadiran pria yang sebenarnya ingin ku hindari setengah mati. Sempat ingin berbalik untuk bersembunyi, namun manik kelam itu seolah mengunciku lebih dalam. Oh ayolah, kau pikir kau bisa menyembunyikan dirimu setelah berada di hadapannya seperti ini, gadis bodoh?

“Dara-ssi?”

Aku menunduk, tak ingin bertemu pandang dengannya.

“Naiklah ke mobilku.”

Mulutku masih terkunci, namun pria itu tiba-tiba keluar dari mobilnya dan menampakkan dirinya di hadapanku.

“Naiklah ke mobilku,” ucapnya ulang dengan menekankan setiap katanya.

Shireo!”

“Kau pikir kau bisa kemana jika tasmu bahkan berada di mobilku?”

Aku mendongak, “Kembalikan tasku!”

Shireo!” ucapnya yang menuruti perkataaanku terakhir kali.

Sialan! Ia bahkan berani mengolokku!

“Masuklah dan akan ku kembalikan tasmu.”

Mata kami beradu pandang dengan ia yang menampilkan senyuman di sudut bibirnya. Sementara aku makin menatapnya dengan penuh kebencian, namun Ji Yong malah menatap balik padaku dengan pancaran yang berbinar dan… menggoda? Aku hanya bisa mendecih sebal dan beberapa detik kemudian ledakan tawa terdengar jelas darinya, membelah keheningan malam.

Ia… menertawaiku? Astaga, apa otaknya masih waras?

.

.

.

To be continued…

Advertisements

14 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 9]

  1. Ommo darong baru aja knal udh ada salah paham gtu ama jidi, mudah”an dngn hadirnya darong bisa bikin jidi berubah dan ninggalin khidupan nya yg ga baik,, dan gmn nanti ama dongdonghae?? Ah biarin kelautin aja lah dia mah, hhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s