Only See You [Oneshoot]

 Only See You

 Happy Reading, Hengsho. ^.^/

~~~~~

 

Aku melihatmu…

Diam, diam selalu melihatmu

Tapi apakah kau juga melihatku?

Apa aku terlihat olehmu?

Ah, pertanyaan bodoh.

Bagaimana aku bisa terlihat olehmu

Jika aku selalu bersembunyi

Dari pandanganmu…

~~~~

Apa ini? Aku tidak mengerti kenapa aku bisa menulis ini. Memalukan. Aku Park Sandara, di usiaku yang seperempat abad ini…sungguh menggelikan saat tak sengaja kembali kutemukan buku diary yang telah lama tak pernah kusentuh bahkan kulihat. Ah, kembali kutaruh buku bersampul merah muda dengan corak hati itu. Ck ck, sebegitu tertutupnya kah diriku dulu? Hingga hanya buku itu yang selalu menjadi tempat ceritaku. Kurebahkan diriku di kasur empuk, kamar lama yang kutinggalkan setelah aku melanjutkan kuliahku di luar Busan.

Jiyong?

Deg

Satu nama itu tiba-tiba terngiang dipikiranku.

Kwon Jiyong?

Kembali terukir senyum di bibirku. Aku teringat saat itu. Yah saat itu, saat yang benar-benar menggetarkan hatiku dan aku baru ingat, coretan-coretan di buku merah mudaku itu lebih banyak tertuju padanya. Anak laki-laki yang cukup populer saat itu, hingga kakak kelas pun tak jarang tanpa malu dengan lantang menyatakan cinta padanya…tapi dengan sikap dinginnya ia selalu mengabaikannya.

“Kenapa aku dulu bisa suka dia?” gumamku kembali berusaha mengingat memori-memori lamaku.

Ah…aku ingat, saat itu hujan turun. Yah, hujan turun saat aku masih menunggu bus untuk ke sekolah dan aku melihatnya. Tak jauh dariku, dia juga tengah menunggu. Kenapa dia bisa menunggu di tempat itu? Karena yang kutahu selain rumah kami berbeda arah, dia tak biasanya naik bus dan ternyata itu ia lakukan karena ban motornya bocor setelah mengantar adik perempuannya ke sekolah. Itu yang kudengar saat dia menelpon temannya untuk segera menjemputnya. Sudah kuduga dia bukanlah menunggu bus dan bukan juga dengan sengaja ingin membarengiku. Ini kisah nyata, bukanlah drama romantis…benar-benar harapan yang tinggi. Tapi disitulah aku menjadi menaruh perhatian padanya, saat tengah menunggu dengan pembawaannya yang tenang tiba-tiba dia berdiri dari duduknya. Apa yang mau dia lakukan? Itu yang kupikirkan, karena dia tiba-tiba menerobos hujan dan menghampirinya…menghampiri seorang nenek yang akan menyeberang dengan payungnya tapi terlalu takut untuk melangkah karena mobil-mobil yang seakan tidak mau memperlambat laju kendaraannya dan dia merelakan hujan membasahinya untuk membantu nenek tersebut. Betapa baiknya dia, bukan? Dan tak lama anak dari nenek itu pun datang menjemputnya, hingga akhirnya nenek itu meninggalkan payungnya padanya. Aku diam-diam melihat semuanya, dan tanpa sengaja mata kami saling bertemu…dengan cepat ku alihkan pandanganku darinya. Ah! Hatiku pasti berdegup kencang saat itu dan beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti di depannya, aku bisa menebak itu adalah temannya yang tadi ia telepon. Aku akan kembali menunggu seorang diri. Tapi tahukah kalian? Dia tiba-tiba menghampiriku, apakah kalian berpikir dia akan memberiku tumpangan? Oh, tidak…itu terlalu tinggi. Dia memberikan payung yang dia dapatkan dari nenek itu. Aku tak mengerti awalnya, hanya terdiam saat dia menyodorkannya…sampai akhirnya dia mengatakan…

‘Ambillah. Kau lebih membutuhkannya.’

Itu kata-kata yang kuingat. Kenangan yang cukup sayang dilupakan, bukan? Tapi aku tak sempat mengucapkan terima kasih saat itu, aku hanya mematung tak menyangka dia akan bertindak seperti itu padaku dan aku berharap memiliki kesempatan untuk mengucapkan terima kasih padanya. Tapi hari berganti hari, bulan berganti bulan, aku tak memiliki kesempatan itu. Aku selalu bersembunyi di balik punggung teman-temanku jika berpapasan dengannya. Karena entah kenapa aku selalu merasa tak bisa bernapas jika tanpa sengaja mata kami saling bertemu dan akhirnya aku hanya bisa selalu melihatnya diam-diam. Aku tak berani berharap, benar-benar tak berani, bermimpi dan berkhayal terlalu jauh…itu akan sangat menyakitkan.

“Ck ck, kenapa harus dia yang pertama aku ingat setelah kembali ke sini? Ah, aku harus jalan-jalan.” pikirku meninggalkan kamarku, dan berpamitan kepada kedua orangtuaku untuk sekedar melepas rindu pada kampung halamanku. Dan akhirnya aku tiba di depan sekolahku, sekolah menengah atasku…aku merindukan saat-saat diriku beranjak dewasa di tempat itu. Seorang Sandara yang pemalu, dan pendiam. Seorang Sandara yang akan betah berlama-lama di perpustakaan. Seorang Sandara yang hanya bicara jika ditanya. Aku sedikit menyesali diriku yang waktu itu, tapi bukan berarti aku tak mendapatkan pelajaran apapun…karena dari situ aku kini lebih berusaha untuk membuka diri, untuk dapat saling mengenal orang-orang di sekitarku dan lebih meningkatkan rasa percaya diriku. Sandara yang sekarang bukanlah Sandara yang dulu…seandainya aku tak terlambat mengubah diriku, mungkin-

“Dara! Kau Park Sandara, kan?”

“Eh? Ka…kau-“

Deg

Apa ini? Mimpi? Dia? Jiyong? Memanggilku? Namaku? Dia tahu aku?”

“Aku Jiyong…Kwon Jiyong, kau ingat? Ah, mungkin kau tak mengingatnya karena kita tak pernah sekelas sebelumnya.”

“Ah…iya, tak pernah.”

“Lama tak melihatmu, kudengar kau kuliah di Seoul? Kapan kau kembali? Kudengar kau mengambil jurusan farmasi? Bagaimana…apakah itu lancar?”

“Kau tahu?”

“Iya, kau pasti heran kenapa aku bisa tahu. Maaf…aku sempat mencari tahu tentangmu dulu dengan teman-temanmu.”

“Ke…kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa kau mencari tahu tentangku?”

“Ah…itu. Habis aku cukup terkejut, saat kau tiba-tiba memutuskan kuliah di sana…karena kupikir, kita bisa bertemu di universitas yang sama.”

“Kenapa?”

“Ehm, itu karena aku dulu…ingin sekali setidaknya berteman denganmu, tapi entah kenapa kau seperti objek yang tak bisa tersentuh…karena itu-“

Aku tak dapat lagi mendengar ucapannya setelah itu, aku seperti berada di dunia yang lain sekarang…dia apa maksudnya itu? Dia mencari tahu tentang aku? Berharap satu universitas yang sama denganku? Kenapa?

“Dara…Sandara?”

“Eh?”

“Intinya aku senang dapat bertemu kembali denganmu, dan mungkin Tuhanlah yang memutuskan ini adalah waktu yang tepat untuk kita kembali bertemu.”

Eh? Apa maksudnya? Apa dia me…menyukai-

“Ini.”

“Apa ini?” Aku mengambil sesuatu yang dia sodorkan.

“Undangan.”

“Undangan?”

“Iya, undangan. Undangan pernikahanku.”

Deg

“…”

“Minggu depan, aku akan menikah dan aku bermaksud mengundang guru-guru sekolah kita…kebetulan bertemu denganmu. Jadi aku secara pribadi mengundangmu.”

Aku berusaha tersenyum, seperti baru saja terbang tinggi lalu jatuh dengan hentakan yang cukup keras…itu??? Sakit!

“Kau masih di sinikan saat itu?”

“Ya.”

“Jadi kau akan datang?”

“Ya. Aku usahakan.”

“Ah. Senang mendengarnya…aku pikir akan menyenangkan jika dari dulu dapat berteman denganmu karena entah kenapa aku menyukaimu dalam beberapa hal. Sayang…saat itu aku tak memiliki keberanian untuk menyapamu lebih dulu. Jadi, mungkin sekarang waktunya. Dapatkah kita benar-benar menjadi teman?”

Kembali aku berusaha tersenyum. Dan akhirnya aku mengangguk.

“Ya. Mari berteman.” Kulihat dia mengulurkan tangannya padaku untuk berjabat tangan, akupun menerimanya.

“Baiklah. Aku duluan, masih banyak yang mau kuurus…jangan lupa kau harus datang.” ucapnya dengan senyuman yang dulu diam-diam selalu aku tunggu. Aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukkan, tapi sebelum dia menjauh…aku teringat sesuatu.

“Jiyong!”

Dia berhenti, kembali melihatku.

“Apa?”

“Terima kasih.”

“Untuk?”

“Payung.”

“Apa?”

“Payung…payung milik nenek tua yang kau berikan padaku dulu.”

“Ah. Itu? Iya…sama-sama.”

Dan setelah itu aku kembali melihatnya, melihat punggungnya yang semakin lama semakin menjauh. Cih! Seandainya dulu-

Ah, seandainya…satu kata pengharapan yang hanya sekedar menjadi harapan, karena hanya satu yang pasti dalam hidup ini bahwa waktu yang telah berlalu itu tak akan pernah bisa terulang. TAK AKAN PERNAH. Tapi biarlah…mungkin aku hanya ditakdirkan untuk melihatnya. Melihat sisi baiknya, dan sampai kapanpun hanya bisa melihatnya.

~End~

Hohoho…tiba-tiba pingin post ini, mianhe kalo endingx rada gimana gitu. Hmm, sedikit pengalaman pribadi sebenernya tapi y sutralah ya…ini hanya sekedar hiburan, kekeke.

Oya, sekalian promosi y… ^.~

11003928_930598736959391_2127836327_n

[PO : Novel ‘Love Dust’ – By Zhie]

Check >>> https://zhiedara.wordpress.com/2015/02/20/po-novel-love-dust/

atau

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/6985/love-dust

dan

[PO : Novel ‘Kisah Tentangmu’ – By : Zhie & Dilla]

Check >>> http://www.nulisbuku.com/books/view_book/6813/kisah-tentangmu

^.^/

Advertisements

22 thoughts on “Only See You [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: