[Series] I’m Just Different – 9

image

I’m Just Different [chap 9]
Author :: Hanny G^dragon (twitter : @Hannytaukand)
Cast :: Sandara Park (dara), Kwon Jiyong (Gdragon), YG (appa Jiyong)

Jiyong Pov

            Aku kini berada seperti di dalam lubang hitam dalam kehidupan. Di mana seseorang yang aku sayangi dan ku rindukan sedang tersenyum bahagia dibalik kaca. Aku melihat pantulan wajahku, memang aku mirip dengannya namun tidak dengan orang itu. Kesakitan adalah temanku saat aku dilahirkan. Menyedihkan memang, tapi inilah kenyataan yang harus aku jalani. Aku menatap dalam wanita yang cantik dan penuh pesona yang tetap dengan senyumnya yang indah dan menenangkan.

“Eomma, aku lelah seperti ini. Mengapa kau tak serta membawaku bersamamu di sana?apakah kau tak menyayangiku sehingga aku harus bersama dengan pria itu. Pria yang mencintaimu namun aku yang membuat wanita yang di cintainya meninggalkannya selamanya. Aku kini mengerti semuanya eomma. Eomma, bogoshipposho jeongmal boghosippo” ucapku menitikkan air mata sambil mengelus lembut kaca pembatas foto dengan tanganku.

“Tuan, anda di panggil untuk menemui ketua” ucap orang yang sudah pasti anjing pesuruh appa.

“Ne, aku akan menemuinya. Tapi aku belum selesai. Tunggu sampai aku selesai dan kalian tinggalkan tempat ini segera” ucapku dingin tanpa melihat wajah mereka, bersyukur mereka menuruti perkataanku. Dan aku terus memandangi foto yeoja dihadapanku, aku sungguh merindukanmu eomma.

            Aku pun berjalan menuju mobil yang sudah menungguku, mereka membawaku pada laki-laki yang selalu menyakitiku tapi aku menyayanginya. Apakah aku bodoh? Ya memang aku bodoh, berapa kalipun dia menyakitiku aku tetap menyayanginya.

~ Rumah Tuan Yang~

            Aku duduk menunggu dia datang dari ruangan kesukaannya. Aku mempersiapkan diriku untuk berdebat lagi dengannya, aku mempersiapkan diriku untuk tersakiti olehnya. Tuhan kuatkan aku kali ini.

“Kau sudah datang?” ucapnya saat tiba di ruangan pertemuan kami.

“Ne”ucapku singkat. Ia pun duduk sejajar dengan ku. Kami saling berhadapan.

“Ji, kau. Kau bukan anakku. Kau bukan darah dagingku” ucapnya lemah dan menatapku tajam, dan itu menggores hatiku yang sudah terluka dan semakin terluka.

“aku sudah tahu. Apakah kau ingin mengatakan itu saja?” tanyaku mulai emosi.

“Anni, aku hanya ingin mengingatkanmu saja. mungkin kau tahu tentang itu namun publik tahu kau adalah anakku, anak kandungku dan jika masalah ini tersebar akan sangat berpengaruh pada bisnisku. Jadi tolong kau patuhi perintah dan kata-kataku” ucap Tuan Yang selembut mungkin berbicara padaku.

“Aaah aku mengerti sekarang. Kau lebih memikirkan tentang bisnismu, tentang image mu di luar sana tanpa peduli rasa sakit bertahun-tahun yang aku rasakan karena sikapmu. Jika kau tak mau aku ada di hidupmu saat eomma melahirkanku kau bisa menelantarkanku di jalan atau jika kau berbaik hati kau simpan aku dipanti asuahan itu sudah lebih dari cukup untukku. aku tidak ingin membuat kau merasa malu mempunyai anak yang bukan darah dagingmu sendiri.” ucapku sinis.

“Ji!!! Bisakah kau mengerti, aah sudahlah. Aku sedang malas berdebat denganmu. Dan ini kartu undangan pernikahanmu dengan teman bisnisku” ucap Tuan Yang sambil memberikan kartu undangan mewah bernamakan Jiyong dengan nama seorang Yeoja yang aku sendiri tak mengenalnya.

“Mworago? Pernikahan? Kapan aku menyetujui hal bodoh itu. Shirro aku tidak akan menikah dengan siapun kecuali yeoja yang aku cintai” ucapku tegas berniat beranjak pergi.

“Jangan paksa aku menyakiti orang yang kau cintai itu, kau sangat mengenal sekali diriku Ji. Aku tidak bisa di bantah” ucap tuan Yang yang menghentikan langkahku dan dengan refleks aku berbalik.

“Jika kau menyentuh kehidupannya lagi dan keluarganya. Kau akan ku hancurkan dengan tanganku sendiri” ucapku kemudian benar-benar beranjak pergi.

**

~ Rumah Sakit ~

            Aku menunggu Dara pulang, sebelumnya ia telah mengabariku bahwa akan sedikit terlambat namun aku sudah ingin menemuinya. Aku ingin selalu melihat wajahnya yang selalu bisa membuatku tenang dan damai. Aku bukan tipe namja romantis dengan membawakan bunga atau coklat, aku bukan tipe namja yang mengikatkan tali sepatunya di jalan aku bukan seperti itu tapi aku seorang namja pecundang yang berani mencintai seorang yeoja baik-baik, yang sebenarnya aku tak pantas mendapatkannya.

“Heol, kau sudah di sini. Kan sudah ku bilang aku akan terlambat pulang” ucap yeoja dalam lamunanku yang kini nyata berada di hadapanku.

“Sudahlah, aku iseng karena tidak ada yang aku lakukan so aku menunggu di sini” ucapku bohong.

“Emm begitu. Baiklah. Kajja” ucapnya sambil naik di motor besarku. Aku pun melajukan motorku ia memelukku dari belakang. Ya, itu sangat nyaman, sangat menyenangkan dan membuatku bahagia.

“Kau ingin kemana?” tanyaku padanya di tengah-tengah perjalanan kami.

“Emm, aku ingin ke taman bermain. Bisakah?” jawabnya dengan riang. Gah apakah dia berumur 5 tahun hingga dia ingin ketaman bermain seperti itu? Yeoja aneh ini selalu saja memuat kejutan dalam hidupku.

“Tentu saja, nyonya Jiyong” ucapku singkat, namun membuatnya tersenyum manis yang ku lihat di kaca spion ku.

~ Taman Hiburan ~

“Huaaah, aku mau naik itu Ji. Kajja” ucapnya bersemangat menarik tanganku menuju wahana-wahana aneh, dan aku hanya bisa menuruti langkahnya. Apakah benar dia seorang dokter atau seorang yeoja sekolah dasar. Pabbo.

“Kau tidak lelah?” tanyaku padanya, hampir semua wahana sudah kami coba.

“Anni. Ini menyenangkan, aku sudah lama tidak kesini semenjak appa meninggal. Aah kita belum mencoba itu. Kajja kita naiki itu Ji” rengeknya, dan lagi-lagi aku menurutinya. Kini aku berada di sangkar burung yang berputar secara berotasi dengan teratur.

“Ji di atas sini terlihat semuanya, pemanadangan yang bagus bukan” ucapnya mentap pemandangan yang terlihat dari tempat kami berada.

“emm” jawabku singkat masih melihat pemandangan yang lebih indah dari pada pemandangan yang ia lihat, yups wajahnya, wajahnya lebih indah daripada pemandangan kota.

“Ji, bagaimana dengan appa mu? Apakah ada perubahan dengan sikapnya?” tanyanya mengusik ketenanganku sehingga aku teringat akan ancaman yang appa bicarakan padaku.

“Anni, sudahlah jangan membicarakan itu. Aku tidak ingin membicarakannya” ucapku malas

“Ah mianhae Ji. Aisshht dasar mulutku yang tidak tahu diri. Mianhae Ji” ucapnya menyesal sambil memukul sendiri bibir tipisnya. Melihat itu aku tersenyum tipis, dan menarik lengannya, hingga ia terjatuh dipelukanku.

“Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri, semua yang kau miliki itu punya ku. Arraso” ucapku menatap manik matanya yang hanya beberapa centi dari wajahku, dan akupun mengecup bibirnya lama hingga kami tak tahu kami sudah berada di bawah.

**

            Setelah lelah menaiki semua wahana, Dara memintaku untuk mengantarkanya kesebuah tempat makan favoritnya dan disinilah tempatnya. Sebuah rumah jjamyeon sederhana yang memang sangat ramai pembelinya.

“Ini sangat enak” ucapnya saat melahap jjamyeon miliknya. Dan aku hanya tertawa melihat tingkahnya.

“makan dengan perlahan” ucapku mengingatkan.

“Neeee” ucapnya acuh dia sibuk dengan makanannya, benar-benar yeoja ini.ckckck.

            Setelah kami selesai menghabiskan makanan kami, aku dan Dara menuju motorku, dan saat Dara hendak mendekat sebuah motor kencang sangat dekat dengan trotoar hampir melukai Dara. Dan tidak jauh dari tempatku dan Dara aku melihat pria-pria berjas hitam sedang mengawasi kami.

“Tuan Yang, kau benar-benar dengan ancamanmu,huh?” umpatku dalam hati. Ku lajukan motorku menuju apartemen Donghae, Dara dan keluarganya masih di apartemen sahabatnya itu walau aku tahu Donghae menyukai Dara yang bisa ku lihat dari tatapan matanya pada Dara. Setelah aku mengantar Dara pulang, aku melajukan kembali motorku, hendak menemui tuan Yang, namun belum setengah perjalanan dari apartemen Donghae, Dara menelfonku.

“Ji, apartemen Donghae hancur berantakan, Donghae dan Sanghyun terluka, eomma tak sadarkan diri. Ottokeeeeee, Jiii, Jiii hallo Jiii… tolong akuuuu” suara gemetar Dara tergambar jelas di telingaku. Dengan hati geram aku menelefon ambulan dan polisi agar menuju apartemen Donghae, sedangkan aku, ya aku punya urusan sendiri. urusanku dengan pembuat semua masalah ini.

~ Rumah Tuan Yang ~

            Brakk, aku membanting pintu ruangannya. Wajah yang ada di dalam ruanganpun tak tampak terkejut dengan itu, sepertinya ia telah memprediksi sikapku ini.

“Kau yang membuat itu semua? Kau melakukan hal menjijikan itu?” tanyaku marah dengan menarik kerah kemeja nya. aku buta saat ini. Aku tak tahu diriku siapa dan siapa yang sedang aku hadapi, ayahku kah atau seorang monster dalam hidupku?

“Kau sudah ku ingatkan Ji, inikah yang kau mau? Apa harus aku melakukan ini dulu jadi kau akan menurut padaku? Ayolah kau sudah sangat paham diriku” ucap Tuan Yang enteng. Dengan masih emosi aku pun berniat melayangkan pukulan kepalan tanganku diwajahnya namun berhenti tepat beberapa centi di depan wajahnya. Hatiku sakit Tuhan, aku tidak bisa menyakitinya. Gaaaaah, pengecut. Lagi lagi aku adalah seorang pengecut, pecundang.

            Ku lepaskan genggamanku pada kerah bajunya, lalu aku beranjak pergi. Mengendarai motorku secepatnya, menuju rumah sakit.

~ Rumah Sakit ~

            Aku berlari mencari keluarga Dara, dan setelah aku tahu ruangan mereka aku langsung menuju kesana. Ku lihat eomma sedang berbaring di dampingi oleh Sanghyun yang tangannya diperban dan sudut bibirnya yang sobek. Bisakah aku menampakkan wajahku dihadapan mereka setelah appa ku melakukan ini pada mereka?

“Hyung, kau di sini?” ucap Sanghyun yang mengetahui keberadaanku di ambang pintu yang ragu-ragu akan menemui mereka atau tidak. Dan sekarang mau tidak mau aku harus menghampiri mereka.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Sanghyun.

“Emm, aku baik-baik saja hyung. Naneun, eomma belum sadarkan diri. Terlebih lagi Donghae hyung, dia luka parah karena dia paling melawan orang-orang itu” jelas Sanghyun padaku.

“Di mana Donghae?” tanyaku lagi.

“Dia masih di ruang gawat darurat hyung. Kepalanya di pukul oleh guci besar oleh salah satu mereka” jawab Sanghyun.

“Baiklah, aku akan melihat Donghae. Jika eomma mu sudah sadarkan diri beri tahu aku” ucapku pada Sanghyun dan beranjak menuju ruangan Donghae.

            Saat aku membuka pintu ruangan Dongahe, aku melihat Donghae dalam keadaan tidak sadarkan diri, perban di kepala dan tangannya membuat aku yakin keadaanya sangat buruk. Namun pemandangan menyiksa batinku, si sampingnya yeoja yang ku cintai sedang menangisi kondisi namja yang terbaring di hadapannya.

“Mianhae, jeongmal minhae Dongiee. Aku tak menyangka akan seperti ini. Mianhae. Ku mohon buka matamu. Aku tak mau kehilangan sahabat terbaikku. Mianhae Dongiee, tapi akupun tak bisa mengkhianati diriku dan hatiku. Aku mencintai namja itu, aku sangat mencintainya dan aku berjanji akan selalu bersamanya. Aku tak bisa meninggalkanya, Mianhae Dongiee” tangis Dara sambil memegang tangan Donghae yang terinfus.

            Hatiku sakit, tapi mungkin memang ini salahku. Aku tak pantas berada di antara orang-orang baik seperti mereka. Mereka yang mendapatkan masalah dan bahaya karenaku, mengapa aku sangat bodoh tak menanggapi ancaman appa dengan baik. Aku harus bagaimana. Aku tak ingin meninggalkan Dara yeoja yang aku cintai, tapi di satu sisi aku pun tak ingin orang-orang disekitar Dara seperti ini. Aaarrrrhhhggg.

            Aku melangkah marah, entah aku harus marah dengan siapa yang jelas aku sangat kacau. Aku bingung harus bagaimana. Ku arahkan motor besarku dengan laju yang amat sangat kencang. Kalian pasti sudah tahu jika aku seperti ini alkohol adalah teman yang terbaik.

Dara Prov

            Aku masih menemani Donghae yang belum sadarkan diri. Aku tak tega melihat kondisinya saat ini. Tuhan aku tak ingin kehilangan dirinya. Drrrr, drrrrr, hp ku bergetar.

“Ne, Sanghyun-aah” ucapku pada sambungan telfon.

“Mwo? Jinnja. Aku akan kesana” ucap ku terburu-buru. Dan segera melangkahkan kakiku menuju ruangan eomma.

“Eommaaaa,,” teriakku sambil menghambur kepelukan eomma yang sudah duduk di ranjang.

“Gwencana Dara-aaah. Aku sedang memelukmu saat ini berarti aku sangat baik-baik saja” ucap Eomma menenangkanku. Aku sangat bersyukur eomma baik-baik saja.

“Nuna, Jiyong hyung eodiya?” tanya Sanghyun tiba-tiba.

“Mwo? Nugu?” tanyaku lagi pada adikku. Mungkin dia juga kepalanya sempat terbentur hingga ia menanyakan Jiyong tiba-tiba.

“Jiyong hyung, apa dia tidak menemuimu di ruangan Donghae hyung? Dia tadi ke sini lalu ia pamit untuk melihat keadaan Donghae hyung” jelas Sanghyun.

“Jinnja, aku tidak melihatnya. Aku tidak pernah meninggalkan ruangan Donghae sedetikpun”ucap ku, lalu aku mengambil telfon genggamku. Aku berusaha menghubunginya, namun tidak di angkat olehnya. Ku coba lagi menghubunginya. Oke kali ini di telfonku di angkat.

“Ji, kau di rumah sakit?” tanyaku to the point, tapi aku diseberang sana terdengar suara musik sangat kencang. Dan itu adalah jawaban pertanyaanku, itu bukan rumah sakit.

“Dara-yaaaa, kau kah itu? Aku sedang bersenang-senang Daraaaaa. Kau jaga keluarga mu saja neee, annyeoooong” ucapnya enteng dan mematikan sambungan telfonku namun sudah bisa ku tebak dia sudah dalam keadaan mabuk saat ini.

“Sanghyun-aah jaga eomma, aku segera kembali” ucapku sambil melangkah cepat menuju namjachinggu ku yang sedang tersesat.

~ Club ~

            Aku membenci tempat ini, banyak hal buruk yang aku alami di sini. Tapi aku tidak peduli saat ini yang terpenting aku harus segera menemui Jiyong. Oediya Jiyong-aah? Shitt bau alkohol dan asap rokok membuat tenggorokanku tercekat. Dan samar-samar aku meliat sosok yang aku cari, ia sedang meneguk alkohol di tangannya. Separah itukah kesakitanmu Ji, mengapa kau tak membaginya padaku? Apa gunanya aku di hidupmu? Aku berbisik pada diriku sendiri hingga aku sampai tepat di depannya. Ia menatapku dengan menyipitkan matanya, ok sekarang penglihatannya sudah buram karna minuman bodoh itu.

“Kajja kita pulang” ucapku sambil mengambil kasar botol alkohol di tangannya.

“Dara?? Kau kah itu? Ayoo bersenang-senang denganku emm “ ucapnya sambil menarik tanganku hingga aku jatuh di pelukannya. Nafasnya tidak jauh berbeda dengan bau alkohol yang berasal dari botol itu.

“Ji, ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu. Kau sudah sangat mabuk” ucapku berusaha sabar dengannya.

“Beby, siapa dia? apakah dia pelayang di club ini dan berusaha menggoda mu sekarang?” ucap seorang yeoja sexy yang kini sudah berdiri mengintrogasi dengan tatapannya.

“Ssssstttt, dia itu kelinciku. Kekeke. Tenanglah kau masih tetap nomor satu untukku baby” ucap Jiyong, namja yang ku cintai menyebutku hanya sebagai kelincinya dan yeoja itu nomor 1 untuknya. Dan tak lama Jiyong mengatakan itu, yeoja yang tadinya berdiri kini menunduk dan mencium mesra bibir Jiyong dan Jiyong membalas ciuman itu bahkan seakan menikmatinya yang dipangkuannya masih ada aku, aku yeojachingunya. Apa aku bodoh, hanya menatap kekasihku berciuman dengan yeoja lain tepat beberapa inci dari wajahku? Hatiku mengeras, begitu juga dengan kepalan tanganku.

“Menjauh dari kekasihku” teriakku pada yeoja yang masih menciumi Jiyong dan aku menarik rambutnya dengan kasar, menjauhkan mulut menjijikannya dari Jiyong.

“Ya!!!! lepaskan, kau wanita gila” umpat yeoja itu sambil tak mau kalah ia juga menjambak rambutku.

“Apa yang kalian lakukan. HENTIKAN ITU DARA” teriak Jiyong di depan wajahku.

“Mworago? Kau berteriak padaku. Apakah aku benar-benar tidak berarti apa-apa lagi untukmu? Apakah kau sejahat ini padaku Ji? Wae, wae? Apa aku punya salah padamu hingga kau berhak melakukan ini padaku,huh? Jawab aku Ji?” ucapku menangis meminta jawaban Jiyong yang hanya menatapku dengan terluka. Apa arti tatapan itu Ji, kumohon jelaskan.

“Dara, geumanhae. Aku sudah bosan bermain denganmu. Kau terlalu kikuk, kau terlalu naif. Kau tak mau memberiku sesuatu yang lebih dari sekedar berciuman, dan itu membosankan. Jadi, aku sudah muak bermain denganmu. Pergilah dari kehidupanku jangan muncul dalam kehidupanku lagi”ucap Jiyong kasar mendorongku hingga aku jatuh ke lantai dan ditertawakan oleh yeoja di sampingnya. Kau keterlaluan Ji.

Jiyong Pov

            Inikah jalan yang terbaik bagi aku dan Dara? Benarkah ini solusinya? Menyakitinya seperti ini benarkah ini yang aku inginkan? Aku memang pria pecundang, benar-benar pecundang. Sial. Aku tak tahan melihatnya menangis dan menatapku dengan tatapan tersakiti.

“Dara, Mianhae” ucap hatiku lirih.

“Pergilah, urusi keluargamu” itu kata-kata yang di keluarkan olehku.

“Kau menyuruhku pergi? Bukankah kau suruh aku erjanji untuk tetap di sampingmu wlau sejahat apapun dirimu Ji?” ucapnya dengan suara yang sangat terluka.

“Ne, aku ingin kau selalu berada di sampingku, aku ingin selalu kau mencintaiku dan menyayangiku selamanya” hatiku masih berbicara.

“Heol, sudahlah itu janji itu ku buat hanya untuk bermain-main saja. dan kau masih menganggapnya hal yang serius bahkan saat aku memperlakukanmu seperti ini?” ucapku dengan nada angkuh. Aku yakin aku menggores hatinya lagi.

“Jeongmalyeo?? Jinjja?? Kau melakukan ini bukan karena kau sedang melindungiku dan orang-orang di sekitarku dari appa mu? Kau merasa kau sebab dari kejadian yang menimpa Donghae, eomma dan Sanghyun? Apa kau tak memikirkan dirimu sendiri? kau tak memikirkan aku?” ucapnya berdiri dari tempat ia jatuh karena perlakuan kasarku padanya.

“Hei, yeoja gila jangan sesekali kau berteriak pada Jiyong. Baby, kau tidak apa-apa? Kajja kita tinggalkan dia. dia semakin menggila”ucap yeoja yang baru saja ku kenal dan sebagai alatku menyakiti Dara. Yeoja itupun menarikku menjauh dari Dara. Dara menahan kepergianku dengan menggenggam tangannku.

“Ku mohon jangan seperti ini” ucapnya dengan mata tersedih yang tak ingin ku lihat, ingin ku peluk tubuhnya sekarang juga, namun egoku lagi-lagi membutakan diriku. Aku melepaskan genggamannya secara kasar dan melenggang melangkah bersama yeoja yang tak ku kenal. Dara, mianhae. Ku harap ini terbaik bagi kau dan keluargamu. Maaf karena menyakitimu seperti ini. Ku mohon jaga dirimu baik-baik dan segera lupakan aku.

Jujur aku tidak pernah cocok di dunia, bagiku yang sendirian, cinta sudah di lupakan. Cinta, bagiku yang sendirian, sudah terlupakan pada saat itu. Aku sudah cukup dengan lagu-lagu cinta yang penuh harapan. Kau dan aku hanya pelawak menyedihkan yang bermain-main di skenario seperti itu di tarik dari jalan. Aku datang jauh, aku datang pulang. Aku seorang pecundang penyendiri. Seorang pengecutyang berpura-pura menjadi kuat. Gangster buruk di cermin aku adalah… Hanya seorang pecundang, penyendiri. Sebuah sentakan penuh dengan luka, sampah kotor. Di cermin aku adalah …. (Loser lirik)

 

TBC

<< Back  Next >>

A/N :
“Annyeooooong, long time no see long long time no see (ala TOP) miahae baru bisa update lagi. Gumawo yang sudah mengingatkan untuk melanjutkan ff ini terutama chinggu @hotrianoviyanti yang sudah menjadi deepcolektor hehehe nagih kelanjutan ff ini di twiteer, kekeke. Gumawo bagi yang setia baca ff ini. Entah kapan untuk updatenya lagi tapi chapter selanjutnya adalah final chapter, so coment sebanyak-banyaknya biar ga di protect sama author okeeey. Love yah (ala mino).”

Advertisements

115 thoughts on “[Series] I’m Just Different – 9

  1. Oh noooo
    Jiyong kenapa kamu harus bohong ?
    Kurasa kalian bisaa nyelesaikan masalah ini bareng2, kenapa harus gitu ?
    Sumpah aku kasihan sama dara, diaa pasti ngerasa disakitin banget, belum sempet keluarganya sembuh dan hidup tenang, diaa harus disakitin sama orang yng dia cintai
    Yah meskipun jiyong memilih itu untuk melindunginya, tapi plis buat mereka kembali lagi
    Aku ga relaaaa huhuhu
    Oya btw author-nim, bolehkah aku dikasih PW untuk chap 10 ? Akuu kepo akhirnya mereka gimana ? Aku ga rela kalo mereka beneran pisah
    Dasar YG, sumpah jahat banget itu orang ;(
    Plis author nim kirim ke ayudyahpangestu77@gmail.com
    Makasih banyak author nim ditunggu

  2. Aku nggak rela klu dara sm jiyong pisah hanya gara2 appa Yg…… jiyong hrsnya km itu tidak menyerah dan putus assa sm keadaan dan km itu harusnya tetap disamping dara bukan malah menyakitinya meski itu cuma pura2 biar dara pergi darimu dan tidak dlm bahaya krn sikakek tua itu….. next chap dah end ya semoga happy ending ya thor dan appa yg mau memintamaaf sm dara dan keluarganya serta menyayangi jiyong …..

  3. Kebangun tibatiba nemu ff ini, seru sedih bahagia tp di eps ini sedih nyesek gt, lebih kasihan sm jiyong tp kasihan sm dara jg dan hubungan mereka. Smg di eps selanjutnya mereka baik baik aja. Btw bolehkah mnt password untuk eps 10 nya kak? Terimakasih 😉
    gridiaputeri@gmail.com ^^

  4. Tragis banget di chapter ini , keluarga dara + donghae di hajar dengan YHS. Dara bertahan lah dengan jiyong. Jiyong haruskah oppa bersikap seperti itu di depan dara. Tapi kasian dengan jiyong hanya dengan cara itu dara menjauh. Authorrrr , aku sudah comment semua chapter thoorrr . boleh minta PW tuk final chapter nyaa ? Emailnya : dianariesta11@gmail.com makasi sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s