REVENGE IN LOVE [Oneshoot]

By :Oktyas

PS :Inibukanceritatentangdendam yang mainstream yak. Baca duluaja XD

Dara dengan seksama mendengarkan pembicaraan lelaki di hadapannya di telepon. Setelah berbicara selama sepuluh menit, laki-laki itu mengakhiri panggilannya.

“Nanti malam akan ada pesta peresmian Sun Mall, aku ingin mengajakmu.” Ujarnya dengan tersenyum.

“Tentu aku akan datang bersamamu Oppa.”

“Tapi, kau tahu, kau bisa saja bertemu dengannya.” Wajahnya berubah khawatir.

“Siapa?”

“Kwon Jiyong.”

Dara terkekeh. “Tenang saja Oppa, aku sudah move on dari dia. Buktinya sekarang aku sudah menjadi Mrs. Sandara Lee.”

Mendengar jawaban istrinya, ia tersenyum lega. “Benar kau tidak masalah?”

“Neh. Aku tidak akan membiarkanmu menghadiri acara seperti itu sendiri, istri macam apa aku.”

“Istriku memang yang terbaik.” Ia kemudian mendekat dan mengecup kening Sandara.

***

Dengan balutan gaun lacy tanpa lengan berwarna perak, Dara dengan anggun berjalan bergandengan dengan suaminya yang tampan dengan jas armani hitam.

“Oh my, oh my, lihat siapa yang datang.” Seorang laki-laki bertubuh tegap menyambut kedatangan mereka.

“Selamat Woobin-ssi, perusahaanmu bertambah besar setiap harinya.”

“Aigoo, jangan terlalu menyanjung, Donghae-ssi.” Pandangan Woobin jatuh pada Dara yang diam di sebelah Donghae. “Senang sekali bertemu dengan anda Mrs. Lee, kecantikan anda sudah banyak dibicarakan.”

“Ah terima kasih banyak.” Dara menundukkan kepalanya karena malu.

“Dilarang menggoda istri orang Woobin-ssi.” Donghae memperingatkan dengan nada bercanda.

“Sepertinya sang suami sangat posesif neh?” Woobin tertawa, lalu mempersilahkan mereka menikmati hidangan yang disediakan.

“Apa ini? Kau tersipu karena pria lain?” Donghae mengangkat dagu Dara, sehingga perempuan itu mendongakkan kepalanya.

“Aniya! Tentu saja tidak.”

“Sepertinya istriku mulai nakal neh?” Donghae mengedipkan matanya pada Dara.

“Aniya Oppa!” Dara terkekeh.

Donghae yang tak tahan melihat ekspresi gemas Dara, mencubit ujung hidungnya. “Aigoo, kau sangat menggemaskan.”

“Pasangan pengantin ini manis sekali. Benar-benar membuatku iri.”

Dara dan Donghae tersentak, pandangan mereka tertuju pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari mereka.

“Kwon Jiyong-ssi.” Desis Donghae berusaha meredam amarahnha.

“Ah tenang saja Donghae-ssi, aku tidak akan membawa lari istrimu itu.” Kata Jiyong sambil menggelengkan kepalanya.

Jantung Dara berdebar kencang saat melihat lelaki itu berdiri di hadapannya. Matanya menyipit ketika melihat perempuan seksi yang berdiri di sebelahnya. Gaun ungu ketat di atas lutut, dengan belahan dada rendah. Lipstik merah menyala, membuat bibir tebalnya sangat mencolok.

“Perkenalkan ini adalah tunanganku, Kiko Mizuhara.” Jiyong mengeratkan pelukannya di bahu perempuan yang dipanggil Kiko.

Tunangan?! Yang benar saja perempuan seperti ini tunangan Jiyong?!

Perasaan sakit bercampur kecewa terlihat kentara di tatapan mata Dara. Meskipun ia meyakinkan Donghae bahwa dirinya sudah move on, tapi apa daya? Hati selalu mengkhianati kerja keras bibir.

“Selamat malam, Miss Mizuhara, aku Lee Donghae, dan ini adalah istriku, Sandara Park.” Donghae berjabat tangan dengan Kiko.

“Sandara, kenapa pendiam sekali? Seingatku kau adalah perempuan yang hiperaktif?” Tanya Jiyong dengan seringai di bibir tipisnya.

Dasar brengsek! Batin Dara. “Maafkan sebelumnya, memang anda siapa? Tidak usah berpura-pura mengenalku.” Jawabnya dingin.

Donghae yang menyadari ketidaknyamanan istrinya, langsung meminta izin untuk pamit. Tapi sebelum pergi meninggalkan Jiyong, ia memberi peringatan pada mantan pacar istrinya.

“Aku akan sangat menghargai jika kau menghormati Sandara, Jiyong-ssi. Kau sudah menyia-nyiakannya saat dia bersamamu dengan bermain dengan perempuan lain, sekarang kau tidak punya hak apapun untuk mengganggu hidupnya.”

Donghae menarik Dara menuju meja makan. “Apa kau ingin sesuatu?”

Dara menggeleng cepet. “Air putih saja.” Tatapannya masih kosong.

Donghae menghela nafas, kemudian meminta pelayan yang sudah stand by di belakangnya membawakan dua porsi steak, wine, dan air putih.

“Aku tidak ingin makan.” Bisik Dara seperginya pelayan itu.

“Ehm, siapa tahu kau berubah pikiran. Steak adalah makanan favoritmu.” Donghae mengusap puncak kepala Dara.

Gadis itu hanya tersenyum tipis. Moodnya langsung berantakan gara-gara melihat Jiyong dan gadis berambut pendek yang terus-terusan menempel pada mantan pacarnya itu.

Tanpa disadari, makanan yang dipesan sudah tersaji di atas meja. Dengan malas, Dara memakan steak tersebut. Lain dengan hatinya, perutnya memberontak ingin diberi makan. Dengan terpaksa, ia menghabiskan makanannya demi kebutuhan perut.

Donghae izin pada Dara untuk membahas bisnisnya dengan kolega-koleganya. Ia menunjuk sebuah meja yang berisi pengusaha-pengusaha. Hanya ada satu kursi tersisa di sana, sudah dipastikan itu untuk Donghae.

“Aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi sayang, mereka menungguku.”

“Its okay, pergilah. Aku baik-baik saja.” Dara meyakinkan suaminya itu.

Dara berjalan menuju balkon, menikmati semilir angin yang menyejukkan hatinya yang tengah panas. Setidaknya dengan berkumpulnya Donghae dan rekan-rekan bisnisnya, ia punya waktu untuk dirinya sendiri.

“Di mana suami? Apa dia meninggalkanmu?” Terdengar suara yang sangat tidak ia inginkan datang sama sekali.

“Pergilah Jiyong.” Desisnya.

“Wah ada apa ini? Apa kau menolakku?” Jiyong bersandar pada tembok balkon.

“Aku sedang tidak ingin berbicara padamu.” Kata Dara dengan suara serak. “Apa kau semurahan itu? Tunangan? Perempuan seperti itu jadi tunanganmu?”

“Apa yang salah dengan itu? Kau punya suami, tapi aku tidak boleh memiliki tunangan?” Sahut Jiyong.

“Sudahlah, aku ingin pulang.”

“Seharusnya memang sudah waktunya kau pulang. Tapi aku rasa, Donghae sudah jadi rumahmu sekarang.”

“Memang. Harusnya aku pulang malam ini, tapi melihatmu bersama dengan perempuan menjijikkan itu? Apa kau pikir aku masih sudi?”

Rahang Jiyong mengeras. Ia mencengkeram tangan Dara erat. “Kembalilah Dara!”

“Lepaskan!” Dengan waspada Dara mengawasi sekitar, takut jika mereka dilihat orang lain. “Apa kau gila?!”

“Ya aku gila!” Geram Jiyong.

“Jangan kekanak-kanakkan.” Dengan itu Dara meninggalkan Jiyong yang diliputi amarah.

***

Dara merebahkan tubuhnya di kasur. Ia pamit pulang terlebih dahulu pada Donghae karena tidak enak badan.

Pikirannya berkecamuk ke mana-mana. Matanya semakin berat, membuat Dara semakin menenggelamkan dirinya di bantal yang nyaman, dan tidak membutuhkan waktu lama, dirinya pun tertidur pulas.

Namun tidur nyenyaknya tidak bertahan lama. Ia merasakan tubuhnya bergoyang-goyang. Apa ada gempa? Gempa!

Matanya langsung terbuka. Dara mengedipkan matanya beberapa kali. Mengedarkan pandangannya, dan menyadari bahwa ia ada di dalam mobil.

“TOLONGGG!!” Teriaknya kencang. Pikirannya panik, apa dirinya diculik?!

“Diamlah babe.” Gumam lelaki di sebelahnya.

Kwon Jiyong, lelaki itu duduk manis di sebelahnya, tangannya merangkul bahu Dara. Bahkan perempuan itu tidak sadar jika mereka duduk berhimpitan.

“Apa yang kau lakukan Jiyong?!”

“Membawamu pulang.”

“Apa kau menculikku dari rumahku?”

“Ah bahkan sekarang kau memanggil rumah Donghae sebagai rumahmu?” Sindir Jiyong dengan nada tidak suka.

“Bagaimana kalau ada yang melihatmu?!” Dara masih dalam keadaan panik.

“Tidak ada, kita aman.” Jiyong menyandarkan kepala Dara di bahunya. “Tidurlah, kita akan ke rumah di Busan.”

Dara mencoba memejamkan matanya, tapi gagal. Pria di sebelahnya selalu punya cara membuatnya dongkol. Sebenarnya apa yang dipikirkan Jiyong?! Membawanya paksa seperti ini.

Sesampainya di rumah, Jiyong langsung mengeluarkan selembar kertas, dan memberikannya pada Dara.

“Tanda tangan.”

Dara membaca surat tersebut. Tulisan Surat Cerai tercetak pada baris paling atas. “Kalau aku tidak mau bagaimana?”

“Jangan bermain-main denganku Dara. Aku tidak tahan melihatmu dengan laki-laki licik seperti dia.” Desis Jiyong.

“Malam ini kau bahkan bermesra-mesraan dengan perempuan, apa kau pikir aku tidak marah?” Sungut Dara.

“Itu hanya akting. Dia bukan siapa-siapa.”

“Dan kau bahkan tidak memberitahuku terlebih dahulu?! Kau tidak tidur dengannya kan?”

“Tidak! Untuk apa aku tidur dengannya?! Oh God Dara!” Jiyong menjambak rambutnya. “Cepat tanda tangani surat ceraimu dengan Donghae, aku akan memberikan ini pada pengacaramu.”

Dengan merengut Dara menandatangani surat tersebut.

“Tidurlah, aku akan menyelesaikan semuanya.” Kata Jiyong.

“Kau ke Busan hanya untuk mengantarku?”

Jiyong mengangguk. “Hilangnya dirimu pasti membuat Lee kelabakan, ini tidak boleh disia-siakan.” Ia mencium kening Dara. “Aku akan segera kembali.”

Seperginya Jiyong, Dara memasuki kamar, merebahkan tubuhnya pada tempat tidur yang nyaman. Senyuman muncul di bibirnya.

Sudah lama aku tidak ke sini, ini adalah rumahku sesungguhnya.

Ingatannya pun kembali pada kejadian yang membuat ia dan Jiyong melakukan hal yang tak pernah mereka duga.

Jiyong mengepalkan tangannya saat mendengar berita yang dikatakan oleh pengacaranya, Choi Seunghyun.

“Mianhae Jiyong, sepertinya ada orang yang mengkhianatimu di sini.” Ujar Seunghyun. “Tenang saja, aku akan mencaritahu, dan memgurus bedebah sialan itu.”

“Thanks Hyung.”

Ia ingin membanting semua barang yang ada di ruangannya, namun sebisa mungkin ia tahan. Dirinya sangat marah. Bagaimana tidak? Proyek yang ia susun bertahun-tahun, tiba-tiba berpindah tangan pada perusahaan lain, Lee Coorporation.

Dan sialnya mereka sudah mengesahkan proyek tersebut dengan tanda tangan notaris.

Proyek jet pribadinya yang ia idam-idamkan lenyap begitu saja. Mulai dari desainnya, struktur, programnya, semuanya hilang!

“Jiyong, aku akan kembali ke kantorku untuk mengurus ini.” Seunghyun pergi meninggalkan Jiyong sendiri.

Jiyong memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Ia akan melakukan apa saja untuk mengambil kembali proyek itu.

“Duduklah, aku membuatkan teh hijau untukmu.” Dara menarik tangan Jiyong untuk duduk. Laki-laki itu meminum tehnya dengan diam.

“Aku sudah mendengar beritanya, tentang proyek jet pribadi itu.” Kata Dara berhati-hati.

“Jangan khawatir. Aku akan menghancurkan Lee Donghae dengan tanganku.” Geram Jiyong.

“Ji?”

“Hm?”

“Apa kau ingat dengan senior yang mengejar-ngejarku dari SMA sampai kuliah? Bahkan sampai sekarang.” Tanya Dara.

“Neh, ada apa?”

“Lee Donghae, dialah orangnya.”

“Fuck.” Umpatnya.

“Aku punya rencana, agar kau dapat balas dendam dengannya.”

Jiyong menatap Dara penasaran.

“Kita akan berpura-pura putus. Lalu aku akan mendekatinya, dan setelah dia memberi kepercayaan padaku, aku akan mengambil proyek itu untukmu. Untuk masalah hukum paten, kita serahkan pada Seunghyun.”

“Bagaimana kau mendekatinya?”

“Cara paling aman agar dia bersimpati dan percaya padaku adalah, kau harus berpura-pura selingkuh dariku, dan aku hancur, kemudian dia menjadi pahlawanku. Tapi untuk dapat mengetahui informasi-informasi penting seperti itu tidak akan mudah, jalan satu-satunya adalah aku harus menikahinya.” Jelas Dara.

Muka Jiyong menjadi merah. “No fucking way! Aku tidak akan membiarkanmu menikahi pria lain.”

“Sayang, ini jalan teraman yang aku pikirkan. Aku akan membalaskan dendammu padanya.” Dara menangkup wajah Jiyong.

“Jadi itu berarti pernikahan kita harus ditunda?”

“Maafkan aku, tapi demi berjalannya rencana ini, iya.”

“Dara tidak! Aku tidak setuju!”

“Dengarkan, kita masih tetap bisa melakukan pernikahan di gereja secara privat dan tanpa mendaftarkan pernikahan kita dahulu.”

Wajah Jiyong masih mengeras. Membayangkan Dara menikah dengan lelaki lain, menghabiskan waktu dengan lelaki lain membuat seluruh sel dalam tubuhnya memberontak marah.

“Aku akan memikirkan cara lain Dara, aku tidak bisa melihatmu dengan pria lain.”

Dara menghela nafas, ia memahami apa yang dirasakan Jiyong. “Ji, kau tahu, jika dia akhirnya tahu aku menikahinya hanya untuk balas dendam bersamamu, kau bisa bayangkan hancurnya dia? Aku ingin membuatnya hancur, seperti ia membuatmu hancur sekarang.”

Tidak perlu menunggu waktu lama untuk Jiyong menemukan siapa yang ‘memberikan’ proyeknya pada Lee Coorporation. Tidak lain adalah sekretarisnya sendiri. Seseorang yang sudah bekerja dengannya selama lima tahun.

Rencana yang diusulkan Dara pun terpaksa ia lakukan. Dengan dorongan Dara, dan kegigihannya meyakinkan Jiyong, akhirnya laki-laki itu menurut juga.

***

Donghae benar-benar kecolongan saat mendapati Dara tidak berada di rumah. Bahkan perempuan itu meninggalkan ponselnya di kamar, sehingga ia tidak bisa melacak di mana keberadaan istrinya.

Ia sudah menghubungi detektif pribadinya untuk menemukan istrinya.

Ibunya yang mendengar kabar jika menantu kesayangannya menghilang pun tak kalah panik.

“Apa kau bertengkar dengannya?” Tanya ibunya.

Donghae menggeleng. “Tidak, kami baik-baik saja.”

Meskipun mereka baru menikah selama tiga bulan, keluarganya benar-benar sudah menyayangi Dara. Dengan sifat hangat, dan cerianya yang selalu membawa suasana bahagia di keluarga mereka.

“Sandara, di mana kau?”

“Mr. Lee, kita punya kabar buruk.” Junki pengacaranya berjalan tergesa-gesa ke arahnya.

“Ada apa?”

“Proyek jet pribadi anda berada pada pasar lelang internasional, dan Giyongchy Coorporation berhasil mendapatkannya.”

“Bagaimana bisa?!” Tanya Donghae panik.

“Bahkan ada tanda tangan anda di sana.” Terang Junki.

“Aku tidak pernah melakukan tanda tangan pelelangan! Ini omong kosong!” Donghae benar-benar kewalahan. Pikiran istrinya yang menghilang, ditambah proyeknya yang ikut-ikutan menghilang.

“Sepertinya pihak Giyongchy melakukan segala cara agar proyeknya kembali.”

“Proyek itu adalah milikku!” Geram Donghae.

Ponsel Donghae berbunyi mengalihkan amarahnya sejenak.

“Halo!”

“Kami dari Giyongchy akan melakukan penuntutan atas pencurian proyek yang anda lakukan.” Kata suara dari seberang.

“Pencurian apa? Aku tidak punya waktu untuk ini.”

“Kami sudah mengajukan bukti-bukti pada kejaksaan. Tolong persiapkan diri anda.” Tanpa menunggu Donghae membalas, panggilan tersebut terputus.

“Sial!”

Donghae meminta pengacaranya menunggu di ruang tamu, karena ia akan mengambil beberapa berkas di kamarnya.

Saat memasuki kamarnya, bayangan Dara kembali memasuki pikirannya. Ia lalu membuka lemari Dara, mengambil salah satu pakaian milik istrinya. Ia begitu merindukan dan mengkhawatirkan perempuan itu.

Ketika akan meletakkan kembali pakaian Dara, matanya menangkap sebuah amplop yang disembunyikan di balik salah satu bajunya.

Karena penasaran, ia membuka amplop tersebut. Itu adalah foto USG kehamilan. Di belakang foto itu ada tulisan Dara yang membuat hati Donghae merasa diremas-remas.

Our little plum is 8 weeks old. Sudah tidak sabar bertemu Daddy! Satu bulan lagi akhirnya kita akan bertemu, kau pasti terkejut saat tahu aku hamil kkk. We miss you Daddy😿.

Donghae merobek foto tersebut, ia tidak percaya apa yang baru dilihatnya. Jika lelaki lain mendapati istrinya hamil pasti akan bahagia, tapi tidak untuk Donghae. Selama ini, bahkan ia dan Dara belum pernah melakukan hubungan intim, bagaimana istrinya hamil? Meskipun tidak ada nama lelaki di sana, Donghae sudah tahu siapa ayah dari bayi Sandara.

Donghae turun untuk menemui pengacaranya, dan mengurus semua kekacauan yang menimpanya. Tapi sebelum ia membuka suara, pengacarana menyodorkan surat cerai kepada Donghae.

“Baru saja pengacara Miss Sandara Park datang.”

Donghae memandangi surat itu dengan senyum miris. Semuanya masuk akal sekarang. Bagaimana proyek itu masuk ke pasar lelang, bagaimana ada tanda tangannya pada surat pelelangan.

Sandaranya, perempuan yang tak pernah ia berhenti sedetik pun untuk mencintainya, istrinya, ia yang melakukan semua ini. Perempuan itu melakukan balas dendam untuk Jiyong, kekasihnya. Bodohnya dia, terperdaya begitu saja.

“ARGHHHHHHH!!!” Donghae berteriak, lalu membanting vas bunga di atas meja.

“Bagaimana pendapatmu sayang?” Tanya Donghae.

“Bagaimana kalau di lelang saja? Penginapan ini juga tidak terlalu besar, dan tidak menghasilkan banyak uang untukmu.” Jawab Dara.

“Begitu?”

“Ehm.”

“Baiklah, ternyata istriku memiliki pengamatan yang bagus tentang bisnis.” Pujinya.

Keesokan harinya ia menandatangani surat lelang untuk penginapannya, tapi tanpa ia ketahui, ia juga menandatangani surat lelang untuk proyek jet pribadi yang ia curi dari Jiyong.

Setelah mendapatkan surat lelang bertandatangan Donghae, Dara menyerahkan surat itu kepada Jiyong, dan lelaki itu mengubah isi surat tersebut menjadi surat lelang proyek jet pribadi.

***

Dara berjalan-jalan di pantai, merasakan halusnya pasir di kaki telanjangnya.

“Aku baik-baik saja Eomma.” Tuturnya.

Kapan kau akan kembali ke Korea?” Tanya ibunya.

“Aku tidak tahu, Jiyong sedang sibuk dengan hotel barunya, dua bulan lagi sepertinya akan selesai.”

Aigoo, kau akan melahirkan di sana?

“Melahirkan di sini atau di Korea sama saja.”

Lalu bagaiamana dengan ibumu ini?

“Eomma kan bisa datang ke Miami kapan saja, ingat menantumu bisa melakukan itu dengan mudah.”

Hish, dasar perempuan. Baiklah, baiklah. Bulan depan Eomma akan ke sana.

“Gomawo. Aku sudah sangat merindukanmu.”

Aku tahu, jaga dirimu neh? Beritahu suamimu jangan bekerja terlalu keras.

“Ehm.”

Jiyong dan Dara segera mendaftarkan pernikahan mereka setelah sidang perceraian Dara dan Donghae selesai. Kemudian mereka melaksanakan resepsi pernikahan di Maldives bersama keluarga, dan sahabat dekat.

Proyek jet Jiyong sedang dalam tahap pembuatan. Jet tersebut dibuat di Miami, sehingga membuat Jiyong harus menetap di Miami sementara waktu, dan karena jiwa bisnisnya yang terlalu tinggi, lelaki itu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menambah koleksi hotelnya di Pantai Miami.

Dara tersenyum saat melihat lelaki yang baru saja melintas di pikirannya datang.

“Ayo babe, kita akan makan malam dengan rekanku, Jack.” Jiyong merangkul bahu Dara, dan tangannya yang lain mengusap lembut perut Dara yang membuncit di usia kehamilan tujuh bulan.

“Apa ini akan jadi makan malam yang membosankan?”

“Tidak. Jack adalah orang yang menyenangkan, dia adalah arsitek hebat. Mungkin kita bisa membicarakan desain rumah kita di Seoul nanti.”

Mata Dara berbinar. Selama ini mereka tidak pernah memiliki rumah, karena ia dan Jiyong tinggal di penthouse. Cita-citanya saat mempunyai anak adalah dapat membesarkan anak mereka di rumah dengan kolam renang dan halaman luas.

Saat memasuki restaurant yang tidak jauh dari pantai, seorang pria berambut pirang dengan kulit putih kemerahan menyambut mereka.

“Apa aku membuatmu menunggu lama?” Tanya Jiyong sambil berjabat tangan.

“Nope! Aku baru datang.”

“Jack, kenalkan ini adalah istriku Dara, Dara ini Jack.”

“She is gorgeous!” Jack menjabat tangan Dara.

“Thankyou.” Balas Dara dengan tersenyum tipis.

“Hi Jack!” Terdengar suara nyaring memanggil Jack.

“Hi man! Come on!” Jack menarik lelaki itu bergabung. “Perkenalkan teman baruku, this is Donghae.”

Jiyong dengan seringai di bibirnya mengucapkan salam pada Donghae. “Hi Donghae. I’m Jiyong.”

Jack menepuk bahu Sandara. “Wanita luar biasa cantik ini adalah istri dari Jiyong.”

Sandara menjulurkan tangannya ke arah Donghae. “Dara Kwon.” Ia memperjelas marga suaminya.

Jiyong tersenyum geli melihat tingkah istrinya, dengan cepat Jiyong mengecup bibir merah muda Dara.

“Ouh man, kalian sangat romantis.” Ujar Jack.

END
***
Janganlupa RCL J Oh iyainiffudahaku post di wattpadaku : @Oktyas27

Bagaimana? 😁😁 Maaf ga bisa jelasin detailnya yang bagian manipulasi surat lelang belibet😅.

 

Advertisements

9 thoughts on “REVENGE IN LOVE [Oneshoot]

  1. Kirain Jiyong emang bener selingkuh dari Dara ternyata….
    Seneng deh akhirnya mereka balikan lagi walopun harus nyakitin Donghae

  2. Parraaaahhh, ternyata rencana dara jiyong.
    Kasian bgt sma donghae, serius. Nyesek bgt klo jd dia,hm.
    Nxt ff ditunggu^^

  3. Awal bc udh mls aja dara sm donge udh nikah, jiyong sm si gila itu mau tunangan..benar” gak nyangka aplgi pas ji nyulik dara benar” psikopat bgt ji bawa kabur istri org ehh tp trnytaaaaaaa……..kamu benar” the best lh eonn👍👍

  4. gilaaakk, kagak ketebak critanyaaa. aku kira dara bakal balas dendam saja ji, trnyata dara blaskan dendam ji sama donghae. wihhhhhhh emng crita balas dendam yg berbedaa. akuuu syukaaaakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s