BE MINE [Chap. 20]

25335697-176-k89752

Story by : mbie07

Link : Meet her on Wattpat & Aff

Indo Trans : DANG

Karakter:

Kwon Jiyong, Sandara Park, Lee Chaerin, Lee Sung Ri, Choi Seung Hyun, Park Bom

—ooo—

Here you go, chapter 20!

Seperti hari-hari kemarin selama hampir satu minggu dia ada di sana berdiri melihat ke jendela gelap kamar Dara. Angin akan bertiup, malam akan semakin gelap dan hatinya akan tenggelam akan kesakitan tapi ia tetap berdiri dan melihat penuh harapan pada jendela gelap Dara, ia tahu Dara ada di sana di balik tirai jendelanya. Hal itu sangat menghancurkan hatinya, rasanya seperti setiap detik jiwanya memburuk, ia merasa seperti napasnya bisa dihitung. Dia merasa seperti sekarat, dan itu adalah kematian yang paling menyakitkan. Tangannya tanpa sadar memegang tenggorokannya karena ia merasa benjolan di tenggorokannya, yang mencekik dia perlahan-lahan.

Kesalahan. Jiyong menutup rapat matanya saat ia ingat apa penyebab ini semua. Itu membuatnya merasa bersalah dan ia merasa kematian mendekat. Jiyong membuka matana lalu ia menatap jendela Dara, Jiyong tidak pernah berpikir ia akan sangat ingin kembali ke masa lalu. Dia tidak pernah peduli tentang masa lalu karena ia tahu itu adalah sesuatu yang tidak ada yang bisa diubah, itu adalah sesuatu yang hanya dapat diterima. Tapi sekarang, ia merasa seperti masa lalu itu begitu sulit untuk diterima, ia merasakan gelombang yang kuat dalam dirinya yang sangat ingin mengubah masa lalu, ingin membuat semuanya benar. Tapi dia tahu itu hanyalah sebuah angan-angan suatu ide konyol, sesuatu yang bahkan dalam mimpinya tidak akan pernah dilakukan.

“Dara,” Namanya keluar dari bibirnya lalu hilang oleh angin dingin. Jiyong merindukannya, ia merindukannya sehingga ia merasa setiap inci dari dirinya sedang sekarat untuk melihatnya, memeluknya, menciumnya dan mengatakan padanya betapa ia sangat berharga. Dan di dalam keheningan malam yang dingin ia bisa mendengar bahwa hatinya pecah berkeping-keping, handphone nya bergetar di dalam sakunya.

Selama seminggu ini hanphone nya hanya mati, tidak berguna tapi kemudian benda itu bergetar. Jiyong dengan cepat menariknya keluar dari sakunya lalu ia melihat panggilan nomor dari nomor tidak dikenal. Dia bertanya-tanya siapa itu tapi dalam hatinya, ia berdoa itu adalah Dara. Dengan jantung berdebar tak menentu di dadanya, ia menekan tombol jawab dan menekannya di telinganya. Dia tidak mengatakan apa-apa dia malah menunggu si pemanggil untuk berbicara.

“Ji ..” katanya dengan suaranya yang masih terdengar seperti malaikan, masih cantik bahwa Jiyong hanya merasa seperti tubuhnya yang mati rasa dari kebahagiaan dan satu-satunya hal yang tersisa baginya adalah hatinya yang berdebar di dalam dadanya. “Babe …” jawabnya hampir gagap. Jiyong mendengar Dara tertawa sedikit dan mendengar itu semuanya merasa nyata. “Aku merindukanmu …” katanya, Jiyong merasa seperti gelombang emosi meluap di dadanya bahwa dia tanpa sadar mencengkeram erat dadanya. “Aku lebih merindukanmu.”  Jiyong menjawab dengan mencoba untuk tetap teguh, mencoba untuk tidak gagap di depan semua emosi yang melandanya sekarang.

“Kau sedang di mana?” Tanya Dara dengan Jiyong yang masih menatap jendela kamarnya. “Di depan rumahmu..” Jiyong menjawab tanpa sadar memegangi dadanya seakan bisa memberhentikan dadanya yang sedang berdebar kencang mengetahui bahwa Dara akan membuk tirai jendelanya dan Jiyong akan melihatnya. Dan benar, Dara membuka tirai jendelanya melambai kecil ke arah Jiyong dan tersenyum samar. Jiyong melambai kembali ke arahnya seperti seseorang yang telah lama menunggu di stasiun kereta api tua untuk kedatangan cinta yang hilangnya. Jiyong melambaikan tangannya tinggi-tinggi seperti anak-anak yang bersemangat seakan melihat Ibunya datang. “Penerbangannya…..” Dara terhenti saat ia menghela napas dan  m kata-katanya membuat Jiyong mati rasa di tempatnya mencengkeram erat ponsel hitamnya. “…Besok, Jam lima pagi.” Lanjut Dara lemah karena ia merasa energinya langsung hilang.

Jiyong mencoba mengangkat tangannya untuk melihat jam tangannya tapi rasanya seperti semua isi perutnya berantakan dan badannya tidak bisa merespon apa yang di perintahkan otaknya. Jiyong memaksa dirinya. Dia berhasil kali ini tetapi ketika ia melihat jamnya ia menegang di tempat, ia gemetar … dia sangat gemetar, ia bisa melihat itu, dan itu sesuatu yang dia tidak pernah ia pikirkan ia akan melakukan hal ini. Dia menatap jamnya  menonton.  Itu menunjukkan jam 1 malam dan dia tidak perlu menjadi seorang jenius, ia tahu ia hanya memiliki waktu 4 jam.

Hampir empat jam  apakah Jiyong akan menghentikannya, apakah ia akan memohon padanya untuk tinggal, apa ia akan membawanya pergi, ada terlalu banyak hal untuk dipilih tapi mengapa rasanya seperti dia tidak punya pilihan, mengapa rasanya seperti dunianya hanya runtuh? Dia menutup matanya, ia merasa rahangnya terkatup begitu juga tinjunya. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang dapat dia lakukan? Jiyong merasa kalah sekarang seperti ia akan kehilangan semuanya.

“Ji—“

“Ayo kita pergi … ayo kita pergi dari semua orang … ayo kita pergi ke suatu tempat hanya kau dan aku tahu … ayo kita melarikan diri dari semua orang … Please Dara kau harus tinggal denganku… aku membutuhkanmu … hanya kau … jangan tinggalkan aku …” Jiyong akhirnya tumbang jatuh berlutut. Dia hanya merasa lemah, ia merasa seperti dia tidak akan mampu berdiri lagi kecuali itu tangan Dara yang membantunya untuk berdiri.

“Ji … sudahkah aku memberitahumu bahwa aku sangat mencintaimu melebihi siapapun?” Tanya Dara di line lain. Jiyong tidak bisa menjawab takut jika ia menjawabnya, Dara mungkin mengatakan selamat tinggal dan itu akan membununya. Dia tetap diam merenungkan kata-kata Dara, memprediksi apa yang akan dikatakannya lagi dan itu perlahan membuatnya gila karena semakin ia berpikir tentang apa yang dimaksud itu akan membuatnya lebih kacau, ide-ide yang lebih masuk akal membanjiri pikirannya. Jiyong mungkin terlalu diam lama, ia tidak menyadari bahwa teleponnya sudah terputus. Jiyong terbangun dari pikirannya oleh suara bip panjang. Tangannya jatuh di samping, merasa kalah. Jiyong tidak pernah berpikir akan kehilangan Dara, ia telah membangun pikirannya sendiri bahwa dia akan selamanya dalam pelukan Dara, ciumannya akan selamanya miliknya, senyumnya dan tawanya … semuanya Dara akan selalu menjadi miliknya dan ia tidak pernah berencana membiarkan dia pergi. Dia selalu percaya bahwa Dara akan selamanya berada disisinya. Air matanya tanpa sadar jatuh, setiap detik saat ia menghabiskan waktunya dengan Dara seakan terbakar habis seperti film lama.

Jiyong ingat bagaimana ia menciumnya, melodi tawanya, senyum yang lebih terang dari matahari, jiwanya yang menyelamatkannya dari neraka. Kemudian Jiyong merasakan kosong dan hidupnya terlihat gelap. “Aku bilang, aku mencintaimu lebih dari siapa pun,” Dara tersenyum padanya lalu ia mengulurkan tangannya pada Jiyong. Jiyong menatapnya seolah-olah Dara adalah sebuah keajaiban yang baru saja terjadi. Jiyong hanya berlutut di sana menatap Dara  yang sedang mengulurkan tangannya dengan senyum hangat, senyum yang menyelamatkannya dari merusak diri. Jiyong ingin bergerak, ia ingin memeluknya, tapi tubuhnya tidak akan bergerak takut jika ia memeluk Dara akan berubah menjadi debu di angin malam. Air matanya jatuh sekali lagi.

Dara menghamburkan dirinya pada Jiyong lalu ia memeluk Jiyong erat-erat membuat tubuh mereka jatuh di atas aspal yang dingin. “Jangan menangis,” isak Dara sambil memperketat pelukannya. “Aku bilang aku tidak akan pernah meninggalkamu…” tambahnya sambil perlahan-lahan Jiyong membalas pelukan Dara dan menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Dara , lalu ia menangis, ia menangis tidak seperti sebelumnya. Jiyong menangis menumpahkan segala sesuatu di dadanya, semua rasa sakit, semua kerinduan, kebahagiaan, cinta dan rasa sakit saat hilang nya. Dan saat itulah dia menyadari bahwa ia bukan seorang iblis, karena iblis tidak pernah menangis. Dia bukan iblis tapi jiwa yang hilang yang hanya mencoba untuk menjadi iblis untuk melindungi dirinya dari semua rasa sakit dan dari emosi, tembok yang ia bangun bertahun-tahun sekarang hancur oleh seorang malaikat yang memperkenalkan dirinya sebagai manusia yang diberi kesempatan kedua untuk hidup.

“Aku tidak akan pernah membiarkan pergi,” katanya di antara isak tangisnya sambil mengencangkan pelukannya dia. ‘Aku juga … kau milikku ingat? “Tanyanya setengah cekikikan setengah menangis. Diamengangguk. ‘Semua milikmu, “jawabnya. Semua milikmu … “ulangnya.

Dara tersenyum lebar dengan Jiyong yang sedang memperbaiki syal kuning nya. Mereka sekarang berdiri di stasiun kereta api menunggu kedatangan kereta. Dara terus menatap Jiyong dan ia tidak bisa percaya betapaia sangat merindukannya hingga membuat dadanya sakit. Jiyong dengan lembut menyisipkan helai rambut  Dara yang menutupi wajahnya hingga membuat Dara tersenyum. Jiyong menyandarkan dahinya dengan dahi Dara dengan masih saling menatap. “Aku merindukanmu,” bisik Dara sambil tersenyum pada Jiyong. “Aku lebih merindukanmu,” Jiyong menjawab kembali. Jiyong kemudian memberinya kecupan kilat di bibirnya.

Jiyong pikir dia bisa cukup  dengan ciumannya tadi tapi dia kemudian menarik Dara untuk ciuman lain dengan  cepat dan mengulanginya lagi dan lagi. Dan kalau saja dia bisa dia akan melakukannya selamanya, ia bersedia untuk melakukannya. Jiyong kemudian menangkup wajahnya dengan lembut sambil mengklaim bibirnya. Jiyong menciumnya perlahan, lembut dan itu membahagiakan dan dari ciumannya yang lambat menjadi lebih cepat ia mencoba untuk menebus semua hari bahwa Jiyong merasa mati tidak bisa melihat Dara, tidak bisa menciumnya, merasakan nya. Dara mengalungkan lengnnya di leher Jiyong memeluknya lalu Jiyong merespon dengan gerakannya, sama-sama lapar satu sama lain.

Mereka berhenti dari ciuman, mereka terengah-engah lalu Jiyong tersenyum lebar, menyapukan ibu jarinya di sudut bibir Dara. Jiyong kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Dara dan  mereka berdiri di sana menunggu, dan dalam hitungan detik kereta tiba. Dara memegang Jiyong dan menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Jiyong dan dalam hal itu, mereka tahu bahwa mereka saling memiliki, hanya seperti bagaimana sempurna tangan mereka cocok dengan satu lainnya. Dara melirik Jiyong lalu ia mengehembuskan napasnya dan melangkah masuk kedalam kereta bersamanya.

Kereta itu hampir kosong saat mereka masuk ke dalam lalu mereka berjalan untuk mencari tempat yang sempurna bagi mereka dan setelah itu mereka duduk, kereta kemudian melesat pergi. Dara menggigit bibirnya
dari kegembiraan saat ia menatap jendela kereta, bintang di kota indah Seoul lampu terang menerangi bangunan. Waktu lainnya dengan Jiyong. Jiyong meliriknya sambil tersenyum dan mulai menunjukkan bangunan-bangunan di luar mengatakan semua yang dia tahu tentang bangunan itu.

“Terima kasih,” bisik Dara kepadanya lalu Jiyong tersenyum dan menariknya lebih dekat dan menarik Dara lagi untuk ciuman lainnya, ciuman yang meyakinkan mereka bahwa tidak peduli apa yang terjadi mereka tidak akan pernah menyesali ini. Bahwa mereka tidak akan pernah menyesal melarikan diri untuk cinta mereka, berjalan pergi hanya untuk bersama karena mereka tahu ini adalah yang seharusnya terjadi. Mereka memiliki satu sama lain, mereka saling mengasihi dan segalanya sempurna dengan cara itu. Ini adalah bagaimana hal-hal yang seharusnya dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu, tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa sakit dan bahkan ancaman kematian.

Itu sudah jam enam pagi ketika mereka akhirnya melihat tempat tujuan mereka sudah dekat. Jiyong dengan lembut menyisipkan helai rambut Dara yang  menutupi wajahnya lalu ia menatap wajah malaikatnya saat dia sedang tidur di bahunya. “Babe …” Jiyong berbisik membuat Dara bergerak dalam tidurnya. Perlahan-lahan Dara membuka matanya dan bibirnya tertarik menjadi sebuah senyuman lalu ia disambut oleh Jiyong yang sedang tersenyum dan Dara hampir tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya mengetahui bahwa semua ini bukan mimpi. Mereka melarikan diri, mereka melarikan diri dari semua orang. Jiyong mengemas semua pakaiannya, lalu ia meraih tabungannya, kartu atm dan kartu kredit. Mereka melarikan diri setelah Dara mampu mengemas barang-barangnya di ransel dan keluar dari gerbang rumahnya untuk menghampiri Jiyong yang sedang menunggunya, ini untuk kebebasannya. Mencintai Jiyong dan bersama dengannya itu adalah kebebasan menurutnya, kebebasan yang pantas dia dapatkan.

“Kita hampir sampai,” Jiyong tersenyum lalu ia mendarat ciuman di bibirnya. “Benarkah ?!” Dara bertanya dengan bersemangat sambil menatap jendela, lalu dia disambut oleh pemandangan laut yang biru.  Dia tersenyum dengan menghadap Jiyong. “Aku tahu kau akan senang di sini,” bisik Jiyong sambil melingkarkan lengannya di sekeliling Dara. “Terima kasih …” Dara tersenyum padanya. “Tapi serius … Kau harus berhenti memanjakanku,” Dara terkikik sambil terus melihat laut mengagumi keindahannya yang diperkuat oleh matahari terbit. “Aku tidak memanjakanmu…” katanya sambil tersenyum. “Aku memberikan apa yang memang harusnya bisa diberikan,” katanya ditambahkan sebagai Dara tersipu merah dengan pernyataannya. Jiyong kemudian cemberut sambil dengan cepat mencium bibir cemberut nya. “Mengapa kau begitu baik dalam berkata-kata?” Tanyanya seperti anak kecil. Jiyong tertawa membuat Dara menatapnya beberapa detik. Dan saat itu ia tahu Dara sangat merindukannya, segala sesuatu tentang Jiyong terutama senyum dan tawanya.

“Benarkah?”  Tanya Jiyong membuat Dara mengangguk padanya. Jiyong kemudian berdiri sambil menarik Dara hingga berdiri. Dia dengan cepat memeluknya lalu ia menatapnya. “Kalau begitu pilih aku,” katanya sambil tersenyum.  “Pilih untuk apa?” Tanyanya meskipun dia tahu jawabannya. “PIlih aku untuk hidup bersama mu selamanya,” dia tersenyum. “Untuk menjadi suami tampanmu,” Tambahnya sambil tertawa membuat Dara cemberut lagi. “Sombong,” Dara tersenyum padanya lalu Jiyong mengangkat alisnya. “Apa aku tidak tampan?” Tanyanya dengan percaya diri mengetahui dia akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

Dara menggeleng, mengejutkannya. “Aish! Aku tahu itu, seharusnya aku tidak memotong rambut,” gumamnya kecewa membuat Dara tertawa. “Kau tidak tampan … kau sangat tampan,” Dara tersenyum sambil berjinjit dan memberinya kecupan cepat. Jiyong terkekeh lalu ia melepas pelukannya dan mengambil barang-barang mereka.  Kereta  berhenti perlahan lalu mereka berjalan bergandengan tangan ke tempat di mana mereka akan mulai lagi, ke tempat di mana tidak ada yang tahu siapa mereka. Mereka bisa menaiki taksi atau semacamnya tapi mereka tidak mau. Mereka hanya berjalan ke rumah baru mereka, memegang tangan satu sama lain, merasakan angin pagi lalu mereka mulai bercerita tentang segala sesuatu seperti sebelumnya, seperti sebelum Sanghyun datang.

Setelah beberapa menit berjalan mereka melewati sebuah kapel (mungkin semacam gereja) putih kecil namun sangat indah dengan desain gothic ditutupi dengan bunga-bunga indah di luar. Dara tersenyum ia berhenti dan menarik Jiyong dengannya lalu memasuki kapel itu. Awalnya Jiyong cukup kaget karena belum pernah sebelumnya dalam hidupnya bahwa ia menginjak sebuah kapel atau gereja. Dia bahkan tidak pernah berpikir ia akan dan tidak pernah dia pikirkan berbicara kepada Tuhan, meminta bantuannya  pengampunan-Nya atau menyalahkan dia untuk segalanya. Jiyong tahu Tuhan tapi dia tidak pernah peduli tentang hal itu, ia tidak pernah peduli tentang perdebatan apakah sebenarnya atau tidak dia tidak pernah percaya bahwa Tuhan adalah orang yang menulis kehidupan mereka karena ia tahu ia sendiri adalah yang menulis takdirnya. Dia hanya tidak perlu Tuhan dan Jiyong tetap baik-baik saja dengan adanya Tuhan ataupun tidak.

“Mari kita bersyukur kepada Tuhan karena kita bisa bersama sekarang,” Dara tersenyum sambil mendorong pintu kayu agar terbuka lalu mereka berdua disambut oleh interior indah kapel kecil itu. Jiyong mengedarkan matanya ke seluruh tempat itu dan jujur tidak tahu ia harus berbuat apa. Dara menariknya menuju salah satu bangku kayu lalu ia duduk sambil berlutut dan menutup matanya dengan kedua tangannya yang mengepal satu-sama lain. Jiyong menatap Dara yang sedang berdoa kepada-Nya. Ia lalu menatap altar yang ada di atas dengan patung-Nya yang dipajang di sana juga . Jujur dia merasa konyol mengapa orang akan berdoa pada segumpal semen. Dia tahu itu hanya untuk simbol namun ia tidak tau kenapa ia merasa benar-benar bodoh tentang itu.

Jiyong menutup matanya lalu ia menghela napas sebelum berlutut di samping Dara. Jiyong melirik Dara terlebih dahulu sebelum mengepalkan tangannya bersama-sama lalu ia menatap altar. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa ia akan melakukan hal ini, bahkan ia tidak pernah berpikir untuk masuk ke sini walau sebelum matipun ia tidak akan masuk ke kapal maupun gereja maupun tempat yang dianggapnya sebagai rumah-Nya. Dia tertawa pelan mengingat bahwa ia memang perlu masuk ke dalam tempat seperti ini. Lalu ia melirik Dara sebelum mengalihkan pandangannya pada altar lagi.

Dara akan menjadi pengantin yang paling indah yang pernah ada,  Kau setujukan? Nah … ini adalah pertama kali aku berbicara pada-Mu… rasanya canggung untuk jujur dan aku bahkan tidak tahu jika Kau mendengarku atau tidak. Maaf terlambat tapi terima kasih untuk Dara … terima kasih untuk mendatangkannya untukku… dan juga karena aku tidak pernah bertanya apa pun dari-Mu… bisa kau mengabbulkan permintaanku? Aku harap Kau membiarkan dia bersamaku… tidak membawanya pergi dariku… biarkan aku meminjam nya … oh tidak-tidak. Mungkin aku orang yang tamak tapi tolong dengarkan aku, aku tidak ingin hanya meminjam nya … hanya berikan dia kepadaku dan tidak jangan membawanya kembali karena dia milikku sekarang …

 

 Dia kemudian melirik Dara yang tersenyum saat melihat kembali padanya. Jiyong tersenyum sambil mengacak-acak rambut Dara. Mereka kemudian berdiri lalu tangan mereka saling terkait dan dengan itu, mereka berjalan ke luar kapel dengan senyum dan tawa saat mereka terus bercerita. Jiyong melirik altar sebelum melangkah keluar dari kapel itu lalu bibirnya melengkung menjadi senyum kecil.

Aku tidak pernah tahu berbicara dengan-Mu ternyata membuat hatiku hangat,  menghilangkan stress dan aku senang karena aku sudah mencoba berbicara dengan-Mu.

—000—

Miss me?

Sorry for late post, blame me for become a busy head!

thanks for your-still-here.

Leave a comment, thanks

DANG

 

<<Back Next>>

 

Advertisements

21 thoughts on “BE MINE [Chap. 20]

  1. Mereka emang nekat sihh tapi apa bisa mereka dipisahkan padahal dalam perasaan yang saling cinta. Pasti menyakitkan banget😭😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s