My Love, My Bodyguard #4

love-bodyguard

Author :: Yussie
Cast       :: Sandara Park, Kwon Jiyong, Lee Donghae, Lee Chaerin, Park Bom, and other cast

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah Dara akhirnya tertidur karena lelah menangis selama dua jam, Jiyong perlahan membopong tubuh Dara menuju tempat tidur dan dengan sangat hati-hati meletakkan tubuh Dara di tempat tidur. Jiyong perlahan melepaskan tangan Dara yang masih merangkul leher Jiyong. Setelah dilihatnya Dara sudah benar-benar tertidur lelap walaupun jejak air mata masih terlihat jelas di wajah cantiknya, perlahan Jiyong pun beranjak dari sisi ranjang Dara. “Tidurlah yang nyenyak Dara, biarkan mimpimu mengobati rasa sakit di hatimu.” Ucap Jiyong berbisik di telinga Dara sambil mengusap pipi Dara kemudian mendaratkan sebuah ciuman di kening Dara. Setelah itu Jiyong segera melangkah menuju pintu kamar Dara.

Di depan kamar Dara, terlihat Seungri yang mondar-mandir di depan pintu, mencemaskan keadaan noonanya. Setelah melihat Jiyong keluar kamar, Seungri segera menghampiri Jiyong untuk menanyakan keadaan Dara.

“Yah hyung, bagaimana Dara noona? Apakah sekarang dia sudah lebih baik hyung? Aku sangat mencemaskannya ketika melihatnya menangis seperti itu hyung. Hatiku jadi ikut sakit melihat noona seperti itu.” Ujar Seungri memberondong Jiyong dengan sejumlah pertanyaan.

“Hush, pelankan suaramu Ri. Dara sekarang sudah tertidur. Kurasa dia sangat lelah karena hampir dua jam dia menangis tiada henti.” Jawab Jiyong.

“Hem, hyung, sebenarnya apa yang terjadi? Apa hubungan Dara noona dengan Lee Donghae? Mengapa noona sampai seperti itu? Aku terkejut ketika aku kembali dan melihat noona sudah menangis di pelukanmu.” Ucap Seungri dengan wajah penuh tanya dan cemas.

“Ri, bisakah aku menceritakannya nanti? Tubuhku juga sudah sangat lelah Ri, dan aku ingin beristirahat juga.” Ucap Jiyong sambil berjalan menuju kamarnya.

“Yah hyung, tolong ceritakan padaku sekarang juga. Aku sungguh penasaran hyung. Aku tidak bisa tidur jika belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Rengek Seungri kepada Jiyong.

Namun Jiyong mengacuhkan rengekan Seungri sambil tetap membuka pintu kamarnya lalu segera masuk dan menutup pintunya, blam.

“Aisht, teganya kau pada dongsaengmu yang super tampan ini, hyung.” Gumam Seungri sambil berjalan menuju kamarnya juga. Kecewa karena tidak mendapatkan penjelasan apa-apa dari hyungnya walaupun sudah dua jam menunggu hyungnya itu keluar dari kamar Dara.

**

Jiyong POV

Aisht, mata ini tidak dapat terpejam sama sekali walaupun tubuhku serasa lelah dan remuk. Aku masih mengkhawatirkan keadaan Dara saat ini. Dia terlihat sangat rapuh. Aku tidak tega melihat Dara menangis seperti itu. Hatiku seperti merasakan sakit juga melihat Dara menangis sampai terisak hebat. Entahlah, apakah hatiku sakit karena aku bersimpati melihat Dara seperti itu ataukah hatiku sakit karena Dara menangisi namja lain. Aku pun masih bingung dengan perasaanku ini. Aisht, chincha, hal ini membuatku kesal. Jika mengingat kejadian saat bersama Lee Donghae tadi, aku seperti ingin memukul namja itu. Argh, tidak peduli dia itu klienku atau bukan, dia sudah menyakiti Dara! Ditambah tadi, aisht, bisa-bisanya dia melakukan itu di hadapanku.

Argh, sudahlah lebih baik aku mandi saja agar badanku dan pikiranku bisa lebih segar. Selesai mandi aku menyalakan televisi, namun pikiranku tak juga mau lepas dari Dara. Akhirnya kuputuskan untuk melihat keadaan Dara di kamarnya.

Kuketuk pintu kamar Dara namun karena tidak ada jawaban, aku pun langsung masuk. Dara masih terlihat sedang tertidur.

“Dara, apakah kau tidak lapar? Ini sudah menjelang malam. Apakah kau mau kubawakan makanan?” tanyaku sambil berjalan mendekati ranjangnya.

“Uh..ergh.” gumam Dara tidak terdengar jelas, namun tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Aku yang merasa aneh mendengar Dara meracau, segera mendekatkan diri dan memegang keningnya. Ya Tuhan, ternyata firasatku benar, aku merasakan suhu badan Dara sangat panas sekali, Dara demam! Aigo, bagaimana ini, apa yang harus kulakukan?! Panik langsung menyerangku saat ini juga.

Tenang Ji, tenang, jangan panik, coba pikirkan apa pertolongan pertama untuk orang yang demam tinggi, pikirku sambil berjalan mondar-mandir di kamar Dara. Ya, itu dia! Aku segera kembali ke sisi Dara dan kusingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, agar hawa panas bisa keluar dari tubuh Dara.

Lalu aku segera berlari ke kamarku, mengobrak-abrik isi koperku untuk mencari saputangan dan obat penurun demam yang selalu kubawa untuk jaga-jaga. Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku segera berlari ke kamar dara lagi.

Kening Dara segera kukompres dengan saputangan yang sudah kuberi air. Aku mengambil ponselku di saku dan segera menelpon Seungri untuk memesankan bubur di restoran hotel secepat mungkin, karena Dara harus makan dulu sebelum minum obat.

Lima belas menit kemudian, Seungri tiba di kamar Dara sambil membawa semangkuk bubur di tangannya.

“Hosh..hosh..hyung, ini bubur untuk Dara noona. Ppali kau cepat suapi Dara noona hyung!” ujar Seungri menyerahkan mangkuk tersebut kepada Jiyong dengan wajah yang sangat panik.

 “Arraso, gomawo Ri. Aku akan segera menyuapi Dara dan aku ingin minta tolong satu hal lagi padamu, Ri.” Ucap Jiyong sambil perlahan mendekati Dara dan menopang tubuh Dara untuk duduk.

“Apa itu hyung? Apapun akan kulakukan sebisaku agar Dara noona cepat sembuh. Aisht, kenapa noona bisa sampai demam hyung? Apa yang sudah dilakukan Lee Donghae pada noona cantikku ini?” ujar Seungri dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.

“Soal itu akan kuceritakan padamu nanti. Sekarang, tolong kau pakai dulu celana panjangmu Ri. Aku tidak mau jika Dara bangun nanti, demamnya akan semakin parah melihat kau yang hanya menggunakan boxer pinkmu itu berkeliaran di kamarnya dan seluruh ruangan hotel.” Ucap Jiyong dengan nada yang dibuat se-cool mungkin walaupun sebenarnya dia berusaha keras menahan tawa.

“Aigo, hyung, pantas saja tadi semua orang di restoran hotel tertawa melihatku. Ini karena aku langsung berlari menuju restoran setelah kau meneleponku. Tidak sadar bahwa aku hanya memakai ini.” Ujar Seungri sambil menunjuk boxer pinknya.

“Baiklah hyung, aku mau kembali ke kamarku untuk mengganti baju dulu. Kau mau makan apa hyung? Akan kupesankan dan biar kusuruh diantar saja ke sini.” Ucap Seungri sambil berjalan mendekati Dara untuk melihat keadaan noonanya itu.

“Hem, aku mau ramyun saja Ri, untuk menghangatkan tubuhku. Gomawo Ri dan cepat sana kau ganti baju dulu. Mataku sakit melihat boxer pinkmu itu.” Ucap Jiyong sambil meletakkan tubuh Dara di depan tubuhnya kemudian mulai berbisik di telinga Dara seraya membangunkannya.

“Siap, hyung! Dan tolong jaga Dara noona dengan baik, arra. Aku akan segera kembali dengan makan malammu.” Ucap Seungri sambil berjalan meninggalkan keduanya dan dijawab dengan anggukan Jiyong.

“Dara-ah, Dara, cepat buka matamu dulu. Kau harus makan bubur ini dulu kemudian minum obat.” Ucap Jiyong berbisik tepat di telinga Dara.

Perlahan Dara mulai membuka matanya dan menoleh ke arah Jiyong dengan lemah. “Hem Jiyong-ssi.” Ucap Dara lemah.

“Ne, Dara, ini aku. Sekarang kau makanlah dulu, neh. Aku akan menyuapimu. Sekarang buka mulutmu, aaa.” Ucap Jiyong sambil membuka mulutnya juga.

Dara pun membuka mulutnya dan mulai memakan bubur yang Jiyong suapkan padanya. Setelah lima suap, Dara sudah merasa mulutnya tidak enak dan meminta Jiyong untuk berhenti menyuapinya.

Jiyong kemudian membantu Dara untuk minum obat dan setelah itu Jiyong membantu Dara untuk berbaring lagi.

“Ji.”panggil Dara masih dengan suara lemah.

“Ne, Dara. Kenapa, apa masih terasa sakit kepalamu? Sebelah mana yang sakit, Dara?” jawab Jiyong dengan nada yang khawatir.

“Tidak Ji, aku sudah merasa lebih baik. Ehm, gomawo Ji untuk semuanya.” Ucap Dara sambil tersenyum tulus.

Jiyong langsung berdebar melihat senyum Dara yang sangat cantik itu. “Oh, ti-tidak masalah Dara. Ti-tidak usah kau pikirkan, ne. Sekarang kau istirahatlah, agar demammu cepat sembuh, arra.” Ucap Jiyong dengan gugup dan mulai menyelimuti tubuh Dara lagi karena panasnya sudah agak turun.

“Ehm Ji, bolehkah aku minta tolong padamu satu hal lagi?” Tanya Dara.

“Bilang saja Dara, aku akan membantu sebisaku.” Jawab Jiyong.

“Err, aku, aku mau minta tolong padamu untuk tetap di sini menemaniku. Hem, itu jika kau mau. Tapi jika kau tidak mau juga..” ucap Dara dengan pipi yang merona karena malu.

“Aku mau. Jadi sekarang kau tidurlah. Tenang saja, aku akan selalu ada di sisimu. Jadi kau jangan khawatir, arra.” Ucap Jiyong sambil membelai rambut Dara yang membuat Dara semakin malu dan menutup mukanya dengan selimut.

“Gomawo Ji.” Ucap Dara dari balik selimut.

“Iya, sekarang kau cepat tidur. Sini, berikan tanganmu. Jadi kau akan tahu bahwa aku tidak pergi kemana-mana.” Ucap Jiyong sambil menarik tangan Dara dan mulai menggenggamnya. Dara membuka selimut yang menutupi wajahnya dan menatap Jiyong dengan tatapan terima kasih. Setelah itu Dara mulai tertidur, begitu pula dengan Jiyong. Mereka berdua tertidur dengan tangan saling berpegangan.

Setengah jam kemudian, Seungri masuk ke kamar Dara sambil membawa ramyun untuk Jiyong. “Hyung, ini a-ku..” Seungri langsung membungkam mulutnya begitu melihat pemandangan di depannya. Jiyong hyungnya sedang tidur di kursi yang diletakkan di sisi ranjang, badannya membungkuk dengan kepala diletakkan di tempat tidur dan tangannya berpegangan erat pada Dara noona. Begitupun dengan Dara noona, sedang tidur dengan wajah menghadap ke arah Jiyong hyung dan tangan yang juga berpegangan erat dengan Jiyong hyung.

“Aisht, pasangan ini, membuat aku iri saja.” Gumam Seungri sambil berjalan perlahan menuju pintu dan menutupnya. Hem, sebaiknya ramyun ini aku makan saja. Aku akan membelikan lagi untuk hyung nanti jika dia sudah bangun, pikir Seungri.

Flashback

Dara, Jiyong dan Donghae masih berada di restoran untuk menyelesaikan kesalahpahaman masa lalu antara Dara dan Donghae.

Jiyong terus menggenggam tangan Dara yang semakin bergetar hebat karena mendengar penjelasan dari Donghae.

“Dara, kau tahu, kau adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku gila. Yah, bertahun-tahun aku mencarimu. Aku ingin menjelaskan segala sesuatunya padamu. Namun kau tidak pernah bisa aku temukan. Kau seperti hilang di telan bumi. Tidak tahukah kau bahwa aku setengah mati merasa bersalah padamu, aku juga setengah mati merindukanmu Dara.” Ucap Donghae dengan suara yang bergetar.

Dara hanya terdiam dan sesekali terlihat air mata jatuh begitu saja tanpa bisa ditahan. Jiyong tahu bahwa saat ini pasti Dara sedang berusaha menahan tangis dan sakit hatinya, karena tangan Dara semakin erat menggenggam tangan Jiyong. Jiyong yang merasakan hal itu semakin mendekatkan dirinya dengan Dara, agar Dara tahu bahwa dia tidak sendiri. Ada Jiyong di sampingnya yang berusaha menguatkan hatinya. Walaupun sebenarnya hati Jiyong sangat sakit dan ada perasaan tidak rela melihat Dara menangis gara-gara seorang Lee Donghae. Entahlah perasaan apa itu, mungkin hanya perasaan simpati karena dia tidak senang melihat seorang yeoja yang disakiti oleh seorang namja.

“Dara, aku akui memang aku salah karena menjadikanmu sebagai taruhan. Namun saat aku menerima taruhan tersebut, aku juga tidak menyangka bahwa aku akan benar-benar jatuh cinta padamu. Aku menerima taruhan tersebut karena Siwon selalu mengejekku yang tidak juga mempunyai kekasih walaupun aku adalah seorang namja yang popular. Aku hanya ingin membuktikan diri bahwa pesonaku tidak bisa ditolak oleh gadis manapun. Aku memang bodoh Dara, seharusnya aku tidak usah memikirkan ucapan orang lain. Kau boleh memukulku, kau boleh memakiku, tapi kumohon kau jangan menghilang dariku, Dara.” Ucap Donghae sambil memegang tangan Dara yang satunya.

Dara tersentak, kaget Donghae oppanya tiba-tiba memegang tangannya sementara tangan yang satunya lagi masih berpegangan dengan Jiyong. Jiyong yang melihat hal tersebut langsung mendelik marah ke arah Lee Donghae. Namun Donghae tidak menghiraukan tatapan membunuh dari Jiyong, dia tetap memegang tangan kiri Dara dengan erat, bahkan lebih erat.

“Hari itu, hari dimana kau mendengarkan percakapanku dengan Siwon. Hari itu sebenarnya aku ingin mengungkapkan rasa cintaku padamu Dara. Dan aku ingin mengaku pada Siwon bahwa aku benar-benar jatuh cinta padamu sehingga aku ingin membatalkan taruhan itu. Aku bilang bahwa aku akan menang karena aku memang sangat yakin bahwa kau juga mencintaiku Dara. Aku tidak senang mendengar Siwon selalu mengejekku bahwa aku akan kalah taruhan dengannya, maka dari itu aku masih belum membatalkan taruhanku dengannya. Namun setelah hari itu, aku sungguh sangat sangat menyesal Dara. Aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkanmu, karena bukan kau yang masuk dalam pesonaku, tapi akulah yang terjebak di hati tulusmu itu Dara. Mianhe, jeongmal mianhe karena aku kau sudah sangat menderita. Namun asal kau tahu Dara, aku juga sangat menderita karena tidak bisa langsung mengklarifikasi padamu mengenai kesalahpahaman ini. Saranghae Dara.” Ucap Donghae sambil mengecup pelan tangan Dara yang sedari tadi digenggamnya.

Jiyong yang melihat hal itu langsung semakin mendekatkan tubuhnya ke Dara sehingga badan mereka menempel satu sama lain dan genggamannya menjadi semakin kuat. Dara yang merasakan hal ini merasa semakin sakit dan juga bingung mengenai apa yang harus diperbuatnya pada dua namja yang sekarang sedang memegang kedua tangannya itu. Akhirnya setelah Dara berusaha menahan kembali air matanya yang akan terjatuh, Dara berusaha keras untuk mengeluarkan suara, jawabannya atas pengakuan Lee Donghae.

“Donghae oppa.” Dara mulai membuka suara. “A-aku sekarang sudah paham bahwa kejadian waktu itu hanyalah salah paham saja, tapi kau sekarang sudah mempunyai tunangan. Dan, dan aku tidak ingin jika tunanganmu mengalami patah hati seperti yang kurasakan oppa. Aku tidak ingin jika yeoja yang sungguh-sungguh mencintaimu itu juga merasakan sakit seperti yang kurasakan. Cukuplah bagiku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Dara dengan air mata yang terus mengalir di pipi mulusnya walaupun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

“Ja-jadi oppa, berbahagialah dengannya. Kumohon jangan sakiti hati tunanganmu itu. Biarlah cerita kita hanya kita yang merasakan dan tahu kebenarannya.” Ucap Dara melanjutkan, sementara kedua tangannya masing-masing digenggam erat oleh Jiyong dan Donghae.

“Da-Dara, aku juga sedang belajar mencintai Krystal walaupun di hatiku masih tersimpan namamu. Hem, aku hanya punya satu permintaan Dara. Bolehkah aku menyatakan perasaanku padamu yang dahulu belum sempat aku ungkapkan padamu? Aku tidak bermaksud apa-apa, namun aku hanya ingin melakukan hal itu agar tidak ada beban di hatiku lagi karena belum mengungkapkannya padamu. Bolehkah, Dara?” Tanya Donghae.

Dara yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam, dan menoleh ke Jiyong, meminta pendapat Jiyong melalui tatapan matanya. Jiyong yang melihat tatapan Dara hanya bisa terdiam, menahan amarahnya karena ucapan-ucapan Donghae. Lalu Jiyong pun hanya mengangkat bahunya, menyerahkan semua keputusan pada Dara.

“Ne, oppa. Kau boleh mengungkapkan isi hatimu jika itu akan melegakan hatimu.” Ucap Dara kemudian.

“Gomawo Dara. Saranghae Dara. Aku benar-benar mencintaimu dari hatiku yang paling dalam. Kau yeoja terindah yang pernah hadir di hidupku. Kau adalah yeoja yang bisa membuat hariku semakin berwarna. Tanpa kehadiranmu, hidupku terasa hampa dan aku merasa tidak semangat dalam menjalani hidup. Aku, aku benar-benar menyesal sepanjang hidupku karena pernah menyakitimu. Mianhe Dara, sekali lagi saranghae Dara. Walaupun sekarang kita tidak bisa bersatu, tapi cinta untukmu akan selalu tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, tidak akan habis dimakan waktu, sampai kapanpun. Kuharap jika memang ada kehidupan lain setelah ini, kita akan bersatu di kehidupan berikutnya.” Ucap Donghae dengan penuh kesungguhan. Lalu Donghae bergerak perlahan semakin mendekati wajah Dara dan kemudian mendaratkan ciuman di kening Dara dalam waktu yang cukup lama.

Hal tersebut membuat Dara terkejut akan apa yang dilakukan oleh Donghae oppanya. Begitu pula dengan Jiyong yang sangat terkejut, matanya semakin menunjukkan kemarahan dan tangannya yang bebas semakin mengepal kuat, namun Jiyong tidak dapat berbuat apa-apa, karena dia sudah berjanji tak akan mencampuri urusan Dara dan Donghae saat ini.

Akhirnya setelah Donghae menyudahi kecupan sayangnya di kening Dara, Donghae pun beranjak untuk berpamitan, karena Krystal sudah menghubunginya untuk segera menjemput di butik.

Setelah Donghae tidak terlihat lagi, air mata Dara langsung mengalir deras, tubuhnya bergetar hebat menahan isakan. Jiyong yang melihat hal tersebut langsung menawarkan pelukan untuk Dara, dan Dara langsung menghambur ke pelukan Jiyong. Menangis sejadi-jadinya, terisak hebat hingga Jiyong lebih mengeratkan pelukannya. Jiyong tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya yang menatap heran mereka berdua.

Tak lama kemudian, Seungri datang menghampiri mereka. Dan wajahnya penuh dengan tanda tanya melihat Jiyong yang memeluk Dara yang sedang menangis. Apa yang sudah terjadi, pikir Seungri. Lalu dia melihat Jiyong memberikan isyarat padanya agar segera menyiapkan mobil untuk mereka kembali lagi ke hotel. Jiyong pun lalu segera membopong tubuh Dara ala bridal style menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Seungri. Dara yang terlalu lemah untuk berjalan hanya bisa mengeratkan pelukannya di leher Jiyong walaupun dia sangat merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Jiyong.

Flasback end

 

 

Besok paginya, Dara bangun dengan tubuh yang lebih segar. Setelah semalam minum obat, dia merasakan demamnya sudah turun dan kepalanya sudah tidak terlalu pusing.

Dara merasakan bahwa tangannya masih digenggam oleh seseorang, dan begitu dia menoleh untuk melihat siapa yang menggenggam tangannya, wajahnya pun segera memerah. Aigo, jadi semalaman aku dan Jiyong saling berpegangan tangan dan tidak terlepas sampai dia terbangun.

Dara terus memandangi wajah Jiyong yang sedang tertidur sangat pulas sampai Jiyong terbangun dan mendapati dirinya sedang ditatap oleh wajah cantik Dara. Jiyong yang merasa malu langsung melepaskan genggaman tangannya, begitupula dengan Dara yang langsung menutupi wajahnya dengan selimut. Suasana pun berubah menjadi canggung karena mengingat semalaman mereka terus berpegangan tangan dalam tidur.

Untunglah suasana canggung tersebut langsung terpatahkan oleh kehadiran Seungri yang sudah berada di kamar Dara membawa semangkuk ramyun untuk Jiyong, karena semalam Jiyong sudah tidur dan tidak jadi makan malam.

Dara yang melihat ramyun yang dibawakan untuk Jiyong, langsung menatap ramyun tersebut dengan penuh keinginan untuk memakannya. Akhirnya Jiyong dan Dara makan bersama, dengan Jiyong yang tetap menyuapi Dara walaupun Dara menolak dengan halus karena merasa malu pada Jiyong dan juga Seungri.

Siangnya mereka kembali lagi ke Seoul dengan jadwal pesawat yang sudah mereka booking sebelumnya. Sebenarnya Jiyong masih mengkhawatirkan keadaan Dara yang baru saja sembuh dari demamnya dan sempat ingin menyuruh Seungri untuk menunda keberangkatan mereka sampai Dara benar-benar sembuh, tapi Dara bersikeras untuk segera pulang ke Seoul karena dia tidak ingin lagi berlama-lama di sini.

Ya, di sini adalah tempat dimana seorang Lee Donghae sekarang tinggal, seseorang yang pernah mengisi hari-hari Dara. Seseorang yang pernah sangat menyakiti Dara, walaupun sekarang sudah jelas bahwa hal tersebut merupakan sebuah kesalahpahaman. Walaupun ternyata Donghae juga merasakan hal yang sama pada Dara, bahwa Donghae oppa mencintainya, seorang Sandara Park, yeoja terceroboh yang pernah singgah di hidupnya. Namun kini Dara tetap harus berpijak pada kenyataan.

Kenyataan bahwa sekarang Donghae oppanya sudah bertunangan dan akan segera menikah. Walaupun Donghae oppanya masih menyimpan rasa cintanya untuk Dara, namun Dara tidak ingin tunangan Donghae oppa merasakan sakit hati seperti yang dulu dia rasakan. Dara bukanlah seorang wanita jahat yang akan melakukan apa saja agar orang yang dicintainya dapat menjadi miliknya. Dia lebih memilih memendam rasa cintanya dan lebih memilih untuk kembali sakit hati, akan tetapi dia tidak menyakiti hati yeoja lain yang sekarang merupakan masa depan Donghae oppanya. Itu karena Dara juga tidak ingin seseorang mengambil seorang namja yang entah siapa yang suatu hari akan datang kepadanya menawarkan sejuta cinta yang tulus untuknya seorang, untuk Sandara Park.

 

Hari berikutnya setelah mereka tiba di Seoul

Jiyong POV

Terlihat seorang Kwon Jiyong sedang berjalan mondar-mandir di ruangannya di kantor G-Market. Jiyong merasa tidak tenang karena Dara hari ini meminta izin untuk tidak masuk kerja dahulu dengan alasan ingin benar-benar memulihkan keadaannya terlebih dahulu.

Seungri juga sedang dia tugaskan untuk meeting dengan klien di luar kantor, sehingga dia tidak bisa mencurahkan isi hatinya pada Seungri. Akhirnya Jiyong memutuskan untuk menelepon Chaerin, menanyakan alamat apartemen Dara, karena kemarin Chaerin yang menjemput Dara di bandara. Dara bersikeras agar Chaerin saja yang menjemputnya di bandara walaupun Jiyong juga sudah sangat gigih menawarkan untuk mengantar Dara pulang ke apartemennya. Alhasil, Jiyong tidak mengetahui dimana Dara tinggal.

Setelah berhasil mendapatkan alamat apartemen Dara dari Chaerin, Jiyong pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen Dara. Tidak lupa dengan mampir dulu ke kedai ramyun dan toko bunga sebagai buah tangan untuk Dara, agar Dara cepat sembuh dan bisa segera bekerja lagi. Entahlah, Jiyong merasa tidak semangat jika tidak ada Dara di kantor. Dia juga merasakan sebuah perasaan rindu yang sangat menggebu dan rasa kehilangan akan sosok Dara apabila Dara tidak masuk seperti saat ini. Padahal Jiyong dengan jelas tahu bahwa Dara akan menjadi bodyguardnya hanya sampai orang yang mengiriminya ancaman pembunuhan dapat tertangkap. Aisht, Jiyong jadi berharap agar orang itu tidak segera tertangkap agar dia bisa lebih lama bersama Dara. Biarlah dirinya terluka, asal bisa terus bersama Dara.

Jiyong sampai di alamat yang tadi diberikan Chaerin dan segera menuju ke lantai dimana Dara tinggal. Setibanya di depan pintu apartemen Dara, Jiyong segera memencet bel pintu. Tak lama kemudian, pintu dibukakan oleh seorang laki-laki. Ya, Jiyong tidak salah lihat, seorang laki-laki, dan laki-laki tersebut adalah Yongbae, tangan kanan Seunghyun hyung. Yongbae adalah seorang polisi juga dan dia ditugaskan untuk menyelidiki siapa orang yang mengirimkan ancaman pada Jiyong. Namun apa yang dilakukan oleh Yongbae di sini, pikir Jiyong. Apakah Chaerin salah memberikan alamat Dara, tanyanya lagi dalam hati. Lamunannya dihentikan oleh sapaan Yongbae.

“Hai, Ji. Mau menjenguk Dara?” ujar Yongbae menyapa Jiyong.

“Hem, mwo? Neh Bae.” Jawab Jiyong akhirnya.

“Baiklah jika begitu, silahkan masuk Ji. Dara sedang di kamarnya, masih berganti baju sehabis mandi tadi.” ujar Yongbae mengajak Jiyong masuk ke apartemen Dara.

“Dara, ppali keluar, ada seseorang yang menjengukmu.” Teriak Yongbae sambil mengetuk sebuah pintu yang aku yakini itu adalah pintu kamar Dara.

“Silahkan duduk Ji. Aku tinggal dulu neh, aku masih sedang memasak pancake untuk Dara.” Ucap Yongbae sambil berjalan menuju ke suatu arah, yang aku yakini itu merupakan arah menuju dapur.

Aku masih sangat terkejut dan tidak tahu bagaimana bisa Yongbae berada di apartemen Dara dan sudah seperti sangat menghafal tiap ruangan di sini. Apakah Yongbae juga tinggal di sini? Tinggal berdua dengan Dara? Apakah Yongbae adalah namjachingunya Dara?

Aku berpikir dengan sangat keras kemungkinan-kemungkinan yang menjadikan kenapa Yongbae bisa berada di dalam apartemen Dara. Dan, tunggu, tadi dia berkata apa? Bahwa Dara baru saja selesai mandi? What the hell, apa yang sebenarnya mereka lakukan? Apakah mereka benar-benar sepasang kekasih?

Yah, Ri, kau benar, aku mungkin terlambat untuk menyadari perasaanku ini kepada Dara. Dan sekarang Dara ternyata sudah menjadi milik orang lain! Yah, aku patah hati bahkan sebelum aku mengakui perasaanku ini, aaargh! Teriakku dalam hati.

Untuk mengusir rasa galau dan penasaranku, aku pun melihat sekeliling ruangan dimana aku duduk sekarang. Dan ada satu benda yang menarik perhatianku dan itu adalah sebuah foto. Ya, foto Dara sedang berada di sebuah pantai sambil memeluk sebuah boneka yang kemarin juga dibawanya ke Hongkong. Ketika aku sedang serius memperhatikan foto tersebut, Yongbae tiba-tiba berada di sampingku sambil membawa dua piring pancake.

“Itu foto Dara di kampung halamannya, Busan. Kami adalah teman sekampung Ji. Dia sudah seperti adikku sendiri. Jadi jangan berpikir yang macam-macam tentang kami. Chaerin bisa marah seminggu jika aku ada niat berselingkuh darinya.” Ujar Yongbae menjelaskan.

“Mwo, jadi kau dan Chaerin sepasang kekasih?”Tanya Jiyong, masih kaget dengan kehadiran Yongbae yang tiba-tiba.

“Neh, kami berpacaran. Dan boneka yang Dara peluk itu namanya tam-tam. Sebenarnya itu bukan tam-tam yang asli. Karena tam-tam yang asli hilang saat Dara sedang bermain-main di pantai Haeundae dan bertemu dengan seorang bocah yang nakal saat itu. Dara langsung pulang sambil berlari dan menangis terisak akibat kejahilan namja kecil tengik itu, sehingga dia meninggalkan tam-tamnya begitu saja. Aisht, jika aku dulu dapat menemukan namja kecil tengik yang sudah membuat Dara menangis, pasti sudah kupatahkan lehernya.” Ujar Yongbae menjelaskan lagi.

“Tunggu, kau bilang tadi pantai Haeundae? Dan kalian berasal dari Busan? Hem, apakah dulu kau dan Dara waktu kecil sering bermain di pantai tersebut, Bae?” Tanya Jiyong penasaran, karena hal ini mengingatkannya pada kenangan masa kecilnya yang tidak akan pernah Jiyong lupakan.

“Neh, tentu saja kami berasal dari sana. Dara sangat menyukai pantai, jadi dia sering sekali ke pantai itu. Apalagi ketika kami masih tinggal di sana. Hampir tiap pagi dan sore Dara bermain di pantai dengan tam-tam aslinya.” Ucap Yongbae lagi.

Jiyong yang mendengar penjelasan Yongbae merasa sangat terkejut, dan tidak menyangka bahwa ternyata Daralah gadis kecil yang selama ini dicarinya, gadis kecil cinta pertamanya walaupun pertemuan mereka hanya beberapa jam saja saat itu.

Flashback

Jiyong kecil, yang sekarang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-sepuluh tahun, sangat senang ketika appa dan eommanya mengajaknya untuk liburan di rumah peristirahatan mereka yang ada di Busan. Jiyong sangat senang karena dia sangat menyukai pantai dan laut. Ya, apalagi pemandangan pantai Haeundae sangatlah indah, hal itu yang menyebabkan Jiyong senang sekali berlama-lama di pantai ini.

Sore itu, Jiyong sedang berjalan-jalan di pantai Haeundae, menikmati keindahan laut yang tersaji di depannya. Saat sedang berjalan kecil mencoba membuat jejak kakinya di pasir pantai, tiba-tiba dia mendengar suara seorang gadis kecil yang sepertinya sangat kelelahan namun tetap berteriak menyemangati dirinya sendiri.

Jiyong pun mencari asal suara tersebut. Dan disanalah dia melihat seorang gadis kecil sedang melompat-lompat ke arah dahan pohon, seperti berusaha mengambil sesuatu yang tersangkut di pohon itu.

Jiyong mendekati gadis itu dan menawarkan sebuah bantuan. Ternyata gadis kecil itu ingin mengambil bonekanya yang tersangkut di dahan pohon tersebut. Jiyong pun segera memanjat pohon tersebut dan segera mengambil boneka si gadis kecil.

Setelah mengucapkan terima kasih pada Jiyong, si gadis kecil tersebut segera berjalan sambil memeluk bonekanya. Jiyong pun segera menghampiri si gadis kecil itu. Dia adalah gadis kecil tercantik dan terimut yang pernah Jiyong lihat. Bahkan teman-teman di sekolahnya pun tidak ada yang secantik gadis ini, pikir Jiyong.   

Akhirnya mereka berjalan bersama dan sepertinya gadis kecil ini merupakan orang asli Busan, karena dia sangat menghafal pantai ini. Dia menunjukkan sisi-sisi pantai Haeundae yang sangat indah. Kami berdua menjadi cepat akrab karena minat kami yang sama terhadap pantai.

Beberapa jam telah kami lewati bersama, tak terasa kaki kami terasa lelah. Kami memutuskan untuk duduk di pasir. Aku tidak tahu mengapa tetapi hatiku berdetak sangat cepat ketika gadis kecil itu berbicara lagi mengenai kesukaannya terhadap pantai ini. Dan entah kenapa tiba-tiba, mataku tertuju pada bibir mungilnya, tiap dia berbicara, bibirnya terlihat sangat manis. Dan aku tidak tahu apa yang ada di pikiranku saat itu karena tiba-tiba aku mencium bibirnya. Ya, tepat di bibir gadis itu. Ketika aku sadar bahwa aku mendaratkan bibirku di bibirnya, aku melihat matanya terbelalak lebar dan gadis kecil itu langsung terdiam membeku.

Lalu kulihat matanya mulai berair dan dia mulai menangis. Aku segera minta maaf padanya karena sebenarnya aku tidak bermaksud apa-apa terhadapnya. Namun tangisannya semakin kencang.

Perasaan bersalah langsung menyelimutiku. Aku harus bertanggung jawab pada gadis ini, pikirku saat itu. Aku pun langsung ingin menjadikannya yeojachinguku saat itu juga, namun belum sempat aku berbicara kepadanya, dia sudah berlari sangat kencang. Dengan tangis yang terisak, meninggalkan bonekanya di pasir. Aku pun segera mengambil boneka tersebut dan berlari mengejarnya, namun gadis kecil itu sudah tidak terlihat lagi.

Aisht, aku bahkan belum tahu namanya dan dimana dia tinggal. Bagaimana aku akan bertanggung jawab atas tindakanku tadi? Akhirnya aku pulang ke rumah peristirahatanku dan besoknya aku kembali lagi ke pantai itu, berharap gadis kecil itu akan kembali untuk mengambil bonekanya. Namun dua hari aku menunggunya, dia tak juga kunjung datang sampai aku pulang ke Seoul. Gadis itu akan selalu kuingat, karena dia gadis pertama yang membuat hatiku berdebar.

Flashback end   

-To be continue-

 

“happy birthday Kwon Jiyong a.k.a  G-Dragon”

Hallo readers, walaupun saya lagi sebel ma ji karena dia ngerayain ultahnya di jepang bareng si ikan itu, namun karena saya baik (pengaruh dari Dara yang sangat baik), saya tetep ngucapin met ultah dech bwt Ji..n saya tetep berharap klo daragon memang bener ya..tetap menyimpan harapan pada pasangan ini..hikz..

Mudah-mudahan chapter ini bisa diterima yaa..

Dan untuk ff ini, saya bikin pasangan Seungri-Minzy n  Yongbae-CL karena saya pengen buat Seungri jadi playboy yg tobat karena cinta tulus dari seorang Minzy yang polos

Dan CL mau saya kendalikan dengan kalemnya Yongbae biar image CL bisa jadi good girl..hehe..

Makasih semua readers bwt commentnya dan Sponge-Y, makasih bwt saran-sarannya ya..

Teterp semangat, Hengsho

Sekali lagi met ultah ya Ji, semoga g bikin skandal yang bikin sebel lagi..hihi..

 

<< Back  Next >>

Advertisements

32 thoughts on “My Love, My Bodyguard #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s