[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 3.

ano-another-copy

SCENE 03 <HAPPY NEW YEAR>


Bom menangkap ada yang aneh dengan Sandara. Tidak biasanya gadis cerewet itu betah diam di kelas selama jam istirahat. Tanpa makan dan minum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Itu bukan Sandara.

Sandara adalah gadis periang yang tidak pernah kehabisan stock senyuman. Tapi kali ini, sepertinya pabrik senyum milik Sandara sedang berhenti beroperasi. Sandarac duduk diam tanpa ekspresi.

Karena merasa firasat yang tidak enak mengenai sahabatnya, hari ini Bom sengaja memaksa Seunghyun untuk pulang tanpanya. Seunghyun jelas menolak, tapi bukan Bom namanya jika dia gagal membujuk kekasihnya itu. Hingga akhirnya Seunghyun menurut dan merelakan hari itu mereka tidak pulang bersama.

“Jiyong akan menjemputmu?” untuk kesekian kalinya Bom menanyakan hal ini. Siapa tahu jika ternyata Sandara sudah lebih dulu janjian dengan Jiyong, maka Bom akan mengalah dan mengejar Seunghyun.

Sandara menggelengkan kepala.

Semua pertanyaan Bom dijawab Sandara hanya dengan anggukan atau gelengan kepala.

Bom mendesah pelan.

**

“Sandara, kau benar-benar tidak mau cerita padaku?” kembali Bom mencoba membujuk Sandara, namun hanya mendapat jawaban berupa tatapan sendu yang sedikit berkaca-kaca.

Sejak setengah jam yang lalu, Sandara dan Bom sampai di rumah Sandara. Alasannya agar Sandara merasa lebih leluasa di tempat yang menurutnya nyaman. Kamarnya. Karena Bom sangat yakin, ada masalah yang tengah sahabatnya itu pendam.

Hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum resmi memulai libur musim dingin.

“Sandara-ah,”

Sandara justru menitikkan air mata. Hal yang sangat jarang terjadi, kecuali bila sedang ada film atau drama beradegan menyesakkan hati tengah diputar. Namun saat ini mereka tidak sedang menonton drama atau film apa pun.

Sandara menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia sedang enggan untuk bicara.

Kebiasaan yang dimiliki oleh Sandara. Susah bercerita tentang masalah yang tengah dihadapinya kepada orang lain. Dia lebih senang memendamnya sendiri, yang justru malah berdampak pada kesehatannya. Pernah dia opname selama sebulan karena stress. Mudah saja baginy untuk meringankan beban orang lain, tapi untuk bebannya sendiri, dia selalu merasa sungkan untuk meminta tolong. Meskipun orang tersebut sudah memaksa.

Bom yang mengerti, beranjak berdiri dari tempat tidur dan membuka laci meja belajar Sandara. Diambilnya buku harian tebal bermotif sampul kupu-kupu. Buku harian hadiah darinya setelah Sandara keluar dari rumah sakit.

“Aku mengerti kau susah menceritakan masalahmu kepada orang lain, makanya mulai sekarang kau bisa bercerita pada buku ini. Jadi kau tidak perlu lagi memendam masalahmu sendirian,” begitu ucapnya waktu itu, yang disambut dengan senyuman tulus dan ucapat terima kasih.

Bom mengangsurkan buku itu kepada Sandara, senyum bersahabat terukir di wajahnya, lalu meninggalkan sahabatnya itu sendiri di dalam kamar.

**

24 Desember

Bommie memang yang terbaik. Hanya Bommie yang mengerti aku. Hanya Bommie yang memahamiku. Bukan Jiyong.

JIYONG JAHAT!!!!!

Jiyong menyebalkan!!!

Aku tidak ingin bertemu dengan Jiyong. Tapi aku menyayanginya. Pertama kalinya aku merasakan sayang untuk orang lain, kenapa harus Jiyong?!

Jiyong pembohong! Jiyong berbohong padaku. Puisi itu bukan untukku. Tapi untuk Sohee. Hanya untuk Sohee. Bukan untukku.

Aku menyayangi Jiyong…

Aku tidak ingin bertemu dengan Jiyong…

**

Sandara menolak ajakan Bom untuk merayakan malam pergantian tahun di rumahnya. Alasannya karena dia masih ingin sendiri. satu minggu mengurung diri di rumah saat liburan bukanlah kebiasaan Sandara. Tapi masa liburan kali ini, seluruh keceriaannya telah tersedot habis.

Awalnya Bom pikir, Sandara tidak akan menolak ajakannya. Mereka akan berpesta kembang api, hal yang sangat Sandara sukai. Tapi karena memang mood Sandara yang tak kunjung membaik, terpaksa Bom merelakan sahabatnya itu menghabiskan waktu seorang diri di malam tahun baru ini.

“Sudahlah, biarkan dia sendiri dulu. Dia membutuhkan waktu untuk sendiri,” Seunghyun mencoba menenangkan kekasihnya.

**

Sandara masih mengurung diri di kamarnya saat Ahjumma Oh mengetuk pintu kamarnya dan memberitahukan ada tamu untuknya. Mungkin Bommie, begitu pikirnya. Bom tidak pernah tega untuk membiarkannya sendirian, meski Sandara sendiri yang meminta. Terlebih saat ini, kedua orang tuanya tengah pergi berpesiar. Rumah besarnya kosong, hanya tinggal dirinya dan Ahjumma Oh.

Bukan Bom yang datang.

Tapi Jiyong. Tangannya menenteng tas plastik hitam besar. Sandara mencoba menebak-nebak apa isi tas plastik itu.

“Mau apa ke sini?” tanya Sandara ketus, meski tidak berhasil menahan bibirnya agar tidak tersenyum melihat wajah Jiyong yang terlihat cemas

 Jiyong mencemaskannya!

“Memangnya tidak boleh?” Jiyong balik bertanya. “Sudah seminggu ini kau tidak mau mengangkat telepon dariku, tidak membalas pesanku, setiap kali aku datang Ahjumma bilang kau pergi,” cecarnya tanpa menunggu jawaban dari Sandara. “Kau menghindariku,” itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

Sandara akhirnya menghempaskan tubuhnya ke kursi berlengan di seberang sofa yang Jiyong duduki. Akan tetapi, Jiyong justru bangkit berdiri dan menarik lengan Sandara, memaksanya untuk bangun.

“Ambil jaketmu,” katanya memerintahkan.

“Untuk apa?” tanya Sandara.

“Sudah ambil saja,” Jiyong memaksa.

Setengah terpaksa, Sandara menuruti kemauan Jiyong dan mengambil jaket seperti yang diminta. Setelah kembali ke ruang tengah, Jiyong kembali meraih lengannya dan mau tak mau dia harus mengikuti langkah kaki Jiyong keluar ke halaman melalui pintu samping dan terus melangkah hingga keduanya sampai di ayunan. Jiyong menyuruhnya untuk duduk di ayunan sebelum kemudian ikut duduk di sampingnya.

“Ada apa denganmu?” Jiyong bertanya menyelidik, ekspresi wajahnya terlihat serius.

“Tidak apa-apa,” Sandara memandang lurus ke depan, tidak berani menoleh ke samping karena tahu Jiyong tengah menatapnya, takut jika dia melihat mata laki-laki yang semakin hari semakin disukainya itu dirinya akan menangis.

“Ke mana saja kau seminggu terakhir, sama sekali tidak memberiku kabar apa pun,”

Sandara diam, memandangi lututnya yang berbalut celana panjang. Lalu bibirnya mengulum senyum geli saat menyadari bahwa dirinya sudah siap tidur dan berbalut piyama sementara Jiyong masih berpenampilan rapi.

“Tidak ke mana-mana,”

“Lalu kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku, pesanku pun tidak kaubalas?” Jiyong menuntut.

Sepertinya jiwa mereka tertukar. Sekarang jadi Jiyong yang banyak berbicara sementara Sandara sangat hemat berkata-kata.

Sandara menggelengkan kepalanya dan bergumam pelan, “Tidak apa-apa,”

“Jika aku sudah berbuat salah, aku minta maaf. Meskipun aku tidak tahu apa kesalahanku, tapi aku benar-benar meminta maaf…”

“Apa semuanya bisa selesai hanya dengan kata maaf? Apa kata maaf bisa mengubah yang sudah terjadi?” sambar Sandara begitu mendengar perkataan terakhir dari Jiyong, tak mampu menahan diri. Nafasnya memburu cepat, terengah-engah.

Jiyong kaget, tidak mengira Sandara tiba-tiba akan tersulut emosi seperti itu.

“Apa yang telah kulakukan sampai membuatmu marah?” Jiyong bertanya setelah berhasil menguasai kekagetannya.

Sandara menundukkan kepalanya, sedikit menyesal kenapa ia sampai tersulut emosi seperti itu. Perlahan, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Diulanginya rutinitas itu  beberapa kali hingga dirinya merasa tenang.

“Kenapa kau tidak pernah berkata yang sejujurnya padaku?” tanya Sandara, kemudian memberanikan diri untuk menengok ke samping dan menatap langsung mata Jiyong.

Kening Jiyong berkerut, tidak mengerti apa maksud pertanyaan Sandara.

“Jujur tentang apa?”

Sandara mendengus kasar, rasa kesalnya kembali muncul karena sikap ketidakpekaan Jiyong.

“Kenapa kau tidak pernah berkata jujur, jika antara kau dan Sohee pernah memiliki cerita lama? Kenapa kau tidak berkata jujur padaku, jika puisi yang kau bacakan padaku di akuarium dulu sebenarnya kau tulis untuk Sohee? Kenapa?” Sandara memalingkan wajahnya, berusaha menahan emosi agar tidak menangis.

Jiyong menghela nafas, kepalanya dia sandarkan pada tiang besi penyangga ayunan.

“Kau tahu dari mana?” akhirnya pertanyaan Jiyong keluar setelah mereka terdiam cukup lama.

Sandara tersenyum puas mendenger pertanyaan Jiyong, baginya pertanyaan Jiyong telah menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya. Namun jauh dalam hatinya, terasa sakit akan pembenaran itu.

“Aku melihat ada foto Sohee di kamarmu, dan kau menuliskan puisi itu dibalik fotonya,” Sandara berkata menerawang, menahan agar air matanya tidak jatuh, walau tetap ada satu tetes yang membandel. Cepat-cepat dihapusnya tetesan air mata itu sebelum disadari oleh Jiyong.

“Maaf,”

Final. Semuanya selesai di sini. Tanpa bisa lagi dicegah, air mata Sandara menetes, intensitanys kian deras.

Sandara segera bangkit berdiri, bermaksud meninggalkan Jiyong. Ia tidak mau menangis di hadapan Jiyong. Namun niatnya itu dicegah oleh Jiyong yang menahan lengannya.

“Tolong, jangan pergi,”

Kembali penyakit lama Sandara kumat. Tidak bisa bilang tidak.

Akhirnya, Sandara kembali duduk di samping Jiyong, dengan tangan Jiyong menggenggam erat tangannya, seolah takut ia akan pergi.

“Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengecewakanmu. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, jadi aku hanya bisa meminta maaf,”

Genggaman tangan Jiyong kian erat dirasakan Sandara.

“Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,”

Di tengah udara dingin akhir desember, ada kehangatan yang Sandara rasakan dari dalam.

“Janji?”

“Tentu saja,” jawab Jiyong cepat.

“Bisakah kau menjaga jarak dari Sohee? Aku tidak mau kalian berdua terlalu dekat, aku tidak mau kalian berpegangan tangan, aku tidak mau kalian berlama-lama berduaan, aku tidak mau kalian berdua bertingkah macam-macam,” rentet Sandara tanpa bisa dicegah.

“Iya, aku berjanji,” jawab Jiyong terdengar tidak sepenuhnya meyakinkan.

Namun Sandara mengabaikan hal itu dan tersenyum mendengar jawaban dari Jiyong. Jiyong menghembuskan nafas lega melihatnya, genggaman tangannya pada tangan Sandara kian erat. Sandara bersorak dalam hati, muncul harapan baru dari dalam dirinya.

“Ngomong-ngomong, apa yang kau bawa itu?” tiba-tiba Sandara merasa penasaran dengan tas plastik yang dibawa Jiyong tadi.

Jiyong tersenyum mendengar pertanyaan Sandara, gadis itu sudah kembali ke sifat aslinya.

“Kembang api,” Jiyong menjawab pertanyaan Sandara, lalu melirik arlojinya. Tinggal lima menit sebelum hari berganti menandakan pergantian tahun.

“Wah… kembang api… cepat nyalakan sekarang saja,” rengek Sandara, menarik Jiyong berdiri bersamanya.

“Tapi belum tepat tengah malam,”

“Aku tidak peduli, aku mau kau nyalakan kembang apinya sekarnag.” Sandara bersikeras, membuat Jiyong mendesah dan akhirnya menuruti permintaannya.

Sandara bersorak riang melihat kembang api yang Jiyong sulut melesat ke atas. Jiyong tertawa melihat tingkah Sandara. Berselang menit, langit malam dihiasi oleh ratusan kembang api dari berbagai penjuru. Tahun telah berganti.

“Nah, sekarang sudah tepat tengah malam, kan?” rajuk Sandara, menjulurkan lidahnya pada Jiyong.

Jiyong yang gemas, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa.

“Iya, selamat tahun baru, Sandara,” ucap Jiyong pelan, tersenyum, yang disambut Sandara dengan anggukan.

Sisa malam itu mereka habiskan berdua dengan tawa bahagia.


SCENE END

<< back next >>

Advertisements

17 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 3.

  1. Kok ji jdi ngeselin gni sikapnya ke dara,klo emg msh suka sama sohee knpa gak ngjar sohee aja drpda nyakitin dara huhhh semoga ji bs megang janjinya klo sampe keulang pgi gatau dah dara bakal maafin ji lagi atau gak

  2. Cepet banget Dara maafin Jiyong?
    Trs kenapa Jiyong sama Sohee bisa putus?
    Trs kenapa Sohee muncul lagi skrg?
    Beneran nih Jiyong suka ma Dara? Hufh jadi ragu deh

  3. Wah dibalik sikap cueknya ternyata Jiyong bisa banget nyakitin Dara unnie. Apalagi dia masih punya perasaan sama Sohee lagi. Awas aja kalo Jiyong suka Dara kalo tujuannya cuma buat pelampiasan. Gak akan kubiarinn #kejem amat mbak#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s