[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] If You #7

cover

Author : Rmbintang

Main Cast : Kwon Jiyong, Sandara Park

Genre  : Romance

.

Chapter 7

.

Dara Pov

Berapa kali aku hampir mati karena lupa bernapas saat sedang bersama Jiyong? Ratusan kali? Ribuan kali? Entahlah aku juga tidak pernah menghitungnya karena terlalu banyak moment itu. Terlalu banyak hal manis yang sering Jiyong lakukan kepadaku saat kami masih bersama dan setiap kali dia melakukannya maka dia selalu berhasil membuatku berhenti bernapas, membuatku merasa waktu berhenti untuk sesaat.

Dan malam ini dia kembali melakukan hal itu, malam ini ketika aku akan membuka pintu apartemenku untuk mengantar Jiyong keluar tiba-tiba aku merasakan tubuhku dipeluk dari belakang. Jiyong memelukku, dia mendekapku dengan sangat erat, membuatku mematung karena benar-benar terkejut dengan apa yang Jiyong lakukan ini.

Selama beberapa saat kami hanya diam, aku tidak mencoba berontak membuat Jiyong semakin mengeratkan pelukannya seolah dia tidak sudi untuk melepaskan pelukannya ini, seolah dia tidak sudi untuk melepaskanku.Setelah lama dengan posisi ini kemudian aku merasakan kecupan ringan pada puncak kepalaku dan sesaat kemudian aku mendengar suara lembut Jiyong.

“Dara.” Ujarnya pelan. “Aku merindukanmu.” Ujarnya lagi kini dengan sangat lembut. “Aku mencintaimu.” Sambungnya masih dengan suara lembut. Ada perasaan hangat yang mengalir dalam hatiku saat aku mendengar apa yang Jiyong katakan barusan dan tanpa sadar mataku mulai berair karena perasaan yang bercampur aduk dalam hatiku sekarang. Aku senang sekaligus sedih setelah mendengarnya.

Jiyong merupakan tipe lelaki yang tidak mudah untuk mengekpresikan perasaannya, bahkan saat kami berpacaran Jiyong sangat jarang mengatakan kata cinta kepadaku. Jiyong jarang mengatakan dia mencintaiku. Dan aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidak mendengar Jiyong mengatakan hal itu jadi kini saat aku mendengarnya lagi hatiku merasa senang namun kemudian hatiku merasa sakit karena mengingat semua yang telah terjadi kepada kami selama satu tahun terakhir ini.

Jiyong melepaskan pelukannya lalu memegang bahuku kemudian memutarkan tubuhku hingga kini aku menghadap kepadanya. Dia menatapku dengan sangat intens juga lembut dan hal itu membuat jantungku kembali berhenti untuk seketika. Aku rasa aku bisa meleleh kapan saja jika Jiyong terus menatapku seperti ini.

Mianhae.” Ujarnya lagi setelah aku menatapnya. “Jangan menangis.” Sambungnya kini sambil menghapus air mata yang terus keluar dari dalam mataku. Dia menarik lagi tubuhku dengan sangat lembut kemudian kembali memeluk tubuhku dengan erat sambil mengusap lembut kepalaku dengan sayang. Ya tuhan aku merindukan ini, aku merindukan merasa dicintai oleh Jiyong seperti ini.

Aku terus terisak sementara Jiyong terus bergumam bahwa dia meminta maaf untuk semua hal jahat yang pernah dia lakukan kepadaku dan hal itu berhasil membuat air mataku bertambah banyak karena mengingat semua hal yang terjadi sebelum kami berdua putus. Aku terus menangis selama beberapa menit membuat baju yang Jiyong pakai menjadi basah.Jiyong melepaskan pelukanku setelah tangisanku mereda, dia mengangkat kedua tangannya lalu membelai wajahku sambil menghapus air mata yang masih basah dipipiku.

Mianhae.” Ujarnya lagi, Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat sambil terus menatap Jiyong.

“Semua ini salahku Jiyong.” Ujarku pelan kemudian berjalan dan duduk di sofa. Aku malu kepada Jiyong, aku malu karena telah bersikap kekanakan kepadanya dulu, air mataku kembali keluar setelah aku duduk dan mengingat betapa kasarnya aku kepada Jiyong setelah kami berdua putus.

“Jangan menangis Dara aku mohon.” Ujar Jiyong yang kini sudah berjongkok di hadapanku.

“Jiyong bisakah kau pulang saja?” Tanyaku sambil kembali menatap Jiyong. Aku harus menata perasaanku dan aku tidak akan bisa jika Jiyong masih berada di sini.

“Masih banyak yang ingin aku katakan kepadamu Dara.” Katanya sambil mengambil tanganku lalu menggenggamnya erat.

“Aku tidak bisa sekarang Jiyong.” Kataku kemudian mengalihkan pandanganku dari Jiyong, aku tidak ingin dia melihatku yang sedang lemah seperti ini. “Aku tahu apa yang akan kau katakan tapi aku rasa malam ini bukan waktu yang tepat.”

Wae?” Tanyanya sambil memegang daguku dengan sebelah tangannya kemudian menggerakkannya dengan lembut hingga kini aku kembali menatapnya.

“Aku takut kita akan terluka lagi.” Gumamku.

“Aku janji akan memperlakukanmu dengan lebih baik Dara.” Aku kembali menggelengkan kepalaku.

“Jangan terburu-buru Jiyong, Pikirkan lagi.”

“aku tidak perlu berpikir Dara. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu tapi aku rasa cinta saja belum cukup untuk hubungan kita.” Kataku sambil terus menatap Jiyong. “Kita juga saling mencintai dulu tapi pada akhirnya kita berpisah.”

“Jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Hanya berpikir lagi Jiyong. Tanya kepadamu sekali lagi apa kau benar-benar sudah siap untuk kembali kepadaku? Apa kita sudah cukup dewasa untuk kembali bersama?” Ujarku sambil terus menatap Jiyong dengan air mata yang masih mengalir. “Aku tidak ingin kita saling menyakiti lagi.”

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk berpikir?” Tanya Jiyong sambil mengeratkan genggaman tangannya.

“Sampai aku yakin bahwa kita bisa bahagia tanpa harus saling menyakiti lagi.” Ujarku. “Tapi aku tidak tahu sampai kapan.”

Arasseo.” Ujarnya pelan. “Aku akan melakukan itu jika itu yang kau inginkan.” Sambungnya sambil kembali mengusap air mataku dengan kedua jempolnya. “Aku akan menunggumu Dara. Aku akan menunggu sampai kau yakin lagi dengan hubungan kita.” Tambahnya sambil tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya pada wajahku lalu mengecup bibirku sebentar. Aku yang sedikit kaget dengan gerakan Jiyong yang tiba-tiba hanya bisa membulatkan mata tanpa bisa membalas kecupannya.

Setelah mengecupku Jiyong lalu langsung berdiri kemudian mencium keningku dengan sangat lembut dan setelahnya dia langsung pulang. Aku kembali terisak setelah Jiyong keluar. Aku berpikir apakah tidak akan masalah jika aku kembali kepadanya? Apakah hal seperti dulu tidak akan pernah terjadi lagi kepada kami? Apakah aku akan bahagia jika kembali kepada Jiyong?

Jiyong Pov

Sudah satu minggu sejak Dara memintaku untuk berpikir ulang saat aku mengatakan bahwa aku mencintainya dan memintanya kembali kepadaku. Dia memintaku untuk kembali berpikir lagi karena dia takut bahwa kami akan seperti dulu jika kami kembali bersama. Aku menuruti keinginan Dara itu bukan karena aku juga ragu tapi karena aku ingin memberikan waktu kepada Dara untuk memikirkan apa yang menurutnya benar. Kami saling mencintai namun Dara benar, cinta saja tidak akan cukup untuk hubungan kami karena dulu kami juga saling mencintai namun pada akhirnya kami berpisah.

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menunggu Dara sampai dia bisa yakin lagi pada hubungan kami dan jika dia masih belum yakin maka aku akan melakukan segala macam cara untuk meyakinkan dia bahwa aku akan membuatnya bahagia dan tidak akan lagi mengulang kesalahanku dulu yang selalu membuatnya menungguku dan membuatnya kesepian.

Saat sedang memikirkan Dara tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara ponselku yang berdering dengan cukup keras. Aku mengambil ponselku yang aku simpan di atas meja kerja lalu segera mengangkatnya setelah tahu panggilan itu dari salah satu dokter residen. Jika dia menelpon maka pasti ada keadaan darurat.

“Ada apa?” Ujarku langsung setelah mengangkat telpon.

“Ada pasien kritis dan pasien ini merupakan pasien anda.”

“Aku segera ke sana, tunggulah.” Kataku sambil berdiri kemudian sedikit berjalan cepat kearah ruang emergency. Setelah sampai di ujung koridor aku melihat sosok Dara dan adiknya Durami yang berdiri dengan khawatir di depan ruangan emergency. Aku langsung berlari ketika melihat mereka berdua. Apakah mungkin pasien yang dimaksud adalah ibu Dara?

“Dara?” Sapaku langsung setelah berada di hadapannya. Dia langsung mengalihkan pandangannya kepadaku. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian berdiri di sini?” Tanyaku dengan sedikit khawatir setelah melihat raut wajah Dara yang terlihat sangat cemas.

Eomma.” Ujar Dara pelan. “Eomma tadi tiba-tiba pingsan.” Sambungnya dengan suara sedikit tercekat. “Dokter itu bilang eomma terkena serangan jantung.” Tambahnya sambil kembali melihat kearah ruangan emergency.

“Tunggulah di sini.” Kataku setelah mendengar penjelasan Dara kemudian segera masuk ke dalam ruang emergency. Setelah memeriksa kondisi ibu Dara selama beberapa menit aku langsung keluar lagi untuk menemui Dara dan Durami yang masih menunggu dengan khawatir. Aku melihat Dara sedang memeluk Durami saat aku keluar.

“Dara.” Ujarku yang langsung membuat Dara mengalihkan pandangannya kepadaku lalu melepaskan pelukannya pada tubuh adiknya.

“Jiyong!” Ujar Dara sambil berjalan mendekatiku. “Bagaimana kondisi eomma?” Tanyanya kepadaku. “Kenapa dia bisa serangan jantung?”

“Kolesterol yang berlebih menyebabkan ibumu terkena penyakit jantung koroner.” Kataku setelah memastikan penyakit ibunya.

Oppa apakah eomma baik-baik saja?” Tanya Durami kepadaku dengan wajah yang menunjukkan rasa takut. Aku mendekati Durami lalu mengusap kepalanya dengan lembut untuk membuatnya merasa lebih baik.

Eommoni akan baik-baik saja. Tidak usah khawatir.” Sumpahku pada Durami yang dia balas dengan anggukan. Aku langsung mengalihkan pandanganku kepada Dara kemudian memberikan kode kepadanya untuk bisa bicara berdua. Dara mengangguk kemudian menyuruh Durami untuk menunggu sebentar.

“Ada apa Jiyong?” Tanya Dara dengan khawatir. “Seberapa parah kondisi eomma?”

“Tidak terlalu parah untuk saat ini.” Ujarku yang membuat Dara menghembuskan napas lega. “Tapi Dara aku pikireommoni harus dioperasi sekarang sebelum penyakit jantungnya bertambah parah.” Kataku lagi kepada Dara. Aku melihat air matanya mulai keluar.

“Operasi?” Tanya Dara dengan suara pelan. Aku menganggukkan kepalaku.

“Kami akan melakukan operasi Bypass.” Kataku kemudian menjelaskan apa itu operasi Bypass dan apa saja yang akan kami lakukan nanti saat melakukan operasi.

“Apakah eomma benar-benar harus dioperasi?” Tanya Dara dengan suara tercekat setelah aku menjelaskan kepada Dara.

“Dara kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, bisa saja penyakit jantung ibumu semakin parah nanti jadi aku pikir sebelum itu terjadi maka lebih baik kita melakukan operasi sedini mungkin.”

“Kalau begitu lakukan operasi sekarang juga.” Kata Dara. “Lakukan apapun untuk bisa mengobati eomma.”

“Tapi Dara resikonya sangat tinggi.” Ujarku lagi. “Aku memberitahumu ini karena kau yang harus mengambil keputusan.” Sambungku. Dara memejamkan matanya lalu air mata kembali turun dari pipinya.

“Seberapa besar kemungkinan operasinya akan berhasil?” Tanya Dara. Aku tahu Dara pasti takut sekarang, dia pasti tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, namun aku tidak punya pilihan lain.

“97 persen.” Kataku.Aku sebenarnya percaya diri jika operasi ini akan berhasil hanya saja aku tidak ingin memberikan harapan yang terlalu tinggi karena aku tahu hal-hal buruk juga terkadang terjadi di meja operasi. Air mata Dara semakin banyak jadi aku langsung menghapus air matanya lalu memeluk tubuhnya sambil sesekali mengusap lembut punggungnya untuk membuat Dara merasa lebih baik.

“Jiyong apakah kau yang akan melakukan operasi?” Tanya Dara tiba-tiba ditengah pelukanku.

“Aku akan melakukan itu jika kau mengizinkannya.” Kataku.

“Apakah kau janji bahwa eomma akan baik-baik saja?” Tanya Dara lagi. Aku melepaskan pelukanku pada tubuhnya kemudian menatap matanya yang kini menunjukkan rasa takut.

“Aku tidak bisa menjanjikan hal itu Dara karena aku bukan Tuhan tapi aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat operasinya berhasil.” Kataku lagi sambil menggenggam tangan Dara.

“Kalau begitu lakukan.” Ujar Dara sambil terus menatapku. “Lakukan apapun untuk membuat eomma lebih baik.” Ujar Dara yang aku balas dengan anggukan kemudian kembali memeluknya dan kini aku rasakan tangan Dara yang membalas pelukanku. “Jiyong tolong selamatkan eomma.” Katanya pelan sambil mengeratkan pelukannya. “Aku percaya kepadamu Jiyong jadi aku mohon selamatkan eomma.” Ujarnya lagi dengan suara yang sedikit bergetar, aku tahu Dara pasti menangis sekarang. Dara pasti sangat takut sekarang.

Aku tahu seberapa berarti ibunya bagi Dara jadi aku bisa maklum jika Dara sekarang merasa takut. Dia pasti takut jika orang yang paling dia cintai pergi lagi di depan matanya tanpa dia bisa melakukan apapun. Aku pernah mengalami hal ini jadi aku juga bisa merasakan apa yang Dara rasakan sekarang.

“Aku janji Dara. Ibumu pasti akan baik-baik saja.” Ucapku dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar untuk membuat Dara merasa lebih baik tapi aku mengatakannya dengan tekad yang sangat kuat. Aku tidak boleh membuat Dara kembali merasakan kehilangan orang yang dia cintai lagi jadi aku berjanji kepadanya dan kepada diriku sendiri untuk berhasil saat melakukan operasi. Apapun akan aku lakukan untuk membuat senyumannya tidak akan menghilang.

Dara Pov

Bukan tanpa alasan kenapa aku tidak pernah menyukai rumah sakit. Aku tidak menyukai rumah sakit karena tempat ini adalah tempat di mana ayahku meninggal, beliau meninggal sesaat setelah operasi dilakukan kepadanya. Dia meninggal di depan mataku sendiri, aku melihat Appa saat sedang menghembuskan napas terakhirnya.

Dan sejak saat itu aku tidak ingin lagi menginjakkan kakiku di rumah sakit, karena setiap kali datang ke sini maka aku akan teringat ayahku. Aku akan terpaksa datang ke rumah sakit hanya untuk mengantar eommasaja. Bahkan selama aku pacaran dengan Jiyong sekalipun aku tidak pernah mendatanginya di rumah sakit dan Jiyong sudah paham jadi dia tidak pernah menuntut supaya aku mau datang ke rumah sakit untuk menemuinya.

Namun malam ini aku terpaksa harus duduk lagi di depan ruangan operasi dengan adikku untuk menunggu eomma yang sedang dioperasi sekarang. Aku awalnya ragu karena Jiyong bilang masih ada kemungkinan untuk gagal namun setelah tahu bahwa Jiyong yang akan melakukan operasi maka aku akhirnya mau memberikan persetujuan operasi untuk ibuku. Aku percaya kepada Jiyong. Dia menyayangi ibuku seperti ibunya sendiri jadi aku percaya bahwa Jiyong akan melakukan yang terbaik walaupun aku tahu Jiyong memang selalu melakukan yang terbaik untuk semua pasiennya.

Aku sudah menunggu selama beberapa jam dengan sangat gugup. Adikku sekarang sedang tidur di sampingku. Aku tahu pasti dia lelah karena baru saja selesai dari pekerjaannya dan harus langsung datang ke sini setelah tahu eomma pingsan tadi.

Aku terus melirik kearah pintu masuk ruang operasi dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku takut, takut jika operasinya gagal dan eomma meninggalkan aku dan Durami sendirian. Ketakutan ini membuatku tanpa sadar mengeluarkan air mata kemudian menangis pelan. Aku tidak ingin Durami melihatku menangis karena aku harus kuat di hadapannya. Jika aku lemah maka Durami juga pasti akan lemah. Jadi aku harus terlihat kuat di hadapannya sehingga bisa menguatkannya.

Ketika aku sedang menangis tiba-tiba aku mendengar pintu itu dibuka lalu Jiyong dan dokter Seungkyung keluar dari ruangan itu. Aku berdiri dari tempatku duduk dengan sedikit pelan karena tidak ingin membuat Durami terbangun kemudian berjalan kearah Jiyong.

“Jiyong? Bagaimana eomma?” Tanyaku sambil terus menatap matanya. Dokter Seungkyung tersenyum kearahku kemudian dia pergi meninggalkan kami kami berdua setelah sebelumnya berpamitan. “Operasinya berhasil kan?” Aku melihat Jiyong menghembuskan napas. Tolong aku Jiyong, tolong katakan bahwa eomma baik-baik saja.

“Dara.” Ujarnya pelan sambil memegang bahuku. Aku tidak pernah melepaskan tatapanku pada matanya. “Eommoni baik-baik saja. Operasinya berhasil.” Sambungnya kemudian tersenyum lalu menghapus air mataku yang kembali jatuh. Aku lega setelah mendengar apa yang Jiyong katakan.

Jinjja?” Aku melihat Jiyong mengangguk sambil menyimpulkan senyuman lalu beberapa detik kemudian aku melihat beberapa suster membawa brangkar yang di atasnya ada eommaku. Aku akan berjalan untuk mengikuti mereka namun Jiyong menahan lenganku.

“Sekarang istirahatlah Dara, kau pasti lelah.” Ujarnya sambil mengaitkan rambutku yang sedikit berantakan ke belakang telinga. “Kau pasti lelah karena menunggu selama beberapa jam.”

“Aku akan menunggu eomma sampai dia bangun.”

“Suster akan merawatnya dengan baik.” Kata Jiyong lagi dengan lembut. “Kau tidak perlu khawatir.” Sambungnya. “Pulanglah dulu.” Aku menggelengkan kepalaku.

“Aku tidak bisa meninggalkan eomma.”

“Kalau begitu tidurlah di ruanganku. Disana ada sofa panjang yang bisa kau gunakan untuk tidur.” Katanya, aku kembali menggelengkan kepalaku.

“Siapa yang akan menjaga eomma jika aku tidur?”

“Aku akan melakukannya Dara.” Katanya sambil terus menatapku. “Aku akan menjaga eommoni selama kau beristirahat.”

“Tapi Jiyong kau pasti lelah lagipula apa kau tidak ada pekerjaan lain?”

“Aku sudah tidak mempunyai jadwal jadi aku bebas sekarang.” Ujarnya lagi. “Tidurlah, matamu sudah sangat lelah.” Sambungnya sambil membelai pelan wajahku yang kemudian aku balas dengan anggukan patuh.

“Bagaimana dengan Durami?” Tanyaku setelah menyadari adikku yang masih tertidur sambil duduk di kursi tunggu.

“Aku akan menyuruh seseorang untuk mengurusnya.” Katanya kemudian dia memegang tanganku dan menuntunku untuk berjalan ke ruangannya. Aku menghembuskan napas dengan apa yang Jiyong lakukan saat ini.

Aku sempat membenci Jiyong karena dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada aku namun sekarang pekerjaan Jiyong lah yang telah menyelamatkan eomma. Ini ironis sebenarnya membuatku merasa buruk dan malu pada Jiyong dan diriku sendiri. Setelah sampai diruangannya Jiyong lalu langsung mendudukan aku di sofa panjang yang ada di sini.

“Tidurlah dulu Dara.” Ucapnya sambil tersenyum lalu membelai wajahku dengan lembut. Aku menurut kemudian membaringkan tubuhku di sofa itu. Jiyong berdiri kemudian berjalan, setelah Jiyong keluar dari ruangan ini aku langsung menutup mataku untuk mencoba tidur.

Jiyong benar bahwa aku memang sangat lelah jadi sepertinya hanya dalam waktu beberapa detik saja aku sudah hampir masuk kedalam dunia mimpi namun mataku kembali terbuka saat aku merasakan sebuah selimbut yang dipakaikan pada tubuhku dan ketika aku melihat ternyata Jiyonglah yang memakaikannya.

Aku terpaku dengan apa yang Jiyong lakukan, Jiyong kembali. Jiyong yang selalu membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia kini telah kembali dan itu berhasil membuat senyumanku mengambang. Jiyong tersenyum kemudian membelai lagi wajahku lalu menyuruhku untuk tidur lagi. Dia keluar dari ruangan ini setelah mengatakan akan menjaga eomma untukku.

Tuhan, apakah ini caramu untuk menunjukkan kepadaku bahwa Jiyong adalah pria terbaik yang kau ciptakan untukku? Apakah ini adalah caramu untuk menunjukkan kepadaku betapa bodohnya aku karena telah membiarkannya meninggalkan aku dulu?

Author

Sudah empat hari ini Dara tinggal di rumah sakit untuk menjaga ibunya yang baru saja melakukan operasi bedah jantung. Dara pulang ke rumah hanya untuk mandi dan berganti baju, dia bahkan tidak datang ke tempatnya bekerja sejak ibunya dirawat di sini.

Ini sebenarnya sedikit aneh bagi Dara karena ini untuk pertama kalinya dia merasa betah dan nyaman berada di rumah sakit dan sama sekali tidak lagi teringat akan ayahnya. Dara tahu satu-satunya alasan kenapa dia bisa merasa seperti itu saat ini adalah karena Jiyong.

Jiyong hampir selalu menemani Dara untuk menjaga ibunya jika dia sedang ada waktu luang, walaupun itu hanya untuk beberapa menit tapi Jiyong akan datang dan melihat kondisi ibunya. Jiyong tanpa sadar telah membantu Dara untuk mengobati rasa trauma yang selama beberapa tahun melanda diri Dara, namun ironisnya rasa trauma Dara terobati setelah mereka bukan lagi sepasang kekasih.

Dara merasa bahagia dengan kehadiran Jiyong setiap kali dia datang ke ruang rawat ibunya, atau setiap kali Jiyong mengajak Dara untuk makan siang bersama di kantin rumah sakit yang membuat mereka menjadi pusat perhatian. Dara sangat yakin bahwa ada beberapa dokter wanita dan suster-suster yang selalu mendesah dan melihat mereka dengan tidak suka. Dara tahu pesona Jiyong pasti telah berhasil menyihir mereka semua jadi ketika perhatian Jiyong teralihkan kepada Dara maka semua mata para wanita itu selalu memandang benci kepadanya, namun dia tidak peduli. Dia terlalu bahagia untuk memikirkan perasaan orang lain saat ini.

Hari ini ketika Dara akan kembali ke rumah sakit setelah mandi dan berganti baju dia mampir dulu ke supermarket untuk membeli sekotak gingseng merah untuk Jiyong. Dara tahu Jiyong akhir-akhir ini kurang beristirahat karena menjaga ibunya jadi dia membelikan itu untuk berterimakasih kepada Jiyong.

Setelah sampai di rumah sakit Dara langsung mencari sosok Jiyong. Senyumnya langsung mengembang ketika Dara melihat Jiyong yang sedang menulis sesuatu di meja administrasi. Dara berjalan cepat kemudian menyapa Jiyong setelah berada di dekat pria itu.

“Jiyong.” Seru Dara dengan lembut. Jiyong langsung mengalihkan pandangannya kepada Dara kemudian tersenyum kearahnya. Senyuman yang membuat hati Dara menjadi hangat.

“Ada apa?” Tanya Jiyong sambil terus tersenyum.

“Aku ingin memberikan ini.” Ucap Dara sambil menyerahkan bungkusan berisi gingseng merah yang tadi dia beli.

“Apa ini?” Tanya Jiyong setelah dia menerima bungkusan itu.

“Gingseng merah.” Ujar Dara. “Terimakasih karena selalu menjaga eomma.” Sambung Dara sambil tersenyum kepada Jiyong. Jiyong mengangguk kemudian mengambil satu bungkus gingseng merah, dia menyobek bungkus gingseng merah itu kemudian menyerahkannya kepada Dara.

“Minumlah ini.” Ujar Jiyong. “Kau juga pasti lelah karena begadang untuk menjaga eommoni.”

“Terimakasih.” Ujar Dara sambil menerima gingseng merah itu. “Aku pergi dulu kalau begitu.” Ucap Dara dengan senyuman yang terus mengembang. “Sampai jumpa nanti.” Sambungnya kemudian berbalik setelah Jiyong mengangguk.

Dara berjalan dengan perasaan hangat dan senang. Dia bertingkah seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Iya, dia sadar dia telah jatuh cinta kepada orang yang sama. Dia jatuh cinta lagi kepada Jiyong. Dara memang selalu mencintai Jiyong namun dia merasa bahwa kadar cintanya untuk Jiyong kini bertambah berkali-kali lipat karena semua hal yang telah Jiyong lakukan akhir-akhir ini untuk Dara.

Dara yang masih berjalan tidak jauh dari tempat Jiyong kini bisa mendengar seorang suster yang bertanya kepada Jiyong.

SeonsangNim siapa wanita itu? Bukannya wanita itu yang dulu anda antarkan ke sini saat dia sedang sakit?” Dara tersenyum mendengar pertanyaan suster itu karena kembali mengingat semua hal yang Bom katakan tentang sikap Jiyong yang sangat khawatir saat dia sedang sakit. “Apa hubungan anda dengan wanita itu? Apa kalian sangat dekat?” Tanya suster itu lagi yang sepertinya sangat penasaran dengan hubungan Jiyong dan Dara. Dara sedikit melambatkan langkahnya karena dia penasaran jawaban apa yang akan Jiyong katakan.

“Dia calon istriku.” Ujar Jiyong yang langsung membuat wajah Dara merona merah dan matanya membulat dengan sempurna. Apakah dia salah dengar? Tapi Dara yakin dengan apa yang dia dengar tadi. Dia ingin berbalik lalu menyuruh Jiyong untuk mengulang apa yang dia katakan tadi tapi dia membuang jauh pemikiran itu. Dia takut akan menjadi udang rebus di hadapan Jiyong jadi dia mempercepat langkah kakinya dengan perasaan yang bercampur aduk. Mereka bahkan belum jadian lagi tapi Jiyong sudah mengatakan hal itu? Apa ini artinya Jiyong akan segera melamar Dara?

JiyongPov

Aku langsung tersenyum senang saat jam tanganku menunjukkan waktu istirahat. Aku berdiri dari tempat dudukku kemudian berjalan keluar ruangan. Aku berjalan langsung kearah ruangan di mana ibu Dara dirawat. Aku akan mengajak Dara untuk makan siang lagi seperti hari-hari kemarin. Aku terus berjalan dengan perasaan senang yang beberapa hari ini telah aku rasakan.

Saat aku masuk ke dalam kamar rawat ibunya aku langsung dapat melihat Dara yang kini sedang bersandar pada sofa sambil memegang sebuah novel ditangannya. Dia menurunkan novel saat mendegar suara pintu terbuka lalu setelah tahu bahwa aku yang datang dia langsung kembali mengangkat novel itu dan melanjutkan membaca. Sedangkan Durami adikknya kini sedang sibuk mengetik pada laptop, sepertinya dia sedang mengerjakan pekerjaannya di sini.

“Jiyongi.” Aku mendengar suara ibu Dara memanggilku saat aku sedang berjalan pelan kearah mereka. “Kapan aku bisa pulang?” Tanyanya setelah aku berdiri di sampingnya.

“Jika kondisimu jauh lebih baik.” Kataku sambil tersenyum, ibu Dara hanya mendengus.

“Kau selalu mengatakan itu setiap hari tapi tetap saja aku masih berbaring di sini padahal aku sudah menuruti semua yang kau suruh.” Kata ibu Dara lagi. Aku tertawa.

Eommoni apakah kau tidak suka di sini?” Tanyaku. “Apa kau tidak suka ruangan ini? Apa kau ingin pindah ke ruang VVIP?”

Anni.” Ujar ibu Dara sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin membayar mahal hanya untuk tidur di ruang VVIP lagipula ruangan ini saja sudah cukup besar.” Katanya lagi.

“Semuanya sudah di bayar jadi eommoni jangan khawatir.”

“Siapa yang membayarnya? Dara?” Tanya ibu Dara kemudian melirik Dara yang masih sibuk dengan novel yang dia baca. “Dara kau punya uang darimana untuk membayar semua ini?” Tanya ibunya yang membuat Dara mendongkak lalu melihatnya.

“Memangnya aku sekaya apa hingga bisa membayar semua ini?” Tanya Dara balik. “Eomma berterimakasihlah kepada Jiyong karena berkat dia kita tidak perlu membayar mahal.”

“Jadi kau yang membayar ini semua?” Tanyanya kini sambil melihatku. Aku menggelengkan kepala.

“Aku hanya membantu lagipula kita dapat diskon yang sangat besar karena aku adalah dokter di sini.”

“Kenapa kau melakukannya?” Ujar eomma Dara. “Kau membuatku tidak enak saja.” Sambungnya.

“Ya eommoni jangan seperti ini. Aku senang karena bisa membantumu jadi habiskan saja uangmu untuk membeli tas dan barang-barang lainnya.” Kataku sambil bergurau.

“Kau baik sekali.” Ujar ibu Dara sambil tersenyum. “Sayang sekali kau bukan calon menantuku lagi.” Sambungnya yang aku tanggapi dengan senyuman.

Eommoni aku ke sini sebenarnya untuk mengajak Dara makan.” Ujarku sambil melihat Dara.

“baguslah.” Ujar ibu Dara. “Bawa saja dia. Dari tadi dia hanya tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.” Sambungnya. “Dia sepertinya sedang senang tapi tidak ingin memberitahuku alasannya jadi bawa saja dia karena dia membuatku kesal.”

“Ya eomma.” Protes Dara sambil sedikit merenggut. Dia menaruh novel yang dia pegang di atas meja kemudian berdiri. “Kau mau ikut?” Tanya Dara kepada Durami yang masih sibuk dengan laptopnya.

“Pergi saja sendiri, aku tidak ingin menjadi obat nyamuk.” Ujar Durami yang membuat Dara mendengus. Dia berjalan kearahku kemudian tersenyum lalu mengajakku untuk keluar.

“Kau sedang senang?” Tanyaku kepada Dara setelah kami keluar dari dalam kamar rawat ibunya. Dia mengangguk kemudian tersenyum. “Kenapa?” Tanyaku karena sedikit penasaran.

Geunyang.” Jawabnya sambil mengedikkan bahunya.

Selama perjalanan aku dan Dara membicarakan tentang kondisi ibunya yang semakin membaik kemudian berhenti sebentar ketika mengambil makanan. Kami kembali membicarakan hal lain saat sedang makan.

Aku sangat bahagia bisa seperti ini lagi dengan Dara, Berbicara normal tanpa harus bertengkar lagi. Aku bahagia karena kini bisa melihat lagi senyumannya yang sangat menenangkan, tawanya yang selalu berhasil menghangatkan hatiku.

Ketika makananku sudah habis aku langsung melihat jam tangan dan ternyata masih ada waktu setengah jam sebelum jadwalku dengan pasien.

“Dara aku masih ada waktu, apa kau mau berjalan-jalan sebentar?” Tanyaku kepada Dara yang sedang meminum air putih.“Aku ingin menunjukkan atap gedung ini. Disana sangat indah dan aku yakin kau pasti suka.” Ujarku sambil tersenyum.

“Benarkah?” Tanya Dara dengan antusias yang aku balas dengan anggukan. “Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi.” Katanya kemudian kami kembali berjalan sambil membawa kopi kaleng kearah atap gedung ini.

“Wahh.” Ujar Dara riang setelah melihat atap gedung rumah sakit ini. Dia sedikit membuka mulutnya karena takjub. “Indah sekali.” Katanya lagi sambil melihatku. “Aku tidak tahu bahwa di rumah sakit bisa ada tempat seindah ini.” Sambungnya sambil berjalan kemudian berhenti tepat di depan dinding pembatas. “Aku bisa melihat kota Seoul dari sini.” Ujarnya lagi sambil melihat pemandangan kota yang terlihat dari sini.

“Sudah aku bilang kau pasti akan suka.” Ujarku sambil duduk di sebuah bangku panjang yang ada di sini.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya huh?” Tanya Dara sambil berbalik kemudian melihatku. Aku hanya tersenyum kemudian membuka kopi kaleng yang aku bawa lalu menyerahkannya kepada Dara.

“Duduklah di sini.” Ujarku kepada Dara setelah dia mengambil kopi kaleng. Dia menurut kemudian duduk di sampingku. “Kau sepetinya terlihat lebih nyaman sekarang. Kau tidak masalah lagi dengan rumah sakit?” Tanyaku setelah kami diam selama beberapa saat.

“Sepertinya begitu.” Ujar Dara sambil sedikit mengangguk.

“Kenapa bisa?” Tanyaku. “Apa yang telah terjadi hingga kau tidak trauma lagi?”

“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tiba-tiba senyaman ini saat berada di rumah sakit.” Katanya kemudian tersenyum, aku ikut tersenyum kemudian kembali memandang pemandangan yang ada di hadapan kami. “Terimakasih.” Aku tiba-tiba mendengar suara lembut Dara.

“Kau berterimakasih kepadaku?” Tanyaku sambil kembali melihatnya. Aku melihat Dara menganggukkan kepalanya. “Untuk apa?”

“Untuk semua hal yang telah kau lakukan akhir-akhir ini.” Ujar Dara dengan pelan. “Terimakasih karena telah menyelamatkan eomma.” Sambungnya dengan sorot mata lembut.

“Tidak perlu berterimakasih kepadaku Dara. Aku melakukannya karena aku juga menyayangi eommoni.” Kataku sambil terus menatap Dara.

“Aku tahu kau menyayangi ibuku.” Ujar Dara dengan lembut kemudian dia mengalihkan pandangannya dariku. “Jiyong aku juga ingin meminta maaf.” Sambungnya.

“Kenapa?” Tanyaku karena bingung. “Kau berbuat salah kepadaku?”

“Sangat banyak kesalahan yang aku lakukan kepadamu.” Jawabnya sambil terus melihatku. Aku kembali mengerutkan kening. “Aku selalu berkata kasar kepadamu.” Sambungnya kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Aku mengambil tangan Dara kemudian menggenggamnya dengan erat yang berhasil membuat Dara kembali menatapku.

“Jangan bicarakan masa lalu Dara. Kita berdua sama-sama salah saat itu.” Kataku kemudian membelai rambutnya lalu turun pada wajahnya dan terakhir pada bibir mungilnya. Dara terpaku dengan semua yang aku lakukan dan bibirnya sedikit terbuka saat itu jadi aku memberanikan diriku untuk menangkub wajahnya dengan tanganku lalu mendekatkannya pada wajahku sendiri lalu menekankan bibirku pada bibirnya yang akhirnya membuat kami terlibat ciuman. Aku merasakan lagi ciuman lembut Dara. Ciuman yang selalu mampu membuatku melayang.

DaraPov

“Jiyong.” Kataku kepada Jiyong setelah kami berhenti dari ciuman kami. Dia menatapku dengan sangat intens. “Aku tadi mendengarnya.” Ujarku lagi kepada Jiyong dengan suara pelan.

“Apa yang kau dengar?” Tanya Jiyong dengan bingung.

“Aku mendengar kau mengatakan aku adalah calon istrimu.” Kataku lagi yang langsung membuat Jiyong membuka sedikit mulutnya lalu menggaruk lehernya dengan canggung.

“Kau mendengarnya?” Tanya Jiyong masih sambil menggaruk lehernya. Aku menganggukan kepalaku dengan pelan. “Mian.” Katanya lagi. Aku sedikit tertawa setelah mendengar dia meminta maaf. “kenapa kau tertawa?” Tanyanya dengan raut wajah yang semakin bingung. “Apa kau tidak marah?” Aku menggelengkan kepalaku.

“Aku tidak marah.” Ujarku. “Hal itulah yang membuat ibuku mengira aku gila tadi. Aku senang setelah mendengarnya.”

“Syukurlah kalau begitu.” Ucap Jiyong dengan sangat lembut.

“Tapi aku sedikit heran kenapa kau mengatakan itu?”

“Kenapa heran? Apakah kau tidak mau menjadi calon istriku?” Tanya Jiyong. Aku kembali menggelengkan kepalaku.

“Bukan itu maksudku.”

“Jadi kalau bukan itu apa artinya kau ingin menjadi calon istriku?” Tanyanya lagi sambil tersenyum menggoda. Aku mau tidak mau tertawa setelah mendengar pertanyaannya. “Kenapa kau tertawa?” Tanya Jiyong lagi. “Jawab aku.”

“Apa kau sedang melamarku sekarang?” Tanyaku yang Jiyong balas dengan anggukan.

“Aku sedang melamarmu.” Katanya sambil tersenyum.

“Bagaimana bisa kau melamarku dengan cara seperti ini?” Ujarku sambil sedikit merenggut. “Tidak ada bunga? Tidak ada cincin?” Ujarku lagi. “Tidak ada hal-hal romantis lainnya?”

“Kau ingin yang romantis?” Tanya Jiyong.

“Tentu saja.”

“Tunggu sebentar kalau begitu.”Kata Jiyong kemudian dia berdiri. Aku yang sedikit heran hanya bisa mengikuti arah langkah Jiyong yang kini berjalan menuju ke kebun kecil di sudut tempat ini. Aku sedikit tertawa setelah menyadari apa yang sedang Jiyong pikirkan. Aku menutup mulutku dengan tangan lalu kembali tertawa ketika melihat Jiyong memetik beberapa bunga yang tumbuh disana. Jiyong selalu melakukan hal-hal yang tidak pernah aku pikirkan akan dia lakukan. Jiyong benar-benar kembali seperti dulu.

“Ya!” Ujarku ketika Jiyong sudah berdiri lagi di hadapanku. “Kenapa kau merusak kebun orang lain?” Tanyaku yang masih sedikit tertawa.

“Aku hanya meminta sedikit.” Ujar Jiyong kemudian kembali duduk di sampingku. “Ini.” Katanya sambil menyerahkan bunga-bunga kecil yang barusan dia petik kearahku. “Sudah romantis bukan?” Tanya Jiyong sambil tersenyum. Aku menggelengkan kepalaku lalu kembali merenggut seperti tadi. “Arasseo.” Ujar Jiyong lagi kemudian aku melihatnya bergerak lalu berlutut di hadapanku.

Aku menggigit bibirku ketika melihat Jiyong berlutut seperti itu, aku sedikit gugup sekarang. Jiyong tersenyum kemudian berdehem lalu mulai memegang tanganku dengan tangan kirinya dan satu tangan masih memegang bunga yang tadi dia petik. “Dara, kau tahu aku bukan pria yang mudah mengekspresikan apa yang aku rasakan, kau tahu aku bukan pria romantis jadi aku tidak tahu bagaimana cara melamar dengan romantis seperti yang kau inginkan jadi yang aku bisa katakan hanyalah ini.” Ujar Jiyong dengan menatap tepat pada mataku. Dia diam sebentar kemudian menghembuskan napas. “Dara, maukah kau melewati sisa hidupmu bersamaku?” Tanya Jiyong dengan suara pelan namun penuh ketulusan. Aku menahan napasku sebentar saat Jiyong mengatakan itu dan mataku sedikit berair karena terlalu bahagia, akhirnya aku mendengar Jiyong mengatakan kata-kata itu. “Will you marry me?” Tanyanya lagi dengan senyuman hangat yang dia sunggingkan pada bibirnya, aku tentu saja menganggukan kepalaku dengan pelan. Jiyong kembali tersenyum kemudian menaruh bunga yang tadi dia petik di sampingku.

Aku melihatnya merogoh saku jas yang dia pakai kemudian beberapa saat kemudian aku melihat Jiyong mengeluarkan kotak cincin berwarna hitam. Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tangan karena sedikit tidak percaya. Jadi Jiyong benar-benar sudah menyiapkan ini? Jadi Jiyong benar-benar akan melamarku hari ini?

Eotteohge?” Tanyaku kepada Jiyong dengan air mata yang mulai jatuh pada pipiku. Aku tidak menyangka bahwa Jiyong ternyata sudah merencanakan hal ini. “Cincin itu?” Tanyaku lagi dengan sedikit kaget setelah menyadari bahwa bentuk cincin itu sama persis dengan cincin yang pernah aku tunjukkan kepada Jiyong saat kami sedang berlibur di SG. Jiyong menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

“Ini cincin yang kau inginkan saat kita berlibur.” Ujar Jiyong membuat air mataku semakin keluar dengan deras. Apa ini artinya Jiyong memang sudah berencana untuk melamarku setelah kami kembali ke Korea? “Dara maafkan aku karena baru memberikan ini kepadamu, harusnya aku langsung memberikan cincin ini kepadamu saat kita masih di Singapura. Harusnya aku melamarmu saat itu.” Sambungnya sambil menggenggam tanganku.

“Jiyong.” Ucapku pelan sambil terus menangis. Aku tidak sanggup untuk berkata-kata saat ini karena aku terlalu malu. Jiyong sangat mencintaiku namun aku malah mengacaukan hubungan kami dan membuat kami putus karena pemikiran egoisku.

“Jangan menangis.” Ujarnya pelan sambil mengusap lembut kedua mataku. “Ini hari yang sangat membahagiakan jadi tidak seharusnya kau menangis.”

“Aku minta maaf.” Ujarku lagi sambil menggelengkan kepalaku. “Aku bodoh karena membuat kita berpisah lama.” Jiyong langsung meletakkan satu jarinya di bibirku kemudian menggelengkan kepalanya.

“Jangan menyalahkan dirimu lagi Dee.” Ujarnya dengan sangat lembut. “Ini takdir kita, mungkin Tuhan sengaja menjauhkan kita dulu sehingga kita bisa menyadari betapa berharganya hubungan kita.      Betapa berharganya kehadiranmu di hidupku.” Ujar Jiyong.

“Tapi kenapa Tuhan ikut campur hingga sejauh ini dan memisahkan kita?” Ujarku lagi.

“Bukankah Noah dan Allie juga sempat berpisah selama beberapa tahun?” Ujar Jiyong sambil menyebut tokoh utama dalam film THE NOTEBOOK, film romance kesukaanku. “Mereka berpisah namun pada akhirnya mereka kembali bersama.” Sambung Jiyong lagi. “Mereka bersama bahkan saat Allie sudah tidak bisa lagi mengenali Noah.” Ujar Jiyong lagi. “Hubungan kita ini sangat berharga Dara jadi Tuhan ingin menguji seberapa mampu kita bisa bertahan.” Sambungnya lagi sambil membelai wajahku yang masih mengeluarkan air mata.“aku janji Dara kita juga akan seperti Noah dan Allie, seperti adam dan hawa yang kembali bersama setelah cinta mereka diuji, setelah mereka dipisahkan selama beberapa lama kemudian kembali dipersatukan.” Ujar Jiyong lagi dengan sangat lembut.“Kita akan selalu bersama, aku akan selalu bersamamu sampairambutmu berubah memutih, aku akan selalu bersamamu sampai kulitmu berubah menjadi keriput, aku akan selalu bersamamu bahkan saat kau sudah tidak mengenaliku lagi.” Ucap Jiyong sambil terus menatap mataku yang terus mengeluarkan air mata. “Aku akan menjadi Noahmu untuk selalu mengingatkanmu bahwa kita saling mencintai, untuk mengingatkanmu bahwa kita selalu bahagia saat bersama.” Tambahnya sambil kembali mengusap air mataku. “Berhentilah menangis.” Kata Jiyong setelah beberapa saat kemudian diaberdiri lalu memelukku yang masih dudukdi hadapannya. Jiyong mengusap punggungku dengan sangat lembut membuatku merasa nyaman sekaligus merasa dicintai olehnya, membuatku merasa yakin bahwa Jiyong memang hanya ditakdirkan untuk menjadi milikku.

“Yongi.” Ucapku pelan membuat Jiyong melepaskan pelukannya lalu kembali menatapku. “saranghae.” Ucapku lagi membuat Jiyong tersenyum senang.

Nadosaranghae.” Balasnya kemudian kembali berlutut di hadapanku lalu memakaikan cincin itu pada jari manisku. “Gomawo karena telah kembali kepadaku.” Sambung Jiyong setelah berhasil menyematkan cincin itu.

Gomawo karena tidak pernah pergi kepada wanita lain saat kita berpisah.” Ujarku yang dia balas dengan sedikit tertawa kemudian dia mendekatkan wajahnya padaku lalu mencium bibirku lagi, kami berciuman dengan saling melumat bibir masing-masing. Namun ciuman kami terganggu oleh suara ponselnya yang berdering. Jiyong langsung melepaskan ciumannya kemudian mengangkat panggilan itu.

“Ada apa?” Tanya Jiyong dengan sedikit kesal. Aku tahu dia kesal karena telah diganggu. “Arasseo, aku ke sana sebentar lagi.” Sambungnya kemudian mematikan panggilannya. “Aku harus kembali.” Katanya sambil melihatku lagi.

“Tidak bisa nanti saja?” Tanyaku dengan sedikit merenggut. Dia menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa meninggalkan pasienku.” Ujarnya dengan wajah meminta maaf.

Arasseo.” Kataku akhirnya. “Kau memang lebih mencintai pasienmu daripada aku.” Jiyong sedikit tertawa.

“Aku hanya mempertanggung jawabkan pekerjaanku.” Katanya sambil mengacak-acak rambutku. “Kau satu-satunya yang aku cintai.” Sambungnya.

Ara.” Ujarku. “Aku memang satu-satunya yang kau cintai sebesar dunia ini.” Ujarku kemudian tersenyum. Jiyong ikut tersenyum kemudian mengulurkan tangannya mengajakku untuk pergi dari tempat ini. Aku menurut sambil menggapai tangannya membuat kami bergandengan tangan sampai di depan kamar rawat ibuku.

TBC

Advertisements

24 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] If You #7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s