[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 4.

ano-another-copy

SCENE 04 <HER FIRST>


Dinginnya udara Januari tidak menyurutkan semangat Sandara dalam berbelanja. Hingga sekarang, belum ada yang bisa menghentikan hobinya satu itu. Meski Bom tidak bisa menemaninya kali ini, sama sekali tidak menyurutkan niatannya dan malah hal itu membuatnya kian merasa leluasa untuk berbelanja. Anggap saja sahabatnya itu bukan teman belanja yang menyenangkan karena selalu saja berkomentar tentang segala sesuatu yang dilihatnya.

Begitu memasuki mall, mata Sandara terbelalak lebar melihat tulisan SALE dipajang besar-besaran. Tak peduli dengan nada negatif yang selalu diterimanya dari Jiyong jika Sandara menyebut-nyebut tentang kegiatan belanjanya. Dia lebih dulu suka belanja dibandikan dengan suka Jiyong, begitulah alasannya, tak bisa membuat Jiyong membantahnya lagi.

“Hanya melihat-lihat jika ada barang bagus, belum tentu beli apa pun,” alasan Sandara yang tidak bisa dipercaya.

Sandara berjalan tergesa melihat deretan sweater rajutan tangan yang masih tertata rapi, meski bisa dipastikan setelah ia melangkah pergi nanti pramuniaga akan mengeluh karena mereka harus menata ulang semuanya lagi. Tapi, itu memang sudah pekerjaan mereka, begitu pikir Sandara enggan ambil pusing. Terlebih, orang lain pun akan berpikiran sama dengannya.

Setelah memperoleh empat potong sweater (dua untuknya, satu untuk Bom, dan satu untuk Jiyong), Sandara beralih ke deretan celana jeans. Ia hanya sejenak berada di sana karena tidak ada yang menarik perhatiannya kemudian beralih ke deretan skirt, dan menemukan sepotong skirt selutut yang terlihat manis.

Hampir dua jam Sandara berkeliling, kakinya akhirnya mulai protes. Dia memutuskan untuk menyudahi aktivitas berburunya kali ini dan segera mengantre di kasir.

Masih ada dua orang lagi sebelum Sandara, namun sepertinya ia masih harus menunggu. Karena dua orang di depannya membawa tumpukan belanjaan tiga kali lipat dari belanjaannya – dan belanjaannya cukup untuk ganti selama satu bulan tanpa mencuci. Rupanya ada yang lebih gila belanja dibandingkan dirinya. Opsi lainnya, kedua ahjumma di depannya itu akan membuka toko baju.

“Sombong sekali…” seseorang mengagetkan Sandara dengan berbisik di telinganya. Refleks, ia menoleh dan melihat orang yang berdiri di belakangnya.

Cowok seusianya, wajah pantas untuk menjadi model acara fashion show, dengan kacamata minus bertengger di hidung. Tangannya hanya memegang secarik kertas kecil, berarti bukan cowok penggila belanja yang tergiur dengan diskon seperti dirinya. Sayangnya, Sandara sama sekali tidak bisa mengidentifikasi identitas cowok itu di memori otaknya.

“Maaf, siapa?” akhirnya dia bertanya hati-hati.

Sandara justru mendapatkan jawaban berupa suara tawa, memaksa otaknya bekerja lebih keras. Siapa? Apa jangan-jangan mantan pacarku?

“Kalau begini, apakah kau ingat?” cowok itu melepas kacamata yang dikenakannya.

Kening Sandara berkerut, otaknya berputar dengan kecepatan maksimal, dalam hati merutuki kemampuan otaknya yang sangat payah jika harus mencocokkan nama dan wajah orang yang jarang dan/atau sudah lama tidak bertemu… sepuluh detik… senyuman Sandara mengembang. Tak tampak lagi rasa lelah dan kesal karena lama mengantre.

“Joonyoungie!” serunya, membuat orang-orang memendanginya. Tapi Sandara tidak peduli.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Joonyoung, kembali memakai kacamatanya.

“Baik, kau sendiri?”

“Seperti yang kau lihat,”

Keduanya terus bercakap saling menanyakan kabar hingga kasir menegur Sandara.

“Ups, jeosonghamnida…”

Joonyoung terkikir geli melihatnya.

“Setelah ini, kau jangan pergi ke mana-mana dulu, aku masih ingin ngobrol denganmu, ya?” pinta Sandara dengan nada memaksa ketika belanjaannya tengah dihitung oleh kasir.

**

“Kau sudah banyak berubah,” kata Sandara sembari menyeruput cokelat panas yang dipesannya.

“Katakan kepada dirimu sendiri. Kau terlihat sangat berbeda dari waktu terakhir kita bertemu,”

Kafe yang mereka kunjungi lumayan ramai. Maklum saja, kafe ini menjadi tempat favorit bagi para remaja seumuran mereka dan bahkan para anak kuliahan. Tadi saja mereka cukup kesulitan menemukan meja kosong.

“Tentu saja, terakhir kita bertemu itu saat masih SMP, kau membayangkan aku terus-terusan sebagai cilik polos?” protes Sandara setelah menelan cairan hangat manis yang disukainya. Oh ya, dia adalah penggemar manis.

Joonyoung tetawa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata hanya penampilannya saja yang banyak berubah. Mulut pedasnya masih sama seperti Sandara yang dulu dikenalnya, sedikit dengan nada manja tersisip tanpa sadar. Masih menjadi daya tariknya, menurut Joonyoung.

Lebih dari satu jam keduanya saling bertutur melepas rindu. Banyak hal yang mereka bicarakan, mayoritas mengenang masa-masa SMP mereka dulu.

Joonyoung adalah pacar pertama Sandara – atau begitulah mereka dulu mengartikan tentang kedekatan keduanya. Orang pertama lawan jenis yang dekat dengannya lebih dari sekedar teman, yang memberikan perhatian lebih dari seorang teman, dan hanya dengan satu senyuman saja telah mampu menghapus gundah yang Sandara rasakan. Joonyoung pula yang membuat Sandara tidak bisa berkata ‘tidak’. Orang yang membentuknya menjadi pribadi yang sekarang ini.

Dari versi Joonyoung, Sandara bukanlah pacar pertamanya (menurut pengakuannya, sejak masih di tingkatan sekolah dasar, dia sudah memiliki pacar – jangan bertanya!), tapi bisa dipastikan adalah merupakan cinta pertamanya. Terlalu dini mengatakan cinta untuk anak SMP bagi orang dewasa, tapi begitulah yang dirasakannya, dan hingga kini belum ada orang lain yang bisa menggantikan posisi khusus Sandara di hatinya.

“Astaga, sudah jam berapa sekarang? Aku harus menelepon Jiyong!” pekik Sandara kaget saat tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan arloji yang melingkari tangan Joonyoung.

Mendengar nama asing di telinganya, kening Joonyoung berkerut.

“Silakan saja telepon dulu, siapa? Pacar?” ada satu percikan kecil dalam perutnya saat menanyakan hal ini, namun diabaikan.

Senyuman Sandara mengembang, kepalanya mengangguk pelan. Menjawab pertanyaan Joonyoung barusan.

“Sebentar ya,”

Dengan cekatan, jemari Sandara bergerak cepat di atas ponselnya.

Joonyoung tersenyum sendiri, mengenang masa lalunya dengan Sandara.

‘Hubungan’ mereka hanya bertahan tiga bulan, tiga bulan yang masih terkenang jelas di benak Joonyoung. Telepon-telepon singkat mereka. Sapaan disertai senyuman saat berpapasan di koridor sekolah. Terlalu lugu untuk disebut mereka berpacaran, tapi itulah yang terjadi, toh mereka masih SMP.

Setelah tiga bulan, mereka putus. Joonyoung sendiri yang meminta, karena keluarganya harus ikut pindah dengan ayahnya yang ditugaskan untuk mengurusi kantor di Tiongkok. Dia tidak menyesal ketika tidak mendapati kesedihan di mata Sandara saat dia meminta putus. Bukan salah Sandara, karena dulu dialah yang memaksa agar gadis itu mau menerimanya.

Joonyoung hanya bertahan satu tahun di sana, sebelum ayahnya akhirnya mengirimnya kembali ke Korea karena nilai-nilai yang berantakan dan pergaulannya yang nakal. Sempat terbersit keinginan untuk masuk ke sekolah yang sama dengan Sandara, tapi niat itu urung karena kabar yang didengarnya, Sandara sudah memiliki pacar baru. Lima mantan dan seorang pacar dalam waktu satu tahun sejak mereka putus. Akhirnya dia memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Sandara, asalkan gadis itu bahagia dengan hidupnya. Setidaknya jarak yang memisahkan mereka sudah tidak bermil-mil jauhnya.

“Mianhe, membuatmu menunggu lama,” Sandara sudah mengakhiri teleponnya, menyadarkan Joonyoung dari lamunan pikirannya.

“Santai saja, tidak masalah,” senyumannya mengembang. “Pacar yang keberapa? Kudengar kau sudah jadi playgirl sekarang?” godanya membuat Sandara mengerucutkan bibirnya. Dia terkekeh melihatnya. Sifat Sandara memang masih sama.

“Salahmu mewariskan sifat player-mu itu padaku,”

Obrolan mereka berlanjut, saling goda dan mengejek, tapi tak ada dendam.

“Sudah hampir gelap ternyata, lihat tempat ini sampai sepi…” Joonyoung tersadar dengan kondisi sekitar yang berubah sepi.

“Iya ya, aku sama sekali tidak sadar,” Sandara ikut-ikutan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

“Cepat pulang sana, orang rumahmu bingung mencari nanti,” Joonyoung berniat mengingatkan.

Tatapan mata Sandara berubah dingin, namun yang ditatap tak menyadarinya. “Kau mau mengejekku? Mana mungkin ada yang bingung mencariku jam segini?”

Joonyoung tertawa, mendadak ingat bahwa Sandara adalah anak tunggal dari orang tua yang selalu sibuk bekerja hingga tengah malam. “Maaf, aku lupa,”

“Tapi memang aku juga harus segera pulang sih,” ucap Sandara pada akhirnya.”

“Dara-ya,” Joonyoung memanggil dengan panggilan khususnya untuk Sandara setelah gadis itu berdiri dan memunguti tas belanjaannya. Sandara berhenti dari kegiatannya dan menatap dengan tatapan bertanya.

“Jangan pernah melupakanku, ya?” pintanya, dalam hati melanjutkan karena aku tidak akan pernah melupakanmu.

Sandara tersenyum, kembali memunguti tas belanjaannya satu per satu, namun menjawab, “Keurumyo, mana mungkin aku melupakan uri Youngie.”

Mendengar Sandara memanggilnya ‘Youngie’ membuat senyuman Joonyoung terkembang, lebar.


SCENE END

<< back next >>

Advertisements

13 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 4.

  1. Kekeke… Gomawoo joonyoungie udah datang “LAGI” di kehidupn Sandara dan masih menyukai Sandara, se’enggak nya buat jiyong was-was ada saingan hahaha…

  2. Yeyy ada orang yang masih suka sama Dara setelah sekian lama dan ngebuat Dara seneng banget ketemu sama Joonyoung. Ohhh jadi karena Joonyoung nih Dara jadi playgirl gitu?? Kekekekekeke.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s