Possessive [Oneshot]

posesif

Genre : Romance, Slice of Life
Length : 2411 words | Drabble

Akhirnya nemu satu lagi cerita lama.. Kalau nggak salah saya nulis ini gara2 curhatan temen waktu jaman negara api belum menyerang dulu… LOL Intinya, harap maklum kalau tema yang saya angkat ini sangat sederhana.. Kekeke Cerita ini adalah merupakan re-make jadi kalau menemukan cerita serupa dengan nama tokoh yang sama di blog pribadi saya, well.. memang aslinya seperti itu.. XD Semoga terhibur dengan cerita ini.. ^^/

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku bingung memikirkan tentang Dara, pacarku. Aneh saja rasanya, setelah sekian lama aku berpacaran dengan banyak yeoja, baru dengan Dara lah aku dibuat pusing. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran yeoja yang telah sekitar lima bulan ini menjadi kekasihku.

Setahuku, sebagaimana pengakuannya, aku ini adalah pacar pertamanya. Lucu juga saat mendengar hal itu, karena aku sendiri telah memacari lima belas orang gadis sebelum Dara, atau bahkan mungkin lebih. Tapi ternyata pengalamanku sebagai playboy masih kurang bila berhadapan dengan Dara. Bukan, bukan karena dia manja atau memiliki sifat yang tidak kusuka. Hanya saja, hmm… bagaimana aku menyebutya, mungkin sedikit tidak masuk akal.

Dara baik, cantik, pintar, ramah, sopan, dan secara keseluruhan dia nyaris sempurna. Itu yang membuatku memutuskan pacar kelima belasku (kalau aku tidak keliru) dan mulai mendekati Dara. Tapi ternyata ada sifat lain Dara yang baru aku ketahui setelah kami resmi berpacaran. Dan itu tidak bisa disebut sebagai sifat jelek. Aku menyebutnya lebih dari sekedar baik, terlalu baik malah.

Namun karena kebaikannya yang terlalu berlebih itulah aku jadi tidak tahu bagaimana perasaan Dara yang sebenarnya padaku. Padahal aku sudah terlanjur dan teramat sangat sayang padanya. Bagaimana kalau ternyata rasa sayangku itu bertepuk sebelah tangan? Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku ingin perasaanku berbalas. Aku ingin kami sama-sama saling menyayangi. Ah, ani saling mencintai.

Pernah suatu hari aku makan siang dengan Dara di kafe langganan kami. Dan tanpa sengaja kami bertemu dengan Chaerin, salah satu mantan pacarku saat aku baru tingkat pertama (total aku berpacaran dengan tiga orang gadis pada tahun pertama kuliah – dan tentu saja tidak dalam waktu yang bersamaan). Aku sama sekali tidak tahu kalau ada Chaerin disana, karena dia yang menyapaku lebih dulu (kalau aku yang melihatnya lebih dulu, aku pasti akan lagsung mengajak Dara pergi dan mencari tempat lain). Dan setelah tahu yang memanggilku itu Chaerin, Dara malah meminta agar kami bergabung dengannya (Dara memaksaku bercerita tentang semua mantan pacarku).

Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Karena Dara dan Chaerin yang menguasai pembicaraan. Lebih tepatnya Dara lah yang menguasai dan mengandalikan pembicaraan. Dara banyak bertanya tentang masa laluku dengan Chaerin. Bisa kulihat, Chaerin merasa tidak nyaman tapi berusaha bersikap sopan. Berkali-kali dia melirik padaku meminta bantuan, tapi aku sama sekali tidak bisa membantunya. Aku sendiri juga merasa tidak nyaman.

 “Bukankah Chaerin gadis yang baik, kenapa dulu kalian bisa putus?” pertanyaan Dara waktu itu membuatku tersedak. Apa yang sedang dia pikirkan? Seolah aku ini bukan pacarnya saja. Seolah hubungan kami hanya sekedar teman biasa. Sejak saat itu aku mulai merasa cemas, jangan-jangan Dara tidak memiliki rasa cinta untukku sama sekali.

Dia juga tidak pernah terlihat cemburu melihatku dekat dengan gadis lain. Padahal dulu Yoona, salah satu mantan pacarku yang lain, mendiamkanku selama satu minggu hanya karena aku menyapa seorang yeoja tetanggaku. Kata orang, cemburu adalah tanda cinta. Apakah itu artinya Dara yang tidak pernah cemburu itu tidak mencintaiku?

Hampir semua mantan pacarku adalah tipe pencemburu. Bahkan terkadang cenderung posesif. Dan kalau tidak salah, sikap posesif itulah yang menyababkanku ingin putus. Tapi sekarang aku aku malah berharap agar Dara bersikap posesif padaku. Hahaha.. terdengar aneh memang.

Oh ya, pernah juga Yoona terus menerorku lewat pesan dan telepon. Katanya dia ingin agar hubungan kami bisa kembali seperti dulu. Aku tidak mau menggubrisnya. pesan-pesannya tidak pernah aku balas dan telepon-teleponnya tidak pernah kuterima. Bagaimanapun aku masih bisa menjaga perasaan Dara, sehingga aku tidak bercerita padanya.

Sayang, Yoona tidak pernah menyerah. Dia terus saja mencoba menghubungiku. pesan tidak kubalas, dia menelepon. Celakanya dia mengirimiku pesan dan meneleponku saat aku sedang bersama Dara. Kupikir Dara akan marah mendengarku menyebut nama Yoona. Ternyata tidak. “Angkat teleponmu, Ji, mungkin ada yang penting.” Katanya lembut tanpa kehilangan senyuman yang selalu terkembang di wajahnya.

Aku dibuatnya kehilangan kata-kata. Dibawah tatapan mata coklatnya yang terang, aku seperti ditembus sinar X-ray. Aku menurut. Kuterima telepon Yoona dengan masih di X-ray oleh mata Dara. Dengan terbata, kujelaskan pada Yoona bahwa aku tidak bisa memenuhi permintaannya. Dara tidak tersenyum, tetapi juga tidak terlihat menahan marah. Ekspresinya sulit untuk dijelaskan, aku tidak bisa membaca isi kepalanya

Dara juga sering membawakanku bekal makan siang. Aku merasa tidak enak, karena dengan begitu dia bertambah repot. Seharusnya aku senang, tapi itu tadi, aku tidak mau merepotkannya.

 “Sama sekali tidak merepotkan, Ji, bukankah aku ini yeojachingu-mu? Jadi wajar kan kalau aku membawakanmu bekal makan siang untuk namjachingu-ku.” Elaknya mendengar protesku. Lagi-lagi aku menemukan diriku jatuh semakin dalam dalam pesonanya.

Seringkali aku dibuat cemburu karena dia dekat dengan beberapa teman namja – yang juga adalah fanboy-nya. Dara baik dan ramah, banyak orang yang suka menjadi teman dekatnya. Ditambah lagi dengan paras dan penampilannya yang menarik. Sudah jadi rahasia umum, para fanboy-nya patah hati karena pada akhirnya Dara berpacaran dengan playboy sepertiku. Harusnya aku sadar akan keberuntunganku, tapi aku tetap terbakar melihatnya beramah tamah dengan namja lain.

“Apa yang mengganggu pikiranmu, Ji?” tiba-tiba Seunghyun, mengagetkanku.

“Ah, hyung kau mengagetkanku.” Aku tak menjawab pertanyaannya.

“Apa yang mengganggu pikiranmu?” Seunghyun mengulangi pertanyaannya.

Aku diam tak menjawab.

“Sandara.” Tebaknya tak sabar, seratus persen tepat. Sandara adalah nama Dara yang tercetak di dokumen resmi, tapi dia lebih suka dipanggil Dara.

Aku mangangguk.

“Ada apa dengannya?!” tanyanya lagi lalu duduk disampingku.

“Aku hanya sedang bingung memikirkan perasaan Dara yang sebenarnya padaku.” Aku mulai bercerita tentang masalahku pada Seunghyun

Seunghyun diam. Menungguku bicara hingga selesai. Dia sangat baik, walau aku sering membuatnya pusing dengan ulahku. Dia telah banyak membantuku, menegurku kalau aku salah jalan, dan selalu bisa membuatku mencoba membuka mata lebar-lebar untuk memandang semua hal dari segala sisi. Aku adalah anak tunggal, sehingga keberadaan Seunghyun sudah kuanggap seperti hyung-ku sendiri.

“Dia sama sekali tidak pernah terlihat cemburu sedikit pun setiap kali aku dekat dengan yeoja lain..”

“Bukannya dulu kamu menginginkan kebebasan? Dulu saat bersama dengan Yoona, kamu tidak suka merasa terikat, kan?”

Seunghyun jelas tahu mengenai ceritaku dengan Yoona yang hanya bertahan dua bulan.

“Iya, tapi Yoona itu terlalu posesif. Dia menganggapku seperti barang miliknya. Itu yang tidak aku suka.” Aku mendesah pelah, “Tapi ini, Dara sama sekali tidak terlihat cemburu sedikit pun.” Aku melanjutkan.

Seunghyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Menyemburkan asap keputihan dari sela-sela bibirnya. Telunjuk dan jari tengah tangan kanannya mengapit sebatang rokok. Seunghyun adalah seorang perokok berat.

“Tapi mungkin kalau Dara yang bersikap posesif, sepertinya aku akan bisa menerimanya,” aku berandai-andai. Dalam hitungan detik, kepalaku langsung menerima sebuah jitakan dari Top.

“Sekarang kamu bisa bilang seperti itu, tapi nanti saat Dara benar-benar menjadi tipe kekasih posesif, kamu akan beralasan tentang kebebasan individu untuk meninggalkannya.”

Aku tertawa cengengesan mendengar perkataannya.

“Coba saja hyung, kau bayangkan Bom noona, tidak pernah sedikit pun cemburu saat melihatmu ‘agak’ dekat dengan yeoja. Pasti kau sendiri yang bingung, Bom noona benar-benar mencintaimu atau tidak..”

Sudah dua tahun Seunghyun dan Bom berpacaran. Bahkan bulan lalu dia sudah melamar yeoja-nya itu. Aku salut pada Seunghyun. Meskipun kadang dia bersikap seenaknya dan sama sekali jauh dari kata dewasa, dia adalah tipe namja yang menjunjung tinggi kesetiaan pada pasangan. Sangat berbeda denganku yang masih suka lirik kanan kiri walau ada sudah punya kekasih. Baru dengan Dara lah aku akhirnya tersadarkan.

“Ya.. memang sih, kadang Bom terlihat cuek. Tapi beberapa kali dia mengaku cemburu saat aku deket sama Min-ah atau yeoja lain, lalu melarangku terlalu dekat dengan mereka.”

Lihat, pasangan paling aneh sekaligus paling pengertian sedunia pun masih disisipi perasaan cemburu. Itu pertanda bahwa mereka saling mencintai. Sedangkan aku.. ah, jangan-jangan ini adalah karma karena dulu aku sering mempermainkan perasaan yeoja.

“Coba saja kau bicarakan baik-baik dengan Sandara, Ji. Kalian udah sama-sama dewasa.” Nasihat Top pada akhirnya.

Aku menghembuskan napas panjang. Sedikit merasa sesak karena cukup banyak asap rokok yang terhirup olehku.

“Nanti akan kucoba.” Putusku.

♥  ♥  ♥

Dara keluar dengan membawa dua cangkir cokelat hangat dan sepiring kue. Aku sudah bisa menebak isi cangkir itu adalah cokelat hangat bahkan sebelum aku melihatnya. Aromanya sudah sangat kuhafal. Dara sudah berpuluh-puluh kali menyuguhkannya cokelat hangat setiap kali aku datang kemari. Dara adalah pecinta cokelat.

Ah, kue ini baru pertama kali aku rasakan. Aku yakin, Dara pasti belajar resep baru dan mempraktikkannya. Harus kuakui, dia sangat piawai di dapur, membuatku semakin jatuh hati.

“Kuenya enak, resep baru?” aku berbasa-basi.

Dara mengangguk, “Neh, aku mendapatkannya dari Hyesun unni.” Hyesun adalah kakak ipar Dara. Mereka akrab karena memiliki hobi yang sama.

“Kamu menyukainya?!” dia berseru senang, “Akan kubungkuskan untuk kamu bawa pulang.” Dan sebelum aku memberikan respon, dia sudah beranjak dari hadapanku.

Tanganku bergerak meraih pegangan cangkir dan menyesap isinya perlahan. Nikmat. Hangatnya menjalar dari tenggorokangku hingga keseluruh tubuh.

Dara kembali muncul dengan mengenakan sweater pink – warna kesukaannya. Sepertinya dia merasa kedinginan, malam ini memang salju pertama mulai turun. Untung saja aku mengurungkan niat untuk mengajaknya pergi keluar malam ini. Aku tidak mau mengambil resiko membuat Daraku jatuh sakit. Lihat, aku mulai posesif. Menganggap Dara adalah barang yang aku miliki.

“Kenapa diam?”

Aku yang sedang mengamati betapa cantiknya dia dengan rambut panjang terurai, kaget dibuatnya.

“Ah.. eh..” aku tergagap, “anu.. itu..”

“Hihihi..” Dara menertawakanku dengan suara tawanya yang mirip seperti suara tawa anak kecil. Menambah daya tariknya dimataku.

“Dara unni, Jiyong oppa… makan malam sudah siap.” Durami – Dara yeodongsaeng yang tiba-tiba muncul mengagetkan kami. Hanya sebentar, karena setelah kepergian Durami, Dara menarik tanganku dengan sigap. Menenarikku ke ruang makan.

“Selamat malam, abeoji.. eommoni.” Sapaku begitu masuk ke ruang makan. “Malam hyung..” tambahku melihat kakak lelaki Dara.

Aku memanggil orang tua Dara dengan sebutan abeoji dan eommoni karena itu permintaan mereka sendiri. Mereka tidak suka kupanggil dengan sebutan paman dan bibi karena menurut mereka itu tidak ada bedanya orang lain. Ah, senangnya aku karena mereka tidak menganggapku orang lain.

Dara sudah sering membawaku makan malam bersama keluarganya. Lebih sering dari pada kubawa dia makan malam bersama orang tuaku. Jangan tanya kenapa, orang tuaku terlalu sibuk bahkan hanya untuk menemani putra mereka satu-satunya makan malam.

“Jiyong, jeongmal kamsahamnida..” kata eommoni tiba-tiba. Dara sedang menyingkirkan piring-piring kotor ke dapur. Hanya tersisa aku, kedua orang tuanya, dan kakaknya.

Belum sempat aku bertanya kenapa, eommoni sudah menambahkan, “Berkat kamu, Dara bisa bangkit lebih cepat dari yang bisa diharapkan..”

“Tadinya kami sempat khawatir, Dara paling dekat dengan Sanghyun, dia yang paling merasa kehilangan sepeninggal Sanghyun..”

Sanghyun adalah kakak ketiga Dara. Dara sendiri merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Dibesarkan dalam kultur keluarga yang mayoritas laki-laki membuat sikapnya susah ditebak dan berubah-ubah. Kadang dia terlihat begitu manja, tapi kadang dia terlihat begitu tegar dan dewasa. Karena perbedaan usia yang tidak begitu jauh, membuat Dara paling dekat dengan Sanghyun.

Aku bisa tahu karena aku sempat mangenalnya walau hanya sebentar. Aku pun bisa merasakan bagaimana saling sayangnya mereka berdua. Aku tidak boleh cemburu waktu itu, karena itu adalah hak mereka untuk saling menyayangi sebagai saudara.

Hanya dua bulan aku mengenal Sanghyun. Sebulan setelah aku berpacaran dengan Dara, Sanghyun meninggal dalam kecelakaan. Waktu itu, Dara sangat sedih dan terpukul. Aku sendiri cukup merasa kehilangan, apalagi Dara yang adalah orang terdekatnya.

“Saya hanya membantu Dara semampu saya. Pada dasarnya Dara adalah gadis yang kuat dan tegar.”

♥  ♥  ♥

“Tadi kalian membicarakanku, kan?” Dara mulai mengintrogasiku setelah kami berdua kembali ke ruang tamu.

“Siapa bilang?” elakku sambil mencubit pipinya.

Aku sangat bersyukur bisa melihatnya kembali bersemangat setelah ditinggal Sanghyun. Tadinya kupikir akan butuh waktu lama untuk bisa memulihkannya seperti sedia kala.

“Dara, apa kamu mencintaiku?” tanyaku tiba-tiba menghentikan ceritanya tentang resep baru yang akan dia praktikkan besok.

Mata bulat Dara memicing. Hal yang selalu dia lakukan setiap kali aku ketahuan tidak mendengarkan ceritanya.

“Sandara..” aku memanggil namanya. Menandakan bahwa aku sedang serius.

Dara kembali ke sikapnya yang semula. Punggungnya tegak dan wajahnya mulai terliahat serius.

“Kenapa kamu bicara seperti itu?” tanyanya curiga.

Aku menarik nafas dalam. Tahu akan ada perubahan pada nada bicaranya.

“Karena aku sangat mencintaimu, dan aku tidak mau kamu merasa terpaksa menjalani hubungan denganku.. aku ingin kita merasakan hal yang sama dalam hubungan ini..”

Dara diam. Sepertinya dia sibuk memikirkan ucapanku yang keluar dari kebiasaan.

“Siapa bilang aku merasa terpaksa menjalani hubungan denganmu?” ujarnya setelah sepuluh menit dalam kebisuan.

Aku terperangah tidak mengerti ucapannya.

“Jiyong, saranghae, jeongmal saranghae..” tuturnya lembut dan meraih tanganku yang tergeletak diatas meja kedalam genggaman tangannya.

Kurasakan seolah-olah ada aliran energi yang tersalur dari tangannya ke tanganku, lalu menyebar keseluruh tubuh. Hatiku sedikit merasa tenang.

“Tapi..”

“Tapi apa?” potongnya cepat.

Aku mencoba memilih kalimat yang tepat, lalu kemudian..

“Tapi kenapa kamu nggak pernah merasa cemburu tiap kali aku bersama dengan yeoja lain?”

Dara diam. Kepalanya menunduk. Genggaman tangannya sudah tidak seerat tadi. Rambutnya yang lurus panjang jatuh terkulai, menghalangi pandanganku dari raut wajahnya. Aku mulai merasa takut.

“Aku selalu cemburu..” katanya setelah lewat lima belas menit.

Wajahnya yang tadi menunduk kembali terangkat. Terlihat berkilau tertimpa cahaya lampu balkon yang terang. Setelah makan tadi kami memutuskan untuk melihat salju turun dari balkon rumahnya.

“..tapi aku tidak mau jadi kamu seperti Sanghyun oppa.”

Bibirnya bergetar. Setetes air jatuh dari sudut matanya saat dia berkedip. Dua kali aku melihat Dara menangis. Pertama, saat meninggalnya Sanghyun. Kedua, karena ulahku barusan.

Gantian tanganku yang menggenggam telapak tangan Dara. Pertanda aku meminta penjelasan.

“Aku selalu cemburu.. selalu..” ulangnya, “setiap kali kamu dekat dengan yeoja lain, tiap kali kamu tertawa karena yeoja lain, aku cemburu..”

Tiba-tiba setetes air menetes di hatiku. Menyejukkan sekaligus terasa hangat. Genggaman tanganku semakin erat.

“Tapi aku inget pesan Sanghyun oppa sebelum dia kecelakaan,” dia melanjutkan diiringi tetesan-tetasan air lain yang saling berkejaran jatuh di pipinya.

Dara melepaskan tangannya dari genggamanku. Membuatku terkejut. Tapi aku lebih terkejut lagi saat dia menyodorkan ponselnya padaku. Dengan penuh rasa ragu dan bertanya-tanya, kuterima hpnya.

Sebuah pesan. Dari Sanghyun.

Finally, I am free… ^^ lelah juga ternyata menjalani hubungan dengan yeoja posesif. Jangan sampai nae-dongsaeng bersikap seperti itu >.<! kasihan Jiyong, kamu sayang kan padanya?

Kulihat tanggal pengirimannya. Empat bulan yang lalu. Tepat dihari meninggalnya Sanghyun. Mataku langsung beralih dari layar ponsel kepada wajah Dara yang berkilauan.

“Aku yakin, penyebab Sanghyun oppa kecelakaan adalah karena dia terus memikirkan yeoja-nya itu.. Sanghyun oppa dulu sering bercerita, yeojachingu-nya itu sangat pencemburu. Cenderung posesif malah,”

Dara terisak pelan, bahunya sedikit bergoncang.

Aku tak tahan melihatnya. Aku tak mau Dara menangis karena aku. Segera aku menariknya kedalam dekapanku.

“Karena itu, waktu kita resmi berkencan Sanghyun oppa berpesan padaku agar aku tidak mudah merasa cemburu, apalagi karena alasan yang tidak jelas.”

Detik ini juga aku sangat yakin. Bahwa hatiku sepenuhnya hanya untuk Dara.

“Jadi selama ini, aku mencoba mencari pengalihan lain tiap kali aku merasa cemburu. Aku tidak mau bersikap posesif dan membuatmu jadi seperti Sanghyun oppa..”

“Kamu boleh cemburu.. kamu harus cemburu. Kamu boleh marah padaku jika aku membuatmu cemburu dan dekat sama yeoja lain..” katanya masih memeluknya.

Apakah ada yang merasa, betapa hangatnya udara malam ini?

♥  ♥  ♥

~ fin ~

Saya pengen jawab sendiri pertanyaan Jiyong di scene bawah.. Nggak Ji, disini dingin. Saya sampai harus pakai selimut.. >.< /dilemparin mangga/ ini cerita yang nulis siapa??!!

Jadi bagaimana? Apakah sudah lunas karena postingan pertama tadi sad ending?? LOL Semoga bikin temen2 semua senyum setelah membaca ini… ^^ Ah, gomawo untuk komentarnya… ^^

Advertisements

48 thoughts on “Possessive [Oneshot]

  1. Dara keren bisa bikin gak keliatan cemburu gotu (y)
    Ah ternyata playboy jiyong juga bertekuk lutut yah sama dara 😀 keren keren

  2. aku baru baca nih ff…kereennnnnn thor….. ji sampe cemas gtu gra2 dara gk pernah cemburu……kekekekke
    aku suka ceritanya…. 😀

  3. Owalahh, ya seharusnya dara unnie cerita dari awal biar jiyong oppa nggak ngebuat dara unnie cemburu dan jiyong oppa tau alasan dara unnie merendam rasa cemburunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s