You are The Apple of My Eye : Part 2

you are the apple of my eyes ff

 

You Are The Apple of My Eye

SERIES  | School Life – Romance | G

Starring :
KWON JIYONG | PARK SANDARA (as Park Yora and Park Dara) | JANG KIYONG

R/R [Read and Review]
HAPPY READING



Jiyong menyambar ransel hitamnya setelah dering bel memekakan telinga. Seperkian detik juga, Jiyong melesat sudah sampai di ambang pintu, sekalipun dirinya berada di ruang terpojok dari pintu. Kwon Jiyong, pria berambut hitam, tatanan rambut yang apik dan sedikit riasan di wajahnya itu sudah mampu membuang banyak waktu para gadis di kelasnya. Penguntit, bukankah itu yang pantas dikatakan untuk mereka semua?

“Jiyong-ie!”

“Aish,”

Pria yang menjadi fokus para gadis remaja itu tak hentinya meruntuk. Baru terhitung lima hari, saat ia menginjakkan kaki di sekolah baru Seoul, mencoba beradaptasi dengan kelas yang kemampuannya berada di posisi tengah, tapi sekarang … para gadis berandalan itu, bertingkah gila sampai membuat otaknya melepuh.

“HEI, KALIAN! Kejar Jiyong oppa!”

Suzy, salah satu siswi bermarga Bae itu menunjuk murka ke arah sang idol sekolah baru, Kwon Jiyong. Matanya yang berbinar ditambah dengan kecantikan kulit yang terekspos sinar matahari khas musim panas, hampir membuat beberapa orang di kelasnya meneteskan liur mereka namun seolah mendapatkan kutukan dari langit ketujuh, para pria yang menyukai Suzy pun hanya diam menonton mengingat satu orang yang menakutkan dari kelas E mungkin akan menghabiskan mereka jika tertangkap mencuri pandang ke arah Suzy.

“OPPA!” Teriakan manja Suzy memecah kegaduhan yang semakin menjadi. Sebagian orang menatap culas, dan sebagian dari mereka khususnya para siswi tak mampu menyembunyikan kemarahan dari bolat mata mereka.

“Gadis jalang itu berulang lagi,” umpat seorang gadis berambut ikal yang tengah menyesap lollipop di tangan kanannya.

“Sutt … jangan memakinya.” Dengan suara bergetar temannya berusaha menghentikan umpatan lain yang mungkin akan keluar dari mulut temannya itu. “Biarkan saja Suzy seperti itu, di sekolah ini tentu tidak ada yang macam-macam dengannya …. Kau tahu, Ji Soo akan berlaga seperti malaikat pencabut nyawa jika terjadi sesuatu pada Suzy, kan?” lanjutnya setengah berbisik.

Bae Suzy memang tidak menyeramkan, berbeda dengan siswi berandal dari kelas D yang selalu membuat onar, namun sama halnya dengan mereka … Suzy sering keluar-masuk ruang bimbingan konseling akibat kejadian yang sama terus-menerus. Gadis dengan bola mata hitam nan bulat itu, akan mengambil setiap waktu selepas pulang sekolah untuk membuat kegaduhan demi mengejar pria yang menurutnya menarik. Kwon Jiyong, murid pindahan dari Okinawa itu jelas telah menjadi incarannya setelah Kiyong membuat kepalanya mendidih karena lebih memilih Yora dibandingkan dengan dirinya.

“HEI KALIAN, kita lewat jalan pintas dan kita tunggu Jiyong oppa di tempat parkir!” Perintah Suzy yang langsung disetujui oleh temannya yang lain.

Ya, setelah hampir tiga hari untuk Suzy membututi dan menunggu waktu yang tepat untuk mengejar incarannya kini dua hari berselang, secara rutin Suzy melakukan hal yang memang menurutnya konyol. Jika bukan karena tidak ingin kalah dengan lawannya, Suzy tidak akan melakukan hal seperti ini … kejadian vatal terjadi karena tindakan santai Suzy untuk Kiyong tapi sekarang … gadis itu sudah banyak belajar.

Berada tetap di posisi bayangan Yora sangat tidak membuatnya nyaman.

“Aigoo, mulai lagi.” Chaerin memijat pelipisnya yang semakin terasa pusing. Gadis bermata sipit dengan eyeliner tebal itu menggerutu ringan dengan masih membeturkan kepalanya ke pintu kelas –berharap menghilangkan kantuknya juga.

“Bukankah dia Suzy? Siswi kelas D itu?” mengibas rambut panjangnya, rambut hitam pekat yang jatuh lurus sampai menutupi punggungnya itu mulai memamerkan pesonanya setelah keluar dari kelas A.

“Eonni, Suzy dari kelas C, bukan kelas D.” Sang magnae hanya membuka mulut sejenak untuk mengoreksi. Gong Minzy, di antara ketiga sahabatnya … Minzy berusia paling muda dan juga yang paling tidak banyak berbicara, berbanding terbalik dengan Park Bom yang tidak pernah bisa menghentikan berbagai rentetan kata yang tersusun di otaknya lewat bibir tipisnya yang merona merah.

“Jinjja? Tapi dia seperti salah satu dari mereka. Gadis-gadis pembuat onar di sekolah … bukankah kalau begitu, Suzy mempunyai bakat untuk bersatu dengan siswi berandalan dari kelas D?” Bom kembali meluncurkan banyak ungkapan dari mulutnya dengan wajah tak percaya.

“Bom, jika aku pikir, kau mungkin akan bertingkah seperti Suzy jika saja tidak berteman dengan kami.” Celetuk Chaerin yang mendapatkan tawa renyah dari Minzy.

“HEI MAGNAE! Jangan menghabiskan banyak suaramu dengan tawa menyeramkan itu.” Geretak Bom dengan menyilangkan lengannya.

“Jangan menghalangi jalanku,” suara manly khas ketua kelas A tiba-tiba membuat ketiga pasang mata yang berbeda itu bulat dengan sempurna. “Jika kalian ingin membicarakan oranglain, cari tempatlah dan jangan sampai mengganggu oranglain,” sambungnya dengan membenarkan kacamata bulat yang cocok dengan hidung mancungnya.

Chaerin hanya diam lalu mendengus dengan membuang muka, Minzy bertingkah bodoh dengan terus memandang tubuh tingginya, sedangkan Bom justru menilik Shin Dongho dengan cara mengejeknya sampai tak tertinggal ungkapan yang perlu Bom tunjukkan untuknya.

“Aku dengar ada seorang pria yang sudah mendengar banyak hal buruk dari Suzy di sekolah ini, ah tentunya gadis pembuat onar itu banyak menjadi bahan pembicaraan. Tapi gilanya … pria itu justru tertarik saat Suzy tidak lagi menginginkannya.” Ukiran senyum Bom terasa puas untuknya setelah melihat kedua manik mata dibalik kacamata Dongho menjurus ke arahnya. “Minzy-ah, bukankah itu cerita yang mengenaskan untuk dialami seorang pria, aniya … mungkin itu balasan yang cocok untuk pria angkuh itu, kan?” sambungnya dengan mengimpit Minzy ke arahnya.

“Ani, eonni … menurutku, itu … um.”

“Minzy, suatu saat kau akan mendapatkan pria yang terbaik di dunia ini dan jangan terus memandang pria yang kau sukai secara diam, ne?” tawa hambar Bom bersama Chaerin di sampingnya.

“Ini jalan untukmu, ketua kelas yang bijak …” dengan nada mengoloknya, Chaerin mempersilakan Shin Dongho berjalan bak puteri di kerajaan.

“HEI KALIAN!” Teriakan yang memecah keheningan sesaat itu muncul saat rangkulan Dara di antara ketiga temannya yang masing menatap punggung pria angkuh itu kian menjauh. “Ada apa dengan ekspresi sama yang kalian perlihatkan?” tanya Dara bingung dengan menusuknya telunjukkan pada pipi ketiga temannya secara bergantian.

“Bukan apa-apa Eonni, Bom Eonni hanya mencoba menghiburku dengan mempermalukan Dongho Oppa.” Ungkap Minzy dengan lemas melepaskan rangkulan dari Bom maupun Chaerin.

“Dongho? Apa kalian berdebat dengannya? Mungkin jika aku ada tadi, Dongho akan lebih banyak menghamburkan waktunya dengan kita. Dibandingkan terus membaca buku seperti kutu buku di kelas sekalipun istirahat … lebih baik beradu argumen bukan?” Jelas Dara tanpa mampu menyembunyikan semangatnya dengan kepalan tangannya yang siap untuk bertempur.

“Dara, sekarang justru aku berpikir …” ucap Chaerin menggantung dengan memutar telunjuknya di samping kanan kepala. “Kau memiliki karakter yang sama seperti si gila Suzy itu,” sambungnya dan langsung menyusul Minzy yang sudah berjalan di depannya.

“Hei, apa ini menyangkut dengan Suzy lagi? Apa kau kembali membahas tentang Dongho dan Suzy, Bommie?” tanya Dara dengan curiga namun Bom meninggalkannya tanpa memberi jawaban sedikitpun. “Kalian ini kenapa, huh? Apa aku meninggalkan banyak kejadian selama membersihkan kelas?”

“Dara, jika kau ingin mendapatkan suguhan hiburan gratis, sebaiknya tunggu saja sampai kita datang di tempat parkir.” Ajak Chaerin dengan sedikit melebarkan langkahnya.

“Apa? Hal yang sama seperti kemarin seperti yang kalian lihat?” tanya Dara yang berusaha menyamakan langkahnya dengan ketiga temannya yang sudah berada di depan. “Aigo, hari ini aku sungguh bersemangat! Aku harap aku tidak terlambat lagi untuk menyaksikannya!” ungkapnya jujur dengan melesatkan kepalan tangannya ke arah langit dan membenarkan gulungan rambutnya.

***

“Perlukah aku ikut denganmu, Noona?”

“Aniya, aku akan segera kembali setelah mengambil catatanku.”

Tepat setelah pintu mobil merah kembali tertutup, Yora keluar dengan masih mengenakan pakaian casual selepas pemotretan yang dia lakukan bersama Jang Kiyong. Yora seharusnya langsung pulang ke rumah namun gadis itu meninggalkan catatan matematika yang aka nada tes besok. Untuk orang seperti Yora, bisa saja dia melimpahkan hal sepele ini kepada managernya, namun gadis itu memilih untuk tidak menyusahkan oranglain.

“Park Yora, long time no see?”

“Ji Won-ah, kapan kau kembali ke Seoul?”

Gadis manis dengan poni yang menutupi seluruh dahi itu menatap Yora dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat. Kim Ji Won, aktris yang berusia lebih muda dibandingkan Yora memang enggan memanggil dengan hormat pada Yora sejak mereka mengenal sepuluh tahun yang lalu. Keduanya pernah terjalin persahabatan di masa lalu, namun empat tahun yang lalu, Ji Won tidak menganggap demikian.

Gadis itu akan acuh dengan kehadiran Yora –kerap kali keduanya bertemu dengan tak sengaja saat Yora pergi ke Beijing dan Ji Won berada di acara yang sama. Ji Won, usianya yang masih muda sekalipun terpaut satu tahun dengan Yora selalu dianggap Yora sebagai sosok dongsaenya –setidaknya lebih baik untuk memiliki adik dibandingkan dengan kakak yang berusia sama, pikir Yora.

“Apa kau merindukanku, Yora?” Ji Won bertanya dengan sarkastis, memangkas jarak di antara keduanya yang dilanjut dengan melepas kacamata coklat kemerahan miliknya.

“Ya?”

“Sudah terlihat dengan jelas hanya melihat mimik wajahmu, di sana … kau benar-benar merindukan aku bukan?”

“Sejak kita bertemu di Beijing, aku tidak tahu kabarmu bahkan oppa mu tidak pernah memberikanku kabar.” Masih dengan nada semangatnya, Yora terus memaparkan senyum menawannya.

“Hentikan senyumanmu itu Yora,” ucap Ji Won dengan frustasi. “Jeongmal, jika bukan karena bualan oppa, mungkin aku tidak perlu sekolah di tempat yang sama dengan wanita menyebalkan ini, aigoo.” Sambung Ji Won dengan suara yang dibuat samar bersama angin musim panas.

“Ji Won-ah, kau akan bersekolah di sini?” dengan sedikit bingung Yora memberanikan diri bertanya dengan Ji Won yang kini tengah memijat pelipisnya.

“Noona!” Kiyong memekik meninggalkan deguman pintu mobil miliknya. “Kenapa kau masih di sini?” tanyanya lebih lanjut setelah melihat melalu kaca spion bahwa Yora masih berada di sekitar tempat parkir.

“Kiyong,”gumam Ji Won tanpa sadar.

Kim Ji Won, bola mata hitamnya menatap dalam pada pria yang berada di hadapannya, Jang Kiyong. Pria tinggi bersurai hitam sepekat malam berarak itu mungkin tak mengenalinya, ya, bagi Kiyong, siapa Ji Won yang perlu hingga di memori otaknya sekalipun bagus untuk seorang remaja seusianya.

Enam tahun lalu, setelah ambang perceraian kedua orangtua Ji Won, gadis itu terus meronta akan dendam masa kecil yang ia tanam untuk ayahnya, Kim Jae So. Pria berkebangsaan Korea bercampur Perancis, mata biru menyala itu masih melekat dalam pikiran Ji Won sekalipun ia mencoba untuk menghapusnya. Gadis kecil yang masih berusia sepuluh tahun mungkin akan terlalu dini menanggapi perselisihan sengit kedua orangtua dan saat di mana dirinya merasa jera akan hidup, pria seusianya datang dengan balutan kemeja bergaris horizontal blue dark dipadu putih tulang yang menawan.

Pria itu seolah datang layaknya titisan Dewa Apollo yang mendengar bisikan sang gadis kecil di waktu fajar. Senyumnya yang tertoreh lewat mata yang sama seperti yang ia lihat kini, menyadarkannya walau hanya dalam hitungan detik … Ji Won mengenalnya dengan baik. Pria di hadapannya kini, pria yang sama saat enam tahun berselang.

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Yora. Kedua mata gadis itu tak hentinya dibuat kebingungan dengan sikap tegang yang langsung Ji Won tunjukan setelah sikap dinginnya memudar entah kemana.

“Ya? Um … ku pikir kita pernah bertemu di suatu tempat.” Balas Kiyong dengan segan, merasa terus dipantau oleh Ji Won, pria itu kembali melanjutnya perkataannya. “Maaf, mungkin aku lupa jika kita pernah bertemu. Perkenalkan, namaku Jang Kiyong.” Sapanya, mengulurkan tangan sampai beberapa detik setelah Ji Won kembali akan sadarnya, gadis itu menyambut dengan sungkan.

“Kim Ji Won….Perancis?”

Bukan sapaan yang hendak Ji Won sebutkan. Gadis itu sama sekali tak bermaksud memperkenalkan diri untuk percakapan asing, namun ia justru mengharapkan kalau Kiyong mengenalnya. Mengingat hal terkecil di dalam memorinya, masa lalu yang telah tenggelam jauh namun tidak untuk Kim Ji Won.

“Ya? Maksudmu kau dari Prancis?” tanya Kiyong melebarkan senyum yang kian menjadikan Ji Won luluh akan pesonanya. Kiyong yang ia kenal enam tahun lalu di pusat kota Lyon sudah berbeda dibandingkan sosok kecilnya yang bertubuh sedikit gempal dan kulit berpigmen khas eropa kini berupa menjadi kulit berpigmen khas asia yang juga bertubuh tegap dengan tinggi sudah lebih sepuluh sentimeter dari dirinya.

“Kau tidak mengenalku? Lyon ?”

“Maaf, tapi aku pikir kau salah orang. Ya, aku memang pernah ke Perancis hanya sebagai tempat singgah beberapa hari tapi aku tidak pernah menetap dan aku tidak mengingat pernah bertemu denganmu.”

“Ah, ya, mungkin aku salah orang.”

“Noona, perlu aku antarkan saja ke kelas?” tanya Kiyong memecahkan keheningan. Setelah memastikan bersikap ramah untuk Ji Won, pria itu melihat dengan cemas pada jam yang melingkar di tangannya. “Pukul empat sore ini, sebenarnya aku ada acara keluarga.”

“Oh, mian. Tunggu di sini saja Kiyongie, aku akan memangkas waktu dengan cepat.” Jawab Yora dengan terkekeh.

Di lain sisi, Ji Won masih tercengang akan Kiyong yang tidak mengenalnya sampai sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya, mungkinkah dia salah mengenali orang?

Kim Ji Won kembali menilai reaksi antara Kiyong dan Yora, mereka terlihat seperti kakak-adik tapi menurutnya bukan demikian, ada hal lain yang dirasanya bukan seperti itu. Sikap lembut Kiyong yang mengelus lembut rambut Yora yang jatuh sampai menutupi punggungnya itu jelas dirasa seperti seorang pria yang tengah menunjukkan rasa sayangnya kepada sang kekasih. Mungkinkah mereka sepasang kekasih?

“Ji Won-ah,” Yora memanggil gadis manis itu. Mata bulatnya terlihat terbelalak, Ji Won jelas bersikap berbeda setelah Kiyong datang, sedikit ragu akhirnya Yora kembali bersuara. “Apa kau ingin ikut denganku? Mungkin kau ingin menemui oppa mu?”

“Ya, Ji Soo Oppa.” Jawab Ji Won dengan mata yang justru terlihat kebingungan.

***

Sepatunya masih semangat untuk terus beradu nyari dengan lantai di lorong yang masih sepi. Kwon Jiyong, seorang siswa yang merupakan satu-satunya orang yang menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di lorong terakhir sampai akhirnya ia akan menemukan mobil miliknya yang dianggap sebagai tumpuan demi melesat ke surga. Entah mengapa, selama pindah ke sekolah barunya ini, pria itu lebih sering menganggap rumahnya sebagai surga secara nyata … di sana dia baru menemukan arti ketenangan hidup sendiri tanpa diusik para hantu perawan gila yang diumpamakan sebagai para siswi yang terus membututinya. Mereka bahkan lebih lihai dibandingkan ribuan polisi yang siap siaga pada teroris. Menyeramkan.

Jantungnya semakin berpompa, menghela napas dalam untuk beristirahat sejenak namun setelah telinganya menangkap teriakan maniak yang langsung membuat bulu kuduknya meremah, secepat itu juga Jiyong memulai larinya yang lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Selama pelariannya menuju tempat parkir, ingin sekali Jiyong menyuarakan kekesalannya. Heol, sekolah ini memang pandai membuat para pelajarnya dibuat keteteran dengan kegilaan aturan dan juga tata letak tempat yang terpaut sangat jauh. Kelas 11C yang seharusnya berada di antara ke empat kelas seangkatan yang tersisa. Mereka bilang, tempat yang dihuni kelas C tengah direnovasi tapi bukan mendapatkan tempat yang lebih strategis, Jiyong justru dibuat kewalahan dengan jarak yang diibaratkan dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Beruntunglah setidaknya otak cerdas yang dimilik Jiyong membuahkan hasil, pria itu langsung mudah menghafal setelah seharian selepas suasana sekolah di rasa sunyi menghafal letak lokasi. Sekolah yang ia tepati memang sangat luas dengan banyak pintu berjejeran yang memiliki bentuk sama dan sangat sulit untuk dibedakan.

Oppa!”

Sampai Jiyong terbatuk-batuk karena kelelahan sekalipun, siswi gila yang mengikutinya tidak akan berhenti sebelumnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebenarnya, tidak terlalu rumit jika saja Jiyong mengijinkan oranglain sedikit mengusik waktunya. Pria itu hanya diminta untuk mencicipi kue buah, membiarkan wajahnya dilembut mesra atau hanya menerima surat cinta konyol yang semalam para gadis itu buat dengan kesusahan. Tapi Jiyong, tidak, ia tidak menyukai oranglain mengusik waktu berharga yang lebih dipilih bermain dengan anjing kesayangannya sekalipun.

Jiyong memang pria yang teramat menyebalkan tapi para gadis di belakangnya lebih menyebalkan menurut Jiyong.

“TUHAN!” Tidak, Jiyong sama sekali tidak sekalipun berteriak nyari. Jika ia melakukan hal bodoh seperti itu, pelariannya akan percuma, pria itu hanya berteriak dalam hati, sama sekali tak berani membuat sebuah suara untuk keluar dari mulutnya.

Masih dengan panik, Jiyong berhenti namun matanya tak melakukan hal yang sama. Ia mencari tempat persembunyian lain, setidaknya untuk sementara setelah sebagian dari para gadis itu memboikot di sekitar mobilnya seperti penjaga preside. Heol, kemampuan para gadis-gadis ini nyatanya sangat sulit untuk diungkapkan. Mereka sangat hebat!

“Jiyong?”

Saat mencari tempat persembunyian, suara lembut justru menyapanya. Siluet sempurna seorang gadis saat mentari tepat memaparkan pesonanya secara tak langsung membuat fokus Jiyong beralih. Matanya dengan seksama menuju pada wajah gadis itu, Park Yora, ya pantas saja dia mengenal suara itu.

“Ada apa denganmu? Kau berkeringat parah!” Yora terkaget-kaget, terlebih saat melihat derai keringat Jiyong yang terus mengalir juga napas Jiyong yang sangat tidak beraturan.

“Bukan saatnya,” Jiyong menghentikan Yora yang saat itu hendak menghapus jejak keringat di dahinya.

Tanpa pikir panjang, Jiyong justru menarik pergelangan Yora bersamanya. Keduanya berlari, meninggalkan Ji Won yang berdiri kaku di pijakannya.

“Di mana tempat untuk bersembunyi? Aku bahkan seperti penjahat yang sudah terkepung akibat ulah gadis-gadis gila itu!”

“Ke gudang belakang saja,”

“Hei! Mereka bahkan ada di belakangku, kita tidak bisa kembali dan sebagian dari mereka ada di mobilku.”

“Kalau begitu kau tunggu sebentar, aku akan menelpon Kiyong untuk membawa mobil dan kita langsung masuk…”

“Bingo! Taman! Semak-semak itu akan menutupi tubuh kita!”

 

 

 

 

.

.

To Be Continued …



 <<Introduction Part 3 >>



Klarifikasi dulu yaak, soal tanggal 12&18 itu sebenernya mau milih salah satu aja tiap bulan hehe tapi kayaknya sekarang lagi respect sama ff ini deh hahaha
Dan … aku kasih penambahan di intoduction, takutnya kalian bingung gitu yah dan sebenernya aku juga udah buat trailer gitu tapi belum di upload hehe.
Biar gak bingung sama banyaknya pemain yang diangkat, cek introduction yuk!

Btw, mau nyebarin link fmv daragon – if you [klik]

LEAVEYOURCOMMENT

Advertisements

26 thoughts on “You are The Apple of My Eye : Part 2

  1. Kebanyakan ini si yora ya bukan dara
    Daranya malah jarang muncul nih?
    Dan kenapa jiyong nya ktmu sama si yora mulu?
    Aku kira td ktmu dara
    Sbnr nya ji nya ntr sama siapa nihh
    Sama dara aja yah kekek
    Next

  2. Ah gaada daragon momentnya,gaseru chapter iniiii
    Thoorrr
    Pleasseeee dagon sgera dipertemukan yahhhhh
    Next thor
    jgn sampe jiyoung suka sama yora,jiyoung utk dara seoranggg

  3. Iya kok dara jarang muncul sih,
    Daragon momment,please….
    Post ffnya jangan tgl 12 sm 18 aja
    Mungkin seminggu 3x juga boleh kkkkk😆
    Semangat nulisnyaa 💪👍👍

  4. Dara jarang muncul di chap ini yaa.. nggak apa deh yora sama jiyong moment banyak . Asalkan endingny ttap jiyong dara ya kak va . Hohoho ..

  5. Eh ntar yg sama jiyong itu dara apa yora? Kau membuatku bingung va wkwkwkwk.Tp berharapnya sih dara. Lbh suka karakternya dia drpd yora. Nextnya ditunggu yaaa…. jangan lupa daragon momennya 😀 semangaaaaaatttttt

  6. Partnya dara unnie dikit tapi gpp lah mungkin di part selanjutnya partnya dara unnie banyak. Agak sebel sih kalo yora unnie yg deket sama jiyong oppa. Bukan maksud apa apa, tapi kan yora unnie udh punya semuanya sedangkan dara unnie satupun nggak ada yg suka😣😭… Author unnie, hadirkan satu cowok yg bakal menemani hari harinya dara unnie misalnya kang seungyoon, jung il woo, ato kim jaejoong deh. Maafkan permintaan saya yg terlalu banyak. Jeongmal mianhae, author unnie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s