MEA CULPA [Chap. 2]

mea-culpa

Author : Aitsil96

PG-15

Main Cast : Park Sandara and Kwon Ji Yong

*****

Sandara meremas helaian rambutnya dengan kesal. Sesekali ia jambak dan mengacak-acak surainya itu yang memang sejak awal sudah tak tertata rapi. Saat ini gadis itu tengah berada di depan pintu kamar sewaan milik Bom. Berdiri mematung dengan tas selempang yang masih tergantung di bahunya. Jam menunjuk pada angka sembilan tepat.

Seperti permintaan Dong Hae sebelumnya, ia telah menemani pria itu berbelanja lalu makan malam bersamanya. Dong Hae seolah tak henti memaksa Sandara dengan rayuan maut demi menemaninya ke kafe. Aish, kekasihnya itu bahkan lagi-lagi tak mendengar ocehan Sandara yang menyuruhnya untuk segera menemui ibunya. Berbicara tentang Dong Hae, saat ini pria itu sedang dalam perjalanan ke Busan untuk menuruti keinginan ibunya.

‘Aku sedang berada di club untuk menghadiri pesta ulang tahun teman kelasku.’

Shit! Pesan inilah yang membuat Sandara frustasi. Bagaimana bisa sahabatnya itu baru memberitahu keberadaannya setelah Sandara tiba di depan pintu kamarnya satu jam yang lalu? Ia bahkan telah menghabiskan dua minuman kaleng demi menunggui Bom yang tak mengangkat telepon maupun membalas pesan singkatnya. Wanita itu benar-benar sialan!

Lalu bagaimana ini? Apa ia harus pulang saja setelah jauh-jauh kemari? Jika ia pulang maka… ah, tidak! Ia tak akan sanggup untuk pulang ke rumah. Sandara menggeleng tegas dengan ponsel yang berada di genggamannya.

“Yak! Tak bisakah kau memberitahuku dimana keberadaanmu sebelum aku membuang-buang waktu untuk menungguimu? Aku bahkan telah berada di depan pintu kamarmu selama satu jam!”

Sandara meneriaki Bom yang baru saja mengatakan ‘halo’ di seberang telepon untuk menjawab panggilan darinya.

Mianhae. Aku tak memegang ponsel semenjak tiba di club. Aku bahkan saat ini sedang di toilet untuk menerima teleponmu, di dalam terlalu bising.”

“Kau benar-benar membuatku kesal, Bom-ie. Lalu kapan kau akan pulang?”

Molla. Mungkin… esok pagi?’

“Yak! Candaanmu benar-benar tak lucu!”

‘Aku serius, Dee. Oh ayolah, bagaimana mungkin aku bisa melewatkannya? Kau tahu aku sangat menyukai pesta.’

“Pesta?” Sandara mendecih, “Kau lebih menyukai melihat lelaki di sekitarmu dibanding pestanya, bukan?”

“Kau tahu aku, Dee,” ledakan tawa dari Bom lantang terdengar ketika mendapati sindiran dari sahabatnya.

Sandara makin mengacak-acak surai kemerahannya, frustasi akan sikap Bom yang sialannya terlalu tak acuh pada nasibnya, “Lalu kau akan membiarkanku tidur di luar pintu kamarmu, huh?”

Bom menggumam seraya berpikir, ‘Dong Hae?’

“Ia sedang dalam perjalanan ke Busan untuk menemui ibunya. Lagipula apa yang bisa ku harapkan dari pria itu?”

‘Kau saja yang selalu menolak untuk tinggal bersamanya, padahal ia telah membujukmu berkali-kali.’

“Hentikan ocehan tak bergunamu itu.”

Arrasseo. Lalu kau ingin aku bagaimana?’

“Pulanglah sebentar untuk menyerahkan kunci, atau akan ku dobrak pintu kamarmu.”

‘Ey, bagaimana mungkin kau berani melakukannya? Kau saja yang mengambil kunci kamarku ke club.’

“Jangan gila, Bom-ie, aku…”

‘Aish, kau terlalu banyak bicara. Ambil kuncinya atau tidur di depan pintu kamarku. Akan ku kirimkan alamatnya melalui pesan. Bye, Dee.’

*****

Lagi-lagi gadis itu menghela napas gusar. Tak terhitung berapa kali ia telah mengeluh dan mendesah sepanjang perjalanan ke tempat ini. Club malam. Tempat yang sangat ia hindari, namun tungkai rampingnya seakan tak bisa berhenti untuk menyeret tubuhnya. Alhasil, Sandara kini tengah terpaku menatap pintu depan masuk club mewah yang terletak di daerah elit Gangnam.

‘Haruskah aku masuk ke dalam?’

Dirinya membatin. Otaknya terus berputar. Ia ragu? Sangat. Namun bagaimana lagi jika Sandara bahkan telah rela menghabiskan lembaran wonnya untuk naik taksi demi mengambil kunci kamar sewa milik Bom? Aish, mengingat sahabat sialannya itu hanya kembali membuat Sandara naik darah. Saat ini ia ingin meneriaki Bom dengan segala sumpah serapah tepat di hadapan wajahnya.

Sandara terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri. Dengan anggukan tegas terlebih dahulu yang membuat hatinya mantap, akhirnya ia memasuki club itu. Seperti yang diduga, baru saja ia berjalan beberapa langkah, Sandara diserbu perasaan tak nyaman yang amat kentara. Lampu yang terus-menerus begemerlapan serta banyaknya orang berdesakan hanya membuat kepalanya berdenging nyeri. Ditambah dengan bau asap rokok dan minuman alkohol yang menguar membuat gadis itu menutup lubang hidung dengan telapak tangannya. Sial, ia sangat membenci keadaan ini!

‘Tunggulah di lantai dua, aku tengah mengantar temanku dulu ke hotel terdekat.’

Double shit! Kini Sandara tak berhenti untuk mengutuki kelakukan Bom yang telah membuatnya super duper jengah. Sebenarnya, apa yang ada di pikiran wanita itu hingga tega melakukan ini padanya? Bukankah seharusnya ia tahu bahwa Sandara tak menyukai tempat ini? Lagi-lagi Bom membuatnya berada di posisi yang sulit. Aish, jika tahu begini lebih baik ia tidur di depan pintu kamar sewaannya saja.

Karena sudah terlanjur datang, Sandara memilih untuk naik ke lantai dua. Dari tempatnya berdiri saat ini, sepertinya suasana di sana lebih nyaman dibanding dengan lantai satu yang terlalu disesaki oleh banyaknya orang yang tengah berkumpul mengerumuni seorang disk jokey yang tak henti memutarkan musik yang hanya membuat kuping Sandara pengang ketika mendengarnya.

Oh ayolah, ia sangat tak suka dengan suasana club malam. Bukan sekadar tak suka, namun amat membencinya.

*****

Pria bersurai pirang itu memicingkan matanya. Sebuah objek memikat dirinya hanya dalam sekali pandang. Seorang wanita? Ya, apalagi yang ia incar selain makhluk menawan yang seakan tak bisa memuaskan dahaganya? Walau dengan jeans dan sweter sederhana yang membalut tubuh mungilnya, namun itu sama sekali tak bisa menyembunyikan kecantikan wajahnya. Kulit putih susunya terlalu menyilaukan bagi pria yang tengah duduk di sudut ruangan tersebut.

Ia menyeringai jahil. Tubuhnya bergerak sendiri dan secepat kilat telah berada di dekat gadis yang kini tengah duduk di meja barista. Ia berdeham sedikit demi meraih perhatian. Apakah cara kuno itu berhasil? Gadis itu memang melihatnya, namun sayangnya hanya sekilas. Gadis itu bahkan mendelikkan matanya tak suka ketika mata mereka bertemu pandang tak sampai satu detik. Aish, bagaimana mungkin pesonanya ditolak mentah-mentah seperti itu?

“Bolehkah aku duduk di sini?” si pria bertanya seraya menunjuk bangku di sebelah gadis tersebut.

Gadis itu menoleh lagi dengan malas, “Kursi itu bukan punyaku. Duduklah sesukamu.”

Gotcha! Nada sarkastik yang menandakan penolakan amat kentara bagi orang idiot sekali pun. Namun apakah pria itu menyerah? Tentu saja jawabannya tidak. Ia bahkan memperlihatkan deretan gigi putihnya dan dengan tak tahu malu duduk di tempat yang ia incar sedari awal.

“Sendiri?”

Gadis dengan surai kemerahan itu menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan sebelum menjawab, “Kau bertanya padaku, Tuan?”

“Lee Seung Ri. Panggil aku Seung Ri.”

“Aku tak bertanya namamu.”

“Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Lalu… siapa namamu?”

“Maaf, tapi aku tak berkenan untuk memberitahukan namaku pada orang asing sepertimu.”

Seung Ri berdecak, “Hey ayolah, aku bahkan dengan senang hati telah memperkenalkan diri. Kini kau sudah tahu namaku, bukan? Berarti aku bukan lagi orang asing untukmu. Dan kau sebaiknya tak usah jual mahal seperti itu.”

Gadis itu menyeringai mendapati kalimat panjang dari pria cerewet di sampingnya. Cukup risih pada awalnya, namun entah mengapa gadis itu merasakan perasaan nyaman saat berbicara pada pria yang bahkan sebelumnya tak pernah ia kenali. Ya, meskipun ia tahu mulut pria ini terlalu murahan dengan segala bujuk rayu menjijikkannya, namun ia hanya mempunyai insting bahwa pria ini memang baik dan tak akan macam-macam padanya.

Lagipula, obrolan tak penting dengan pria bernama Seung Ri itu lumayan bisa membunuh waktu menjengkelkannya yang harus menunggu sahabatnya yang tak kunjung datang. Gadis itu kemudian menyeruput jus jeruknya yang baru saja diantarkan oleh barista.

“Kau mengabaikanku, eoh? Haruskah aku memaksa untuk merebut tasmu demi melihat tanda pengenal yang berada di dompetmu?”

“Yak!”

“Jadi cepat beritahu aku namamu, nona.”

“Sandara. Park Sandara.”

Seung Ri mengerutkan sedikit alisnya, “San… dara? Nama yang unik.”

“Kau bisa memanggilku Dara, Seung Ri-ssi.”

Arrasseo, Dara-ya.”

Sandara hanya tersenyum mendengar Seung Ri yang langsung memanggil namanya serta berbicara informal padanya. Pria itu sepertinya mudah akrab dengan orang yang baru pertama kali ditemuinya. Sandara tak keberatan untuk itu, lagipula pria itu cukup menyenangkan, pikirnya.

“Karena kini aku telah tahu namamu, mari kita berkenalan secara resmi.”

Seung Ri mengulurkan tangannya di hadapan gadis itu, berniat untuk bersalaman. Cara yang cukup konyol demi perkenalan mereka. Namun saat Sandara akan menjabat tangan itu, sebuah tangan kokoh lain mendahuluinya untuk menyambut. Membuat Sandara tersentak dan langsung melihat pemilik tangan tersebut.

What’s up, man?”

.

.

.

To be continued…

Advertisements

15 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 2]

  1. Bom beneran parah masa ngerjain dara udah tau dara nggak suka club malam malah disuruh datang….. itu tangan siapa yg jabat dara jiyongkah??? Next chap makin penasaran

  2. Tangan siapa ituu?? Jiyong?? Atau orang laen?? Btw, Bom ngeselin mah disini wkwkwkwk. Kan kasian Dara unnienya yg harus merelakan uangnya utk biaya taksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s