When I’m Gone [3/4]

wig

Author : Zhie
Main Cast : Park Sandara, Kwon Jiyong
Support Cast : Ahn Sohee, Gong Minzy, Lee Seungri
Rating : PG-13
Genre : Angst

 “““`

Annyeong ^^….Omo, sempet lupa ma ne FF hingga berjamur di draft kkk. Jika masih ada yg nunggu monggo dibaca. Mianhe..law baru bisa lanjutin sekarang, dan mungkin karena lama dianggurin…ini FF melenceng dari konsep semula. So…happy reading, ne. Hengsho. >.<

“Ya! Sampai kapan kau akan melakukan hal bodoh ini, hah?”

“Sampai kau membiarkanku untuk mati!”

g-dragon Aku Kwon Jiyong,

tak mengerti…mengapa dari sekian orang yang kutemui,

beberapa diantaranya tak menginginkan untuk hidup.

Bukankah ia harusnya bersyukur? 

Bersyukur bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk kembali…

~~~~

Aku Park Sandara,sandara-park-for-elle-korea-say-my-name-1924

tak pernah berpikir untuk hidup…

tak pernah berpikir untuk kembali dilahirkan,

dan jika aku harus memilih,

maka aku tak ingin adanya kesempatan kedua…

~~~~

Pagi ini matahari bersinar dengan sangat terang…membuat hari ini lebih cerah dari sebelumnya. Sandara Park…membuka matanya pelan saat kehangatan matahari pagi menyinarinya melalui celah-celah ventilasi yang ada.

Dara Pov

Aku membuka mataku perlahan, lagi-lagi aku masih bisa membuka mata dan bernapas. Tapi aku cukup terkejut saat melihat siapa yang tengah tertidur dikursi dengan posisi duduk…apa ia berada disini semalaman penuh? Apa ia benar-benar menungguiku?

“Omo…kau sudah bangun?” Tanyanya tiba-tiba membuka matanya, aku menatapnya tajam seperti biasa. “Ya! Paling tidak ucapkanlah selamat pagi pada orang yang telah menjagamu semalaman.” Lanjutnya berdiri dari duduknya dan mulai meregangkan tubuhnya.

“Aku tidak memintamu untuk melakukannya.” Jawabku akhirnya membuatnya kembali menatap lekat padaku.

“Mengapa kau kembali bersikap dingin pada orang yang dengan rela membiarkan kemeja kesayangannya dipenuhi bekas ingus dan airmatamu, hah?”

“Mwo?”

“Kau tidak ingat? Kau menangis tiada henti semalam…bahkan kau tak melepaskan pelukanmu ditubuhku hingga kau tertidur.”

“YA!”

“Wae? Kau ingat sekarang? Berhentilah memasang benteng dihadapanku, kau tak perlu memasang topengmu kembali saat berhadapan denganku. Aku tahu Dara, kau tak sekuat itu…bebanmu, walaupun aku tak tahu pasti apa itu…tapi tolong berhentilah. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, karena aku yakin…Eomma dan Oppamu, tak pernah menyalahkanmu.”

‘Deg’

Entah mengapa saat itu aku merasakan sesuatu yang berbeda, kalimat terakhir yang dia ucapkan seakan menampar keras batinku…akupun menyunggingkan senyumku.

“Kau tidak tahu apa-apa Dokter Kwon.” Ucapku mengingatkan.

“Ne…kau benar, aku memang tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, biarkan aku mengetahui dirimu lebih dalam Dara…setidaknya beri aku kesempatan untuk bisa mengubah pandanganmu tentang kehidupan. Ah, anio…bukan berarti aku akan ikut campur dengan hidupmu dan pilihanmu hanya saja biarkan aku untuk mencoba memahamimu lebih dari ini, Dara.” Ucapannya kali ini membuatku sekilas kembali membalas tatapannya, dan… Cih! Mengapa ia terlihat begitu tulus? Bukankah itu ia lakukan hanya karena aku paseinnya? “Baiklah, aku pergi dulu!” Lanjutnya kemudian berdiri dari duduknya, mengambil jas putih yang ia gantungkan. “Aku perlu membersihkan diri sebelum kembali bekerja, dan tolong…makanlah kali ini, kau tidak makan seharian kemarin. Minzy akan membawakan makanan untukmu…dan bersikaplah lebih baik padanya, karena jujur ia sudah seperti adik bagiku. Jadi tolong, jangan membuat ia merasa tak berguna karena penolakkanmu yang selalu kau tujukan padanya…ia telah berusaha melakukan yang terbaik jadi sedikitlah berusaha untuk menerima perhatiannya.”

“….”

“Araesso?” Tanyanya kemudian saat aku tak kunjung merespon ucapannya barusan, iapun kembali menatap lekat padaku seolah-olah berkata ia tak akan pergi sebelum ia mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Cih! Ia benar-benar keras kepala.

“Araesso.” Jawabku akhirnya dengan cepat. Iapun mengangguk dengan puas dan berlalu pergi meninggalkan kamar ini, tapi sebelum itu aku dapat melihat jelas semburat senyuman tipis dibibirnya. Aigo…apa jawabanku tadi begitu lucu baginya?

Jiyong Pov

Aku baru saja keluar dari kamar Sandara Park, dan kini aku telah melebarkan senyumku setelah sebelumnya aku sebisa mungkin untuk menahannya, karena entah kenapa…responnya yang singkat itu benar-benar membuatku merasa senang. Karena itu mengartikan ia telah mendengarkanku dan dapat menerimaku lebih dari sebelumnya.

“Ckck! Apa sebenarnya yang kau harapkan, boy? Dia adalah pasienmu, sadarlah Kwon Jiyong.” Gumanku akhirnya merutuki pikiranku yang entah mengharapkan apa.

“Ya! Jiyong-ah.” Panggil suara yang sangat familiar menghentikan langkahku, dan terlihat dari sudut lorong seorang namja dengan lingkaran hitam dimatanya menghampiriku dengan jas putih yang ia sampirkan dilengan kirinya, sengaja tak ia gunakan.

“Mwo? Seungri-ah.”

Dan kini kamipun berjalan berdampingan menuju ruang kerja kami yang bersebelahan.

“Kau terlihat lebih cerah hari ini, wae?” Tanya Seungri kemudian dengan tatapan penuh selidik, omo…apa suasana hatiku begitu mudah terlihat?

“Aigo…apa kau baru menyadarinya? Wajahku selalu terlihat lebih cerah setiap hari. Bila hari ini lebih cerah, kau tidak perlu terkejut…itu menandakan ketampananku selalu bertambah setiap harinya.”

“Cih! Mengapa kau begitu percaya diri mengatakannya, Kwon Jiyong?” Sungut Seungri jelas tak terima, karena itu secara tak langsung akan membahayakan posisinya sebagai Dokter tertampan di Rumah Sakit ini menurut versinya sendiri dan itu membuatku tertawa sekarang.

“Ckck…hentikan tawamu itu Ji. Tapi…aku lega kau bisa keluar hidup-hidup dari kamar itu.” Ucap Seungri kemudian membuatku benar-benar menghentikan tawaku dan menatapnya tajam…tapi aku berusaha bersikap setenang mungkin untuk menanggapinya, karena aku tahu apa yang Seungri pikirkan tentang Dara…ia benar-benar menganggap yeoja itu gila dan berbahaya. Jujur aku tak suka bila ada yang menganggapnya seperti itu…sangat tidak suka.

“Ia tak seperti yang kau pikirkan, Seungri-yah. Ia sama sekali tak berbahaya dan satu hal yang terpenting…ia tidak gila.” Jawabku selalu menegaskan hal itu kembali padanya, dan ia hanya berdecak menanggapi ucapanku.

“Ah…Aku mulai memikirkan sesuatu yang lebih serius sekarang.” Ucap Seungri kembali membuka suaranya.

“Mwo? Apa itu?” Tanyaku melihat kearahnya.

“Tapi aku berharap apa yang kupikirkan ini salah…” Lanjutnya membuatku tak mengerti, ia seperti berada di dunianya sendiri sekarang. Dan langkah kami terhenti saat kami telah berada di depan ruangan kami masing-masing. Tapi aku sengaja tak masuk dan menunggunya untuk kembali bicara melanjutkan ucapannya. Ia juga terlihat serius memikirkan hal yang akan ia ucapkan sampai akhirnya ia membalas tatapanku padanya. “Kwon Jiyong, tolong dengan tegas menjawab TIDAK untuk pertanyaanku kali ini.” Aku mengerutkan keningku.

“Mwo?” Tanyaku lagi-lagi tak mengerti.

“Kau-“

“Ne?”

“Kau-“

…..

…..

…..

Menunggu

“Ais…bagaimana mengatakannya?” Namja dihadapanku ini berguman dengan menggaruk kepalanya yang kuyakin tak gatal. Ais, Aku mulai kesal sekarang….

“YA! Apa sebenarnya yang ingin kau katakan, hah?” Tanyaku akhirnya membuat ia tersentak.

“Ah…Ne, aku hanya ingin menegaskan kalau apa yang kupikirkan ini benar-benar salah…dan itu sudah pasti salah. Kau….kau tidak-“…..”Kau ‘TIDAK’ jatuh cinta pada yeoja gila itukan?”

“MWO???”

Omo, apa yang ia katakan hah? Jatuh cinta? Dengan Sandara Park?? Gila….kurasa namja dihadapanku ini telah benar-benar gila! Sandara Park adalah pasienku dan itu-

“Itu…Tidak mungkin, kan?” Ucapku kemudian yang seolah bertanya dengan diriku sendiri.

————-

Sementara itu di kamar 404, Dara tengah menatap jauh keluar jendela…ia bisa melihat hari yang begitu cerah dengan dedaunan yang bergoyang lembut disapu oleh semilirnya angin yang berhembus pelan. Kata-kata seorang dr. Kwon kembali terngiang ditelinganya…

‘Biarkan aku mengetahui dirimu lebih dalam Dara…setidaknya beri aku kesempatan untuk bisa mengubah pandanganmu tentang kehidupan’

Semburat senyum tipis terukir dibibirnya secara perlahan, sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang…

“Kau sangat lucu dr. Kwon, disaat orang-orang disekelilingku berusaha untuk dapat menjauhiku…kau malah datang mengulurkan tanganmu padaku. Bukankah itu lucu?” Ucapnya lirih seolah orang yang dimaksud akan dapat mendengarnya, dan tepat saat itu pintu kamarnya kembali terbuka. Terlihat seorang perawat dengan rambut pendeknya yang khas masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dengan sup hangat untuk menu sarapan pagi hari itu.

“An…anneyong haseyo, Miss Park…aku membawakan sarapan untukmu.” Ucap yeoja itu bernama Gong Minzy, ialah yang dipercaya untuk melayani seorang Park Sandara. Dengan gugup ia meletakkan nampan itu dimeja yang berada disamping tempat tidur Dara, Darapun sekilas memperhatikannya…Dara tertegun saat menyadari tangan Minzy yang terlihat gemetar saat menaruh mangkuk-mangkuk yang berisi bubur dan sup agar lebih mudah dijangkau Dara dengan satu tangan yang bebas.

“Apa aku begitu terlihat menakutkan?” Batin Dara kembali melihat tangan satunya yang masih terborgol.

“Silahkan nikmati sarapan anda Miss Park…saya akan kembali setelah anda selesai menghabiskannya.” Ucap Minzy kemudian menundukkan setengah badannya dan beranjak pergi.

“Min…Minzy-shi.” Panggil Dara membuat Minzy menghentikan langkahnya dan berbalik kembali melihat kearah Dara.

“Ah…Ne, anda memanggilku?” Tanya Minzy tak percaya dengan apa yang ia dengar, karena itu kali pertama Dara memanggil dan menyebut namanya.

“Ne.”

“Ah….wae? Apa ada yang anda butuhkan?” Tanya Minzy cepat seolah-olah ia tak ingin melewatkan kesempatannya itu untuk dapat lebih dekat bagi pasiennya.

“Anio.” Jawab Dara dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Lagi-lagi itu membuat Minzy tak percaya…kali ini tak percaya bukan hanya dengan yang ia dengar tapi ia juga tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Apa aku bermimpi? Miss Park tersenyum padaku?” Batin Minzy berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.

“Minzy…Mianhe, mianheyo atas sikapku kemarin padamu.” Ucap Dara kemudian membuat Minzy membulatkan mata dan mulutnya.

“Mwo?”

“Ne, aku minta maaf…mungkin sikapku itu menakutimu, tapi sungguh aku tak bermaksud untuk membuatmu-“

“A…ani, anio. Gwanchana, itu tak masalah buatku Miss Park. Itu bukan apa-apa, jadi tak usah dipikirkan…kau sama sekali tak menakutiku, sungguh.”

“Benarkah?”

“Ne.”

“Ah, baguslah kalau begitu.” Ucap Dara kemudian masih mengembangkan senyumnya, “Ehm…Minzy-shi.”

“Ne?”

“Aku ingin membersihkan diriku sekarang, jadi bisakah kau melepas ini?” Tanya Dara kemudian menunjuk borgol yang menahan tangannya.

“Ah…araesso, aku akan membukakannya. Tapi-“

“Tenanglah, aku janji tak akan melakukan apapun…aku hanya ingin membersihkan diri.” Jawab Dara seolah tahu apa yang dipikirkan perawat itu. “Jadi bisakah kau membukanya?”

“Ah…Ne, tentu saja.” Ucap Minzy akhirnya membuka borgol itu.

——-

Beberapa hari kemudian…..

Seorang namja keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa, ia tampak rapi seperti biasa dengan celana panjang berwarna hitam dan kemeja berwarna putih favoritnya.

“Pagi dr. Kwon.” Sapa salah satu resepsionis saat dia baru memasuki gedung berwarna putih itu yang terdiri dari 5 lantai bertuliskan ‘Hyundo Hospital’.

“Pagi!” Jawabnya dengan senyuman seperti biasa.

“Annyeong, dr. Kwon.” Sapa salah seorang perawat yang berpapasan dengannya.

“Ne…annyeong.” Balasnya tetap ramah dengan senyum yang tak lepas menghiasi wajahnya…yah, ia memang terkenal sebagai Dokter tertampan dan teramah walaupun ada seseorang yang terang-terangan tak mau mengakuinya yaitu dr. Lee Seungri.

“Ya! Kwon Jiyong.” Panggilan itu membuat ia menghentikan langkahnya.

“Ah..Ne, Seungri-ah.”

“Omo…kupikir aku akan kembali terlambat dipertemuan kali ini.” Ucapnya namja bernama Seungri terengah-engah.

“Aigo, sebenarnya apa yang kau lakukan…hah? Kau terlihat kurang tidur sekarang…bukankah kau habis mengambil cutimu 3 hari yang lalu?” Tanyanya melanjutkan langkah dengan Seungri yang berjalan disampingnya.

“Ne… aku ketinggalan pesawat kemarin, dan aku baru mendapatkan penerbangan semalam…itupun penerbangan terakhir, aku baru tiba dini hari. Dan aku teringat hari ini kita ada rapat besar ternyata.”

“Yeah…kau beruntung kali ini.” Dan langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan yeoja berjas putih yang baru keluar dari ruangannya…tertulis dr. Ahn Sohee ditanda pengenalnya.

“Ah, annyeong haseyo dr. Kwon…dr. Lee, kalian akan pergi ke ruang pertemuan?” Sapa yeoja itu membuat Seungri dengan cepat berdiri tegak , membenarkan posisinya dan secepat kilat merapikan rambutnya.

“Ah…Ne, begitulah dr. Ahn…kami baru akan pergi keruang pertemuan. Apa kau mau pergi bersama-sama kami?” Tanya Seungri kemudian dengan penuh harap.

“Ah…Ne, tentu saja.” Jawabnya dengan senyuman.

“Baiklah…kajja.” Ajak Seungri menjadi bersemangat dari sebelumnya, tapi Jiyong tak bergerak dari tempatnya…ia teringat sesuatu. “Wae? Ada apa denganmu Ji?”

“Kalian pergilah duluan, aku harus melihat keadaan seseorang.” Jawabnya membuat Seungri dan Sohee mengerutkan keningnya.

“Mwo? Tapi rapat akan dimulai beberapa menit lagi, Ji.”

“Aku hanya sebentar Seungri-ah, kalian duluanlah.” Jawabnya kemudian berbalik pergi menjauh meninggalkan Seungri dan Sohee.

“Aigo…apakah seseorang itu begitu penting? Apa maksudnya yeoja itu lagi?” Guman Seungri mulai berpikir…mungkinkah?

“Mwo…yeoja? Nugu?” Tanya Sohee menyadarkan Seungri…

“Ah…anio, bukan siapa-siapa…kajja, sebaiknya kita pergi keruang pertemuan sekarang.” Jawab Seungri kemudian, tapi jawabannya itu semakin membuat Sohee ingin mengetahuinya…ingin mengetahui siapa yeoja yang dimaksud sebenarnya.

Jiyong Pov

Dengan langkah cepat aku keluar dari lift yang telah terhenti di lantai 4. Aku hampir tiba dikamar 404 saat kulihat Minzy baru saja keluar dari sana, akupun menghadang jalannya…

“Omo….Oppa, kau mengagetkanku.”

“Aigo, panggil aku dr. Kwon jika kita berada dilingkungan kerja ini. Araesso.” Ucapku mengingatkan.

“Kekeke…araesso, aku bisa menebak pasti kau ingin segera menemuinya. Benarkan?” Ucapnya kemudian yang kutahu tengah menahan senyumnya.

“Aisht, kau mulai pintar menggodaku sekarang.” Ucapku pada Minzy, kami sebenarnya bertetangga dan aku telah menganggapnya sebagai dongsaengku sendiri…dan semenjak bekerja disini ia memutuskan untuk tinggal di mes yang telah disiapkan. “Bagaimana dia? Apa dia lebih baik dari sebelumnya?” Tanyaku akhirnya, karena beberapa hari ini aku tidak dapat menemui dan mengecek keadaannya secara langsung…aku harus memenuhi panggilan diluar kota, jadi untuk sementara aku menyerahkannya pada Dokter lain.

“Ne…semenjak hari itu ia lebih tenang Oppa, ah…maksudku dr. Kwon. Walaupun ia tetap tak banyak bicara tapi sikapnya menunjukkan seperti orang normal pada umumnya…dan kau tahu, ia beberapa kali mengucapkan terimakasih padaku jika aku membantunya. Dan satu lagi, ia sudah bisa tersenyum Oppa…dan itu sangat manis. ”

“Jinjja?”

“Ne.”

“Hmm…bagus, kupikir perkembangannya sangat pesat. Baiklah…biar aku temui sebentar.” Akupun kembali menuju kamar 404 itu, tapi aku sejenak menghentikan langkahku dan melihat …aku dapat melihat wajahnya yang jauh lebih cerah dari biasanya, dan kuakui ia lebih terlihat ‘cantik’.

Cklek

Terlihat ia seketika melihat kearahku yang baru masuk, aku berusaha bersikap seperti biasa padanya. Entah mengapa beberapa hari tak bertemu…itu membuatku sedikit kikuk.

“Anneyong.” Itulah satu kata pertama yang kuucapkan padanya dan ia hanya diam memandangku tak merespon. Sigh. Mengapa ia tetap menatap dingin padaku? Bukankah Minzy mengatakan ia telah berubah? “Lama tak berjumpa, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa jauh lebih baik?” Tanyaku kemudian mendekatinya dan aku baru menyadari, tak ada borgol yang membelenggu tangannya sekarang…dan aku rasa ia telah memasuki tahap-tahap pemulihan begitu cepat.

“Seperti yang kau lihat.” Jawabnya tanpa melihat lagi kearahku.

“Ah…Ne, kau terlihat jauh lebih baik sekarang.”

“Ne…bukankah itu membuatmu senang? Karena itu artinya aku dapat segera keluar dari tempat ini. Dan jika saat itu tiba, berdoalah kita tidak akan bertemu lagi dr. Kwon.” Ucapnya membuatku menatapnya tajam.

“Ckck…apa kau masih ingin melakukannya?” Tanyaku akhirnya mencoba membaca apa yang ada dipikirannya.

“Tidak ada alasan untukku berhenti melakukannya dan tenang saja dr. Kwon…aku berpikir aku akan berhasil kali ini.”

Mwo??? Yeoja ini, tidakkah ia berusaha mengerti…mengerti bahwa Tuhan begitu sayang dengannya hingga ia diberi kesempatan berkali-kali untuk hidup, tapi kenapa…kenapa ia tetap ingin melakukannya??? Arggghhh…aku benar-benar marah sekarang. Marah karena ia tak kunjung mengerti dengan arti kehidupan.

“SHIT!” Umpatku tanpa bisa lagi aku tahan, akupun meraih pergelangan tangannya kasar. “Kajja…ikut aku.” Ucapku lebih tepat disebut dengan perintah, dan jika ia tidak mau…aku sudah berniat untuk membawanya secara paksa walaupun itu berarti aku harus menyeretnya.

“Mwo?”

“Ikut aku, Dara.” Ucapku kembali menegaskan hingga akhirnya ia menurutiku dan mengikuti langkahku. Aku sadar seharusnya aku sebagai Dokter tidak harus dan tidak boleh bersikap seperti ini pada seorang pasien tapi kali ini aku tidak bisa menahan diriku, yeoja ini benar-benar menghisap habis seluruh kesabaranku…mendengarnya akan melakukan sesuatu yang dapat kembali mengancam nyawanya itu membuatku hilang kendali.  “Aku tak akan membiarkannya kembali melakukannya, tak akan pernah.” Batinku bersumpah.

Aku membawanya turun ke lantai dasar, dan berjalan melewati sebuah taman yang berada dibelakang rumah sakit ini…lalu terlihat sebuah bangunan lain yang juga berwarna putih tetapi tidak sebesar bangunan utama, terlihat beberapa anak tengah bermain dengan boneka dan mainan yang lainnya dan beberapa anak yang lain duduk dikursi roda mereka sekedar untuk  menikmati cerahnya hari ini dengan ditemani perawat mereka, sementara beberapa anak lagi ada yang menangis menahan rasa sakit yang ia rasakan didalam gendongan orang tua atau perawat mereka. Itu benar-benar terlihat menyesakkan…

Dan akhirnya aku menghentikan langkahku di depan sebuah ruangan yang terdapat beberapa anak sedang mendapatkan perawatan medis, diantara mereka ada yang berteriak menahan sakit, dan ada pula yang hanya bisa menangis tanpa suara karena sudah terlalu terbiasa menjalani pengobatan yang kutahu itu sangat menyakitkan bagi seusia mereka.

“Kau lihat, kau bisa lihat bukan?” Ucapku kemudian melihat sekilas yeoja yang kini tengah terpaku melihat sesuatu yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Bukankah itu terlihat sangat menyakitkan? Tidak adil rasanya melihat mereka seperti itu diusia mereka…karena seharusnya mereka dapat bermain, berlari dan tertawa dengan riang. Tapi apa daya…mau tak mau, tanpa mereka pernah bayangkan sebelumnya mereka harus mengalami dan melalui hal itu.”…”Lalu, terlihatkah wajah putus asa? Tidak Dara, mereka tetap berjuang…berjuang untuk dapat hidup walaupun itu akan sangat menyakiti mereka, dan mereka tidak akan pernah menyerah…bila dimata mereka masih terlihat secerca harapan, itu tidak akan menghentikan semangat mereka…semangat untuk tetap hidup dan tetap berjuang.” Lanjutku lirih diakhir kalimatnya memandang dalam anak-anak yang tengah menjalani masa-masa kemotrapi karena penyakit kanker yang mereka derita. Dan itu seketika meruntuhkan segela kebanggaanku…karena ada kalanya aku merasa tak ada apa-apanya dengan anak-anak itu, anak-anak yang begitu kuat dan begitu tegar. Kuhelakan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapanku. “Mereka tidak pernah menginginkan dan membayangkan hal ini bahkan didalam mimpi sekalipun…jika kau bisa merasakan apa yang mereka rasakan aku pikir kau akan lebih bisa menghargai apa itu sebuah kehidupan, mereka berjuang…berjuang mengalahkan rasa sakit yang setiap saat menyerang dan menggerogoti tubuh mereka tapi mereka tetap berusaha untuk  hidup Dara. Dan kau, kau yeoja yang sempurna dengan kondisi yang jauh lebih baik dari mereka tapi mengapa dirimu selalu menyia-nyiakan yang namanya kehidupan. Apa kau tidak berpikir, kau terlalu egois…egois karena kau seolah berpikir, kaulah yang paling menderita dan tersiksa di dunia ini. Kau tidak membuka matamu…untuk melihat, banyak yang lebih menderita dan tidak seberuntung darimu, Dara.” Kembali aku menghela nafas panjang saat tak kudengar respon darinya. “Cih! Dara, tidakkah kau merasa malu sekarang?” Tanyaku akhirnya melihat langsung kearahnya dan aku tersentak dengan apa yang kulihat.  Dara telah menjatuhkan air matanya, ia terisak…berusaha keras untuk tak bersuara, aku tahu ia berusaha menahan tangisnya. Apa ini menyadarkannya?

‘Dara… apa yang kini kau pikirkan, hah?’

~TBC~

Tinggalkan jejak seperti biasa y. And untuk yang nunggu FIT, Disguise, Witchlove…mianhe, saya tidak bisa menjanjikan apapun tapi saya selalu berusaha untuk melanjutkan disela2 waktu luang yang ada. Hengsho.^^

Please leave comment ! By the way, here’s the link to my daragon fanficts others:

Love Dust
Fault It’s True
Disguise
Look at Me
Witchlove
Saranghae. Babbo!!!
Haru-haru
* Come Back Home
* 100 Days
* Why You

<<back next>>

Advertisements

46 thoughts on “When I’m Gone [3/4]

  1. Udah jangan bunuh diri lagi,
    Tau kan kalau arwah kita gak akan diterima sama sang pencipta kalau bunuh diri???
    Semoga dara merubah pemikiran dara tentang hidup shingga dara gak coba bunuh diri lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s