MEA CULPA [Chap. 7]

mea-culpa

Author : Aitsil96

Sedari tadi aku terdiam seraya mengepalkan erat kedua tanganku. Pria di sampingku pun tak mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Hening menyelimuti dengan hawa dingin yang menjadi atmosfer sepanjang perjalanan yang entah membawaku kemana. Aku mencuri pandang ke arahnya beberapa kali. Entahlah, namun aku hanya ingin melihat reaksinya kini.

“Apakah ada yang salah dengan wajahku, nona?”

Mwo?!”

“Aku risih jika kau terus-menerus memandangiku seperti itu.”

Shit! Aku ketahuan. Aku memilih untuk diam, tak mempedulikan perkataannya seraya membenahi degup jantungku yang mulai berpacu secara tak normal. Aish, kau ini kenapa, Park Sandara?

“Kau yakin akan mengenakan baju seperti itu?”

Kali ini aku menunduk, menatap diriku yang hanya mengenakan sweter rajut berwarna merah muda dan celana jeans belel, dipadukan dengan sneakers kesayangan. Oh, lihat penampilanmu yang ‘seperti itu’ menurutnya!

Bukankah kau terlihat menyedihkan jika disandingkan dengan pria itu yang mengenakan setelan mewahnya? Tak rapi, namun black long sleeve dengan merk ternama itu dipadukan dengan jeans berwarna senada yang membalut pas tubuhnya, lengkap dengan topi yang menutupi surai hijaunya. Penampilannya benar-benar berkelas.

“Bukankah pestanya juga tak formal? Bom menyuruhku untuk bebas mengenakan apapun semauku.”

Pria itu berdecak, “Setidaknya buatlah dirimu elegan terlebih dulu saat menuju pesta.”

Aku memberengut, tak suka sekaligus tersinggung atas ucapannya. Siapa pria itu yang bisa menilai penampilanku dengan seenak jidatnya? Aish, aku bahkan tak mengenalnya namun mengapa ia berani berkata seperti itu?

“Turunlah.”

Aku tersentak, mobil telah terparkir di depan sebuah bangunan, dan ini bukanlah rumah Seung Ri. Salon? Untuk apa aku kemari?

“Turun. Sekarang.”

Pria itu berjalan memasuki bangunan tersebut setelah mengatakan ucapan singkat itu seraya membuka pintu mobil. Benar-benar menyebalkan dengan tingkah pongahnya! Aku dengan terpaksa mengikuti pria itu, walau tak tahu sebenarnya apa tujuannya membawaku ke tempat sialan ini.

Pegawai di sana menyapaku dengan ramah, ia bahkan menuntunku ke salah satu kursi dan mendudukanku di sana. Sementara dari kaca besar di hadapanku, aku bisa melihat pria sialan itu tengah duduk dengan santainya di sofa seraya membuka-buka majalah fashion.

“Apa… yang akan kau lakukan?” tanyaku kepada pegawai wanita yang mulai melepas ikatan asal di rambutku.

Pegawai wanita tersebut hanya tersenyum, lalu menyuruhku untuk tenang dan tak melakukan pergerakan yang berarti. Pandanganku beralih untuk menatap tajam pria itu dari cermin. Ia juga tengah melihatku dari kacamata hitamnya. Bahkan kini bisa ku lihat seringaian terbit disalah satu sudut bibirnya. Sial! Ia sengaja menjebak tanpa meminta persetujuanku!

*****

Sandara mendudukkan dirinya di kursi yang terletak agak di sudut. Sedari tadi ia terus mengikuti langkah pria sialan yang membawanya ke salah satu butik termewah di pusat kota. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di salon demi menata rambutnya dan memoles sedikit wajahnya dengan riasan, kini gadis itu lagi-lagi harus menuruti keinginan pria yang tengah memilihkan baju untuknya.

Ia menghembuskan napas panjangnya, hari bahkan telah berganti malam dan ia amat sangat lelah. Namun anehnya, Sandara tak bisa untuk tak menuruti pria itu. Ia bagai budak yang sedari tadi terus mengekori tuannya kemanapun ia pergi. Pria itu melambai ke arahnya, menyuruhnya untuk menghampiri.

“Ada apa?” tanyanya malas setelah tiba di hadapan pria itu dengan langkah lambatnya.

“Pakai ini.”

Pria itu menyerahkan satu set pakaian merk ternama dan menyuruh Sandara untuk mencobanya. Gadis itu terperangah, harga yang tertera di sana setara dengan uang jajannya selama satu tahun penuh.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kau hanya membuang-buang uangmu jika kau menyuruhku untuk memakai pakaian ini.”

“Bukan uangku, tapi uang Seung Ri. Jangan terlalu percaya diri seperti itu.”

Sandara berdeham, merasa cukup malu akan kesalahpahamannya. Aish, seharusnya ia tahu bahwa tidak mungkin pria yang bahkan tak dikenalnya ini sudi untuk mendandaninya mati-matian. Tapi tunggu, bukankah Seung Ri juga tak terlalu mengenalnya dengan akrab? Jadi untuk apa ia melakukan semua ini?

“Anggap saja sebagai permintaan maafnya karena kejadian waktu itu,” pria itu berucap, seakan tahu isi pikiran Sandara.

“Haruskah? Tak bisakah kita langsung ke tempat pesta saja? Setelah aku bertemu Seung Ri aku akan langsung pulang.”

“Bocah manja itu akan mengomeliku habis-habisan jika aku tak melakukan perintahnya. Aish, sebenarnya apa hubungan kalian berdua? Mengapa ia berani memberikan kartu kesayangannnya padaku hanya untuk membuatmu terlihat pantas?”

Pantas? Manik hazel itu membulat. Sandara bahkan harus memegangi belakang lehernya yang kini mulai berjengit ngilu. Tak adakah kata lain yang lebih menohoknya? Memangnya seberapa tak pantaskah gadis itu terlihat untuk datang ke pesta? Astaga, benar-benar tak bisa dipercaya!

Dengan satu gerakan cepat, Sandara merebut baju yang tengah dipegang pria itu. Ia mendengus dan berbalik untuk menuju kamar ganti. Lihat saja, ia akan tunjukkan bagaimana ia terlihat pantas untuk datang ke pesta tersebut.

*****

Aku berdeham, menyadarkan pria di hadapanku yang sedari tadi hanya terdiam memandangiku. Walau aku tak bisa melihat matanya yang terhalangi kacamata hitam besar, namun setelah aku keluar dari kamar ganti pria itu hanya berdiri mematung tanpa berbicara apapun.

Sesuai dengan instruksi menyebalkan pria sialan itu, saat ini aku mengenakan kaus polos hitam yang ditumpuk jaket kulit berwarna senada dengan celana jeans ketat berwarna maroon. Rambutku telah digerai dengan ujung yang bergelombang, tak lupa riasan make-up tipis yang terlihat natural di wajahku. Apakah ini tidak terlalu berlebihan?

“Singkirkan sepatu kumalmu!”

Mataku membelalak, lagi-lagi mulutnya terlalu kasar untuk bicara di hadapanku, “Untuk apa?”

“Ganti dengan yang ini,” ucapnya seraya menyodorkan sepatu boots maroon garis hitam yang dilengkapi hak tinggi.

“Aku benci heels.”

“Hanya tujuh centi.”

“Tetap saja aku tak suka.”

“Pakai sendiri sebelum aku memaksamu, nona.”

Aku menatapnya yang tengah memasang tampang dingin menyebalkan itu. Daripada harus ku kenakan, aku lebih memilih untuk melemparkan sepatu ini untuk menyumpal mulut berbisanya. Mengapa harus pria ini yang menjemputku? Sialan! Jika tahu akan seperti ini lebih baik aku tadi berangkat sendiri saja.

Aku mendengus, merasa tak ada gunanya jika mendebat lebih jauh. Dengan terpaksa aku mengenakan sepatu itu. Lebih baik aku menuruti perintahnya agar lebih cepat aku datang ke pesta dan berpisah dengan pria sialan ini.

“Sentuhan terakhir.”

Deg! Aku tertegun ketika dengan satu gerakan tiba-tiba ia mendekat ke arahku untuk memasangkan topi miliknya ke atas kepalaku dengan posisi yang terbalik. Dari jarak sedekat ini, aku bahkan bisa mencium aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya, membuat kepalaku pening untuk sesaat karena rasa candu yang tiba-tiba menyeruak.

Jarak yang tak berarti di antara kami membuatku yang bisa melihat wajah tampan nan rupawan miliknya. Mulus tanpa cela dan… tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa aku harus memperhatikan setiap detail penampilannya? Ku rasa aku sudah benar-benar gila!

“Untuk… apa aku mengenakan topimu?” tanyaku setelah terdiam cukup lama.

Ia membuka kacamata hitamnya, manik kelam itu menatap lurus ke arah mataku, “Topi itu cocok untukmu.”

“Tidakkah ini terlalu… berlebihan?”

“Lalu kau ingin mengenakan gaun? Ku rasa kau sangat membenci pakaian wanita, jadi aku memilihkan ini untukmu.”

“Yak! Aku juga wanita!”

“Lalu mengapa kau membenci heels, huh? Bukankah wanita menyukainya?”

Aku menggumam, “Hanya… tidak suka saja.”

“Lihat? Tebakanku benar. Mana ada wanita yang mengenakan sweter kebesaran dengan jeans ke pesta? Jika kau tak suka gaun, setidaknya pakailah pakaian yang lebih layak.”

“Sudah ku bilang Bom hanya menyuruhku untuk datang mengenakan apapun semauku! Mengapa kau banyak bicara, huh?”

Pria itu menutup telinganya, “Kau berisik sekali, nona. Jika bukan karena Seung Ri, aku tak akan sudi menjemputmu.”

Aku mendengus, “Siapa pula yang ingin diantar olehmu? Aish, lebih baik aku ganti baju lagi dan aku akan pergi ke pesta itu sendiri tanpa kau!”

“Bajumu sudah ku buang.”

Mwo?!”

Pria itu menyeringai, “Silakan jika kau ingin melepas pakaian ini. Aku juga penasaran bagaimana caranya kau ke pesta jika…”

“Tutup mulutmu!”

Pria itu terbahak di hadapanku, menampilkan wajah menyebalkan yang luar biasa membuatku naik darah. Apakah ia tak sadar akan ucapan sialannya? Aku bahkan hanya bisa menahan napasku yang tiba-tiba hampir memburu. Belum sempat aku bernapas dengan benar, pria itu tiba-tiba menyeretku lagi dengan paksa. Sialan! Mengapa sekarang kini pipiku mulai memanas hanya karena sentuhan tak berartinya di tanganku?

*****

“Aku lapar,” ucap Sandara perlahan ketika turun dari mobil.

Pria yang tengah berjalan beriringan di sampingnya menoleh, mendapati riak muka gadis itu yang memang memelas. Ia melirik arloji di tangan kiri dan jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Pantas saja, mereka bahkan telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk mendandani Sandara.

“Masuklah dulu. Pestanya baru dimulai.”

Sandara memberengut, perutnya benar-benar keroncongan minta diisi. Seingatnya, terakhir kali ia makan adalah saat pagi hari. Itupun hanya dengan dua lembar roti dan segelas susu. Ia hanya bisa mendengus, kembali mengikuti langkah pria itu dan memasuki rumah Seung Ri yang amat mewah bergaya Eropa klasik, tak ada bedanya dengan sebuah hotel bintang lima.

“Hei!”

Satu teriakan terdengar di tengah dentuman musik yang menggema di kebun belakang rumah yang telah disulap menjadi sebuah ruangan pesta tersebut. Lengkap dengan meja DJ dan kolam renang, pesta itu benar-benar dilaksanakan di area yang amat luas dan orang-orang tengah larut di dalamnya. Teriakan itu berasal dari Tuan yang mempunyai acara. Seung Ri. Pria itu melambaikan tangannya pada Sandara dan pria di sampingnya untuk mendekat.

“Kenapa lama sekali?”

“Bukankah aku harus membuatnya terlihat mengagumkan dulu sesuai perintahmu, huh?”

Seung Ri tersenyum mendengar jawaban pria bersurai hijau itu, lalu mengalihkan tatapannya pada Sandara yang memang terlihat memukau malam ini. Temannya itu memang terkenal memiliki selera fashion yang berkelas, tak salah jika Seung Ri memintanya untuk membuat gadis itu terlihat berbeda dan menggumkan.

Annyeong, Dara-ya.”

Sandara mengangguk canggung, “Annyeong. Dimana Bom-ie?”

“Kau menanyakan sahabatmu itu? Tak sadarkah kau jika kini tengah mengabaikan pria tampan di hadapanmu?”

“Berhenti membual, Lee Seung Ri! Kau hanya membuatnya tambah muak.”

Sandara tertegun beberapa saat, melihat pria bersurai hijau itu mengambil tempat di sebelah Seung Ri lalu menghisap dalam rokok yang baru dinyalakannya. Ia juga perokok rupanya.

“Bom noona sedang sibuk dengan pria tampan yang baru saja menggodanya.”

“Aish, wanita itu!”

“Duduklah dulu,” ucap Seung Ri yang langsung dituruti Sandara untuk duduk berhadapan dengannya di salah satu meja tersebut.

“Kau benar-benar terlihat tambah mengagumkan, Dara-ya. Aku harus berterima kasih pada pria sialan ini sepertinya.”

Sandara tersenyum, namun pikirannya seolah tak bisa terlepas dari pria yang tengah acuh di sebelah Seung Ri. Harus ia akui, bahwa memang pria itu selalu tampil menawan dengan pakaian apapun yang ia kenakan, jadi wajar saja jika ia bahkan bisa mengubahnya dari gadis menyedihkan bak itik buruk rupa untuk hadir ke pesta dengan dandanan modis seperti ini.

“Maaf untuk kejadian terakhir kali.”

Gadis itu tersentak ke alam sadar, “Ah, ne?”

“Mungkin Bom noona telah mengatakannya padamu, tapi aku benar-benar ingin minta maaf secara langsung untuk kejadian yang membuatmu tak sadarkan diri. Aku merasa bersalah karena tak tahu jika kau tak tahan alkohol.”

Gwaenchanna, Seung Ri-ssi.”

“Bisakah… tidak ada panggilan formal?”

“Dan bisakah kau memanggilku dengan panggilan yang lebih sopan? Aku lebih tua darimu.”

“Haruskah? Kau terlihat muda bagiku, Dara-ya.”

Sandara mendengus mendapati mulut pria di hadapannya yang pandai membual, sementara Seung Ri makin melebarkan tawanya. Gadis di hadapannya terlalu unik, ia bahkan baru pertama kali mendapati dirinya ditolak seperti itu. Oh ayolah, memangnya siapa yang berani menolak pesona chaebol sepertinya? Walaupun ia playboy kacangan, namun wanita mana yang tak tergoda dengan harta yang ia miliki?

“Pikiranmu masih tak berubah, huh? Padahal aku masih tertarik padamu dan ingin mengajakmu kencan. Sebenarnya aku sengaja mengundangmu untuk itu.”

Bibir cheri itu terbuka seraya memutar matanya malas, “Maaf, Seung Ri-ssi, namun sebaiknya kau cari wanita lain yang tahan akan sikap dan rayuan basimu itu karena aku sangat membencinya.”

Seung Ri meladak dalam tawa mendapati kejujuran Sandara. Gadis ini benar-benar unik, bukan?

“Minumlah dulu. Kali ini ku pastikan tak ada alkohol,” ucap Seung Ri menyodorkan minuman.

“Ia lebih ingin makanan, Seung Ri-ya.”

Belum sampai minuman itu masuk ke kerongkongannya, ucapan singkat pria yang sedari tadi diam tersebut mampu membuatnya tersedak. Aish, ucapannya memang benar-benar tak bisa dikendalikan. Haruskah ia terlalu jujur pada pemilik acara bahwa dirinya lapar?

“Kau belum makan, Dara-ya? Yak! Mengapa kau tega sekali pada tamuku ini hingga membuat ia kelaparan?”

Pria surai hijau itu berdecak, “Bagaimana bisa aku mengajaknya makan jika kau sedari tadi bahkan sibuk menghubungiku dan menyuruhku untuk segera membawanya datang, huh?”

Sandara mendelik ke arah pria tersebut, “Gwaenchanna. Aku tidak terlalu lapar.”

Manik kelam itu menatap lurus padanya, dan pria itu tahu Sandara tengah berbohong. Ck, bahkan saat dalam perjalanan kemari suara perut gadis itu terdengar beberapa kali. Bisakah ia menjadi pembual yang baik?

Ia mendecak, “Bisakah aku pinjam dapurmu?”

“Hm? Untuk apa?” Seung Ri kebingungan.

“Untuk mencegahnya pingsan jika terlalu lama berada di dekatmu.”

Lagi. Tangan besar nan kokoh itu menyeret Sandara tanpa mampu ia cegah. Dengan langkah yang terseok, gadis itu lagi-lagi mengikutinya, dan kali ini ia tanpa paksaan yang berarti. Entah karena perutnya yang memang tak bisa lagi kompromi, atau karena hatinya yang tiba-tiba selalu menghangat akibat sentuhannya.

.
.
.

To be continued…

Sorry for waiting so long. Berharap pada masih nge-feel sm ff abal ini.

Meet me on wattpad @Listiaandani

Advertisements

13 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 7]

  1. Sikap jidi cuek cuek manis d. Chaptee ini, aaaa andaikan nyata, mau bngt jd darong,, 😳😳
    Author semangat trs buat lanjutin ff ini yaa ^^
    Saranghae thor,, hihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s