The King’s Assassin [48] : In Pursuit of The Truth

TKA

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

 

Dara’s POV

 

Aku tidak mengira malam ini akan berjalan dengan sangat baik – Raja dan Putra Mahkota saling berbincang, aku hanya memperhatikan mereka, dan sebelum aku menyadarinya makan malam telah berakhir.

Sang Raja, aku tidak menyangka beliau akan bersikap hangat dan menerimaku seperti ini. Aku tersenyum mengingat imaginasiku yang berlebihan. Untuk sekarang ini aku bisa membayangkan ayahku, Menteri Jung, Profesor Lee dan Yang Mulia Raja saling bertukar pendapat dan berdiskusi masalah nasional sementara Menteri Kim yang pada saat itu masihlah seorang asisten muda duduk di salah satu sudut dan belajar dari para sunbaenim-nya. Di sebuah ruangan yang luas dengan penerangan yang bak, mereka menggelar rencana mereka untuk Joseon dan pada gulungan itu, mereka menuliskan undang-undang baru yang akan membebaskan rakyat biasa tanpa peduli pada fraksi politik – karena tujuan mereka hanyalah satu. Untuk membebaskan kaum miskin, untuk membantu siapa pun yang tertindas.

Aku menggigit bibirku merasa bersalah. Bukankah sebelumnya aku berencana untuk membunuh Raja dengan tanganku sendiri karena amarah? Alasan kenapa aku ingin masuk ke Istana adalah demi mencapai ambisiku. Untuk balas dendamku. Namun semuanya berbalik menyerangku. Pangeran, oh Jiyong tidak sepantasnya aku berpikiran buruk tentang pria itu. Aku merasa sangat menyesal. Karena aku bisa saja melukai pria yang paling kucintai.

Jalan menuju keadilan memang panjang, tapi dengan kesabaran akhirnya ujungnya sudah semakin dekat dan tinggal sejangkauan. Aku menoleh pada pria yang berdiri di sebelahku dan dia membalas senyumanku, sangat manis, membuat ujung-ujung jariku keriting. Di balik wajah tampan dan sikapnya yang dominan, dia adalah pria penyayang yang sanggup melelehkan hati wanita mana pun. Dan dia telah melakukannya padaku. Dia mencuci bersih seluruh kebencianku. Segala kemarahanku. Dan bersama-sama, kami mengatasi rasa takut kami.

“Jeonha, Menteri Pertahanan telah tiba,”

Aku mengerutkan alisku mendengar berita itu dan Jiyong mengangguk kepadaku. Mereka telah berada di sini. Mereka akhirnya telah tiba. Raja dan Putra Mahkota memperkenankan mereka masuk, aku segera berdiri untuk melihat adikku, tapi Seunghyun oppa dan Yongbae telah terlebih dahulu masuk. Aku bertanya-tanya sembari membungkukkan badan di hadapan Raja dan serta merta aku langsung menundukkan kepala begitu mereka datang.

“Kami tidak tahu jika Sanghyun dan Seungri masih belum tiba.” Kata Profesor Dong, sementara Seunghyun oppa melepas ikatan bungkusan dari kain sutra dan meletakkannya di atas meja, menyerahkannya kepada Raja.

“Jeohan, kami mohon, terimalah ini sebagai bukti komitmen kami kepada Paduka dan ketiga rekan hebat Paduku.” Menteri Kim membungkukkan badan. “Kami menghendaki Penasehat Choi dihukum atas semua kejahatan yang mereka lakukan. Putra Anda, Putra Mahkota dan orang-orangnya telah melakukan investigasi lain untuk membuktikan tindakan heroik yang telah dilakukan oleh Penasehat Park, Menteri Jung, dan Profesor Lee. Dan kami memutuskan untuk menggabungkan semua informasi yang telah kami peroleh ke dalam sebuah buku. Lembaran terakhir berada pada putra dari rekan-rekan Paduka dan sisanya tergantung pada Paduka Raja sendiri, untuk mengambil keputusan.”

Raja meraih buku itu dengan tangan gemetaran, bagian tergelap dari sejarah gelap Juseon berada di tangan belia dan aku tidak menyadari bahwa aku sendiri telah meneteskan air mata jika bukan karena jemari hangat yang menghapus air mata dari wajahku. Aku menoleh ke sisi kiri dan menyadari itu ternyata adalah Jiyong.

“Kenapa kau menangis?”

“Anda telah melakukan banyak hal,” aku menatapnya sementara dia masih terus menghapus air mataku. “Saya tidak percaya semua ini terjadi. Ini adalah hasil dari proses kita mencari kebenaran, Menteri Kim dan Master Wu… Anda dan rekan-rekan Anda… kalian semua membuat hal ini menjadi mungkin,”

“Kau yang membuatku membuat semua ini menjadi mungkin,” bisiknya padaku dan untuk sesaat kami seolah larut dalam dunia milik kami sendiri, sementara yang lain mulai berdiskusi hingga detail terkecil. Aku melirik ke arah Seunghyun oppa, dan aku tidak bisa menahan rasa bersalah dalam hatiku. Oh, pasti perasaannya sangat kacau sekarang ini. Dia menjadi bagian dari rencana untuk menangkap dan menghukum ayahnya sendiri. Bisakah hal itu lebih buruk lagi? Aku menggigit bibirku. Mianhe, Seunghyun oppa… mianhe.

“Ayo keluar, biarkan mereka mendiskusikan semuanya, kemari,” Pangeran menggenggam tanganku.

“Ani… saya ingin tetap di sini,” Aku menggelengkan kepalaku.

“Tapi aku tidak ingin melihatmu menangis, Dara. Kau harusnya merasa gembira,”

“Saya gembira,” kataku pelan, tidak ingin mengganggu Raja dan yang lainnya.

“Kau lebih terlihat cemas dibanding gembira,”

“Percayalah pada saya, Jeoha. Saya gembira. Bagaimana mungkin saya tidak merasa gembira?”

“Sandara, Jiyong, kenapa kalian tidak keluar terlebih dahulu, sementara kami mendiskusikan yang lainnya,” aku terkejut saat Raja tiba-tiba saja berkata demikian dan sebelum aku bisa bereaksi, Jiyong menarikku berdiri.

“Kami memang berencana demikian,” dia tersenyum layaknya bocahnya dan kupu-kupu mulai berterbangan di dalam perutku.

“Berhati-hatilah. Kumohon,”

“Yeh, Appa Mama,” Jiyong membungkukkan badan dan aku pun melakukan hal yang sama, lalu Jiyong membaku ke bagian belakang dari kediaman Raja.

“Jeoha, saya mohon pelan-pelan,” kakiku tidak sebaik biasanya. Nafasku terlihat karena udara dingin, meskipun salju telah berhenti turun. “Jeoha,” aku terengah-engah dan detik setelahnya dia berhenti. Dia menatapku dan menarikku padanya, tak lama kemudian bibirnya telah menutup bibirku.

Aku merinding merasakan kehangatan yang tiba-tiba menyelimuti bibirku, tapi aku tetap membalas ciumannya dengan gairah yang sama. Air mataku kini telah mongering, namun aku merasakan sesuatu yang basah di pipiku. Dia menciumiku dengan penuh sayang, itu membuat hatiku seolah teremas – dan aku sadar, dialah yang menangis. Jiyong mengecup bibirku berkali-kali sebelum memberikan jarak di antara kami, segingga kami bisa menarik nafas dan aku hanya bisa memejamkan mata, merasakan kehangatannya berhembus di wajahku.

“Aku tidak tahu seorang pria bisa merasa sebahagia ini,” katanya dan aku mengangguk. “Aku tidak tahu bahwa kebahagiaan itu nyata,”

“Saya juga tidak tahu,” aku membuka mataku dan pandangan kami bertemu. “Saya tidak tahu sampai Anda mencintai saya,”

“Ya… aku pun tidak tahu sampai aku bertemu denganmu,” dia memutus jarak di antara kami untuk kembali berciuman yang membuatku hilang pikiran. Ya, kami berdua larut dalam dunia kami sendiri dan beberapa saat kemudian kami tertawa seperti orang bodoh.

“Ayahku menginginkan banyak cucu. Apakah kita harus mulai membuatnya malam ini?”

“Jeoha!” aku memukul dadanya dan dia hanya memelukku dengan lengan kekarnya. Aku bisa semakin merindukan saat-saat seperti ini.

“Aku bertanya-tanya di mana Sanghyun dan Seungri sekarang. Kenapa mereka lama sekali?” tanyanya sambil mencium kepalaku.

“Saya—,”

“Oh tolong, jangan katakan kau merasa cemas lagi,”

“Maafkan saya, saya tidak bisa mencegahnya,” akuku. Itu adalah adikku yang harus memasuki Istana secara diam-diam dengan membawa gulungan. Bagaimana dia akan melakukannya, aku tidak tahu. Itu adalah bagian yang tersulit. Jika Daesung yang akan membawa peti kayu itu masuk, penjaga gerbang pasti akan memeriksa apa isinya dan kami tidak mungkin mengambil resiko itu.

“Jangan cemas. Percayalah pada adikmu,”

“Tentu saja. Saya percaya kepada Sanghyun. Saya hanya tidak bisa mempercayai musuh kita.”

“Kau benar,”

“Tentu saja. Saya mohon, ayo kita kembali ke dalam.”

“Tidak… tetaplah seperti ini selama beberapa saat lagi. Aku merindukanmu,”

“Anda gila, Jeoha,” aku memutar bola mataku.

“Ya… padamu,”

Setelah beberapa sat, kami memutuskan untuk kembali ke dalam dan kami melihat Daesung sudah berada di kamar Raja. Dia bilang Sanghyun dan Seungri sudah berada di luar Istana, menunggu waktu yang tepat untuk masuk. Penjagaan Istana diperketat karena penobatan Putra Mahkota besok. Aku merasa cemas untuk adikku dan juga Seungri. Mereka memegang sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang sudah kami sembunyikan sekian lama.

“Kalau begitu, mari kita ubah rencana,” usul Jiyong.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Daesung, menyiapkan dirinya untuk menerima pesan dengan jelas dan menyampaikannya kepada mereka yang tengah menunggu di luar dinding Istana.

“Katakan pada Sanghyun dan Seungri untuk membawa gulungan itu ke Istana Selatan secepat yang mereka bisa. Kurasa mereka tidak akan bisa melewati penjagaan di sini.” Kata Jiyong muram membuat Menteri Kim mengangguk.

“Saya setuju dengan Putra Mahkota. Sebuah perubahan rencana tidak akan menyakitkan, apalagi ini demi kepentingan semua orang.”

“Kalau begitu lakukanlah. Kita masih ada waktu sampai besok pagi. Lagipula… aku sudah merasa lelah,” Raja tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maafkan pria tua ini.”

“Jeonha, hamba mohon jangan berkata seperti itu. Kamilah yang seharusnya meminta maafk karena sudah mengganggu malam paduka,” kata Seunghyun oppa.

“Baiklah kalau begitu. Kami akan segera pergi. Beristirahatlah, Jeonha,” kata Yongbae sambil berdiri dan kami segera mengikuti.

“Appa Mama, tidurlah dengan nyenyak,”

“Tunggu… kumohon, antarkan aku ke tempat tidur, nak. Kemari. Bantu aku,”

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan yang tiba-tiba kurasakan saat mendengar permintaan Raja. Menteri Kim dan kedua profesor itu memutuskan untuk memberikan penghormatan mereka dan pamit, meninggalkan kami bertiga di dalam kamar. Aku hanya bisa memandang Putra Mahkota mencoba membantu ayahnya berdiri.

“Sandara… bagaimana kau bisa hanya berdiri di sana dan meninggalkan Raja sendirian?” yang Paduka maksud adalah Jiyong. Oh, dia akan segera menjadi Raja. Bagaimana bisa aku hanya berdiri di sini? Tapi… apakah aku diijinkan untuk menyentuh Paduka Raja?

“Jeonha…”

“Bantu kami,”

Aku segera menghampiri mereka dan meletakkan lengan kiri Raja di pundakku sambil menarik beliau berdiri, sama seperti yang Jiyong lakukan. Dan kemudian… kami membawa beliau ke kasurnya.

“Ya, seperti itu. Saling berbagi dalam kesulitan dan perjuangan. Lakukan semuanya bersama-sama. Tanggunglah semuanya bersama,” aku mengangguk akan perkataan beliau yang sangat berarti itu.

“Tak lama lagi kalian akan akan memimpin negeri. Kalian haruslah kuat. Ingat, orang yang bisa kalian percaya sampai nafas terakhir kalian, adalah diri kalian sendiri – saling percayalah pada satu sama lain, apa kalian berdua mengerti?”

“Yeh, Appa Mama,” jawab Jiyong, namun entah kenapa aku merasa aneh mendengar perkataan beliay.

“Bagaimana denganmu, Sandara? Apa kau mengerti? Aku memerintahkanmu untuk melayani Raja dan melindungi keselamatannya. Tubuhnya adalah kiriman dari surga. Kau harus mengikuti semua perkataannya dan mengabdikan dirimu padanya. Apakah kau bisa melakukannya? Bisakah kau menjaganya untukku?”

“Y-y-eh, Jeonha,” jawabku gugup. Kami membaringkan Paduka di tempat tidurnya dan membantu menyelimuti tubuh Paduka dan aku sedikt merapikannya. Kenapa perkataan Paduka tadi membuat kulitku merinding?”

“Bagus. Bagus sekali, nak. Sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang,” beliau meraih tanganku dan tangan Jiyong lalu, mengganggap tangan kami secara bersamaan. Namun aku kembali merasa merinding saat merasakan tangan Paduka Yang Mulia terasa dingin. Lebih dingin dari malam ini dan aku gemetaran saat melihat beliau tersenyum padaku dengan mata berkaca-kaca.

“Selamat malam, Appa Mama,” kata Jiyong.

“Selamat malam, nak.”

“Selamat malam, Jeonha,”

“Maafkan aku Sandara, selamat malam…”

**

Malam semakin dingin, gelap, dan sunyi – kecuali suara kukuk burung hantu yang berasal dari pohon di luar kamar Putra Mahkota, seolah menjaga tidur seorang wanita di dalam sana.

Putra Mahkota masih menunggu kedatangan Sanghyun dan Seungri di ruang kerjanya dengan kedua profesor dan Menteri Kim, Eunuch Seunghwan dan Harang – dan Dara yang sebenarnya berkeras ingin menemani meraka untuk menantikan kedatangan adiknya, namun tidak diijinkan oleh Jiyong. Pria itu menyuruhnya untuk tidur, semantara Lady Gong menemani wanita itu di sisinya serta Hong dan beberapa orang lain menjaganya.

Namun dengan malam yang semakin larut, terdengar suara erangan pelan dan sedikit keributan terdengar dari luar kamar Pangeran. Dara terbangun dari tidurnya, malam itu adalah malam yang dingin tapi dia berkeringat, seolah dia dihantui oleh mimpi buruk hingga terbangun, dan sesaat kemudian dia merasakan seseorang menyentuh wajahnya, tapi bukan tangan Putra Mahkota – dia sudah sangat mengenali tangan kekasihnya. Dara tersenyar merasakan sebuah ciuman di keningnya karena dia tahu itu bukan bibir Putra Mahkota – dia sudah sangat tahu bibir kekasihnya. Matanya langsung terbuka, dan sesosok pria berpakaian gelap muncul di hadapannya. Dia baru akan berteriak, tapi segera menutupi mulutnya begitu menyadari itu mungkin saja bukan orang lain…

Melainkan Ilwoo.

Mata Dara melebar sambil berusaha mengendalikan rasa takutnya. Dia melirik ke arah Dayang Istana yang tengah tertidur tidak jauh darinya di ujung ruangan dan dia menarik nafas lega karena wanita itu masih tidur nyenyak.

“Apa yang kau lakukan—,”

“Shhh… ikutlah bersamaku—,”

“Tidak…” Dara menggelengkan kepalanya dan menjauh dari pria itu. “Oppa, hentikan semua kegilaan ini!” desis Dara.

“Aku hanya akan berhenti jika kau mau ikut bersamaku,”

“Tidak… sudah kubilang padamu. Putra Mahkota dan aku… kami akan segera menikah. Aku akan menikah dengan Putra Mahkota. Oppa, jangan lakukan hal ini padaku, kumohon,”

“Kalau begitu kau tidak memberiku pilihan lain,” Ilwoo menyipitkan matanya pada Dara dan berdiri sebelum akhirnya berlari ke arah dan melompat keluar, tak lama kemudian suara denting pedang beradu terdengar memecah kesunyian malam, membuat Dara terkesiap ngeri. Dia segera berganti pakaian, mengenakan pakaian pria yang dimilikinya agar dia bisa bebas bergerak di Istana, karena hanya satu hal yang berada dalam pikirannya. Mengnetikan Ilwoo dari apa pun yang direncanakan oleh pria itu.

Dara meraih pedangnya dan berlari keluar dan dirinya disambut oleh pemandangan mengerikan.

“HONG!!!”

“A-a-gassi…” pria itu terbatuk dan merangkak menuju ke arahnya, memegangi lengannya yang berdarah.

“A-gassi, j-j-angan…” Hong menggelengkan kepalanya, mencoba menghentikan Dara untuk tidak mengikuti si pembunuh gelap. “S-s-aya m-mohon,”

Melihat keadaan pria itu, Dara segera kembali masuk dan membangunkan Lady Gong untuk membantu menobati lengan Hong.

“Lady Gong! Lady Gong!”

“Dara-ssi…” wanita muda itu mengucek matanya dan begitu melihat pakaian yang Dara kenakan, dia segera melompat berdrii.

“Anda mau pergi ke mana?”

“Aku butuh bantuanmu,”

**

Dara’s POV

 

Aku segera berlari dalam kegelapan, mencari-cari pohon di dekatku, mencoba menyembunyina diri dari Penjaga Istana yang tengah mencari si pembunuh gelap yang merencanakan sesuatu yang tidak kuketahui. Jantungku berdebar keras. Aku bersembunyi di balik tiang dan memastikan area di sekitarnya aman sebelum naik kea tap dan menyipitkan mataku di gelapnya malam tanpa bulan. Aku mulai merinding. Tidak jauh dariku terlihat sebuah bayangan di atas atap kamar Raja.

Aku mencoba meraihnya secepat yang kubisa, aku harus menghentikannya. Aku yakin, dia akan mau mendengarkanku. Tinggal sedikit lagi, dia pasti akan mendengarkanku. Lagipula, semua ini adalah salahku kenapa dia sampai seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu.

Para Penjaga Istana berpencar di seluruh penjuru Istana, aku kesulitan untuk melompat dari atap ke atap selanjutnya, dan ketika aku akan sampai, aku terpeleset – menyebabkan bunyi berisik dan aku segera merangkak naik. Aku tidak bisa bernafas. Firasatku mengatakan aku tidak seharusnya mengikuti oppa. Tapi, aku tidak bisa membiarkannya berkeliaran di Istana seperti ini. Aku hanya berharap Putra Mahkota tidak akan marah padaku karena aku kembali keluar tanpa ijin darinya. Namun ini adalah situasi yang krusial dan Ilwoo oppa berada dalam kondisi yang sangat berbahaya dan semua ini membuatku takut. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Ini masalah. Ini sangat mengancam.

Aku merundukkan badan dan menunggu sejanak dan begitu sisi bangunan tempatku berada aman, aku segera melompat turun tapi Ilwoo oppa sudah berlari keluar dair kamar, tanpa pedang di tangannya – jantungku serasa ingin melompat keluar dari tenggorokanku. Aku ingin mengikutinya, tapi instingku bilang aku harus memeriksa keadaan Paduka Raja. Apa yang telah dilakukannya? Aku berlari menuju ke jendela terdekat. Dan tubuhku mulai gemetaran. Dia tidak akan melukai Paduka, iya kan? Dia tidak akan melakukan sesuatu yang konyol, benar bukan?

Aku melompat masuk dengan seluruh kecemasan, sepat boot-ku menimbulkan suara saat beradu dengan lantai kayu, tapi aku tidak bisa mendengarkan suara apa pun kecuali suara nafas-nafas pendek, dan sesaat kemudian aku segera berlari menuju ke kamar Yang Mulia Raja.

Tapi aku sudah sangat terlambat. Aku melepaskan peganganku pedangku jatuh ke lantai begitu saja, dan tidak lama kemudian lututku ikut terjatuh.

Paduka Yang Mulia Raja bernafas putus-putus.

Dan dia terbaring dalam genangan darahnya sendiri.

**

“Temukan Ilwoo…” Penasehat Park menyeringai malas sambil menggoreskan kuas di atas kertas, duduk nyaman di kantornya di Istana. “Oh, sekarang ini dia mungkin sudah tiba. Tangkap dia dengan tuduhan telah membunuh Raja,” pria tua itu melembaikan tangannya kepada pengikutnya, menyuruh mereka pergi.

“Bagaimana dengan Putra Mahkota dan putri mantan Penasehat?”

“Aku akan mengurus mereka besok pada saat penobatan Putra Mahkota. Biarkan mereka merayakan malam ini terlebih dahulu. Dan besok, kita akan membongkar semua kesalahan Putra Mahkota karena telah menggunakan seorang wanita demi kepentingannya sendiri, menentang aturan dan melawan ajaran Konfusianisme,”

“Yeh. Kami mengerti,” kata Kepala Penjaga Istana. “Saya harap di sana akan bebas dari pasukan dari Istana Selatan. Mereka menjaga Istana Tengah dengan ketat tadi,”

“Apa?”

“Saya rasa sesuatu terjadi di kamar Paduka Raja.”

“Pergi sekarang! Aku minta Ilwoo ditangkap begitu dia sudah menyelesaikan bagiannya,”

“Yeh, Penasehat!”

**

Hanya satu pesen saya, sabaaaaaaaaaaaarrr~ T^T /nangis di pojokan/

Seperti kata pepatah, baawa kita harus bersakit-sakit dahulu… jadi yuk sekarang nangis bareng sebelum nanti bisa ketawa-ketawa… T_____T

dan oh iye.. ini cerita masih belum ending loh yaa~ kalo udah menyerah baru sampe sini, nanti nggak ikutan happy-happy.. T____T /nangis lagi../

<< Previous Next >>

Advertisements

24 thoughts on “The King’s Assassin [48] : In Pursuit of The Truth

  1. Dasar il woo mau z ngikutin printah org jahat demi ambisi’a dapetin dara,
    Anda kira dara bakal mau liat muka km lg klo km lakuin itu ???yg ada dara bakal benci sm kamu,
    Smga z dara gak d’salahin atas k’matian raja,
    Dara d’kamar raja kan ???

  2. Rencana penasehat choi licik banget, pake alasan ilwoo oppa yg ngebunuh raja. Lagian ilwoo oppa juga kenapa harus masuk ke rencana jahatnya penasehat choi sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s