Miss Shaman #1

DGI

Title: Miss Shaman | Author: Cimolxx92 | Main Cast: BIGBANG’s Kwon Jiyong (G-Dragon), Sandara Park (2NE1), Ahn Sohee (WonderGirl) |Support Cast: YG FAMILY |Rating: PG-17 | Genre: Romance, Family, Friendship, Mystery |Length: Chapters.


Note 1 : Bertemu Denganmu Seperti Memakan Kimchi Dengan Nasi Basi!


 

 

Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa aku akan jadi tipe gadis yang menunggu seorang pria menikahiku. Jenis wanita seperti itu tampaknya sudah kuno. Tapi diluar dugaanku, aku bertanya-tanya, kenapa begitu lama? Ini benar-benar pikiran paling mengesalkan dan menyedihkan yang pernah ada.

Kenapa begitu lama?

Pertanyaan yang sangat bodoh karena aku tahu dengan sangat jelas jawabannya. Well, Karena aku Sandara Park, gadis berusia 30 tahun yang aneh, Pria yang kukencani hanya akan lari terbirit-birit saat tahu fakta mengenai diriku.

Kurasa, ada baiknya kujelaskan dulu. Yeah, aku tidak seperti gadis berusia 30 tahun pada umumnya.

Oh, aku kelihatannya cukup normal – Kurasa. Aku tidak pernah nge-drugs, tidak terlalu pandai minum alkohol, dan aku bukan perokok. Aku punya sederet tindik di telingaku, empat lubang tindik di masing-masing telinga yang dipenuhi anting-anting cantik. Aku tidak ber-tattoo, tidak pernah mengecat rambutku. Well, kecuali kegilaanku pada musik rock. Pendek kata, aku gadis Korea yang normal-normal saja.

Aku bahkan bekerja di perusahaan periklanan. Walau sekarang, aku dipindah tugaskan ke cabang perusahaan di Busan – DENGAN PEMAKSAAN YANG TIDAK BERKEPRIMANUSIAAN.

Akan kujelaskan itu nanti, sampai dimana kita tadi? Ah, yeah aku gadis normal kok. Kecuali, tentu saja, fakta bahwa aku bisa bicara dengan orang mati.

Mungkin kalimat itu tidak tepat, Mungkin lebih tepat orang matilah yang bicara padaku. Maksudku bukan aku yang mengundang mereka, malah sebisa mungkin aku berusaha menghindari mereka.

Masalahnya, kadang-kadang mereka tidak mengizinkan aku menghindar.

Aku tidak merasa aku gila, kurasa, aku mungkin terkesan sinting bagi sebagian orang. Jelas, sebagian besar orang yang tinggal di lingkunganku mengira aku gila. Lebih dari sekali, Chaerin – Teman terbaikku – dan Omma menyeretku ke Psikiater. Kadang -kadang aku bahkan berpikir akan lebih mudah jika membiarkan mereka mengurungku. Sayangnya, bahkan di lantai sembilan Rumah Sakit Jiwa di Seoul, aku tetap tidak aman dari kejaran hantu – hantu, mereka pasti akan menemukanku.

Karena memang selalu begitu.

Aku ingat dengan sangat jelas pengalamanku pertama kali melihat mereka. Saat itu umurku empat tahun, Aku di taman bermain bersama Ayahku, tiba – tiba aku melihat sosok itu, Seorang wanita bertampang seperti gelandangan dengan kaki tidak menyentuh tanah. Aku menatapnya dengan lama dan dia hanya melihatku dengan sedih. Kurasa, aku kasihan padanya, jadi aku menarik-narik celana Ayahku dan menunjuk sosok itu.

Saat itulah aku mendapatkan pelajaran pertamaku tentang hantu : Hanya aku yang bisa melihat mereka.

Oke, jelas ada orang lain yang bisa melihat mereka, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin ada rumah-rumah hantu, cerita-cerita hantu dan banyak film horror. Tapi ada bedanya, kebanyakan orang yang melihat hantu hanya melihat satu. Aku melihat semuanya.

Semuanya. Siapapun. Siapa saja yang sudah meninggal dan entah untuk alasan apa masih berkeliaran, bukannya pergi kemanapun seharusnya mereka berada.

Jadi, saat aku merengek pada Ayahku dan menunjuk-nunjuk hantu sedih itu, dia malah menggendongku dan menyemburkan pertanyaan tentang makanan. Aku ingat, aku melupakan sosok itu saat Ayahku membawaku ke toko es loli.

Dan aku tidak pernah membicarakannya. Aku tidak pernah memberitahu siapa-siapa tentang hantu pertamaku dan ratusan hantu lainnya yang kutemui selama beberapa tahun berikutnya. Lagi pula, apa yang perlu dibicarakan? aku melihat mereka, mereka berbicara padaku, sebagian besar aku tidak mengerti maksud perkataan mereka, apa yang mereka inginkan, dan biasanya mereka pergi begitu saja.

Mungkin akan tetap seperti itu kalau saja Ayahku tidak tiba-tiba meninggal.

Sungguh, kejadiannya begitu cepat. Aku bahkan masih sangat ingat aroma shampoo dan pakaian kerja yang dia kenakan. Saat itu usiaku dua belas tahun, dan Ayahku meninggal karena mendapatkan serangan jantung di kantornya. Saat itu aku berpikir kalau semuanya tidak benar. Aku terus menerus duduk di kaki tangga rumahku, menunggunya pulang membawakan pie apple kesukaanku, menepuk rambutku dan bertanya apakah aku sudah mendapatkan ciuman pertamaku dari seseorang. Tapi, Omma menghampiriku, menangis sambil memelukku dengan erat, berkata kalau Ayah tidak akan pernah kembali.

Ommaku tidak pernah tahu, kalau saat itu Ayahku kembali. Dalam sosok pucat dan tidak bisa menjejakkan kakinya pada bumi. Dia menatapku, dan tersenyum dengan sedih. Kemudia dia berkata, menyuruhku untuk berjanji padanya. Janji yang tidak pernah kumengerti. Dia memintaku menolong hantu-hantu lain yang membutuhkanku. Dia ingin aku melakukan itu untuknya. Setelah aku mengangguk dia tersenyum semakin tenang dan menghilang. Itu terakhir kalinya aku melihat Ayahku.

Aku menghela napas dan membetulkan posisi dudukku yang semakin merosot. Aku menatap laut yang membentang dari balik kaca Bus. Aku terpaksa pindah kesini dengan dua alasan. Alasan pertama : Aku akan dipecat jika tidak mau dipindah tugaskan. Alasan kedua : Omma ingin aku bertemu dan tinggal dengan keluarga barunya.

Keluarga barunya? Yah, karena Omma baru saja menikah dengan seorang konglomerat di kota Busan ini.

Aku tidak menghadiri upacara pernikahan, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan “Keluarga Baru” yang Omma bangga-banggakan itu. Bukan berarti aku benci Omma yang sudah melupakan Ayahku. Dia pantas mendapatkan keluarga yang hangat, karena selama ini aku sudah melihatnya menderita membesarkan gadis kurang ajar sepertiku seorang diri. Well, sekarang masalahnya adalah, Apakah aku benar-benar bisa tinggal satu atap bersama mereka?

Yang kudengar dari ocehan Ommaku sepanjang siang tadi, Mr. Hyun Suk adalah seorang duda selama dua puluh lima tahun -Wow, sulit di percaya- dan dia memiliki tiga orang putera. Satu orang bekerja di perusahaan Ayahnya bernama TOP, Satunya lagi menjadi seorang Dokter tetap di usianya yang baru menginjak dua puluh tujuh tahun, Namanya Jiyong -Aku tidak tahu ada orang genius seperti itu- dan yang terakhir masih kuliah di fakultas arsitektur kalau aku tidak salah dengar namanya Seungri.

Wow, Keluarga yang hebat.

Dan aku yang sinting ini hanya akan jadi badut di tengah-tengah mereka.

Hebat Dara!!!

Aku merengut kesal saat Bus mulai bergerak lambat, Dengan cepat menyambar tas koperku yang berat dan jaket kulit hitam mengkilap dengan hiasan duri-duri berwarna perak. Aku memakainya, tidak mempedulikan cuaca panas di luar, aku memakai kaca mata hitamku, mengoleskan lipstik merah darah ke bibirku dan mengencangkan ikat tali sepatu Boot dengan hak setinggi lima sentimeter. Saat Bus sudah benar-benar berhenti, aku berdiri susah payah dan melihat Ommaku di halte Bus melambaikan tangan riang bersama seorang ajjushi berwajah seram dan tiga pria bertampang mesum. Oh Tuhan, Oh Tuhan, Oh Tuhan! KENAPA MEREKA ADA DISINI?!!!

Aku menyeret koperku ke pintu Bus, sebelum aku turun, Ajjushi bertampang seram yang mirip Dosen Fisika di sekolahku itu menghampiriku dan tersenyum sambil mengambil alih bawaanku.

Aku menurunkan sedikit kaca mata hitamku dan memandangnya, Yeah, usaha yang cukup bagus untuk mengambil hati seorang anak perempuan. Dengan suara derak berisik sepatu bootku, aku berhasil turun, bau laut tercium dengan jelas dan aku mengerutkan kening melihat pemandangan paling aneh di depanku.

Omma berkaca-kaca menatapku tapi tidak menghampiriku untuk memelukku, Ajusshi yang aku yakin Mr. Hyun Suk terus tersenyum bahagia padaku, Pria paling tampan diantara tiga orang itu malah sibuk berebut permen karet dari tangan pria dengan kantung mata hitam. Aku ternganga melihat dia memukul dada pria berkantung mata hitam itu dengan gaya manja, dia jelas tidak normal. Dan pria di sebelah si kantung mata hitam hanya memasukan kedua tangannya kedalam saku celana jeansnya sambil melihatku dengan pandangan menilai. Tapi, aku tidak sempat memperhatikan wajahnya karena sesuatu disampingnya.

Aku melebarkan mataku, Ngeri.

Aku bersyukur karena memakai kaca mata hitam karena mereka tidak bisa melihat kengerianku sekarang. Disamping si pria paling kurus yang sedang sibuk menilaiku itu, ada seorang lagi. Orang yang tidak bisa dilihat orang lain kecuali aku. Seorang gadis remaja yang aku yakin bisa menjadi model sampul majalah jika saja dia… Yeah… Hidup. Masalahnya dia berwajah pucat, dan dia jelas-jelas menatapku, tidak, tidak, lebih tepatnya dia memelototiku. Dan dengan seenaknya memeluk lengan si pria kurus.

Ya! Ajumma! Aku Choi Sulli, pacar Kwon Jiyong. Kau datang mau merebut dia dariku kan? sama seperti ibumu yang seorang pelacur. Dasar wanita penggoda!!!”

 

Well, Aku sudah sering mendengar hantu berkata kasar tentang diriku, tapi tidak tentang ibuku. Aku mendecakkan lidah dan mengetukan sepatuku ke trotoar, berusaha meredam emosi yang perlahan naik ke ubun-ubunku. Aku harus mengabaikan “tamu tak diundang” itu, atau aku akan membuat kekacauan besar dengan berusaha meninju wajah Choi Sulli yang sudah mati.

“Bagaiman perjalananmu, Kiddo?”

Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi dan menatap Mr. Hyun Suk. Aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi rasanya terselip rasa bersalah saat aku menatap wajah tersenyumnya yang tampak tulus, bagaimana tidak? aku sudah menolak bertemu dengannya berkali-kali.

“Apa kau tuli? atau bisu? harusnya kau jawab pertanyaannya bukan?”

Aku kembali memutar leherku kearah si kurus dengan pacar hantunya, aku menunduk dan sedikit menurunkan kaca mata hitamku. Sulli sepertinya pergi, dan si kurus menggantikan peran pacarnya untuk membuatku jengkel.

“Maaf kurus… aku tidak tuli ataupun bisu, aku akan menjawab pertanyaannya kalau saja mulut beo-mu itu tidak menggangguku.” Aku berkata dengan nada dan suara yang seksi. Aku hendak membuka mulutku lagi untuk membalasnya ketika kudengar Omma berteriak padaku.

“SANDARA PARK! JAGA BICARAMU!!!”

Dengan kalem dan anggun aku berbalik, menemukan senyum dan air mata Ommaku hilang, dia menatapku dengan wajah memerah, Mr. Hyun Suk tetap bertahan dengan senyumnya. Dan si Tabi dan Panda – Ku putuskan memberi spesies-spesies ini dengan nama baru – Sedang menyumpal mulut mereka dengan tangan, berusaha membuat suara tertawa mereka teredam.

“Perjalananku sangat baik paman.” Aku berkata malas, mengabaikan keadaan disekitarku dan menatap wajah Mr. Hyun Suk. “Aku benar-benar minta maaf atas sikapku ini. Mohon anda mengerti.” Aku membungkuk padanya.

“Dara-yaaa.”

Aku mendongak menatap Mr. Hyun Suk. Itu adalah nama panggilanku, dan hanya sedikit orang yang bisa memanggilku seperti itu. Orang di depanku ini masih orang asing untukku. Tapi bukannya marah, aku malah tertegun menatapnya.

“Aku tahu, ini sangat sulit bagimu. Tapi, selama ini, aku ingin sekali punya anak perempuan. Kami sangat senang saat mendengar bahwa kau setuju untuk tinggal bersama kami. Mungkin awalnya sulit. Tapi aku berharap, suatu hari nanti, kau benar-benar bisa menyebut kami sebagai keluarga.

Aku melihat Omma menunduk sambil mengelap ingus, Aku melirik pada tiga pria yang sekarang sedang menatapku dengan curiga. Tapi entah kenapa, aku tidak berani menatap wajah Mr. Hyun Suk. Apa aku sudah keterlaluan? tapi aku sudah biasa bersikap seperti ini. Makanya aku tidak terlalu berharap punya banyak teman apalagi sebuah… keluarga.

“Maaf. Maafkan aku Paman.” Aku kembali membungkuk. “Maaf memberi kesan yang buruk pada kalian, Tabi, Kurus, dan Panda.” Aku membungkuk pada tiga orang saudara tiriku. Tapi lagi-lagi aku mendengar si kurus mendengus kesal.

“Ya, kau pikir kami tidak punya nama?”

“Jiyong, hentikan!” Mr. Hyun Suk membentaknya. Oh, jadi dia si genius itu? genius sama dengan kasar???

“Dara, panggil mereka dengan benar. Ini bukan di Seoul.” Aku mendengar Omma berkata dengan tegas. Yah, tapi nama pemberianku lebih mencerminkan mereka bukan? Aku memutar mataku, merogoh kantung jeans ketatku, mengeluarkan bungkus permen karet dan mengunyahnya. Aku tahu pasti mereka sedang memperhatikan gerak-gerikku. Aku memang sengaja melakukan hal mengesalkan seperti ini, Jika mereka tidak menyukaiku, Omma akan menyeretku keluar rumah dan menyewakan apartemen baru untukku. Aku tersenyum senang dan menggelembungkan permen karet dimulutku saat si panda nyeletuk di tengah keheningan.

“Apa kau anggota Gengster?” Panda berkata dengan nada penasaran. Aku menyipitkan mataku dan tersenyum menakutkan padanya. Tapi bukannya ngeri padaku, Dia malah maju beberapa langkah dan menjabat kedua tanganku sekaligus. “Wahhh, Nuuna, Kau hebat! dari dulu aku selalu kagum dengan kumpulan Gengster.” Dia berkata sambil menggoyangkan tanganku tanpa henti sedangkan aku hanya bisa mengangkat alis tinggi-tinggi. Tidak tahu kalau spesies semacam ini ada.

“Bagaimana kalau kita segera naik mobil?” Tabi berkata muram sambil memandang Panda yang masih berbinar padaku. “Cuaca semakin panas dan kecanggungan ini bisa lebih parah.” Dia melanjutkan sambil memanyunkan bibirnya. God! Apa dia gay? maksudku, mana mungkin cowok melakukan hal itu???

“Baiklah, ayo Dara-yaaa.” Omma berkata pelan, membebaskanku dari si panda dan memelukku. Kudengar dia berbisik “Semuanya akam baik-baik saja. Kau akan menemukan kebahagiaan disini.” Kemudian dia melepaskanku dan mengerutkan kening padaku. “Aku tidak suka jaket duri ini.”

Aku mengangkat bahu dan mengecup pipinya, kemudian mengikuti Mr. Hyun Suk dan tiga spesies baru yang akan masuk dalam daftar Death Note-ku. Menuju mobil yang berkilau, Aku berpikir tentang Choi Sulli dan si kurus. Aku tidak tahu kalau seorang Dokter sepertinya menyukai cewek remaja seperti itu, tapi yang pasti, aku akan berurusan dengan hantu itu.

Dengan lemas, aku menjejalkan diri di jok belakang. Bagus, sekarang aku terjebak dengan si kurus yang ternyata duduk disebelahku, dengan Omma di kursi depan dan Mr. Hyun Suk yang menyetir. Sementara Tabi dan Panda naik mobil lain. Mobil bergerak perlahan, mulai menyusuri jalanan yang di kanan kiri terdapat restoran seafood. Aku melepas kaca mata hitamku dan mengelap bibir merahku ke T-shirt. Jujur, aku tidak suka memakai lipstik. Ini kulakukan untuk membuat orang-orang ini kesal, harusnya aku pakai lipstik berwarna ungu.

“Kau bisa melukai bibirmu kalau kau mengelapnya dengan kasar seperti itu.” Si kurus berkata kalem, Aku menoleh dan memberinya pandangan mematikan.

“Itu bukan urusanmu.” Aku berkata ketus. Melotot padanya dan memberinya sebuah tangan kurang ajar. Fck.

Dia malah mendengus geli dan berkata. “Kau lucu.”

Whaaaaaaattttt??? Lucu? LUCU!??? Selama beberapa jam terakhir aku mencoba bersikap menyeramkan tetapi dia bilang aku L-U-C-U ?!!!

“Sudah cukup aktingmu bersikap galak begitu. Asal kau tahu, aku tidak takut padamu, dan kurasa… kau menarik juga.” Si kurus berkata dengan memandangku dari atas kebawah. Apa ini? Apa ini? Apa ini??? Dia menyeringai mesum, perlahan menggulung lengan kemejanya dan aku terpekik kaget tanpa sadar saat kusadari tangannya penuh tattooo. TATTOOO!!!.

“OMMA! DIA BER-TATTOOO!!!” Dengan bodohnya aku berteriak dengan suara melengking. Si kurus semakin menyeringai lebar. Kurasakan pandangan Ommaku, aku menoleh cepat padanya. “Omma, kau tahu? hampir 50% penyebaran virus HIV AIDS tertular melalui jarum. Lihat dia! Lihat dia! Lihat dia!!! Pantas saja dia kurus seperti itu!!!” Aku berkata heboh dan melempar pandangan kasihan pada si kurus, bukan jenis pandangan kasihan seperti biasa, Tatapanku ini jenis tatapan yang diberikan orang pada anjing terluka yang akan disuntik mati oleh dokter hewan.

Dan kurasakan jitakan pelan dikepalaku. Sambil mengaduh aku menatap Ommaku, teganya dia memukulku di depan si kurus! Kudengar si kurus tertawa menyebalkan, dan dengan segenap rasa kesalku, aku menjejakkan Boot dengan hak tinggi yang nangkring di kakiku ke atas sepatu kets-nya. Menginjaknya penuh kebencian, dia menatapku marah sambil menahan sakit.

“Ya, Ajumma. Hentikan atau aku akan mengurungmu di ruang bawah tanah malam ini.” Si kurus mengancamku, Aku mengangkat wajahku tinggi-tinggi, melotot padanya dan semakin menginjaknya dengan seluruh jiwa raga yang kupunya.

“Aku berubah pikiran, aku tidak akan mengurungmu di ruang bawah tanah.” Si kurus memajukan wajahnya hingga jarak kami begitu dekat, aku bahkan bisa mencium harum mint dari mulutnya. “Aku akan mengurungmu di dalam kamarku.” Dia mendesis padaku, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. “Di Kamarku.” Dengan sengaja dia kembali menekankan kata “Kamar”.

Aku melepaskan kakinya dari injakan mematikanku dan melirik orang dewasa di depanku yang ternyata sedang fokus pada jalan, Aku menjauhkan diriku dan kembali melotot padanya. “Ya! Kurus! Memangnya kau mau apa? mengurungku di dalam kamarmu? kau mau memperkosaku???” Ujarku dengan penuh semangat. Biar bagaimanapun, aku tidak bisa tidak merasa bangga – maksudku, well, dia secara terang-terangan menunjukan ketertarikannya padaku.

“Memperkosamu???” Si kurus menatapku penuh horror. “Kau pikir ada pria yang mau menyentuh dada ratamu itu?”

SIAL! Aku ternganga menatapnya. Kehabisan kata-kata, Si Kurus menyeringai lebar dan menatapku dengan pandangan meremehkan. BISAKAH KU CUNGKIL KEDUA BOLA MATANYA SEKARANG!???

“Dasar berengsek! Kau Dokter? Kau menyebut dirimu Dokter???” Aku berteriak marah padanya. “Kau?!!! Pacaran dengan anak berusia belasan tahun! Dan sekarang kau menghina orang yang lebih tua darimu?! Harusnya kau panggil aku Nuunna. Dasar IDIOT!!!”

“Nuunna?!!!” Si Kurus melotot dan balas berteriak padaku. “Nuunna pantatku! Aku akan memanggilmu Nuunna jika saja dari awal kau memanggilku dengan sopan! Namaku Kwon Jiyong, dan walau aku kurus, tapi aku mampu membuat selusin anak jika saja aku mau!!!”

“Cih! Pasien apa yang mau di tangani Dokter mesum sepertimu!???” Aku berteriak dengan nyaring, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menjambak rambutnya. “KAU! AKU TIDAK HERAN JIKA CHOI SULLI MATI! DIA PUNYA PACAR SEPERTIMU! ATAU KAU YANG TELAH MEMBUNUHNYA HINGGA DIA TERUS MENEMPEL PADAMU SEPERTI ITU!”

Aku terengah mengatur napasku. Aku benar-benar tidak sadar akan efek dari kata-kata yang kukeluarkan dari mulut lancangku. Tapi saat aku mengatupkan rahangku, mobil berhenti mendadak dan aku menyadari kalau apa yang kukatakan salah. Benar-benar salah.

Aku menengadah dan mendapati ekspressi wajah yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Kwon Jiyong. Dia menatapku dengan dingin. Bola matanya seperti berhenti memancarkan kehidupan. Dan dia sangat marah. Benar-benar marah.

“SANDARA PARK! BISAKAH KAU HENTIKAN SEMUA OMONG KOSONGMU ITU?!!!” Omma berkata sambil memukul kepalaku. Tapi aku tidak memperdulikannya karena sekarang mataku terpaku pada mata Kwon Jiyong.

“Kau mengenal… Choi Sulli?” Mr. Hyun Suk berkata pelan, lebih menyerupai bisikan. Aku menoleh menatapnya. Dia menatapku dengan prihatin, Aku benar-benar tidak mengerti situasi ini. Maksudku, kata-kata yang kukeluarkan itu hanya omong kosong dan mereka semua tampak seperti habis menghadiri upacara pemakaman. Aku menelan ludah susah payah. Apa aku mengenal Choi Sulli? Jelas jawabannya TIDAK. Karena aku baru bertemu dengannya selama kurang lebih tiga puluh menit yang lalu.

“Eeeerrr…” Aku melirik Ommaku, meminta bantuannya. Dia hanya memandangku dan Jiyong secara bergantian. Oh, Ayolah! Otak, bekerjalah dengan benar! Bagaimana aku menjelaskan pada mereka kalau aku melihat hantu Choi Sulli? “Aku rasa… aku melihatnya di koran. Ya… Apakah dia, Maksudku dia…” Well, sebenarnya aku hanya menebak. Kebanyakan hantu mati karena mereka di bunuh. Aku menatap Jiyong yang wajahnya pucat, Seolah seluruh darah yang mengalir di tubuhnya tersedot. Aku menelan ludah. Tidak mungkin kan? bagaimana kalau yang membunuh Choi Sulli adalah…

“Yah, dia dibunuh.” Mr. Hyun Suk berkata dan mulai kembali melajukan mobil. Dia sama sekali tidak tahu efek apa yang diberikan kata-katanya itu padaku. Aku merasa perutku melilit, seolah seseorang baru saja meninju perutku. Aku menoleh pada si kurus yang sekarang menjadi batu dan dia menatap lurus kedepan tanpa berkedip.

Bagus. Terimakasih banyak. Sekarang aku harus mengurusi hantu penasaran dari korban pembunuhan. Dan pembunuhnya bisa saja sedang duduk disampingku.

“Jiyongie dan Sulli…” Ommaku kembali membuka percakapan, tetapi perkataannya langsung terpotong oleh Jiyong.

“Tolong. Jangan bahas ini lagi.” Jiyong berkata kaku. Sebenarnya aku ingin sekali tahu, Apa hubungan kedua orang itu. Tapi, sepertinya bukan ini saat yang tepat. Jadi aku diam saja. Aku memilih menatap ke jalanan di sekitarku. Mobil berbelok di tikungan yang tajam dan mobil berhenti perlahan di sebuah rumah. Rumah itu tidak mewah. Tidak seperti apa yang kubayangkan tentang rumah orang kaya. Pagarnya tinggi dan terbuat dari kayu mahoni. Di setiap celah dan sedutnya di tumbuhi semak rambat. Rumah yang benar-benar hijau.

“Kita sudah sampai.” Mr. Hyun Suk berkata senang dan segera keluar mobil. Kami mulai mengikutinya. Saat aku menjejakkan kaki ke kerikil, aku mencium aroma laut yang menyengat.

“Ah! perutku lapar!” Aku mendengar Panda berteriak saat dia keluar dari mobilnya. Dengan santainya mereka memasuki rumah. Aku tertegun menatap keluarga di depanku. Mereka tampak sangat sempurna dan bahagia. Dengan Ommaku di tengah-tengah mereka, membicarakan tentang menu makan malam. Tiba-tiba aku merasa kalau disini bukan tempatku. Aku benar-benar merasa kalau keberadaanku tidak dibutuhkan disini. Aku benci ada pada situasi seperti ini.

“Darayaaa!” Ommaku berbalik dan berlari kecil menghampiriku. “Kenapa diam saja? huh? Ayo masuk, Hyun Suk sudah susah payah mendekorasi kamarmu seharian penuh kemarin. Ayo, Ayo!” Omma menarik-narik tanganku. Menyeretku ke gerombolan orang-orang yang tampak bahagia. Aku hanya mengikutinya dalam diam, mau bagaimana lagi?

Aku, mengikuti dari belakang mereka memasuki rumah. Rumah itu memiliki halaman yang sangat luas dan terawat. Pepohonan dan bunga-bunga, bahkan aku melihat kolam ikan di pojok halaman. Rumah itu sengaja di desain dengan sangat alami. Semua dinding dan lantai bahkan terbuat dari kayu. Aku mulai memikirkan bagaimana dinginnya berada disini apabila turun salju. Di lantai pertama terdapat ruang keluarga dan dapur. Aku terlalu tidak bersemangat untuk melihat-lihat rumah ini. Aku benci memikirkan betapa beruntungnya Ommaku menikahi duda kaya ini. Akhirnya mereka membawaku kelantai dua. Lorong sebelah kiri terdapat dua kamar yang saling menghadap, Kamar Tabi dan Panda. Dan lorong sebelah kanan terdapat dua kamar yang saling berhadapan juga. Kamar Jiyong dan… Aku.

Kau tahu? rasanya saat ini seperti ada orang di belakangku yang sedang mencoba mendorongku dari ketinggian gedung dengan lima belas lantai. Ommaku terus mengoceh tentang kamarku yang dia buat semirip mungkin dengan kamar di rumah kami di Seoul. Tapi otakku melayang pada cowok di depanku yang sedang menatapku penuh kebencian. Dia langsung membuka pintu kamarnya dan lansung membantingnya di depan wajahku. Sebuah papan peringatan tertempel dengan huruf berwarna kuning menyala “DO NOT ENTER. IF U TRY. I WILL FUCK U”

Aku memutar bola mataku dan menghadap Omma. “Lalu, dimana kamar Omma dan Paman?”

“Dilantai bawah.” Mr. Hyun Suk menjawab sambil mendorong koperku kedalam kamar yang… benar-benar mirip dengan kamarku di Seoul, Lengkap dengan poster Linkin Park yang nangkring di depan meja kerjaku. Aku sangat menghargai usahanya untuk membuatku nyaman di rumah ini. Asalkan saja kamarku tidak berhadapan langsung dengan kamar si kurus dan pacar hantunya.

“Ah, paman… bisakah aku, Uhmmm… bertukar kamar dengan Panda?” Aku bertanya dan langsung menyesal telah bertanya seperti itu karena dia memandangku dengan sedih.

“Kau tidak suka kamarnya?” Dia bertanya, membuatku semakin merasa bersalah.

“Tidak, tidak. Aku suka kok, Paman.” Aku tersenyum dan memasuki kamarku. “Aku lelah, Paman dan Omma, aku ingin beristirahat.”

“Ya, beristirahatlah sayang.” Omma mendekatiku dan mencium kedua pipiku, sudut matanya mengeluarkan air. “Besok, kau akan bekerja. Beristirahatlah.”

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Ketika mereka pergi, Aku tidak langsung menutup pintu karena menyadari sosok yang tidak bisa orang lain lihat. Choi Sulli bersandar dengan santai di depan pintu kamar Kwon Jiyong, melipat kedua tangannya di depan dada dan memandangku dengan galak. Aku melepaskan jaket duriku dan melemparnya keatas kasur bersamaan dengan sepatu bootku dan berkacak pinggang padanya.

Ngapain kau disini?” Sulli berkata muram, Aku memperhatikan penampilannya. Dia tidak seperti habis menjadi korban pembunuhan. Tidak ada bercak darah sedikitpun. Dia mengenakan jeans ketat berwarna biru muda dan sweater abu-abu. Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai anggun. Dia benar-benar gadis cantik. Sangat disayangkan mati di usia seperti ini.

“Sulli.” Kataku, Aku keluar dan berdiri di koridor. Menatapnya dari jarak dekat, berharap tidak ada siapapun yang memergokiku atau aku akan dianggap gila karena bicara sendirian. “Kurasa ada yang perlu kau dan aku bicarakan.”

Sulli diam tak bergerak, Matanya menyipit. “Bicara?” Sulli menirukan. “Oh, Yeah. Memangnya aku mau bicara denganmu, Aku tahu tentang kau, Dara.”

 

Aku meringis, Aku sering tidak diperlakukan sopan oleh hantu. Tapi, mendengar dia mengatakan namaku begitu saja membuatku sedikit kesal. Harusnya dia memanggilku Unni. Perbedaan umur kami terlalu terlihat jelas bukan?

“Panggil aku Unni.” Kataku, memperhatikannya tersenyum mengejek dan memutar bola matanya yang besar. Sial, dia benar-benar cantik.

Terserah, Aku tahu apa yang kau lakukan disini.”

 

Yah, baguslah.” Tukasku. “Jadi aku tidak perlu menjelaskan lagi. “Kau ingin masuk kekamarku? Supaya kita bisa bicara?”

Bicara? Untuk apa aku bicara denganmu? Memangnya kau kira aku tolol? Astaga, jadi kau pikir kau bisa berbuat licik. Kau pikir kau bisa seenaknya saja pindah kesini, begitu?”

 

Aku mengerjap. “Apa?”

Kau mau merebut cowokku.” Sulli berkata dengan pandangan mematikan.

“Aku tidak tertarik sama sekali dengan cowok yang penuh tulang begitu.” Kataku. “Aku hanya tidak bisa membiarkanmu berkeliaran disini. Kau harus pergi ketempat seharusnya kau pergi. Katakan padaku, Siapa orang yang membunuhmu?”

OMONG KOSONG!” Sulli menjerit. Dan jeritan hantu benar-benar menyebalkan, kau tahu maksudku. Hanya aku yang bisa mendengarnya melolong seperti anjing kudisan. Sebelum aku bisa membuka mulutku lagi, Dia tiba-tiba saja menembus pintu kamar Jiyong dan masuk begitu saja.

“Kau tidak boleh masuk!” Aku menghentakkan kakiku kesal, ini lebih merepotkan dari dugaanku. “Kau tidak lihat peringatannya? Dia bisa saja…” Tapi bodohnya aku karena tanganku bekerja berlawanan dengan otakku. Tangan sialanku memutar kenop pintu kamar jiyong dan daun pintu mengayun terbuka. Aku melongok kedalam hanya untuk menemukan Sulli. Tapi kosong. Ruangan itu kosong. Sepertinya Jiyong sedang mandi karena terdengar percikan air shower. Ini kesempatan bagus. Aku bisa saja menemukan suatu petunjuk, bukannya aku mencurigai saudara tiriku. Hanya saja… Well, Aku benar-benar mencurigainya.

Seperti ninja, aku masuk perlahan tanpa membuat suara sedikitpun dan menutup pintu. Kamar ini terlihat seperti kamar normal orang genius pada umumnya. Sangat rapih dan bersih, dengan tempat tidur king size dan bed cover bergambar… Spongebob. Yah, apa yang kuharapkan dari si pecinta Spongebob? Ada sebuah sekat yang berbentuk rak dan dipenuhi buku-buku tebal – sangat amat tebal – memisahkan dari tempat tidur dan meja kerjanya. Disudut, terdapat lemari es dan televisi, disamping televisi, terdapat berbagai foto yang digantung berderet sampai kebawah dinding dengan seutas tali dan penjepit kertas.

Aku berjingkat dan berdiri di depan ratusan foto itu. Foto itu dimulai dari sebuah foto kusam yang menampilkan seorang wanita usia tiga puluhan yang memeluk erat seorang anak kecil. Itu adalah Nyonya Kwon. Aku tahu dari kemiripan wajah mereka, semakin kebawah, aku seperti menyaksikan pertumbuhan seorang Kwon Jiyong. Mulai dari dia masuk TK, sampai dia sedang mencoba meminum soju pertamanya. Dan mulai dari dia masuk Universitas, sampai dia memakai sebuah jas putih bersih. Jas kebesaran seorang Dokter, lengkap dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Aku berjongkok untuk melihat lebih jelas foto lain disampingnya. Foto seorang gadis. Gadis yang amat sangat cantik berdiri disampingnya, memeluk lengan Jiyong. Tapi gadis itu jelas bukan Choi Sulli. Dia tersenyum dengan cara wanita Korea seharusnya tersenyum, senyum lembut dan keibuan. Rambut panjangnya dan wajah kecilnya. Aku menyipitkan mata, mencoba membaca tulisan kecil dibawah foto itu. Ahn Sohee – Cinta pertamaku.

Well, foto itu diambil dua tahun yang lalu. Dan Sohee juga seorang Dokter. Dia memakai jas putih bersih yang sama dengan yang dikenakan Jiyong. Aku memiringkan kepalaku dan bahkan hampir mencium lantai, mencoba menemukan sedikit mungkin jejak Choi Sulli.

Nihil.

Tidak ada jejak Choi Sulli sedikitpun. Jantungku berdetak cepat. Ini aneh, benar-benar aneh. Jika Sulli adalah pacarnya, setidaknya ada satu foto yang menampilkan kebersamaan mereka.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara musik yang menggema diseluruh ruangan. Aku bangkit dan memutar tubuhku. Mencoba mencari asal suara itu, Sebuah ponsel tergeletak diatas meja disamping tempat tidur. Aku menghampiri ponsel itu. Sebuah panggilan masuk, dan mataku melebar penuh horror saat aku membaca nama yang tertera disana. Ahn Sohee.

Aku ternganga. Sohee? Jangan-jangan mereka masih berpacaran sekarang??? Lalu… Kalau begitu… Choi Sulli itu siapa??? Apa hubungan Sulli dan Jiyong? Aku menggigit bibirku, kebingungan. Sampai aku menyadari sesuatu yang lain. Suara pintu kamar mandi yang mengayun terbuka.

Kau tahu? Saat kita dalam keadaan panik. Kita tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Begitu juga denganku. Aku mencoba mencari tempat berlindung. Tapi satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menyembunyikan diriku adalah tempat tidur disampingku. Sialnya, tempat tidur itu tidak memiliki sekat dibawahnya. Dengan putus asa, aku melemparkan diriku keatas kasur. Aku menutup seluruh tubuhku dengan bed cover dan selimut, menempatkan diriku di tengah-tengah dan mencoba memakai ilmu ninja dengan mensugesti diriku bahwa aku adalah bantal guling.

Suara derap langkah kaki terdengar semakin dekat bersamaan dengan bunyi tetes-tetes air yang jatuh ke lantai kayu dari tubuh Jiyong. Aku menyimpulkan dengan ngeri kalau dia sedang dalam keadaan naked sekarang, dia pasti tidak memakai handuk karena bunyi tetes air itu sangat banyak! Aku merasakan dia bergerak kedekat meja dan menjawab panggilannya.

“Sohee-yaa?” Jiyong menjawab pelan, suara dalam dan dingin dari seorang cowok, bukan suara cempreng mengejek yang dia tunjukan didepanku saat kami bertengkar didalam mobil tadi. “Eoh, Aku akan ke Rumah Sakit malam ini. Ya, aku dipindahkan ke unit UGD. Mereka kekurangan tenaga medis, dan lagi kurasa aku memang lebih cocok di UGD.” Aku mendengarnya bicara dan merasakan berat disampingku. Oh TUHANKU! DIA TIDAK BERMAKSUD TIDURAN DENGAN TUBUH MASIH BASAH KAN?

Aku menahan napas saat tempat disampingku terasa bergoyang dan hangat, Jangan biarkan dia menyingkap selimut. Oh tuhanku! Lindungi diriku yang perawan ini!!! Tapi, tapi, tapi… Harum shampoo dan sabun dan aroma maskulin prianya menusuk indra penciumanku dan membuatku merasa mabuk! Ini semua karena Choi Sulli!

“Ya, jika ada waktu aku akan mampir ke unit Spesialis. Ya… sampai jumpa.” Jiyong memutuskan sambungan teleponnya, aku merasakan dia melempar ponselnya keatas perutku. Kemudian kudengar dia bergumam. “Sejak kapan ada bantal guling disini?” Aku menahan napasku sekuat tenaga, jantungku berdetak begitu keras. Kurasakan dia mulai masuk kedalam selimut. Aaaaarrrrggghhhh! SANDARA PARK! MATILAH KAU!

Jiyong menggeliat disampingku dalam keadaan bugil, jangan sampai dia menyentuhku, kumohooooonnn. “Ugghmmm,aku butuh tidur sebentar.” Jiyong kembali bergumam. Aku secara otomatis menggeser tubuhku perlahan-lahan kearah berlawanan. Dan dia tampak tidak menyadarinya, dan bodohnya aku tidak menyadari diriku semakin ketepi tempat tidur.

“Tunggu dulu.” Jiyong bangkit dengan panik saat dia akhirnya menyadari sesuatu yang salah sedang terjadi. Aku hanya bisa diam seperti batu, lalu detik berikutnya, kurasakan seseorang menendang bokongku dan aku secara otomatis langsung terjungkir dan mendarat dengang bunyi buk menyakitkan diatas lantai yang dingin.

“KAU???!”

Aku mendengar suara Jiyong memenuhi setiap sudut ruangan, Aku masih sibuk mengaduh dan merasakan nyeri di kepalaku yang sedikit benjol dan rasa sakit pada bokongku. Kemudian, sambil masih mengusap pantatku, aku menengadah menatap pemandangan paling mengerikan dan paling porno yang pernah kualami seumur hidupku.

Dengan bangga Jiyong menjulang diatasku, tanpa benang sedikitpun menutupi kulitnya. Kupikir dia melupakan fakta itu karena kemarahan jelas menutupi setiap akal sehatnya.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!” Kudengar diriku sendiri menjerit nyaring, suara jeritan yang seperti bukan suaraku sendiri. Dan tanganku, lagi-lagi tangan sialku melakukan sesuatu yang salah, tanganku dengan lancang menunjuk kearah… Uhmmm bagaimana aku menyebutnya? Burung hitam yang sangat besar???

Jiyong menyadari arah pandangan takjubku dan tanganku.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!” Dan kami menjerit secara bersamaan. Ini adalah kekompakan pertama yang kami alami.

 

TBC

 

Thanks for reading and comment^^ Satu lagi FF yang dihasilkan dari imajinasi liar saya. Hope u like it, mohon kritik yang banyak! See u in the next chapter^^

 

 Next>>

Advertisements

42 thoughts on “Miss Shaman #1

  1. Teriak teriak nggak jelas pas baca ff ini. Dara unnie sama jiyong oppa jadi saudara tiri. Tabi, panda, si kurus, dara unnie emang pinter ngasi nama julukan buat mereka😄 gimana ini mereka cuman teriak doang? jiyong oppa nggak sembunyi apa? Terus Dara unnie juga nggak mau keluar dari kamarnya jiyong oppa gitu? harus berapa lama mereka di posisi kayak gitu? Apakah Sulli unnie melihatnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s