[Oneshoot] Come Back Home

comebackhome copy2

Annyeong ^_^ lama tak jumpo, kali ini sya coba bikin ff non comedy/fluff, hmm gak tahu juga sih kalau ini termasuk kategori sad or angst, sya orangnya gk tegaan jadi setiap mau bkin ff sedih langsung gak mau ngelanjutin, heee…

Btw, untuk The Protector yg special chapter, sya mw koreksi sedikit, sebenarnya itu adalah kilas balik sebelum epilog yg ada di The Prot chap 16 sblm Dara dan Jiyong punya anak, si Kwon Jongin itu XD, jadi kalo msh ada yg bingung, mianhae yah,, heee..

Satu lagi, maap kalau posternya jelek, lagi gk ada ide, huhu, baiklah, kita kembali ke tkp, met reading chingudeuls ^_~

.

.

One of the most difficult task in life is removing someone from your heart.

***

Sandara POV

“Sandara-sshi, apa kau yakin?” Pengacara Dong melirikku sekilas sebelum matanya kembali melihat kertas dihadapannya.

“Ya, aku sangat yakin. Ini adalah keputusanku.” Pria muda itu menghela nafas. Sudah kesekian kalinya ia melakukan itu sambil menatapku dengan iba. Tidak, saat ini aku tak butuh simpati. Aku sudah berpikir masak-masak tentang keputusan ini dan yakin tak akan mengubahnya meski ia memohon padaku.

“Kalau begitu, silahkan tanda tangan disini.” Ia menunjuk ke bagian kertas kosong yang dibawahnya tertera namaku, Sandara Kwon, yang sebentar lagi akan kembali bernama Sandara Park. Tanpa ragu, aku mengambil pulpen dari tangannya dan menandatanginya.

“Pastikan ia juga menandatanginya, Pengacara Dong.”

Ia mendesah. Di wajahnya tersirat kekecewaan yang mendalam karena tak mampu membujukku menghentikan gugatan cerai sejak pertama kali aku datang ke kantornya bulan lalu. Awalnya ia menolak mati-matian, namun aku meyakinkannya bahwa pernikahan kami yang baru berjalan 1 tahun sudah tak bisa dipertahankan lagi.

“Akan kuusahakan meski ia pasti akan mengamuk.”

“Terima kasih.” kataku.

“Sama-sama nyonya Kwon.” Ia berusaha tersenyum, meski ku tahu senyumnya sedikit terpaksa karena perceraian yang ia urus adalah perceraian temannya sendiri.

“Panggil saja aku nona Park, karena sebentar lagi aku bukan seorang Kwon.”

***

Jiyong POV

Aku membanting pintu ruang kerjaku dengan kasar begitu mendengar kabar dari Youngbae bahwa Dara sudah menandatangani surat cerai. Aku tak mengira Dara berani melakukan itu dalam kurun waktu secepat ini. Kupikir gugatan cerai itu hanya gertakannya saja. Dimana pikiran wanita itu! Dan kenapa harus Youngbae yang mengurusnya!

“Sial!” umpatku sambil menendang tong sampah plastik di depanku.

“Tuan Kwon, mobil anda sudah si-…” Sungmin, supir pribadiku yang baru masuk ke ruang kerjaku terkejut melihat sampah berserakan dimana-mana. “Apa yang terjadi tuan?” tanyanya.

“Bukan apa-apa. Apa mobilnya sudah siap?” aku balik bertanya.

“Ya, ada di bawah.”

“Aku akan bawa mobil sendiri, kau tidak perlu menungguku, Sungmin.”

“Baik tuan.”

Aku meminta kunci mobil padanya dan segera berlari menuju lift dengan setengah berlari. Dengan susah payah kulepas dasi yang menempel ketat di leherku. Apa wanita itu tak bisa menunggu sebentar lagi? Kenapa harus hari ini?! Benar-benar keras kepala. Aku harus cepat-cepat menyusul wanita itu untuk meminta penjelasan darinya sebelum ia melarikan diri.

***

Dara menjelajahi setiap sudut rumahnya yang terasa sunyi. Rumah yang ditinggalinya selama kurang lebih 1 tahun dan sebentar lagi akan kembali pada pemilik aslinya. Jika Jiyong sudah resmi menandatangani surat cerai, statusnya sudah bukan nyonya Kwon. Ia tak berhak lagi tinggal di rumah ini. Sebuah koper besar berisi seluruh pakaiannya sudah siap ia bawa pergi.

Dara memperhatikan ruangan demi ruangan secara detail. Betapa dulu ia sangat gembira ketika mendesain ruang dapur yang merupakan ruang favoritnya. Ia meringis, memegang dadanya yang terasa sakit seperti ditusuk-tusuk pisau tajam karena teringat kenangan yang tercipta di rumah ini dan telah membungkus kehidupan pernikahan mereka.

“Kau mau melarikan diri?”

Dara terkejut mendengar suara Jiyong yang nadanya seperti sindiran itu sudah mencapai gendang telinganya. Kepalanya nyaris tak bisa berbelok karena terlalu takut menatap wajahnya. Kakinya hampir tak sanggup menopang berat tubuhnya karena terlalu shock dengan kedatangan pria itu yang tiba-tiba.

“Jawab aku.” ucap Jiyong lembut.

Dara masih tak berani menoleh. Bibirnya terkatup rapat dan kedua tangannya yang mulai berkeringat mengepal erat. Apa ia bisa menghadapi Jiyong saat ini? Tapi jika bukan sekarang, maka tak akan ada kesempatan lagi. Tubuhnya sedikit gemeteran ketika ia membalikkan tubuhnya secara perlahan. Jiyong sedang berdiri di pintu dengan pandangan matanya yang meminta penjelasan. Rahangnya mengeras dan peluh keringat sedikit membasahi keningnya, tanda ia berlari dengan tergesa-gesa. 7 hari. Sudah 7 hari pria itu tak pulang ke rumah dan lebih memilih menginap di kantor atau menyewa kamar hotel. Ia sudah membayangkan kemarahan pria itu akan meledak-ledak karena tindakannya.

“Aku sudah menandatangani surat cerainya, tinggal kau yang belum.” kata Dara dengan suara bergetar.

Ia menunggu jawaban pria itu, tapi tak ada reaksi apapun. Apa Youngbae tak memberitahunya? Tak mungkin. Dara sendiri yang menyuruh pria itu untuk segera memberitahu Jiyong kalau ia sudah menandatangani surat cerai. Dara menutup mata dan menghembuskan nafas pelan. Ia siap mendengarkan perkataan pria itu, yang mungkin saja semua isinya adalah umpatan.

Tapi yang Jiyong lakukan hanya menatap Dara, lekat dan lama. Tubuhnya tak beranjak dari posisinya yang sekarang. Pria itu tak sudi mengabulkan permohonan Dara yang menuntut cerai, terlebih lagi menandatangani suratnya. Bahkan kalau bisa ia ingin membakar kertas itu sampai menjadi abu dan menunjukkannya di depan mata Dara.

“Sandara,” panggilnya dengan suara serak. “Haruskah kau melakukan ini?”

Dara membuka matanya. Kini ia dapat melihat Jiyong dengan lebih jelas setelah pantulan sinar matahari menerangi ruang tamunya. Wajahnya terlihat kusut dan sangat menderita. Siapa yang tidak terluka mengetahui bahwa istri yang kau cintai tiba-tiba sudah menandatangani surat cerai setelah 7 hari tak bertemu?

“Kau benar-benar wanita yang keras kepala, sudah kubilang jangan pernah memintaku untuk menceraikanmu, tapi kau malah datang menemui Youngbae dan-…”

“Stop Ji.” sergah Dara. Ia tak sanggup mendengar Jiyong bicara lagi. Yang ia inginkan saat ini hanyalah Jiyong mengabulkan permintaannya tanpa perlu mereka beradu mulut. “Aku benar-benar lelah hari ini. Bisakah kita tidak bertengkar?”

Ya. Dara benar-benar merasa lelah. Hampir di setiap tengah malam ia selalu menangis di kamar mandi dan meremas-remas dadanya yang terasa sakit luar biasa karena mendengar selentingan kabar tentang suaminya. Rona wajahnya yang biasanya ceria perlahan mulai menghilang dan berubah jadi muram. Hidupnya seperti zombie selama sebulan terakhir ini.

“Kau ingin bercerai padaku dengan alasan yang tidak masuk akal, Sandara Kwon.” ujar Jiyong lirih.

“Sebentar lagi aku bukan lagi seorang Kwon.”

“Dara!” bentak Jiyong dengan nada tinggi yang telanjur lolos dari mulutnya.

“Berhentilah berteriak!”

Dara balas menjerit. Ia menggigiti bibir bawahnya dengan keras, menahan agar dirinya tak menangis, padahal air matanya sudah mengembang di mata. Ia tersiksa, sama seperti Jiyong. Tak tahukah pria itu bahwa karena ia sangat mencintai pria itu makanya ia berani melepaskannya untuk wanita lain?

Dara mengambil napas panjang. Kegugupan menyelimuti dirinya ketika ingin mengatakan sesuatu yang sudah sangat lama dipendamnya. “Aku ingin bertanya padamu untuk terakhir kalinya, menyesalkah kau menikahiku?” tanyanya.

Jiyong terhenyak, tapi tak lama kemudian ia tertawa getir. Itu adalah salah satu pertanyaan terbodoh yang pernah ia dengar. Menikah dengan Dara adalah hal terindah dalam kehidupannya selama 27 tahun ini. Ia selalu membayangkan wanita itu yang membangunkannya tiap pagi, membuatkannya sarapan dan membantunya memasang dasi setiap kali ia akan pergi ke kantor. Membayangkan wanita itu yang memijat bahunya ketika ia lelah sehabis bekerja. Membayangkan memeluk wanita itu setiap malamnya.

Jiyong melangkah mendekat, meski masih ada jarak diantara mereka. “Lalu bagaimana denganmu, apa kau menyesal menikah denganku?” Jiyong balik bertanya.

Dara tak langsung menjawab. Ia menghindari tatapan mata Jiyong yang tepat menatap manik bola matanya. “Pernikahan yang didasari oleh perjodohan cenderung tak akan bertahan lama Ji. Apalagi jika dalam pernikahan itu terselip sebuah perselingkuhan.” desis Dara.

Kali ini Jiyong tak mampu menahan emosinya. Ia mendorong Dara sampai punggung wanita itu menyentuh tembok dingin rumah mereka, lalu memandangnya tajam bagai pemburu yang ingin memangsa buruannya. “Perselingkuhan?” cibirnya. “Kau menuduhku berselingkuh dengan wanita lain padahal kau sendiri yang memulai perselingkuhan lebih dulu dengan pria yang lebih muda darimu, apa itu yang kau maksud, Dara?”

“Chanyeol hanya kuanggap sebagai dongsaengku di kantor Ji! Tak bisakah kau mengerti?!” Dara setengah berteriak.

“Apa dongsaeng akan mengantarkan istri orang pulang kerumahnya larut malam lalu memeluknya di hadapan suaminya?”

“Aku tidak tahu kalau ia akan melakukan itu dan sekali lagi, Aku.Tidak.Berselingkuh.”

“Begitu juga denganku, Dara! Aku tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu!” Jiyong mencengkeram lengan Dara dengan erat, tak melepaskan meski wanita itu mulai meneteskan air mata.

“Bagaimana denganmu, setiap akhir pekan kau selalu menghabiskan waktu bersama wanita pemain ski es itu kan?!” tuding Dara sambil melepas pegangan tangan Jiyong dari lengannya.

“Sudah kubilang berkali-kali padamu, kalau aku dan Yuna hanya sekedar teman!”

“Chanyeol juga sama, Ji!”

“Damn it Dara, hentikan! Aku tak mau mendengar pembelaanmu lagi tentang pria itu.”

Jiyong mendekati Dara, kembali mencekal pergelangan lengannya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti saja. “Call me selfish,” bisiknya parau. “But i’ll never share you with another man.  I do not want hear anything about divorce, especially from you. You’re still my wife whether you like it or not.” Jiyong menatap Dara sangat tajam nyaris tak membiarkan mata Dara menoleh ke arah manapun. “You should know that you are not allowed to love anyone other than me.” ucapnya penuh penekanan. “Why you are so stupid not to realize how much i love you, Sandara?”

***

Dara terduduk di lantai dengan deru nafasnya tak beraturan. Wajahnya kini terlihat pucat pasi. Isak tangis yang tadinya pelan lama-lama berubah menjadi kencang. Entah sudah berapa jam ia meringkuk di pojok ruang tamu dengan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, ia sendiri sudah tak ingat. Matanya memerah dan sedikit bengkak karena terus berlinang air mata. Lipstik warna merah muda yang terpoles di bibirnya pun kini sudah luntur.

Ia memandangi pintu rumahnya yang sempat dibanting Jiyong dengan keras setelah pria itu mengancam tak pernah berniat menceraikannya. Jiyong bahkan menyangkal semua tuduhan perselingkuhan yang dilontarkan Dara. Ingin rasanya ia mempercayai semua perkataan Jiyong. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk tak membenarkan perselingkuhan itu, namun bukti-bukti perselingkuhannya terus membayangi pikirannya. Dan Chanyeol? Ia benar-benar hanya menganggapnya sebagai dongsaengnya saja, tak lebih.

Sebulan setelah ia mengajukan gugatan cerai, selalu terjadi perdebatan panjang yang berujung pada pertengkaran besar di antara mereka. 2 minggu setelah itu, mereka memutuskan untuk pisah ranjang. Terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Tanpa saling bertegur sapa di dalam rumah. Puncaknya 7 hari lalu, ketika Jiyong memutuskan untuk tinggal di hotel ketimbang di rumah karena kesal mendengar Dara membicarakan tentang perceraian lagi.

Dara mencoba berdiri tegak dengan berpegangan pada pinggiran meja kayu di sampingnya. Kepalanya sedikit pusing karena terlalu lama duduk. Dengan terhuyung-huyung ia berjalan mendekati sofa dan saat akan meraih tasnya, sebuah suara memanggil namanya.

“Hallo Dara.”

Dara menoleh ke arah pintu rumahnya sekali lagi dan terlonjak kaget. “Kim Yuna.” desisnya lirih. Wanita yang menjadi isu penyebab retaknya hubungan Dara dan Jiyong.

“Bisa kita bicara?”

***

“Kau masih berpikir aku adalah wanita selingkuhan suamimu?”

Dara mengerjap. Tak menduga wanita itu akan berbicara to the point padanya. Ia melihat Yuna yang tampak tenang-tenang saja bertemu dengannya. Apa ia begitu percaya diri Jiyong akan menjadi miliknya setelah mereka bercerai?

“Kenapa kau tiba-tiba ke rumahku?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu, sebelum terlambat.” katanya.

Deg. Dara merasakan dadanya bergemuruh hebat dan tercabik-cabik mendengar kata sebelum terlambat. Ia meremas jemari tangannya. Menunjukkan wajah datarnya kepada wanita itu. “Jangan khawatir, sebentar lagi kami akan bercerai dan kau bisa memilikinya sepenuhnya.”

Yuna tertawa menanggapi perkataan Dara. Ia menaikkan kaki kanan di atas kaki kirinya dan memandang Dara yang duduk di hadapannya dari atas sampai bawah seperti menilai penampilannya. “Tak salah Jiyong selalu memujimu setiap kali bertemu denganku.” ucapan Yuna membuat kening Dara berkerut.

Jiyong, memuji dirinya di depan selingkuhannya?

Yuna menarik nafas panjang dan mulai bercerita. “Sebulan yang lalu Jiyong menemuiku. Ia memintaku secara khusus untuk mengajarinya belajar ski es. Setiap akhir pekan aku dan instrukturku melatihnya. Aku juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia ingin belajar ski es. 2 minggu yang lalu ia bertanya padaku, dimana ia bisa menyewa lapangan ski es. Ketika ku tanya untuk apa, dengan malu-malu ia bilang ingin merayakan 1 tahun pernikahan kalian. Ia memintaku untuk tak memberitahukannya padamu karena ia sudah membuat rencana matang untuk bisa menyiapkan kejutan untukmu.”

Kosong. Itu yang dirasakan Dara saat ini. ia tak bisa bereaksi apa-apa selain diam dan mendengarkan penjelasan wanita yang dikira selingkuhan suaminya.

“Apa kau tahu berapa banyak bunga mawar putih kesukaanmu yang ia pesan?”

Dara masih diam. Tak mampu menjawab pertanyaan yang Yuna ajukan.

“200 kuntum bunga mawar. Ia bahkan sudah menyewa koki terbaik di salah satu restoran mewah hanya untuk membuatkanmu makan malam. Ia mempersiapkannya sendiri agar terlihat sempurna di matamu.”

Jantung Dara mulai berdetak kencang. Bahunya terguncang seiring penjelasan Yuna yang membuatnya mati rasa. Ia tak mengharapkan jawaban ini.

“Jika aku jadi kau, aku tidak akan menuduh suamiku berselingkuh.”

Dara tertohok mendengar sindiran wanita itu. Ia ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya seperti terkunci. Tubuhnya lemas dan pandangannya mulai mengabur. Air matanya jatuh menetes ke pipi. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tangisnya tak pecah. Dara memalingkan wajahnya untuk menghindari kontak mata dengan Yuna.

Yuna merenggut tasnya dan berdiri. “Tadi Jiyong meneleponku dengan menangis, mengabarkan kalau kau sudah menandatangani surat cerai. Sayang sekali, malam ini sepertinya akan menjadi malam yang sia-sia baginya.”

Dara menengok, tak mengerti apa maksud ucapannya. “A-apa maksudmu?”

Yuna tersenyum tipis. “Apa kau lupa? Malam ini adalah malam perayaan pernikahan kalian yang pertama. Malam yang juga Jiyong persiapkan sebagai kejutan, tapi malah ia yang terkejut dengan surat ceraimu. Ironis bukan?”

Yuna setengah menyeringai melihat Dara yang memandangnya dengan raut wajah yang memancarkan rasa bersalah. “Baiklah, aku tak akan lama-lama disini. Tunanganku sedang menunggu dibawah.” katanya sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku pergi dulu Sandara-sshi, semoga beruntung.” Yuna melangkah keluar rumah dan pergi meninggalkan Dara yang masih tertegun dengan semua perkataannya.

Salah paham. Selama ini ia salah paham pada Jiyong. Kebenciannya pada Jiyong sia-sia belaka. Padahal Jiyong sudah berulang kali membantahnya namun justru ia yang tak mempercayainya. Tubuh Dara kembali merosot ke lantai. Jari jemarinya merenggut rambutnya yang sudah acak-acakan karena menangis tadi. Sekali lagi, ia membenamkan wajahnya ke lutut. Ia hancur. Hancur karena tak mempercayai ucapan suaminya sendiri. Tangisnya tak terbendung lagi. Ia kembali menangis sejadi-jadinya.

***

Dara mempercepat langkahnya menuju lapangan ski es tempat Jiyong berada. Tak peduli dengan jalanan yang becek dan nafasnya yang tersengal-sengal. Tak peduli dengan umpatan orang lain yang tubuhnya tersenggol karena langkah cepatnya. Pakaiannya sudah tak beraturan. Langkahnya berubah menjadi lari ketika ia menyadari ia sudah terlambat 1 jam dari waktu yang seharusnya. Mungkin Jiyong sudah membereskan semua atribut pesta perayaan pernikahan mereka, atau bahkan sudah pergi dari tempat itu.

Tak berapa lama setelah Yuna pergi, Dara mendapat sms dari Yuna dimana keberadaan Jiyong saat ini. Ia ingin meminta maaf pada Jiyong karena sudah gegabah mengajukan gugatan cerai, padahal jelas-jelas Jiyong tidak berselingkuh. Ia menyebut dirinya bodoh berulang kali karena terlalu percaya pada rumor yang belum tentu benar. Dan kini ia kena batunya.

Sesampainya di depan gedung, Dara hampir saja terjatuh karena saking lemasnya terlalu cepat berlari. Ia merapihkan rambut dan pakaiannya agar terlihat cantik di depan Jiyong.

Belum terlambat, pikirnya.

Dengan perasaan gugup, ia membuka pintu gedung dan berjalan mencari lapangan ski es. Karena jiyong sudah membookingnya, maka sudah pasti tidak ada satupun orang yang bermain ski es. Dara mencari-cari sosok Jiyong di lapangan dan berhasil menemukannya. Disana, ia melihat siluet tubuh Jiyong dari belakang, dan sedang berdiri membelakanginya di tengah-tengah lapangan es. Di sebelahnya, tersaji kue favorit Dara di diatas meja. Chapssalddeok[1], kue yang tidak pernah terlupakan setiap kali mereka merayakan sesuatu. Ia mengambil sepatu yang tergeletak di pintu masuk lapangan ski es dan memakainya. Dara mulai meluncur pelan ke arah Jiyong berdiri.

Mendengar ada seseorang yang mendekatinya dari belakang, Jiyong menoleh. Ia tersentak kaget. Matanya tak pernah lepas menatap Dara yang kian lama kian mendekat padanya. Ia tak menyangka Dara akan datang. Ia melihat Dara mengenakan sepatu ski es yang memang ia peruntukkan untuk wanita itu. Dara memutari tubuh Jiyong, mencoba menyombongkan kemahirannya, dan berhasil. Pria itu tersenyum pahit. Kesombongannya selama ini untuk mengajari Dara bermain ski es runtuh. Dara bahkan lebih mahir darinya, dilihat dari caranya ia meluncur di atas es.

“Jika kau kesini hanya untuk menanyakan apakah aku sudah menandatangani surat cerai itu, lupakan saja, aku tidak akan per-..”

Dara berhenti, tepat di hadapan Jiyong. “Kenapa kau tidak bilang kalau hari ini adalah hari perayaan pernikahan kita yang pertama?” tanyanya.

Jiyong mengerjap. Ini diluar ekspektasinya. Ia pikir Dara kesini hanya untuk menyuruhnya mengabulkan permohonan cerainya. “Kau orangnya pelupa.” jawabnya dengan kalem. Ia akan mempergunakan kesempatan ini membuat Dara berpikir ulang tentang perceraian. “Aku bertaruh pasti kau tidak ingat kapan terakhir kali kita berkencan sebelum menikah kan?”

“Itu aku ing-..” Dara terdiam, tak mampu melanjutkan kata-katanya sendiri. Ia melirik meja di belakang Jiyong dan matanya berbinar. “Chapssalddeok!” teriaknya mengubah mengalihkan pembicaraan mereka. Dara bergegas menuju meja dan langsung duduk tanpa dipersilahkan Jiyong.

Jiyong tersenyum. Ia tahu Dara pasti akan mengubah topik pembicaraan jika menyangkut masalah pelupa-nya ia. Jiyong menarik kursi dan duduk berhadap-hadapan dengan Dara. Untuk saat ini, Jiyong tak akan bertanya kenapa Dara bisa datang ke tempat ini.

Jiyong memperhatikan Dara yang sibuk memasukkan beberapa Chapssalddeok ke mulutnya. Melihatnya makan dengan lahap membuat Jiyong sejenak melupakan pertengkaran mereka siang tadi. Biarlah ia menikmati momen tak terlupakan ini bersamanya. Setelah itu, ia akan membujuk Dara agar mereka kembali membina hubungan dari awal lagi. Ia aka..

“Mianhae,” gumam Dara pelan, nyaris tak terdengar.

Huh?

“Mianhae,” katanya lagi dengan terisak. Ia memakan Chapssalddeok sambil menunduk. “Yuna sudah menjelaskannya padaku. Mianhae Ji, aku terlalu curiga dan tak mempercayaimu.”

Jiyong kembali mengedipkan matanya berkali-kali, tapi tak lama setelah itu ia tersenyum sumringah. Akhirnya kesalahpahaman itu berakhir juga.

“Aku senang akhirnya kau tahu. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan kehadiranmu di hatiku. Bahkan aku tidak pernah berpikir untuk sekalipun berselingkuh darimu.”

“Aku tahu, aku tahu Ji. Aku juga akan menjaga jarak dengan Chanyeol yang sangat lucu dan menggemaskan,…”

“Yah! Jangan sebut-sebut nama anak kecil itu lagi!”

“Kau cemburu?”

“Mana ada suami yang tidak cemburu saat mendengar istrinya memuji pria lain? Jika suami itu tidak cemburu, itu namanya suami gila!”

Dara tertawa lepas mendengar lelucon Jiyong, tapi tawanya terhenti saat melihat Jiyong meraih sesuatu dari saku celananya dan tiba-tiba merobek ‘sesuatu’ itu hingga terbelah dua.

“Suratnya!” serunya kaget.

“Sebelum ke sini aku mampir ke kantor Youngbae dan mengambil surat keramat ini. sekarang kita tak memerlukannya lagi. Jadi istriku, bisakah kita memulai lagi dari awal?”

Untuk sesaat Dara terdiam, namun tak lama kemudian ia tersenyum dan mengangguk pelan, tanda bahwa ia setuju dengan tawaran Jiyong.

***

Dara memandang langit-langit lapangan ski es yang dihiasi ratusan bintang buatan yang nampak seperti bintang asli pada saat malam hari. 200 kuntum mawar putih yang disebar Jiyong di berbagai sudut-sudut lapangan membuat Dara tak berhenti tersenyum. Angin dingin yang sedikit berhembus di tengah-tengah lapangan ski es menambah suasana semakin romantis. Tubuh Dara makin beringsut memeluk erat Jiyong. Ia menyandarkan wajahnya ke dada pria itu sambil sesekali menghirup aroma parfum favoritnya. Tangan mungilnya sudah sejak tadi dikalungkan ke leher Jiyong mengikuti irama lagu yang mengalun lembut dari ponsel Jiyong.

“Ji?”

“Mmm?”

Jiyong mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Dara dan sesekali mengelus-ngelus punggung wanita itu dengan menaik-turunkan tangannya. Mereka hanya bergerak pelan dan tidak tergesa-gesa.

“Bagaimana kalau lagunya diganti saja, Troublemaker misalnya?” tanya Jiyong tiba-tiba, membuat Dara mendongakkan kepalanya dan bertemu dengan senyum nakalnya. Dara memukul lengan Jiyong dan sedikit menjauh darinya.

“Ji, kita sedang memakai sepatu ski es, apa kau mau kita berdua jatuh?” rengek Dara.

“Hehe, okay-okay.” Jiyong tertawa. Ia mencium kening Dara dan memandangnya dengan tatapan intens. Wanita cantik ini tak akan pernah ia lepaskan pada pria manapun.

“Dara?”

“Hmm?”

Dara memainkan kancing kemeja Jiyong sambil menunduk karena terlalu malu menatap wajah tampannya. Mereka berdua hanya terdiam dan menikmati alunan musik yang terdengar slow.

“Saranghae.” bisiknya pelan.

Dara tersenyum lebar. Ini sudah kesekian kalinya ia mendengar ucapan itu dari bibir Jiyong dan rasanya tak pernah bosan. Dara kembali memeluk Jiyong karena merasa tubuhnya makin menggigil. Berada di tengah-tengah lapangan ski es pada tengah malam apalagi hanya mengenakan baju seadanya benar-benar bukan ide yang bagus

“Nado, saranghae.” jawabnya.

***

Love is not about how much you say ‘I love you’ but how much you can prove that it’s true.

.

.

[1] Chapssalddeok = salah satu kue mochi khas korea

Advertisements

28 thoughts on “[Oneshoot] Come Back Home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s