[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] If You #1

cover

Author : Rmbintang

Main Cast : Kwon Jiyong, Sandara Park

Genre  : Romance

Summary

Aku tidak pernah menyangka bahwa hubungan kita akan berakhir seperti ini namun apakah kau tahu bahwa sampai kapanpun aku masih selalu mencintaimu? Aku masih selalu mengharapkanmu kembali menjadi milikku sekali lagi walaupun aku tahu bahwa itu tidak mungkin karena kini kau sangat membenciku.

-Kwon Jiyong-

Salahkah aku jika akhirnya aku memutuskan untuk membencimu? Dirimu yang selalu berjanji bahwa tidak akan pernah meninggalkan aku namun kenyatannya sekarang kau pergi dan meninggalkan aku sendirian jadi aku pikir hanya kebencian yang bisa aku berikan kepadamu sekarang karena hanya dengan membencimu maka aku tidak akan merasakan sakit karenamu lagi.”

-Sandara Park-

Author Note

Ada yang pernah baca novel Divortiare karya Ika Natassa? Nah, cerita ini sebenarnya terinspirasi dari novel itu namun tentu saja jalan ceritanya beda. Mungkin ada beberapa persamaan seperti pekerjaan salah satu tokoh dan satu dua scene yang sama namun tentu saja itu hanya inspirasi karena dialognya saya tulis berdasarkan gaya bahasa saya sendiri dan pemikiran saya sendiri lagipula jalan ceritanya jauh beda yang sama hanya ide cerita saja jadi jangan anggap saya sebagai plagiator!!

Dan terimakasih sekali untuk Tarozuki yang sudah mengizinkan untuk memakai salah satu manipnya sebagai cover FF ini. Semoga di berkahi yah De karena selalu membuat hati appler bahagia dengan manip-manip kecenya.

Happy reading readers-nim dan silahkan tinggalkan jejak di setiap chapternya!! Hengshoo ^.^

 

 

 

 .

Chapter 1

.

Dara Pov

Aku mengerutkan keningku saat mendengar suara pintu apartemenku dibuka oleh seseorang. Aku berpikir keras siapa kira-kira yang bisa masuk kedalam apartemenku karena seingatku yang tahu password apartemen ini hanya ibuku dan diriku sendiri.Aku pikir itu tidak mungkin ibuku karena baru sekitar tiga puluh menit yang lalu aku menghubunginya yang tinggal di Busan. Aku kembali berpikir sambil menahan sakit kepala yang sejak tadi malam menyerangku.

Aku mengingat-ngingat siapa kira-kira orang yang akan dengan mudah menebak password apartemenku. Aku menutup mulutku dan membuka mataku dengan lebar setelah terpikirkan satu nama dan tepat saat itulah pintu kamarku dibuka dan kini aku yang sedang berbaring di tempat tidur bisa melihat seseorang yang tadi aku pikirkan kini berdiri di depan pintu kamarku. Tebakanku benar ternyata. Tapi untuk apa orang ini datang ke sini?

“Kau?” Tanyaku dengan suara sedikit serak akibat demam yang menyerangku. “Untuk apa kau ke sini?”

“Ibumu menelponku dan bilang kau sedang sakit.” Kata pria itu sambil menutup pintu kamarku lalu berjalan pelan sambil membawa sebuah tas yang aku yakini berisi segala macam alat kesehatan. “Ibumu menyuruhku untuk memeriksa kondisimu karena dia bilang kau tidak ingin pergi ke rumah sakit.” Katanya lagi yang masih berjalan dengan wajah tenang. Aku merutuki ibuku di dalam hati. Bagaimana bisa dia menyuruh Jiyong datang ke sini hanya untuk memintanya memeriksaku.

“Lalu kenapa kau mau datang?” Tanyaku sambil berdecak, aku sedikit kesal sekarang karena melihat Jiyong entah kenapa selalu membuat moodku menjadi sangat kacau. “Harusnya kau menolak saat ibuku memintamu datang, harusnya kau bilang bahwa kau tidak bisa karena sedang banyak pasien.” Ocehku kepada Jiyong yang kini sudah berdiri di samping tempat tidurku.

“Aku tidak bisa melakukan itu.” Katanya dengan tenang.

“Kenapa tidak bisa?” Tanyaku dengan sedikit sewot.

“Karna itu tidak sejalan dengan kode etik kedokteran.” Katanya sambil menaruh tasnya di bawah lalu duduk di pinggiran tempat tidurku. “Aku harus memeriksamu karena aku sudah berjanji untuk menyelamatkan pasien tidak peduli pasien itu siapa.” Sambungnya.

“Tapi aku tidak mau diperiksa olehmu.” Kataku masih dengan nada sewot.

“Kalau begitu pergi kerumah sakit lalu minta dokter lain untuk memeriksamu.” Katanya dengan nada sedikit kesal.

“Aku tidak mau ke sana.”

“Kenapa?” Tanya Jiyong. “Apa kau masih membenci rumah sakit?”

“Aku tidak membenci rumah sakit. Aku hanya tidak suka berada disana.” Kataku.

“Berhentilah merengek.” Kata Jiyong sambil membuka selimbut yang menutup tubuhku. “Aku juga tidak suka berada di sini jadi cepat kita selesaikan ini supaya aku bisa pergi.”

“Cih kau bilang tidak suka tapi kau tetap datang.” Gumamku sambil berdecak. Jiyong tidak memperdulikan kata-kataku kepadanya dia malah memegang bahuku sehingga kini aku berbaring lurus menghadapnya. Jiyong mengambil stetoskop dari dalam tas yang dia bawa kemudian mengalungkannya dileher. Dia menggerakan bola matanya kepadaku. “Apa sih?” Tanyaku karena tidak mengerti dengan maksud Jiyong.

“Itu.” Katanya sambil menunjuk piamaku. “Apa kau mau aku yang membukanya?” Tanyanya dengan sebuah senyuman sarkas yang membuatku langsung mengerti kemudian mulai membuka kancing piamaku dengan sedikit merenggut. “Kenapa kau bisa tahu password apartemenku?” Tanyaku kepada Jiyong yang kini sedang menempelkan stetoskop pada dadaku. “Apakah eomma yang memberitahumu?” Tanyaku lagi.

“Kau itu sangat mudah ditebak Dara. Kalau bukan tanggal ulang tahunmu aku yakin pasti tanggal ulang tahun ibumu dan aku benar.” Katanya yang masih menempelkan stetoskop pada dadaku. Aku sedikit cemberut karena kesal dengan kata-katanya yang terkesan mengejekku.

Aku diam dan membiarkannya yang kini sedang menempelkan stetoskop pada perutku kemudian memeriksa tekanan darahku dengan tensimeter. Aku berdoa supaya ini bisa cepat berakhir sehingga aku tidak perlu lagi melihat si brengsek Jiyong. “Dara.” Kata Jiyong tiba-tiba sambil terus melihat tensimeter. “Kenapa tekanan darahmu bisa rendah seperti ini?” Tanyanya lagi kini sambil melihatku.

“Mana aku tahu.” Kataku dengan suara datar. “Yang dokter di sini itu dirimu bukan aku.” Kataku dengan nada mengejeknya.

“Dara aku serius.” Katanya sambil berdecak. “Apa kau tidak tidur selama beberapa hari ini?” Tanya Jiyong dengan penuh selidik. Aku diam saja. “Mau sampai kapan kau bertahan dengan gaya hidup seperti ini Dara?” Tanyanya sambil memasukkan tensimeter pada tasnya. Aku hanya cemberut sambil kembali mengancingkan piamaku. “Kau tahu begadang itu tidak baik untuk kesehatanmu.” Omelnya lagi.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu kepadamu. Kau yang seharusnya merubah gaya hidupmu yang selalu pulang lewat tengah malam hanya untuk mengobati pasien sedangkan kehidupan pribadimu sendiri tidak pernah kau urusi.” Kataku sambil berdecak.

“Kau bilang hanya?” Tanya Jiyong dengan raut wajah kesal.“Aku bekerja Dara dan itu sudah tanggung jawabku untuk mengobati pasien karena aku adalah seorang dokter. Sedangkan kau apa? Kau begadang padahal pekerjaanmu tidak berhubungan dengan nyawa orang lain jadi seharusnya kau bisa mengatur ulang jadwal kerjamu.” Katanya lagi.

“Aku tahu Jiyong pekerjaanku memang tidak seheroik pekerjaanmu tapi bagaimana bisa kau merendahkan pekerjaanku huh?” Tanyaku dengan sedikit keras karena aku tersinggung dengan apa yang Jiyong katakan tentang pekerjaanku. “Lagipula untuk apa kau mengomentari kehidupan pribadiku? Kau datang ke sini sebagai dokter jadi tolong bicaralah hanya tentang masalah medis tanpa merembet pada masalah pribadiku.” Kataku lagi.

“Dari awal aku memang berbicara tentang masalah medis Dara. Sebagai dokter aku menyuruhmu untuk tidak begadang karna itu hanya akan membuatmu sakit seperti ini.” Katanya. “Kaulah orang yang membawa masalah pribadi pertama kali.”

“Jiyong apakah rumah sakit tempatmu bekerja tidak pernah mengajarkan kepadamu bagaimana seharusnya kau bicara kepada seorang pasien?”

“Sudah ya Sandara-ssi aku sudah cukup pusing mendengarkan ocehanmu dari tadi.” Kata Jiyong sambil berdiri kemudian mengambil tasnya. “Aku akan kirimkan resep obatmu kepada ibumu, dan beristirahatlah selama seminggu jika sakit kepalamu tidak ingin bertambah parah.” Sambungnya kemudian berbalik lalu pergi dari dalam kamarku.

“Ya!” Jeritku kepada Jiyong yang terus berjalan tanpa sekalipun menengok kepadaku. Aku kesal karena dia tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Jiyong sialan gila itu benar-benar membuatku marah, anni si setan itu memang selalu membuatku marah setiap kali kami bertemu itulah kenapa aku tidak suka jika harus bertemu dengannya.

Ternyata dia masih menjadi seseorang yang sangat brengsek walaupun dia sudah berpisah lama denganku. Aku heran kenapa dia bisa menjadi dokter terbaik di rumah sakit tempatnya bekerja dengan tempramennya yang sangat buruk dan kata-katanya yang selalu pedas kepadaku.

Jiyong Pov

Aku tidak pernah menyangka bahwa hubunganku dengan Dara akan menjadi seperti ini. Kami selalu bertengkar hampir setiap kali kami bertemu dan itu sebenarnya membuatku menjadi sedikit tidak enak, namun entahlah aku juga tidak mengerti mengapa yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah bertengkar. Dara adalah mantan kekasihku, kami putus sejak musim dingin tahun lalu itu berartisudah hampir satu tahun sekarang.

Aku putus dengan Dara setelah kami berpacaran selama lebih dari lima tahun bahkan keluarga kami sempat membicarakan tentang pernikahan, itulah sebabnya kedua orangtua kami masih belum menerima keputusan kami untuk berpisah.

Ibuku masih sering menanyakan keadaan Dara dan ibu Dara juga masih sering menghubungiku baik itu untuk menanyakan kabarku atau untuk memintaku memeriksa kesehatannya. Beliau mengatakan bahwa beliau hanya percaya kepadaku untuk masalah kesehatan sehingga dia pasti akan menghubungiku jika ada keluarganya yang sakit. Sama seperti tadi sore saat dia menghubungiku dan mengatakan bahwa Dara sedang sakit lalu menyuruhku untuk memeriksanya.

Aku sebenarnya bisa menolak atau merekomendasikan dokter lain namun aku tidak bisa melakukan itu karena entah kenapa aku merasa terganggu saat memikirkan Dara akan diperiksa oleh dokter lain, aku tidak suka jika tubuhnya disentuh oleh orang lain walaupun itu untuk alasan yang sangat jelas. Jadi akhirnya aku datang ke apartemennya untuk memeriksa Dara sendiri, lagipula aku khawatir jika dia sakit seperti itu jadi aku ingin memastikannya sendiri dan memberikan dia pengobatan terbaik.

Setiap kali aku akan bertemu dengannya aku selalu menyiapkan beberapa pertanyaan yang telah aku rancang dikepalaku sehingga kami bisa berbicara dengan lebih normal tanpa harus bertengkar, namun setiap kali aku telah berada di hadapannya lidahku selalu kelu untuk bertanya tentang keadaannya atau pertanyaan lain yang telah aku rancang jadi biasanya yang aku lontarkan adalah pertanyaan lain dengan nada dingin.

Aku selalu bersikap dingin dan tenang saat bertemu dengan Dara padahal sebenarnya jantungku selalu berdetak dengan sangat cepat setiap kali aku menatap dan memandangnya. Dara masih menjadi satu-satunya wanita untukku walaupun dia tidak tahu itu. Namun seperti orang bodoh aku hanya bisa menyembunyikan itu darinya dan selalu bersikap brengsek sehingga dia selalu mengumpat kepadaku setiap kali kami bertemu.

Aku merindukan Dara, merindukan masa-masa yang telah kami lewati selama kami bersama, aku merindukan tawanya dan ucapan lembutnya saat dia membangunkan aku di pagi hari. Aku merindukan mengecup keningnya saat dia sedang tertidur. Aku merindukan morning kiss yang selalu Dara berikan setiap aku bangun tidur. Aku merindukannya dan masih sangat mencintainya.

Flashback

Aku terbangun dari tidurku setelah mendengar suara alunan lagu yang samar-samar terdengar dari jauh. Aku tersenyum masih dengan mata yang terpejam karena aku tahu suara itu berasal dari arah dapur. Dara pasti sedang memasak sambil menyanyikan lagu kesukaannya secara berulang-ulang. Perlahan suara itu menjadi semakin mendekat dan terdengar lebih jelas lalu beberapa detik kemudian aku mendengar suara derit pintu yang dibuka. Aku kembali tersenyum karena tahu bahwa satu-satunya orang yang akan membuka pintu kamar hanyalah Dara kekasihku.

Aku kini merasakan sentuhan lembut pada punggungku lalu sejurus kemudian aku mendengar suara lembut Dara yang berbisik tepat ditelingaku.

Jagiya.” Ucapnya dengan sangat lembut. “Ini sudah siang, kenapa kau tidak bangun?” Ucapnya lagi kini sambil mengusap lembut punggungku. Aku kembali tersenyum dengan caranya membangunkan aku. “Jagiya.” Ucapnya lagi kini berhasil membuatku membuka mataku kemudian melirik kearahnya. “Good morning.” Ucapnya saat aku membuka mataku. Dia tersenyum sangat manis kemudian mengecup bibirku sebentar.

“Kenapa kau selalu menggodaku saat pagi hari huh?” Tanyaku dengan suara serak khas banguntidur yang langsung membuatnya tertawa.

“Bangunlah Yongi ini sudah siang. Kau bisa terlambat. Bukannya kau bilang dokter residen sepertimu tidak boleh terlambat?” Katanya sambil menyisir rambutku dengan jari-jarinya. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya kemudian menarik tangannya.

“Beri aku lima menit lagi.” Bisikku ketika dia telah jatuh ditubuhku kemudian aku memeluk tubuhnya dengan sedikit erat.

Andwe.” Ujarnya sambil menggelengkan kepala. “Lima menitmu itu sangat lama.” Katanya lagi sambil mencoba melepaskan pelukan eratku. Aku mengeratkan pelukanku lalu menggulingkan tubuhku hingga kini Dara berada di bawahku. “Ya!” Protesnya sambil sedikit merenggut.

“Lima menit saja aku janji.” Sumpahku sambil tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Empat menit?” Tawarku lagi yang masih dia balas dengan gelengan. “Dua menit kalau begitu?” Tawarku lagi kini dengan nada sedikit memohon. Dara tertawa kemudian melingkarkan tangannya pada leherku.

“Satu menit saja.” Bisiknya setelah menarik kepalaku lalu sejurus kemudian Dara mendekatkan bibirnya lalu mulai mencium bibirku dengan sedikit rakus, aku membalas ciumannya dengan sama rakusnya. Kami berciuman selama beberapa saat sampai Dara menarik kembali bibirnya dariku. “Kita hentikan sekarang sebelum kau meminta yang lain lagi.” Ujar Dara sambil tersenyum kemudian mengecup bibirku sekali lagi. Aku pura-pura merenggut namun tetap menurut kepadanya kemudian bangkit dari posisiku yang tadi menindih Dara.

Babekarena aku sudah terlambat jadi bisakah kau menyiapkan bajuku?” Tanyaku kepada Dara yang kini sudah bangkit dari posisinya tadi. Dia tersenyum kemudian menunjuk kearah lemari. Aku melihat kemeja yang telah digantung dengan rapi di depan lemari itu.

“Aku sudah tahu kau akan bangun terlambat jadi aku sudah menyiapkan bajumu.”

Gomawo.” Dara mengangguk sambil terus tersenyum. “Aku akan mengantarmu sampai ke kantor sebagai tanda terimakasih.” Kataku lagi yang kembali Dara balas dengan anggukan.

“Cepatlah mandi kalau begitu. Aku akan membuat kopi untukmu lalu kita bisa sarapan dan berangkat kerja bersama.” Katanya sambil berjalan kearah pintu kemudian keluar dari dalam kamar.

Flashback End

Aku menutup mataku saat kembali mengingat Dara, rasa sakit perlahan menggerogoti diriku ketika aku mengingat senyuman Dara, senyuman yang masih terbayang dengan jelas dalam ingatanku. Satu-satunya senyuman termanis milik wanita terbaik yang pernah aku kenal dan pernah aku miliki. Senyuman yang tidak pernah lagi dia tunjukkan kepadaku, karena kini yang dia tunjukkan hanya tatapan kebencian.

“Jiyong?” Aku merasakan bahuku ditepuk dengan sangat keras membuat lamunanku tentang Dara menjadi buyar.

Hyung!” Kataku sambil berdecak setelah sadar bahwa Seunghyun Hyung yang menepuk bahuku. Aku memegang bahuku yang sakit sambil mendengus kepadanya.

“Ah mian.” Katanya sambil memperlihatkan senyuman kuda. “Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi sepertinya kau tidak mendengarku.” Katanya menjelaskan.

“Memangnya untuk apa kau memanggilku?”

“Hari jumat kau libur bukan?” Tanya Hyung yang aku balas dengan anggukan kepala. “Aku ingin mengajakmu bermain footsal nanti, kami kekurangan orang.” Katanya yang aku balas dengan anggukan mengerti. “Kau bisa?” Tanyanya yang aku balas dengan anggukan lagi. “Kenapa wajahmu terlihat lesu?” Tanya Seunghyun Hyung yang sepertinya sedikit heran karena aku hanya terus menganggukkan kepalaku saja tanpa menjawab pertanyaanya.

“Aku hanya sedikit lelah.” Ujarku sambil meliriknya.

“Kau selalu seperti ini jika mengingat Dara.” Ujarnya lagi yang langsung membuatku menyimpulkan senyuman. “Kalau kau merindukannya maka datangi dia. Obat rindu itu hanya satu. Datangi bukannya dipikirkan.”

“Aku sudah bertemu dengannya kemarin.” Kataku. “Dan seperti biasa kami bertengkar lagi.”

“Apa yang salah dengan kalian sebenarnya? Kenapa kalian selalu bertengkar hampir setiap kali bertemu?” Aku mengedikkan bahuku tanda bahwa aku juga tidak tahu apa yang salah dengan kami sekarang. Kenapa Dara bisa sangat membenciku seperti itu.

Author

Dara berjalan dengan sedikit cepat sambil membawa beberapa map coklat berisi berkas-berkas presentasi. Hari ini dia ada presentasi yang membuatnya harus tidak tidur selama dua hari untuk mempersiapkan presentasi ini hingga akhirnya dia jatuh sakit dari beberapa hari yang lalu.

Dia mengambil cuti selama tiga hari untuk beristirahat, namun baru dua hari Dara beristirahat dia harus sudah kembali ke kantor untuk melakukan presentasi karena atasannya mengatakan bahwa hanya Dara yang harus menyampaikan presentasi ini karena hanya dia yang memiliki kualifikasi dan kemampuan yang baik dalam berkomunikasi. Klien ini sangat penting jadi atasannya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat bekerja sama dengan perusahaan ini.

Setelah masuk kedalam ruang rapat Dara langsung menyiapkan presentasinya sendiri karena dia lebih nyaman jika dia menyiapkan semuanya sendiri karena dengan begitu dia bisa memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Saat sedang menaruh kertas-kertas berisi bahan presentasi di atas meja tiba-tiba Dara dikejutkan oleh suara atasannya.

“Nona Park.” Seru atasannya yang langsung membuat Dara mengalihkan perhatiannya kepada atasannya yang kini sedang berdiri bersama seorang pria yang baru Dara lihat.

NeDaepyo-nim.” Sahut Dara sambil berjalan mendekati atasannya itu. “Apa anda perlu sesuatu?”

“Aku tidak butuh sesuatu.” Kata atasannya. “Aku hanya ingin mengenalkan seseorang kepadamu.” Sambungnya sambil melihat pria itu. “Tuan Jung, ini adalah Nona Park yang kemarin saya ceritakan kepada anda.” Kata atasannya sambil menunjuk Dara. “Nona Park perkenalkan beliau adalah wakil dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita.” Sambungnya kini sambil melihat Dara. Dara tersenyum kemudian mengulurkan tangannya saat pria itu mengulurkan tangan kearahnya.

“Nona Park aku sudah mendengar semua tentangmu dari Tuan Yang dan aku harap kinerjamu memang sebaik yang dia katakan.” Katanya ketika Dara menyambut jabatan tangannya.

“Oh terimakasih untuk pujiannya.” Kata Dara sambil tersenyum sopan kemudian melepaskan jabatan tangan pria itu.

“Nona Park mulai besok kau akan menjadi ketua tim untuk projek yang kita lakukan bersama dengan perusahaan Tuan Jung itulah kenapa aku mengenalkannya kepadamu hari ini karena mulai besok kalian akan sering bertemu.” Kata atasannya kepada Dara yang Dara balas dengan anggukan sambil memasang sebuah senyuman.

Dia senang karena atasannya memuji kinerjanya kepada klien namun disisi lain Dara sedikit merasa sedih karena ini berarti dia harus bekerja lebih keras lagi dari sebelumnya karena perusahaan mempercayakan projek ini kepadanya yang menurut Dara merupakan beban baru baginya.

Dara Pov

Lelah, itulah satu kata yang bisa aku katakan untuk menggambarkan hari ini. Setelah mendadak atasanku memintaku datang ke kantor untuk melakukan presentasi padahal aku sedang dalam masa cuti sakit, kemudian dia mengatakan bahwa aku akan menjadi ketua tim untuk projek baru perusahaanku dengan salah satu perusahaan besar lainnya.

Aku sebenarnya ingin menolak tawaran itu karena aku merasa bahwa tubuhku akhir-akhir ini mudah sekali merasa lelah jadi aku ingin mengatur jadwal kerjaku lagi namun rencanaku hanyalah tinggal cerita karena ternyata atasanku sudah mengaturkan jadwal baru untukku yang semakin parah dari jadwal kerjaku yang sebelumnya. Aku tidak bisa menolak karena aku ingin dipromosikan jadi aku mengambil semua tugas yang mereka berikan kepadaku.

“Ada apa dengan wajahmu?” Tanya Bom sepupuku yang kini sedang meminum minumannya. Aku menggeleng kemudian menaruh daguku di atas meja cafe. “Wajahmu terlihat kusam Dara.” Sambungnya.

“Aku lelah.” Kataku sambil menghembuskan napas. “Aku butuh istirahat dan liburan.” Sambungku lagi yang langsung mendapatkan respon prihatin dari Bom.

“Kasihan sekali kau Dara.” Katanya sambil menunjukkan wajah prihatinnya kepadaku. “Kau sangat bekerja dengan keras akhir-akhir ini hingga melupakan liburan. Kapan terakhir kali kau liburan?” Tanya Bom kini sambil mengambil cake dengan sendok.

“Kapan ya?” Tanyaku kepada diri sendiri karena aku sendiri lupa kapan terakhir kali aku melakukan liburan.

“Ah aku ingat.” Kata Bom sambil melihat kepadaku.“Kau terakhir kali liburan dua bulan sebelum kau dan Jiyong putus.” Ucap Bom lagi sambil mengunyah. “Kalian berlibur berdua ke Singapura selama empat hari.” Sambung Bom membuatku langsung mengingat kejadian itu, liburan terakhirku dengan Jiyong.

Sebenarnya itu tidak bisa disebut sebagai liburan karena Jiyong pergi ke Singapura untuk mengikuti konferensi dan aku pergike sana untuk menemaninya. Tidak banyak waktu yang kami habiskan bersama namun aku bahagia saat aku dan dia berada disana.

Flashback

Babe.” Aku mendengar suara Jiyong yang berbisik tepat ditelingaku membuatku yang tadinya sedang tidur langsung membuka mataku dengan perlahan. Setelah beberapa detik aku baru bisa mengumpulkan kesadaranku.

“Ini jam berapa?” Tanyaku kepada Jiyong sambil menguap kemudian bangun dan menggeliatkan tubuhku.

“Baru jam delapan.” Kata Jiyong yang kini sedang berdiri di samping tempat tidur. Aku melihatnya kini sudah memakai kemeja rapi. Dia pasti sudah mandi.

“Kau sudah mau berangkat?” Tanyaku lagi kini sambil melihat kepadanya. Jiyong mengangguk. “Jam berapa kau selesai?”

“Jam empat sore.” Katanya sambil duduk menghadapku di pinggiran tempat tidur. “Kau mau kemana saja selama aku sedang konferensi?” Tanya Jiyong sambil mengusap kemudian membelai wajahku.

“Sepertinya hanya berkeliaran di sekitar hotel.” Kataku kemudian kembali menguap. “Aku kemarin browsing tentang tempat bagus di sekitar sini dan katanya ada kedai kopi enak di sekitar sini.” Ujarku dengan senyuman mengembang yang Jiyong balas dengan anggukan

“Jangan berkeliaran terlalu jauh, aku takut kau nyasar.” Kata Jiyong yang aku balas dengan anggukan. “Nanti siang kita makan bersama seperti kemarin, arasseo?” Ujar Jiyong lagi yang aku balas dengan anggukan lagi lalu memeluk tubuh Jiyong kemudian menghirup aroma tubuhnya yang sangat wangi.

“Jangan mencoba melirik wanita lain saat aku tidak ada.” Kataku dengan sedikit manja, aku mendengar Jiyong sedikit tertawa.

“Kau tahu tidak ada satupun wanita yang bisa mengalihkan perhatianku sejak aku mengenalmu jadi kau tidak perlu khawatir.” Katanya sambil mengusap punggungku dengan lembut. Aku tersenyum mendengar jawabannya. “Babe apakah kau memakai cincin kita?” Tanya Jiyong tiba-tiba setelah aku melepaskan pelukanku.

“Aku selalu memakainya. Kenapa?” Tanyaku sambil menunjukkan tanganku pada Jiyong.

“Bagus.” Kata Jiyong. “Tunjukkan cincin itu jika nanti ada pria yang menggodamu, beritahu saja mereka bahwa kau sudah menikah jika ada yang merayumu.” Kata Jiyong lagi.

“Siap.” Kataku sambil mengangkat dua jempolku. Jiyong juga mengangkat kedua jempolnya setelah itu. “Yongi?” Ujarku sambil tersenyum kepada Jiyong lalu mengulurkan tanganku kepadanya. Dia tersenyum karena mengerti dengan maksudku kemudian mengambil dompet di saku celananya.

“Belilah makanan yang enak dan sehat,arasseo?” Ujar Jiyong sambil memberikan credit card kepadaku. Aku mengangguk senang sambil mengambil kartu kredit Jiyong. “Kau juga bisa berbelanja baju atau barang lain yang kau inginkan.”

“Aku boleh berbelanja dengan kartu ini?” Tanyaku dengan mata yang berbinar. Dia menganggukkan kepalanya.

“Kau bisa berbelanja sampai kau puas.” Katanya kemudian mendekatkan kepalanya lalu berbisik di telingaku. “Lalu nanti malam kita akan bersenang-senang sampai kita puas.” Bisiknya kemudian mengedipkan sebelah matanya.

“Aishh.” Kataku sambil berdesis. “Dasar mesum.”

“Aku mesum tapi kau menyukainya, tadi malam bahkan ka-” aku langsung menutup mulut Jiyong supaya dia berhenti berbicara.

“Ini masih pagi.” Kataku sambil membulatkan mataku. “Jangan membicarakan hal itu.” Kataku lagi dengan sedikit tertawa. Jiyong melepaskan tanganku yang membungkamnya lalu ikut tertawa bersamaku kemudian mencium bibirku membuat kami terlibat ciuman panas selama beberapa saat. Dia baru pergi ke konferensi itu setelah berhasil memberikan beberapa tanda merah di leherku.

FlashbackEnd

Kenapa aku harus mengingat kejadian itu? Sialan sekali karena ternyata aku masih bisa mengingat semua hal tentang Jiyong dan aku dulu. Mendengar nama si brengsek itu disebut membuatku langsung mendengus kesal karena aku mengingat pertengkaran kami saat dia memeriksaku tiga hari yang lalu.

“Ada apa?” Tanya Bom karena mendengarku mendengus.

“Bomie apakah aku sudah cerita saat Jiyong tiba-tiba datang ke apartemenku tiga hari yang lalu?” Tanyaku kepada Bom sambil menegakkan kepalaku. Bom menggelengkan kepalanya.

“Untuk apa Jiyong datang ke apartemenmu?” Tanya Bom penasaran.

“Ibuku menghubunginya dan memintanya untuk memeriksaku yang sedang sakit.”

“Jadi Jiyong memeriksamu saat itu?” Tanya Bom dengan mata dan mulut yang dibuka lebar. Aku mengangguk. “Kenapa harus dia? Bukannya kau membencinya? Apakah tidak ada dokter lain yang bisa memeriksamu?” Tanyanya panjang lebar.

“Kau tahu sendiri aku tidak suka pergi ke rumah sakit jadi aku tidak bisa menemui dokter lain.” Kataku sambil mengaduk minumanku dengan sedotan. “Lagipula ibuku lebih percaya kepada Jiyong untuk masalah kesehatan.” Sambungku yang dia balas dengan anggukan mengerti.

“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?” Tanya Bom dengan sangat bersemangat. “Apa yang kalian lakukan saat itu?” Tanyanya yang langsung membuatku meringis karena tahu apa yang sedang sepupu mesumku ini pikirkan.

“Dia hanya memeriksaku. Itu saja tidak ada yang lain lagi.”

“Apa Jiyong menyentuh dadamu saat dia memeriksamu?”Tanyanya lagidengan mata yang dikerlingkan.

“Dia menyentuhnya dengan stetoskop.” Kataku sambil mengangguk.

“Hanya dengan stetoskop?” Tanyanya dengan pandangan penuh selidik.

“Memangnya kau pikir dengan apa lagi? Dengan tangannya?”

“Bisa saja seperti itu.” Kata Bom sambil tertawa. “Bisa saja Jiyong lupa bahwa kalian sudah putus lalu melahap dadamu dengan rakus.” Katanya mesum. “Seperti yang sering dia lakukan dulu.”Aku melebarkan mataku setelah mendengar apa yang Bom katakan.

“Ya!” Kataku sambil berdecak kepadanya. “Dia tidak mungkin lupa.” Kataku lagi dengan penuh penekanan. “Dan Jiyong tidak suka melahap dadaku.” Sambungku dengan suara pelan.

“Jangan bohong.” Kata Bom sambil tersenyum menggodaku. “Aku pernah melihat tanda merah di dada atasmu saat kalian masih tinggal bersama. Jangan bilang bahwa tanda itu hasil perbuatan serangga.” Katanya lagi. Aku yang sedang meminum minumanku langsung tersedak setelah mendengar apa yang dia katakan.

Aku menatapnya tajam yang dia balas dengan tatapan yang terus mengejekku. Dasar Bom wanita mesum yang sangat bodoh. Saat dia sedang terus mengejekku tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari ponselnya. Dia mengambil ponselnya lalu melihatku setelah membaca pesan masuk. “Dara kau mau ikut denganku?” Tanya Bom tiba-tiba. “Seunghyun menyuruhku membawakannya baju ganti ke tempat footsal.” Kata Bom lagi.

“Aku tidak ikut.” Tolakku sambil menggelengkan kepala. Aku berniat untuk pulang saja setelah ini lalu beristirahat karena sakit kepalaku mulai muncul lagi.

“Temani aku saja kalau begitu.” Ujarnya.“Aku hanya akan memberikan baju gantinya lalu pulang setelah itu.” Kata Bom dengan suara memohon dan wajah mengiba. Aku tidak tega juga melihat sepupuku harus pergi sendirian jadi akhirnya aku mengiyakan tawarannya.

Sebenarnya ada satu alasan lagi kenapa aku enggan pergi ke tempat footsal, yaitu karena tempat footsal merupakan salah satu tempat yang akan mengingatkan aku kepada Jiyong. Aku tidak ingin ke sana karena aku tidak ingin mengingat si brengsek itu lagi.

Author

Jiyong sedang memakai sepatu footsalnya saat dia melihat dua wanita yang muncul dari arah kanan pintu masuk. Dia memicingkan matanya karena merasa mengenal mereka dan saat sosok dua wanita itu semakin mendekat Jiyong semakin yakin dengan penglihatannya. Itu Dara, bisiknya dalam hati. Jiyong tanpa sadar menyimpulkan sebuah senyuman khasnya setelah melihat wanita itu yang kini lebih mendekat bersama sepupunya Bom yang  merupakan kekasih dari sahabatnya Seunghyun.

Jiyong menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyumannya yang terus tersungging dan saat dia kembali mengalihkan pandangannya pada Dara ternyata gadis itu kini sedang menatapnya, otomatis senyuman Jiyong menghilang lalu diganti dengan raut wajah sedatar mungkin. Jiyong tidak ingin Dara tahu bahwa dia sangat bahagia karena dapat melihat Dara.

Jiyong berjalan kearah Dara dan Bom yang kini sedang mengobrol dengan Seunghyun. Jiyong berjalan dengan terus memasang wajah datarnya.

“Sedang apa kau di sini?” Tanyanya kepada Dara sesaat setelah dia sampai di hadapan wanita itu.

“Aku menemani Bomie ke sini memangnya kau pikir untuk apa lagi?” Jawab Dara dengan suara ketus. “Apa mungkin kau pikir aku datang untuk menemuimu huh?”Tanya Dara sambil sedikit menyunggingkan smirk pada sudut bibirnya. “Tidak usah berpikir seperti itu karena jika aku tahu kau ada di sini aku pasti tidak akan mau ke sini.” Cerocos Dara.

“Aku bertanya baik-baik jadi bisa tidak kau menjawab dengan benar?” Kata Jiyong dengan sedikit kesal.

“Aku tidak bisa bicara baik-baik denganmu. Memangnya kenapa? Kau keberatan?” Tanya Dara masih dengan suara ketus.  Jiyong menatap Dara masih dengan wajah datar dan memilih untuk mengabaikan kata-kata ketus yang Dara lontarkan dan saat itu Jiyong sadar bahwa seharusnya Dara beristirahat di rumahnya sekarang.

“Kenapa kau tidak beristirahat?” Tanya Jiyong. “Apa kau sudah merasa lebih baik?”

“Kenapa? Apa kau mengkhawatirkanku sekarang?” Tanya Dara. “Apa kau tidak bisa melupakanku huh?”

“Aku bertanya sebagai doktermu Sandara-ssi.” Katanya setelah sebelumnya menghembuskan napas karena Dara tidak bisa diajak bicara baik-baik. Dara mendengus kemudian mengalihkan pandangannya. Dara sedikit kesal karena Jiyong selalu memanggilnya Sandara-ssi akhir-akhir ini.

“Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja.” Ujar Dara dengan acuh.

“Wajahmu pucat dan sangat kusam jadi bagaimana bisa kau mengatakan kau baik-baik saja?” Tanya Jiyong sambil memperhatikan wajah Dara.

“Ya! Apakah kau sedang menghina wajahku huh?” Sungut Dara sambil mendengus kemudian menyentuh pipinya sendiri sambil sedikit merenggut.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya Dara. Aku yakin kau pasti belum membaik.” Kata Jiyong masih sambil memperhatikan Dara.“Apakah kau juga pergi bekerja tadi?” Tanya Jiyong lagi sambil mengerutkan kening yang tidak dibalas oleh Dara. “Ya Tuhan Dara, aku menyuruhmu untuk beristirahat sebentar apa susahnya sih? Apakah kantor tempatmu bekerja akan bangkrut hanya karena kau cuti untuk beberapa hari?” Omel Jiyong kepada Dara.

“Ya!” Sungut Dara tidak terima. “Kenapa kau memarahiku di sini? Apakah kau ingin memperlihatkan kepada semua orang di sini bahwa aku sangat keras kepala? Apakah kau ingin mempermalukan aku didepan teman-temanmu?” Tanya Dara dengan menatap sengit kepada Jiyong. “Ini tubuhku Jiyong, aku yang merasakannya dan aku yakin bahwa aku baik-baik saja, jadi simpan saja semua omong kosongmu itu untuk semua pasienmu.” Kata Dara lagi. Jiyong menatap Dara dengan lekat.

“Kau sepertinya memang sudah baik-baik saja sehingga bisa terus mengomel seperti ini.” Ucap Jiyong dengan kesal kemudian dia berbalik membelakangi Dara dan berniat pergi ke lapang footsal.

Dia sedikit kesal karena Dara selalu memulai pertengkaran dengannya di manapun mereka bertemu dan selalu menyalah artikan semua kata-kata yang Jiyong katakan jadi Jiyong berniat untuk mengakhiri pertengkaran mereka malam ini, setidaknya dia sudah melihat Dara dan itu sedikit mampu mengobati rasa rindunya.

Jiyong baru berjalan beberapa langkah saat dia mendengar suara bruk keras diikuti oleh sebuah bola yang menggelinding melewatinya. Jiyong kembali membalikkan badannya saat dia mendengar suara jeritan Bom yang terdengar sangat khawatir sambil menyebut nama Dara.

“Dara!” Jerit Jiyong dengan sedikit keras ketika dia melihat Dara kini sudah tergeletak pingsan. “Ya!” Teriak Jiyong dengan sangat keras. “Siapa orang bodoh yang telah menendang bola dengan asal hingga membentur kepalanya?” Teriaknya lagi dengan wajah penuh amarah. Tidak ada yang berani bicara dan hampir semua orang disana menundukkan kepalanya karena takut akan menjadi sasaran amukan Jiyong. “Kenapa kalian diam saja? siapa orang brengsek yang telah menyakitinya?” Teriaknya lagi masih dengan nada amarah.

“Ji sudahlah.” Ujar Seunghyun sambil berjalan kearah Jiyong. “Ini kecelakaan bukan disengaja.” Sambung Seunghyun untuk lebih menenangkan Jiyong. “Kita bawa Dara pulang saja.” Jiyong langsung kembali melihat kepada Dara setelah mendengar nama wanita itu disebut. Dia sedikit berlari kearah Dara kemudian langsung mengendong tubuh mungil wanita itu untuk dibawa ke apartemennya. Jiyong sebenarnya ingin membawa Dara ke rumah sakit, namun Jiyong ingat bahwa Dara tidak suka berada di sana jadi dia memutuskan untuk mengobati Dara di rumah.

TBC

Advertisements

42 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] If You #1

  1. kenapa putus apa gara” sibuk ya jiyong nya ?!
    ihh mereka itu masih saling sayang kan cuman gtu ego nya pada tinggi banget gg mau ngalah sama sekali ,
    uhh dara am jiyong pasangan mesum deh dua” nya , kkkkkk
    semoga dara gg kenapa” ya ,
    ehh rekam kerja dara itu bang ill woo kan aseeekk asekkk bisa att bikin ji cemburu , huhu

  2. Baru bisa baca ff ini sekarang, mian yah unnie😄 Meskipun blom pernah baca novelnya, keknya jalan ceritanya bagus sama bagusnya sama ff ini wkwkwk. Entah kenapa geregetan pas baca momen daragon yang tengkar melulu. Sebenernya ada masalah apa sih diantara mereka? Masalah apa yg bisa ngebuat daragon putus dan dara benci banget ke Jiyong?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s