SNEEUWWITJE [INTRODUCTION+PROLOG]

swwe

A storyline by. Cho Hana

Sandara Park || Kwon Jiyong

Park Soojin || Kim Jongin || Jung Soojung || Park Jiyeon || Park Hayeon

Kang Seulgi || Jung Taekwoon || Lee Seungri || Im Yoona

Romance || Drama || Marriage-Life

PG-15

.

She is a Snow White, not a Cinderella

.

Introduction:

Sandara Park (27 tahun)

Gadis kuat, cerdas dan hebat. Sering disebut berhati dingin dan bertangan besi. Menjadi buta sejak usia sepuluh tahun. Resmi menjadi anak yatim piatu setelah sang ayah meninggal dunia dan harus tinggal bersama ibu dan kedua adik tirinya yang memiliki rencana jahat untuk menyingkirkannya. Bukan sosok Cinderella yang rela disiksa dan menyerah begitu saja. Ia adalah sosok Putri Salju, si gadis berhati dingin, yang terlihat kuat di luar, namun rapuh di dalam.

Kwon Jiyong (27 tahun)

Pemuda tampan, supel dan penuh pesona. Terjebak dalam jeratan gelap dunia prostitusi sejak usia remaja. Perusahaan ayahnya bangkrut dan ibunya bunuh diri. Ia sebatang kara sejak sang ayah dijatuhi hukuman mati akibat dituduh korupsi. Kehidupannya berubah semenjak ia menyetujui sebuah pekerjaan yang cukup gila.

Park Soojin (26 tahun)

Adik tiri Sandara. Sosok yang anggun, namun ambisius. Menyimpan dendam pada Sandara karena sejak kecil selalu direndahkan oleh sang kakak tiri. Impiannya terbesarnya adalah membuat Sandara sengsara dan bertekuk lutut di depannya.

Kim Jongin (24 tahun)

Sekretaris pribadi Sandara sekaligus teman main Sandara saat kecil. Sosok yang sukses di usia muda dan populer di kalangan karyawan Jaeguk Group. Memiliki pesona yang tidak dapat ditolak siapapun kecuali satu orang. Jung Soojung.

Jung Soojung (24 tahun)

Sepupu Sandara. Ibunya adalah kakak angkat dari Ibu Sandara. Bekerja sebagai general manager di Jaeguk Group. Orang yang selalu ada di samping Sandara sebagai saudara dan sahabat. Memiliki hubungan masa lalu dengan Kim Jongin yang membuatnya tak bisa akur dengan pemuda itu.

Park Jiyeon (23 tahun)

Adik tiri Sandara yang bungsu. Tak jauh berbeda dengan sang kakak, ia adalah sosok yang ambisius, namun manja. Ia juga sosok yang centil dan genit. Menaruh perasaan pada sekretaris pribadi Sandara, Kim Jongin.

Park Hayeon (54 tahun)

Ibu tiri Sandara. Menikahi ayah Sandara setelah menjadi simpanan selama kurang lebih 5 tahun. Begitu membenci Sandara dan ingin menyingkirkannya.

Kang Seulgi (23 tahun)

Pelayan pribadi Sandara. Satu-satunya pelayan yang Sandara percayai untuk merawatnya. Ia adalah gadis yang lembut, perhatian dan tahu betul bagaimana menderitanya Sandara sejak kecil. Memiliki hubungan rahasia dengan kakak kandung Soojung –Jung Taekwoon.

Jung Taekwoon (25 tahun)

Kakak kandung Jung Soojung. Sosok yang hangat dan ramah pada siapapun. Pernah melakukan kesalahan pada Seulgi di masa lalu dan ia tak menyadarinya sama sekali.

Lee Seungri (25 tahun)

Teman dekat Jiyong. Sama-sama terjebak dalam gelapnya dunia prostitusi. Memiliki masalah dengan kekasihnya –Im Yoona yang selalu menuntutnya untuk segera menikah.

Im Yoona (25 tahun)

Kekasih Lee Seungri. Wanita karir yang sukses. Cinta pertamanya adalah Lee Seungri dan ia begitu terobsesi untuk menjadikan Seungri sebagai suaminya. Tak peduli dengan status pekerjaan sang kekasih.

Prolog:

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Park. Kala itu, sang kepala keluarga, Park Yoonmin, telah berpulang menghadap sang kuasa. Tak ayal isak tangis sang istri, Park Haeyon serta putri bungsunya, Park Jiyeon pecah sejak tadi pagi. Menyambut para tamu serta kolega yang datang dengan air mata kesedihan yang tak henti-hentinya menetes.

Semua orang merasa kehilangan sosok pemimpin nomor satu Jaeguk Group itu, kecuali satu orang. Seorang gadis yang sejak tadi hanya berdiri di pojokan ruangan dengan tatapan kosong yang menerawang. Sandara Park.

Heol, akting mereka buruk sekali. Bahkan anak kecil saja tahu jika mereka sedang berpura-pura sedih. Cara mereka menangis itu terlihat sangat berlebihan,” Gadis yang sejak tadi menemani Dara berdecak sebal. Disilangkannya tangannya di depan dada, membuat kesan angkuhnya jadi semakin terlihat.

“Bahkan sekalipun aku buta, aku tahu jika akting mereka buruk, Soojung. Mereka pasti terlihat menjijikkan sekarang,” Bibir Dara bergetar, tangannya mengepal keras menahan gemuruh amarah yang menyeruak di dadanya.

Sejak tadi hanya Dara yang terlihat tak menangis dari seluruh anggota keluarga Park Yoonmin. Padahal notabennya Dara adalah anak kandung dari Park Yoonmin, sementara Park Haeyon hanyalah istri kedua dan Park Jiyeon hanyalah anak tiri. Bukan karena Dara tak berduka, namun luka yang digoreskan sang ayah di hatinya masih terus menganga hingga sekarang. Dara hanya merasa kebenciannya pada sosok sang ayah masih belum juga mereda.

Terlalu banyak hal menyakitkan yang terjadi di kehidupan masa lalu Dara. Bagaimana sang ayah mengkhianati keluarga kecil mereka yang bahagia, berselingkuh dengan wanita lain, membuat sang istri –yang juga adalah ibu kandung Dara- pergi dari rumah dan yang menjadi korban atas semua keegoisan sang ayah tentunya adalah Dara sendiri.

“Eonnie, kau tak apa-apa?” Soojung menatap Dara dengan khawatir. Dilihatnya jika gadis yang usianya lebih tua tiga tahun darinya itu nampak getir. “Apa Eonnie sakit? Kalau begitu, kita pulang saja.”

“Tidak,” Dara buru-buru memotong ucapan Soojung. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa muak sekarang.”

“Eonnie—“

“Antarkan saja aku ke mobil. Aku akan istirahat di sana sampai acara pemakaman selesai.”

Suara dentuman musik menggema ke seluruh penjuru ruangan. Lampu kerlap-kerlip menyapa seorang pemuda bersurai jingga kala kedua tungkainya sampai di tempat hiburan malam terbesar di kota Seoul itu. Matanya beredar dengan liar, menelusuri tiap sudut tempat itu. Sesekali seulas senyum ia layangkan pada beberapa gadis seksi yang tertangkap oleh sorot matanya.

“Kau dimana?”

Sebaris pesan itu ia kirim pada seseorang setelah ia tak kunjung menemukan sosok yang ia cari.

“Di tempat biasa. Langsung naik ke lantai dua saja.”

Setelah menerima balasan, pemuda itu langsung menyeret langkahnya menuju lantai dua gedung itu. Tak lama ia telah sampai di tempat yang dimaksud. Seorang pemuda lain menyambutnya dengan seulas senyum sebelum akhirnya ia ikut mengempaskan bokongnya di sofa.

“Minumlah,” Pemuda yang sejak tadi menunggu itu menyodorkan segelas cairan berwarna merah pekat padanya.

“Terima kasih, Seunghyun-ssi,” Si pemuda bersurai jingga itu langsung menghabiskannya dalam sekali teguk –seperti seorang lelaki sejati. “Omong-omong, aku cukup kaget saat kau menghubungiku tadi. Kurasa ada suatu hal penting yang ingin kau bicarakan.”

Sang lawan bicara mengulas senyum lebar sebelum akhirnya meneguk habis minumannya juga, “Aku baru tahu jika Kwon Jiyong adalah orang yang seperti ini. Sangat to the point dan tak suka basa-basi.”

Pemuda bernama Kwon Jiyong itu terkekeh saat Seunghyun –yang notabenenya adalah teman sekaligus bosnya itu memukul pundaknya pelan.

“Hei, apa meniduri banyak gadis setiap malam membuatmu jadi kehilangan selera humor? Santai sajalah. Malam masih panjang, bung,” Seunghyun tergolak di kursinya.

“Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin cepat-cepat berburu saja. Bisa gawat ‘kan jika malam ini aku tak dapat mangsa. Aku masih punya cicilan apartemen dan mobil yang harus kulunasi, Seunghyun-ssi.”

Ucapan Jiyong itu sukses membuat Seunghyun semakin tertawa. Selera humor Jiyong memang tiada duanya.

“Tapi, Seunghyun, aku serius. Aku harus segera pergi. Kulihat di luar sana ada banyak gadis cantik yang frustasi. Mungkin aku bisa mendekati mereka. Mereka pasti akan membayarku dengan mahal.”

Aish, lupakan dulu masalah mangsa bodohmu itu. Aku punya pekerjaan yang lebih bagus daripada itu.”

Jiyong membenarkan posisi duduknya lalu melemparkan tatapan penasaran pada Seunghyun, “Pekerjaan apa? Apa ibu-ibu pejabat itu minta aku menemani mereka lagi?”

Aish, apa kau ketagihan bermain dengan ibu-ibu itu? Kurasa seleramu makin jelek sekarang,” Seunghyun menatap Jiyong dengan serius. “Seorang temanku di luar negeri menelpon. Ia menawariku sebuah pekerjaan. Awalnya ia ingin aku yang melakukannya, tapi setelah kupikir-pikir aku tidak cocok dengan pekerjaan itu.”

“Lalu?”

“Kupikir pekerjaan ini cocok kuberikan pada Seungri atau dirimu. Tapi setelah menimbang-nimbang, kurasa kau lebih cocok. Kudengar Seungri sedang dituntut untuk menikahi kekasihnya, benar ‘kan?”

“Ya, kudengar begitu. Pacarnya sama sekali tak mau melepaskan Seungri begitu saja. Aku heran, kenapa gadis secantik itu bisa tertarik dengan gigolo gila macam Seungri?”

“Itulah mengapa aku memilihmu untuk melakukan pekerjaan ini.”

Jiyong menganggukkan kepalanya pelan. Sejauh ini ia cukup paham dengan penjelasan Seunghyun, “Bagaimana bayarannya? Besar atau tidak?”

“Masalah bayaran kau tidak perlu khawatir. Temanku itu adalah anak orang kaya. Dia akan membayarmu berapapun yang kau minta.”

“Woah, itu bagus. Omong-omong, sejak tadi kau tidak menyebut dengan jelas pekerajaan apa yang harus aku lakukan. Aku jadi penasaran.”

Seunghyun kembali tersenyum lalu menuangkan kembali gelas milik Jiyong yang telah kosong, “Pekerjaannya tidak susah kok, hanya sedikit beresiko. Yah, sesuailah dengan bayaran yang kau terima.”

Mendadak Jiyong merasa tak enak. Setahunya, semua pekerjaan yang beresiko, takkan bisa dilakukan dengan mudah. Nampaknya Seunghyun salah memberikan analogi untuknya. Detik berikutnya, Seunghyun memberikan isyarat agar Jiyong segera menegak minumannya. Tanpa banyak bicara, Jiyong segera menyambar gelasnya lalu meneguk isinya dengan sekali tarikan napas.

“Pekerjaanmu adalah kawin kontrak.”

“Apa?”

Sial! Hampir saja Jiyong menyembur wajah Seunghyun dengan wine yang ada di mulutnya.

Orang-orang menjuluki Dara sebagai Putri Salju. Gadis itu memiliki wajah yang cantik, otak yang cerdas serta menjadi ujung tombak Jaeguk Group –menggantikan posisi sang ayah selama beliau sakit. Sikapnya sangat tegas. Bahkan banyak yang menyebutnya berhati dingin karena penampilan dan kepribadiannya sangat bertolak belakang. Jika orang-orang tak mengenalnya, mungkin tak ada yang mengira jika Dara adalah seorang tunanetra.

Terdengar sedikit gila awalnya –bagaimana mungkin perusahaan sebesar Jaeguk Group dipimpin oleh seorang presdir yang buta- namun seiring berjalannya waktu, Dara berhasil membuktikan diri bahwa ia mampu memimpin perusahaan keluarganya itu. Dengan intuisi, kecakapan dan kelihaiannya dalam berbisnis, ia mampu membuat Jaeguk Group maju dalam segala aspek tanpa adanya campur tangan sang ayah.

Dara mengalami kebutaan saat usianya menginjak sepuluh tahun. Ia sendiri tak ingat pasti apa yang terjadi saat itu. Yang ia ingat, ia hanya menangis selama seminggu tanpa henti ketika sang ibu pergi meninggalkan rumah dan saat ia bangun, ia sudah berada di rumah sakit dan menjadi buta. Ia tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Menjadi seorang tunanetra tentulah berat bagi seorang gadis kecil seperti Dara. Ia menjadi sosok yang tertutup dan lebih senang menyendiri.

Saat usianya menginjak lima belas tahun sang ayah resmi menikahi seorang wanita bernama Park Haeyon. Dara percaya bahwa sang ayah benar-benar telah melupakannya. Rasa benci mulai menjalar dalam darahnya. Ia benci ayahnya, juga keluarga tirinya yang ia ketahui hanya mengincar harta kekayaan sang ayah. Sejak saat itu, Dara bertekad, ia takkan jadi gadis lemah lagi. Apapun yang terjadi, ia akan jadi kuat untuk melawan keluarga tirinya yang gila akan harta.

“Ah, eyeliner-ku. Eomma, eyeliner-ku luntur.”

“Benarkah? Cepat bersihkan. Ini tisunya.”

Suasana yang semula tenang mendadak berubah riuh kala pasangan ibu dan anak itu memasuki mobil. Dara yang duduk di kursi belakang hanya diam, membiarkan ibu serta adik tirinya itu bertingkah heboh. Bagaimana pun ia tahu, bersandiwara di depan orang-orang selama lima jam penuh bukan perkara yang mudah. Jadi wajar saja ‘kan jika sekarang kedua orang itu akan jadi heboh sendiri?

Mobil sedan berwarna hitam itu perlahan melaju di jalanan, meninggalkan gedung tempat pemakaman menuju kediaman keluarga Park. Jiyeon dan ibunya masih saja sibuk berbincang, mengabaikan eksistensi Dara yang sejak tadi hanya diam, melempar tatapan ke luar jendela, seolah ia adalah orang normal yang bisa melihat pemandangan kota Seoul yang indah.

“Hari ini melelahkan sekali.”

Suara Ny. Park memecah keheningan yang tercipta sejak tadi.

“Eomma, bagaimana kalau kita makan seafood malam ini? Aku merasa lapar karena terus menangisi ayah.”

Kini Jiyeon juga ikut bergabung dalam obrolan Ibunya.

“Itu ide bagus. Dara-ya, apa kau mau ikut kami makan seafood? Eomma dengar kau senang makan seafood, ikutlah dengan kami,” Ny. Park bertanya dengan nada manis yang dibuat-buat. Tak peduli dengan tatapan sinis yang ia layangkan pada Dara, toh gadis itu buta –begitu pikirnya.

“Tidak. Lagipula aku tidak menangis seperti kalian, jadi energiku masih banyak. Makanlah yang banyak karena kalian masih harus bersandiwara lagi di depan pengacara dan notaris saat pembacaan surat warisan.”

Ucapan Dara itu sukses menusuk hati ibu dan adik tirinya.

“Sialan!” Bahkan Jiyeon sempat mengumpat meskipun dengan suara super kecil.

Dara tahu betul mulai saat ini, peperangan yang sesungguhnya akan segera di mulai.

Tepat dua minggu setelah kematian Park Yoonmin, pembacaan surat wasiat pun dilakukan. Ny. Park menyambut kedatangan Tuan Han –pengacara keluarga Park serta Tuan Kwak –notaris pribadi keluarga Park hari itu.

“Senang bertemu dengan kalian. Duduklah, sebentar lagi yang lain akan segera datang,” Ny. Park mempersilahkan kedua lelaki itu duduk di ruang tamu.

“Ini siapa? Park Jiyeon-kah? Aigoo, semakin dewasa dia semakin cantik,” Tuan Han menatap Jiyeon yang sejak tadi menemani ibunya.

“Ah, terimakasih, ahjussi,” Jiyeon tersenyum ramah lalu mengambil tempat duduk di sebelah ibunya.

“Kudengar Soojin baru akan tiba di Seoul malam ini, apa tidak apa-apa jika kita membacakan surat wasiat ini tanpa dirinya? Mendiang presdir berpesan untuk membacakannya di depan seluruh anggota keluarga,” tanya Tuan Kwak.

“Ah, tidak apa-apa. Aku sudah mengabarinya dan dia bilang cukup diriku dan Jiyeon yang mewakilinya. Apapun isi dari surat wasiat suamiku, ia pasti akan menyetujuinya,” sahut Ny. Park.

“Baiklah. Kalau begitu, kita tinggal menunggu kedatangan Nona Dara dan Sekretaris Kim saja.”

Tak lama sosok lain datang. Pemuda dengan setelan jas abu-abu itu memasuki area ruang tamu. Ny. Park langsung menyambutnya dengan ramah.

“Ah, Kim Jongin-ssi, selamat datang,” Ucap Ny. Park dengan riang.

“Maaf jika aku sedikit terlambat,” Ucap pemuda sambil menundukkan badannya. “Aku punya beberapa urusan yang harus kuselesaikan tadi.”

“Tidak apa-apa. Kami juga baru datang,” Sahut Tuan Han.

“Tidak apa-apa, Oppa. Kami tahu oppa pasti sangat sibuk. Duduklah,” Jiyeon langsung mempersilahkan Jongin untuk duduk. Sesekali ia melempar tatapan genit pada pemuda itu. Jelas terlihat jika ia menyukai Jongin.

“Oh, Nona Dara belum datang?” Jongin bertanya kala tak didapatinya Dara di sana.

“Ah, kurasa dia masih bersiap-siap. Dia pasti akan segera datang.”

Ucapan Ny. Park memang benar. Tepat setelah itu, Dara datang. Ia nampak menuruni anak tangga sambil dituntun oleh Seulgi –pelayan pribadi yang selama ini merawatnya. Tuan Han, Tuan Kwak dan Jongin langsung menundukkan badan mereka, memberi hormat pada Dara.

“Apa semuanya telah berkumpul?” Tanya Dara setelah Seulgi mendudukkannya di samping Jongin.

“Ne, Bujangnim. Saya sudah datang bersama Tuan Kwak selaku notaris,” Sahut Tuan Han.

“Baguslah. Tidak usah banyak basa-basi langsung saja bacakan surat wasiatnya.”

Sikap dingin Dara itu langsung membuat semuanya menghela napas panjang.

“Dia benar-benar,” Jiyeon bergumam kesal.

“Baiklah. Untuk mempersingkat waktu, sesuai keinginan Nona Dara, saya akan segera membacakan surat wasiat yang telah dibuat mendiang Presdir sebelum beliau meninggal,” Tuan Kwak membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat besar. Ia menunjukkannya pada Tuan Han dan Jongin agar mereka bisa mengecek keabsahan segel surat wasiat itu. “Seperti yang kita lihat, suratnya masih tersegel dengan rapi dan selama ini surat wasiat ini disimpan dalam brankas perusahaan. Jadi, tak ada siapapun yang bisa merubah atau memalsukan surat wasiat ini. Saya akan segera membacakannya.”

Pelan-pelan Tuan Kwak merobek amplop tersebut lalu membuka surat yang ada di dalamnya. Ia terdiam sejemang, menarik napas dalam lalu mulai membacakan isi surat itu, “Kepada seluruh anggota keluarga Park yang sangat kucintai. Ketika surat ini dibacakan, kuharap kalian semua baik-baik saja. Saya memohon maaf atas segala kesalahan yang saya lakukan selama saya hidup. Dengan ini saya menulis surat wasiat ini untuk dibacakan di depan  seluruh anggota keluarga. Seperti yang kalian tahu seluruh saham perusahaan, resort, rumah dan aset kekayaan lainnya telah kuwasiatkan kepada seluruh anggota keluarga yang masih hidup sebagai peninggalanku sebelum aku meninggal. Kuharap kalian dapat menerima keputusanku dengan besar hati.

Saya menyatakan akan membagi aset-aset kekayaan itu sebanyak 80% kepada anak kandung saya, Park Dara, meliputi aset perusahaan, resort dan bidang bisnis lainnya, sementara kepada istri, Park Haeyon berserta anak-anaknya, akan diberikan 20%, meliputi hak tanah, rumah serta fasilitas lainnya. Kuharap anakku, Dara bisa memimpin Jaeguk Group dengan baik. Demikian surat ini dibuat oleh saya, Park Yoonmin, dengan keadaan sadar dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Terimakasih.”

Seulas senyum tercipta di wajah Dara. Dugaannya benar, ayahnya pasti akan mewarisi harta kekayaannya lebih banyak pada dirinya, termasuk dengan aset perusahaan. Sekarang ia tinggal memikirkan bagaimana mendepak keluarga tirinya dari rumah.

“Baiklah, suratnya telah selesai kubacakan. Kurasa sekarang—“ Ucapan Tuan Kwak terhenti saat selembar kertas lain yang tersalip di dalam amplop jatuh ke lantai. “Ini apa?” Ia bertanya dengan heran. Begitu pun dengan yang lain.

Pelan-pelan ia membuka lipatan kertas itu dan membacanya dengan seksama, “Surat Wasiat tambahan?” Keningnya nampak berkerut.

“Apa? Surat wasiat tambahan?” Tuan Han juga ikut terlihat kaget.

“Apa hal semacam itu mungkin terjadi?” Kini giliran Jongin yang bersuara. Sementara Dara masih duduk dengan tenang di tempatnya.

“Sebentar. Izinkan saya untuk membacakannya,” Tuan Kwak mulai membaca lagi surat yang ada di tangannya. “Surat wasiat tambahan ini saya buat seminggu setelah surat warisan utama saya tulis. Setelah menimbang-nimbang tentang pembagian harta warisan pada keluarga, saya merasa mungkin akan ada ketegangan antar anggota keluarga. Oleh karena itu, surat ini saya tulis belakangan. Mengingat saya masih memiliki seorang istri, saya memutuskan untuk menyerahkan hak asuh putri kandung saya, Sandara Park kepada dirinya. Saya juga mengizinkan beliau untuk mencarikan pasangan hidup bagi putri saya. Hingga putri saya memiliki pasangan hidup, hak warisnya atas aset kekayaan saya akan dibekukan sementara. Semua hak waris akan menjadi sah saat ia telah menikah dengan orang pilihan istri saya.”

Ekspresi kaget nampak di wajah semua orang yang berada di sana, kecuali satu orang. Dara. Gadis itu masih nampak tenang.

“Baiklah. Sepertinya perang sesungguhnya baru saja di mulai,” Gumam Dara dalam hatinya.

“Apa? Kawin kontrak?”

Ekspresi Seungri kali ini sukses membuat Jiyong kembali bernostalgia dengan ekspresinya semalam. Persis sama. Bagaimana Seunghyun dengan santai menawarkannya sebuah pekerjaan yang—haruskah ia sebut ini gila? Ia rasa ini lebih dari sekedar gila. Seumur-umur Jiyong terjebak dalam lingkaran hitam dunia malam, tak pernah sekalipun ia berpikir untuk terlibat dalam pekerjaan semacam itu. Bukan karena pekerjaan itu hina –karena sesungguhnya pekerjaannya sekarang saja sudah jauh lebih hina, namun resikonya cukup besar.

Bagi Jiyong, pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan seenaknya. Pernikahan adalah prosesi yang sakral. Bukankah janji pernikahan itu diucapkan di depan Tuhan? Itu artinya kau bukan lagi berjanji di depan manusia, tapi di depan sang Maha Pencipta. Jiyong paham betul akan hal itu.

“Bagaimana? Ini gila ‘kan?” Jiyong kembali meneguk wine yang ada di gelasnya.

Seungri menghela napas panjang, “Ini sangat gila. Maksudku, bagaimana bisa Seunghyun-hyung menawarimu pekerjaan semacam ini?”

“Dia bilang bayarannya besar.”

“Ya tentu saja bayarannya harus besar. Siapa yang mau terlibat dalam kawin kontrak jika bayarannya tidak besar?” Seungri menyambar gelas miliknya lalu meneguk isinya. “Kita memang orang hina. Aku sangat mengakui hal itu, tapi kita bukan orang yang bisa dengan mudah bermain dengan yang namanya pernikahan.”

Jiyong terkekeh. Entah kenapa ucapan Seungri barusan cukup terdengar menggelikan di telinganya, “Oh, jadi selama ini, itu alasanmu menghindar untuk menikahi Yoona?”

“Ah hyung, jangan memulainya lagi. Aku sedang tidak ingin membahasnya,” Seungri merengut kesal. “Fokus saja pada masalah tawaran Seunghyun-hyung tadi. Tawarannya cukup menggiurkan sih. Apa hyung sudah menerimanya?”

“Tidak. Aku minta waktu untuk berpikir. Lagipula aku belum melihat klien kami. Kau tahu ‘kan aku  tidak mengencani wanita sembarangan?”

Kini giliran Seungri yang terkekeh. Apa Jiyong baru saja mencoba mengangkat derajat gigolo seperti mereka? “Kalau begitu minta Seunghyun-hyung mengirim fotonya. Masalah seperti ini tidak bisa dibiarkan lama-lama, kau harus segera memberi kepastian.”

“Aku tahu. Aku sudah memintanya dan ia akan segera mengirimnya.”

Tepat setelah Jiyong berucap demikian, ponselnya di saku bergetar. Ia buru-buru mengambilnya. Ditemukannya sebuah lampiran foto yang dikirimkan Seunghyun padanya. Beberapa detik ia menunggu hingga akhirnya sebuah foto terpampang dengan jelas di layarnya. Jiyong terdiam sejenak kala sepasang maniknya menatap foto seorang gadis yang ada di layar ponselnya.

“Dia…”

Seungri mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah Jiyong, “Hyung, ada apa?”

Jiyong buru-buru mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku. Entah kenapa mendadak semua laci-laci memorinya terbuka saat itu. Memori yang telah lama ia lalui, bahkan hampir saja ia lupakan.

“Seungri-ah—“ Kali ini Jiyong menatap Seungri dengan serius. “—Kurasa aku akan menerima pekerjaan itu.”

-Prolog : END-

 

Maaf atas kelancangan ini para readers setia DGI

Ini pertama kalinya aku kirim FF ke sini, tapi aku sudah lancang membuat Mas Jiyong (plus Mas Seungri juga) jadi gigolo gak jelas begini T_T

Jangan dibawa serius, ini untuk keperluan FF aja kok guys :”

Oh ya, kayak yang diliat di atas ini FF Cast-nya keroyokan banget cem orang lagi ngerjar copet (?)

Di sini tiap Cast punya konflik masing-masing, tapi tenang aja ceritanya tetep bakal fokus ke uri-couple-kesayangan kok J

Anggap aja konflik dari cast lain itu sebagai pemanis dalam FF ini

Menurut kalian, apakah FF ini layak untuk dilanjutkan?

 

 

-Hana from 96L /salam kenal guys^^

 

 

(N.p : SNEEUWWITJE (bahasa Belanda) artinya SNOW WHITE a.k.a Putri Salju)

 

Advertisements

24 thoughts on “SNEEUWWITJE [INTRODUCTION+PROLOG]

  1. Sukaakkk😍 ini kepribadian dara yg aku suka. Meskipun dia nggak sempurna karena buta tapi dia punya pemikiran yg cerdas gitu. Kira kira siapa sih cewek di foto itu? Dara kah? atau malah orang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s