Gonna Get Better [Chap. 14]

untitled-1

.

.

“Aku tidak akan mengikuti apa yang kau katakan, bagaimana bisa aku berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah dengan hubungan kita setelah malam itu?” 

     “Tapi Jiyong ini yang terbaik yang bisa kita lakukan,”

            “Aku tidak mau melakukan hal itu, jika kau mau bersikap seperti biasa maka silahkan lakukan, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa aku mencintaimu dengan sangat tulus, bahwa aku serius ketika aku mengatakan bahwa aku ingin memilikimu di hidupku, aku akan berhenti berkencan dengan wanita lain mulai saat ini, aku akan terus mengatakan tiga kata itu sampai kau tidak punya alasan untuk menolakku lagi.”

.

.

     Dara  tidak mampu mengatakan sepatah kata pun setelah mendengar Jiyong mengatakan bahwa pria itu tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan cinta Dara. Dadanya bergetar dengan sangat hebat saat Jiyong memohon supaya Dara mengizinkan dirinya untuk mencintai Dara, untuk membuktikan bahwa dia mampu membuat wanita itu bahagia. Yang bisa Dara lakukan hanyalah menatap mata Jiyong yang saat itu menatap matanya dengan sangat intens seolah ingin menunjukkan semua kesuangguhan yang dia punya dengan tatapan matanya itu.

     “Aku harus kembali ke ruanganku,” ujar Dara akhirnya setelah beberapa saat. “Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Sambungnya lagi kini sambil berbalik dengan sedikit canggung.

     “Oh baiklah.” Dara mendengar suara Jiyong.

     “Terimakasih untuk kopinya.” Ujarnya lagi sebelum dia berjalan meninggalkan pantry tanpa menatap Jiyong. Dara tidak bisa menatap Jiyong karena dia takut pria itu bisa membaca apa yang saat ini Dara pikirkan. Sepanjang perjalanan menuju ruangannya Dara terus saja mengatur napasnya, tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan sangat cepat karena tatapan mata Jiyong yang berhasil membuatnya meleleh.

     “Sadarkan dirimu Dara!” ujar Dara pada dirinya sendiri. “Sadarkan dirimu jika kau tidak ingin terluka lagi.” ujarnya lagi kini sambil memukuli kepalanya yang terus mengulang semua yang pria itu katakan tadi.

****

     Dara sama sekali tidak bisa memfokuskan pikirannya pada apa yang sedang dia kerjakan setelah kejadian pagi tadi, banyak pekerjaan yang dia lewatkan karena semua perhatiannya teralihkan pada semua yang Jiyong katakan, dia bahkan tidak mendengarkan semua yang Bom ceritakan kepadanya sepanjang jam makan siang.

     “Sandara!” Dara sedikit tersentak ketika dia mendengar suara keras bosnya. Wanita itu langsung kembali dari lamunannya dan sadar bahwa sekarang dia sedang berada di ruang rapat bersama dengan bos dan rekan kerjanya yang lain untuk mendiskusikan sesuatu.

     “Ne?” Tanyanya langsung sambil mengalihkan perhatiannya kepada Bosnya yang saat ini sedang menatapnya tajam.

     “Apa yang sedang kau pikirkan huh? Aku kau tidak mengikuti jalannya rapat?” tanya Bosnya yang terlihat sedikit kesal, Dara menundukkan kepalanya untuk meminta maaf.

     “Jwesonghamnida,” ujar Dara dengan sedikit menyesal.

     “Apa kau sedang ada masalah?” tanya Bosnya lagi yang Dara langsung balas dengan gelengan kepala.

     “Aku tadi hanya sedikit lelah,”

     “Aku tidak peduli kau lelah atau tidak, jika sedang bekerja apalagi jika sedang rapat seperti ini aku harap pikiranmu tidak boleh ke mana-mana. Jika kau ingin melamun sebaiknya kau pulang saja ke rumahmu dan tulis surat pengunduran dirimu.” Ujar bosnya lagi dengan sedikit nada mengintimidasi dan hal itu membuat Dara menjadi sedikit tidak enak dan malu di saat yang bersamaan karena ini adalah pertama kalinya dia dimarahi oleh bosnya terutama di depan rekan kerjanya yang lain.

     “mianhamnida daepyo-nim.” Ujar Dara lagi sambil kembali menundukkan kepalanya. Dara mendengar bosnya sedikit bergumam kesal dan itu membuatnya kembali merasa tidak enak.

     “Daepyonim kenapa kau marah-marah seperti ini?” Dara langsung menoleh pada seseorang yang duduk di sampingnya lalu sedikit terkejut ketika melihat Jiyong  yang telah duduk di kursi itu karena sebelumnya dia tidak sadar bahwa mereka ternyata duduk bersebelahan. Dara terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga dia tidak menyadari hal-hal lain. “Sebaiknya kita lanjutkan saja rapatnya karena sebentar lagi jam kantor akan segera berakhir.” Sambung Jiyong.

     “Kau benar!” ujar bosnya yang setuju dengan apa yang Jiyong katakan dan hal itu membuat Dara sedikit bernapas lega karena kali ini Jiyong telah menyelamatkan dirinya dari bosnya yang terkenal bisa mengamuk jika ada karyawan yang tidak fokus dalam melakukan pekerjaan. “Kita lanjutkan rapatnya…” Dara langsung mematung saat tiba-tiba dia merasakan sentuhan lembut dan hangat pada telapak tangannya.

     Dia menundukkan kepalanya lalu melihat Jiyong kini telah menggenggam tangannya lalu meremasnya dengan lembut, Dara tahu bahwa Jiyong sedang berusaha membuatnya merasa lebih baik dan melupakan kejadian memalukan barusan. Tanpa bisa dia cegah sebuah senyuman simpul kini telah tersungging di sudut bibirnya karena apa yang Jiyong lakukan ini. Selama beberapa saat tangan Jiyong terus meremas tangannya dan Dara juga tidak mencoba untuk melepaskan tangan itu.

     “..Dara bagaimana menurutmu?” Dara langsung kembali tersadar setelah mendengar lagi suara bosnya, dia sedikit merutuk dalam hati karena dia kembali tidak fokus pada jalannya rapat dan dia sama sekali tidak tahu tentang apa yang bosnya tanyakan. Dara akan menjawab pertanyaan bosnya itu saat tiba-tiba dia mendengar suara Jiyong lalu beberapa detik kemudian dia merasakan Jiyong telah melepaskan tangannya.

     “Dara pasti setuju, Benarkan?” Dara langsung mengalihkan perhatiannya saat dia merasakan bahwa Jiyong kini menoleh kepadanya. Dara yang tidak ingin dimarahi lagi langsung menganggukkan kepalanya padahal dia sama sekali tidak punya petunjuk tentang apa yang sedang mereka bicarakan.

     “Ne aku setuju daepyonim.” Ujar Dara sambil mengangguk lalu tersenyum kepada bosnya itu.

     “Baiklah kalau begitu aku juga setuju.” Ujar bosnya lagi sambil mengangguk. “Aku tadinya akan mengirimkan tiga orang tapi karena kalian yang akan pergi jadi aku memutuskan sebaiknya hanya kalian saja, aku yakin kalian pasti bisa melakukannya. Lakukan yang terbaik yang kalian bisa dan ingat aku akan memberikan bonus yang lebih besar dari sebelumnya jika projek ini berjalan lancar.” Ujar Bosnya yang membuat Dara sedikit bingung tapi dia hanya menganggukkan kepalanya seolah dia mengerti dengan semua yang bosnya katakan. “Dan Jiyong ingat bahwa ini adalah kesempatanmu untuk naik pangkat.” Ujar bosnya lagi kini sambil menatap Jiyong, Dara kembali melirik Jiyong yang kini sedang mengangguk sambil tersenyum lebar.

     “Aku pasti akan melakukan yang terbaik karena ini mungkin satu-satunya kesempatanku.” Ujar Jiyong dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.

     “Kalau begitu rapatnya selesai, kalian semua boleh pulang kecuali Jiyong dan Dara karena kita masih memiliki banyak hal untuk dibicarakan.”

     “Okay bos.” Ujar Jiyong dengan suara riang yang membuat Dara sedikit mengerutkan keningnya. Dara mulai berpikir apa yang membuat Jiyong bisa sesenang itu? apa karena dia akan naik pangkat jika projek ini berhasil? Tapi projek apa yang harus mereka berdua lakukan?

     “Kalian berdua temui aku di ruanganku lima belas menit lagi.” Dara kembali mendengar suara bosnya ketika dia akan berdiri. Dara hanya mengangguk kemudian bosnya berjalan keluar dari ruangan rapat diikuti oleh rekan kerjanya yang lain. kini yang tersisa hanya Jiyong dan dirinya.

     “Jiyong!” panggil Dara pelan ketika Jiyong juga akan berjalan keluar.

     “Yah?” tanya Jiyong masih dengan senyuman lebarnya.

     “Sebenarnya apa yang akan kita lakukan? projek apa yang bos maksud? aku sama sekali tidak tahu karena aku tidak fokus pada rapat tadi.” ujarnya yang membuat Jiyong semakin tersenyum lebar.

     “Apa kau tidak bisa fokus pada rapat tadi karena kau terus memikirkanku setelah apa yang aku katakan tadi pagi?” Tanya Jiyong sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Kau pasti tidak menyangka bahwa aku akan berkata seperti itu kepada seorang wanita, kan?” tanya Jiyong lagi yang membuat Dara memutar bola matanya seolah dia tidak peduli dengan apa yang terjadi tadi pagi padahal di dalam hatinya dia sedang berusaha untuk mengontrol mimik mukanya supaya bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya dia pikirkan.

     “Oh please kau itu terlalu percaya diri.” Ujar Dara sambil berdecak dan hal itu membuat Jiyong tertawa renyah. “Kau belum menjawab pertanyaanku.” Kata Dara lagi saat mereka berjalan bersama untuk menuju ruangan mereka masing-masing. “Apa yang akan kita berdua lakukan untuk projek ini?”

     “Kita akan pergi ke Jeju untuk mengikuti tender yang beberapa bulan telah aku kerjakan.” Ujar Jiyong yang membuat Dara langsung berhenti berjalan. “Kau akan membantuku untuk memenangkan tender itu.”

     “Kita pergi ke Jeju?” Tanya Dara dengan sedikit terkejut, Jiyong menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Dara. “Hanya berdua?” tanyanya lagi yang kali ini Jiyong balas dengan senyuman penuh arti.

     “Bukan hanya itu, kita bahkan akan berada di sana selama  beberapa hari.” Ujar Jiyong lagi yang membuat Dara langsung membuka matanya dengan sangat lebar. “Jangan terkejut seperti itu, kau kan sudah setuju.”

     “Yah ini curang! Aku tidak tahu apapun, kau tahu aku tidak ingin bos memarahiku lagi makanya aku mengangguk.” Ujar Dara yang hanya Jiyong balas dengan mengedikan bahunya. “Kau pasti sengaja melakukan hal ini, kan?”

     “Sengaja atau tidak yang pasti kau sudah setuju kita pergi bersama.” Ujar Jiyong riang. “Aku mohon bantu aku untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik.”  Ujar Jiyong dengan senyuman penuh arti dan hal ini membuat Dara mengingat sesuatu. Dara akhirnya tahu kenapa Jiyong terlihat sangat senang dan bahagia selama rapat tadi.

     “Apa yang kau maksud dengan kesempatan itu adalah kesempatan untuk menjadi kekasihku?” tanya Dara yang hanya Jiyong balas dengan senyuman menggoda. “Yah aku kan sudah menolakmu! Kenapa kau gigih sekali sih?” ujar Dara yang hanya Jiyong balas dengan gelengan.

     “Tunggu saja! aku akan membuktikan bahwa kau sebenarnya menyukaiku sebagai seorang pria bukan hanya sebagai sahabatmu. Aku akan membuatmu mengatakan tiga kata itu cepat atau lambat dan aku sangat yakin bahwa setelah kembali ke Seoul statusmu itu pasti sudah berubah menjadi kekasihku.”

     “Aigoo tingkat kepercayaan dirimu itu sudah sangat parah.” Ujar Dara sambil memutar bola matanya yang Jiyong balas dengan kembali mengedikkan bahu.

     “Tunggu dan lihatlah!” ujar Jiyong kini dengan sebuah smirk, dia berbalik kemudian berjalan meninggalkan Dara.

     “Aish dia sama sekali tidak mau menyerah!” ujar Dara ketika melihat punggung Jiyong yang mulai menjauh tapi tiba-tiba saja Dara tersenyum dengan kenyataan ini, kenyataan bahwa Jiyong sama sekali tidak ingin menyerah kepadanya membuat hatinya berdebar dengan sangat hebat, hal ini membuat Dara untuk pertama kalinya merasa sangat diinginkan. “Baiklah ayo kita lihat apa keyakinanmu itu benar? Lagipula aku ingin melihat sampai seberapa jauh kau akan berjuang untuk meyakinkanku.” Gumamnya pelan sebelum kembali berjalan.

Dara Pov

     Aku menggigil begitu membuka pintu rumah ku. Secara refleks aku mengeratkan jaket yang aku kenakan setelah menutup pintu lalu mengambil koper kemudian menyeretnya sambil berjalan. Angin malam mulai menerpa wajahku dan itu terasa sangat dingin yang berhasil membuat tubuhku semakin menggigil.

     “Kenapa malam ini sangat dingin sih?” gumamku sambil berjalan kemudian aku membuka pintu gerbang dan saat itulah aku melihat Jiyong yang sedang duduk di kap mobil. Dia langsung mendongkak ketika mendengar suara gerbang kemudian dia menatapku selama beberapa saat lalu tersenyum hangat. Semua rasa dingin yang tadi aku rasakan kini langsung hilang ketika melihat senyuman Jiyong, senyuman yang entah sejak kapan terasa begitu menenangkan dan menyejukkan.

     Aku melihat dia berdiri lalu berjalan ke arahku yang saat ini sedang berdiri di depan gerbang rumahku sendiri. Tatapanku tidak aku lepaskan dari dirinya, mengikuti semua gerakannya dengan mataku ini. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana khaki yang dia pakai. Dia memakai celana khaki selutut dan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku dia juga memakai beanie berwarna merah muda yang sangat cocok untuknya, and he’s very manly with that outfits. Aku memperhatikannya dan udara di sekitarku  tiba-tiba terasa lenyap ketika matanya menatap tepat pada manik mataku.

     “Hai, beautiful.” Aku mendengar suara Jiyong sesaat setelah dia berdiri tepat di hadapanku. Aku hanya menatapnya selama beberapa saat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada diriku namun yang pasti aku terpesona dengan penampilan Jiyong itu. Apa dia memang selalu terlihat seperti ini? apa aku tidak pernah menyadarinya selama ini? “Dara?” ujar Jiyong lagi yang kali ini berhasil membuyarkan semua yang aku pikirkan tentang penampilannya.

     “Hai, gant..Ji” Sapaku sambil tersenyum sedikit canggung karena hampir saja lidahku ini akan mengatakan kata-kata yang pasti akan membuatku sangat senang. Duh Dara kau hampir saja salah bicara!

     “Wae? Apa kau baru sadar bahwa aku ini sangat tampan?” ujar Jiyong kini dengan sebuah smirk. Aku hanya memutar bola mata mendengar apa yang dia katakan itu. “Kau baru saja akan memanggilku ganteng.” Katanya lagi.

     “Aku menyebutmu ganteng? Oh please jangan bermimpi!” ujarku sambil menggelengkan kepalaku.

     “Kenapa kau menyangkal?”

     “Aku tidak menyangkal dan aku juga tidak berniat memanggilmu ganteng atau apapun. Kau masih si brengsek bagiku.” Ujarku lagi yang kini hanya dibalas dengusan oleh Jiyong. “Kau sudah menunggu dari tadi?” tanyaku setelah beberapa saat yang Jiyong balas dengan gelengan.

     “Aku baru sampai beberapa menit yang lalu.” Ujarnya. “Kau sudah siap?” tanya Jiyong yang aku balas dengan mengangguk. Aku akan berjalan sambil membawa koperku saat tiba-tiba saja aku merasakan Jiyong menahan tanganku.

     “Biar aku saja yang membawa ini.” ujar Jiyong sambil melepaskan tanganku yang masih memegang koper. Aku melepaskan koper itu lalu kini berjalan bersama Jiyong menuju mobil kantor yang telah menunggu beberapa kangkah di depan kami.

     “Hai unnie,” aku langsung mendengar suara seorang wanita saat aku membuka pintu mobil itu. aku melebarkan mata dan sadar bahwa Tiffany kini sedang duduk di dalam mobil.

     “Yah apa yang kau lakukan di sana?” tanyaku langsung kepadanya.

     “Aku asistennya Jiyong oppa selama dia mengerjakan tender ini jadi sudah pasti aku ikut. Kenapa kau terkejut begitu?” ujarnya sebelum mendelik, aku sedikit mengumpat sebelum menutup lagi pintu mobil itu lalu berjalan menghampiri Jiyong yang sedang menyiman koper milikku di bagasi.

     “Yah Jiyong kenapa wanita itu ikut?” tanyaku ketika Jiyong menutup pintu bagasi. “Kenapa wanita itu ikut?” tanyaku lagi ketika dia menatapku bingung.

     “Tiffany?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan.

     “Kenapa ada wanita itu di dalam mobil?”

     “Tadi siang bos memintaku untuk membawanya sehingga dia bisa belajar dari kita dan lagipula dia asistenku jadi aku pikir dia harus ikut karena dia tahu semua hal yang berkaitan dengan tender ini.”

     “Aku pikir hanya kita berdua yang pergi.” Kataku sambil sedikit merenggut.

     “Wae?” tanyanya. “Kenapa kau sangat kecewa karena kita tidak jadi pergi berdua?” tanyanya lagi lalu tiba-tiba dia tersenyum penuh arti. “Apa kau kecewa karena itu berarti kita tidak bisa menghabiskan waktu berdua saja? apa kau sudah mulai menyadari bahwa kau itu menyukaiku?” ujarnya yang membuatku langsung menatapnya.

     “B-bukan itu maksudku.” Ujarku dengan sedikit terbata. Aku memang kecewa tapi Jiyong tidak boleh tahu alasannya. “Kau tahu aku sangat tidak suka dengannya, kau tahu aku bahkan tidak bisa duduk dalam satu ruangan dengan wanita itu.” ujarku memberi alasan.

     “Aigoo kau selalu saja menyangkal.” Ujarnya sambil berdecak. “Pokoknya dia akan ikut, lupakan dulu masalah kalian. Kali ini aku terpaksa harus membiarkan kalian berada dalam jarak terdekat.” Ujar Jiyong yang aku balas dengan dengusan. “Sekarang masuklah!” ujar Jiyong sambil berjalan kemudian membukakan pintu mobil untukku.

     “Apa kau menyuruhku untuk duduk di kursi depan?” tanyaku yang dia balas dengan anggukan. “Lalu kau duduk di mana? Dengan wanita itu?” tanyaku yang kembali dia balas dengan anggukan. “Yah kenapa kau ingin duduk bersamanya? Apa kau menyukainya?”

     “Aigoo babe!” Ujar Jiyong sambil sedikit tertawa, ada perasaan hangat yang aku rasakan saat aku mendengar dia menyebutku dengan panggilan itu. Dia biasa memanggilku dengan sebutan itu sebelumnya namun entah kenapa kali ini terasa sangat berbeda, aku merasa menjadi seseorang yang sangat spesial untuknya. “Aku tidak tahu bahwa kau akan terlihat menggemaskan ketika sedang cemburu seperti ini.” ujarnya lagi yang membuatku menatapnya dengan mata yang dibuka lebar namun dia malah berdecak kemudian tersenyum.

     “Jiyong aku tidak cemburu.” Ujarku dengan sedikit terbata. “Aku hanya ing..”

     “Kau bilang kau tidak bisa duduk dalam satu ruangan dengan Tiffany, kan? Aku hanya melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Aku menyuruhmu duduk di depan karena aku tahu kau tidak suka duduk bersebelahan dengannya. Aku tidak menyukainya, aku melakukannya untukmu Dara.” ujar Jiyong yang membuatku langsung menutup mulut. “Jadi jangan cemburu, arasseo? Aku hanya menyukaimu, hanya kau seorang.” Katanya sambil tersenyum yang membuatku kembali mematung. “Sekarang masuklah ke dalam mobil sebelum kita berdua membeku karena kedinginan.” Ujarnya lagi sambil membuka kembali pintu mobil. Aku menggelengkan kepalaku membuatnya langsung mengerutkan kening. “Lalu apa maumu?”

     “Aku yang akan duduk di belakang dan kau yang duduk di depan. Aku bisa mengatasi masalahku dengan perempuan itu untuk sementara.” ujarku yang Jiyong balas dengan tatapan jahil kemudian tersenyum. “Yah buang pemikiranmu itu, aku tidak cemburu.” Kataku lagi yang kini membuatnya tertawa renyah lalu beberapa saat kemudian dia menganggukkan kepalanya. Aku berbalik lalu langsung membuka pintu mobil kemudian duduk bersebelahan dengan salah satu musuh bebuyutanku.

     Keheningan langsung aku rasakan setelah sopir kantor mengemudikan mobil. Aku terus mengarahkan tatapanku ke luar jendela, menatap hiruk pikuk kota Seoul malam hari ini. Aku terus memikirkan kenapa aku seperti ini? Kenapa aku merasa sangat kesal ketika tahu bahwa Tiffany ikut bersama kami? kenapa ini sangat menggangguku saat Jiyong mengatakan bahwa dia akan duduk bersebelahan dengan wanita itu? Kenapa aku merasakan denyutan di dalam hatiku saat Jiyong mengatakan bahwa aku cemburu kepada wanita itu? Kenapa tiba-tiba saja aku merasa takut saat memikirkan Jiyong menyukai wanita lain? Ya Tuhan kenapa harus seperti ini? Kenapa harus Jiyong? Kenapa harus sekarang?

****

     “Yang mana sih?” tanya Dara kepada Jiyong yang sedang berjalan di belakangnya.

     “Itu.” ujar Jiyong menunjuk dengan dagunya. “Kita duduk di sana.” Ujarnya lagi setelah Dara berhasil menemukan tempat mereka.

     Dara yang berada paling depan langsung kembali berjalan, Jiyong mengikutinya di belakang diikuti oleh Tiffany. Setelah tiba di kursi mereka Dara langsung masuk dan duduk di kursi yang berada di dekat jendela sementara Jiyong kini sedang memasukkan tas mereka semua ke dalam overhead luggage compartment.

     Dara sedang menatap keluar jendela saat dia tiba-tiba saja mendengar suara Jiyong yang memanggil Tiffany. Dara tidak ingin menoleh atau mendengar apa yang akan Jiyong katakan kepada wanita itu, dia tidak ingin mendengar kata-kata rayuan yang mungkin akan Jiyong berikan kepada wanita itu. Dara pernah melihat dan mendengar Jiyong merayu wanita yang duduk di sebelahnya saat mereka akan pergi ke Jepang beberapa bulan yang lalu jadi bukan tidak mungkin jika kali ini dia akan melakukan hal yang sama.

     Hatinya sedikit bergejolak ketika dia memikirkan hal itu, memikirkan Jiyong akan merayu wanita lain di dekatnya membuat perasaan kecewa tiba-tiba menghinggapinya namun Dara langsung menolehkan kepalanya saat mendengar apa yang Jiyong katakan kepada Tiffany.

     “Dara mempunyai phobia naik pesawat, dia biasanya akan menggigil dan berkeringat banyak saat pesawat akan lepas landas dan saat pesawat akan mendarat jadi aku harus duduk di sampingnya supaya aku bisa menggenggam tangannya karena dengan hal itu bisa membuatnya merasa lebih baik.”

     Dara terkesima mendengar apa yang Jiyong katakan kepada Tiffany, Jiyong sedang meminta Tiffany untuk berpindah tempat dengannya sehingga dia bisa duduk di sebelah Dara. Dara melihat Tiffany dengan enggan berdiri lalu membiarkan Jiyong duduk di tempatnya tadi. Jiyong tersenyum saat dia menatap Dara.

     “Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu huh?” tanya Jiyong yang melihat Dara menatapnya dengan tatapan sedikit kagum dan bingung secara bersamaan. “Apa kau baru menyadari bahwa aku ini sangat gentle?” tanyanya lagi sambil memiringkan kepalanya.

     “A-aku..” Dara tidak bisa menemukan kata-kata, dia terlalu terkejut dengan apa yang Jiyong lakukan.

     Dara tidak pernah menyadari sebelumnya, ketika mereka sedang berada di pesawat Jiyong memang selalu menggenggam tangannya di saat pesawat akan take off dan di saat pesawat akan landing. Dara mengira bahwa apa yang Jiyong lakukan adalah salah satu standar yang biasa dia lakukan kepada seorang wanita tapi ternyata Jiyong melakukannya untuk membuat Dara merasa lebih baik karena phobia-nya, Jiyong melakukannya karena ingin membuat Dara merasa aman.

     Tapi yang paling membuat Dara terkejut adalah karena Jiyong mengingat hal itu. Dara hanya pernah sekali mengatakan hal itu kepada Jiyong, dan itu sudah lama sekali, mungkin beberapa bulan setelah mereka saling mengenal. Apa ini artinya bahwa Jiyong telah menyukai Dara sejak lama? Sejak pertama kali mereka saling mengenal?

     “Jiyong-ah!” ujar Dara setelah beberapa saat, matanya menatap Jiyong dengan tatapan yang bercampur aduk. “Niga mwonde?”

     “Naega?” Jiyong balik bertanya. “Hanya seorang manusia berjenis kelamin laki-laki yang sangat berharap untuk bisa menjadi kekasih seorang wanita bernama Sandara Park.” Jawab Jiyong dengan penuh percaya diri. Sekali lagi Dara tidak menemukan kata-kata untuk menjawab pernyataan Jiyong, jadi Dara memilih menghindari tatapan Jiyong yang sedang menunggu jawabannya dan untungnya saat itu ada pengumuman bahwa pesawat akan segera take off jadi semua penumpang disuruh untuk bersiap. Hal ini Dara jadikan kesempatan untuk melarikan diri dari tatapan mata Jiyong.

     Setelah memakai sabuk pengaman Dara lalu langsung menyandarkan punggungnya pada kursi lalu menutup matanya. Tepat setelah dia menutup mata dia merasakan tangan Jiyong yang kini menggenggamnya erat untuk menenangkannya dari rasa phobia yang memang selalu dia rasakan walaupun dia sudah sering naik pesawat tapi bahkan saat ini Dara sama sekali tidak peduli dengan phobia-nya itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah semua kata-kata Jiyong itu. Dara terus menutup matanya, membiarkan tangan Jiyong terus menggenggamnya sampai dia merasakan mereka kini telah berada di udara lalu tiba-tiba saja dia mendengar suara bisikan di dalam dirinya.

     “He’ll make you happy. He loves you.” Dara ingin mempercayai apa yang saat ini dia dengar tapi bagian lain dari dirinya masih merasa ragu. Walau bagaiamanapun Dara tahu bahwa Jiyong adalah seorang player jadi bisa saja apa yang Jiyong katakan kepadanya tadi adalah salah satu taktiknya untuk membuat Dara jatuh cinta.

     “What do you think?” Dara mendengar suara lain di dalam dirinya. “Don’t doing something that will make you hurt. Don’t falling in love with a man who doesn’t even hesitate to leaving you. And you know Jiyong is one of them.

     Dara tidak tahu, suara mana yang harus dia dengarkan saat ini karena keduanya terasa benar dan juga terasa salah disaat yang bersamaan. Jika dia harus menerima atau menolak Jiyong, maka Dara ingin melakukannya tanpa penyesalan jadi untuk saat ini dia pikir dia masih memerlukan waktu, dia masih belum bisa memutuskan apa yang akan dia lakukan terhadap perasaan Jiyong karena dia saja masih bingung dengan perasaannya sendiri, dia masih tidak yakin meskipun dia sudah merasa bahwa ada bagian di dalam dirinya yang juga menginginkan Jiyong menjadi bagian penting di hidupnya.

****

     Tidak ada yang berkata apapun lagi selama penerbangan, Dara yang sedang merasakan dilema di dalam hatinya hanya bisa pura-pura tidur sehingga Jiyong tidak akan mengajaknya berbicara. Jujur saja, Dara sama sekali tidak tahu apa yang harus dia bicarakan dengan Jiyong setelah apa yang dia katakan tadi. Sementara Jiyong memilih untuk mendengarkan musik melalui iPod sambil membaca kembali data-data yang berhubungan dengan presentasi yang akan mereka lakukan. Dia tidak berusaha membangunkan Dara karena Jiyong tahu bahwa Dara hanya berpura-pura.

     Setelah tiba di Jeju, mereka semua langsung bergerak menuju hotel bintang lima yang akan menjadi tempat mereka menginap sekaligus tempat tender itu dilaksanakan. Dara masih belum mengatakan apa-apa kepada Jiyong, jika Jiyong bertanya Dara hanya akan menjawab dengan anggukan atau gelengan, sesuatu yang membuat Jiyong merasa tidak enak.

     Dia berpikir mungkin Dara marah karena apa yang dia katakan di pesawat sehingga wanita itu tidak mau berbicara kepadanya. Jiyong menuliskan cacatan di dalam kepalanya untuk tidak melakukan atau mengatakan hal bodoh yang bisa merusak rencananya. Jiyong berniat untuk membuat Dara menerima cintanya saat mereka berada di Jeju dan jika kali ini Dara masih menolak maka Jiyong akan menyerah karena itu berarti Dara memang tidak mempunyai perasaan lebih kepadanya.

     “Acara pembukaannya akan dilakukan nanti malam jadi kalian bisa beristirahat dulu untuk beberapa waktu.” ujar Jiyong kepada Dara dan Tiffany sesaat setelah mereka masuk ke dalam lift.

     “Sebenarnya kita akan berada di sini selama berapa hari?” tanya Tiffany kepada Jiyong yang baru saja memencet salah satu tombol.

     “Tiga sampai empat hari, tergantung dari hasilnya.” jawab Jiyong yang Tiffany balas dengan anggukan mengerti. “Kita presentasi besok, kan?” tanya Tiffany lagi setelah beberapa saat yang Jiyong balas dengan anggukan.

     “Memangnya kenapa?”

     “Anni, aku hanya berpikir mungkin kita bisa jalan-jalan saat hari ketiga karena kita sudah melakukan presentasinya.” Ujarnya lagi sambil tersenyum senang. “Oppa temani aku jalan-jalan, ya?” ajaknya lagi kini sambil tersenyum menggoda kepada Jiyong dan hal itu tidak luput dari pandangan Dara. Dia sedikit kesal dengan tingkah Tiffany yang sedang menggoda Jiyong namun dia tidak mengatakan apapun. “Aku belum pernah ke sini jadi aku tidak tahu tempat mana yang bagus, kau kan sering ke sini jadi kau orang yang tepat yang bisa menjadi pemanduku untuk berkeliling.” Katanya lagi yang Jiyong balas dengan tawa canggung.

     “Bagaimana ya?” ujar Jiyong sambil menggaruk lehernya. “Sebenarnya kita harus tetap melihat presentasi perusahaan lain untuk bisa tahu kelebihan dan kekurangan lawan.”

     “Suruh saja Dara unnie yang melihat presentasi itu.” ujar Tiffany yang langsung membuat Dara menatapnya.

     “Yah apa kau tidak salah? kau menyuruhku untuk menonton presentasi yang membosankan sementara kalian bersenang-senang?” Tanya Dara dengan suara berdesis yang sama sekali tidak digubris oleh Tiffany.

     “Oh jadi kau tidak mau? Ya sudah kalau begitu aku dan Jiyong oppa bisa melihat presentasinya dan kau bisa jalan-jalan sendirian. kau puas? Benarkan oppa?” Dara langsung menatap Jiyong setelah mendengar apa yang Tiffany katakan. Dara memberikan tatapan tajam untuk memberitahu Jiyong bahwa dia akan membunuhnya jika Jiyong menyetujui usulan Tiffany dan Jiyong tersenyum karena menangkap maksud dari tatapan Dara itu.

     “Aku minta maaf tapi sepertinya kau yang harus menontonnya.” Ujar Jiyong kepada Tiffany. “Bos menyuruhku untuk membawamu kemari sehingga kau bisa belajar jadi aku rasa kau bisa mendapatkan banyak ilmu saat melihat perusahaan lawan melakukan presentasi.” Dara langsung tertawa senang setelah mendengar apa yang Jiyong katakan.

     “Tapi kau akan menemaniku, kan?” tanya Tiffany sambil menatap Jiyong dengan tatapan memelas namun Jiyong menggelengkan kepalanya membuat Tiffany langsung merenggut.

     “Ada yang harus aku lakukan nanti. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya sendirian, Dara saja bisa saat dia pertama kali melakukan hal itu.” Mendengar Jiyong memuji Dara membuat Tiffany menjadi merasa tertantang dan langsung mengangguk cepat.

     “Aku akan melakukannya dengan baik, tenang saja!” ujar Tiffany dengan penuh percaya diri. Jiyong tersenyum karena hal inilah yang dia inginkan.

     “Jangan lupa catat semuanya ya.” Ujar Dara dengan suara sedikit mengejek puas kepada Tiffany yang sama sekali tidak Tiffany balas. Beberapa saat kemudian pintu liftnya terbuka, mereka bertiga langsung keluar dari lift untuk menuju kamar mereka masing-masing.

     Saat Dara akan memasukkan kunci kamar ke lubang kunci tiba-tiba saja dia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Dara langsung menoleh ke asal suara itu lalu matanya langsung terbelalak ketika dia melihat Donghae yang sedang berdiri di ujung koridor. Jiyong yang berada di depan kamarnya yang berdekatan dengan kamar Dara juga ikut menolehkan wajahnya, keningnya langsung berkerut ketika dia melihat seorang pria yang kini berjalan ke arah Dara dengan senyuman lebar yang menghiasi seluruh wajahnya. Kentara sekali bahwa pria itu sedang sangat senang.

     “Sandy? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria itu ketika dia telah berdiri tepat di hadapan Dara.

     “Donghae-ah? Kenapa kau ada di sini?” Dara balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan pria itu dan hal membuat Donghae langsung tersenyum.

     “Aku ada pekerjaan di sini.” Jawab Donghae. “Apakah kau juga sedang bekerja? perusahaanmu mengikuti tender ini juga?” tanya Donghae dengan suara antusias yang Dara balas dengan anggukan kepala pelan. Donghae semakin melebarkan senyumannya karena itu berarti dia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Dara selama mereka berada di tempat ini. Donghae menuliskan catatan di dalam kepalanya untuk mengajak Dara makan malam di resto paling romantis yang ada di pulau ini. “Aku senang sekali melihatmu di sini. Kita bisa makan siang dan makan malam bersama selama kau di sini.” Ujar Donghae sambil memegang bahu Dara. “Aku sangat merindukanmu karena kau tidak menghubungiku lagi sejak malam itu.” Sambungnya lalu tiba-tiba dia memeluk tubuh Dara.

     Dara yang masih terkejut dengan kehadiran Donghae sama sekali tidak menyangka bahwa Donghae akan memeluknya jadi untuk beberapa saat dia hanya diam, tidak membalas ataupun menolak dekapan pria itu, namun kesadarannya langsung kembali ketika dia mendengar suara pintu yang dibanting dengan cukup keras. Dara mengangkat kepalanya lalu matanya langsung tertuju pada kamar Jiyong yang kini telah tertutup rapat.

     Dengan sedikit panik Dara langsung melepaskan diri dari dekapan Donghae yang membuat senyum pria itu sedikit memudar sementara Dara kini kembali menatap pada pintu kamar Jiyong. Perasaannya menjadi sedikit tidak enak ketika dia memikirkan bahwa Jiyong pasti telah mendengar apa yang Donghae katakan dan bahkan melihat Donghae telah memeluknya. Dara menggigit bibirnya karena tiba-tiba merasa khawatir dengan apa yang Jiyong pikirkan karena hal itu.

Jiyong Pov

     “Oppa kenapa kau sendirian?” aku yang sedang duduk di meja bar langsung menolehkan kepala saat aku mendengar suara Tiffany. “Mana Dara unnie?” Tanyanya ketika aku menatapnya. Aku langsung mengambil gelas berisi vodka yang berada di hadapanku lalu langsung meminumnya dengan sekali tenggak sebelum mengarahkan daguku ke arah Dara yang saat ini sedang berdiri di samping seorang pria yang tadi datang dengannya.

     Pria itu dengan posesif melingkarkan tangannya di pinggang Dara dan memamerkannya kepada orang-orang, seolah pria itu ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Dara adalah miliknya, sesuatu yang membuatku terus mengutuk sejak tadi. Aku sangat kesal karena Dara bahkan tidak repot untuk menemuiku dan terus saja menemani pria itu.

     “Siapa pria itu?” tanya Tiffany lagi setelah beberapa saat. Aku hanya mengedikkan bahu. Hal itu juga lah yang ingin aku ketahui. Siapa pria itu? kenapa Dara bisa bersama dengan pria itu dan dengan mudahnya membiarkan pria itu memamerkannya. Apa mereka memiliki hubungan spesial? Aku langsung menggeleng ketika pikiran itu melintas di kepalaku. Dara pasti akan memberitahuku jika dia sedang bersama seseorang tapi jika aku pikirkan lagi maka hal itu bukan tidak mungkin karena bahkan Dara tidak memberitahu saat dia menyukai pria yang bernama Lee Soohyuk itu.

     “Aku akan mencari tahu siapa pria itu, kau juga penasaran kan?” tanya Tiffany lagi dan tanpa menunggu jawabanku wanita itu langsung berdiri kemudian berbaur dengan orang-orang. Aku masih terus terdiam di tempatku, tidak berusaha berbaur karena saat ini aku tidak memiliki mood baik untuk sekedar berinteraksi dengan orang-orang. Setelah hampir lima menit Tiffany kembali lalu duduk lagi di sampingku.

     “Ternyata pria itu adalah Lee Donghae, dia pemilik hotel ini dan satu-satunya pewaris dari Lee Corp. Dan ternyata dia adalah salah satu petinggi di tender ini.” aku mendengar suara Tiffany lagi yang langsung memberitahuku tentang informasi yang telah berhasil dia dapatkan. Aku mengerutkan keningku setelah mendengarnya. Bagaimana Dara bisa mengenal chaebol ini? “Dan apakah kau tahu apa yang paling mengejutkan dari semua informasi yang aku dapatkan?” tanya Tiffany lagi kini sambil mencolek bahuku untuk meminta perhatianku namun aku sama sekali tidak menoleh kepadanya. “Pria itu adalah tunangan Dara unnie.” Ujar Tiffany setelah beberapa saat dan apa yang dia katakan itu langsung membuatku menatapnya dengan tatapan tidak yakin.

     “Kau bilang apa tadi?” tanyaku untuk memastikan, berharap bahwa aku salah mendengar. “Dia dan Dara apa?”

     “Mereka bertunangan.” Ujar Tiffany lagi sambil menganggukkan kepalanya cepat. “Kau pasti terkejut, kan?” tanya Tiffany. “Kau pasti tidak menyangka bahwa dia ternyata sangat licik, bagaimana bisa dia memberikan harapan kepadamu sementara dia sudah menjadi tunangan pria lain….” aku mendengar Tiffany namun aku tidak mengatakan apapun, aku terlalu terkejut dengan apa yang aku dengar.

     Aku menggelengkan kepalaku lagi, masih belum percaya dengan apa yang Tiffany katakan lalu aku mendongkakkan kepalaku lalu tatapanku langsung tertuju kepada Dara yang masih setia menemani pria itu yang kini sedang berbicara dengan seseorang. Apa ini alasan kenapa dia membiarkan pria itu memeluknya tadi? Apa ini sebabnya Dara menolakku?

     Kepalaku langsung mendidih, hatiku bergejolak marah karena apa yang aku pikirkan. Aku salah, aku pikir dia juga mencintaiku namun ternyata semua itu hanya ilusiku saja. Dan seketika aku mulai merasakan rasa kecewa yang sangat dalam karena aku merasa Dara telah mengkhianatiku.

     Aku langsung bangkit dari tempatku lalu berjalan sendirian. Aku tidak peduli dengan Tiffany yang terus memanggil namaku, aku terus berjalan sampai akhirnya aku sampai di salah satu ruangan kosong. Aku masuk ke dalam ruangan itu lalu berjalan lagi sampai tiba di ujung ruangan yang memiliki dinding kaca sehingga aku bisa melihat pantai dari tempatku saat ini. Aku menatap pantai itu selama beberapa saat sampai akhirnya aku merendahkan tubuhku untuk duduk lalu menyandarkan punggungku pada dinding kaca itu.

     Setelah beberapa saat aku lalu mengambil tempat rokok yang aku simpan di saku jas bagian dalam lalu mengambil satu batang kemudian menjepitnya di antara bibir. Aku mengambil pematik lalu menyalakannya lalu langsung menghisap rokok itu setelah beberapa saat. Aku melihat kepulan asap yang aku tiupkan di udara lalu tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka dan seseorang masuk ke dalam tempat ini.

     Aku memicingkan mata untuk melihat dengan lebih jelas karena pandanganku sedikit buram yang disebabkan oleh alkohol yang telah banyak aku minum sejak acaranya dimulai. Awalnya aku pikir aku hanya sedang berhalusinasi ketika aku melihat Dara berjalan ke arahku namun aku mulai tahu bahwa dia adalah sosok nyata ketika aku merasakan dia duduk di sampingku.

     “Aku mencarimu dari tadi Ji, ternyata kau ada di sini.” Aku mendengarnya berbicara, ada senyum kecut yang aku sunggingkan ketika mendengar apa yang dia katakan. dia mencariku? Apa dia ingin mengatakan bahwa dia tidak melihatku padahal aku saja bisa dengan sangat jelas melihatnya yang terus berjalan dengan pria itu, dengan tunangannya itu. “Bukankah aku sudah bilang bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan? Kenapa kau masih menghisapnya sih?” aku kembali mendengarDara berbicara sebelum dia menarik rokok itu dari bibirku lalu dia dengan tenangnya membengkokkan rokok itu kemudian membuangnya jauh.

     Aku sedikit mengumpat kesal sebelum kembali mengambil kotak rokok lalu mengambil satu batang lagi kemudian menjepitnya kembali di bibirku. aku akan mengambil pematik namun Dara kembali mengambil rokok itu lalu membuangnya lagi.

     “Apa maumu huh?” tanyaku dengan sedikit membentaknya, aku melihat Dara sedikit tersentak ketika dia mendengar suaraku yang meninggi. Aku rasa ini adalah pertama kalinya aku meninggikan suaraku kepada Dara.

     “Ji apa sesuatu terjadi? Kenapa kau terlihat kacau? Kau mabuk?” tanyanya dengan raut wajah sedikit cemas lalu memegang bahuku namun aku dengan sedikit kasar menghempaskan tangannya.

     “Bisakah kau pergi? Aku ingin sendirian.”

     “Ji ada masalah ap,-”

     “Aku bilang pergi!” Kataku lagi dengan kembali meninggikan suaraku dan Dara sedikit terlonjak kaget karena kini suaraku lebih tinggi dari sebelumnya. Dia lalu menatapku dengan raut wajah sedikit kecewa.

     “Apa kau marah kepadaku Jiyong? Apa aku telah membuat kesalahan sehingga kau berteriak seperti itu kepadaku? apa yang salah denganmu?” tanya dengan intonasi sedikit kesal.

     “Apa yang salah denganku?” tanyaku sambil menatapnya tajam. “Apa yang salah denganmu Dara. Kau sama sekali tidak berbicara kepadaku sejak kita sampai di sini, kau yang mengacuhkanku terlebih dahulu dan sekarang kau bertanya kenapa aku seperti ini?” kataku dengan nada sedikit emosi. “Aku seperti ini karena kau, aku seperti ini karena aku sangat kesal kepadamu, aku marah dan aku membencimu jadi pergi dari hadapanku karena aku tidak ingin melihatmu lagi.” kataku dengan suara yang masih tinggi yang membuat Dara membelalakkan matanya tidak percaya. Aku lalu melihat matanya kini mulai berkaca-kaca dan aku bisa melihat dia menatapku dengan tatapan terluka.

TBC

Okay aku tahu, pasti gak akan ada yang suka sama chapter ini tapi walaupun begitu aku tetep harap kalian mau tetep komen ya. dan Aku juga tahu pasti banyak diantara kalian yang bilang lelah sama FF ini karena mereka enggak kunjung bersatu atau terlalu banyak konfliknya, pokoknya sih aku cuma mau bilang sabar aja, karena walau bagaimanapun mereka pasti akan tetap bersatu kok hanya nunggu waktu yang tepat aja. soalnya biar pas semuanya haha!!!!

okay aku mau ngumpet dulu dari amukan masa!!! bye bye

Advertisements

9 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 14]

  1. Iiiihhh kesel aku sama dua duanya 😡😡😡 tapi aku akan menunggu mereka bersatu trus kasih momen manisnya yang banyak ya thor 😆😆

  2. Aaadduuuhhh,kenapa part akhirnya bikin gregeeettt sih.
    Baru juga udh seneng jiyong dpt kesempatan buat deketin dara eh taunya ada si donghae.
    Kapan mereka jadian sih,huu.
    Nxt chp ditunggu^^

  3. Authornya bisa banget bikin seneng terus di bikin jatoh sekaligus wkwk udah seneng nih aku, pas tau mereka ke jeju berdua, eh ada si tifanny sama donghae. Tapi ko aku suka ya liat jiyong yg cemburu ekekek
    Ditunggu syekali next chapternya. Fighting!!! 💪💪

  4. huaaaa bnyak yg baru..
    mnyadarkan sy brapa lma sudah hiatuss dr perkomentaran dgi
    maafkn sy yg bru mnyandang sttus sbgai makmak
    semangat buat baca fnfic yg mnumpuk ini..
    love ya author author kece
    semangaaatt

  5. Heol, aku kira di chap ini bakalan ada moment bahagia trnyataaa, timing donghae dtg bener2 tepatt. Aishhhh ji udh ngmong gtu lagiii, ngerti sih sama posisi jiyong gimana gak sakit hati kan yahh. Dan dara aigooo cobalah utk buka hati aniii jangan egois, selalu nyangkal pdahal kata hati udh yesss sama jiyong. Aigooo di chap ini aku kesal sama dara hmmmm…

  6. Plis thor, next chap di end in, ini nggantung bangett huhu moga di next chap dara unni ngungkapin kalo sebenernya udah cinta sama jiyong oppa deh biar bersatu hahaha
    next chap bener bener ditunggu thorr jangan lama lamaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s