[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #4

SB Cover

Author : aitsil96

Category : PG15, Romance, Sad, Chapter

Main Cast : Kwon Ji Yong, Park Sandara

Author’s Note :

FF ini hasil remakedengan beberapa perubahan yang cukup besar di dalamnya dari judul FF yang sama dengan main cast yang berbeda yang sudah pernah saya post di blog lain. Kali ini saya juga menggunakan nama author baru. Main cast asli adalah Kwon Ji Yong dan Yong Na Ra. I’m not plagiator!

This is just my wild imagination. Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Don’t bash if you think my story isn’t perfect. Be a good reader, please. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thanks and happy reading all…

.

*perhatikan waktu karena alur maju mundur*

.

Summary         :

“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”

-Kwon Ji Yong-

“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”

-Park Sandara-

.

-PART 4-

 .

Seoul, August 2012

Sinar mentari pagi masuk melewati celah-celah gorden kamarnya. Cukup mengganggu tidurnya, namun tak memberikan niat pada Dara untuk sekedar membuka kedua matanya. Ia sungguh ingin tidur lebih lama lagi. Baru sekitar tiga jam yang lalu dirinya memejamkan mata dan ini semua karena ulah Ji Yong. Bagaimana bisa pria itu tak mengabari setelah mengantarnya pulang ke rumah?

Biasanya Ji Yong akan selalu menyempatkan sedikit waktunya untuk sekadar menghubungiDara selama beberapa menit. Parahnya lagi, pria itu tak mengangkat telepon dan mengabaikan pesannya. Kemana pria itu? Apa ia sudah tertidur tanpa memberitahunya? Atau mungkin dalam perjalanan pulang terjadi sesuatu padanya? Ck, membuat khawatir saja.

Dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang, Dara akhirnya menyerah pada tubuh yang sudah sangat lelah dan butuh istirahat. Jadi di sinilah ia sekarang, bergelung dengan selimut putihnya mencoba tidur hingga siang hari tanpa mengacuhkan Ji Yong. Sialan sekali pria itu, berani-beraninya membuat ia khawatir. Untuk kali ini, biar Dara yang akan mengabaikannya. Anggap saja itu sebagai balas dendam.

Namun kenyamanan Dara beberapa saat kemudian terusik oleh suara ketukan pintu kamarnya. Tidak, bukan sekedar ketukan, itu gedoran dengan tenaga yang amat luar biasa. Sungguh membuat mood paginya rusak seketika. Dan pelakunya sudah bisa ditebak, kakak tercintanya, Jun Hyung. Dara berusaha tak peduli dengan menutupi kepalanya dengan selimut dan bantal sekaligus.

Suara bass yang memanggil namanya itu semakin teredam di balik pintu kamar, namun seolah tak kehilangan akal untuk merecoki pagi Dara, Jun Hyung juga mencoba menarik-narik engsel pintu yang terkunci itu dan menambah intensitas gedorannya. Ish, kali ini ia tak bisa berdiam diri lagi.

Wae?”

Dara saat ini sedang berdiri di depan pintu kamarnya untuk menyambut kakaknya itu dengan rambut terurai berantakan serta mata merah sembab kurang tidurnya. Namun sedetik kemudian mata itu terbelalak melihat benda yang ada di tangan Jun Hyung.

‘Kekasih CEO Dragon’s Company Hampir Terjatuh di Red Carpet

Itu judul sampul suatu majalah terkenal di Korea Selatan yang pagi ini baru terbit. Bayangkan, tulisannya dipampang besar-besar dengan cetakan aksara tebal disertai fotonya yang hampir jatuh namun ditahan oleh Ji Yong. Oh Tuhan, rasa malu sangat mendominasi hati Dara saat ini. Seharusnya ia tahu kejadian ini akan menjadi headline berita melihat banyaknya wartawan yang hadir untuk meliput acara tadi malam.

Dara segera menyambar majalah itu dan mulai membaca dengan bola mata hazelnya yang bergerak lincah. Sementara itu, Jun Hyung berdiri di hadapannya, memperhatikan gerak-gerik adiknya itu dengan tampang menyebalkan seperti biasa.

“Bagaimana, nona Kwon? Sudah puas menciptakan kontroversi?”

Dara memutar matanya malas, kakaknya ini terlalu mengurusi segala hal dalam hidupnya. Lagipula isi dari beritanya tidak terlalu menyoroti tentang insiden-hampir-terjatuhnya-kekasih-CEO-Dragon’sCompany. Hanya judulnya saja yang provokatif, terlalu dilebih-lebihkan untuk menarik minat pembaca.

Isinya lebih menceritakan tentang keseluruhan acara pagelaran fashion serta acara ulang tahun Ji Yong yang ke-28. Bahkan kini mata Dara tak dapat terlepas dari paragraf yang mendeskripsikan penampilannya yang terlihat luar biasa malam itu. Oh Tuhan, sadarkanlah gadis ini!Dipuji seperti itu membuat dirinya hampir berteriak histeris diiringi tawa tak warasnya.

Dara berdeham demi mengendalikan dirinya, “Kau membangunkanku hanya untuk ini?” ucapnya seraya menyerahkan majalah itu pada tangan Jun Hyung dengan cukup kasar.

“Hanya? Hei, kau sedang menjadi buah bibir saat ini!”

“Aku tahu, oppa, dan aku malu,” ungkap Dara jujur, “Tapi sudahlah tak usah berlebihan, berita ini akan hilang dengan sendirinya nanti.”

“Ya Tuhan, kau bahkan bisa dengan santai menghadapi ini? Aku kira kau akan menjerit-jerit histeris lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupmu saja, Dara-ya.”

Jun Hyung mengaduh saat tinju Dara melayang pada lengannya. Jujur, gadis itu juga hampir menjerit histeris, namun tak sampai ingin mengakhiri hidupnya yang terlalu berharga ini seperti yang Jun Hyung katakan. Kakaknya itu selalu berlebihan. Namun terkadang seseorang harus memilih bersikap tak acuh terhadap masalahnya, bukan? Dan itu yang Dara lakukan saat ini.

“Pulang jam berapa kau tadi malam?” Jun Hyung memulai introgasinya pada Dara.

“Bukan urusanmu!”

“Yak! Jawab aku! Bahkan aku tak mendengar suara mobil saat tengah malam sebelum aku tertidur.”

Dara mendelikkan manik hazelnya malas, “Jam dua, puas?”

Mwoya? Kau tahu itu sudah dini hari, bukan? Astaga, harusnya aku tidak mengizinkan saat kau bilang akan pulang sedikit terlambat malam tadi. Bahkan itu bukan sekadar terlambat, itu sangat amat terlambat,Dara-ya. Kau ini seorang gadis, bagaimanapun juga tak baik untuk kau pulang lebih dari tengah malam seperti itu. Aish, seharusnya aku menyeretmu saja dari acara kekasihmu itu.”

“Ey, mana berani kau melakukan itu, oppa?”

“Mengapa aku tidak berani? Aku bisa saja nekat, Dara-ya.”

“Ya, ya, ya… sesukamulah, oppa,” ucap Dara tak peduli seraya berbalik untuk masuk ke kamarnya serta dengan tidak sopannya membanting pintu tepat di muka Jun Hyung.

Dara menyenderkan tubuh di pintu kamarnya, masih terdengar suara Jun Hyung dengan segala sumpah serapahnya meneriaki Dara dari luar. Ia segera berjalan menuju nakas dekat tempat tidurnya, berniat untuk mengambil ponsel ketika umpatan Jun Hyung sudah tak lagi terdengar. Layarnya kosong, tak ada panggilan atau pun pesan dari orang yang ditunggu kabar olehnya. Ji Yong.

Sungguh, ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan pria itu.Seberapa keras Dara berusaha untuk tidak mengacuhkannya, sekelebat bayangan Ji Yong tak henti selalu bersarang di benaknya.Dara menghembuskan napasnya berat. Sialan! Kemana pria ini sebenarnya?

Akhirnya, dengan keberanian yang dimiliki, ia memutuskan untuk menghubungi prianya. Ini diluar kebiasaan Dara yang selalu dihubungi Ji Yong terlebih dulu. Gadis ini memiliki harga diri setinggi langit bahkan untuk kekasih yang telah bersamanya dalam beberapa tahun terakhir.

Yeoboseyo?’

Suara serak langsung menyambut sambungan telepon Dara, khas orang yang terpaksa bangun dari tidurnya. Gadis itu menghembuskan napasnya lega, setidaknya ia masih mendengar suara dari prianya yang menandakan Ji Yongmasih bernapas dengan baik.

“Kau sedang tidur?” jeda sesaat, “Hmm… maaf mengganggu, lanjutkan saja kalau begitu.”

‘Dara-ya.’

Gadis itu hendak menutup telepon ketika mendengar suara merdu khas Ji Yong memanggil namanya.

Mianhae,’ lanjut Ji Yong.

Dara dengan tampang bodohnya hanya terdiam membisu. Ia bingung ingin memberikan respon apa saat ini. Jujur, tadinya ia ingin meneriaki prianya karena telah membuatnya khawatir setengah mati, namun ia juga tak bisa memungkiri kelegaannya mendapati Ji Yong yang sudah bisa dihubunginya lagi.

‘Maafkan aku yang tadi malam tidak mengabarimu, sungguh aku sangat lelah hingga langsung tertidur ketika sudah sampai di rumah. Aku tahu kau khawatir, tapi aku benar baik-baik saja. Lain kali aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Mianhae, Dara-ya.’

Hening menyelimuti mereka saat ini. Entah mengapa mendengar penuturan dari Ji Yong membuat Dara merasa aneh. Ada sesuatu yang sepertinya membebani Ji Yong, dan itu lebih dari sekadar rasa lelahnya setelah menghadiri acara tadi malam. Sungguh, Dara bisa merasakan suatu getaran menyedihkan di nada suara prianya.

“Y…ya, ya, tidak apa, Ji Yong-ah. Aku harus ke kamar mandi dulu. Kau lebih baik lanjutkan lagi tidurmu, dan jangan lupakan makan setelah bangun nanti,” suara Dara cukup tersendat karena kebingungannya sendiri, “Sampai jumpa.”

Ia memutuskan panggilannya secara sepihak bahkan sebelum Ji Yong bersuara untuk menjawabnya. Entah mengapa ia memutuskan untuk membiarkan pria itu tanpa harus diganggu olehnya. Dara melemparkan ponsel ke arah nakas dengan cukup keras lalu membaringkan tubuh di kasur dengan sekali sentak. Ia menghembuskan napasnya kesal, ada apa sebenarnya dengan pria itu?

*****

Seoul, September 2012

Dentuman musik tak henti mengalun dari ruangan yang dipenuhi lampu gemerlap itu. Lantai dansa disesaki oleh sekumpulan manusia yang meliuk-liukan badannya seiring dengan nada yang dimainkan oleh seorang disk jokey yang berada di atas panggung. Di sekelilingnya, berjejer rapi minuman dengan botol mengkilap dengan harga bervariasi hingga jutaan won. Di sinilah pria itu sekarang, duduk berhadapan di salah satu sofa hitam dekat pojok ruangan bersama kawan lamanya.

“Mengapa kau harus memilih tempat seperti ini untuk bertemu? Aku merasa asing.”

Rekannya itu menyeringai mendengar protes yang dilayangkan Ji Yong bahkan semenjak mereka pertama kali membuat janji untuk bertemu malam ini.

“Santailah, Ji Yong-ah. Bahkan sebelumnya kau lebih sering menghabiskan malammu di club dibanding aku.”

“Itu sudah lama sekali, Seung Hyun-ah. Aku tak pernah datang lagi semenjak lulus kuliah.”

Choi Seung Hyun. Pria yang kini menatap Ji Yong dengan pandangan tajam kelamkhas yang mematikan. Mereka cukup dekat semasa kuliah bahkan Ji Yong tak segan membeberkan segala rahasianya pada Seung Hyun. Termasuk masa lalunya dan juga Dara, gadis yang membuat Ji Yong menjadi pria yang berubah hampir 180 derajat. Di masa lalu, Ji Yong adalah pria yang sering datang ke club untuk minum dan berkencan dengan banyak wanita.

Pria itu selalu melancarkanseribu jurusnya untuk merayu para wanita tanpa berniat menjadikannya kekasih, lalu ia tinggalkan. Player? Katakanlah begitu. Hingga datanglahDara yang secara tidak langsung masuk ke kehidupannya dan telah mengubahnya menjadi pria yang bertanggung jawab dan memiliki kepercayaan lagi terhadap wanita.

Oh, ngomong-ngomong soal Dara, Ji Yong tidak memberi tahu gadisnya untuk pergi ke club malam ini. Jangan gila, gadis itu tak akan mengizinkannya dan ini semua ia lakukan demi janjinya pada Seung Hyun. Setelah sekian lama tak bertemu, malam ini pria berambut blonde dengan dandanan perlente itu mengajak Ji Yong ke salah satu club malam pusat kota untuk sekadar reuni. Hanya berdua, mencoba menghabiskan sisa malam layaknya pria lajang yang bebas.

Lajang? Ya, Seung Hyun memang tidak mempunyai kekasih layaknya Ji Yong. Ia lebih senang melakukan one night stand dengan para wanita malam yang sengaja ia sewa ataupun yang dengan sukarela menyerahkan dirinya. Ayolah, dengan gaya cool dan ucapan manis menggoda membuat ia banyak dihinggapi wanita. Tenang, ia selalu bermain aman tentunya.

“Karena gadis itu, hm?”

Ji Yong tahu siapa yang dimaksud Seung Hyun adalah gadisnya, namun ia hanya tersenyum dan mencoba untuk mengabaikan pertanyaan Seung Hyun. Ia tak ingin membahas Dara untuk saat ini, jauh di lubuk hatinya ia merasa berdosa telah mengelabui gadisnya, “Kau rindu padaku, huh?”

“Cukup ganjil jika aku mengatakan hal menjijikan itu padamu. Aku hanya ingin seorang CEO merasakan dunia malam yang sudah lama ia tinggalkan di tengah segudang kesibukannya. Mungkin juga kau rindu pada hal ini, bukan?”Seung Hyun mengangkat botol vodka untuk dituangkan pada gelas dan menyodorkan pada Ji Yong.

“Tidak, aku…”

“Ayolah, kau yang biasanya menghabiskan berbotol-botol vodka tak akan mabuk hanya dengan minum segelas.”

“Itu dulu, aku sudah tak pernah menyentuh minuman lagi. Mungkin tubuhku sudah tak mempunyai toleransi terhadap alkohol.”

Seringaian muncul lagi di bibir Seung Hyun, dan dengan sekali tenggak ia menghabiskan gelasnya tanpa ragu. Ji Yong memperhatikan tak lebih dari tiga detik.

“Kau memang gila, Seung Hyun!”

Botol vodka dengan kadar alkohol tinggi tersebut berpindah tangan pada Ji Yong, lalu ia menuruti apa yang Seung Hyun lakukan, menghabiskan segelas vodkanya dengan wajah masam. Wajar, sudah lama kerongkongannya tak teraliri minuman laknat itu. Ya, memangnya harus disebut apa lagi minuman yang bisa membuat orang waras hilang kesadaran?

*****

Gadis itu kini gelisah dalam kamar seraya menggenggam erat ponsel putih kesayangannya. Biasanya Dara tak merasakan perasaan tak menentu saat Ji Yong sibuk dengan pekerjaan, apalagi terakhir kali ia mendapat kabar adalah saat siang hari dan pria itu memberi tahunya akan lembur di kantor. Ada sesuatu yang tak beres, pikirnya. Sungguh, ia bukanlah tipe gadis yang akan merengek meminta perhatian lebih dari prianya ketika sibuk.

Namun hingga saat ini ia tahu ada hal yang prianya tengah sembunyikan, entah untuk alasan apa. Dara sangat yakinbahwa ada hal yang berbeda dari Ji Yong setelah diadakannya pagelaran busana itu, namun ia sama sekali tak tahu penyebabnya. Ia tak berani bertanya lebih jauh, entah mengapa seperti ada sekat yang menghalangi antara dirinya dan kekasihnya itu.

Dara memejamkan mata seraya menghembuskan napas resah. Bukankah Ji Yong selalu menyempatkan waktu untuk meneleponnya sebelum ia tidur? Bahkan hingga jam telah menunjukkan pukul 11 malam ponsel pria itu tak bisa dihubungi. Pria itu selalu membuatnya khawatir tak menentu akhir-akhir ini. Ini membuatnya kesal, sekaligus bingung karena tak tahu harus melakukan apa. Sialan!

Ponsel putih itu berbunyi nyaring ketika Dara hendak meletakkannya di nakas beberapa saat kemudian. Ia pikir teleponitu dari Ji Yong sehingga dengan terburu-buru menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera di layar.

‘Dara-ya?’

Oh, itu ternyata Hye Jung.

“Kau sudah lama tak memberi kabar dan sekarang kau menghubungiku hampir tengah malam? Kau mabuk, huh?”

Temannya itu tertawa cekikikan mendengar nada ketus dari Dara. Wajar, bukan? Seingatnya ini adalah telepon pertama dari Hye Jung setelah beberapa bulan lalu mereka sempat bertemu secara tak sengaja di salah satu pusat perbelanjaan Seoul. Sudah lama sekali mereka tak berkomunikasi karena kesibukan kuliahnya masing-masing, terlebih lagi mereka berbeda universitas.

“Ya, mungkin sebentar lagi aku akan mabuk.”

Dara sayup-sayup mendengar suara alunan musik kencang dari sambungan panggilannya, “Kau di club, eoh?”

Hye Jung tertawa tambah keras, “Tak ku sangka anak manis sepertimu bisa dengan cepat menebaknya.”

“Aish, kau tambah liar, Hye Jung-ah.”

“Hei, kita masih muda, apa salahnya menikmati hidup? Lagipula kau juga di sini bersama priamu, bukan?”

“Jangan gila, aku tak akan pernah menyentuh dunia macam itu, Hye Jung-ah,” Oh tunggu, Dara baru menyadari sesuatu. Apa yang dibilang Hye Jung barusan? Prianya?

Pernyataan dari Hye Jung selanjutnya membuat Dara segera menajamkan telinga, dan dengan kesadaran yang masih tersisa ia segera menyambar mantel serta dompetnya untuk segera pergi ke alamat yang diberi tahu Hye Jung. Ia akan pergi ke tempat yang tak pernah ingin ia kunjungi sebelumnya.

“Ku pikir kau di sini bersama pria kaya raya itu sehingga aku menghubungimu untuk bertemu. Sungguh, aku melihat Ji Yong di clubsedang duduk bersama teman prianya.”

*****

Benar saja, sekarang pria itu hampir hilang kesadarannya secara utuh setelah menghabiskan beberapa gelas vodka. Sebelumnya, ia adalah peminum yang hebat dan bisa menenggak beberapa botol minuman keras dengan kadar alkohol di luar batas seperti yang Seung Hyun katakan di awal. Namun kini tubuhnya sudah tak bisa mentolerir minuman alkohol.

Oh ayolah, itu semua adalah kebiasaan lamanya yang tak pernah ia sentuh lagi. Ji Yong saat ini tengah duduk menyandar pada sofa dengan sebatang rokok di tangannya. Ya, siapa lagi yang memprovokasinya selain teman di hadapannya itu? Ck, ia berubah menjadi pria liar malam ini.

“Habiskan sisa botolmu,” Seung Hyun yang masih lebih waras dari Ji Yong menuangkan sisa vodka ke gelas temannya itu. Pria ini gila mabuk juga rupanya.

“Kau… benar-benar, Seung Hyun-ah… aku tak akan bisa menyetir dengan keadaan seperti ini,” dengan ucapan tersendat khas orang mabuk Ji Yong masih bisa berbicara walau dengan mata yang hampir terpejam. Tak warasnya lagi, ia meraih gelas itu dan menenggak untuk kesekian kalinya.

“Tenanglah, di sekitar sini masih ada hotel.”

“Ey, kau ingin aku menjadi saksi bercintamu, huh?”

Tawa Seung Hyun meledak mendengar jawaban asal Ji Yong. Beberapa detik kemudian, ia mengedipkan matanya pada wanita dengan mini dress hitam ketat model kemben yang berdiri di dekat meja bartender. Sudah sedari tadi ia mencuri pandang pada wanita itu. Tentu saja Seung Hyun bermaksud mencuri perhatiannya, dan bila perlu mengajaknya secepat mungkin ke hotel terdekat seperti yang tersirat pada ucapan Ji Yong. Harapannya terkabul karena tak lama setelah itu, wanita incarannya menghampiri dengan langkah lambat dan cukup dibuat-buat.

“Perlu teman kencan, tuan…?”

“Choi Seung Hyun, panggil aku Seung Hyun.”

Wanita itu tersenyum menggoda dengan paras cantiknya lalu mendudukkan dirinya di sebelah Seung Hyun yang segera disambut uluran tangan nakal pria itu di bahu putihnya yang terbuka.Ji Yong yang masih mempunyai kesadaran tipis melihat dua insan di hadapannya dengan tatapan mengejek. Seung Hyun, selalu mempunyai cara untuk merayu wanita, layaknya ia dahulu. Gilanya, bahkan dalam keadaan mabuk pun ia masih mengingat Dara.

Ya, tentu saja ia harus mengingat gadisnya itu setelah membohonginya. Dan jangan berani untuk melupakan rasa bersalahmu itu, Ji Yong! Ia menghela napas berat, tak sanggup jika kekasihnya itu mengetahui kelakuan sintingnya malam ini. Sungguh terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekadar dibayangkan. Ji Yong menghisap rokok untuk terakhir kalinya lalu mematikannya secara sembarangan, berniat untuk segera pergi.

“Jangan buru-buru.”

Baru saja ia hendak berdiri, seseorang menahan dengan bergelayut manja pada lengannya membuat ia terduduk lagi dengan paksa. Ji Yong menyelidik dengan pandangan hampir kaburnya, seorang wanita dengan belahan terbuka dimana-mana sedang berada di sampingnya saat ini. Min Soo.

“Hai, Min Soo-ya. Aku bawakan Ji Yong padamu malam ini.”

Ji Yong menatap Seung Hyun yang baru berbicara padanya. Aish, ia terjebak dalam perangkap busuk teman-temannya. Ia yakin mereka berdua telah merencanakan pertemuan ini dari awal. Mengingat mereka memang sering mendatangi club ini saat kuliah untuk bersenang-senang.

Ji Yong berdecak, memperlihatkan secara terang-terangan muka malasnya pada Min Soo. Sementara wanita itu tak henti-hentinya menawari Ji Yong minum, namun langsung ia tolak. Sungguh, sekarang ia hanya ingin pergi dari tempat ini sesegera mungkin.

“Kau pasif sekali. Ayolah, kau seharusnya bersenang-senang karena sudah lama tak datang ke tempat ini.” Min Soo merajuk dengan ekspresi manja memuakkan yang menurut Ji Yong sangat mengganggu.

“Maaf, Min Soo-ya, aku sedang tak berniat untuk bersenang-senang denganmu,” Ji Yong menyeringai dan segera melepaskan lengan serta menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.

Tak hilang akal, Min Soo menggoda Ji Yong dengan menyibakkan seluruh rambutnya ke arah kanan untuk sengaja memperlihatkan leher jenjang serta belahan area pribadinya yang mungkin membuat pria itu tergoda. Ia juga membenarkan posisi duduknya, sehingga dress-nya yang sangat mini tambah tersingkap. Alih-alih terpancing godaannya, Ji Yong malah merasa jijik dengan kelakuan Min Soo. Sungguh, perangkap ini benar-benar tidak lucu.

“Ow, sepertinya pasangan baru ini butuh ruang untuk berdua,” Seung Hyun menggoda dengan seringaian yang tak hentinya ia hias di bibir, “Aku pergi dulu, Ji Yong-ah. Nikmati malammu.”

Seung Hyun dengan langkah terhuyung-huyung berjalan keluar dari club bersama wanitanya. Kau sudah dapat menebak kemana mereka pergi, bukan? Tentu untuk menghabiskan malam berdua di penginapan terdekat. Dasar, mereka tak sabaran sekali.

“Aku juga akan pergi.”

Ji Yong dengan sangat tegas menolak untuk tinggal lebih lama kali ini. Ia merasa telah salah untuk datang ke tempat ini karena perangkap bodoh Seung Hyun dan Min Soo. Biarlah ia tidur di mobil dengan keadaannya yang hampir tak sadar, yang jelas ia hanya ingin menjauh dari Min Soo. Meskipun mereka dulu pernah hampir melakukan hal nista itu, namun Ji Yong tak tertarik lagi akan hal itu. Baru saja ia berdiri dan merapikan lengan kemejanya, Min Soo lagi-lagi menarik tangannya lalu melancarkan aksi lancangnya, berniat untuk lebih menggoda pria tampan itu.

Adegan berikutnya adalah Min Soo mencium Ji Yong. Mencium bibir penuh pria itu. Ini gila, jauh lebih sinting dari sekadar menggoda. Lihat, bukan? Wanita mana pun rela melakukan hal tak waras untuk berkencan dengan pria menawan itu. Ji Yong terbelalak kaget, tak menyangka dengan serangan tiba-tiba ini. Sementara itu, Min Soo semakin meraih tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Tangannya bahkan terulur untuk meremas helaian rambut pria itu.

“Ji Yong?”

Pria itu membeku di tempatmendengar suara seseorang yang sudah sangat akrab di telinganya. Suara itu mengalun dengan merdunya di tengah dentuman musik. Min Soo telah melepaskan serangan ciumannya karena terganggu dengan suara tersebut yang secara tak sengaja telah menginstruksinya. Wanita itu melihat melewati bahu Ji Yong, menatap seseorang dengan aneh.

Bagaimana tak aneh? Seseorang yang berdiri terpaku di belakang Ji Yong tersebut mengenakan mantel biru kebesaran dan bisa terlihat ia mengenakan piama dengan motif kekanakan di dalamnya dilengkapi sandal tidur berbulu. Apa wanita itu terlalu bodoh dan tak sadar ia berada di mana sekarang ini?

Dengan ragu, Ji Yong menolehkan kepalanya ke arah pandangan Min Soo. Jangan tanyakan kesadarannya, ia hampir sadar penuh ketika melihat Dara berdiri dengan jarak tak jauh darinya. Apakah ia bermimpi? Namun mengapa jika ini mimpi semuanya terasa seperti nyata? Bahkan Ji Yong dapat melihat dengan jelas bulir bening mulai berjatuhan di pipi gadisnya.

Ia seakan baru tersadar secara utuh ketika Dara pergi dengan langkah yang hampir berlari, mencoba menjauh darinya. Ji Yong segera mengejar gadisnya, namun semuanya seakan terlambat ketika rasa sakit mendera kepalanya, membuat ia terjatuh dengan dramatis.

Ia sungguh menyesali keputusannya yang telah datang ke tempat biadab ini, dan yang lebih ia sesali, gadisnya itu mengetahui kelakuan busuknya bersama Min Soo. Ji Yong berteriak histeris membuat semua orang yang di sekitarnya menatap dengan pandangan bingung. Bukan karenarasa sakit di kepalanya, namun rasa nyeri yang kini mulai menyerang ulu hatinya.

Tolol! Harusnya ia berpikir dua kali untuk menerima ajakan Seung Hyun.

*****

Dengan sisa kewarasan yang ku miliki, sekarang aku berdiri di salah satu club pusat kota Seoul. Setelah menaiki taksi secara terburu-buru dan dengan pikiran yang tak menentu aku memutuskan untuk melihat sendiri apa yang dikatakan Hye Jung. Kau pikir aku percaya? Tentu saja tidak. Ji Yong yang aku kenal bukanlah pria yang gemar dengan dunia malam, ia juga tak mungkin membohongiku, bukan? Namun karena alasan penasaran, aku memberanikan diri untuk datang ke tempat ini. Langkah kaki ragu membawaku untuk sampai pada pintu masuk club yang mewah tersebut.

“Maaf nona, kau tak bisa masuk jika mengenakan pakaian ini.”

Seorang dari dua penjaga pintu itu mencegahku untuk masuk, aku mengernyitkan alisku. Pakaianku? Memangnya kenapa? Baru saja aku menunduk untuk melihat penampilanku, aku segera tersadar bahwa aku saat ini masih mengenakan piama yang ditutupi mantel, dan jangan lupakan sandal tidur kelinci kesayangan yang masih ku kenakan. Ah, aku terlalu terburu-buru tadi.

“Tak bisakah aku masuk ke dalam? Hanya sebentar. Kau bisa mengikutiku jika mau, sungguh hanya beberapa menit saja.”

“Tidak bisa nona, maaf.”

Aku menggembungkan pipiku, merasa menyesal untuk datang ke tempat yang memang aku hindari ini hanya karena berita dari Hye Jung. Mungkin saja temanku itu salah lihat, bukan? Aku langsung berbalik dan mataku seakan hampir tersedot ke luar ketika tak sengaja menangkap mobil Lamborghini Aventador hitam dengan tipe LP700-4 di parkiran yang luas itu.

Jika aku tak salah mengingat, maka itu adalah satu dari sekian banyak koleksi mobil mewah Ji Yong. Mobil itu memang jarang digunakan Ji Yong untuk bepergian, namun sesekali pernah ia gunakan. Apakah itu benar mobil kekasihku? Bagaimana jika itu mobil orang lain dan aku salah?

Tanpa berpikir dua kali aku menelepon Hye Jung untuk meminta bantuan berkat selintas pikiran di benakku yang sangat ingin masuk ke dalam club untuk sekadar memastikan kehadiran Ji Yong. Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri agar aku bisa berhenti memikirkan pria itu. Ji Yong tak akantega untuk membohongiku hingga sejauh ini, bukan? Ia mungkintengah berada di kantornya dengan setumpuk dokumen pekerjaan saat ini.

Aku sungguh berharap Hye Jung belum terlalu mabuk dan masih bisa menjawab panggilanku. Doaku terkabul. Tak perlu menunggu terlalu lama, wanita itu segera datang dan menghampiriku. Astaga, penampilannya sangat berbeda dari yang terakhir kali ku lihat. Ia berubah menjadi wanita dewasa yang sangat anggun dan berkelas dengan gaun mengkilatnya. Sementara aku? Jangan tanyakan hal itu, membuatku malu saja.

“Hei,Dara,” ia menghampiri dan langsung berlari memelukku, “Sudah lama sekali rasanya semenjak kita bertemu.”

“Menjauhlah, kau bau alkohol.”

Hye Jung melepaskan pelukannya seraya mencebik, “Yak! Tak bisakah kau mengatakan kata-kata manis seperti merindukanku, eoh?”

“Jika aku rindu padamu, aku tak akan memilih untuk datang ke tempat ini saat jam menunjukkan tengah malam.”

“Lain kali akan ku ajak kau bersenang-senang dengan caraku,” jeda sesaat karena Hye Jung saat ini tengah mengulitiku dengan pandangan mengerikannya dari atas ke bawah, “Hei, apa kau gila? Ini club, bukan perayaan pesta piama.”

Aku mendecak, tak usah diberitahu pun aku sudah cukup pintar untuk tahu itu, “Aku terlalu terburu-buru tadi dan penjaga itu tak mengizinkanku untuk masuk karena ini.”

“Kau pikir mereka akan membiarkanmu masuk dengan pakaian kekanakkan ini? Aish, yang benar saja! Tapi serahkan padaku, ini hanya masalah kecil.”

Hye Jung menarik tanganku dengan paksa hingga aku mengikutinya dengan langkah terhuyung, membawaku ke arah pintu masuk. Dua penjaga itu kini menghadang kami dan mengatakan bahwa hanya Hye Jung yang boleh masuk sementara aku harus menunggu di luar.

Sedetik kemudian Hye Jung tertawa menyeringai lalu membisikkan sesuatu pada seorang penjaga yang bertubuh lebih kekar seraya memberikan sesuatu secara sembunyi-sembunyi pada tangannya. Aku tak bisa melihat jelas benda apa yang diberikan Hye Jung, namun setelahnya penjaga yang bertubuh lebih kekar itu memberi isyarat pada penjaga lainnya dan membolehkan kami berdua masuk. Aku melongo melihat kejadian yang baru saja terjadi, mengapa bisa semudah itu?

“Bukankah semuanya bisa diselesaikan dengan uang?” Hye Jung mengedipkan sebelah matanya.

Ck, jadi ia memberikan suap kepada dua penjaga itu?

Hye Jung kemudian tertawa seraya mengerling nakal, “Aku juga mengatakan pada mereka bahwa kau adalah wanita perawan yang masih lugu dan alasan kau datang kemari karena sengaja dipesan untuk menemani salah satu tamu VIP di club ini.”

Bibir dan mataku terbuka lebar saat ini, Hye Jung memang sialan. Pantas saja kedua penjaga itu menatap aneh saat membiarkanku masuk. Bagaimana bisa ia berani memberikanku predikat sebagai wanita sewaan? Temanku yang satu ini sudah gila rupanya, “Yak! Kau!”

Sumpah serapah yang hampir ku katakan terhenti ketika seorang pria asing yang berdiri di lantai dansa memanggil Hye Jung dengan lambaian tangan seraya mengedipkan matanya genit, membuatku mual.

“Richard sudah memanggilku. Maaf,Dara-ya, tapi ini kencan pertama kami dan aku tak bisa berlama-lama denganmu. Lain kali, mari bertemu di tempat yang lebih pantas,” ia mengedipkan lagi satu matanya ke arahku seraya tersenyum, “Tadi ku lihat priamu itu berada di sana, segeralah kau temui dan bawa ia pulang.”

Tanpa mengucapkan salam perpisahan, Hye Jung meninggalkanku sendiri untuk segera menghampiri pria yang bernama Richard itu. Bisa ku lihat sekarang mereka sedang tertawa bersama dan mulai menari mengikuti irama musik. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku heran, bagaimana bisa orang-orang menggilai tempat ini? Percayalah, ini adalah tempat yang sangat tak nyaman dengan bau alkohol yang menguar dimana-mana. Suasananya sangat bising, pencahayaan juga sedikit minim, dan betapa mengganggunya asap rokok yang bisa merusak sistem pernapasan.

Aku mengikuti instruksi Hye Jung dengan berjalan ke arah sofa yang hampir terletak di sudut ruangan. Banyak sekali orang yang menatapku dengan pandangan aneh. Ya, apalagi kalau bukan karena penampilanku yang salah kostum ini? Aku mencoba tak peduli dengan terus berjalan untuk segera menemukan Ji Yong. Oh tidak, aku bahkan tak berharap untuk menemukannya di sini.

Setelah beberapa langkah, perhatianku tertuju pada seorang pria yang sedang berdiri menunduk untuk merapikan lengan kemeja hitamnya. Pandangan di sini hampir kabur karena kerlipan lampu yang tak henti, namun aku masih bisa menangkap warna rambut hitamnya dan segala aksesoris perak dan emas di jari serta leher pria itu. Khas Ji Yong. Namun sungguh aku tak bisa dengan jelas melihat mukanya yang dengan tiba-tiba ditarik oleh wanita di sampingnya yang baru aku sadari berpakaian sangat minim. Oh Tuhan, bahkan aku ngeri untuk sekadar mendeskripsikan bagaimana penampilan wanita itu saat ini.

Mataku hampir melompat keluar lagi ketika melihat mereka berciuman dan wanita itu dengan agresifnya menarik tengkuk pria di hadapannya seraya memejamkan mata. Terlihat sangat menikmati dengan tangan yang mulai meremas helaian rambut pria itu. Dadaku sesak, entah mengapa aku berharap pandanganku salah ketika melihat gesture tubuh pria itu dari tampak belakang yang mirip sekali dengan Ji Yong. Aku melangkahkah kaki lagi, mencoba mendekati pasangan yang tak tahu malu itu.

Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apakah benar dia adalah Ji Yong? Namun seingatku Hye Jung memberitahu bahwa Ji Yong bersama dengan teman prianya.

“Ji Yong?”

Kebiasaan burukku. Menyuarakan isi pikiran dengan suara yang cukup lugas di tengah kebisingan musik yang bergema. Mereka menghentikan aksinya, sepertinya wanita itu terganggu dengan ucapanku, terbukti saat ini ia sedang melihat ke arahku dengan tatapan kesal dan juga aneh. Setelahnya, aku mengalihkan perhatian pada pria itu yang kini membeku di tempatnya. Tatapanku mengernyit, tak mungkin ia Ji Yong, bukan?

Oksigen di sekelilingku seperti ditarik dengan paksa seketika saat pria itu membalikkan badan lalu menampakkan wajahnya tepat di hadapanku, membuat paru-paruku hampir berhenti berfungsi. Aku sungguh sangat berharap saat ini aku mengalami gangguan penglihatan karena dengan jelas aku melihat pria dengan kemeja hitam itu adalah priaku. Ji Yong. Ia duduk dengan jarak tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.

Kami berpandangan, saling terkejut satu sama lain. Ku lihat matanya sayu namun melebar ketika melihatku, aku tahu ia mungkin setengah sadar saat ini karena berada di bawah kuasa alkohol. Bisa dilihat dengan banyaknya botol yang tak kuketahui namanya berjejer rapi di meja. Tak ada yang bisa ku lakukan saat ini selain mencoba mengatur napas seraya menunduk.

Situasi macam apa ini? Apakah aku masih waras? Dia priaku, dan aku baru saja menyaksikan pertunjukan sintingnya secara langsung bersama dengan seorang wanita dengan pakaian kurang bahan.

Ia telah membodohiku untuk datang ke tempat laknat ini serta menyewa wanita penghibur untuk menemaninya. Apakah jika aku tidak datang ke tempat ini mereka akan singgah di hotel hingga esok hari?Aku bahkan tak sanggup untuk sekadar membayangkan hal yang lebih parah dari itu. Lucu sekali, apakah ia benar-benar kekasih yang aku kenal selama ini?

Aku menatapnya lagi, namun sungguh aku tak memiliki gangguan pada mataku, dia adalah Ji Yong, priaku. Astaga, bahkan apakah masih pantas aku mengakuinya sebagai kekasih setelah kejadian langsung yang ku lihat? Bulir-bulir bening tak terasa mulai berjatuhan membasahi pipiku. Oh Tuhan, sungguh aku tak ingin terlihat lemah kali ini, namun air mata sialan ini tak kunjung berhenti malah bertambah semakin deras.

Aku menyekanya asal dengan punggung tangan dan dengan sisa tenaga yang masih dimiliki, aku bergegas untuk pergi menuju pintu keluar dengan segera. Karena tak memperhatikan langkah, aku menyenggol beberapa orang di sana yang kemudian meneriakiku dengan segala macam cacian. Aku sungguh tak peduli, yang ingin aku lakukan sekarang adalah menemukan taksi dan pulang ke rumah.

.

To be continued

.

Advertisements

31 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #4

  1. Iih.. Seunghyun jahat bgt..
    Dara jiyong d jebak jgn putusin jiyong.. Seunghyun yg salah tuh sekongkol sma min soo..
    Omoo jiyong polos bgtt lg mau nerima ajakan seunghyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s