MEA CULPA [Chap. 5]

mea-culpa

Author : Aitsil96

PG-15

Cast : Park Sandara and Kwon Ji Yong

Gadis itu menguap, meregangkan seluruh persendian di tubuhnya yang luar biasa pegal. Ia bergumam tak jelas, masih menutup maniknya yang entah kenapa terasa sulit untuk dibuka. Sinar matahari yang masuk melewati celah gorden cukup mengganggu hingga membuat ia mulai tersadar dari alam mimpinya meskipun ia mati-matian enggan mengacuhkan. Sialan! Ia masih mengantuk dan lebih memilih bergelung lagi di selimut putih tebal itu.

Namun tunggu, wangi apa ini? Dahinya berkerut heran, ini seperti aroma… teh hijau? Siapa yang tengah menyeduh minuman itu pagi-pagi begini? Oh, dan ini sudah pagi, bukan? Otaknya seakan berputar, beberapa pertanyaan mulai berseliweran di benaknya. Ingatannya mulai mengingat suatu kejadian. Kejadian malam tadi saat berada di… club? Oh, jangan gila! Sebenarnya apa yang telah ia lakukan?!

“Dong Hae-ya?”

Manik hazel itu seketika melebar ketika mendapati pria dengan mantel hitam tersebut tengah terduduk di hadapannya. Pandangannya mengedar. Ternyata ia berada di kamar milik Bom. Mengapa ia tiba-tiba berada di sini?

Pria itu menghela napas, “Kau sudah bangun?”

Pertanyaan basa-basi itu dilontarkan dengan nada datar. Oh, kini ada apalagi dengan pria itu? Sandara hanya bisa meringis. Kepala gadis itu bahkan masih pening namun telah dibebani dengan setumpuk pertanyaan. Matanya melirik ke arah jam di dekat nakas, di sana tertera jam yang menunjukkan pada angka sepuluh.

“Bom-ie kemana?”

“Masuk kelas pagi.”

Ah ya, Sandara bahkan lupa bahwa hari ini ia seharusnya ada kelas pagi di kelas manajemen bisnis. Untunglah dosen yang mengajar bukanlah dosen killer, setidaknya ia bisa tenang untuk bolos hari ini.

“Kenapa ia tak membangunkanku? Sialan sekali dia,” ucap gadis itu seraya berdecak.

“Bagaimana ia bisa membangunkanmu jika bahkan kau tidur layaknya mayat?”

Mwo? Aku?”

“Ya, kau. Siapa lagi memang yang ku ajak bicara di tempat ini?” Dong Hae menyindir, “Dan kau bau alkohol. Kau akan kuliah dalam keadaan tak sadar akibat pengaruh minuman keras seperti itu, huh?”

Sandara menangkap nada ketidaksukaan yang terselip pada ucapan yang dilontarkan Dong Hae barusan. Gadis itu tak terlalu bodoh untuk tahu apa kesalahannya, “Mianhae.”

Mwoga?”

“Untuk datang ke tempat itu. Aku minta maaf.”

“Tempat itu? Tempat apa yang kau maksud?”

“Kau tahu maksudku, Lee.”

Dong Hae menggeleng, “Bagaimana aku tahu jika kau sama sekali tak memberitahuku? Jadi jelaskan padaku, alasan kau harus meminta maaf dan tempat apa yang kau maksudkan karena aku sama sekali tak mengerti arah pembicaraanmu, Dara-ya.”

Gadis itu lagi-lagi mendesah seraya memejamkan matanya. Ia tahu Dong Hae tengah marah dan kini tengah merajuk. Sialan! Lagipula, siapa yang memberitahu pria itu untuk datang kemari?

“Semalam aku datang ke club. Bom yang menyuruhku datang ke sana,” Dara buru-buru meralat ucapannya, “Tidak, ia tidak menyuruhku untuk berbuat yang macam-macam. Ia hanya memintaku untuk datang mengambil kunci kamarnya. Namun sesuatu terjadi dan… aku pingsan karena mabuk.”

“Sesuatu apa? Bicaralah yang jelas.”

“Aku berkenalan dengan salah satu temannya di sana, dan saat aku ingin pulang ia mencegahku. Aku dipaksa untuk minum.”

Mwo?!”

“Hanya satu gelas, Lee. Aku pikir aku bisa untuk menahannya, namun sepertinya tubuhku tak punya toleransi terhadap alkohol sedikitpun.”

“Hanya? Kau bilang ‘hanya’? Kau bahkan tak sanggup meminum soju, Dara-ya. Dan kau dengan beraninya datang ke club lalu mabuk? Tak bisakah kau berpikir dengan otakmu bahwa itu bisa membahayakan bagimu?”

“Aku tak berniat untuk mabuk, hanya saja…”

“Jangan melakukan pembelaan jika bahkan kau jelas-jelas tak sadarkan diri,” Dong Hae mendesah seraya mengacak rambutnya frustasi, “Aku benar-benar kecewa padamu.”

Mianhae. Aku berjanji tak akan seperti ini lagi.”

Dong Hae mendecak, “Dan bukankah sudah ku bilang untuk menjauh dari Bom? Aku tahu ia teman dekatmu, tapi jika ia memberi pengaruh burk padamu…”

“Hanya ia satu-satunya temanku, Lee,” Sandara memotong, “Kau tahu bahwa hanya ia yang sanggup berteman denganku sedari kecil selain dirimu.”

Dong Hae terpaku menatap manik hazel itu. Ia selalu lemah ketika manik favoritnya menerawang dengan berkaca-kaca disertai sebuah senyuman yang dipaksakan. Pria itu hanya bisa mendesah dan lagi-lagi mendecak. Ia kesal akan kelakukan Sandara? Sangat. Ia bahkan terpaksa datang ke tempat ini dengan mood yang sudah hancur tak tertata akibat Bom memberitahunya bahwa gadisnya tak sadarkan diri, dan itu karena pengaruh alkohol.

Pria mana yang tak akan naik darah jika kekasihnya pergi ke tampat laknat itu tanpa memberitahunya? Walaupun sempat khawatir karena tak bisa dihubungi, namun semalam Dong Hae kira Sandara telah terlelap dalam tidurnya karena ia sendiri bahkan yang telah mengantar gadis itu tepat ke depan pintu kamar sewaan milik Bom. Walau dengan alasan apapun yang terlotar dari mulut gadisnya, yang jelas Dong Hae merasa dibohongi. Dan yang paling ia benci adalah karena kenyataan bahwa ia tak bisa melindungi Sandara!

“Aku hanya tak suka kau pergi tanpa seizinku, apalagi ke tempat yang sama sekali tak pernah kau datangi. Bukan maksudku untuk mengekangmu, namun aku hanya tak ingin kau berada dalam masalah. Bisakah kau bayangkan perasaanku mengetahui kau yang ada di sana? Di club? Sandara yang ku kenal bahkan membenci tempat itu. Aku hanya… khawatir,” Dong Hae berusaha melembut.

“Aku tahu, dan aku minta maaf. Maaf telah membuatmu khawatir.”

Dong Hae memilih untuk mengalah dan tak memperpanjang masalah ini. Ia tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk membebani gadisnya, terlebih ia yakin gadis itu masih belum sadar sepenuhnya dari pengaruh alkohol. Akhirnya, ia hanya bisa mengulas sebuah senyuman seraya mengacak pelan rambut Sandara yang memang telah berantakan.

“Minumlah,” ujarnya seraya menyodorkan teh hijau yang masih mengepul asap di atasnya.

“Terima kasih.”

Seraya mengaliri kerongkongannya yang memang kering itu, Sandara masih menyempatkan diri untuk menatap pria di hadapannya. Benaknya tak henti menimbulkan pertanyaan. Mungkinkah Dong Hae yang membawanya dari club? Namun sepertinya itu tak mungkin. Bukankah pria itu berada di Busan kemarin malam? Jadi siapa yang mengantarnya?

Sandara tertegun sesaat lalu… Deg! Sekelebat bayangan pria dengan surai hijau itu tiba-tiba muncul dalam pikirannya, membuatgadis itu tersedak dan akhirnya terbatuk heboh.

“Hei, pelan-pelan. Kau tidak apa-apa?” Dong Hae terlihat khawatir.

Sandara mengibaskan salah satu tangannya, mengisyaratkan ia baik-baik saja walau kini masih terbatuk pelan. Aish, mengapa bayangan pria sialan itu menghampiri? Bukankah itu adalah pria yang ditemuinya kemarin malam di club? Sandara bahkan tak bisa mengingat namanya dengan jelas. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Oh ayolah, pria itu bahkan sama sekali tak kau kenali, Park Sandara. Bagaimana bisa ia mengantarmu pulang? Ck, gadis itu mungkin telah gila!

*****

‘Tunggu di sana. Aku masih ada kelas. Jangan kemana-mana atau kau tak akan ku maafkan.’

Sebaris pesan singkat dari Dong Hae di ponselnya hanya membuat Sandara menghela napas seraya mengaduk malas jus jeruk di hadapannya. Semenjak kejadian dua hari lalu dimana ia yang tak sadarkan diri dari club, pria itu menjadi protektif hingga tak mngizinkannya untuk bepergian seorang diri bahkan jika ia memaksa. Gadis itu kini tengah berada di kafe dekat perpustakaan pusat kota yang berada tak terlalu jauh dari kampusnya.

Sebuah bel di pintu masuk kafe tiba-tiba terdengar, menandakan seseorang yang masuk. Manik hazel itu membulat ketika mendapati seseorang yang masuk itu adalah pria yang beberapa hari ini bayangan wajahnya entah mengapa selalu berseliweran dalam benaknya. Pria bersurai hijau itu! Ah, bahkan namanya masih tak ia ingat. Jantungnya seakan berhenti beberapa detik ketika pandangan mereka bertemu. Manik kelam itu, walau dari jauh namun masih mematikan saat menatap.

Sandara buru-buru mengalihkan perhatian pada jus jeruknya, sementara pria itu mulai celingukan mencari tempat duduk setelah memesan sesuatu di meja depan. Sialnya, hanya ada satu tempat duduk yang tersisa, dan itu tepat di samping meja Sandara. Shit! Kebetulan sialan macam apalagi kini? Kedua orang itu tampak canggung, sibuk memilih melakukan hal lain ketimbang menyapa satu sama lain. Oh ayolah, bukankah mereka memang tak saling mengenali?

“Ini pesanannya,” seorang pelayan wanita mengantarkan secangkir kopi ke meja Sandara beberapa saat kemudian. Gadis itu terdiam. Ini bukan pesanannya.

Chogiyo, itu pesananku.”

Sandara melirik ke asal suara yang tepat berada di sampingnya. Pria surau hijau itu lagi. Mereka bertemu pandang untuk yang kedua kalinya, namun untungnya kini perhatian pria itu segera teralihkan dengan permintaan maaf pelayan wanita tersebut yang langsung memindahkan pesanannya.

“Kau… baik-baik saja?”

Sandara melirik heran ke arah pria itu lalu celingukan tak jelas. Mungkinkah… ia yang sedang diajak berbicara olehnya?

“Aku berbicara padamu, nona.”

Sandara gelagapan, “Ah, tentu. Aku baik-baik saja.”

Pria itu mengangguk seraya menggumam.

“Memangnya kenapa kau menanyakan itu?” masih merasa heran, Sandara akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh.

“Semenjak kau tak sadarkan diri di club, aku pikir kau akan masuk rumah sakit.”

“Kau… tahu aku tak sadarkan diri?”

“Tentu. Kau pikir siapa yang membawamu hingga ke kamar sempit milik temanmu itu? Aku bahkan merelakan tubuhku sakit keesokan harinya akibat membawa tubuhmu yang berat itu.”

“Kau… yang mengantarku? Mana mungkin?”

“Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada temanmu yang bermana Bom itu.”

Pria itu bahkan mengenal Bom. Lalu… apakah ia berkata jujur saat ini atau hanya sekadar gurauan? Sandara memang tak pernah menanyakan itu pada Bom karena sudah dua hari ini ia pulang ke rumah ditambah dengan padatnya jadwal kuliah, namun… mengapa? Mengapa harus pria itu yang mengantarnya?

Jadi… alasan mengapa bayangan pria itu selalu ada di benaknya beberapa waktu tekahir ini adalah karena mereka pernah mempunyai waktu bersama saat Sandara tak sadarkan diri? Aish, apa yang kini dipikirkan gadis itu? Itu bahkan bukanlah memori yang pantas untuk diingat! Memalukan!

“Kau mempunyai hutang terima kasih padaku.”

Sandara tersadar dari lamunan panjangnya, “Mwo? Aku?”

Pria itu mengangguk, “Jika aku tak mengantarmu, mungkin saja kau akan berada di club hingga keesokan harinya. Kau pikir temanmu itu sanggup membawa dirimu seorang diri hingga pintu depan?”

“Bom bisa saja mengantarku hingga kamar sewaannya dengan selamat,” Sandara tak ingin kalah berdebat.

“Dengan badanmu yang tak bisa dikatangan ringan itu? Kau yakin?”

Manik hazel itu membulat, “Apa maksudmu? Kau pikir aku… gendut?”

Pria itu menyeringai, terlihat mengejek, “Dari luar mungkin tubuhmu bisa dikatakan ramping, tapi setelah aku menggendongmu maka ku rasa kau memiliki beberapa timbunan lemak di bawah lapisan kulitmu itu.”

“Yak! Kau benar-benar tak punya sopan santun!”

Hendak memaki lagi, namun suara ponsel berhasil menghentikan aksinya. Sandara memperhatikan wajah pria itu yang tengah fokus memandang layar ponselnya lalu sedetik kemudian mendecak, “Apakah aku begitu menawan untuk diperhatikan?” ucapnya rendah tanpa menoleh.

Sandara terperanjat, matanya memutar tak tentu arah, “Ti… tidak. Memperhatikan apa yang kau maksud?”

Pria itu mulai menatapnya, “Wajahmu memerah, nona.”

Sandara reflek memegangi kedua pipinya, “Tidak! Sudah ku bilang tidak!”

Pria itu tertawa. Perlu sepersekian detik bagi Sandara untuk menyadari tawa renyah itu berasal darinya. Tawa yang entah mengapa terdengar merdu, hanya dengan melihatnya ia bisa merasakan ketenangan yang luar biasa.

“Karena kau memiliki hutang padaku, maka mulailah cicil dari sekarang.”

Sandara mengerutkan alisnya.

“Hutang terima kasih atas aku yang telah mengantarmu dari club,” pria itu memperjelas maksudnya, “Bayarkan kopiku.”

Mwo?”

“Tak bisakah kau tak menjawabku dengan sebuah pertanyaan singkat tak bergunamu itu? Bayarkan kopiku, nona. Saat nanti bertemu lagi, ku harap kau bisa melunasi semua hutangmu.”

Pria itu segera berdiri setelah menyeruput habis isi gelasnya, mengedipkan sebelah matanya pada Sandara yang masih tertegun bagai orang dungu di tempatnya, lalu melesat pergi tanpa membiarkan Sandara berkata lebih jauh. Manik hazelnya masih setia mengawasi punggung pria itu dari kaca kafe yang membentang lebar di hadapannya.

Kening gadis itu sempat berkerut untuk yang kesekian kalinya. Seorang pria jangkung mendatangi Ji Yong yang hampir menuju mobilnya dengan tiba-tiba dan kini tengah memunggunginya. Sandara tak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas dengan jarak yang cukup jauh tersebut, namun ia seakan familiar dengan gesture tubuhnya. Sempat mengingat-ingat, namun suara dering ponselnya menyentakkan ia kembali ke alam sadar.

‘Kelasku telah selesai. Tunggu lima menit lagi, aku akan segera menjemputmu.’

.

.

.

To be continued…

 

Niatnya mau bikin hurt or sad langsung, tapi kangen juga sama DG moment. So sorry kalo alurnya emang lambat karena kebanyakan basa-basi busuknya sebelum munculin konflik hehe.

See you in the next post ^^

Advertisements

25 thoughts on “MEA CULPA [Chap. 5]

  1. Jiyong modus banget
    Bilang aja mau lebih deket sih.. kenapa harus Kasih alesan punya hutang segala
    Mau dibikin sad ???
    Heol.. golok mana golok???
    Hhaha
    Becanda
    Ditunggu moment daragonnya ya??? Bukan moment sadnya

  2. Ahhh modus ku ji, blg aja emng mau ketemu lagi sama dara gegara ku udh trtarik sma dara. Duhh dibuat sad?? Aigoooo janganlaahh wkwkw

  3. Sosweeettt bangeett deh si donghae sama dara,hkeke.
    Jiyong sma dara ketemu yang akur kek,berantem mulu.
    Sypa yg ditemuin jiyong?
    Nxt chp^^

  4. Aww jidi d. Sini modus na keliatan, tp bagus lah dengan ada nya uttang terimakasih mereka berdua bakal jd lbh deket, nanti lama” makin saling jelas deh rasa suka nya, hoho
    Btw mkasih ya thor udh bkin ff Bagus gini, semangat thrs thor ^^ fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s