HELLO BITCHES [Part. 11]

tosur4

Author: Zhie | Main Cast: Sandara Park (2Ne1), Kwon Jiyong (Bigbang) | Support Cast: Lee Junki (Actor), Goo Junhee (Actress), All Member 2Ne1, All Member Bigbang, Lee Soohyuk (Model), Kwon Dami, Kim Yoojung (Actress) a.k.a Choi Yoojung | Genre: Romance, Adult| Rating: NC-17 (Maybe 😛 | Lenght: Series

~~~

Mianhe, law part. belum bisa dipanjangi >>> gomawo untuk semua yang dah ninggalin jejak. So- jangan bosen-bosen ma FF ini ya chingu. Happy Reading! >.<

Jiyong Pov

Cih! Ini mengejutkan- bagaimana wanita dihadapanku beberapa saat lalu menangis hanya karena makanannya yang jatuh tanpa sempat diselamatkan… dan kini, lihat- ia dengan lahap menikmati nasi dan beberapa lauk yang mau tak mau harus kubuat dengan cepat, karena ia terus merengek- mengatakan bahwa ia lapar.

Aigo. Dimana wanita yang kukira kuat sebelumnya? Ini benar-benar diluar dugaan.

“Ya! Kenapa kau terus memperhatikanku, hah? “ sungutnya saat menyadari aku terpaku melihatnya- terpaku karena sifat dan sikapnya yang terkadang saling bertolak belakang membuatku bingung seperti apa dia sebenarnya.

“Kau menangis hanya karena sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya.” jawabku akhirnya membuat ia berdesis.

“Aku sangat kelaparan Jiyong- kau meninggalkanku begitu lama hingga satu jam lamanya, dan saat aku telah berhasil membuatnya… kau mengagetkanku- membuat itu semua jatuh tanpa sisa. Kau tahu- itu pertama kalinya aku memasak, harusnya aku bisa bangga karena rasanya benar-benar enak… aku tak pernah merasakan yang seperti itu sebelumnya tapi kau- euhp.”

Aku menjejalkan satu sendok penuh nasi ke mulutnya. Ia begitu cerewet, benarkan?

“Berhenti bicara. Makanlah dulu apa yang ada dihadapanmu, Dara.” ucapku cepat. Terlihat ia mencibir sesaat dan kembali mengunyah makanan yang telah ada di mulutnya.

Benar-benar. Aku menghela nafas panjang.

“Jiyong.” panggilnya  kemudian- di sela-sela makannya. Aku kembali melihatnya, “Lain kali jangan masukkan bawang putih di masakan yang kau buat, aku tak suka.” lanjutnya.

Aaaargh! Tidak bisakah ia makan dengan tenang?

“Dan juga nasi ini- buatlah tak terlalu lembut lain kali.”

“…”

“Lalu- telur mata sapi ini, bisakah kau membuatnya lebih rapi? Aku suka jika itu terbentuk bulat sempurna, itu akan terasa lebih nikmat untuk di santap.”

“…”

“Dan ini- apa ini? CL biasa memotong sayuran dengan lebih pendek agar kita bisa dapat langsung memakannya hingga itu tak merepotkan. Lalu-“

Braak

Aku sengaja menaruh ke dua tanganku yang masih memegang sendok dan garpu dengan sedikit keras di meja- itu berhasil membuatnya berhenti seketika…

“Wae?” tanyanya tanpa berdosa- seolah itu bukanlah karenanya.

Aku pun tersenyum miris- ia tak peka, eoh?

“Anio. Lanjutkanlah.” jawabku akhirnya, meletakkan garpuku dan meraih gelas air mineralku- meminum habis isi di dalamnya, setidaknya ini berhasil kembali menenangkanku dan menurunkan kadar emosiku yang hampir memuncak. Dara- Park Sandara, aku perlu mempersiapkan kesabaran yang extra untuk menghadapinya.

Sigh.

Beberapa saat kemudian…

“Aku sudah selesai.” ucapnya setelah menghabiskan- tanpa sisa.

“Kalau begitu kau bisa mengganti bajumu, Dara. Aku membeli pakaian wanita untukmu- kau tidak mungkin keluar dengan hanya mengenakan kemejaku, kan?”

“Oh. Jadi itu yang membuatmu lama, eoh?”

“Ne. Aku  menaruhnya di sofa, ambilah.” ucapku kemudian- ia pun mengambilnya, dan memeriksanya- bisa kulihat dari ekpresinya kalau itu bukanlah style nya.

“Ya! Jiyong. Kenapa kau membelikanku baju seperti ini, huh?” omelnya yang kembali terdengar- menunjukan sebuah casual dress diatas lutut dengan lengan sesiku berwarna pastel.

“Waeyo? Itu lagi trend sekarang.”

“Ya! Tidakkah kau bisa memilih yang lebih terbuka, ini baju yang biasa dikenakan oleh para remaja. Kau tahu?”

“Bukankah itu akan sesuai dengan umurmu? Kau akan kelihatan seperti ahjumma yang berusia tiga puluhan jika terus menggunakan pakaian terbuka, Dara.”

Ia tersenyum kecut- kembali menatap tajam diriku, “Kau pikir aku yeoja yang baru memasuki masa puber, eoh? Aku adalah ahjumma dengan usia tiga puluhan yang kau maksud- aku berusia 32 tahun, Jiyong.”

“Mwo?” Ini benar-benar sulit dipercaya- bahkan wajahnya tak sedikitpun menampakkan usianya, “Kau melakukan operasi dengan baik.” celetukku kali ini mampu membuatnya- membulatkan mata- menatapku tajam.

“Ya! Siapa yang melakukan operasi, eoh? Kau pikir aku akan membuang-buang uangku untuk itu? Cih! Sialan.”

Aku terkekeh- tapi itu memang sulit di percaya, karena ia terlihat lebih muda dari usia yang disebutkannya. Apa ia membohongiku?

“Kenapa kau masih mengamatiku? Kau tidak percaya? Memang berapa usiamu sekarang? Aku bisa menebak kalau kau berada di bawahku.”

Aku mengangguk, “Kita beda empat tahun.” jawabku- jika memang ia mengatakan yang sebenarnya tentang usianya.

“Yah. Aku sudah dapat menebaknya, kalau begitu haruskah kau memanggilku Noona?”

“Anio. Tidak akan, aku masih tidak percaya. Jadi cepatlah- ganti pakaianmu. Kita perlu membicarakan banyak hal setelah ini.” ucapku kemudian- dan akhirnya ia dengan terpaksa menurutinya.

.

.

.

Kini aku dan Dara telah berada di ruang tengah, kami masing-masing duduk di sofa yang saling berhadapan.

“Itu tidak burukkan?” ucapku mengomentari baju yang telah ia gunakan- itu tetap terasa pas untuknya.

“Ais. Aku seperti seorang bocah sekarang.” gerutunya.

Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu aku pun meminta waktu untuk menulis beberapa hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan- ia menunggu dengan tenang dengan sesekali menguap. Ia mengantuk karena kekenyangan kurasa. Aigo. Siapa yang menyangka tubuh mungilnya dapat menampung makanan begitu banyak? Bahkan aku tidak akan percaya jika aku tidak secara langsung melihatnya.

“Jadi bisa aku mulai.” ucapku akhirnya.

“Silahkan.”

Aku pun berdehem- bersiap membacakan apa yang telah kutulis di sana, “Beberapa hal yang harus dilakukan…”

  1. Tinggal di apartemenku sesuai waktu yang telah di sepakati.
  2. Selalu siap bertemu dengan orang tuaku maupun keluarga besarku.
  3. Menjawab setiap panggilanku.
  4. Merubah gaya berpakaian maupun make up.
  5. Belajar hal-hal mendasar tentang apa yang harus bisa dilakukan oleh wanita (memasak adalah yang utama)

Dara Pov

Aku tertawa datar sesaat setelah ia membacakan sebagian isi dari apa yang telah ia tulis, “Ya! Untuk satu sampai tiga itu tidak masalah, tapi apa itu dengan yang keempat dan kelima. Kau bercanda, hah? Apa yang harus aku rubah? Pakaian? Make up? Dan kau suruh aku belajar memasak? Yang benar saja.” rutukku kali ini jelas tak begitu mudah menerima.

“Aku membayarmu dengan begitu mahal, Dara- harusnya itu tidak masalah.” ucapnya, membuatku tak lagi menatapnya.

“Cih. Bahkan kau menuntutku ini itu sebelum aku benar-benar mendapatkannya.” sungutku pelan tapi kuyakin ia dapat dengan jelas mendengarnya.

“Omo. Kau begitu perhitungan ternyata- baik, tunggulah sebentar.” ucapnya akhirnya, beranjak dari duduknya dan pergi ke sebuah ruangan. Itu ruang kerjanya kurasa, dan ia kembali dengan selembar cek dan menulis beberapa nominal disana.  “Ini. Ambilah, aku membayar untuk waktumu seminggu ke depan.” lanjutnya kemudian menyerahkan selembar cek itu padaku.

“Berapa ia menulisnya?” batinku bertanya, dan… “Daebak! 25 juta won? Apa ia serius? Ini bahkan cukup untuk membayarku selama sebulan.” batinku kembali berucap- jujur, aku tidak bisa menutupi keterkejutanku sekarang. Ia begitu loyal.

“Apa itu cukup? Aku tidak tahu pasti berapa sebenarnya hargamu jadi aku hanya mengira-ngira, jika itu kurang anggaplah itu sebagai uang muka dan aku akan membayar selebihnya nanti.” ucap Jiyong, berhasil membuatku melihatnya tak percaya- benar-benar tak percaya.

“Jadi ini benar untuk seminggu? Kau membayar sebanyak ini hanya untuk waktu seminggu?” tanyaku memastikan.

“Neh.” Ia menjawab singkat.

“Apa kau begitu banyak memiliki uang, hah? Bahkan ini terlihat begitu mudah bagimu mengeluarkannya.” ucapku kemudian- ia membalas tatapanku padanya.

“Ah. Apa itu terlalu banyak? Haruskah aku menguranginya?” tanyanya kali ini membuatku menggeleng seketika.

“A- Anio.”

“Baiklah. Jadi aku rasa itu sudah lebih dari cukup dan harusnya apa yang kusebutkan sebelumnya tidak lagi menjadi masalah, bukan?” ucapnya kali ini bertanya.

Aku mengangguk cepat, “Ne. Tidak masalah- itu mudah, setidaknya aku hanya perlu untuk mencoba tapi satu hal tentang pakaian dan make up itu diluar apa yang kau bayarkan- jadi jika kau ingin aku merubahnya maka kau harus-“

“Araesso… araesso… aku yang akan mengeluarkan uang untuk itu.”

“Omo! Dia benar-benar kaya, Dara. Kau telah mendapatkan tambang emas.” batinku kini bersorak, “Ok. Itu bagus, lalu apa lagi selanjutnya? Bukankah ada lagi yang kau tulis di sana.” ucapku akhirnya- ia kembali melihat apa yang telah ia tulis sebelumnya.

“Ne. Ini tentang apa yang tidak boleh aku atau kau lakukan, pertama tidak memasuki batas teritorial yang telah ditetapkan.”

Aku mengerutkan keningku, “Mwo? Apa maksudnya itu?”

“Kamarku adalah daerah pribadiku, jadi pintu kamar itu adalah batas teritorial dimana kau tidak boleh memasukinya. Begitupun juga aku- aku tidak akan dan tidak mungkin memasuki daerah pribadimu atau pun melewati batas teritorial yaitu pintu kamarmu.” ucapnya menunjuk kamar lain yang letaknya berada di sudut- tak begitu jauh dari kamarnya, “Aku akan menyuruh orang untuk membersihkan nanti.” lanjutnya.

“Cih! Apa kau begitu takut, eoh? Takut aku akan masuk ke kamarmu dan diam-diam menerkammu? Mengambil kesucianmu?”

“Aigo. Terserah bagaimana kau menilainya, Dara… yang jelas jika kau melewatinya- maka kau harus membayar denda dan itu seharga setengah dari apa yang kuberikan padamu sekarang.” jawabnya membuatku tercekat.

“Ya! Kenapa kau begitu seenaknya, hah?”

Ia tersenyum, “Karena itu hanya mematuhinya, Dara. Tidak- untuk memasuki kamarku. Araesso?” ulangnya.

“Cih. Kau begitu baik menjaga dirimu, eoh? Dasar pria suci.” gumamku, membuatnya hanya menyeringai. Aigo. Apa dia pikir dirinya dapat selalu aman, hah? Ia tidak akan terus mengurung dirinya dikamar bukan? Ke ke ke… kita lihat- siapa yang akan masuk ke kamar siapa lebih dulu. Kwon Jiyong.

“Wae? Mengapa kau tersenyum menakutkan seperti itu?”

Aku pun tersadar- ia tengah memperhatikanku sekarang, “Anio. Hanya saja, bagaimana jika kau yang tiba-tiba datang ke kamarku lebih dulu Jiyong?” tanyaku, membuatnya lagi-lagi tersenyum- menggeleng.

“Itu tidak mungkin, Dara.”

“Cih. Kau begitu percaya diri, neh? Begini saja, biar adil… aku yang akan menentukan sendiri apa yang terjadi jika kau melewati batas teritorialku dan aku telah menetapkannya, jika kau melewatinya itu lebih dulu dan masuk ke dalam kamarku entah karena apapun itu maka- batas teritorial akan di hapuskan dan secara otomatis kamarku atau pun kamarmu menjadi wilayah yang bebas. So… tidak akan lagi berlaku denda yang kau sebutkan sebelumnya.”

“Ya! Apa-apaan itu, hah?” Kini ia yang tak terima.

“Mwo? Wae? Kau takut? Kau tidak percaya diri, eoh? Kau tidak yakin bisa menghindari pesonaku sepertinya?” tanyaku yang tengah berada di atas angin sekarang- ia tak mungkin bisa mengalahkanku, eoh? Peraturan yang ia buat seperti ini- tidak akan berlaku lama buatku.

“Cih! Kau memikirkan itu dengan sangat baik, Dara.” ucapnya kemudian membuat senyumku kembali mengembang- bangga.

“Itulah aku- kau tidak bisa meremehkanku, Jiyong.”

“Araesso. Baiklah, aku akan mengikuti- lagipula aku yakin tidak akan pernah melanggarnya.”

“Omo. Jinjja? Jinjja?” Aku mulai menggodanya.

“Argh. Sudahlah, kita lanjut dengan yang kedua.” jawabnya cepat. Aku terkekeh- sungguh sebuah hiburan melihat Jiyong dengan ekspresi kesalnya itu.

“…” Aku pun menunggu apa yang ia akan bacakan selanjutnya.

“Kedua- tidak di perbolehkan melakukan sentuhan fisik yang intim kecuali dalam kondisi atau keadaan mendesak.”

“Wae?”

“Ingatlah untuk apa aku membayarmu, Dara. Aku bukan ingin menikmati tubuhmu, araesso?”

Mau tak mau aku mengangguk, “Araesso. Lanjutkan.”

“Ketiga- kau tidak diperbolehkan untuk menerima pelanggan lain selama masa sewaku itu berakhir, Dara.”

“Mwo? Wae?”

“Aku membayar waktu 24 jammu dengan penuh, jadi tidak ada alasan untukmu menerima pelanggan lain. Bukankah itu telah lebih dari cukup?”

“Ah. Ne- araesso… araesso. Tapi kau tidak melarangku untuk pergi ke club kan?”

“Pergilah sesekali tapi tidak untuk setiap hari.”

“Cih. Entah kenapa aku mulai membayangkan ini akan membosankan- apa yang harus kulakukan jika aku tak pergi ke sana, eoh?”

“Menungguku pulang- itu sudah jelaskan?”

Aku tergelak, “Cih. Aku bahkan bukan istrimu, Jiyong?”

“Tapi aku membayarmu untuk itu, Dara? Sewaktu-waktu bisa saja keluargaku datang dan saat itu aku ingin kaulah yang menyambutnya, agar mereka benar-benar yakin aku telah memiliki wanita sekarang.”

“Aigo. Aku heran, apa sebenarnya alasanmu hingga harus seperti ini- apa mereka telah menuntutmu menikah, hah? Atau mereka telah menetapkanmu pada sebuah perjodohan? Atau kau bukan pria yang normal sebenarnya.”

“YA! Tidak mengatakan itu, Dara.” ucapnya dengan tegas.

“Kalau begitu jelaskanlah, aku ingin tahu lebih detail ada apa sebenarnya- kau tidak seharusnya menutupinya dariku, Jiyong. Bukankah kau ingin aku benar-benar berhasil membantumu, oleh karena itu ceritakanlah. Aku akan menjaga rahasia- kau harusnya dapat sepenuhnya mempercayaiku. Dengan begitu aku akan dapat dengan mudah memahami situasi untuk ke depannya dan-“

“Mereka kira aku seorang gay, Dara.” ucapnya kemudian yang secara otomatis membuatku terdiam.

“…” Aku diam.

“…” Dia diam.

“Mwo?” Mulutku berhasil terbuka- akhirnya.

“Aku tidak harus menggulangnya, bukan?” Kini ia bertanya sarkastik.

Aku sesaat kembali memperhatikannya, “Phhhtfttttf… phhffttt, Ga- gay? Phhftftttt… ha ha… ha ha… puahahahahaha.”

Maaf, Jiyong! Aku tak mampu menahan tawaku lagi sekarang.

.

.

.

So, Daftar yang tidak boleh dilakukan yang telah kusetujui yaitu :

  1. Melewati/memasuki batas teritorial.
  2. Melakukan sentuhan fisik yang intim.
  3. Menerima pelanggan lain.
  4. Pergi ke Club Pergi tanpa memberi kabar.
  5. Menggodanya.

Untuk yang terakhir. Itu tidak mungkin, kan? Ha ha.

.

.

.

=To be continued=

Prolog | | 2 | 3 | 4 | 5 | 6| 7 8 | 9 | 10

<<back  next>>

TBC again kekeke >>> Tinggalkan jejak seperti biasa, Hengsho. ^.^/

Advertisements

54 thoughts on “HELLO BITCHES [Part. 11]

  1. Ngakak bacanya…tapi kak zhie haruskan peraturan itu ada? Aku jdi inget FF kak zhie yg False its True 😢 Nikah kontrak kalao ini pacar sewaan …omegat 😢😢😢 sedihnya …
    Aku menunggu kdua ff favoritku untuk dlanjutkan kak hhihi…

    Figting kak Zhiedaraaaa 😄😃😄😃😄😃

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s