DESTINY FOR THE KING [Part. 8]

dftk part8 DFTK8

Author : Defta

Cast     : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jung il Woo

Genre   : Drama, action (maybe), Kolosal

***

Wei… Defta bawa FF yang panjang lho kali ini, tapi kalo bosen Defta minta maaf ya…

Defta super duper bahagia, kenapa ? selain karna UTS yang udah selesai, Fanfict Defta masuk di buku OVP… ituloh yang judulnya Just Me and You… #Defta Pamer# jangan kaget karna nama pena yang beda,itu permintaan dari Noonanya defta, dia bilang defta boleh jadi penulis asal pake nama sediri, tapi karna nama defta yang tidak menjual, jadi Defta pake nama pena “DEFTA” yang berasal dari kependekan nama asli Defta #Apaan sih Defta ini#. So tengkiyu buat kakak kakak admin yang baik banget. Cinta deh sama kalian.

For reader juga, defta sayang banget sma kalian, tapi tolong tinggalkan jejak biar defta kenal kalian, karna tak kenal maka tak sayang….

Dengan mengerahkan segala kekuatannya, jiyong berlari dengan kencang menuju istana tengah, beberapa prajutit masih melawan seseorang bercadar hitam dengan bayi yang ia yakini itu Hanbin dalam gendongannya.

Ia menyuruh Yongbae untuk melawannya dan dirinya sendiri akan menghadapi orang yang tengah menyadera Dara. Perdang yang baru saja ia keluarkan bersinar karna terpantul sinar bulan, ia mengarahkannya kedepan, mengancam orang yang masih membekap Dara.

Jiyong harus berhati-hati salah langkah saja, dara bisa terbunuh oleh pedangnya. Ia mengikuti gerakan memutar yang dibuat oleh penjahat itu. Ia sama sekali belum melakukan apapun dan tiba-tiba orang bercadar itu melepaskan sekapannya pada Dara dan lari begitu saja. Tapi dengan gerakan cepat Jiyong dapat menorehkan luka di tengan kanan orang itu.

Setelahnya jiyong baru sadar bahwa orang yang membawa Hanbin juga sudah kabur.

“Sial” Umpatnye dengan keras. “DENGAR, PARA PENJAHAT ITU PASTI MASIH ADA DI SEKITAR ISTANA, KERAHKAN SELURUH PASUKAN UNTUK MENCARINYA. AKU TAK PEDULI, HANBIN GUN HARUS SEGERA DITEMUKAN”

Jiyong kembali kepada Dara, yeoja itu terlihat syok, ia berlutut diatas tanah yang dingin, pipinya sudah basah akan air mata, ia benar-benar tidak kuat dengan pemandangan itu.

“LADY MIN….” Jiyong beteriak memanggil dayang pribadi Dara pengganti Minji.

Tak lama, sesorang berawakan kecil mendekat sambil menunduk pada jiyong. “Panggil tabib untuk mengobati para dayang dan prajurit yang terluka.” Sejenak ia menatap Dara. “Juga bawakan obat untuk Wangbi”

“Hanbin-ah…Hanbin-ah” samar Jiyong dapat mendengar lirihan Dara yang meamnggil nama putra mereka.

“Bawa Wangbi kedalam”

Dengan itu ia meninggalkan  Dara sendirian diliputi kesedihan yang amat dalam.

###

Pagi mulai menyingsing, kabut-kabut tipis menyelimuti joseon, mebuat suasana menjadi dingin yang tak terelakkan. Sang suryapun juga enggan untuk menampakkan sinarnya. (kalo susah, bayangin aja lagi jam 4 pagi)

Jiyong baru saja kembali ke kamarnya, ia juga ikut mencari keberadaan hanbin putranya. Ia jatuh terduduk di tengah kamarnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya runtuh juga, dan selajutnya ia menagis dengan keras.

Langkah kaki yang berat berjalan mendekat kepada Jiyong, ia tak menyadarinya karna ia yang masih menangis. Yang ia tau selanjutnya kerah bajunya ditarik dengan seseorang.

#BUGH satu pukulan berhasil melayang dengan sempurna di pipi kiri Jiyong membuatnya jatuh tersungkur di lantai, dan setetes darah muncul di sudut bibirnya.

“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI !!” Namja itu berteriak di hadapan Jiyong.

“Yongbae-ah…” Lirih Jiyong pelan.

“AKU TANYA APA YANG KAU LAKUKAN DISINI !!!” Kembali yongbae mencekram kerah baju jiyong. “KAU BAJINGAN BERUNTUNG, PERGI TEMUI DARA DAN TENANGKAN DIA, APA SETELAH SEMUA YANG TERJADI KAU MASIH AKAN BERSIKAP DINGIN PADANYA”

Eunuch kang datang dan melerai Yongbae, ia melepaskan tangan Yongbae dari kerah Jiyong dengan paksa, sehingga untuk sekali lagi Jiyong jatuh tersungkur.

“Aku tidak berani Yongbae-ah .. aku tak punya keberanian untuk melakukan itu.” Ucap Jiyong disela-sela tangisnya, suaranya bahkan terdengar sangat pilu.

“KAU BENAR-BENAR BAJINGAN, BERHENTI BERSEMBUNYI DARI DIRIMU SEDIRI” Masih dengan berteriak yongbae berkata sambil menunjuk hidung jiyong. “Dia sudah terlalu banyak menderita” Kini yongbae yang ikut menitikan air matanya.

Langkah-langkah kecil yang kuat terdengar selanjutnya, membuktikan bahwa ada sesorang yang berlari kearah mereka bertiga.

“Jeonha… Wangbi… dia…”

Hanya mendengar kata Wangbi, Jiyong lagsung kalang kabut, tanpa memperdulika apa-apa lagi ia berlari keluar dari kamarnya, yang langsung diikuti oleh Yongba dan Daesung.

Langkah cepat Jiyong berhenti saat melihat dara dihalau oleh beberapa dayang. Ia mencoba untuk terus memberontak dan menerobos pagar hidup dari para dayang-dayang itu.

“Saya mohoon kembalilah kekamar anda Mama” Seorang Dayang berata kepada Dara.

“Ani..Aku harus mencari hanbin, kami ada janji hari ini”

Jiyong kembali melanjutkan perjalanannya, namun kali ini lebih pelan, dia terus menatap dara yang masih saya memberontak. Baru saja hanbin menghilang, tapi yeoja itu sudah sangat berantakan.

“Jeonha…” Dara berucap pelan, saat matanya bertemu dengan Jiyong.

Beberapa dayang yang mencoba menghalau Dara akhirnya melepaskan halauannya dan membungkuk hormat pada Jiyong. Dara yang terbebaspun berlari kecil kearah Jiyong.

“Jeonha.. apa anda lihat Hanbin Gun ?” Dara bertanya dengan secercah senyum di bibirnya. “Anda melihatnya bukan, dimana dia sekarang ? Saya berjanji bahwa kami akan mengunjungi anda hari ini, saya berjanji karna tadi malam dia sudah mau tidur”

“Dara-ah..”

Dara yang melihat wajah sedih jiyong , emosi-nya bendadak juga ikut sedih. “Anda tidak mengunjungi kami kemarin, jadi saya berjanji akan menemui anda hari ini bersama dengan Hanbin Gun”

“Dara-ah…”

“Katakan pada saya Jeonha dimana Hanbin Gun ?” Dara muali kesal karana jiyong tak kunjung menjawabnya, jadi ia melampiaskan kemarahannya dengan memukul dada bidang Jiyong. “JAWAB SAYA JEONHA…” dan sekarang Dara berteriak.

“Dara-ah..” Jiyong terus menggumamkan nama Dara, air matanya sudah jatuh sedari tadi.

Tak ada satupun yang kuasa menahan tangis melihat pasangan itu.

“Saya harus menepati janji saya pada Hanbin, jadi mohon beritahu saya dimana dia” ucap Dara sebelum akhirnya kedua kakinya tidak kuat untuk menahan tubuhnya, dan dia kehilangan kesadardannnya.

“DARA-AH”

Semua orang maju satu langkah ketika melihat Dara yang limbung. Tapi dengan mudah dan cepat Jiyong mengangkat tubuh Dara. Membuat semua orang urung melakukan niatnya untuk menolong Dara.

Jiyong duduk di sudut kamar Dara dengan Dara dalam pelukannya, Jiyong enggan membaringkan Dara dan sebagai gantinya dia menyandarkan kepala yeoja itu di atas dadanya.

Lama berselang, dan dara kembali mendapatkan kesadarannya. Jiyong yang menyadari hal itu langsung menatap dara secara menyeluruh.

“Apa ada yang sakit ?” tanyanya begitu dara membuka kedua kelopak matanya. “apa kau lapar, aku akan memanggil Lady Min” Jiyong akan berteriak ketika Dara menarik bajunya, berniat menahan namja itu disisinya.“Kau tak mau makan ? baiklah…”

Menyadari ada sesuatu yang berbeda dari namjanya, Dara mendongak dan menatap wajah Jiyong. Dan disanalah ia melihat lebam biru dipipi dan darah kering di sudut bibir Jiyong. Dara menaikkan tangannya keatas dan mengusap darah itu dengan perlahan.

Sentuhan Dara memang sangat lembut, tapi masih menimbulkan ringisan kecil dari mulut jiyong. Suara helaan nafas dari hidung dara terdengar jelas oleh telinga jiyong, dan selanjutnya ia merasa Dara menggeliat dalam pelukannya, berusaha untuk berdiri.

“Kau menghkhawatirkanku ?” tanyanya sebelum Dara sempat berdiri, karna Jiyong masih mencekal pinggang Dara. “Ini hanya luka kecil, akan segera sembuh karna obatku sudah ada disini”

Keduanya saling menatap  dalam diam. Lalu dara mensejajarkan wajahnya dengan wajah jiyong membuat namja itu sedikit terkejut. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah Dara mencium sudut bibirnya yang tadi mengeluarkan darah.

Jiyong tersenyum lemah setelah dara melepaskan ciumannya. “Gwomawo…” Jiyong kembali meraih kepala dara untuk ia simpan di dadanya. “Semuanya akan baik baik saja” ia mendaratan kecupan kecil di puncak kepala Dara.

“Aku jadi menyesal mengijinkanmu melakukan pesta kelahiran Hanbin”

Dara mulai melamun, dia mengingat beberapa minggu yang lalu, seminggu setelah kelahiran hanbin ia melakukan pesta bersama dengan rakyat-rakyat biasa, dan membuka pintu istana untuk semua orang.

#FLASHBACK#

“Eunuch Kang apa bahan bakanan untuk semua desa sudah di kirim ?”

“Yeh Mama”

“Kau yakin semua desa sudah menerimanaya, aku ingin semuanya bisa ikut berbahagia atas kelahiran Hanbin”

“Yeh Mama, saya yakin sudah mengirim semuanya, dan tentu semua orang akan berbahagia untuk kelahiran sang pewaris tahta”

“begitukah ?” Dara bertanya, senyuman ramahnya sama sekali tidak lepas dari wajah cantiknya “Pengawal Dong…” Dara berteriak memanggil Yongbae yang berdiri tak jauh darinya.

“Yeh Mama ?”

“Tunggu sebentar” yeoja itu kemudian bertanya pada salah satu dapur istana tentang kesiapan makanan yang ada di dalam istana. “buka gerbangnya sekarang.” Perintahnya pada Yongbae

Yongbae membungkuk untuk melaksanakan perintah dari Dara.

“Anda harus istirahat Mama, anda belum istirahat sejak kemarin” Lady Min memperingatkan.

“Aku baik-baik saja. Aku tak bisa istirahat sekarang. Bagaimana dengan Hanbin ?”

Lady Min tersenyum sesaat. “Dia sedang bersama Jusang Jeonha sekarang”

“Jusang Jeonha ?” Dara ikut tersenym mendengarnya. “baiklah kau kembali saja keistana tengah, jika terjadi sesuatu beritahu aku secepatnya”

Dara baru saja kan berbalik untuk membantu para dayang yang membagikan makanan gratis untuk para rakyat yang kini sudah berbaris, ketika sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar.

“MAMA…” Dara menoleh dan menemukan Minji tengah berlari kearahnya.

“Minji-ah…” ia ikut berseru saat melihat Minji. “Kau disini ?” ia bertanya setelah minji berada didepannya.

Sambil menata nafanya yang terengah minji berucap kata demi kata. “Yeh Mama, Jeonha sendiri yang mengundang saya untuk pergi kemari, dia bilang saya harus menemani dan membantu anda disini”

“Dia sendiri yang menyuruhmu ?” Dara seorlah tak percaya dengan yang diucapkan Minji, tiba-tiba pipinya bersemu malu.

“Tidak langsung, dia mengirimkan saya sebuah surat”

“Apa kau datang sendiri ? dimana Yunheong ?”

“Yunheongie ? dia sedang bersama ayahnya”  Minji menunjuk Daesung yang tengah menggendong dan bercanda dengan Yunheong, putra mereka yang sekarang sudah berusia 1 tahun. “Syukurlah dia mengenali ayahnya”

“yah itu wajar, Eunuch kang kan hanya pulang setiap sebulan sekali.”

“Ne, bahkan pernah ketika dia pulang Yunhyeong sama sekali tak mau digendong olehnya, dan dia menangis dan bilang kalau dia ayah yang buruk sampai putranya sendiri tak mengenalinya” Minji menceritakkannya sambil tertawa.

“MAMA…” Seorang prajurit tiba-tiba saja muncul di hadapan Dara.

“Ada apa?”

Prajurit itu menyerahkan sebuah rangkaian batu giok yang disusun membentuk sebuah kalung. “Ini dari ayah anda”

Dara mengambil kalung itu dengan perasaan rindu pada ayahnya, “Ini untuk hanbin” Desisinya pelan sambil memeluk erat kalung berwarna merah itu. “Terimakasih” Ucap Dara pada prajurit itu, dan selanjutnya prajurit itupun mengundurkan dirinya.

Tak mau terlarut lebih lama, Dara menyimpan kalung itu pada lengan bajunya, dan dia beralih kepada para dayang yang sangat sibuk membagikan makanan. Ia-pun tersenyum kepada minji dan mengajaknya untuk membantu para dayang dari dapur istana itu.

Belum lama Dara membantu disana, beberapa rakyat menatapnya kagum, beberapa lagi berucap syukur, ada juga yang mendoakan kesehatan Hanbin Gun dan juga Jiyong. Dara hanya menangapinya dengan tersenyum ramah berharap doa-doa rakyatnya itu terkabul.

“Mama…. Mama…” Suara Lady Min mengganggu aktivitas Dara. Sesaat yeoja itu berpaling untuk menatap Lady Min. “Hanbin Gun terus saja menangis, dan tak ada yang bisa menangkannya”

Mendengar putranya menangis dara langsung meninggalkan begitu saja pekerjaannya, dan setengah berlari menuju ke istana tengah untuk melihat keadaan Hanbin.

Sesampainya disana ia melihat Jiyong yang sangat kerepotan membuat Hanbin diam, keringat dingin bahkan sudah bercucuran dari dahinya. Dengan langkah cepat ia berdiri disamping Jiyong.

“Kenapa anak Eomma menangis eoh ?” Dara menyentuhkan tangannya di pipi mungil hanbin, tapi Jiyong menghalaunya.

“Cuci tanganmu terlebih dahulu” Perintah Jiyong, dan tentu saja Dara tak berani menolaknya.

Setelah mencuci tangannya dengan air bersih Dara kembali kesisi Jiyong dan Hanbin, dengan kesadaran diri, Jiyong mengalihkan Hanbin dari tanganya ke tangan Dara.

“Dia mungkin lapar, kau kemana saja, kau seharusnya tetap disini dan menjaganya” Jiyong berkata dengan marah.

Dara menunduk menyesal.

“Sudah cepat susui dia” Dara langsung menuruti ucapan Jiyong dan membawa hanbin kedalam kamarnya dengan Jiyong yang berjalan di depannya.

Hanbin langsung terdiam begitu berhadapan dengan puting susu dara. Dan tak lama Hanbinpun tertidur.

“jeonha… bisa anda membantu saya ?” Dara bertanya setengah berbibisik, berusaha tidak mengganggu tidur Hanbin.

Jiyong hanya menatap Dara dengan tatapan “Apa itu ?”

Dara menyerahkan lengan kanannya. “Ada sesuatu disana”

Dengan perlahan Jiyong memasukkan tangannya di lengan dangui milik Dara dan menemukan sesuatu yang dimaksud Dara.

“Ini sebuah kalung ?”

“Neh, pemberian Aboji, Untuk hanbin” ucapnya dengan berfokus pada wajah Hanbin yang tertidur dalam lengannya.

Jiyong mengamati kalung dari batu giok itu, kemudian menggeser tubuhnya mendekat pada Dara. “jika ini memang untuk hanbin, maka dia harus memakainya” Lalu Jiyong memasangkan kalung itu di leher Hanbin.

“Jeonha…”

“Mama… Dayang dapur istana datang”

“Biarkan dia masuk”

“Maafkan saya menganggu anda Mama, tapi ada sedikit kekacauan kecil, dan kami tak bisa mengatasinya tanpa perintah dari anda”

“Apa maksudmu, apa kau tak lihat kalau Wangbi sedang…”

“Jeonha…” Dara menyela ucapan jiyong. “Tunggu aku disana”

“Yeh Mama” Dayang itupun segera menundurkan dirinya.

“Kau akan kembali kesana ?” Jiyong bertanya dengan marah, walau nadanya sangar rendah, tapi tatapan intimidasinya dapat membuat orang mati seketika.

“Saya menugaskan bayak Dayang untuk keluar istana, jadi kami kekurangan tenaga bantuan, saya harus kesana” Melihat Hanbin yang sudah tertidur pules, Dara berniat memindahkannya diatas kasur.

Tapi baru saja tubuh mungil menyentuh lembutnya kain kasur ia langsung membuka matanya dan menangis.

“Lihat Hanbin membutuhkanmu”

Dara kembali mengangkat hanbin dalam rangkuhannya dan menenangkan putra mahkota joseon itu. Jiyong berdehem untuk kembali menemukan suaranya. “biar aku yang menggantikanmu”

“Tapi Jeonha…” Tanpa mendengarkan panggilan Dara, Jiyong bangkit dari posisi sebelumnya dan keluar meninggalkan Dara dan juga Hanbin.

Sekali lagi dara mencoba menaruh hanbin di kasur agar ia dapat menyusul Jiyong, tapi lagi-lagi Hanbin menangis. Dan keputusan akhirnya adalah Dara menusul Jiyong dengan Hanbin dalam gendongannya.

Dari tempatnya berdiri sekarang Dara dapat melihat Jiyong yang tengah sibuk menyendok bubur beras dan menaruhnya di mangkuk-mangkuk para rakyatnya yang mengantri. Namja itu terlihat sexy saat ia menyingsingkan lengan bajunya.

Tanpa sadar Dara tersenyum melihatnya. Tapi senyumnya kemudian memudar ketika ia melihat salah seorang dayang yang pingsan secara tiba-tiba, dengan dibantu bebrapa rekannya dayang itu dibawa untuk berteduh, karna cuaca hari itu cukup panas.

Dengan satu dayang yang jatuh pingsan dan 2 dayang lain yang sedang merawat temannya, jumlah pembagi makanan dengan jumlah pengantri sangat tidak memadahi.

Dara menuruni tangga demi tangga dibawahnya dan berdiri di samping Jiyong, mengambil beberapa lauk untuk ditaruh diatas bubur beras.

Sadar bahwa Dara sudah berdiri disampingnya Jiyong segera menoleh, tapi matanya melebar tiba-tiba saat melihat hanbin dalam gendongan Dara.

“Dara-ah…” Ia memekik pelan. “Apa yang kau lakukan, Hanbin bisa saja…”

“Semoga kalian bahagia dan pajang umur” Doa seorang rakyat wanita usia paruh baya.

Dara tersenyum kepadanya sebagai balasan.

“Dia akan baik-baik saja Jeonha” Dara berkata sambil terus memberikan lauk kepada para pengantri.

“Tapi ini terlalu berbahaya baginya” Jiyong juga melakukan hal yang sama ia tak berhenti menyendok bubur untuk diberikan.

“Eoh.. lihat itu..”Dara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

“Jangan mengalihkan pembicaraan”

“Anieyo Jeonha…Lihat Rombongan Nabi Haggyo sudah datang” Jiyong mengalihapan pandangannya pada arah yang di tuju oleh dagu Dara.

“EUNUCH KANG…” Jiyong berteriak memanggil Daesung yang masih sibuk bermain dengan Yunhyeong.

“PENGAWAL DONG, LADY MIN” Disaat bersamaan Dara berteriak memanggil taeyang dan dayang pribadinya yang bernama Min Hyorin. “Jangan ganggu Eunucuh kang, dia sedang sibuk sekarang”

“Yeh Mama…” Kedua orang itu langsung menghadap.

“tolong gantikan kami sebentar”

Senyuman tak henti-hentinya lepas dari wajah cantiknya, dengan auranya yang anggun ia berjalan menuju anak-anak kecil yang tengah berlairan kearahnya sambil memanggil namanya. Dan jiyong hanya mengikuti Dara di belakangnya.

“Jadi itu Wangja ?”

“Wah dia sangat tampan”

“Dia mirip dengan Oraboni”

“Siapa namanya ?”

Dara melirik Jiyong yang sekarang berdiri disampingnya. “Ne, dia Wangja, namanya Hanbin”

Para anak-anak itu ber-oh ria mendengar ucapan Dara, lalu mereka beralih menatap Jiyong dengan tatapan kesal.

“Wae ? ada yang salah denganku ?” Jiyong bertanya dengan polosnya.

“Anda berhutang maaf pada mereka” Ucap Dara sambil berbisik di telinganya. Dan ia lupa akan hal itu. Ia membungkuk mensejajarkan tingginya dengan anak-anak kecil yang semuanya perempuan, mereka terlihat rapi hari ini. “Maafakan Oraboni, oraboni sudah lama tidak mengunjungi kalian, dan berbohong pada kalian”

Jiyong mendesah ketika semua anak-anak itu masih diam dan menatapnya dengan tatapan kesal, tak terima, benci dan beberapa ekspresi lainnya.

“Sekarang ayo kita ambil makanan. Oraboni janji akan sering mengunjungi kalian nanti, Eoh…”

“Apa makanannya ada banyak ?”

“Ne, kalian bisa mengambil makanan yang banyak, ayo…” Jiyong kemudian menggiring anak-anak itu bersama dengan Lady Kim.

“jenny-ah…” Dara memanggil nama Jenny, dan orang yang di panggil langsung menoleh dan berdiri dihadapan Dara. Yeoja itu tersenyum manis sambil mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Jenny. “Lihat dia..” Dara menyingkap beberapa kani yang menutupi wajah Hanbin. “ingat wajahnya, dari sekarang, karna aku akan memasukkanmu dalam kehidupannya”

“Tapi saya tidak mungkin pantas…”

“Seharusnya aku mengatakan ini pada kehamilan pertamaku, tapi bayi itu tidak lahir, dan aku bersyukur karna mendapatkan Hanbin sekarang. Bagaimanapun dia bisa lahir di dunia ini karna dirimu juga Jenny-ah, bagaimana mungkin kau tiak pantas unuknya”

“JENNY…JENNY-AH….DIMANA JINHWAN…JENNY”

Jenny mengedarkan pandangannya ketika suara ibunya terdegar di gendang teliganya. Lalu matanya terfokus pada wanita paruh baya yang sedang mendorong-dorong beberapa orang yang mengantri.

“Maaf mama, tapi eomma saya membutuhkan saya”

#FLASHBACK END#

 

Setetes air mata kembali jatuh ke pipi Dara “Aku masih berhutang pada Jenny”

“Kau bisa menebusnya nanti” Jiyong menghapus air mata itu dari pipi dara.

Matahari bersinar dengan terang, Jiyong dan Dara masih dalam posisi berpelukan di sudut kamar Dara. “kalau kau mengantuk kau bisa tidur sekarang”

“Bagaimana mungkin aku bisa tidur sekrang ? bagiamna jika hanbin tiba-tiba kembali ?”

“Aku akan membangunkanmu jika Hanbin kita kembali”

—Ke Istana Selatan, tempat tinggal Selir Lee

“Apa yang kau lakukan disini ?” Tanya donghae dnegan suara beratnya.

“Memang aku harus kemana ?” Chaerin balas bertanya, tak kalah sengit dari pertanyaan Donghae.

Donghae mengusap wajahnya dnegan kasar. “Kau ini benar-benar bodoh, sekarang kau harus ke istana tengah, berpura-pura simpatik dan bilang bahwa kau sedang hamil sekarang”

“Haruskah ?”

“HARUS LEE CHAERIN” Senyuman licik muncul di wajahnya. “Dia harus memilih tahtanya atau anaknya”

— Kembali ke Istana tengah.

Suasana sunyi kembali hinggap di kamar Dara, hanya deru nafas dari mereka yang terdengar. Dan dars masih terjaga, tak mau melewatkan sedetikpun ketika ia bersama jiyong.

Tapi suasana itu tiba-tiba berganti ketika sebuah anak panah yang melesat cepat dan menancap di salah satu dinding kamar Dara.

Dengan cepat Jiyong melindungi tubuh Dara dnegan tubuhnya sendiri, takut kalau kalau itu adalah sebuah serangan besar-besaran. Ia kemudian mengamati sekitar, tak ada yang terjadi lagi setelahnya, Lalu matanya berfokus pada anak panah yang menancap beberapa cm diatas kepala Dara.

Jiyong langsung mencabut anak panah itu ketika melihat sebuah kertas yang terlilit di badan anak panah itu.

Dara hanya mengamati gerak gerik Jiyong ketika membaca tulisan yang tertoreh diatas kertas itu, ia menyadari sesuatu yang terjadi, terbukti dari rahang Jiyong yang tiba-tiba mengeras. Dengan lembut Dara mengabil kertas itu dari tangan Jiyong.

PicsArt_03-26-07.53.45

Dara meremas kertas itu dengan setetes air mata yang kembali jatuh dari mata indahnya.

“Apa yagn harus aku lakukan Dara-ah ?”

#TOK TOK suara kayu yang diketuk tiba-tiba terdengar.

“Selir Lee meminta ijin untuk menghadap” Suara Lady Min menyusul bunyi ketukan itu.

Dara menghapus air matanya dengan cepat, lalu bediri dan menarik tangan Jiyong untuk ikut berdiri, lalu dara menempatkan Jiyong untuk duduk diatas Kasurnya.

“Biarkan dia masuk”

Chaerin masuk dengan segala keanggunannya.

“Saya meminta maaf karna sudah lancang, saya turut berduka atas menghilangnya Wang seja, semoga dia cepat di temukan”

“Terimakasih Chaerin-ssi atas perhatianmu”

“Tapi ada hal yang lain ingin saya katakan” Dara dan Jiyong kemudian menatap Chaerin dengan intens menunggu kelanjutan kalimat Chaerin. “Saat ini saya sedang mengandung”

Ekspresi keterkejutan tak dapat dihindarkan dari wajah Dara dan juga Jiyong.

Dara berdehem pelan, menstabilkan saranya. “Sejak kapan ?”

“Sepertinya sudah sebulan”

“EUNUCH KANG…” Jiyong memanggil Daesung. “Antar Selir Lee kembali kekmarnya dan suruh tabib ntuk memeriksanya, setelah itu laporkan padaku semuanya”. Rahang Jiyong kembali mengeras. “Kau bisa kembali kekamarmu sekarang” Perintahnya yang sekarang ia tujukan pada Chaerin.

Sepeninggal Chaerin Kesunyian kembali menghinggapi kedua insan itu.

“Mungkin ini jawaban dari langit” Dara memecah suasana yang pertama kali.

“Apa maksudmu ?”

“Jangan lepaskan tahta anda Jeonha” Ucap Dar yang sukses mendapatkan tatapan tajam dari Jiyong. “Kita sudah mendapat pengganti Hanbin, jadi pertahankan posisi anda”

Jiyong mendesah berat sambil memejamkan matanya dengan erat “Kau ingin aku mnyerah pada Hanbin ?”

“Lalu apa yang bisa kita lakukan ?” Isakan kecil muali terdengar dari bibir mungil Dara, dan sebentar lagi mungkin ia akan meledak.

“Kita bisa mencarinya, aku tak peduli jika harus mencarinya keujung dunia sekalipun”

“lalu anda akan menelantarkan rakyat anda begitu saja ?” ledakan tangisan akhirnya muncul juga darinya. “Terkadang anda harus merelakan satu orang untuk menyelamatkan ratusan orang lainnya”

“Aku akan merelakan apapun, kecuali Kau dan Hanbin”

“JEONHA !!!” Dara menjerit keras. Bahunya bergetar dengan hebat.

###

Seminggu Kemudian

Dara berdiri di atas jembatan teratai, hari ini ia ada janji pada ikan-ikan di kolam itu lagi, ia mencoba tersenyum pada ikan-ikan itu, berusaha untuk membuat hatinya tersenyum juga.

“Anda memanggil saya Mama ?” Sebuah suara cukup untuk membuat Dara menoleh.

“Kau sudah datang Chaerin-ssi ? Aku hanya sedang kesepian, dan aku membutuhkan seorang TEMAN ?”

“Anda menganggap saya teman ?”

“Lalu aku harus menganggapmu apa ? Musuh ? itu tidak mungkin Chaerin-ssi” jawab Dara sambil menaburkan remahan roti keatas air yang tenang, lalu dirinya tersenyum kecil.

Chaerin terdiam melihat betapa teduhnya wajah Dara. “Apa anda yakin akan mengumumkan hal itu Mama ?”

“Apa ? kematian Hanbin Gun ?” Dara tersenyum kecut. “Kami tak punya pilihan lain” Ia menengadah keatas menatap langit yang menung, semendung hati dan jiwanya. “Lagi pula akan masih ada tawa anak kecil di istana ini” Dara mengulurkan tangannya menyentuh perutChaerin yang masih rata. “Mungkin nanti dialah pewaris tahta Joseon”

“Mama….”

“Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk melahirkan seorang Pewaris Tahta. Wangbi hanya sebagai gelarku saja”

“Mama apa yang anda katakan ini”

Dara tersenyum lagi mendengar rengekan Chaerin. “Oh ya, apa kau mengalami pagi yang buruk ? Mual atau bahkan mutah semacam itu ?”

“Neh…Hanya….”

Dara langsung menyela sebelum Chaerin menyelesaikan ucapannya. “Kau harus banyak memakan makanan dari jahe, atau giseng, itu baik untuk memperkuat kandungnmu, juga air jeruk dan madu dapat meringankan mualmu”

“Tapi Mama…”

“Ah aku juga ingin merasakannya, selama 2 kali masa kehamilanku aku tidak pernah mengalami masa-masa itu, Jeonha yang mengalaminnya. Kau tenang saja, jangan Khawatir aku akan membuatkannya untukmu setiap pagi, kau hanya harus memakannya dengan lahap eoh…” Ucap Dara sambil menepuk lengan kanan chaerin dengan cukup keras, membuat Chaerin meringis kesakitan.

“Kau kenapa ? apa kau sakit ?” Dara bertanya, tak lama setelahnya ia melihat darah yang merembes dari hanbok yang dipakai Chaerin. “Chaerin-ssi kau berdarah, apa kau baik-baik saja ?”

“Eoh ?” Chaerin ikut menatap lengan hanboknya yang ternoda oleh darah. “Saya tidak apa-apa, saya terluka oleh binyeo (Tusuk Konde). Saya tidak memakainya dengan hati-hati.”

“Aku minta maaf, aku tidak tau, akan kupanggilkan tabib”

“Tidak termakasih, saya akan mengobatinya sedirii nanti”

“Kau yakin ?” Chaerin mengangguk dengan mantap. “Baiklah, oh ya dimana Pengawal Lee ?”

“Dia sedang berlatih dengan busurnya”

“Sepertinya dia pemanah yang hebat”

—-

Malam yang gelap semakin mencekam, tapi tak urung membuat Wang dan Wangbi itu memejamkan matanya. Masih menikmati saaat-saat yang menghangatkan seperti ini.

“Apa kau bahagia sekarang ?”

“Tidak juga, setidaknya aku merasa lega sekarang”

“Lega ?”

“Ne, akan anda penggati hanbin disini”

“Tapi dia bukan anak kandungmu Dara-ah”

“Tapi dia anak anda Jeonha, dan anak anda adalah anak saya juga”

“Bagaimana jika dia seorang Agissi (Putri Kerajaan)?”

“Aku akan mendandaninya dengan cantik, aku menyimpan beberapa koleksi pita rambut yang sangat lucu, mungkin akan cocok untuknya”

Jiyong mempererat pelukannya pada tubuh Dara.

“Tapi Jeonha…” Dara mendongak mencari wajah Jiyong. “Chaerin-ssi mempunyai luka dilengan kanannya”

“Semua orang bisa saja memiliki sebuah luka Dara-ah”

“Benar… aku memang bodoh, sesaat saya berfikir dilah penculik hanbin, mengingat anda juga melukai lengan kanan orang yang menyadera saya. Aneh bukan ?”

Kembali Jiyong mengeratkan pelukannya yang sempat melonggar, lalu dengan sayang ia mengecup puncak kepala Dara.

“Sebenarnya aku juga merasa aneh” Jiyong mendesah kecil. “Dalam ingatanku aku sama sekali tidak ingat kapan tidur dengan selir Lee”

Dara terperanjat an bangkit dari posisi tidurnya untuk duduk. “APA ANDA BILANG ? KALAU ANDA SUDAH MENIKAHINYA HARUSNYA ANDA JUGA TID…”

Dengan gerakan cepat, Jiyong membekap Bibir dara yang jika tidak dihentikana akan menimbulkan sebuah masalah besar.

“Dengarkan aku dulu” Jiyong berbisik di telinga Dara. “Aku bahkan tak bisa menatap kedalam matanya, setiap kali aku melakukan itu aku akan mual atau bahkan mutah. Eunuch Kang bilang itu efek kehamilanmu”

Dara sedikit menimbang ucapan Jiyong. “Apa anda pernah datang kekamarnya saat anda mabuk ?”

“Kalau itu aku tidak yakin”

“Anda ini benar-benar membuatku takut, pasti anda pernah melakukannya, kalau tidak bagaimana Chaerin-ssi bisa hamil ?”

Tiba-tiba suara anak panah yang melesat cepat terdenar, dengan sigap Jiyong menarih tubuh mungil Dara untuk ia lindungi. Lalu anak panah yang melesat itu penancap di sisi kamar dara, tepat di titik yang sama dengan tempat menancapnya anak panah yang pertama, minggu lalu.

Dengan waspada Jiyong menarik anak panah itu, lalu membaca gulungan kertas yang lagi-lagi terdapat di badan anak panah tersebut.

PicsArt_03-26-07.52.23

Tanpa basa-basi lagi Jiong langsung saja meremas kertas itu, hingga membuatnya tak berbentuk. Setetes air mata lagi lagi tanpa permisi meluncur bebas dari kelopak matanya.merusak momen kebahagian yang sempat muncul sesaat yang lalu

“Dia sudah ada di surga” Tiba-tiba Dara sudah berdiri di sampingnya, dan kemudian memeluk dirinya. “Kita akan baik-baik saja” Lanjut Dara.

“Maafkan aku, aku terlalu egois”

“Tak ada yang perlu dimaafkan”

###

Matahari sudah menjulang, belum terlalu tinggi memang, tapi Jiyong masih enggan mengangkat tubuhnya untuk terbangun. Lalu ia merasa benda lunak menyentuh bibirnya pelan dan sangat lembut. Membuat dirinya terpaksa untuk membuka sedikit matanya.

“Anda harus bangun Jeonha, anda bilang akan ada rapat hari ini” Suara malaikatnya menyambutnya dengan nada kesal. “LADY MIN APA AIR MANDI UNTUK JEONHA SUDAH SIAP ??”

“Yeh Mama”

“Cepat bangun” Dara dengan sedikit kasar memukul lengan Jiyong. Tapi jiyong malah mencari posisi ternyaman untuk kembali terlelap. “JEONHA…”Jerit Dara kesal.

Jiyong menepis tangan Dara yang mengusik kenyamanannya.

Dara mendengus dengan kesal, lalu ide jailnya muncul “Anda bangun sendiri atau aku panggilkan Pengawal Dong untuk membangunkan anda”  ancamnya.

Tapi tetap saja jiyong masih bergeming. Ia bahkan tak bergerak sekarang, posisi nyamannya sungguh membuatnya terlena dan ingin kembali tidur.

“YONG….”

“Arraseo !!!” Jiyong langsung berjengit duduk, ia menatap Dara dengan kesal dan tak terima.

“Yeh Mama…” Terlambat sudah, Yongbae sudah masuk kedalam kamar Dara. “Anda memanggil saya ?”

“Hya…hya apa kau akan langsung datang begitu ia menjerit memanggil namamu ? bagaimana jika dia memanggilmu ketika sedang telanjang, apa kau juga akan langsung datang ?” Jiyong berkata marah sambil menunjuk Yongbae.

“Tentu saja”

“APA KATAMU ??”

“Aku pernah menjerit namanya ketika sedang mandi, karna ada seekor cicak yang tiba-tiba saja jatuh kedalam air”

Mata jiyong melebar dengan sempurna, dia menatap Dara dan Yongbae bergantian dengan tatapan tak percayanya. “Itu Pernah terjadi, dan kau tidak bercerita padaku ?”

“Itu karna pada saat itu para dayang juga takut, jadi aku reflek memanggil Pengawal Dong” Dara tak mau kalah. “Lagi pula itu baru terjadi 3 hari yang lalu, benarkan Yongbae-ssi ?” Ia beralih pada Yongbae.

“Sebenarnya itu 4 hari yang lalu Mama”

“Hebat !!” Jiyong bertepuk tangan dengan garing. “Kau masih mengingatnya eoh ?”

“Heh bajingan beruntung, kalau kau cemburu bilang saja, lagi pula aku tak melihatnya asal kau tau itu !” kali ini yongbae juga ikut tak mau kalah dari Jiyong.

Jiyong mendnegus. “Keluar sana !” Peritahnya pada Yongbae, yang tentu saja tanpa disuruhpun Yongbae akan melakukannya. Kemudian ia bangkit untuk mengambil jubahnya, dan menuju ruang lain dari kamar itu untuk pergi mandi. Tapi ia berhenti ketika melihat Dara sudah rapi. “Mau kemana kau ?”

“Aku akan berkunjung ke tempat Chaerin-ssi,  dayang dari dapur istana bilang, kalau sejak kemarin dia tak mau makan, dayang pribadinya juga bilang kalau seharian penuh dia berada dikamarnya, aku akan kesana untuk menjenguknya dan megajaknya jalan-jalan, itu saja”

Jiyong mengagguk.

“Anda marah pada sya ?”

Ucapan Dara berhasil menghentikannya lagi. Ia diam tak menjawab ucapan Dara.

Merasa sedikit jengkel dengan sikap Jiyong, darapun berjalan mendekat kearah Jiyong. “Dia datang ketika saya belum melepas jubah mandi. Itu sebabnya tadi ia bilang dia tak melihat apapun” Dara menjelaskan dengan pengertian. “Tubuhku, cintaku dan hatiku hanya untukmu Jeonha” lalu dengan cepat Dara mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi Jiyong.

Namja itu bahkan tak sadar akan apa yang terjadi. Dan setelah ia sadar Dara sudah berlari menjauh darinya. “KYA JANGAN AJAK YONGBAE KESANA JUGA, BIARKAN DIA TETAP DISINI” Jeritnya dengan  sangat keras.

“NEH !!” Dara juga menjawab dengan jeritan.

Senyuman lebar kemudain terbit dari wajah tampan (Hedeh, dari dulu Ji emang tampan #Defta ganggu deh) Jiyong, ia sungguh beruntung memiliki Dara disisinya. Mungkin Yongbae memang benar ia adalah seorang bajingan beruntung.

Chaerin mengerjabkan matanya beberapa kali, ketika berkas cahaya yang masuk kedalm ruangannya terlalu berlebihan. Dengan berat ia membuka kedua kelopak matanya.

“Kau sudah bangun Chaerin-ssi ?” Suara seorang yeoja yang selama 8 bulan ini merawatnya degan sangat apik terdengar oleh indra pendengarannya.

“Anda disini ?” Tanyanya sambil berusaha untuk bangkit, mengingat perutnya yang  sudah sangat besar.

“Palan-pelan” Suruh dara sambil membantu pergerakan Chaerin yang hendak bangun. “Ku dengar kau tidak makan kemarin, dan sama sekali tidak keluar kamar. Apa ada yang salah ?”

Chaerin tersenyum lemah setelah ia dapat duduk. “Tidak anda, saya hanya merasa lelah, dan tak ingin melakukan apapun”

“Orang hamil memang seperti itu, tapi kau harus membiasakan dirimu untuk tetap berjalan-jalan , itu dapat memudahkan dalam persalinan nanti” Dara memberi nasihat. “Sarapanmu akan segera datang, aku menyuruh dayang istana untuk membuat sup jahe untukmu”

“Saya selalu menyusahkan anda”

“Jangan berkata begitu, selagi menunggu sarapanmu, aku akan membantumu mandi” Selanjutnya Dara membantu Chaerin untuk bersiap mandi. “Bekasnya sulit hilang” katanya ketika melihat bekas goresan di lengan kanan Chaerin.

“Neh” Jawab Chaerin gugub.

Tak lama setelah Chaerin memakai jubah mandinya, keringat mulai membasahai seluruh tubuhnya, dan nyeri perut menyusul setelahnya. Dara bukan bodoh untuk menyadari Chaerin sedang kesakitan. Jadi, dengan sigap Dara memegang tubuh Chaerin sebelum ia limbung. Tapi tubuh kecilnya tak kuat ntuk menahan tubuh Chaerin yang terbilang lebih besar darinya, terlebih yeoja itu sedang mengandung.

“PENGAWAL DONG…” Dara menjeritkan nama Yongbae, tapi tentu saja yang dipanggil tidak datang karna ia tak ikut bersamanya. “Bodoh, aku tidak mengajaknnya kemari”

Suara desahan kesakitan mulai lolos dari bibir Chaerin.

“tahan sebentar Chaerin-ssi” Dara mencoba menenangkan chaerin. “TOLONG….SESEORANG TOLONG KAMI…”

Dara mulai panik karna yang datang hanya 2 orang dayang, yang postur tubuhnya hampir sama seperti dirinya, salah satunya sudah ia suruh untuk memanggil tabib, tinggallah dirinya dan satu dayang itu, dia bersumpah akan memarahi jiyong karna tak mengijinkan Yongbae ikut bersamanya.

“Apa yang terjadi ?” Suara seorang namja sungguh membuat Dara sangat lega.

Dara menoleh dan mendapati Donghae lah pemilik suara itu. “Pengawal Lee, cepat bawa Chaerin-ssi ke kasurnya”

Setelah Chaerin tiduran diatas kasurnya dengan gelisah, dara mulai menyiapkan berbagai macam hal, mulai dari menggantug kain untuk pegangan chaerin, air hangat  dan lain-lainnya.

Dengan tergesa-gesa Jiyong melangkahkan kakinya menuju ke kamar Chaerin, ia mendengar kabar Chaerin melahirkan ketika sedang rapat, bukannya ingin menyepelekan anaknya sendiri, ia hanya harus memilih yang lebih penting, dan baginya nasib para rakyatnyalah yang paling penting.

“Kau baik-baik saja ?” Tanyanya pada chaerin yang masih tiduran, yeoja itu ingin bangkit dan memberi hormat, tapi jiyong melarangnya dan menyuruhnya untuk kembali berstirahat.

“Neh Jeonha”

“Baguslah”

“Chaerin-ssi putramu sangat…..” Dara tiba-tiba masuk dari ruangan lain di belakang kamar Chaerin. Ia akan berkata pada chaerin tentang putranya yang sangat tampan, tapi urung karna retina matanya menangkap bayangan wajah Jiyong. Wajahnya yang mulanya bahagia langsung berubah 180 derajat menjadi masam dan tak sedap dipandang.

Jiyong berdiri dan langsung mendatangi Dara yang sedang menggedong seorang banyi yang ia yakini putra chaerin yang pastinya putranya juga.

“Kau marah padaku ?” Jiyong bertanya dengan berbisik.

“NEH !!” Dara menjawab dengan suara keras, bahkan hampir berteriak.

“Apa salahku sekrang ? Apa karna aku terlambat datang kemari ?”

“Ani, ini semua karna anda tidak mengijinkan Yongbae-ssi untuk ikut bersama saya, anda tau Chaerin-ssi hampir saja melahirkan di kamar mandi kalau saja Pengawal Lee tidak datang” Ucpanya dengan bersungut-sungut. “lain kali saya tidak akan mengindahkan ucapaan anda untuk tidak membawa Yongbae-ssi kemanapun saya pergi ! bahkan saat mandi sekalipun” Lalu Dara berlalu dengan mengangkat dagunya membuat Jiyong merapatkan giginya dengan kesal.

“Chaerin-ssi lihatlah, matanya sangat mirip dengan punyamu” Dara kembali berubah menjadi dirinya yang periang, ia masih menggendong Bayi mungil yang sudah bersih itu, lalu dengan perlahan memberikannya kepada Chaerin.

“Apa dia tak mirip denganku ?” Tiba-tiba saja Jiyong sudah ada di samping Dara.

“Anieyo, bahkan dia lebih mirip dengan Pengawal Lee” Ucapnya sambil melirik Donghae yang berada di sudut ruangan.

“Apa maksudmu, aku ayahnya… seharusnya dia mirip denganku…” Protes Jiyong.

“Chaerin-ssi apa kau sudah mempersiapkan nama untuknya ?” Dara kembali mengacuhkan Jiyong dan mengganti topik pembicaraan.

Chaerin terlihat bingung. “Bukankah itu wewenang Jeonha ?”

Jiyong mengagguk membenarkan ucapan Chaerin.

“Aniya, jika kau sudah punya nama untuknya, kita gunakan itu saja, jangan memperdulikan Jeonha” Lirikan sinis Dara keluarkan untuk Jiyong. “Atau jika belum aku punya sat usulan, “Ji”…”

“Kau mengambilnya dari namaku ?” jiyong menyerobot ucapan Dara.

Merasa kesal, Dara menatap Jiyong dengan tatapan membunuhnya, lalu ia menggeleng, “Ji, berarti Pertama, ia putra pertama chaerin-ssi. Bukan karna aku mengambilnya dari nama anda”

“Won” Chaerin berseru spontan. “Jiwon …” Ia lalu menatap dara meminta persetujuan. “Won berarti pemenang, jika digabungkan maka….”

“pemenang pertama” Dara melanjutkan. “Aku suka…” Ia memekik senang.

“Lalu aku tidak mendapat bagian untuk memberinya nama juga ?” Protes Jiyong.

“Anda sudah memberinya marga, kenapa anda masih meminta bagian ?”

“Mama, anda sepertinya terlalu kejam pada Jeonha” Chaerin berkata dengan lembut. “Yang terpenting sekarang saya baik-baik saja bukan, jadi maafkanlah Jusang Jeonha” Jiyong mengangguk kembali membenarkan ucapan Chaerin itu.

Dara terlihat menimbang, ia menatap Chaerin yang tengah tersenyum kepadanya, lalu beralih pada Jiyong yang tengah membuat ekspresi menyesal yang sungguh ingin membuatnya mutah darah.

“Baiklah”

“Yey…” Jiyong berteriak seperti anak kecil mendapatkan sebuah permen, lalu dengan cepat mencium pipi Dara yang hanya beberapa cm dari jangkauannya, membuat si empunya melebarkan matanya tak percaya. “Jiwon-ah… “ Jiyong terlalu pintar untuk di kalahkan, jadi sebelum Dara sadar akan apa yang terjadi, ia meminta Bayi dalam gendongan chaerin.

“Apa yang baru saja dia lakukan ?” desisnya pelan, membuat chaerin tertawa tertahan. “JEONHA….” Dara hanya berteriak karna dia tak bisa memukul jiyong, mengingat namja itu tengah menggendong Jiwon.

—-

Pagi memang belum menyingsing dengan sepenuhnya, sang suryapun juga masih malas untuk menampakkan wajah panasnya.

Chaerin terusik dari tidurnya karna mendengar bayi berusia 2 harinya itu tengah tertawa,pertanyaan yang muncul adalah dengan siapa bayi itu tertawa. Mungkinkah penculik ?. tak ingin terjadi hal yang lebih aneh, Charin langsung membuka matanya lebar-lebar dan melihat ke samping kiri tempat tidurnya.

“Kau sudah bangun ?” Suara Dara kembali menyambut paginya. Chaeirn mencoba duduk dengan rasa nyeri di pangkal pahanya.

“Kapan anda sampai disini Mama”

“Beberapa menit yang lalu, aku terbiasa bangun terlalu pagi, dan setelahnya aku bigung harus berbuat apa, jadi aku pergi kesini dan saat kau sampai disini Jiwon sudah terbangun, dan dia tidak menangis, benar-benar anak yang pintar”

Chaerin mengangguk tanda mengerti.

“Emmm… Chaerin-ssi apa aku boleh mengajak Jiwon Gun jalan-jalan, hanya disekitar sisi saja”

Yeoja tu tersenyum ramah. “Tentu saja Mama” Hati dara benar-benar berbunga karna mendapat persetujuan itu.

Dengan perlahan Dara menganggat tubuh mungil Jiwon. “Jiwon-ah… ayo kita jalan-jalan” Ucapnya seolah Jiwon bisa mendengar dan menjawabnya.

“Oh ya Mama, jika anda keluar, tolong panggilkan Pengawal Dong”

—-

Sang bagaskara bersinar dengan teriknya, membuat siapaun yang berlama-lama dibawahnya akan merasa sangat kepanasan.

“Aku tak bisa melakukannya lagi Oraboni”

“Kenapa ? kenapa kau tak bisa ?”

“Mereka terlalu baik untuk disakiti, kau tak lihat bagaimana merka memperlakukanku ? aku benar-benar mendapatkan sebuah keluarga disini”

“LEE CHAERIN”

“Aku tak mau ikut campur lagi dalam pemberontakan ini, Ayahmu dieksekusi karna dia melakukan kudeta, jadi sudah sepantasnya orang seperti itu mendapat hukuman mati”

“LEE CHAERIN”

“Dulu aku sama sekali tidak peduli dengan Dara-ssi yang kehilangan putranya, tapi sekarang aku mengalamnya sendiri, putraku, putra kandungku yang aku lahirkan dengan susah payah, dia lebih senangdalam gendongan Dara daripda denganku ibunya sendiri. Dan juga dia bahkan mendapatkan marga dari Jiyong yang bukan ayah biologisnya”

#PLAK  Donghae menampar pipi Chaerin “Ayahku tidak bersalah, dia dipaksa untuk melakukan semua itu, dia sangat setia pada Kwon Jiyong itu. Chaerin-ah Apa kau tak mau menjadi Wangbi ? Dengar, jika aku menjadi Raja, aku akan membuatmu menjadi seorang Wangbi dan putra kita akan menjadi sati-satunya pewaris tahta dan sepenuhnya kita bisa merawat dia bersama”

“Tapi masih ada Hanbin Gu..”

“kau pikir dia masih hidup ? Dia tak mungkin masih hidup Chaerin !”

“Apa yang kau katakan ? pemberontakan apa ? H…hanbinku…dia…

“Mama…”

“dan Jiwon.. dia…” Dara ternyata sudah berdiri diambang pintu yang sedikit terbuka. Dari suaranya terdengar sangat jelas kalau ia sedang menahan marah. “Aku kembali karna Jiwon yang rewel, sepertinya di haus, jadi aku kembali kesini dan kalian… kalian…”

“Mama…d engarkan saya…”

“YONGBAE-SSI”

Dara berdiri dihadapan Chaerin dan Donghae yang diikat diatas sebuh kursi.

#PLAK Dengan kekuatan penuhnya Dara menampar pipi Chaerin, dia sendiri yang mengintrogasinya, sedang Donghae sudah babak belur di tangan Yongbae karna namja itu tetap saja bungkam.

“Apa kebikannku selama ini masih kurang Chaerin-ssi ?” Dara bertanya dengan gejolak emosi yang hampir diambang batas. “Kau sudahkuanggap sebagai andikku sendiri Chaerin-ssi”

“Dara-ssi…a…aku…”

“JANGAN PERNAH MEMANGGIL NAMAKU !” Geram Dara “Kau wanita jalang, apa salah putraku padamu ? Jika kau ingin membunuhku maka bunuhlah aku kenapa kau membunuh putraku ? Apa kau tega membunuh bayi yang baru berusia 1 bulan ? kau sebut dirimu ini seorang ibu ?”

“AKU TIDAK MEMBUNUHNYA, Berhenti menyudutkanku, aku tidak melakukanya, aku tidak membunuhnya”

“Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri”

“Dia hilang” Dara berhenti melakuakan prores dan menatap Chaerin dengan tatapn “Lanjutkan kata-katamu”. “Kami sama sekali tidak berniat membunuhnya, kami meyembunyikannya disebuah desa di dekat hutan, tapi dia tiba-tiba saja menghilang.”

“BOHONG.. kau pembohong” Dara menggelengkan kepalanya, berusaha tidak mempercayai semua ucapan Chaerin.

“Aku emang wanita rendahan” Chaerin muali menangis. “Tapi aku tak tega membunuh bayi kecil itu, kami benacana untuk menjadikannya sebagai boomerang”

“Boomrang ?”

“Neh, Oraboni bilang…”

“CHAERIN-AH….” Teriak Donghae, mencoba mengentikan ucapan chaein. Tapi chaerin tak memperdulikannya.

“Dia bilang, ketika besar nanti Hanbin sendirilah yang harus membunuh Jeonha, jadi kami benencana membesarkannya, tapi dia hilang, sehari sebelum Hanbin-gun diumumkan meninggal oleh Jeonha, bayi itu menghlang”

#PLAK Dara kembali mendaratkan tangannya diatas pipi chaerin yang masih memerah. “Kau menyusun cerita yang runtut, seolah itu memang beanr”

“Darah dalam surat yang anda terima adalah darah saya, bukan darah Hanbin-gun”

“Jadi kau benar-benar orang yang menyanderaku ? dan Donghae dia yang membawa Hanbin ? Kalian yang melakukann itu ?”

Chaerin menunduk pelan, tak benari menampakkna wajahnya pada Dara. Karna semua ucapan Dara yang benar adanya.  #PLAK… Untuk ketiga alinya Dara menampar Chaerin dengan sangat keras, darah segar sudah mengair di sudut bibir Chaerin, menandakn bahwa tamparan Dara sangat keras.

#PLAK… “Kau benar-benar wanita jalan”

Dara akan mengangkat tangannya untuk menampar Chaerin yang kelima kalinya, tapi sebuah tangan menghentikanya. Tangan itu langsung menarik Dara dalam pelukannya.

“Hentian, jangan kotori tanganmu itu” Dara langsung menangis ketika mengetahui bahwa yang menarik dirinya dalam pelukan hangat itu adalah Jiyong. “Biar aku saja yang mengotori tanganku dnegan darah mereka”

Suara isakan yaag keras dari mulut Dara membuat suasana tiba-tiba sedih di hari yang panas itu.

“Kembalilah kekamarmu” Perintah Jiyong setelah melepaskan pelukannya.

Dara menggeleng pelan, tanda dirinya menolak. Dengan sayang Jiyong kembali membenamkan wajah Dara dalam dada bidangnya.

“Kau percaya padaku bukan ?” Dara mengagguk kecil. “Aku yang akan mengurusnya”

Dengan berat hati Jiyong melepaskan Dara dari pelukannya, dia tersenyum dibalik wajah sedihnya. Lalu Dara berjalan menuju Lady Min yang menggendong Jiwon. “Chaerin-ssi, karna kau sduah mengambil putraku, maka sebagai gantinya, aku akan mengambil putramu”

“andwe..” Desis Chaerin pelan, yang lama kelamaan manjadi teriakan. “ANDWEE….JIWON-AH……ANDWE…MAMA KEMBALIKAN JIWON PADA SAYA. SAYA MOHON…..”

Tanpa menggubris celotehan Chaerin, Dara mengambil Jiwon dari tangan Lady Gong dan memeluknya erat seolah akan ada orag yang merebut Jiwon darinya.

=TBC=

Next >>>

Kasih Previw gak ya ???

Gak usah ya …. Enggak Kok defta bercanda. FF part ini masih gantung, sejalasnya akan ada di part 9, kenapa begitu ? karna part ini terlalu panjang, mianhae kalau bosen bacaanya.

Preview.

“Kau memberikan bayi kepada seorang ibu yang setengah gila karna kehilangan bayinya ? lalu apa kau tak berfikir tentang ibu dari bayi yang kau berikan itu ? apa kau tak berfikir bahwa ibu itu juga bisa menjadi gila karna kehilangan bayinya ?”

“Dara-ah…”

“Jangan mencoba menghentikan saya Jeonha, aku selalu berfikir kalau berbuat baik akan selalu dibalas dengan kebaikan juga, tapi kenyatannya 2 orang wanita yang sudah aku aggap keluargaku sendiri malah  menghianatiku dengan sangat kejam”

“Maafkan saya Eon….”

“Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi Jenny-ssi”

Advertisements

22 thoughts on “DESTINY FOR THE KING [Part. 8]

  1. kenapa jiyong bersikap hangat setelah hanbin hilang ???
    syukurlah semua kebusukan chaerin dan donghae terbongkar,tapi hanbinnya malah hilang,
    kemana ya hanbin ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s