TURNING 30 [Chap. 1]

1444798149710

 

Author:: @astarinur (IG & Twitter)

                      @astarinurINDO ( Wattpad )

Cast:: 1. Sandara Park

  1. Kwon Jiyong
  2. Kim Hanbin
  3. LEE Hi
  4. Nam Taehyun
  5. Lee Donghae
  6. Jessica Jung

Genre::  Romance, angst, genre dan alurnya masih blank! Go with the flow aja!!

Rate::  15⬆

Length:: multishot/ chapter

~~ Awal pertemuan kita ~~

 

 

“Hallo dok, bagaimana keadaan Hayi? Aku sedang dalam perjalanan kebetulan jalanan sedang macet!!! Ashhhh …!!”

‘Tenang jiyong, Hayi sudah tenang dia tengah tertidur saat ini!’

Thanks God! Thank you!!”

‘Kalau begitu sebaiknya saya pulang!’

“Emp, tidak bisakah dokter menemani Hayi lebih lama lagi! Saya takut dia belum sepenuhnya tenang dan saya khawatir jika saya akan lama untuk tiba di rumah!”

‘Hmm… baiklah!’

Thanks dok!”

 

Jiyong mematikan ponselnya dan kembali focus dengan jalan didepannya. Entah mengapa jalanan menjadi macet seperti ini. Bahkan untuk motor sekalipun tidak ada celah untuk menyelip maju. Jalanan seperti ditutup secara sepihak dan mendadak. Jiyong sudah habis kesabaran, untuk memutar balikpun tidak mungkin bisa. Dia terkurung di tengah jalan. Rasa cemas dan takut semakin terasa oleh jiyong, dia tidak bisa tenang jika belum melihat dengan langsung keadaan Hayi adiknya.

Suara sirine membahana dan sekumpulan mobil mewah berbendera Jepang melewat bergiliran. Ternyata itulah penyebab kemacetan ini terjadi, jalan sengaja ditutup karena akan dilewati oleh petinggi ataupun apapun sebutan mereka dan pastinya berasal dari Jepang karena bendera yang terpasang dimobil mereka.

Jiyong mengumpat kesal, dia tahu benar bagaimana cara kerja kebangsawanan karena dulu dia selalu melakukan itu. Dulu dia tidak sadar jika memboikot ataupun menutup jalan sepihak seperti ini membuat kemacetan besar  dan mengganggu yang lainnya terutama untuk orang – orang yang sedang terburu – buru sepertinya. Jiyong hanya mampu menghela nafasnya menunggu mereka selesai, dan ketika jalan mulai terbuka kembali jiyong langsung melaju dengan kecepatan tinggi.

***

“Noona, apa yang terjadi? Mengapa kau menghiraukan panggilanku?  Aku sangat mengkhawatirkanmu noona, hanbin takut jika sesuatu telah terjadi kepadamu!”

“Maafkan noona hanbin, tadi hanya ada urusan kantor yang harus noona selesaikan!”

“Apa noona bercanda, lihat sekarang sudah pukul 2 am! Urusan apa yang membuat noona pulang selarut ini?”

Little cat, noona sangat lelah! Bisakah kita membahasnya nanti saja! Kau juga harus segera tidur nanti kau telat bangun! Besok pagi bukankah club skateboardmu akan bertanding? Ayo jadi cepat tidur sana!”

“Itu minggu depan noona! Sudahlah aku tahu noona tidak akan pernah menjelaskan apapun walaupun aku memaksamu sekalipun!”

“Aigoo … sudah noona katakan ini hanyalah urusan kantor!”

Dara menghampiri hanbin dan tangannya langsung beralih kepada kepalanya mengacak – ngacak rambutnya pelan dan pergi menuju kamarnya. Hanbin mengikuti langkah kakinya yang terlihat sangat tak berdaya itu.

Hanbin pun dengan berat hati pergi ke kamarnya. Jujur saja matanya sudah sangat lelah ingin menutup dan tertidur menyambut mimpi indahnya namun menyadari dara yang tiba – tiba lost contact dan terlambat pulang membuatnya sangat cemas sehingga rasa kantuk itu menghilang dengan sendirinya.

Hanbin menunggu dara dengan harap – harap cemas, beberapa kali dia keluar masuk rumahnya memperhatikan dan mengharapkan noonanya terlihat oleh kedua matanya. Hanbin semakin cemas ketika menyadari dara tidak membawa mobilnya, setahunya dara akan bertemu dengan donghae kekasih noonanya itu. Namun mendengar penjelasan noonanya itu memperlihatkan jika suatu hal buruk telah terjadi kepada mereka. Ini bukanlah urusan kantor melainkan masalah dengan donghae. Dari wajah dara sekalipun itu semua sudah tertebak namun hanbin tidak ingin ikut campur dan membuat masalah yang dia tidak ketahui pastinya melebar kemana – mana.

Seraya membaringkan tubuhnya hanbin tersenyum ketika mengingat kejadian tadi sore.

Flashback •••

 

Hanbin berjalan menyusuri jalan setapak, tangannya sibuk membawa papan skateboardnya. Setelah kegiatan sekolah hari ini usai dia langsung pergi ke tempat biasa dia latihan bersama kawan – kawan lainnya. Satu minggu dari sekarang dia akan mengikuti kompetisi skateboard, hanbin dan kawan – kawannya sangat antusias dan setiap harinya berlatih keras. Namun hari ini beda, hanbin harus melakukan satu missi terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat dia berlatih.

 

Gerak – gerik hanbin sangatlah rapih tidak terlihat sedikitpun dia bertingkah mencurigakan, padahal sebenarnya ia sedang mengikuti seseorang. Berpura – pura sedang mendengarkan musik ditelinganya dia berjalan sangat percaya diri mengikuti orang itu.

Mata hanbin tak lepas dari orang itu, setiap gerak dan prilakunya dia potret dan dia simpan di memorynya. Namun missi hari ini bukanlah itu melainkan hanbin harus mendapatkan foto wajahnya, seharian dia berusaha mendapatkan fotonya di sekolah namun nol yang ia peroleh. Dia selalu saja mengurung dirinya di kelas dan hanbin pun tidak bisa bersembunyi – sembunyi mengambil fotonya di tengah para fans yang selalu mengikutinya. Jadi saat inilah waktu yang paling tepat, sebelum fajar datang hanbin harus mendapatkan fotonya.

Sesekali hanbin termenung dengan tingkahnya yang terbilang unik, bukan aneh menurut hanbin baginya itu unik dan langkah. Tubuhnyapun terbilang bagus dan menarik lalu apa yang membuatnya anti social, kalau dari wajah hanbin pernah melihatnya sekali waktu dia berpas – pasan dengannya dan its not bad malah dia terbilang sangatlah manis dan cute.

 

Terlihat kaki hanbin bergerak cepat ketika orang yang dia ikuti mulai menjauh. Namun arah jalan yang akan ia lewati adalah jalan dibawah terowongan yang sudah tidak beroperasi lagi sejak dahulu. Hanbin heran namun tidak mau terlalu memikirkannya. Dia memperlambat langkahnya ketika orang yang ia ikuti berhenti berjalan. Ketika itu dia tengah terdiam disana sepertinya ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Ah…… hanbinpun ingat jika disana terdapat graviti – graviti yang terpampang indah di sepanjang dinding terowongan  itu, poin pertama yang ia peroleh dari orang yang ia ikuti adalah ternyata dia menyukai graviti atau gambar sejenisnya. Tidak sampai disitu hanbinpun meluncurkan aksinya untuk melengkapi missi hari ini. Dia mengambil ponselnya dan memposisikan diri sebaik mungkin untuk mengambil angle yang bagus tanpa diketahui orang itu.

 

Cekrit. …

 

‘Auhhh bodohnya mengapa aku lupa mematikan mode suaranya! Mana volumenya tinggi sekali!!!’

 

Tak ayal orang yang dia ikutipun tersadar akan itu. Matanya berbalik mencari sumber suara itu. Dan ketika matanya menemukan sosok hanbin, tubuhnya seakan kaku dan terlihat sangat jelas jika dia ketakutan. Hanbin disitu tidak sadar akan apa yang telah terjadi dengan orang yang ia ikuti itu, dia hanya keluar dari persembunyiannya dan menampakkan wajahnya kepadanya. Seraya menggaruk – garuk punggung lehernya hanbin menatap malu kepadanya.

 

Hanbin berjalan mendekatinya. Ragu – ragu dia berdiri berjarak dekat dengannya. Matanya berusaha menatap wajahnya, tangannya menjulur ingin berkenalan dengannya.

 

“Maaf aku lancang mengikutimu! Aku hanya… emp… aku… emp… tertarik kepadamu! Namaku hanbin, kalau boleh tahu namamu siapa?”

 

Hanbin tersenyum menunggunya menjabat tangannya. Namun sudah beberapa menit orang didepannya itu tidak bergerak sedikitpun. Hanbin malu tangannya pun dia simpan kembali dibelakang punggungnya.

 

“Aku dengar namamu Hayi? Apakah itu benar?”

 

Hanbin berusaha mengajaknya masuk dalam satu percakapan dengannya namun orang didepannya tidak sama sekali memberinya respon ataupun memberikan mimik muka yang berbeda. Hanbin sudah kehabisan akal dia tidak tahu bagaimana berhadapan dengannya.

Mata hanbin terbuka lebar ketika dia mendorong tubuhnya dan pergi berlari meninggalkannya. Apa itu arti dari kata penolakan?  Hanbin tertegun, dia bahkan belum melakukan apapun secepat itukah dia harus menerima penolakan seperti ini!

 

“Hmmm… wanita yang menarik! Aku yakin itu bukanlah penolakan, dia hanya terkejut dan takut melihatku mengikutinya mungkin jika nanti aku menghampirinya langsung dengan cara yang baik tanpa bersembunyi seperti tadi dia tidak akan takut melihatku…

…Aigooo… hanbin~ah kau sudah dewasa !!!” Hanbin tersenyum geli akan dirinya sendiri.

Hanbin membuka ponselnya dan mencari foto yang tadi susah payah ia dapatkan. Dia tersenyum, wajah di foto itu memperlihatkan seorang wanita berparas cantik dan memiliki aura yang sangatlah tenang. Walaupun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun tapi hanbin mulai tertarik kepadanya, ini bukan lagi karena taruhan itu tapi ini berdasarkan feelingnya sendiri.

***

Thanks dok, maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu!”

“Itu sudah menjadi tugasku jadi kau tidak perlu berkata seperti itu! Ya sudah saya pamit pulang!”

“Baik dok, sekali lagi terimakasih dok!”

“Emp!!”

Jiyong berjalan dengan perasaan lega, kembali ke kamar adiknya Hayi yang saat ini tertidur pulas dan tenang. Jiyong membelai pipinya dan mengecup keningnya seraya mengucapkan selamat tidur kepadanya. Menatapnya beberapa menit, menghembuskan nafasnya yang berat ia kembali ke kamarnya.

Jiyong membaringkan tubuh lelahnya itu, berusaha memejamkan matanya sejenak. Tangannya beralih mengambil ponselnya, saat wajah ibunya muncul di layar utama ponselnya jiyong mampu tersenyum kembali. Ibunya yang selalu menjadi penguat, selalu menjadi motivatornya, selalu menjadi penghilang rasa lelah tubuhnya, selalu menjadi alasannya untuk tetap tersenyum ditengah beban hati dan pikirannya yang sangat rumit ini.

Namun wajah jiyong mengerut saat tiba – tiba layar ponselnya berubah ketika satu panggilan dengan nomor tak dikenal masuk. Jiyong mengerutkan keningnya, siapa orang yang memanggilnya di jam – jam seperti ini! Terpaksa jiyong menjawabnya.

“Hallo!”

“Emp, siapa ini?”

“Maaf, aku tadi hanya ingin mengecek nomormu saja! Aku tidak tahu jika kau akan mengangkatnya!”

“Emp, siapa?”

“Ah… aku Jessica!”

“Oh … ya sudah!”

Tanpa menunggu balasannya jiyong langsung mematikan panggilannya dan menyimpan ponselnya di meja dekat tempat tidurnya. Dia tidak terlalu tertarik bercakap – cakap lama dengannya. Jessica merupakan kakak dari Dokter Nam yang barusan menjaga adiknya. Jessica juga merupakan atasannya di kantor tempat dia bekerja magang, bisa dikatakan Jessica merupakan pemilik perusahaanya itu. Sudah beberapa bulan ini dia menggangu jiyong. Jiyong tidak bodoh dia tahu percis apa yang sedang jessica lakukan terhadapnya, tapi satu hal yang selalu jessica lupakan adalah jika jiyong sama sekali tidak tertarik dengan itu semua.

Jessica menawarkannya menjadi Manager dan bekerja menjadi asistennya namun tanpa pikir panjang jiyong menolak itu semua dan hanya tetap menjadi pekerja magang disana. Jessica pun sudah mengungkapkan jika memang dirinya tertarik kepada jiyong, bukan itu saja jessica juga mengatakan jika dirinya menyukai jiyong dan itu semua terjadi pada pandangan pertama.

Bullshit!!

 

Jiyong tidak membutuhkan hal itu, yang saat ini menjadi tujuan utama hidupnya adalah untuk menjaga adiknya Hi selain dari itu dia tidak akan terlalu memperdulikannya. Selama dia masih mampu bekerja jujur dan menghasilkan uang dengan cara yang halal dan benar jiyong tidak akan tergiur dengan hal lainnya.

Jujur untuk biaya pengobatan adiknya jiyong menggunakan biaya dari uang hak yang berasal dari keluarganya. Uang hak ini merupakan uang yang mutlak menjadi kepemilikan jiyong selama dia hidup, uang ini biasanya untuk biaya sekolah, kesehatan dan biaya makan. Jiyong dengan perantara pengacara kepercayaanya itu secara diam – diam mengambilnya untuk dipakai atas keperluan kesehatan adiknya. Sudah lama jiyong melakukan ini dan selama itu juga jiyong bersyukur semua berjalan lancar tanpa sepengetahuan ayahnya.

 

Melupakan kepenatan harinya jiyong menutup matanya dan berusaha melenyapkan itu semua didalam mimpinya.

====

“Noona hari ini hanbin tidak akan pulang ke rumah, hanbin ada tugas kelompok dan kami sekelompok sefakat akan mengerjakan tugas itu di rumah salah satu temanku!”

“Emp, kalau begitu bawa sebagian makanan di kulkas barangkali kalian lapar atau ingin mengemil!”

“Siap boss!”

Hanbin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepada noonanya itu.

“Oh jadi gadis ini!”

“Iya, apa noona punya ide? Kemarin aku sudah berusaha mendekatinya tapi sepertinya dia tidak tertarik sedikitpun kepada hanbin!”

“Siapa namanya?”

“Lee Hayi!”

“Dia cantik! Hmmm… tapi memang terlihat sulit untuk mendekatinya apalagi menaklukannya! Ya sudah nanti noona pikirkan cara lain di kantor! Sekarang noona berangkat dulu aigooo… noona sudah telat 30 menit!”

Take care noona!”

“Emp!”

Dara segera berangkat menuju kantornya, hari ini tidak biasanya kantor pusat menginginkan para karyawannya untuk datang lebih awal. Sepertinya ada hal penting yang akan dibahas. Tapi dara malah bangun terlambat.

Dara sudah siap, dia menggunakan pakaian elegan yang rapih dan anggun. Sebenarnya dia masih tidak bisa berpikir dengan baik, masalahnya dengan donghae belum terselesaikan. Donghae sendiri tidak dapat dihubungi seakan sengaja membungkam diri. Tapi pekerjaan merupakan salah satu tanggung jawab hidupnya, dia tidak bisa mengesampingkan urusan kantornya karena masalah pribadinya, dituntut profesional yang maksimal untuk semua ini.

Tadi pagi sebelum dara berangkat donghae mengirimkan pesan kepadanya,

Dara~ah,

Bisakah kamu menemuiku di tempat biasa nanti sore. Kita harus bertemu dan meluruskan hubungan kita ini. Aku harap kamu datang, aku akan tetap menunggu sampai kamu tiba.

 

 

Donghae,,

 

Membaca pesan darinya tumbuh kembali harapan – harapan itu, dara tersenyum dan sudah mempersiapkan kata – kata saat bertemu dengannya. Betapa bodohnya dara saat ini, namun dia tidak sama sekali memikirkan harga dirinya yang terpenting dia bisa kembali bersamanya.

Sayang lamunan indah terhadap donghae pupus seketika ketika mendapatkan pesan e-mail dari kantornya. Sangking terkejutnya dara menghentikan mobilnya secara mendadak membuat kendaraan dibelakangnya memarahi dan kesal karena hampir membuat kecelakaan.

Tangan dara gemetar membaca pesan itu namun dia berhasil untuk menepikan mobilnya disamping jalan. Dara tak henti menatap pesan itu matanya bahkan tidak mengedip sedikitpun.

From : President Direktur

To : Miss Sandara

Subject : Pemecatan Karyawan

 

Kami dari pihak perusahaan sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang mitra kerja kita. Terimakasih selama bertahun – tahun sudah menjadi karyawan yang baik namun perusahaan mengalami penurunan drastis dan hampir seluruh investor mundur dari perusahaan. Perusahaan bahkan terancam ditutup, maka dari itu kami kabarkan lewat pesan singkat ini rasa maaf atas keputusan mendadak ini. Kami harap anda memakluminya dan segera mendapatkan karir cemerlang diperusahaan lain.

Tak lupa kami sudah mentransfer gaji beserta pesangon. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih dan permohonan maaf sedalam – dalamnya.

 

Hormat kami,

 

Apa ini hanyalah lelucon?

Ulang tahunnya sudah terlewatkan, pastinya ini bukan kejutan ulang tahun untuknya.

Apakah ini sungguhan?

Tapi alamat e-mail pengirim itu memang benar berasal dari perusahaan.

Tapi jika benar, sejak kapan sistem pemecatan dilakukan lewar e-mail seperti ini? Apakah tidak bisa dengan bertatapan langsung dengannya?

Dara membuka group chat teman kantornya dan benar saja semua sedang mengalami hal sama. Jadi ini sungguhan!!

“Aigooo… ini sangat lucu!!”

Dara tertawa berusaha melupakan rasa sedih dan kecewanya.

“Hmm… sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan baru hahaha… aku baru saja dipecat dari pekerjaanku!! dan yang paling lucunya lagi adalah aku dipecat melalui e-mail!!!”

Tapi tetap dara melanjutkan perjalanan menuju kantornya untuk memastikan email itu, apakah benar atau tidak!

====

JIYONG POV •••

 

Apa yang kulakukan ditempat ini?

Oh well aku lupa, ini adalah pekerjaan ayahku!

Aku tak sangka dia bisa melakukan hal selicik ini, bagaimana bisa dia menjadikan Hayi adikku sebagai bahan ancaman. Jiyong, pabo!! Kalau saja tadi pagi aku tidak pergi keluar rumah mungkin saja ini semua tidak akan terjadi.

Ini adalah lelucon yang paling tidak lucu semuka bumi. Apa yang dilakukan ayahku sudah keluar dari batas. Dia jauh – jauh dari Jepang datang kesini hanya untuk sekali lagi menghancurkan hidup tenangku.

Aku muak!

Tapi Hayi, aku harus melakukan ini untuknya. Aku tidak sanggup melihat tatapannya yang sangat ketakutan tadi pagi. Dia menatapku seakan berteriak meminta tolong. Ayah sungguh sangat keterlaluan.

Flashback••

 

“Hayi, oppa membeli bubur untukmu! Come here cepat jangan terus bermalasan diranjang!!”

 

Jiyong mengejek adiknya, kira – kira sekitar 30 menit dia meninggalkan Hayi sendiri untuk membelikannya sarapan. Jiyong tiba dengan semangat dan segera menyiapkan sarapannya di meja.

“Hayi~ah!! Pali, ini sudah jam setengah 8!”

 

Panggil jiyong lembut namun sudah beberapa menit tidak ada sama sekali jawaban dari adiknya itu. Jiyong mengerutkan keningnya bingung, apa adiknya itu benar masih tidur ?

 

Penasaran, jiyong pergi menghampiri kamarnya. Namun jiyong terkejut ketika melihat pintu kamar adiknya itu terbuka dia langsung berlari kedalam. Jiyong terkejut ketika melihat adiknya dikelilingi kerumunan orang berjas. Matanya membesar menyadari siapa dibalik semua ini.

 

Prak prak

Terdengar suara tepuk tangan, jiyong langsung mencari sumber suara itu. Ayahnya keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearahnya dengan senyum licik diwajahnya.

 

Jiyong langsung berlari kearahnya berniat untuk memukulnya. Tapi ayahnya itu menahannya,

“Pegangi gadis itu! Jangan sampai terlepas!”

 

Jiyong semakin marah atas perkataannya itu. Tangannya mengepal kuat seakan ingin menghancurkan senyum licik diwajah ayahnya itu.

 

“Jiyong, my boy! Senang bertemu denganmu, sudah lama sekali kita tidak bertemu!”

“Potong omong kosongmu itu ayah! Lepaskan Hayi adikku sekarang juga!”

“Aigoo… aku bahkan belum berkata apapun! Kau bilang aku omong kosong jiyong? Dimana sopan santunmu Kwon? Kau dilahirkan dalam rahim seorang bangsawan bertingkahlah sepantasnya!”

“Ha … !” Jiyong tertawa kesal atas perkataan ayahnya itu. Dia menatap tajam kepada ayahnya namun ayahnya hanya menatap tenang kepadanya.

 

“Baiklah back to business!  …  “

Dia berhenti segenap untuk menyuruh  orang – orangnya membawa Hayi. Jiyong berteriak kepada ayahnya menyuruhnya untuk melepaskan Hayi dan berusaha untuk merebut adiknya dari genggaman mereka namun dengan kekuatan jiyong saat ini dia kalah, dia gagal merebut Hayi adiknya. Hayi sendiri hanya terdiam, namun matanya menjerit dia berteriak meminta tolong kepada jiyong.

 

“Hayi~ah…… !!”

Jiyong berteriak memberontak ketika tubuhnya di pegangi oleh 3 orang, dia menyaksikan adiknya dibawa oleh orang – orang itu. Jiyong menahan tangisnya, dia tidak ingin terlihat lemah oleh ayahnya itu.

3 Orang yang saat ini memeganginya menarik ( menyeret ) jiyong untuk berhadapan dengan ayahnya lagi.

 

“Sudah selesai dramanya jiyong?”

“Shut up!!! Kembalikan adikku!!”

“Jaga mulutmu! Aku sudah katakan bertingkah sepantasnya, kau ini orang bangsawan!”

“kembalikan adikku?!”

“Oh come on jiyong jika kau masih bertingkah seperti ini aku bisa melakukan sesuatu terhadap adikmu yang aneh itu! Kau tahu aku bukan!”

Wajah jiyong langsung berubah drastis setelah mendengar perkataan ayahnya itu tentang hayi, dia bahkan berlutut dihadapan ayahnya itu. Ayahnya sangat puas akan ekspresi jiyong itu.

“Hmmm… kau ini mudah sekali untuk digertak. Tapi tenang kau masih my boy, putra kesayanganku!”

 

Jiyong mendongak menatapnya dalam posisi masih berlutut.

“Ayah aku mohon jangan kau sakiti Hayi!”

Jiyong memohon, membuang semua ego dan harga dirinya.

“Aigoo… kau masih my boy jiyong! Jadi aku tidak akan menyakitimu tapi dia ( Hayi ) aku tidak yakin!!”

“no, ayah aku mohon! Apa yang kau inginkan? Aku akan melakukan semua keinginanmu asalkan kau melepaskan adikku dan mengembalikannya kepadaku!”

“Itu sangat mudah my boy!”

“Apa itu? ” jiyong menatapnya penuh harap.

 

Beep beep beep beep, ringtone ponselku menyadarkan lamunanku. Aku memeriksa ponselku dan langsung kecewa melihat itu hanyalah pesan dari Jessica.

Aiggooo kwon, mengapa hidupmu serumit ini!! Lalu sekarang apa dulu yang harus aku lakukan? Saat ini sudah jam 10 dan aku belum sedikitpun mengerjakan apapun.

— toktok —

 

Seseorang masuk, aku menatap tanya kepadanya.

“Maaf tuan, ini semua berkas – berkas yang harus kau pelajari!”

Aku memeriksa berkas itu dan terhenti ketika membaca berkas pemecatan karyawan secara besar – besaran.

What the f?

Apa – apaan ini?

Tapi ayahku sudah katakan memang perusahaan ini tengah diambang penutupan karena penurunan drastis setiap tahunnya tapi untuk pemecatan besar – besaran seperti ini apa tidak keterlaluan? Jika ini terjadi bisa dipastikan perusahaan ini akan melakukan perekrutan karyawan baru lagi ashhh.… dan pastinya ini akan menjadi pekerjaan yang sangat lama bagiku. Apalagi masalah terbesar yang harus aku selesaikan adalah mengembangkan perusahaan ini yang saat ini dalam keadaan hampir bangkrut.

“Apa pemecatan ini sudah dilakukan sampai tuntas?”

“Iya, pemecatan karyawan kami lakukan melalui email dan beberapa ada yang langsung, kami juga sudah mengirimkan gaji dan pesangon mereka masing – masing. Tadi sebelum tuan datang, disini memang terjadi pemboykotan dan demo tapi itu berlangsung sebentar karena kami sudah menyelesaikan permasalahan dengan menjelaskan sejujur – jujurnya tentang keadaan perusahaan jadi perlahan mereka mengerti dan pergi meninggalkan perusahaan!”

“Jadi sisa berapa lagi karyawan disini?”

“Kurang lebih hanya tersisa 50 orang !!”

“Baiklah berikan berkas para karyawan  yang telah dipecat aku akan memeriksa siapa saja yang masih bisa direkrut kembali! Jangan lupa kau cantumkan rekap pengalaman saat bekerja disini!!”

“Baiklah saya usahakan besok sore sudah selesai!”

“Oke , kau boleh pergi!”

Lets go jiyong~ah, demi Hayi adikmu!!

Fighting!!!

====

 

Author POV •••

 

 

Di suatu ruangan atas bangunan yang kosong dan terbilang usang seseorang menangis. Tangisan kekecewaan dan kegundahan atas nasib hidupnya.

Dara.

Setelah tadi pagi dia memutuskan untuk tetap pergi ke perusahaannya ini yang dia dapatkan memanglah kebenaran jika memang pemecatan itu bukanlah issue belaka. Dia bersama beberapa karyawan lain melakukan demo tapi nihil, tetap keputusan tidak dapat diganggu gugat apalagi setelah mendengar penjelasan tentang keadaan perusahaan yang ternyata hampir bangkrut membuat dara dan para karyawan lain satu persatu gugur dan pergi.

5 tahun, bukanlah waktu yang sebentar!

Dia menghabiskan masa hidupnya disana, bersama para karyawan lain, bukan lagi rekan kerja melainkan keluarga. Namun sepertinya inilah akhir dan dara harus bisa menerima itu semua walaupun rasa kecewa masih menerpa dirinya.

“Aigooo … dara sudah berapa lama kau diam disini? Sudah jangan cengeng seperti ini sekarang yang harus kau lakukan adalah mencari pekerjaan baru!!”

Dara menghapus air matanya dan beranjak pergi dari tempat persembunyiannya itu.

Donghae.

Sekarang tujuannyalah!

Berharap pertemuannya nanti mampu menjadi penyembuh rasa sedih hatinya saat ini.

Dara berjalan mengitari jalan yang sangat jarang dilalui orang, dia berada dilantai paling atas di  perusahaannya ( mantan ) ini. Tadi niatnya berlama – lama disini untuk mengenang semua seluk beluk bangunan ini yang tidak akan lagi dia masuki. Dia masuk kedalam lift dan menekan tombol kelantai dasar, dia menunggu dan menyandarkan tubuh lemasnya pada dinding di lift tersebut.

5 menit.

Liftnya berhenti di lantai 7 dan seseorang masuk. Dara tidak memperhatikan siapa orang yang masuk itu dan hanya menekuk wajahnya kebawah. Tidak butuh waktu lama dia pun tiba dilantai dasar dia segera keluar mendahului orang yang bersamanya didalam lift tadi.

Orang yang tadi bersamanya didalam lift memandang punggung dara, dia sepertinya pernah bertemu dengannya.

Penasaran.

Orang itu mengikutinya dibelakang dengan  hati – hati. Dara sama sekali tidak menyadari jika dia tengah diikuti seseorang.

Dara tidak menggunakan mobilnya untuk menemui donghae karena tempat mereka biasa bertemu adalah di sebuah cafe yang dekat dengan perusahaan tempat ia bekerja. Dara berusaha memasang wajahnya yang cerah walaupun sebenarnya tengah redup.

Sekitar 10 menit lamanya dara untuk sampai ditempat itu. Dara mencari donghae ditempat biasa mereka duduk dan benar saja donghae disana. Dara tersenyum melihat orang yang ia kasihi menunggunya ditempat itu. Dara segera menghampirinya namun tiba – tiba seorang wanita duduk disamping donghae.

Wanita itu!!

Dara terdiam ditempat langkah kakinya seakan berat. Namun sepertinya donghae menyadari kehadiran dara dibelakangnya sehingga dia berbalik melihatnya.  Donghae berdiri dan menghampirinya.

“Dara…!”

Dara, dara, dara … nama itu??

Bukan lagi baby tapi dara! Kemana panggilan sayangnya itu?

 

Dara menatapnya, donghae menyentuh tangannya dan menariknya untuk duduk bersama dimeja yang ada wanita itu namun dara menolaknya, dia menggelengkan kepalanya.

“Dara…?”

“Apa maksud dari semua ini donghae?”

“Ayo duduk dulu supaya penjelasanku lebih jelas!”

“Tidak, jelaskan saja disini!”

“Baiklah, seperti yang kau lihat wanita di meja itu adalah kekasihku! Dan kami akan segera menikah sebentar lagi!”

Dara menatapnya tidak percaya. Air matanya sudah berancang – ancang ingin serentak keluar bersamaan.

“Lalu bagaimana denganku? Dengan kita?”

“Tidak  ada kita dara. Hanya aku dan  dia untuk saat ini dan seterusnya!”

“Lalu selama ini kau anggap aku apa hae?”

“Mian dara!!”

“Apa kau hanya mempermainkanku? Jelaskan kepadaku! Ini hanyalah lelucon saja iya kan hae?”

“Mianhae dara!”

“Tidak! Aku masih tidak percaya akan semua ini!!”

“Sudahlah dara lupakan saja semua kenangan kita! Aku harap kau bahagia dan menemukan laki – laki baru yang jauh lebih baik dariku!!”

Dara terdiam, air matanya mengalir deras. Tangannya yang masih dalam genggaman donghae ia lepas paksa dan menggunakan tangan itu untuk menampar donghae sekerasnya. Dara memukul dadanya dan memakinya keras namun donghae hanya terdiam layaknya menerima semua perlakuan dara karena dia pantas menerima itu semua. Wanita yang bersama donghae menghampirinya dan menarik tangan dara dari donghae dan membantingnya jauh.

“Yaaa apa yang kau lakukan kepada calon suamiku!?”

Wanita itu menatapnya tajam dan tangannya sudah siap untuk menampar dara. Dara menutup matanya menantikan rasa perih yang akan ia rasakan namun itu semua tidak terjadi. Dia membuka matanya dan melihat seseorang menahan tangan wanita itu dan menepisnya keras.

 Donghae terkejut dia menatap orang yang berada dibelakang dara dengan kesal. Namun sebelum donghae bisa melakukan apapun orang itu sudah lebih dahulu memukul donghae dengan sangat keras yang membuat donghae terjatuh kebawah.

“Ini terakhir kalinya kau menyakitinya! You basta*d!”

Dara mendengar orang itu berteriak membuat seisi gedung cafe terdiam dan menatap keributan yang mereka perbuat.

Kakinya berjalan…

bukan !

Kakinya berlari.

Dara melihat tangan orang itu menariknya untuk keluar dari cafe tadi. Setelah beberapa menit orang itu berhenti di sebuah lorong diantara 2 gedung besar, dara terengah nafasnya masih berat. Orang yang menariknya tadi hanya terdiam menunggu dara untuk tenang.

Ketika dara sudah mulai tenang, dia menatap orang didepannya bingung. Dara mengerutkan keningnya sepertinya orang didepannya ini pernah bertemu dengannya.

“Apa aku pernah bertemu denganmu?”

“Mungkin? Menurutmu?” Dara mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dingin darinya dan menundukan kepalanya.

 “… oy girl!!”  Dara mendongak kepadanya mendengar dia memanggilnya.

“Oke girl tugas kepahlawananku sudah selesai kau boleh pergi! See you!!”

“Tunggu!” Dara menahannya.

“…Siapa namamu?”

“Jika kau ingin tahu namaku datang ke perusahaan yang telah memecatmu, ingat jam 8 teng… jangan sampai telat!”

dara semakin bingung dengan perkataanya namun telat orang tadi sudah pergi jauh darinya.

“siapa orang itu? Aigooo… aku yakin pernah bertemu denganya tapi dimana?? Lalu apa maksud dari omongannya tadi? Ashhh… membuat kepalaku bingung!!!!”

Dara menghembuskan nafasnya dalam. Tapi dalam hatinya dia mengucapkan terimakasih kepada orang itu.

Menutup matanya untuk terakhir kali dara beranjak pergi.

====

“Aisshhhh … ya mino~ah kau tidak katakan jika rumahmu sangatlah jauh!! Butuh berapa lama lagi kita berjalan!!”

“Ya hanbin~ah rumahku ini sebenarnya dekat dan berada dipertengahan kota tapi tadi jalan utama yang terdekat telah ditutup paksa dan jalan lain hanyalah kesini!!”

“Tapi ini jauh sekali!”

“Iya namanya juga jalan memutar ya pasti agak jauh!!”

“Whatever!! Setelah kita sampai aku tidak mau tahu kau harus siapkan makanan dan minuman yang banyak!!”

“Tenang saja omma sudah mempersiapkannya!!”

“Baguslah! Oh by the way mino~ah rumah besar menjulang itu milik siapa?”

“Ahh… baru saja orang dari Jepang menempati rumah itu!”

“Orang Jepang?”

“Emp… dan aku dengar disana ada seorang putri yang diasingkan?!”

“Sincha?”

“Belum lama ini ah… maksudku tadi pagi aku melihat wanita itu!! Oh man dan kau harus tahu wanita itu sangatlah cantik!”

“Aigoo.… mino~ah kau ini! Semua wanita yang kau temui selalu saja kau anggap cantik!!”

“Ya hanbin~ah aku serius! Tapi aku seperti pernah melihat wanita itu? Dimana yah aku lupa!!”

“Sudahlah aku tidak peduli!!”

Tak sadar jika rumah mino sudah terlewati karena terlalu asik mengobrol dijalan tadi, mino dan hanbin terpaksa berjalan kembali. Walaupun mino mendapatkan semprotan keras dari hanbin tapi mereka akhirnya bisa sampai juga.

“Mino~ah aku pinjam komputermu aku mau mengedit sesuatu!!”

 

“Iya. aku mandi dulu oke bro!!” Teriak mino dikamar mandi. Hanbin segera menyalakan komputer itu tak sabar ingin mengedit fotonya dengan wanita yang tengah ia incar. Dia tersenyum geli atas perbuatan kekanak – kanakannya itu.

Seharian ini hanbin gundah, Hayi nama wanita itu tidak ada disekolah hari ini. Dia mencarinya disetiap sudut sekolah tapi nihil. Tapi kabar baiknya dia mendapatkan nomor ponselnya setelah memaksa seorang guru untuk memberikannya.  Butuh beberapa jurus untuk mengelabui gurunya itu namun hanbin bersyukur sudah mendapatkannya.

Hanbin belum mengirimkan pesan ataupun menghubunginya, dia masih tidak tahu untuk mengatakan apa dan bagaimana. Hanbin memainkan ponselnya satu tangan memegang mouse komputer satu lagi memegang ponselnya. Foto yang ia edit sudah hampir selesai tapi dia masih belum berencana menghubungi hayi.

BRUGHHHH

 

Hanbin terkejut, dia berbalik mencari sumber suara itu yang ternyata adalah mino. Mino yang masih hanya mengenakan handuk menatap hanbin dengan mata terkejut.

“Oghhh shittt man? Jangan bilang kau suka wanita itu?”

Hanbin memalingkan wajahnya malu.

“Shut up you mino sneaky!!!”

==Tbc

Next >>

^^ anyeonggg

 

OMG SAYA TEGASKAN DARAGON SLAYYING. KALIAN PASTI UDA LIAT NOH FOTO ABANG AMA NENG YANG LAGI ‘NGEDATE’ DI TOKYO DISNEYSEALAND. OMG OMGGGGG!!! 🎆🎇🎊🎉💠💟🌈🌈💏

 

saya seneng bangettt nyahahaha ampe nulis cerita  chapter ini beres semalem hahahahaha…

^•^ MAKASIH YANG UDA KOMENNYA!! WALAUPUN KAGAK BISA Di SEBUTIN SATU PET SATU TAPI KAMSHAMNIDA…💝😘😍😂😂💗

GOMAWOO TANPA KALIAN AKU MALAS UNTUK MENULIS, DG UDA MENDARAH DAGING SEMUA CERITA YANG AKU TULIS PASTI NGEBAYANGINNYA KE DARAGON. JADI HANYA TEMPAT INI AKU BISA MENCURAHKAN ITU SEMUA.

 

Keep supprot me!! Enjoy and comment juseyooo.… see you next chapter. Aigooo… daragon momentnya uda bakalan hadir di chapter selanjutnya secepatnya!!! 👏💪💪

 

PYONG HENGSHOOO

 

 

Advertisements

17 thoughts on “TURNING 30 [Chap. 1]

  1. jiaahhhhh awas lu donghae sombong bener luuu sudah ninggalin dara,,… untung ajj ada jiyong dan dara terselamtkan… dan rasain itu hbs di hantam jiyong hahaha
    di tunggu chapter selanjutnya mimin….

  2. Kekekekekeke…. Akhrny dara jiyong dprtemukan. 😆 Mnyebalkan ya tipe cowo kek donghae gini. Apa donghae pnya alasan trtntu lkukan gttu.

  3. Knp abang donghae jahat sma neng…
    Untung bang jidi dateng jdi hero buat neng…
    Itu si hanbin nauzubillah bikin takut orang ngikutin diem2 gtu…

    Hengsoooo👏🙆❤❤😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s