MY GLOOMY WORLD [Chap. 1]

mgw

Aurhor : Aitsil96

Main Cast : Kwon Ji Yong and Park Sandara

.

“Haruskah aku menyelamatkan diri atau tenggelam dalam lembah tak berdasar ini?”

.

.

.

Mereka saat ini sedang berada di depan pintu gerbang rumah Sandara. Ji Yong dan Sandara berdiri berhadapan setelah pulang dari pusat perbelanjaan kota beberapa saat yang lalu.

“Ini,” ucap Sandara seraya memberikan dua kantung belajaan yang sedari ia tenteng kepada Ji Yong.

Ji Yong dengan sigap menerima dengan uluran tangannya, “Oh ne, gomawo.”

Hening beberapa saat menyelimuti setelahnya. Merasa canggung dengan situasi di antara mereka saat ini. Keduanya kompak menundukkan wajahnya, bingung harus memulai percakapan baru, atau mengakhirinya saja.

“Aku akan masuk ke dalam kalau begitu,” Sandara memutuskan untuk mengakhiri dan berbalik menuju gerbang rumah.

Chakkaman,” Ji Yong menarik lengan Sandara agar berbalik lagi ke arahnya.

Sandara memperhatikan pria di hadapannya dengan pandangan bertanya, tak mengerti. Ji Yong saat ini tengah memasukkan tangannya ke salah satu kantung belanjaan, terlihat mencari sesuatu, “Apa ada yang salah barang belanjaannya? Atau kau lupa membeli sesuatu?”

Sandara yang tak kunjung mendapat jawaban dari Ji Yong hanya menatap tingkah laku aneh pria itu.

“Nah, ini dia!”

Kotak berwarna ungu dengan hiasan pita keemasan itu segera berpindah tangan pada Sandara. Pria itu tersenyum lebar, sementara gadis di hadapannya menatap ke arah kotak berukuran sedang yang saat ini digenggamnya dengan pandangan yang masih tak mengerti.

“Apa ini?”

“Itu kado dariku. Anggaplah sebagai hadiah karena mau menemaniku malam ini.”

Sandara mengalihkan tatapannya pada Ji Yong, memberinya senyuman tulus. Tanpa harus mengatakan apapun, Ji Yong mengerti Sandara sedang berterima kasih saat ini. Ji Yong pun membalas senyuman Sandara dengan cengiran lebar khasnya.

Ji Yong sedikit membungkuk untuk menyejajarkan tingginya dengan Sandara, lalu mengusap rambutnya lembut, “Masuklah, ini sudah larut malam, Ra-ya.”

Dengan anggukan patuh, gadis itu segera berbalik dan tenggelam dalam gerbang besar rumahnya. Ji Yong melihat semua itu dengan mata yang tak berkedip. Ia ingin merekam gadis itu dalam ingatannya, memperhatikan setiap tingkah lakunya dengan cermat, karena ia tak ingin kehilangan sedetikpun momennya saat bersama gadis itu. Gadis yang disayanginya, lebih dari apapun.

*****

Ra-ya. Katakanlah itu sebagai panggilan sayang dariku untuknya. Sayang? Ya, tentu aku menyayanginya. Sangat. Gadis itu telah menawan hatiku semenjak hari dimana aku tampil sebagai penyanyi di kafe temanku. Ia adalah salah satu pengunjung yang beruntung dan dapat hadiah dari undian bodoh yang diadakan malam itu. Ya, undian bodoh yang tak disangka dapat membuatku mengenal gadis bermata hazel indah itu. Dari undiannya, Sandara mendapatkan makanan gratis dari kafe serta parsel yang kuyakini isinya tak jauh dari makanan dan minuman dari minimarket terdekat.

Saat itu, aku yang telah selesai bernyanyi masih berada di atas panggung dan tak sedetikpun mengerjap untuk melihat Sandara yang kegirangan di mejanya karena mendapatkan hadiah. Gadis itu memikatku hanya dalam beberapa detik. Ia adalah gadis dengan paras blasteran yang berbeda dari gadis Korea kebanyakan. Menawan? Tentu saja. Apakah ini adalah cinta pada pandangan pertama? Oh Tuhan, itu adalah hal terkonyol yang tak dapat dipungkiri saat aku bertemu dengannya.

Setelah pertemuan itu aku dengan keberanianku meminta kertas undian Sandara dari temanku yang merupakan pemilik kafe tersebut. Dari sana aku bisa mengetahui nomor ponselnya, alamat, serta berbagai informasi pribadi tentangnya. Dan semenjak itu aku gencar untuk mengintainya serta beberapa kali menampakan diriku di hadapannya. Katakanlah aku sebagai penguntit. Sungguh, itu adalah hal tergila yang pernah aku lakukan untuk mengenal seorang wanita. Dan ini hanya aku lakukan pada gadis itu, Sandara.

Sebulan aku mengintainya, tak sia-sia usahaku untuk mengenal Sandara lebih dekat. Kami berkenalan secara resmi, meski tanpa dilakukan pun aku sudah jauh mengenalnya tanpa ia ketahui. Dan semakin aku mengenalnya, semakin aku mengetahui tentang dirinya. Awalnya aku tidak terganggu dengan hal itu, aku hanya bertekad bahwa aku menyayanginya, dan ingin memilikinya. Namun akhir-akhir ini aku sadar, anganku terhadapnya mungkin terlalu jauh. Tanpa disadari, aku telah menceburkan diriku sendiri ke lembah yang tak berdasar hingga membuatku mengambang tak tentu arah. Entah aku harus menyelamatkan diri, atau tenggelam di dalamnya.

*****

Sandara memasuki ruang tamu rumahnya dengan mengendap-endap. Ia tahu jam telah menunjukkan pukul sepuluh dan ayahnya bisa marah jika mengetahui putrinya pulang dengan waktu satu jam lebih telat dari jam malam yang telah diatur. Baru saja ia akan naik ke tangga untuk segera pergi ke kamarnya, lampu yang tadinya mati tiba-tiba menyala. Ini sinyal bahaya bagi Sandara.

“Darimana saja kau?”

“Aku… berbelanja dengan temanku, appa.”

“Kau menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk membeli kotak itu?” ayah Sandara, Park Jun Hyung, menunjuk hadiah dari Ji Yong yang saat ini sedang dipegang putrinya.

Sandara segera menyembunyikan kotak itu di punggungnya dengan gugup, “Ini hadiah dari temanku. Aku hanya menemaninya belanja.”

“Kado apa itu?” Jun Hyung menyelidik.

“Hanya… bingkisan darinya.”

“Baiklah, aku percaya padamu. Jangan lakukan hal yang macam-macam, Dara-ya,” Jun Hyung terdiam sejenak, “Dan, selalu ingat dengan jam malammu, untuk kali ini kau ku maafkan.”

Setelah mengucapkan itu, Jun Hyung berbalik dan pergi menuju kamarnya. Ia meninggalkan Sandara yang terpaku setelahnya. Ucapan Jun Hyung seakan menyadarkan ia tentang hal yang selama ini bersemayam dalam pikirannya, sesuatu yang ia tahu pasti itu dilarang.

Sandara segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran yang lagi-lagi mengganggunya. Ia menaiki tangga, lalu masuk ke dalam kamar nuansa abu-abu miliknya. Dengan langkah gontai ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur, menutup matanya dengan kedua tangan. Hari ini ia sungguh lelah. Bukan, bukan karena ia menemani Ji Yong, namun karena beban pikirannya sendiri.

Teringat akan Ji Yong, ia teringat pula pada kado yang diberikan kepadanya yang saat ini masih berada di genggamannya. Sandara tersenyum, sungguh bahagia mendapat hadiah dari pria itu. Pria yang selalu membuat kerja jantungnya tak normal saat berada di dekatnya. Sandara menyukainya? Tidak. Ia menggilai pria itu. Ia menggilai segala hal tentang Ji Yong, suara khas, penampilan unik, aroma tubuh, dan jangan lupakan ketampanan tak manusiawi pria itu.

Sandara mungkin akan segera sinting jika terus memikirkan pria itu. Semakin ia memikirkan tentang kegilaannya terhadap Ji Yong, semakin ia juga teringat pada hal yang selalu ia coba tolak, namun tetap bersarang pada pikirannya. Ia teringat dengan percakapan ayahnya beberapa saat lalu. Kalian berpikir Sandara telah berdusta? Tidak. Ji Yong memang temannya, setidaknya sampai saat ini. Mereka telah dekat semenjak tiga bulan yang lalu ketika dengan tidak sengaja bertemu di salah satu kafe. Semenjak hari itu, mereka dekat dan menjalin hubungan pertemanan hingga kini.

Teman. Kata yang sebenarnya membuat hati Sandara berdenyut nyeri melantunkannya. Itu mengganggu. Sangat mengganggu. Sandara menyerah pada segala pikiran semrawutnya untuk malam ini. Segera ia bangkit untuk menarik laci meja dekat tempat tidurnya, melempar kotak ungu itu, lalu menggeram kesal setelahnya.

*****

Tangan gadis itu terulur meraba nakas di sebelah tempat tidurnya, mencoba meraih jam beker. Ia mengucek matanya yang sangat sulit untuk sekadar dibuka. Dan oh, jam berapa sekarang? Ini sudah jam sebelas siang dan Jun Hyung sama sekali belum membangunkannya. Tumben sekali, biasanya dua jam lalu pintu kamarnya telah digedor keras oleh ayahnya itu untuk membangunkannya.

Sandara meregangkan tubuhnya, kebiasaan saat baru bangun tidur. Meskipun dengan penghangat ruangan, cuaca dingin di luar masih terasa hingga ke kamarnya. Ia segera bangun dan bersiap untuk ke kamar mandi dengan langkah sempoyongan. Saat menuruni tangga, Sandara melihat Jun Hyung yang tengah membelakanginya. Ayahnya itu sedang berdiri di meja makan, entah apa yang ia lakukan.

Morning, appa.”

“Ya, segeralah kau mandi.”

Sandara mengernyitkan hidungnya. Ada apa dengan ayahnya itu? Tak biasanya ia cuek seperti ini, bahkan Jun Hyung tidak membalas ucapan selamat paginya dan membalikan badannya sedikit pun untuk menoleh pada Sandara. Oh, mungkin ia sibuk? Ah tidak mungkin, ini kan libur tahun baru. Sandara menggelengkan kepalanya dan mengedikkan bahunya tak peduli.

Dengan kecepatan ekstra Sandara menyelesaikan mandinya dan segera menghampiri meja makan, berniat mengambil sepotong roti untuk sarapan. Dan betapa terkejutnya ia saat matanya menangkap meja makan yang telah ditata sedemikian rapi dengan keramik cantik yang masih kosong dihiasi lilin dan bunga cantik di tengahnya. Ada apa ini?

“Nanti malam aku akan mengadakan pesta perayaan tahun baru.”

Manik Sandara mengerjap seraya mengangguk tanda mengerti.

“Kemarilah,” Jun Hyung meminta Sandara mendekat untuk memeluknya, “Kau adalah putriku satu-satunya, kau sungguh berharga bagiku dan juga ibumu. Andai saja ia masih di sini, mungkin ia juga akan bahagia melihat bagaimana kau tumbuh besar dengan wajah cantik khas dirinya. Aku akan terus menyayanginya. Kasih sayangku padanya takkan pernah pudar digerus waktu. Ia akan tetap terus hidup di hatiku, dan juga hatimu.”

Kata-kata ayahnya barusan sukses mengingatkannya lagi pada mendiang ibunya yang telah meninggal beberapa tahun lalu karena penyakit kanker yang telah lama diidapnya. Carroline. Wanita dengan mata biru jernih yang amat menawan. Ini bukanlah hari peringatan kematian ibunya, namun mengapa tiba-tiba Jun Hyung mengungkit hal itu dan memeluknya seperti ini? Bukankah terasa aneh? Dalam dekapan Jun Hyung, Sandara memutar otaknya dengan tampang bingung.

“Nanti malam Hye Mi akan kemari, bersiaplah dan kenakan pakaian yang bagus.”

Sandara segera membeku di pelukan ayahnya detik itu juga saat mendengar pernyataan Jun Hyung barusan. Jadi… inikah alasan Jun Hyung terlihat aneh hari ini? Wajah Sandara bahkan mengeras menandakan ketidaksukaan yang amat kentara. Namun Jun Hyung tak bisa melihatnya dengan posisi Sandara yang berada di dekapannya. Sandara merasakan pelukan Jun Hyung terlepas dan dengan segera berusaha menetralkan wajahnya dan bersikap setenang mungkin.

Ayahnya itu saat ini menatap matanya dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun apapun arti pandangan Jun Hyung, ia tahu pasti ayahnya itu sedang mencoba membuat Sandara mengerti dengan kehadiran Hye Mi di hidup mereka. Jika kau ingin tahu bagaimana perasaan Sandara saat ini, bayangkan saja bagaimana jurang tak berujung yang dulu tak terlihat, kini berada di depan matamu. Sangat jelas terlihat dan kau tinggal selangkah lagi untuk masuk ke dalamnya. Sandara menatap sendu wajah ayahnya, lalu menerbitkan senyum dengan setengah paksaan seraya mengangguk lemah.

–TBC–

Advertisements

20 thoughts on “MY GLOOMY WORLD [Chap. 1]

  1. yaampun hmpir mriplh dara sama ak kkkkk tau kok perasaan dara pas appanya ngmng kayak gtu huhhhh,semoga jiyong bs ngibur dara dehhh^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s