FATE [Chap. 11]

12346798_1016594028383065_2142506412_n

Author : dinasptvd

Main Characters:

Kwon Jiyong [26th] ; Sandara Park [28th].

Support Characters:

Dina Park [22th] ;Song Daehan [2th] ; Kiko Mizuhara [26th] ; Kim Jaejoong [26th] ; 2NE1 Members ; BIGBANG Members.

******

Note:

You Liiiiiiike? I hope so!

Bagiku, fanfiction ini seperti mini drama J

Main OST? Kim Jaejoong- Now is Good

“Tapi aku kembali..untukmu.”

“…Ya. Aku mencintai orang lain.”

“Kami datang lagi. Bagaimana kabarmu disana, ng? Aku merindukanmu, Daehan juga sangat rindu padamu. Ini…sudah 2 tahun lebih, geji? Waktu sungguh tidak terasa tanpa kau disini.”

“Ji..”

“Mianhae. “Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

“Bom tidak akan suka ini.”

***

“Biar aku yang menggendongnya, babe. Kau pasti lelah.” Ucap Jiyong pada Dara sesampainya mereka di area parkir apartemen.

“Kau sa-“

Jiyong mengerucutkan bibirnya, “Hanya untuk menggendong Daehan, ng? Tentu saja aku tidak selemah itu.”

Dara mendesah pasrah lalu menyerahkan putranya yang setengah mengantuk ke dalam gendongan Jiyong.

“Aku tidak berat, kan ahjeossi?” tanya Daehan polos, membuat Jiyong tertawa.

“Aaaani. Sama sekali tidak, baby.”

“Eo? Kenapa eomma dan ahjeossi menggunakan penutup wajah?”

Jiyong dan Dara saling bertukar pandang. Kemudian Dara berkata, “Agar seseorang tidak mengenali kita, sayang.”

“Waeyo, eomma?”

Dara mencubit salah satu sisi pipi putranya, “Kelak kau akan mengerti ne? Kajja.”

Kwon Jiyong, merupakan satu diantara sekian banyak idola terkenal di Seoul yang paling dikagumi dan dihormati. Baik sebagai hoobae, seonbae, maupun sebagai produser sekalipun. Bisa dianggap ia sangatlah istimewa. Wae? Tentu itu semua karena kemampuan luar biasanya dalam meraih kesuksesan dan kekayaan sejak usia yang masih sangat muda. Dengan statusnya, Jiyong hampir bisa mendapatkan dan melakukan apapun yang ia mau. Sebenarnya, apartemen mewah yang ditinggalinya saat ini pun juga tidak sembarangan. Apartemen ini telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan entertainment untuk menjaga privasi setiap idola yang bertempat tinggal disana dalam jangka waktu tertentu. Termasuk Jiyong tentunya. Yang perlu ia lakukan adalah selalu waspada dan tidak lupa mengenakan peralatan ‘menyamar’nya. Beberapa paparazzi terkadang lihai mengabadikan moment tanpa diketahui dengan trik masing-masing.

Ting

Lift pun terbuka. Kini Dara, Daehan dan juga Jiyong menuju kekamar apartemen nomor 1808 di lantai 18.

“Pertama kalinya kau disini, geji?” tanya Jiyong seraya meraih kunci di saku jaketnya dengan tangannya yang bebas. Kemudian menuntun Dara untuk masuk ke dalam.

Dara terpukau. Kedua matanya memandang seluruh isi ruangan itu, mengagumi design dan berbagai ukiran yang ada. Ia terus memandang sekeliling ketika Jiyong secara perlahan menidurkan Daehan di atas ranjang besarnya dengan hati-hati.

“Kau suka?”

Dara menoleh, mengangkat alisnya heran.

“Kau suka kamarku? Kau bisa menginap kapanpun, babe.” Ucap Jiyong lagi sambil berjalan ke arahnya, menopang dagunya di atas pundak yeoja itu.

“Kau selalu menggodaku seperti itu.”

“Itu bukan menggoda, itu undangan. Ini rumahku, itu artinya ini juga rumahmu.”

Dara tersenyum, mengusap pipi namja itu. Uh-oh. Pipinya merona dan itu membuat Dara berpikir bahwa jatuh cinta pada Kwon Jiyong membuat segalanya menjadi merah muda. Setelah itu Jiyong berbisik di telinganya, menyebabkan yeoja itu merinding. “Kau mau mandi?”

“M-mwo?”

Jiyong tersenyum lebar. “Kau mau mandi? Kau lelah, bukan?”

Dara mengedipkan kedua matanya beberapa kali, menoleh ke atas ranjang untuk mengecek putranya yang rupanya telah tertidur. Daehan tidak mendengarnya, syukurlah.

“Aku, a-aku akan mandi.”

Jiyong berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah handuk, sweater dan celana panjang dari dalam sana, menyerahkannya pada Dara. “Ini. Aku akan memasak makan malam untuk kita.”

Dara berkacak pinggang, “Bukankah seharusnya aku yang merawatmu hari ini? Selama yang aku mau?”

Jiyong mendekat dan mengecup bibir Dara cepat, “Aigoo. Arasseo.”

***

Jiyong tersenyum seperti orang kurang waras sekarang.

Sandara yang dicintainya, Sandara yang sejak lama ia harapkan dapat melihatnya, kini berada di sisinya, bersamanya, menjalani hari-hari bersamanya. Tidak ada hal lain yang patut ia syukuri lebih dari ini. Meskipun yeoja itu belum pernah sekalipun mengucapkan kata-kata yang ia inginkan, meskipun kadang.. yeoja itu masih selalu mengingat sahabatnya. Ia tidak masalah. Ia tidak mempermasalahkan itu selama ia masih diberikan kesempatan untuk terus bersamanya. Ini mimpinya, harapannya, cintanya.

Jiyong telah sepenuhnya jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan hal itu.

Pandangannya berganti, kini ia melihat ke arah meja sisi tempat tidurnya. Saat ia pergi menjemput Dara dan Daehan, terdapat baskom berisi air dengan sebuah handuk kecil masih disana. Kiko yang melakukannya. Namun sekarang benda-benda itu tidak lagi berada di tempatnya.

“Dia sudah membereskannya..” ucap Jiyong lirih, samar-samar mengingat kembali percakapan mereka berdua. Ia lega,  untuk kesekian kalinya ia tegas memberi yeoja itu jawaban pasti. Ia lega, untuk pertama kalinya ia dapat mengatakan bahwa ia telah mampu mencintai seseorang yang telah lama ia rindukan. Dan Kiko, yeoja itu adalah seseorang yang hangat, masih sama seperti saat pertama kali ia mengenalnya. Jiyong telah memaafkannya, ia sudah lama memaafkannya. Hanya saja ia tidak lagi dapat mencintainya seperti dulu. Jiyong yakin, Kiko pasti akan mengerti.

Setelah kurang lebih 20 menit, Dara keluar dari kamar mandi. Mengenakan pakaian Jiyong yang sedikit kebesaran sembari berjalan mengeringkan helaian rambutnya yang basah dengan handuk. Dara mendongak, menatapnya.

BLUSH

Keduanya mengalihkan pandangan dengan pipi yang merona merah.  “Ehm. Duduklah disini.”

Jiyong bergeser dan Dara pun duduk disampingnya, di atas tempat tidur.

“Kau mulai berkeringat, Ji.” Ucap Dara dalam keheningan di dalam ruangan itu.

“Geurae.. kurasa badanku mulai terasa letih lagi.”

Dengan sigap Dara membenarkan letak bantalan yang ada di atas ranjang Jiyong, melepas jaket yang dikenakan namja itu dan memintanya untuk berbaring.“Kau sudah makan?”

Jiyong menggeleng.

“Akan kubuatkan bubur dan kau harus minum obat.” Jawab Dara sembari menyingkap helaian poni tipis di kening kekasihnya sebelum beranjak berdiri. Namun Jiyong menahan pergelangan tangannya.

Babe.”

Dara kembali duduk. “Hm?”

“Kiko..”

Tubuh Dara menegang. Kiko?

“Kiko datang kemari hari ini.”

Jiyong mendongak, menatap Dara dengan raut wajah gelisah. Menatapnya seolah Dara akan menghilang dari hadapannya. “Begitu aku sampai.. dia sudah ada di lobby dan kita berdua mengobrol..disini.”

“Di kamarmu?” tanya Dara.

Dilihatnya Jiyong mengangguk, menggenggam kedua tangan Dara erat-erat. “Kau percaya padaku, kan?”

Hening.

Dara kemudian menatapnya dengan intens, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dara sendiri tidak mengerti apa arti perasaan was-was yang tengah dirasakannya saat ini.

“Baiklah.. ceritakan padaku semuanya, Jiyong.”

***

Seunghyun menatap Bom dengan alis berkerut, menggigit jemarinya satu persatu sambil berpikir apa yang sebaiknya ia katakan. Keduanya kini tengah duduk berhadapan di dalam ruangan kerja Bom, di sudut ruangan dekat jendela kaca besar. Dengan sepasang cangkir hijau berisikan coffee latte di atas meja. Seperti biasa.

“Seunghyun?”

“Hm?”

“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?”

Sang kekasih yang tampan berdeham canggung, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Eo…..”

Bom menopang dagunya dengan sebelah tangan, “Hmmmmm?”

“Anida.” Jawab Seunghyun sembari membenarkan posisi duduknya untuk sedikit lebih tegak.

“Ah, ya~”

“Jeongmariya.. amugeoto aniya.” *benar-benar tidak apa-apa.

“Jeongmal?” Bom menyipitkan mata indahnya, yang dibalas dengan sebuah anggukan singkat.

Setelah itu, Park Bom pun tersenyum lega. Sedikit memutar tubuhnya, memandang hiruk-pikuk pemandangan kota yang ramai di bawah sana. Sedangkan Seunghyun mulai kembali fokus pada pikirannya yang tiada henti bertanya-tanya mengenai apa yang telah dilihatnya tadi sore. Kiko, ia sungguh datang ke Korea. Yang terburuk adalah ia datang mengunjungi Jiyong secara langsung ke apartemennya. Ini gila. ‘Apa Jiyong belum juga memberikan penegasan lebih eoh. Aish.. nappeun seggi.’ –begitu pikirnya dalam hati. Namja sexy dengan coat dark-gray panjang dan skinny pants-nya itu juga tengah berpikir, bahwa bagaimana pun kejadiannya.. ia percaya bahwa Jiyong bukanlah namja yang tidak bertanggung jawab. Ia sudah mengatakan apapun yang perlu ia katakan selama mereka berada di Paris dan ia merasa itu semua cukup untuk membuat sahabat egoisnya itu memahami kondisi Dara. Ya. Tidak menceritakan kejadian tadi pada Bom bukanlah masalah saat ini. Semuanya akan baik-baik saja. Karena sekalipun ia tidak bisa membayangkan bagaimana Bom nantinya akan menjambak rambut Kiko hingga botak, atau memaki Kiko dengan serentetan kalimat andalan yang dulu pernah menyakitinya sewaktu kuliah, atau bahkan menyaksikan Bom menggedor pintu apartemen Jiyong sambil berteriak seperti orang kurang waras. Oh, sesange.. tapi dia sangat mencintai yeoja ini. Ia mencintai Park Bom. Ia telah mencintai..wanita rimba.

Seunghyun mendongak, menatap kekasihnya yang kini tengah menyesap pelan minumannya dengan anggun. Kemudian menghela nafas. Ia sudah melakukan hal yang baik, angeurae?

“Jagiya..” tiba-tiba suara beratnya memanggil Bom, membuat yeoja itu menoleh. Dia baru saja memiliki ide untuk mengusir sejenak kegelisahannya.

“Mm?”

“Cheonyeok.. katchi meoggullae?” *mau makan malam denganku?

Dan kedua mata Bom pun berbinar senang.

***

Tiga hari berlalu..

Dan Kiko Mizuhara masih berada di Korea untuk melakukan photoshoot coversebuah majalah. Akhir-akhir ini, ia mengurungkan niatnya untuk kembali mengunjungi kediaman Jiyong. Tatapan serius namja itu kepadanya, sikap tegas namja itu kepadanya, cara namja itu berbicara kepadanya.. semuanya sukses membuat dirinya memilih mundur secara perlahan.

“Kiko-chan?” Stylist pribadinya menyentuh pundaknya secara tiba-tiba, membuatnya tersentak.

“Eh? Nani?” balasnya sembari tersenyum lebar. *apa?

“Doushitano? Kaoiro waruiyo..” *kenapa? Wajahmu terlihat kurang baik.

Kiko menggeleng. “Mm.. daijoubu. Tsukaretta dake.” *tidak apa-apa, hanya lelah

Namja dengan lesung pipi di hadapannya lantas tersenyum lega, kemudian memberitahu dirinya bahwa photoshoot hari ini telah selesai. Kiko melirik jam tangannya, 11:05. Akhirnya, Ia bisa kembali ke hotel dan beristirahat. Kiko berdiri, menghembuskan nafasnya sejenak seraya mengenakan masker, topi, serya parka putihnya yang hangat sebelum berjalan pergi.

“Kiko-ssi? Apa kau ingin kutemani?” Managernya menyapa dengan bahasa Korea, karena ia tau Kiko pernah tinggal disini dalam beberapa tahun.

Kiko tersenyum, “Gwenchansimnida. Aku masih begitu ingat daerah ini. Aku hanya akan mampir untuk makan siang sebelum kembali. Aku pastikan itu.”

Managernya mengangguk, kemudian berpamitan kepadanya dan juga kepada seluruh crew.

Gangnam, yang terkenal sebagai kawasan elit di Seoul City ramai sekali hariitu. Karena hotel tempat Kiko menginap hanya beberapa blok dari lokasinya saat ini, iapun memilih untuk berjalan kaki, menikmati pemandangan kota yang sudah lama dirindukannya. Yeoja itu memeluk tubuhnya erat untuk mengantisipasi hawa dingin yang menerpa. Ini sudah hampir musim semi, namun suhu masih belum sepenuhnya mereda.

Saat ia berjalan melewati beberapa baris pertokoan dan musium ternama, kedua matanya menangkap sosok namja yang baru saja keluar dari lambo hitam mewahnya. Jiyong. Kwon Jiyong dengan balutan sweater tebal kuning dan celana jeans mahalnya nampak berseri-seri sembari berlari kecil menuju ke sisi penumpang. Senyum Kiko merekah, ia berencana akan menghampiri namja itu namun langkahnya terhenti ketika ia melihat.. seorang yeoja anggun berambut ikal panjang, dengan kacamata hitam yang bertengger sempurna di hidungnyaturun dari mobil. Sembari menggandeng tangan mungil seorang anak laki-laki, yeoja itu tersenyum lebar ke arah Jiyong yang dibalas dengan usapan lembut di kepalanya.

Dia sungguh namja yang dikenalnya. Namja yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Tenggorokannya seolah kering, nafasnya berderu, tanpa sadar ia meremas ujung parkanya lalu memaksakan seulas senyum. “Kau begitu bahagia..”

Kiko menghela nafasnya berat, lalu bergumam sekali lagi..

“Kurasa memang kau bukanlah takdirku. Kwon Jiyong… annyeong.”

***

Dara berlari kecil di ruang tengah rumahnya. Mengejar Daehan yang bersikeras menolak untuk mengenakan pakaiannya seusai mandi.

“Daehan-a.. ilyowa~” *kemari

Putranya tertawa, terus tertawa dan terus berlari memutari sofa, menyebabkan ibunya hampir pingsan karena kelelahan. Dara pun mendesah pasrah, berkacak pinggang sembari meniup helaian poni yang hampir menutupi wajahnya.“Aigoo.. kemana Dina disaat seperti ini eoh? Sibuk berkencan hampir setiap hari dan aku harus mengatasi putraku yang menggemaskan ini, aigoo.”

Tepat pada saat itu, ia mendengar interkom rumahnya berbunyi. Itu sudah pasti Jiyong. Ya. Namja itu telah berjanji untuk menemaninya pergi mengunjungi salah satu venue atau lokasi shooting film terbaru yang baru saja diterimanya, Echo. Sebelum itu, mereka berencana untuk makan siang bersama, tentu saja di cafe sahabatnya seperti biasa. Setelah yeoja itu menekan tombol interkom., pintu utama pun terbuka.  Manampilkan sosok Kwon Leader yang begitu tampan dan segar dengan setelan pakaiannya yang cerah.

“Woa. Kau berkeringat, babe. Wae?” ucap Jiyong saat menatap Sandara-nya yang entah kenapa, terlihat begitu kelelahan. Sesaat yang Dara sadari, Jiyong tengah mengusap keningnya dengan sapu tangan.

 “Kau lihat anakku? Itu.. tolong aku eoh?” Dara pun tersenyum kecil.

Jiyong menoleh ke arah lain, ke arah jari telunjuk Dara. Daehan Kim, yang hanya mengenakan popok celananya tengah memainkan sebuah gulungan tisu di bawah piano appanya. Tersenyum lebar melihatnya yang baru saja tiba.

“Ahjeossida!”

Jiyong menahan tawa, dan segera mendekat. “Yaaaaa, kau nakal sekali hm? Kenapa tidak pakai bajumu, baby ini sangat dingin.” Ucapnya seraya menggendong namja kecil itu tinggi-tinggi.

“Sireoyo..”

“Eoooooh?” Jiyong mengusap hidung mungil Daehan dengan hidungnya. “Kita akan pergi bersama, Daehan-a. Pakai bajumu, arasseo?”

Dara melipat kedua tangannya di depan dada, menyaksikan pemandangan indah di depannya. Ya. Mungkin karena ia tau bahwa Jiyong pernah mengatakan di berbagai media bahwa ia ingin segera menikah. Ternyata, namja tampan itu memang sudah cukup pantas untuk menjadi seorang ayah.

‘Jiyong menginginkan seorang putri, aku pernah melihat wawancaranya. Hm..aku juga ingin seorang putri.. pasti dia akan mirip sekali dengan Jiyong. Dia pasti cantik sekali..’

Tunggu.

Apa?

Apa yang baru saja dipikirkannya?

Dara berkedip, ‘Na micheosseo?’ pikirnya sembari merasakan kedua pipinya memanas.

Babe?

Suara kekasihnya membuatnya mendongak dan memaksakan seulas senyum yang sangat gugup.

 “Daehan sudah siap. Kita pergi sekarang?”

Dengan terkejut Dara memandang putra kesayangannya lagi. Dan benar, malaikat kecilnya kini telah rapi dengan kemeja biru tua bermotif tartan dan celana jeans yang senada. Ia mendesah lega dan berkata, “Dia benar-benar menurut padamu, Ji.”

Sepanjang perjalanan mereka, pandangan Dara hampir tidak terlepas dari Jiyong di sisinya. Namja itu tetap menatap lurus ke depan, berkonsentrasi pada kemudinya. Dara kembali mengingat, kalimat demi kalimat yang diucapkan Jiyong tiga hari lalu mengenai kedatangan Kiko, yeoja yang dulu pernah menyakiti namjanya, yang dulu meninggalkannya. Jiyong menceritakan semuanya. Kisahnya, awal pertemuan mereka di sekolah, awal mereka mulai memiliki rasa satu dengan yang lain, semuanya. Dan Dara merasa berterima kasih atas kejujuran Jiyong terhadapnya. Saat ini, yang terpenting adalah..

“Ji..”

Namja itu menoleh, dengan senyum khas yang mampu membuat ribuan bahkan jutaan wanita di seluruh dunia menangis bahagia.

“Saranghae.”

Kemudian terdengar suara decitan yang menandakan mobil mewahnya itu telah berhenti secara tiba-tiba.

***

“Soon Ho-ya.”

Suara Yang Hyun Suk menggema di ruangan sunyi itu, menatap lekat namja berambut hitam yang nampak gugup dihadapannya.

“Ne, Sajangnim.”

Tumpukan artikel yang dikirim oleh beberapa wartawan berserakan di atas meja kerjanya, membuat pria bertopi itu memijat pelan pelipisnya seraya menyandarkan tubuh secara perlahan.

“Kau tau tentang ini? Apa sebenarnya hubungan mereka berdua?” Kali ini Yang Hyun Suk bertanya dengan nada penuh rasa penasaran kepada manager dari leader BIGBANG yang sangat terkenal itu.

Choi Soon Ho mendongak, menatap lurus kedua mata CEO-nya sebelum pada akhirnya menjawab dengan ragu. “..Eo.. mereka..”

Yang Hyun Suk mengerutkan alis, menunggu jawaban.

“Mereka berkencan.. Sajangnim.”

Ekspresi pria paruh baya itu menunjukkan keterkejutan sesaat. Namun segera dialihkan dengan sebuah senyuman tipis. “Eonje buteo?” *Sejak kapan?

“Eo.. hampir satu bulan, Sajangnim.”

Dengan satu jentikan jari, CEO kelas atas itu memang mampu melakukan apapun dengan kekuasaan dan kekayaannya. Termasuk menutup mulut para wartawan, termasuk Dispatch.

 “Begitu?”

Aura mengintimidasi yang dimilikinya cukup kuat. Kemudian ia kembali bergumam, lebih kepada memerintah. “Awasi Jiyong baik-baik, Soon Ho-ya. Pastikan ia tidak akan menyebabkan skandal-skandal lainnya setelah ini. Bila ada sesuatu yang mencurikan atau paparazzi yang melewati batas, laporkan padaku sesegera mungkin.”

Soon Ho mengangguk. “Ne. Ah jeogi, sajangnim.. lalu bagaimana dengan artikel itu? Uri eottohkae haeyadwejyo?” *apa yang sebaiknya kita lakukan?

Yang Hyun Suk meringis, menatap salah satu judul artikel yang kini tengah digenggamnya.

G-DRAGON DAN SANDARA PARK TERTANGKAP KAMERA TENGAH BERSAMA DI APARTEMEN MILIK LEADER BIGBANG TERSEBUT BEBERAPA HARI LALU. BERKENCAN? ATAU HANYA KEBETULAN?

“Gwenchanha. Aku akan tangani masalah ini. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik agar ini tidak merusak citra anak-anakku. Angeurae? Lagipula..”

Ia mendongak dan tersenyum, “Sudah kuduga mereka akan bersama.”

To be Continued..

 Next>>

Advertisements

29 thoughts on “FATE [Chap. 11]

  1. Kiko jgn ganggu hubungan dara jiyong lgi yaa. Dia udah bahagia kok sma dara.!
    Sweeettt bangeettt. Yesss akhirnya dara ngomong saranghae sma jiyong.
    Semoga YG bisa nutupin berita itu tanpa harus nyuruh dara jiyong pisah,huhuhu.
    Next chap ditunggu^^

  2. finally daraaaa!!!!!!! hahahaha lucu yg dara mikirin anak cewe yang mirip jiyong. kalo jiyong tau dara mikirin itu pasti dia seneng. wkwk. lanjutkaaan!

  3. KYAAAAAAAAA AKHIRNYA DARA MENGATAKAN PERASAANNYA!!!
    Alhamdulillah ya mba kiko ga bikin ulah yg macem2, dia ngerti kalo jiyong bukan untuk dia. Di ff maupun kenyataan emang bkn untuk dia *maksa
    Ko ngakak ya pas TOP bilang dia mencintai wanita rimba wkwkwk se-liar itukah Bom? 😀
    Cepat dilanjut thorrrrr, semangaaaaaaaaaaaat! 🙂

  4. wuahh akhirnya kiko sadar jugaa.
    kkkkk jiyong pngen seorang putri dan dara juga, ayo cpet nikah dan buat seorang putri :v kkkkk^^
    cpet dilnjut author… next chap semangat…

  5. untung dara gk marah kiko datang.
    dan akhirnya kiko menyerah jga…yey.
    ayoooo…menikah.
    aku kira YG bakalan marah eehh dia malah seneng…nambah seneng dah aku bacanya….dara bilang saranghae ke ji…kyyyaaaaa…..gk sabar pengen baca next chapnya….semangaaaaattt buat ngelanjutin ffnya….thor.

  6. Maaf thor baru comment lg….keasyikan baca sih….suka sm sikap jiyong yg mau terus terang soal kiko…
    Mudah2an appa YG g berniat jelek ma daragon..
    Dtggu next nya thor….fighting!!!!

  7. “Ji Saranghae” kyaaaa akhir.y dara bilang juga,,,ahh jiyong pasti seneng.y gx ketulungan,,, untung jiyong mau jujur nd cerita semua tentang kiko jadi dara yakin deh sama jiyong,,,kiko-san udah ikhlasin jiyong jadi udah bae” aja,,,haahh seneng.y lyt daragon ,,,

  8. Senang banget dara akhirnya buka hati buat jiyong. Dan mengatakan saranghae… jiyong pasti hatinya meletup letup ^^ CEO yang baik banget ga marah ttg skandal jiyong dara.. aahh finally… so happy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s