Coincidence Or Destiny? [Part 4]

Daragon1

Author :: Hesty_
Length :: Chapters
Genre :: Fluffy

Annyeonghaseyo, Mian ne jika masih terdapat banyak kekurangan dan membuat reader masih ada yang belum bisa mengerti jalan ceritanya atau mungkin karena ceritanya berbelit-belit untuk reader. Semuanya akan terus saya perbaiki dan saya sangat berterimakasih atas komentar-komentar yang di berikan oleh reader dan sebagai ungkapan terimakasih saya maka saya memberikan cerita yang lebih panjang untuk reader. Semuanya, selamat membaca kelanjutan FF saya. Semoga saya tidak membuat kalian kecewa dan selamat menikmati ceritanya ^^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Dara Pov

Setelah jam pelajaran selesai, aku memutuskan untuk mengelilingi Seoul National University seorang diri. Tiba-tiba saja langkah ku terhenti di sebuah tempat sepi yang menarik perhatianku karena disana terdapat banyak sekali pohon maple.

Aku berjalan perlahan menuju tempat itu, “Tempat apa ini? Kenapa tempat seindah ini sangat sepi?” Ucapku penuh tanya setelah berada di tengah-tengah pohon maple yang sekarang telah mengelilingiku.

 “Ini tempat rahasiaku, jadi tentu saja tempat ini sepi!” Jawab seorang namja dari arah belakang pungungku.

Aku membalikan tubuhku dengan perlahan untuk melihat ke arah suara namja itu, “Neo? Jadi tempat ini adalah tempat rahasiamu?” Tanyaku setelah mengetahui bahwa namja itu adalah Jiyong.

“A ne,”  jawab Jiyong. “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Jiyong melanjutkan kalimatnya.

“Aku hanya berkeliling,” jawabku sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling tempat itu. “Dan tempat ini menghentikan langkahku.” Lanjutku pada kalimatku yang berakhir dengan memandang ke arah Jiyong.

“Baiklah, rahasiakan tempat ini!” Ucap Jiyong sambil berlalu dari hadapanku menuju salah satu pohon maple dan duduk di sana sambil membaca buku yang sedari tadi di peganginya di tangan kanannya.

Perlahan aku mendekatinya, duduk di sebelahnya dan meperhatikannya.

*

Jiyong Pov

Dara  mendekatiku, dia duduk di sebelahku dan yang kusadari adalah bahwa Dara sedang memperhatikanku.

“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku dengan sengaja secara tiba-tiba pada Dara yang membuatnya hampir saja terjatuh saat memperhatikanku, aku menariknya dengan cepat dan menahannya yang membuat wajah kami menjadi begitu sangat dekat dan membuat mata kami seolah-olah terkunci.

“Kenapa lagi-lagi jantungku berdetak begitu sangat cepat dan tidak beraturan, bahkan sekarang rasanya aku benar-benar sangat sulit untuk bernafas?” Batinku bertanya yang setelah beberapa detik kemudian Dara mulai menjauh dariku karena dering handphonenya.

*

 

Dara Pov

Hello sexy guy ido hello handsome boy ido hello hello monjo mal gorojundamyon.

Suara dering handphoneku berbunyi, dan aku mengambil kesempatan itu untuk menjauh dari Jiyong.

“Yeoboseyo.” Ucapku membuka suara saat mengangkat telponku yang berdering.

“Yeoboseyo chagiya, ini eomma. apa kau tidak menyimpan nomor telpon eomma mu sendiri?” Jawab sipenelpon yang ternyata adalah eommaku.

”Mianne eomma, aku tidak bermaksut seperti itu.” Jawabku dengan perasaan bersalah.

“Goenchananyo chagiya,” jawab eomma dengan lembut. “Chagiya, malam ini dirumah kita appa akan mengadakan sebuah acara dengan para keluarga dari teman-teman bisnis terdekatnya, apakah kau bisa datang?” Tanya eomma melanjutkan kalimatnya.

“A ne eomma, aku akan datang.” Jawabku karena tidak mau membuat eomma kecewa.

“Baiklah, eomma akan meminta salah satu supir untuk menjemputmu dan kami akan dengan tidak sabar menunggu kedatanganmu chagia.” Jawab eomma dengan suaranya yang terdengar begitu sangat senang karena jawabanku.

Akhirnya aku menutup sambungan telponku dan berbalik kembali ke arah Jiyong. “Ji, apa kau akan tetap berada disini?” Tanyaku pada Jiyong yang sepertinya sedang sangat serius dengan buku yang di bacanya sedari tadi.

“A ne.” Jawab Jiyong singkat tanpa memalingkan wajahnya untuk melihat ke arahku.

“Apa-apaan dia? Sangat tidak sopan. Menjawab pertanyaanku dengan singkat, bahkan tidak melihat ke arahku.” Batinku sambil memanyukan bibirku.

“Baikalah, aku pergi dulu!” Jawabku padanya sambil berlalu pergi meninggalkannya tanpa melihat kearahnya lagi karena kesal.

*

 

Jiyong Pov

Dara berlalu pergi meninggalkanku tanpa melihat ke arahku lagi yang terus saja memandanginya hingga dia tidak terlihat lagi. “Ada apa dengannya?” Batinku bertanya.

Hello dodohan girl hello gwiyoun girl hello hello jogi jamshimanyo say hello.

Dering handphoneku berbunyi.

“Yeoboseyo appa.” Ucapku membuka suara saat mengangkat telponku yang berdering yang menampilkan nama appaku di layar handphoneku.

“Yeoboseyo  Ji, malam ini dirumah salah satu teman bisnis appa  akan mengadakan sebuah acara. Pulanglah untuk ikut bersama kami keacara itu!” Ucap appa dari seberang sana.

“A ne.” Jawabku singkat dan mengakhiri sambungan telponku.

*

Author Pov

Seorang yeoja memasuki semuah rumah mewah yang sedang melangsungkan sebuah acara sangat mewah yang mengumpulkan banyak keluarga pembisnis dan pengusaha kaya di negara dengan julukan Macan Asia itu.

“Chagiya.” Tegur seorang ajumma dari balik punggung yeoja itu sambil menyentuh pundak bagian kanan yeoja itu dan mencium lembut pipi kanan yeoja yang sekarang berada di depannya.

“Eomma.” Ucap yeoja itu padanya yang ternyata adalah eomma dari yeoja itu. “Ada apa ini? Ternyata bidadari-bidadariku sedang berada disini. Apa kalian ingin mengacuhkan ku?” Ucap seorang ajusshi yang tiba-tiba saja datang dan berada di tengah-tengah mereka dengan senyum di wajahnya kepada yeoja dan ajumma yang tidak lain adalah anak dan istri dari ajusshi itu.

*

Dara Pov

“Chagiya, apa yang kau gunakan? Kau terlihat seperti seorang G-Dragon.” Ucap appa sambil memperhatikan apa yang aku pakai.

“Siapa G-Dragon?” Batinku bertanya dengan ucapan appa yang membuatku bingung.

“Kau mengubah warna rambutmu lagi chagiya?” Lanjut appa pada kalimatnya yang kini telah mengalihkan perhatiannya pada rambut blondeku.

“A ne appa, aku bosan dengan warna rambut coklatku.” Jawabku sambil bergelanjut manja di lengan kanan appaku dan menatapnya dengan puppy eyes milikku.

“Ayolah, hentikan itu chagiya! Kau membuat appa mu ini tidak tahan untuk melihatnya.” Ucap appa dengan senyum di wajahnya karena sikapku.

“Chagiya, kemarilah! Apa kau akan mencampakan eomma karena appa mu?” Ucap eomma dengan wajah yang di buat-buat seakan-akan sedang mencemburuiku dengan appa.

“Anio eomma, aku tidak mungkin melakukannya padamu!” Ucapku yang kini telah beralih kepada eommaku sambil memeluknya secara perlahan dari samping sebelah kanannya dan menciumi pipinya yang masih sangat kencang.

*

Jiyong Pov

Aku sedang berada di sebuah rumah mewah yang sedang melangsungkan sebuah acara sangat mewah yang mengumpulkan banyak keluarga pembisnis dan pengusaha kaya dinegara dengan julukan Macan Asia termasuk keluargaku.

“Aku mulai bosan appa, aku rasa aku akan pergi sebentar untuk melihat-lihat di sekeliling.” Bisikku pada appaku yang sedang berbicara dengan teman-temannya.

“Eomma, aku pergi dulu.” Lanjutku berbisik kepada eommaku yang berada di sebelah kiri appa.

Saat aku mulai berkeliling, mataku terarah pada sosok yeoja yang sedang memeluk manja dan menciumi pipi seorang ajumma di sampingnya.

Aku berjalan kearahnya dan menghampirinya, “Annyeonghaseyo.” Tegurku pada yeoja itu dan ajumma juga ajusshi yang ada di dekatnya sambil membungkukan sedikit tubuhku.

“G-Dragon.” Tegur ajusshi itu yang ternyata adalah Tuan Park.

“G-Dragon? Buakankah namamu Kwon Jiyong? Apa kau menipu ku hah?” Ucap yeoja itu penuh tanya dan selidik dengan wajah penasarannya sambil mengacungkan jemari telunjuknya ke arahku.

Ajumma yang tak lain adalah Nyonya Park tertawa kecil yang di ikuti oleh tawa kecil Tuan Park.

“Chagia, kau sangat mengemaskan. Nama namja ini memang Kwon Jiyong, akan tetapi dia juga memiliki nama lain yaitu G-Dragon.” Ucap Nyonya Park pada yeoja bernama Park Sandara yang ternyata adalah anak tunggalnya.

 

*

 

Dara Pov

Aku sangat kesal saat ini, bagaimana bisa eomma dan appa ku menertawakanku di depan namja bernama Kwon Jiyong atau G-Dragon atau siapapun namanya aku tidak peduli.

“Annyeonghaseyo.” Tegur sepasang ajumma dan ajusshi bersamaan yang tiba-tiba saja datang ke arah kami.

“Eomma, appa.” Ucap Jiyong kepada ajumma dan ajusshi itu yang ternyata adalah orangtuanya, Tuan dan Nyonya Kwon.

“Sepertinya anak kita telihat sama satu sama lain dengan apa yang mereka pakai.” Ucap Tuan kwon kepada eomma dan appaku dengan senyum di wajahnya.

“Astaga, kenapa kau mengunakan pakaian seperti itu hah? Dan kemana rambut blondemu itu? Kenapa sekarang rambutmu berwarna coklat?” Tanyaku pada Jiyong saat menyadari maksut dari ucapan Tuan kwon.

“Kau sendiri? Kenapa mengunakan pakaian seperti itu? Dan kenapa sekarang rambutmu menjadi blonde seperti itu? Kau apakan rambut coklatmu?” Jawab Jiyong dengan balik bertanya kepadaku, aku hanya terdiam ketika tawa eomma dan appa juga Tuan dan Nyonya kwon membuat aku dan Jiyong saling menatap heran satu sama lain dan akhirnya bersama-sama menatap kearah mereka secara bergantian.

“Kenapa kalian tertawa?” Tanyaku dengan polos pada orangtua yang sedang tertawa di depan kami.  “A ne, apa ada yang lucu?” Tanya jiyong melanjutkan kelimatku.

“Apakah kalian tidak menyadarinya? Kalian sangat lucu.” Ucap Nyonya kwon dengan senyum di wajahnya kepadaku dan jiyong. “Chagiya, apakah kau mau menjadi menantuku?” Lanjut Nyonya kwon yang membuatku terdiam dan membeku di tempatku, dan aku hanya bisa menundukan wajahku yang mulai memerah karna ucapannya.

“Apakah wajahmu mulai memerah chagiya?” Tanya eomma dengan nada suara yang menggodaku.

“Lihatlah, kita memiliki anak-anak yang sudah tumbuh dewasa. Dan anak mu ini adalah yeoja yang begitu sangat cantik Tuan Park.” Ucap Tuan kwon kepada appa sambil melihat ke arahku dengan senyum di wajahnya.

“Dan anak mu adalah namja yang begitu sangat tampan Tuan kwon.” Ucap appa membalas pujian Tuan kwon padaku yang di tunjukan untuk Jiyong.

“Ji, apakah kau bersedia jika eomma dan appa menjadikan Dara sebagai menantu kami untuk menjadi istrimu?” Tanya Nyonya kwon pada Jiyong sambil melihat ke arahku yang membuat wajahku semakin memerah.

“Eomma, jangan seperti ini. Kau membuat dara tidak nyaman.” Jawab Jiyong dengan sopan kepada eommanya.

“Apa kau sedang berusaha melindungi calon istrimu agar wajahnya tidak semakin memerah Ji?” Tanya Nyonya Kwon dengan wajah yang sepertinya sedang menggoda anaknya itu.

“Dara, ayo kita pergi dari tempat ini.” Ucap Jiyong tiba-tiba padaku yang terkesan mengacuhkan pertanyaan eommanya.

“Tuan dan Nyonya Park, apakah kalian akan mengizinkan ku untuk membawa putri kalian bersama ku? Aku tau ini tidak sopan, karna itu artinya aku akan membawa Dara untuk meninggalkan acara ini sebelum acara ini selesai, tapi aku mohon untuk kalian mengizinkan aku membawanya.” Ucap Jiyong pada eomma dan appaku sambil membungkukan sedikit badannya di akhir kalimat.

“A ne, tentu saja. Tapi kau harus berjanji untuk menjaga putri nakal kami ini! Terlebih karena kau berani membawanya dari kami sebelum acara ini selesai.” Jawab appa pada Jiyong.

“Appa, apa yang kau katakan?” Tanyaku pada appa.

“Dara, ayo pergi!” Ucap Jiyong sambil meraih dan menggenggam tanganku.

“Eomma, appa. Aku pergi dulu bersama Dara.” Ucap Jiyong pada Tuan dan Nyonya kwon sambil membungkukan sedikit badanya kepada orangtuanya.

“Tuan dan Nyonya Park, sile hamnida. kamsahamnida karena sudah mengizinkanku untuk membawa putri kalian bersamaku, Kalian hanya perlu mempercayaiku maka semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Jiyong yang mengingatkanku pada pertemuan pertama kami karna penekanan kalimat yang di lakukannya pada kalimat terakhirnya.

Akhirnya, setelah sedikit membungkukan badan kepada orangtua kami. kami pergi bersama meninggalkan mereka dengan Jiyong yang masih saja terus menggenggam tanganku.

*

Author Pov

Tanpa mereka sadari, kedua orangtua mereka terus saja memperhatikan mereka yang mulai menjauh pergi dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lainya.

“Lihatlah, tangan mereka masih saja saling menggenggam hinga menjauh dari kita! Tuan Park, apakah saya harus meminta putri anda sekarang juga untuk putra nakal saya itu?” Tanya Tuan kwon kepada Tuan Park dengan senyumnya.

“Sepertinya kita harus membicarakan hal ini lebih serius lagi!” Lanjut Nyonya kwon menambahi ucapan suaminya.

“Kami hanya akan menunggu dan menerima hal baik itu untuk putri kami.” Jawab Tuan Park dengan senyum di wajahnya kepada Tuan dan Nyonya kwon.

~ To be Continue ~

 

<< Back  Next >>

Advertisements

25 thoughts on “Coincidence Or Destiny? [Part 4]

  1. orang tua mereka saling kenal. berarti itu lebih mempermudah hubungan DARAGON.
    mereka sampe pegangan tangan kya gitu…cie…cie…cie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s