The King’s Assassin [43] : Lies

TKA

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

 

“Tuan, saya mohon tenanglah!” Daesung mencoba menghentikan Seungri yang sangat marah saat mereka tiba di Lotus House. Pria itu ingin menemui Chaerin dan Lady Hyori karena sudah menyembunyikan fakta mengenai penculikan Chaerin darinya, dan ketika dia minta dipanggilkan Chaerin, seorang gisaeng berkata melihatnya bersama dengan Tuan Xin.

“Jangan menghalangi aku, Daesung.” Seungri benar-benar sangat marah. “Aku masih belum memaafkanmu karena sudah berani membohongiku, dasar keparat. Jangan halangi aku!”

“Tuan!”

Daesung tak berdaya. Seungri mendorongnya minggir dan segera memeriksa setiap ruangan privat demi menemukan Chaerin, dan seperti yang sudah diduganya, ruangan terujung di bagian kanan juga dipakai.

**

“Apa kau sudah menggunkannya dengan baik, Sooyun-ssi?” tanya Tuan Xin, tatapannya menyala, seolah menembus sampai dalam jiwa Chaerin. Gadis itu bergidik dan dari cara pria itu menekankan saat menyebut nama samarannya – dia menjadi semakin takut.

“Saya… saya salah ternyata, Tuan Xin. Orang yang saya cari, tidak ada dalam buku. Ini, terima kasih untuk kebaikan Anda,”

“Oh, tapi kurasa ada di sini. Aku ingat kau menanyakan seseorang bernama Jung Junshin… dan sekarang dia menghilang,” Tuan Xin menyeringai, membuat Chaerin semakin tegang.

“Dia bukan orang yang tengah saya cari.” Dia mencoba berbohong. “Saya hanya… hanya… sedang mencari paman saya yang katanya katanya masuk militer, dan… dia… dia terlihat sangat mirip dengannya,”

“Kau ini tidak bisa berbohong, Agassi,” ucap Xin dan mulai mendekat pada Chaerin. “Dan aku sangat membenci orang yang berani berbohong padaku,”

“Tuan…” Chaerin mundur, namun dengan cepat pria itu menariknya mendekat.

“Bisakah aku mendapatkan hadiahku sekarang, LEE. CHAE. RIN?”

Mata Chaerin membesar ngeri. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat pria itu menyeringai kemudian mendekatkan wajah untuk menciumnya, namun segera dia menghindar, memalingkan wajahnya ke arah lain. Chaerin meringis kesakitan saat Xin mencengkeram dagunya dan kembali memalingkan wajahnya agar dia memandang pria itu.

“Kau adalah seorang budak buronan. Yang sangat penting kalau boleh kutambahkan. Kau pikir aku tidak akan tahu? Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan melaporkanmu pada abeoji. Hanya saja berbaik-baiklah padaku, apa kau mengerti?” tanyanya sembari menyentuh bibir Chaerin yang kering dengan jari telunjuknya. “Jadilah milikku dan aku berjanji akan menutup mulut,”

“Tidak… saya mohon jangan lakukan ini,”

“Nah, nah… sekarang kau memohon. Tapi aku ingin kau memohon untuk hal lain lagi,” dia menyeringai sebelum menciumi wajah Chaerin membuat gadis itu jijik.

“Saya mohon! Jangan!” Chaerin mencoba mendorong Xin menjauh, namun karena usahanya itu Xin menamparnya keras, membuatnya terjatuh kembali ke kasur.

“Cobalah untuk menolak dan aku akan membakar rumah gisaeng sialan ini dan membuat yang lain menderita,”

Chaerin hanya bisa menggigit bibirnya seiring dengan air matanya yang mengalir di pipinya. Pipinya terasa sakit dan dia sangat ingin untuk berteriak meminta tolong, namun mendengar ancamanan pria itu, bagaimana mungkin dia berani?

Tubuhnya merinding ketika Xin mulai melepaskan helai demi helai pakaiannya. Dan dia hanya bisa memejamkan mata dan menutup bibirnya rapat-rapat untuk menahan tangis. Dia merasakan pria itu menciumi lehernya dan itu membuatnya semakin merinding karena rasa takut dan jijik.

“Ya, seperti itu. Bersikap baiklah. Kau adalah wanita yang cantik. Aku tidak sabar untuk menjadikanmu milikku,”

“Apa Anda selalu memaksakan diri Anda terhak dap wanita?”

“Tidak. Inilah pertama kalinya. Kau harusnya merasa tersanjung. Dan saat aku selesai denganmu, aku akan memberitahukannya kepada Lee Seungri. Oh, aku pasti akan sangat senang melihat ekspresi wajahnya nanti,”

“S-s-eungri… tidak…” gumam Chaerin, air mata terus mengalir di pipinya.

“Teriakkan saja namanya, memangnya aku peduli. Pahlawanmu itu tidak akan mendengarmu,” katanya menahan tubuh Chaerin agar tetap diam.

“Seungri…” Chaerin meneriakkan nama Seungri dalam kepalanya. Dia bersalah. Dia tahu dirinya terlalu bersikap gegabah, tapi siapa yang bisa menyalahkannya? Dia merasa sangat putus asa, semuanya tidak berjalan seperti yang diharapkan, apa yang telah dia impikan, sepertinya tidak akan bisa dia capai. Dan segalanya kini berbalik menyerangnya.

Apakah Tuhan memutuskan untuk menghukumnya? Dia telah berjanji pada ibunya untuk menjadi seseorang yang bisa mereka banggakan, tapi lihat, dia akhirnya berakhir di tempat seperti ini. Bukannya dia tidak mau. Dia sangat menyukai Lotus House. Orang-orangnya.

Namun bukan pekerjaan kotor yang dilakukan.

Chaerin terus menangis tak berdaya sementara Xin terus menciumi hingga ke lehernya, tangannya masih memegangi pergelangan tangan Chaerin karena gadis itu terus meronta – jelas tidak ada untungnya. Chaerin memejamkan matanya erat.

Namun kemudian, Chaerin mendengar suara keras, dan menyadari bahwa itu berasal dari pintu. Dia merasa lega saat merasakan beban yang menimpa tubuhnya telah hilang dan pria yang tadi menindih tubuhnya mengerang kesakitan – saat itulah dia membuka mata.

Surga mungkin mendengar permintaannya. Karena dihadapannya sekarang telah ada prianya, penyelamatnya, namun dia juga merasa takut pada pria itu. Seungri yang ini sangat berbeda dengan Seungri yang penuh gurau dan canda yang dia tahu.

Saat ini Seungri tampak enggan memaafkan.

“Bawa dia keluar,” Chaerin meraih selimut dan menutupi tubuhnya begitu mendengar Seungri berteriak. “DAESUNG, KUBILANG BAWA DIA KELUAR!!!”

“YEH, TUAN!”

Daesung mengalihkan pandangan dan menutupi tubuh Chaerin dengan selimut, membawanya keluar dari ruangan, namun gadis itu terdiam saat sampai di pintu.

Chaerin menatap Xin yang masih mengelus punggungnya. Dia jatuh menimpa meja dan sebelum dia bisa bangun, Seungri sudah kembali memukulnya. Sekali, dua kalim sampai Chaerin tidak bisa menghitungnya lagi. Pria itu tak berdaya di bawah Seungri yang telihat seperti kesetanan. Tangannya sudah berdarah, namun dia tidak penuli. Dia menarik pria yang telah tak berdaya itu bangun untuk ditendangnya kemudian kembali dia pukuli.

“AAAAAAAAAAAAH!!!” Seungri sangat marah. Dia tidak pernah merasa semarah ini. Dia ingin membuat Xin merasakan sakit sama seperti yang dia rasakan. Tapi pria itu sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai, tapi itu tidak menghentikannya.

“Berhenti, kumohon berhenti!” Chaerin berlari menghampiri Seungri, memeluknya dari belakang seolah itu adalah satu-satunya jalan untuk menghentikannya. Dan memang itu berhasil menghentikan Seungri. Dia berdiri dan menatap Chaerin. Alisnya berkerut dan tangannya masih berdarah.

Dia menangis.

“S-s-eungri…”

“Kenapa Chaerin?” pertanyaan dari Seungri membuat Chaerin jatuh berlutut di lantai. Dia tidak sanggup menjawab. Dia hanya bisa terus menangis sampai dirasakannya Seungri membangunkannya dari lantai. Pria itu tidak mengatakan apa pun. Seungri menghapus air mata Chaerin dan menggendong Chaerin tanpa berkata-kata, menahan tangisan sendiri.

Para gisaeng berkerumun di depan ruangan, ngeri, karena tahu di balik selimut itu tubuh Chaerin telanjang. Dan karena melihat Xin yang sudah tak sadarkan diri di dalam ruangan. Daesung hanya bisa berdiri di sudut ruangan, masih tidak sanggup mempercayai bagaimana marahnya tuannya tadi. Dan begitu pikiran rasionalnya bisa kembali berjalan, dia segera berlari kembali ke Istana, berlari seperti orang gila agar dia bisa mengadu kepada Pangeran sebelum pemerintah mengetahui apa yang terjadi pada anak sang Menteri.

**

“Seungri…” panggil Chaerin, namun Seungri tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia terus saja berjalan, hingga mereka sampai di kamar mandi. Seungri masuk dan menurunkan Chaerin ke bak mandi, membuat gadis itu terkesiap saat air menyentuh kulitnya. Seungri mengunci pintu dan mendekatinya, tatapannya masih tak terbaca.

“S-s-eungri… maafkan aku,” Chaerin mencoba menyentuh wajah Seungri, namun pria itu menghindar. Chaerin semakin terisak dan memeluk tubuh telanjangnya di dalam air.

“Tidak ada yang terjadi,” akhirnya Seungri bersuara. “Tidak ada yang menyentuhmu, tidak ada yang menciummu,”

Chaerin menggigit bibirnya saat Seungri menggosok lehernya, menyiramkan air ke kulitnya saat pria itu duduk di pinggir bak. Chaerin menggelengkan kepalanya. Dia tidak layak diperlakukan sebaik ini. Dia harusnya hancur berkeping-keping sekarnag. Dia harusnya dihukum, atau lebih buruk lagi, ditinggalkan oleh pria ini.

“Jangan memikirkan tentang hari ini… tidak besok, tidak kapan pun. Hari ini tidak pernah terjadi, kau mengerti?” katanya sementara Chaerin masih terus terisak. “Jawab aku… hari ini tidak pernah terjadi, kan?” Seungri mulai lemas. Dia duduk di tepi bak, mengalihkan pandangan dari Chaerin. Dia menundukkan tubuhnya dan menangis dengan memegangi kepalanya.

“Berapa banyak lagi kebohongan yang harus kutahu, Chaerin. Katakan padaku?”

Chaerin menggigit bibirnya. Mendengar Seungri menangis seperti ini, tidak tertahankan lagi baginya.

“Katakan padaku, saat kau bilang kau mencintaiku… apakah itu juga sebuah kebohongan?” dia terisak keras. Dia mulai tersedak.

“Tidak… itu sama sekali bukan kebohongan! Maafkan aku!” Chaerin berbalik menghadap Seungri dan memeluk pinggangnya, membenamkan wajahnya di punggung pria itu.

“Maafkan aku… aku berpikir aku perlu melakukan sesuatu. Aku tahu aku salah. Maafkan aku! Kumohon, percayalah padaku,”

“Sanghyun…” kata Seungri, menelan ludahnya berat. “Sanghyun masih hidup,”

“Ya, dia masih hidup,”

“Apa kau masih mencintaiku?” rasanya berat sekali mengatakan keempat kata itu.

“Apa yang kau bicarakan, tentu saja aku mencintaimu,”

“Tapi kau lebih dulu mencintainya,” Seungri mencoba melepaskan pelukan Chaerin pada pinggangnya, namun lilitan tangan gadis itu kian erat.

“Ya, Seungri. Tapi itu dulu. Kumohon jangan mulai lagi dengan hal itu,”

“Apa kau masih mencintainya?”

Chaerin terdiam sejenak dan beberapa detik itu serasa mematikan bagi Seungri. Namun Chaerin kian erat memeluknya.

“Sebagai saudara, iya…” jawabnya.

“Kau merasa kesulitan menjawabnya,” Seungri menyeringai dan berdiri, membuat Chaerin terjatuh ke bak dan airnya memercik ke segala arah. Seungri menggelengkan kepalanya dan berjalan pergi.

“Seungri! Tidak! Seungri! Jangan tinggalkan aku, kumohon!” teriak Chaerin. “Kaulah yang sekarang dan aku akan selalu memimpikanmu sebagai masa depanku! Kumohon jangan pergi. Aku akan mencoba menebus semua kesalahanku padamu! Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan! Hanya saja kumohon. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan sanggup. Rasanya sungguh sangat berat… jangan… kumohon…” dia menangis, satu tangannya sudah berada di atas tepi bak. “Jangan pergi… kumohon…”

Seungri sudah mencapai pintu dan membuka kuncinya, namuan sebelum dia bisa membuka pintu sepenuhnya, dia merasakan Chaerin memeluknya dari belakang dan dia tahu gadis itu masih telanjang. Dia segera menutup pintu dan kembali menguncinya.

“Apa yang kau lakukan, Chaerin?!”

“Tidak… jangan pergi. Kumohon… kau akan meninggalkanku. Kumohon, jangan,” Chaerin menangis keras seperti anak kecil. “Kau sudah berjanji padaku. Kau sudah berjanji pada app. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tidak akan bisa bertahan jika aku kehilanganmu.”

Ingin sekali rasanya Seungri melompat kegirangan. Kata-kata Chaerin barusan seperti musik di telinganya. Tapi otaknya mulai kembali memikirkan kenyataan dan apa yang dilakukannya tadi pada Xin adalah sesuatu yang tidak akan ditolerir oleh ayahnya. Dan satu lagi hal yang dia cemaskan, keamanan Chaerin di rumah gisaeng ini dan juga gulungan itu.

“Aku tidak akan pergi,” katanya berbalik menghadap Chaerin. Dia segera mengalihkan pandangan begitu ingat jika gadis dihadapannya sekarang masih telanjang, tapi Chaerin memeluknya erat dan Seungri tidak peduli jika pakaiannya basah karenanya. Dia mengangkat tubuh Chaerin dan menggendongnya, kedua kaki Chaerin bertengger di pinggangnya.

“Apa yang harus kulakukan padamu, Chaerin? Kau tidak pernah mau mendengarkanku. Aku bisa saja membunuh pria itu karenamu. Oh, aku ragu jika dia masih bisa mengembalikan wajahnya yang sudah rusak,” Seungri membenamkan wajahnya di leher Chaerin.

“Maafkan aku…”

Seungri mendesah dan duduk di tepi bak.

“Kau pasti sangat takut tadi, bukan begitu? Jangan memikirkan tentang si keparat itu, arasso?”

Chaerin mengangguk.

“Di mana si keparat itu menciummu?” rahang Seungri mengeras sementara Chaerin tersipu namun tetap menunjuk pada pipinya dan dia terkesiap saat Seungri mencium pipinya dengan sayang.

“Ahh… dia sudah berani menyentuh milikku.” Katanya kemudian menghujani wajah Chaerin dengan ciuman.

“Di mana lagi?”

“D-di si-ni…” Chaerin menyentuhkan jarinya ke bibir dan Seungri tidak membuang waktu. Segera dia menutup jarak keduanya dan mencium bibir Chaerin, menjilat bahkan menyesapnya. Dia berusaha mencari jalan masuk dan Chaerin dengan senang hati membuka diri untuk prianya. Lidah mereka saling berpagutan, bermain-main satu sama lain, membuat keduanya saling melenguh dalam mulut masing-masing.

“Oh Chaerin…” Seungri menjauhkan diri. “Ingat ciuman ini.” dia mengecup bibir Chaerin. “Ciumanku.” Katanya dan Chaerin mengangguk lemah.

“Ada yang lain lagi?”

“Di sini…” Chaerin sedikit mendongak untuk menunjukkan bagian lehernya dan tanpa sadar Seungri menjilat bibirnya sendiri – mengantisipasi.

“Di sini?” dijilatnya leher Chaerin sembari menarik gadis itu semakin mendekat padanya, membuat kemaluan Chaerin tanpa sengaja menyentuh miliknya yang mulai mengeras. “Ahh… Chaerin. Jangan bergerak,” dia menghentikan Chaerin dengan meletakkan tangannya di pinggang gadis itu, kemudian tangannya bergerak naik sampai ke payudara kirinya.

“Seungri,” Chaerin semakin mendongakkan kepalanya saat merasakan sensasi asing yang membuatnya seolah haus akan Seungri.

“Kau adalah milikku. Hanya milikku,”

“Ya,” Chaerin menggigit bibirnya saat merasakan Seungri menghisap bagian kulitnya yang sensitif, membuat tubuhnya kembali bergerak, menyadarkan Seungri.

Seungri telah berjanji kepada ayah Chaerin untuk melindungi gadis itu – dan itu termasuk melindunginya dari nafsu prianya. Dia langsung dilanda rasa bersalah.

“Chaerin, tidak. Hentikan,” Seungri menahan gerakan Chaerin – menghentikannya. “Kita tidak bisa melakukan ini… tidak sekarang, tidak di sini, belum saatnya…”

Chaerin mendongak dan mata mereka bertatapan, Seungri hanya bisa memeluk gadisnya, mencoba menenangkan dirinya. “Maaf,” ujar pria itu dan Chaerin mengangguk mengerti.

“Aku mencintaimu, Seungri… maafkan aku karena sudah menyeretmu ke dalam masalah ini. Apa yang akan kita lakukan?”

“Tunggu aku di sini. Aku akan mengambilkan baju untukmu,” Seungri berdiri dan kembali meletakkan Chaerin ke dalam bak. “Mandilah… aku akan segera kembali,”

Seungri berjalan menjauh dan baru saja membuka pintu saat Lee Hyori masuk dengan penuh amarah.

“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?!” bentaknya pada mereka. “Tuan Xin berlari kabur bersama dengan orang-orangnya dan mengancam Lotus House! Saat ini mungkin saja pihak yang berwajib sedang datang ke mari untuk menangkap kalian berdua! Dan pastinya orang-orang yang ada di sini akan menderita karenanya! Kenapa kalian tidak memikirkan dulu apa yang akan lakukan sebelum bertindak gegabah?!”

“Maafkan aku, unnie! Maarkan aku,” Chaerin menutup mulutnya, kilasan adegan yang pernah terjadi dulu kembali muncul dalam benaknya. Semuanya kembali terulang. Hal yang paling ditakutinya mulai terjadi lagi kali ini dan semua adalah kesalahannya sendiri.

“Dia sudah tahu… Tuan Xin sudah mengenaliku sebagai Chaerin,”

“Mworago???” mata sang kepala gisaeung membesar karena ngeri. “Kemasi barang-barangnya dan berikan pada Tuan Seungri,” perintah Lady Hyori pada pelayan di belakangnya.

“Unnie… kumohon jangan lakukan ini. Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi,” pinta Chaerin dan Seungri hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia tidak mungkin membawa Chaerin bersamanya, tapi dia memang berencana untuk mencarikan tempat yang aman bagi gadis itu untuk sementara waktu.

“KUHARAP INI BISA MENJADI PELAJARAN BAGIMU! AKU SUDAH MEMPERINGATKANMU SEBELUMNYA!”

“Unnie…”

“Seungri-ssi… kumohon, ijinkan aku untuk mengusulkan hal ini.” Lady Hyori beralih pada Seungri. “Daesung sudah pergi menuju Istana – kurasa, dan sepertinya dia berencana untuk melaporkan kejadian ini kepada Putra Mahkota,”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Seungri.

“Kita harus membawa Chaerin pergi ke tempat lain. Dan saat ini, satu-satunya tempat yang bisa melindunginya adalah tempat Master Wu dan Sanghyun berada,”

**

“BUKA GERBANGNYA ATAU AKAN KAMI DOBRAK!” Penjaga Istana mulai mendobrak masuk ke Lotus House. Penasehat Choi dan Wakil Penasehat Yang masuk dengan penuh kemarahan, namun Lady Hyori menyambut mereka dengan ekspresi tak kalah muram.

“Selamat datang, tuan-tuan,”

“KAU SUDAH MELANGGAR HUKUM DENGAN MENYEMBUNYIKAN SEORANG BUDAK DI RUMAH INI, LADY HYORI! BAWA LEE CHAERIN KELUAR SEKARANG!” perintah sang Wakil Penasehat.

“Budak?”

“Oh, ayolah Lady Hyori. Lee Chaerin… putri dari mendiang Profesor Lee, putri dari orang yang telah berani mencuri dan berkhianat pada Istana – tidak lain adalah gisaeng dari rumah ini dengan nama Sooyun! Apa kau berencana untuk membodohi kami?” Penasehat Choi menatap dengan picik.

“Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Saya merawat Sooyun-ssi sebagai mentornya selama bertahun-tahun, dan saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. Dan lagipula, gadis malang itu sudah dilecehkan oleh putra dari Wakil Penasehat, Tuan Xin. Saat saya tiba di tempat kejadian, dia sudah pergi, dia kabur dan sekarang dia menghilang,”

“Mworago?”

“Tuan Seungri datang tepat waktu untuk menyelamatkan gadis itu, tapi saya yakin sekarang dia telah kembali ke Sungkyunkwan. Anda boleh membawa saya untuk diinterogasi lebih jauh jika itu memang diperlukan. Sooyun-ssi itu masih belum berpengalaman – terlebih untuk melayani kebutuhan pria, tapi dia dipaksa oleh Tuan Xin. Tuan Xin… yang adalah siswa Sungkyunkwan, belum lagi dia adalah kepala senat. Saya rasa masalah ini lebih membahayakan Anda dibanding kami di sini yang memang sudah dari awal adalah orang-orang terpinggirkan. Kami dari awal sudah lemah di mata Anda sekalian dan hukum. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang Anda gunakan dengan semena-mena. Hidup ini sudah serasa seperti neraka bagi gisaeng kelas rendahan seperti kami,” Lady Hyori mencoba untuk memasang wajah berani dan menyeringai penuh kemenangan saat melihat ketakutan tersirat di wajah sang Penasehat.

“Kita masih belum selesai, dasar wanita jalang,” Penasehat Choi balas menyeringai. “Kau cukup menarik. Berani menantang kami di pertarungan yang sangat menghibur. Akan kupastikan kau akan merasakan bagaimana menyakitkannya kematian suatu hari nanti.”

“Saya akan bersiap diri, Tuan. Saya akan bersiap,”

“CARI DI PELOSOK HUTAN DAN JALAN KELUAR DARI HANYANG! WANITA ITU PASTO BELUM JAUH. DAN TEMUKAN JUGA LEE SEUNGRI. BAWA MEREKA HIDUP… ATAU MATI, APA PUN KEADAAN MEREKA,” perintah Penasehat Choi kepada orang-orangnya tanpa mengalihkan pandangan dari sang gisaeng.

Para Penjaga Istana dengan segera berhamburan dari Lotus House, meninggalkan Lady Hyori kehabisan nafas sembari mencengkeram dadanya ketakutan.

“Omona, unnie!” para gisaeng yang lain membantunya saat lututnya mulai menyerah. Tubuhnya gemetaran karena rasa takut dan cemas.

“Beritakan kejadian ini pada Menteri Kim,” katanya lemah. “Dan jangan menerima tamu seorang pun sampai kuperintahkan,”

**

Pandangannya tertuju pada pria di hadapannya yang membenamkan wajah di telapak tangan, hatinya tergerus sakit melihat tetesan air mata menetes di jubah sutranya.

Berapa kali lagi dia akan menghancurkan hati pria ini karena kebohongan-kebohongannya?

Dara duduk diam, di sisi Jiyong, seperti yang pria itu perintahkan – namun kali ini Dara memutuskan untuk duduk berlutut, kedua tanyannya saling bertautan, mencengkeram kain celananya, menunggu pria itu berkata apa pun setelah dia menceritakan semua petualangan malamnya. Apa gunanya jika tetap bungkam? Toh Jiyong sudah lebih dulu mengetahuinya. Jadi Dara mengatakan semuanya. Kebenaran di balik luka di lengannya, kunjungannya pada Ilwoo, tanda nama di tangannya, pertemuannya dengan Sanghyun, kunjungan terakhirnya ke Lotus House.

“J-j-eoha…”

“Aku mempercayaimu, Dara. Sangat.” Dara menutup bibirnya mendengar suara Jiyong bergetar. Dia telah mengakui semua perbuatannya pada pria itu. Semua yang dilakukannya. Semua yang dia lakukan di belakang punggung JIyong. Dan Dara mengira Jiyong akan mengamuk. Marah padanya. Tapi pria itu memilih untuk menangis, dan melihatnya seperti itu membuat hati Dara sakit.

“Apa aku masih belum cukup bagimu? Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan. Sudah kukatakan padamu untuk menyerahkan semuanya padaku. Kenapa ka uterus saja melanggar apa yang kuperintahkan?”

“Maafkan saya,”

“Aku hanya ingin kau tetap aman. Kenapa, Dara?”

“Jeoha… maafkan saya,”

“Aku marah. Sangat marah… tidak padamu. Tapi pada diriku sendiri,” Jiyong menurunkan tangannya dan beralih menatap Dara. “Aku merasa tidak berguna. Tidak berdaya. Aku merasa tidak berkuasa di hadapanmu. Aku merasa terlucuti. Kalah. Kau tidak pernah mau mendengarku. Apa aku tidak berarti sama sekali bagimu?”

“Saya mohon jangan bicara seperti itu, Jeoha. Anda tahu Anda sangat berarti bagi saya,” Dara meraih tangan Jiyong dan menciumnya. “Anda sangat berharga bagi saya… saya mohon maafkan saya,”

“Ilwoo…” Jiyong menelan ludah berat. “Bajingan itu berani melukaimu,”

“T-tidak…” Dara merinding saat melihat kilatan kemarahan di mata Jiyong dan hanya dari cara sang Pangeran menyebutkan nama Ilwoo, ada lebih dari sekedar sebuah janji untuk balas dendam. “Saya baik-baik saja. Itu hanyalah sebuah luka ringa. Dia tidak bermaksud melakukannya,”

“Akan kupastikan dia membayarnya,”

“Tidak! Saya mohon! Jangan marah padanya,”

Namun Dara tidak tahu kenapa Jiyong bersikap demikian. Dari mana kemarahannya berasal. Kilasan bayangan tentang pria bertopeng pada malam sebelumnya muncul di mata Jiyong dan mendengar semua yang Dara katakan membuat pikirannya menyimpulkan tentang jati diri pria itu. Mungkinkan…

“Jangan pernah menemuinya lagi…”

“Kenapa Anda sangat marah padanya? Dia tidak melakukan apa pun melawan Anda. Dia menjaga saya. Dia ada bersama saya pada saat—,”

“Aku tidak,” potong Jiyong dengan nada pahit. “Dia selalu ada untukmu. Kenapa kau tidak bisa menjadi milikku sepenuhnya sekarang?”

Dara terdiam sejenak, menatap tangan Jiyong yang berada dalam genggamannya dan perlahan dia menjauh.

“Kita akan bertemu dengan Sanghyun di mana pun dia berada. Aku ingin bertemu dengannya,” giginya menggertak dan dia berdiri. Dara memejamkan matanya. Jiyong tidak melakukan apa pun untuk menariknya dalam pelukannya atau bahkan menatapnya. Hal yang biasanya dia lakukan jika mereka bertengkar. Jiyong pasti sangat marah, pikir Dara. Siapa yang tidak akan marah?

“Dan kau akan tetap berada di dalam kamarmu. Makanmu, akan dihidangkan di sini. Lady Gong akan mencukupi semua kebutuhanmu… dan tidak ada yang boleh masuk ke dalam sini kecuali sesuai dengan ijinku. Aku sudah pernah memperingatkanmu tentang ini sebelumnya, tapi kau tidak pernah mempedulikan ucapanku. Kau tidak boleh melangkah keluar dari kamar ini kecuali kuijinkan,”

Dara mendongak namun sang Pangeran telah memunggunginya, yang sama sekali enggan menatapnya bahkan saat berbicara. Dara ingin protes. Dia ingin memohon. Dia ingin meminta maaf merasakan kemarahan pria itu, tapi dia tahu hal itu akan sia-sia. Tidak pernah dilihatnya Jiyong semarah ini.

Dara tetap duduk diam, masih berlutut, meremas-remas jemarinya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan sang Pangeran, sampai akhirnya dia menyadari Jiyong telah pergi dan dia tinggal sendirian di kamarnya.

Dan berapa lama dia harus berada di dalam, terkurung dan terisolasi, dia tidak tahu. Yang dia tahu adalah bahwa dia layak mendapatkan semua ini setelah semua kebohongan yang dilakukannya. Dan dengan senang hati dia rela menerima semua hukuman yang diberikan oleh Putra Mahkota, terlebih setelah melihat kebohongan-kebohongannya begitu mempengaruhi pria yang sangat dia cintai itu.

<< Previous Next >>

Advertisements

29 thoughts on “The King’s Assassin [43] : Lies

  1. Seungri bsa serius jga my baby panda yadong nya emang good hehe
    Ksihan dara tpi gmana lg hak jiyong buat mrah krna ngerasa di bhongin smoga gk lma mrah sma mommy

  2. seungri sweet bgt si ({})
    saat seungri baikan sm CL,jiyong sm dara malah marahan,,ampuuunn dah ah,,ah,,ah,,
    Nyawa seungri sm CL dlm bahaya ya ????
    PANGERAN,,,LAKUKAN SESUATU,,, 😥

  3. Xin oppa keterlaluan nih. Segera lindungi chaerin unnie sama seungri oppa, jiyong oppa. Jangan sampe antek anteknya penasehat choi bisa nangkep mereka berdua. Jiyong oppa marah besar tuh, dara unnie kasian harus dikamar terus

  4. Woooh si panda ngamuk daebaaaaakkk
    Hyori keren banget,selalu bikin si tua choi nggak berkutik dg kata2nya,berani banget padahal sebenarnya ketakutan juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s