[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 03

the-one-and-only-copy

THE ONE AND ONLY :: ROMANTIC MOMENTS



Sandara kesal. Hampir satu jam dirinya menunggu kedatangan Jiyong di depan tempat bimbingan belajarnya yang sudah sepi. Malam kian merangkak, namun sosok Jiyong belum kunjung muncul.

Sebenarnya, Jiyong pun terdaftar di tempat bimbingan belajar yang sama dengan Sandara, namun karena jabatannya sebagai ketua dewan murid, dia terpaksa tidak masuk hari ini. Tadinya Sandara sudah berinisiatif untuk pulang sendiri, tapi Jiyong berkata bahwa dia akan datang menjemputnya selesai rapat festival agar mereka pulang bersama.

“Aku pasti sudah menunggu di depan begitu waktu bimbingan selesai,” begitu katanya membuat Sandara mengalah.

Tapi ini terlalu lama. Empat puluh menit sejak pintu tempat bimbingan mereka digembok, satu jam sejak jam bimbingan selesai, dan Jiyong masih belum terlihat batang hidungnya. Sandara sudah mencoba menelepon, tapi ponsel Jiyong tidak aktif.

Sandara yang sudah terlanjur kesal, memutuskan memberikan toleransi sampai sepuluh menit. Sepuluh menit lagi Jiyong masih belum datang juga, Sandara memutuskan untuk pulang sendiri.

Sepuluh menit berlalu, Sandara dengan mantap melangkah menuju ke halte terdekat.

Lima belas meter dari halte, Sandara mendengar seseorang mamanggil namanya, diiringi oleh suara langkah kaki orang berlari.

Tanpa menoleh, Sandara tahu itu adalah Jiyong. Tapi dia tidak peduli dan tetap saja melangkah.

Jiyong berhasil menyusul langkah Sandara, menahan lengannya,

“Maafkan aku, aku datang terlambat.”

Keduanya sudah sampai di halte.

“Maafkah aku…”

Sandara masih tak menggubris. Dia bahkan sengaja memunggungi Jiyong, terus berputar menghindar menatap Jiyong. Untung saja di halte hanya terdapat mereka berdua.

“Babe, maafkan aku…” Sandara mendengus mendengar permintaan maaf Jiyong untuk ketigakalinya. “Tadi susah sekali mencapai kata sepakat, sehingga aku datang terlambat,” alasannya.

Bus datang dan berhenti di depan mereka. Tanpa menoleh, Sandara langsung saja naik. Tapi, Jiyong mendahului mengeluarkan kartu transportasi miliknya dan berkata kepada sang supir, “Ahjussi, dua orang,”

Sandara yang masih bermuka masam, memasukkan kembali kartu transportasi miliknya ke dalam tas. Setelah itu, matanya mulai mencari tempat duduk yang masih kosong. Lagi-lagi Jiyong mendahului dengan menarik lengannya dan membawa mereka duduk di kursi paling belakang.

“Maafkan aku,” Jiyong kembali memohon.

Sandara tiba-tiba saja memukul lengan Jiyong, membuatnya kaget, namun tidak menghindar.

“Lain kali Oppa tidak perlu berjanji apa pun jika tidak bisa menepati, apa Oppa tahu berapa lama aku menunggu tadi?” nafasnya terengah-engah, tak peduli dengan para penumpang lain yang mulai memperhatikan mereka.

“Iya, aku tahu. Maafkan aku, lain kali aku tidak akan datang terlambat lagi,”

Sandara memicingkan mata, “Janji?” tanyanya, menunjukkan jadi kelingking kanannya.

“Janji,” jawab Jiyong pasti, menautkan jari kelingking kanan miliknya pada Sandara.

Keduanya tersenyum.

**

Jam istirahat biasanya dihabiskan Sandara di kantin bersama dengan sahabatnya, Bom. Tapi hari ini, rutinitasnya itu terpaksa ditunda, karena dia harus piket di ruang kesehatan bersama dengan Hyorin, kebetulan perawat sekolah mereka sedang cuti hari ini.

Sejak masa pendekatannya dengan Jiyong, Sandara menjadi cukup dekat dengan Hyorin. Secara tidak langsung justru Hyorin yang membuatnya menjadi semakin dekat dengan Jiyong. Dan sekarang, Dan kini, Sandara tidak lagi merasa canggung untuk berdiri dekat dengan sunbae yang menjadi salah satu primadona sekolah ini. Terlebih lagi, Hyorin adalah tipe yang mudah bergaul dengan orang lain dan ramah.

“Kudengar, Jiyong Oppa datang terlambar menjemputmu kemarin?”

Sebelum tahu bahwa Hyorin adalah sepupu Jiyong, Sandara menganggap sebutan ‘oppa’ yang Hyorin sematkan untuk Jiyong adalah panggilan sayangnya. Tapi rupanya, itu karena mereka adalah sepupu.

Sandara menganggukkan kepalanya. “Aku sampai hampir menangis, lebih dari satu jam,”

“Kau tidak menelepon?”

“Ponselnya tidak aktif,”

Mereka masih sibuk mengobrol ketika pintu ruang kesehatan terbuka. Youngbae masuk dengan memapah Jiyong yang terpincang-pincang.

“Oppa, kenapa?” tanya Sandara cemas.

“Tidak apa-apa,” Jiyong meringis menahan sakit.

“Kakinya terkilir,” Youngbae menjelaskan.

“Kau kembalilah ke lapangan, kau belum melakukan penilaian kan,” ujar Jiyong memerintahkan.

“Tenang saja, kekasihnya ada di sini,” Hyorin memotong apa pun yang akan diucapkan oleh Youngbae sebagai bantahan.

“Baiklah, aku duluan kalau begitu,” setelah berkata begitu, Youngbae meninggalkan ruang kesehatan.

Tinggal mereka bertiga. Hyorin dan Sandara memaksa agar Jiyong mau melepaskan sepatunya dan berbaring di tempat tidur.

“Ini,” Hyorin menyodorkan balsem kepada Sandara. “Jiyong Oppa hanya mau kau yang mengoleskan balsem pada kakinya, dia sudah bosan jika aku yang melakukannya,” tutur Hyorin membuat Sandara menundukkan kepalanya karena malu. Meskipun demikian, tangannya menerima uluran balsem dari tangan Hyorin.

“Kau benar-benar mengerti aku, Hyorin-ah,” seloroh Jiyong, kedua tangannya dilipat di belakang kepala.

“Tentu saja, aku adalah sepupumu yang paling pengertian,”

“Tapi kau tidak perlu juga berlama-lama di sini, mengganggu saja,”

Sandara refleks mencubit perut Jiyong mendengarnya berkata seperti itu.

“Aduh! Kenapa kau mencubitku?!” protes Jiyong keras.

“Iya, iyaa… aku keluar. Aku keluar sekarang. Sandara-ah, kuserahkan pasien manja ini padamu,” Hyorin meninggalkan Jiyong dan Sandara berdua.

“Nah, begini kan lebih enak,” komentar Jiyong yang langsung mendapatkan cubitan baru dari Sandara.

Sandara lalu mulai mengoleskan balsem di pergelangan kaki Jiyong, sedikit kasar, membuat Jiyong mengaduh kesakitan.

“Makanya Oppa jangan genit,” meski nadanya bersungut, tapi dia mengucapkannya dengan senyuman.

“Neh, arasso, Jagiya…”

“Aisht, dasar!” Sandara beranjak dari posisinya.

“Hehe, iya… iyaa… maafkan aku.” Jiyong cengengesan.

Sandara mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Jiyong dan kembali ke tempat semula. Dilihatnya kaki Jiyong yang memerah mulai membengkak.

Jiyong menatap langit-langit. Matanya menerawang. Sepi.

“Kau masih marah padaku?”

“Ck… ck… ck…” bukan jawaban yang dinanti Jiyong. Dan dia tahu, bukan Sandara yang menjawabnya.

“Kau masih marah padaku,” dia menjawab sendiri pertanyaannya tadi, tak menghiraukan jawaban asing yang diterimanya tadi.

Tapi, Sandara peduli pada suara itu. Justru yang tak dipedulikannya adalah suara Jiyong. Matanya mengedar berkeliling, keringat dingin mulai muncul di keningnya, sekujur tubuhnya gemetaran.

“Kau benar-benar masih marah kalau sampai tidak menanggapiku begini, kan? Mian…”

Ucapan Jiyong terpotong oleh teriakan nyaring Sandara.

“Kyaaaa!!!!!!” Sandara langsung melompat bangun dan berlari meninggalkan Jiyong terbaring sendirian.

Jiyong yang kaget bangkit dari tidurnya, bahkan tidak memiliki kesempatan bertanya ada apa.

“Ck… ck… ck…” suaa itu menjawab pertanyaan Jiyong yang belum terucap. Matanya mencari ke sumber suara dan mendapati seekor cicak menyembul keluar dari balik lemari obat. Jiyong kembali membaringkan tubungnya, teringat perkataan Hyorin dulu.

“Sandara paling takut pada cicak, sampai tahapan phobia. Sepertinya pada cicak juga,”

**

“Lalu kau meninggalkan Jiyong Sunbae di ruang kesehatan begitu saja?” Bom bertanya panik.

Siang tadi, Sandara langsung berlari menghampirinya di kelas, dengan keringat dingin bercucuran, nafas terengah-engah. Hanya satu kata yang keluar, namun mampu menjelaskan semuanya. “Cicak.”

“Mau bagaimana lagi, siapa yang menyuruh cicak itu untuk muncul di sana, kau tahu kan aku takut pada cicak?”

Bom hanya bisa menundukkan kepala mendengar jawaban Sandara lewat telepon. Dia sengaja menelepon, karena cerita yang Sandara ceritakan tadi di sekolah sungguh tak bisa diikuti alurnya.

Suara ketukan pintu di kamar Bom.

“Bommie, ada Seunghyun datang mencarimu!”

Bom menutupi bagian speaker dengan tangan dan menjauhkan dari mulutnya. “Iya, katakan padanya untuk menunggu sebentar!”

“Maaf, aku harus menghentikan obrolan kita sampai sini, Seunghyun Oppa datang!” Bom mengakhiri pembicaraan. Tanpa menunggu jawaban dari Sandara, dia memutuskan sambungan telepon.

**

Suasana di kafe cukup ramai, tapi tetap tidak menyurutkan niat Jiyong untuk mengajak Sandara menikmati secangkir Americano kesukaannya. Sandara sempat menolak, tapi Jiyong terus saja memaksa. Jiyong punya kemampuan tersembunti untuk memaksa orang lain mau mengikuti kehendaknya.

“Dua ice Americano,” Jiyong mengucapkan pesanannya.

Sandara hanya diam membuntuti Jiyong. Matanya sibuk menelusuri barisan kata dan gambar dari komik yang baru dibelinya kemarin. Jari telunjuknya lancar saja membalik halaman demi halaman, acuh hingga mereka mendapatkan tempat duduk. Bahkan Sandara tak menyadari jika Jiyong sudah mengambil pesanan mereka.

Suara dehem yang Sandara abaikan, bacaannya terlalu asyik untuk ditinggalkan.

Kembali suara dehem terdengar, makin keras. Yang masih diacuhkan oleh Sandara.

Merasa kesal, tangan Jiyong beraksi merebut komik dari tangan Sandara, membuat gadis itu memberengut.

“Kenapa diambil?” protesnya.

“Karena kau justru mengabaikanku,” Jiyong ikutan memprotes.

Sandara memasang senyuman termanis yang dia punya, membujuk Jiyong agar mau mengembalikan komiknya.

“Jagi, boleh aku minta kembali komiknya?” tidak biasanya dia memanggil dengan sebutan jagi.

“Andwe, nanti saja jika aku sudah mengantarmu pulang,” Jiyong bersikukuh, meski sebeneranya dia hampir tergoda melihat wajah Sandara yang terlihat semakin imut dan manis.

Sandara manyun, bibirnya mengerucut maju. Jiyong tertawa saja melihatnya. “Kenapa kau manyun begitu?”

Sandara diam saja. Terpaksa Jiyong harus membujuk kekasihnya itu agar tidak marah lagi.

“Kau bisa kan membacanya di rumah nanti, atau kau mau kita pulang saja sekarang agar kau bisa melanjutkan membaca komikmu?”

Sandara sedikit merasa bersalah saat melihat Jiyong bangkit berdiri dan bersiap-siap untuk pergi. Bahkan Americanonya pun belum disentuh sama sekali.

“Ani,” cegah Sandara, menarik lengan Jiyong. “Mianhe,” katanya, kembali memasang senyum manis, membuat Jiyong kembali duduk dan ikut memasang senyum di wajahnya.

Keduanya pun saling bercerita, lebih banyak Sandara yang bercerita panjang dan Jiyong sesekali menimpali. Tentang tokoh-tokoh cerita favoritnya, tentang karakter film idolanya… dan Jiyong senang saja mendengar gadis yang disukainya lepas saja bercerita apa pun.



to be continue~



<< back next>>

Advertisements

20 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 03

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s