[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #7

SB Cover

Author : aitsil96

Category : PG15, Romance, Sad, Chapter

Main Cast : Kwon Ji Yong, Park Sandara

Author’s Note :

FF ini hasil remakedengan beberapa perubahan yang cukup besar di dalamnya dari judul FF yang sama dengan main cast yang berbeda yang sudah pernah saya post di blog lain. Kali ini saya juga menggunakan nama author baru. Main cast asli adalah Kwon Ji Yong dan Yong Na Ra. I’m not plagiator!

This is just my wild imagination. Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Don’t bash if you think my story isn’t perfect. Be a good reader, please. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thanks and happy reading all…

.

*perhatikan waktu karena alur maju mundur*

.

Summary         :

“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”

-Kwon Ji Yong-

“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”

-Park Sandara-

.

-PART 7-

.

Seoul, April 2015

Il Woo menepikan mobilnya di salah satu taman saat perjalanan pulang. Pria itu keluar dari dalam mobil tanpa berucap apapun. Aku tak tahu ia kemana, tak berniat untuk sekadar bertanya. Aku hanya bisa melihat pergerakannya seraya bersender lemah di jok mobil, namun tak berapa lama kemudian pria itu terlihat dengan membawa dua buah minuman bersoda di tangannya. Ia mengisyaratkan aku untuk keluar juga dari mobil seraya menunjukkan kaleng tersebut. Aku mengikutinya, lalu duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana. Tepat di sampingnya.

“Ini untukmu.”

Ia mengulurkan tangan. Aku menerima salah satu minuman tersebut lalu tersenyum sebagai ucapan terima kasih.

Mianhae,” Il Woo akhirnya bersuara.

Aku menatapnya heran, “Mwoga?”

“Kau tahu maksudku.”

“Itu bukan salahmu. Kau tak perlu meminta maaf.”

“Perusahaannya mengisyaratkan untuk bekerja sama sebelum aku mengisi posisi CEO di perusahaan. Ayah yang telah mengaturnya. Maaf untuk tidak memberitahumu,” Il Woo langsung pada inti pembicaraan.

“Itu sama sekali bukan urusanku. Mengapa aku harus merasa terbebani dengan itu? Oh ayolah, aku bahkan hanya seorang karyawan yang baru saja bekerja di sana. Apa hak ku untuk mengatur relasi bisnis perusahaanmu?”

“Kau tunanganku.”

Aku tertegun. Tak dapat ku pungkiri bahwa aku telah tersentak dengan kata-kata singkatnya yang sarat akan makna. Aku kini mulai mengerti akan arah pembicaraannya. Sementara, Il Woo di sampingku sedang memejamkan matanya. Erat. Aku tahu ia tengah berpikir keras dan mencoba untuk menstabilkan emosinya. Oh Tuhan, maafkan aku. Ternyata selama ini aku yang terlalu membebani dirinya.

“Ji Yong. Kehadirannya adalah alasanku untuk meminta maaf padamu.”

Deg! Nama itu lagi. Mengapa hanya dengan mendengar namanya membuat minuman yang hampir masuk ke tenggorokanku tercekat? Sial! Kau seharusnya sadar, gadis bodoh! Mengapa kau masih saja terlihat lemah bahkan hanya untuk mendengar nama sialan itu? Kau tidak ingat dengan janjimu untuk melupakannya dan memulai lembaran baru dengan Il Woo? Lemah! Kau bahkan terlihat menyedihkan dengan alasan keterpurukanmu itu, Park Sandara!

“Besok setelah jam makan siang, kau harus segera pulang.”

Wae?”

“Ji Yong akan datang ke kantor.”

Manikku berputar, namun aku masih mencoba berusaha untuk mengontrol emosi, “Lalu memangnya kenapa? Profesionalitas kerja. Kau ingat? Bukankah kau yang bilang padaku tentang itu? Lagipula aku sekretarismu. Bagaimana bisa aku tak datang…”

“Berhentilah membantahku,” Il Woo meredam suaranya, menekan di setiap kata-katanya, “Kau hanya harus menuruti ucapanku. Ini bukan permintaan, aku memerintah sebagai atasanmu,” ucapnya tegas.

“Il Woo-ya…”

Jebal!”

Aku tersentak. Ini adalah kali pertama Il Woo berbicara dengan nada setinggi itu padaku. Ia membentakku seraya melempar kaleng minumannya yang masih terisi penuh secara sembarang. Aku tahu kini ia sedang dibalut emosi yang luar biasa. Ia berdiri untuk kemudian berbalik menghadapku yang masih terduduk bagai orang dungu. Kami bertatapan. Dapat ku lihat pandangannya melembut dengan ia yang berusaha mengendalikan amarahnya. Menekannya hingga ke dasar.

“Ini demi kebaikanmu, Dara-ya.”

Kebaikanku? Ck, untuk kali ini ku rasa Il Woo memang benar. Ia hanya bermaksud untuk melindungiku. Apa salahnya, bukan? Aku tak boleh egois dan terus keras kepala. Aku juga harus memperhatikan perasaannya. Aku tahu ia khawatir setengah mati. Terlebih setelah melihat kejadian tadi. Astaga, mengingatnya kembali hanya membuat kepalaku makin pening saja. Aku mengangguk sebagai jawaban atas Il Woo seraya memaksakan seulas senyuman. Menandakan aku masih kuat walaupun dengan keadaan yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.

Il Woo menghela napas berat seraya tersenyum masam, “Bagaimanapun juga, maaf telah mempertemukanmu kembali dengannya.”

*****

Flashback

Gadis itu kini tengah menatap pantulan dirinya di cermin dengan tetesan air di wajahnya. Ia baru saja mencuci mukanya dengan asal, mencoba menetralkan dirinya dari degupan jantung atas kejadian yang luar biasa tak waras ini. Bagaimana bisa kebetulan sialan ini menghampirinya? Astaga, ia bahkan tak bisa berpikir jernih di tengah kegugupannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Dara berkali-kali menghirup napas demi menenangkan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga Il Woo masih berada di mejanya dan kini sedang menunggu dirinya. Bahkan ia sendiri belum sempat mencicipi makanan yang baru saja dihidangkan di meja beberapa saat lalu. Perutnya belum diasupi makanan apapun lagi semenjak tadi siang, namun rasa laparnya menguap entah kemana saat ini. Dara terlalu terkejut mengetahui kemungkinan datangnya pria yang amat dihindarinya.

Ia harus pulang sekarang juga, menjauh dari pria yang tak ingin ditemuinya sesegera mungkin. Hanya itu yang berada di pikiran Dara saat ini. Tapi jika Dara tiba-tiba pergi tanpa memberitahu Il Woo terlebih dulu, apa yang harus ia jelaskan nanti? Bagaimanapun juga, ia harus menjaga perasaan pria yang telah menjadi tunangannya tersebut. Apakah ia harus menghubungi pria itu untuk segera pulang bersamanya? Ya, rasanya itu adalah keputusan yang tepat.

Dara mengambil ponselnya untuk kemudian memberitahu Il Woo bahwa ia sedang tidak enak badan dan akan menunggu di mobil untuk pulang. Ia jadi mempunyai alasan untuk tidak perlu datang lagi ke mejanya. Persetan dengan kebohongan yang ia lakukan! Ia bisa mengurus hal itu nanti. Yang ia harus lakukan adalah sesegera mungkin pergi ke pintu keluar dan melesat menuju basement.

Baru saja kakinya melangkah keluar dari toilet dan menuju lorong, pandangannya yang menatap lantai tertumbuk pada sepasang kaki yang memakai sepatu pentofel hitam berdiri di hadapannya. Niat ingin memaki karena seseorang menghalangi jalannya, otaknya tiba-tiba berhenti berfungsi setelah melihat siapa pemilik kaki itu. Gadis itu terdiam dari tempatnya berdiri. Ia membeku layaknya es.

Tubuhnya menegang setelah merapikan ujung lengan blazer hitam serta rok selutut yang berwarna senada yang tengah ia kenakan. Manik hazelnya tertumbuk pada satu titik yang kini berada tak lebih dari dua meter di hadapannya. Pria itu. Pria dengan tampilan yang masih sama sejak terakhir kali ia melihatnya dua tahun lalu. Hanya saja kini rambutnya telah berubah menjadi cokelat keemasan dengan tatanan yang masih menunjukkan ciri khas uniknya.

Apakah ada tempat pertemuan yang lebih buruk dari ini? Otak gadis itu malah memikirkan hal-hal sialan yang amat tidak penting di tengah kejadian sinting tersebut. Oh Tuhan, jangan buat gadis ini berhalusinasi di lorong sempit dengan pencahayaan yang tak cukup terang! Apa mungkin ini semua karena kebingungannya dan rasa terkejutnya yang membuat kepalanya berdenyut nyeri? Tapi mengapa semakin lama semua ini terasa semakin nyata baginya? Sangat teramat jelas di depan matanya, pria itu berdiri dengan kacamata hitam bertengger di hidung bangirnya.

“Dara-ya?”

Suara itu. Suara yang dulu mengalun akrab di telinganya. Suara yang sempat ia gilai setengah mati ketika melantunkan namanya dengan merdu. Dara membeku di tempatnya dengan ekspresi kaget luar biasa. Melihat pria itu di hadapannya lagi, seperti membawanya pada masa lalu kelam yang telah berusaha ia singkirkan dan membuat ia ingin lenyap detik ini juga.

*****

“Dara-ya?”

Suaraku hampir tercekat hingga hanya bisa keluar dengan menyerupai sebuah bisikan. Meskipun masih mengenakan kacamata yang membuat pandanganku menggelap, namun aku yakin ia adalah gadis yang ku rindukan setengah mati kehadirannya. Mataku membulat lebar. Park Sandara. Gadisku. Oh Tuhan, bagaimana bisa kebetulan ini menghampiri takdir kami hingga dipertemukan kembali di saat yang sama sekali tak terduga?

Aku baru saja tiba di tempat ini beberapa saat lalu setelah sebelumnya mengunjungi minimarket terdekat demi mencari sebuah minuman penyegar. Akhir-akhir ini, aku terlalu lelah dengan kesibukan yang telah menjadi rutinitas. Jalanan yang macet pun membuatku sedikit terlambat datang hingga membuat sekretarisku harus menunggu lebih lama. Berniat untuk membasuh muka agar tampil lebih segar, aku tak menyangka jika akan terjadi sebuah takdir yang mempertemukanku kembali dengannya.

Bisa ku lihat gadis itu terlihat kaku ketika menyadari kehadiranku. Jika saja kacamata ini tidak menghalangi mataku, sudah ku pastikan manik cokelatku akan terlempar dari tempat seharusnya. Kau pikir hanya gadis itu yang terkejut? Degupan jantung dan keringat di telapak tanganku tak dapat membohongi betapa berlebihannya reaksiku setelah melihat raga gadis itu lagi dalam jarak pandangku.

Ia terlihat berbeda dari yang terakhir kali ku ingat. Rambutnya yang panjang terurai kini dibiarkan terikat ala ekor kuda. Fakta yang lebih mengejutkan adalah ia menggunakan rok selutut memperlihatkan kaki ramping mulusnya untuk tersaji bagi siapa saja yang memandang. Aku kini bisa melihat kaki jenjangnya dengan jelas. Astaga, ingin rasanya aku melepas jas yang sedang ku kenakan demi menutupi kaki indahnya itu.

Dan apakah mataku mulai terganggu? Ia bahkan menggunakan riasan tipis, membuat wajahnya terlihat lebih berwarna walau sebenarnya tanpa make up pun ia tetap terlihat mengagumkan. Lihat? Bahkan ia menggigit bibir tipisnya yang telah disapukan lipstik merah muda. Ku mohon Dara, berhenti melakukan sesuatu yang menggoda! Aku bisa gila karena detik ini juga aku ingin menyeretmu dari tempat ini.

Meski penampilannya telah jauh berubah, hanya satu yang tetap sama dari dirinya. Manik hazel itu. Selalu terang saat menatap, menarikku hingga ikut terhanyut dalam bola mata cantik itu. Pandangan favorit yang masih ku gilai hingga kini. Cercalah diriku yang sudah tak waras karena masih menjadikannya gadis terindah di singgasana hatiku, namun inilah yang terjadi. Rasaku untuknya tak pernah mati walau sekejap. Tak akan pernah.

“Kapan kau pulang ke Seoul? Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja?” dari berbagai pikiran yang berkecamuk dalam benakku, hanya pertanyaan bodoh itulah yang mengalir dari mulutku tanpa bisa aku kendalikan. Rasanya otakku kosong, tak tahu apa yang harus dilakukan saat bertatap muka seperti ini dengannya kembali. Aku hanya berusaha untuk mencoba mengikuti naluri.

Gadis di hadapanku hanya terdiam. Ia melihatku bagai arwah penasaran dengan manik hazelnya yang melebar. Rasa takut terpancar dari pandangannya. Apakah bertemu denganku merupakan sesuatu yang menakutkan bagi gadis itu? Mengapa? Apa yang salah? Bukankah seharusnya ia juga memiliki kerinduan yang teramat dalam seperti diriku? Aku bahkan bukan orang asing untuknya.

Aku selangkah mendekat ke arahnya. Tanganku hendak meraihnya, namun tiba-tiba suara dering ponsel yang berasal dari miliknya menggema di lorong sepi ini. Beberapa detik ia terdiam melihat layar ponselnya, sementara aku masih betah memperhatikannya dengan seksama. Dara mengangkatnya, mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Aku yang hanya bisa terkesima melihat wajah itu lagi sama sekali tak melihat nama seseorang yang tertera di layar ponselnya.

Ne, aku akan segera menyusul.”

Suara merdu itu mengalun bagai angin yang berhembus menyambangi telingaku lagi. Membawa kesejukkan walau dengan ekspresinya yang sama sekali tak bersahabat. Dengan tiba-tiba ia melewatiku, bahkan sebelum aku mengerti dengan kejadian mendadak tersebut. Aku tersentak. Merasa seakan menjadi makhluk tak berwujud yang sama sekali tak terlihat olehnya. Tanganku dengan spontan berhasil meraih lengannya. Menghentikan langkah gadis itu. Aku berbalik, namun ia terdiam memunggungiku.

“Tunggu. Aku masih ingin bicara denganmu.”

Tak ada jawaban setelah itu, namun aku masih betah menunggu beberapa detik untuk melihat reaksinya.

“Lepaskan. Berhenti mengganggu hidupku.”

Skak! Setelah mengucapkannya, ia pergi setelah melepaskan cengkeramanku dengan sekali hentak. Aku tak bisa menahannya terlalu lama. Terlalu terkejut mendapati ucapannya yang dikatakan bahkan tanpa berbalik ke arahku. Aku? Mengganggu hidupnya? Seberapa hina diriku di matanya saat ini? Aku bahkan hanya dianggap sebagai pengganggu hidupnya sementara ia bahkan tak tahu butuh waktu selama dua tahun lamanya untuk aku menunggu saat-saat ini. Saat dipertemukan kembali dengannya setelah ia pulang dari London.

Mungkinkah aku tak berarti lagi di hidupnya? Berbagai pertanyan yang tak dapat ku jawab kini bersarang di benakku. Aku penat karena dipenuhi dengan semua pikiran negatif. Rahangku mengeras. Gigiku mengatup rapat. Mendapati kenyataan bahwa kehadiranku sama sekali tak diinginkan olehnya membuat darahku naik hingga ke ubun-ubun. Terlalu murka dengan perilaku kekanakkan gadis itu yang meninggalkanku seenaknya karena kejadian sialan yang bahkan hingga kini masih tak dimengerti olehnya.

Dalam pikiran yang hampir tak waras, aku menangkap sesuatu yang aneh dari dirinya sebelum menghilang di ujung lorong. Terletak di tangan kirinya. Sesuatu yang tak dapat ku lihat jelas, namun aku hanya bisa melihat sesuatu yang berkilauan dari jarinya yang tertimpa cahaya. Mungkinkah… sebuah cincin? Seingatku gadis itu bahkan tak pernah mengenakan perhiasan apapun sebelumnya jika tidak dipaksa. Entah penglihatanku yang salah, namun aku terus memikirkannya. Membuatku hampir gila. Otakku bertambah kacau akibat gadis bodoh itu. Sandara.

End of Flashback

*****

“Dara-ssi?”

Ne, Sajangnim?”

“Aku akan pergi dulu ke pabrik untuk mengecek persediaan bahan baku. Satu jam lagi aku akan kembali.”

“Apakah aku juga harus ikut menemani?”

“Tidak, kau di sini saja. Kalau terjadi sesuatu, cepat hubungi aku.”

Ne, algaseumnida.”

Il Woo mencondongkan tubuhnya mendekat pada Dara untuk bicara dengan suara yang cukup rendah, “Aku akan segera mengantarmu pulang begitu aku kembali. Jaga baik-baik dirimu. Arrasseo?”

Dara mengangguk patuh seraya tersenyum sebelum Il Woo berbalik untuk pergi dari ruangannya. Gadis itu terduduk kembali di kursinya seraya menghembuskan napas berat. Ia terlalu lelah dengan banyak pikiran yang mengganggunya akhir-akhir ini. Bahkan semalam ia tak dapat tidur hingga jam tiga dini hari dan harus berangkat ke kantor pada pukul delapan. Dara terbebani dengan pikirannya yang semrawut. Setelah Il Woo mengantarnya pulang, ia berjanji akan mengurung dirinya di kamar demi menutup matanya sepanjang hari.

Dara berkonsentrasi lagi pada laptop, melanjutkan lagi pekerjaannya. Beberapa lama kemudian, telepon kantor di mejanya berbunyi.

Mwo?”

Gadis itu menutup panggilannya bahkan sebelum orang di ujung telepon selesai berbicara. Matanya menerawang. Seseorang telah menunggunya di ruang rapat karena telah memajukan jadwal pertemuan secara mendadak. Ia adalah CEO Dragon’s Company. Dara termenung cukup lama. Siapa lagi kalau bukan Kwon Ji Yong yang akan dihadapinya? Dara menatap meja bingung, membawa beberapa barang yang dibutuhkannya dengan asal, lalu pergi dengan pikiran yang mendadak kosong ke ruang rapat.

Pikirannya terus bergemuruh. Bagaimana ini? Bukankah seharusnya jadwal pertemuan diadakan setelah makan siang? Ini bahkan belum jam dua belas tepat. Il Woo juga tak ada bersamanya saat ini. Apa yang ia harus lakukan? Kakinya serasa bagai menyeret tubuhnya paksa ke ruang rapat tanpa berpikir jernih. Setelah menaiki lift, Dara berdiam diri lalu merogoh sakunya, berniat untuk menguhubungi Il Woo dengan ponselnya.

Berbagai pertanyaan berkelebat di benaknya tanpa henti. Apakah ia harus kabur saja dan menghilang dari tempat ini? Lalu siapa yang akan bertanggungjawab akan kedatangan Ji Yong jika bukan dirinya? Bagaimanapun juga ia adalah salah satu rekan bisnis perusahaan. Bagaimana jika perjanjian kerjasama perusahaan dibatalkan akibat ulahnya yang tak profesional? Ah tidak, Dara harus bisa mengatasi itu semua sendiri.

Ia memutuskan untuk memasukkan lagi ponselnya setelah mengalihkan pada mode diam. Ini demi pekerjaan!

“Sandara-ssi?”

Kim Soo In memanggilnya ragu. Wanita itu berdiri tak lebih dari dua meter di hadapannya yang sedang berdiri tepat di depan ruang rapat. Mereka bertatapan selama beberapa detik. Berusaha menyadari situasi tak waras ini. Tubuh Dara menegang, namun ia berlagak baik-baik saja. Kau harus profesional, batinnya.

“Bagaimana…? Mungkinkah… kau bekerja di sini?” tanyanya kaget seraya tergagap.

Ia mengangguk, “Ne,” Dara berdeham sebentar, menetralkan tenggorokannya yang hampir tercekat, “Annyeonghaseyo, Soo In-ssi. Oraenmaniyeyo.”

Soo In membalas dengan tersenyum seraya bergumam tak jelas. Tangannya meremas satu sama lain. Terlihat gugup.

“Jung Sajangnim sedang tidak berada di kantor saat ini. Aku sekretarisnya. Tak apa bila aku saja yang mengurus pertemuan ini sebelum ia tiba?”

“Ah… ya. Maaf soal itu. Kami baru bisa memberitahu saat dalam perjalanan menuju kemari. Jadwal pertemuan atasan kami tumpang tindih hingga harus memajukan pertemuan secara tiba-tiba. Sepertinya kami juga datang terlalu awal karena jalanan cukup lengang,” Soo In segera menutup mulut setelahnya, menyadari sesuatu yang salah ketika membicarakan atasannya di hadapan Dara.

Gwaenchanayo, aku akan terlebih dahulu bertemu dengan atasanmu kalau begitu. Lalu apakah sekarang aku harus masuk sekarang?”

“Hah?” Soo In reflek terkejut, “Tapi… di dalam…”

Ia mengerti maksud wanita itu lalu tersenyum menandakan ia baik-baik saja. Wajahnya berusaha sebisa mungkin untuk tetap rileks. Walau dengan tangan gemetaran, ia membuka pintu itu demi menampakkan diri di hadapan pria yang sebenarnya dihindari setengah mati olehnya.

Annyeonghaseyo, je ireumeun Sandara imnida. Mannaseobangapseumnida.

Ia segera menegakkan wajah setelah memperkenalkan diri serta membungkuk sebagai sapaan. Objek yang pertama kali dilihat adalah pria yang tengah memakai setelan jas mewahnya tengah duduk dengan santai. Pria itu masih saja mengenakan kacamata hitam seperti kemarin malam. Apakah sekarang itu menjadi sebuah hobi untuk menutupi matanya? Hei, lalu apa pedulinya? Mengapa ia harus memikirkan hal yang bahkan sama sekali tidak penting?

Astaga, bertemu lagi dengannya membuat gadis itu tak bisa menahan gemetarnya kedua tangan yang kini saling terkait satu sama lain. Keringat sebesar biji jagung bahkan mulai bercucuran di sekitar dahi walau ruangan ini memiliki pendingin. Gugup. Itulah yang ia rasakan saat ini walau telah berusaha keras untuk menutupinya mati-matian. Dara bahkan hampir lupa caranya bernapas ketika dipertemukan akibat kebetulan sialan yang menghampiri di waktu yang berdekatan. Melihatnya lagi membuat jantungnya berpacu secara tak normal.

“Kau?”

Ji Yong berdiri lalu mendekati dengan perlahan Dara yang masih berada di ambang pintu. Sementara Soo In berdiri bersebelahan dengan jarak yang tak cukup jauh. Soo In sama sekali tak berani mengeluarkan sepatah katapun dan memilih untuk menutup mulutnya. Dari kacamatanya, Ji Yong memperhatikan penampilan gadis di hadapannya. Teliti. Dari ujung rabut hingga kuku kaki. Membuat gadis itu makin risih dan tentu saja tegang bukan main. Namun ia harus meyakinkan diri bahwa ia kuat. Setidaknya hingga Il Woo datang kemari.

“Soo In-ssi?”

Ne?”

“Menjauhlah dari tempat ini sekarang juga.”

Ne?” ia kaget, “Tapi…aku…”

“Sekarang!”

Ji Yong mengusir Soo In bahkan tanpa menatapnya. Wanita itu kemudian mengangguk patuh setelah sebelumnya memberikan tatapan khawatir pada Dara. Pintu tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua di ruangan itu. Ketegangan menyelimuti atmosfer di ruangan itu.

“Kau bekerja di sini? Kapan kau pulang ke Seoul? Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja?”

Ji Yong seakan menginterogasi Dara dengan pertanyaannya. Dari ribuan pikiran yang berseliweran dalam benaknya, hanya pertanyaan bodoh itulah yang dapat Ji Yong sampaikan. Dara terdiam. Tak menjawab sepatah katapun. Otaknya masih memproses kata-kata yang Ji Yong lontarkan terhadapnya. Meninggalkan keheningan beberapa saat sebelum ia mengontrol dirinya kembali.

Jeosonghamnida, Kwon Sajangnim. Tapi saya kemari hanya untuk menyampaikan bahwa Jung Sajangnim saat ini sedang tidak ada di tempat. Ia sedang dalam perjalanan, jadi tunggulah sebentar lagi.”

“Kwon Sajangnim?” Ji Yong tertawa sinis,tak habis pikir dengan panggilan sialan yang terlontar dari gadis itu, “Oh ayolah, kemana panggilan akrab kita dulu? Bicaralah yang santai padaku, Dara-ya.”

“Maaf, saya hanya akan menyampaikan hal itu. Geureom.”

“Berhenti di sana!”

Dara yang hendak berbalik tertahan akibat bentakan Ji Yong. Ia membeku di tempat. Suara itu bahkan lebih dari sekadar menyeramkan. Menggelegar dengan dahsyatnya. Membuat merinding siapapun yang mendengarnya. Ji Yong satu langkah lebih dekat ke arah Dara, menyisakan jarak tak lebih dari tiga puluh sentimeter tepat di hadapannya.

“Tolong berhenti, Dara-ya,” Ji Yong menghembuskan napas kasar demi meredam amarahnya hingga ke titik terendah, “Berhenti memperlakukanku seperti orang asing. Berhenti menyembunyikan kenyataan bahwa kita saling mengenal satu sama lain. Berhenti bertindak angkuh di hadapanku demi menyembunyikan perasaanmu.”

Ji Yong mendesis dengan nada yang tertahan. Mencoba bersikap lembut di hadapan Dara demi membujuknya untuk kembali menjadi gadis yang dulu ia kenal. Ia benci jika gadis itu berubah seperti ini. Ia ingin marah. Meluap dan meledak dengan hebat di hadapannya agar ia mengerti isi hatinya selama ini. Namun Ji Yong tidak bisa melakukannya. Bagaimanapun ia berkelit dan menyalahkan gadis itu yang dengan egois telah meninggalkannya, namun ia juga tak bisa menutupi kenyataan bahwa ia juga bersalah atas kejadian dua tahun lalu.

Masih dalam keheningan yang menyelimuti karena Dara yang masih juga terdiam, dengan beraninya Ji Yong meraih tangan itu. Tangan gadis yang telah lama ia rindukan keberadaannya. Gadisnya. Gadis yang sampai saat ini ia akui sebagai miliknya yang tak tergantikan. Tangan itu masih sehalus dulu dan kehangatannya menjalar, menularkan rasa nyaman pada Ji Yong.

Pria itu tersenyum, senyum tulus yang telah lama ia kubur di balik seringaian iblisnya. Namun senyum itu tak lama kemudian lenyap tak berbekas, tergantikan dengan kerutan bingung di dahinya. Benar. Pandangannya tak salah kemarin malam bahwa memang ada yang berbeda pada tangan gadis itu. Di jari manis tangan kirinya terselip cincin emas putih yang jika diperhatikan akan berkilau dengan indahnya. Pandangan Ji Yong seketika mengarah pada manik hazel Dara, mempertanyakan maksud benda asing ini berada di jari manisnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Aku… sudah bertunangan.”

Tiga kata yang membuat Ji Yong mendengar suara merdu itu lagi. Tiga kata yang menyapa indera pendengarannya setelah sekian lama tak pernah ia dengar. Tiga kata yang juga sempurna mampu mengoyak jantungnya, meremukkan sendi-sendi tulangnya, hingga meluluhlantakkan perasaannya detik itu juga. Bertunangan? Gadisnya? Ia tertawa kali ini. Tidak, tepatnya ia terkekeh mengejek serta menyeringai layaknya iblis dengan suara sumbang yang kelam.

Suara Dara hampir bergetar ketika mengutarakan kata-kata itu pada Ji Yong. Ia tentu saja takut, namun ia harus memberanikan diri untuk mengaku pada pria itu agar ia tak perlu lagi muncul di hidupnya. Walaupun pertemuan ini sangat dihindarinya, namun apa boleh buat jika takdir telah mempertemukan mereka kembali. Kejadian ini tak dapat dihindari lagi. Menurutnya, keputusan itulah yang terbaik bagi dirinya maupun Ji Yong.

Bulu kuduk Dara berdiri saat ini, terlalu menyeramkan melihat ekspresi Ji Yong dengan hanya mereka berdua yang berada di ruangan ini. Wajahnya menampakkan seringaian yang mampu membuat nyalinya menciut hingga ke dasar. Perasaannya mengatakan sesuatu yang tak beres akan terjadi sebentar lagi.

Benar saja, dengan sekali hentak tubuh Dara menabrak tembok yang berada tak jauh di belakangnya. Ji Yong mendorongnya. Menyudutkan gadis yang bahunya tengah dicengkeram oleh kedua tangan kokohnya dengan kuat. Kacamata hitamnya telah ia lempar dengan sengaja tanpa arah beberapa saat lalu. Kini Dara bisa melihat tatapan nyalang pria itu, mengingatkannya pada tatapan murka Ji Yong dua tahun lalu saat ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang telah mereka jalin.

“Bagaimana kau bisa mengatakan hal keparat itu, huh? Kau masih gadisku, Dara-ya. Seberapa ingin kau menghindar dariku kau akan tetap selalu menjadi gadisku. Hanya milikku seorang. Kau bilang apa? Bertunangan? Omong kosong! Aku telah menunggumu dengan sisa kekuatan yang hampir lenyap, dan sekarang waktunya aku memilikimu kembali secara utuh untuk berada di sisiku.”

Manik hazel itu melebar, tangannya berusaha untuk melepaskan cengkeraman Ji Yong yang kuat. Dara meronta. Ia menjerit dengan kerasnya namun percuma saja karena ruangan itu didesain untuk kedap suara. Kakinya melakukan tendangan-tendangan kosong tak berarti. Semua hal yang ia lakukan untuk menghentikannya sia-sia karena tenaga Ji Yong yang jauh lebih kuat darinya.

“Sadarlah, Ji Yong! Kita bahkan sudah tak punya hubungan apapun. Aku telah memiliki kebahagiaanku sendiri. Berhenti mengungkit masa lalu di antara kita. Semuanya tak sama lagi. Kau dan aku telah jauh berubah.”

“Tidak! Kau! Kaulah yang berubah! Bagaimana bisa kau melupakanku dengan mudah sementara aku di sini masih menunggumu dengan keputusasaan? Tak pernahkah kau pikirkan perasaanku? Hidupku hancur! Itu semua karenamu, Dara-ya. Karena kau yang telah egois meninggalkanku dalam keterpurukan!”

Ji Yong telah diselimuti amarah yang memuncak. Satu tangannya bahkan sekarang telah berpindah pada leher Dara. Iblis telah merasukinya. Ia berusaha mencekik gadis yang dicintainya. Membuat oksigen di sekeliling Dara perlahan-lahan menipis. Entah apa yang ia pikiran sekarang, emosi telah membuat dirinya tak bisa membedakan hal yang benar dan salah. Jangankan untuk berpikir waras, ia bahkan tak bisa mengontrol emosinya pada Dara hingga melakukan hal di luar batas layaknya  kini.

“Kau membunuhku perlahan jika meninggalkanku!”

Dara masih tersadar meskipun dengan napas yang hampir tercekat. Ji Yong masih terus saja mengumpat dengan sumpah serapahnya di hadapan Dara. Gadis itu berusaha menggapai tangan pria itu, meminta untuk dilepaskan. Jauh di lubuk hatinya, sejujurnya Dara memang masih mencintai Ji Yong sekeras apapun ia menyangkal. Tapi ia bukanlah pria yang ia kenal dulu. Ji Yong baginya telah berubah menjadi monster biadab yang gampang terpancing emosi hingga dapat melakukan hal laknat yang ia lakukan saat ini. Pria itu menatapnya nyalang dengan tangan yang makin mencengkeram leher Dara.

Air merembes membasahi pipinya. Dara menangis. Seberapa kuat gadis itu menghadapi Ji Yong, namun kini ia takut setengah mati. Berpikir ia mungkin akan terbunuh di tangan Ji Yong. Seakan tersadar dari kerasukannya, pria itu segera berhenti dan mundur satu langkah untuk melihat bagaimana kondisi gadis di hadapannya saat ini. Air mata gadis itu sukses membuatnya tersentak ke alam sadar. Kau menyakitinya, Ji Yong!

Dara tak bisa dikatakan dalam kondisi yang baik-baik saja. Ia terbatuk keras, memukul-mukul dadanya yang sesak. Ikatan pada rambutnya sudah tak tertata rapi, beserta pakaiannya yang kusut akibat dirinya yang sedari tadi meronta. Yang lebih menyedihkan ialah make up-nya yang kini mulai luntur karena butiran air yang terus-menerus keluar dari pelupuk matanya. Dara menangis. Walau tak bersuara, namun air mata sialan itu terus menurun dengan dahsyatnya. Air mata itu turun walau seberapa keras Dara menahannya.

Ia tak ingin dilihat Ji Yong dalam keadaan seperti ini. Ia tak ingin terlihat bagai gadis menyedihkan di hadapan pria yang telah menyakitinya. Namun apalah daya bila hanya ini yang dapat ia lakukan sebelum Ji Yong melakukan hal-hal lebih biadab dari apa yang telah ia lakukan terhadapnya. Bisa-bisa nyawanya lenyap beberapa saat lalu. Sejujurnya, seberapa ingin ia terlihat tegar di mata Ji Yong, ia tetaplah seorang gadis lemah dan rapuh apalagi jika harus berhadapan dengan pria itu lagi.

“Sandara!”

Il Woo. Pria itu tiba-tiba datang dengan membanting pintu, membuat Dara dan Ji Yong menatap ke arahnya. Pandangannya nyalang, tertuju pada Dara yang saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Rahangnya mengeras. Tak perlu menanyakannya pun, ia mengetahui Ji Yong telah berbuat macam-macam terhadap tunangannya.

Dengan langkah lebar-lebar ia mendekati gadisnya, menyingkirkan Ji Yong yang sedang membeku karena menghalangi jalannya. Ji Yong yang hanya bisa terdiam hampir tersungkur karenanya. Il Woo membuka jasnya untuk segera dipakaikan asal pada tubuh Dara. Ia meneliti, gadis itu bahkan tak sanggup berbicara dan hanya bisa menangis dengan pandangan kosong. Hatinya berdesir ngilu melihat keadaannya saat ini.

Dengan sigap, Il Woo merangkul pundak Dara untuk berjalan di sampingnya. Ia harus segera mengantar gadis itu pulang atau setidaknya menjauh dari tempat ini, hanya itu yang berada di pikirannya. Namun sebelum langkahnya terlalu jauh bersama Dara yang kini berjalan di sisinya, ia menoleh ke belakang untuk melihat Ji Yong yang masih terpaku menatap punggung Dara yang mulai menjauhinya.

“Maaf, Ji Yong-ssi, ku rasa kita sebaiknya batalkan saja rencana kerjasama antar perusahaan. Kau tahu itu tak akan berjalan dengan baik jika melibatkan perasaan pribadi,” Il Woo hendak melangkah, namun segera ia urungkan karena teringat sesuatu hal yang sebaiknya ia utarakan saat ini juga, “Menjauhlah dari Dara, dia tunanganku.”

*****

Tubuh gadis itu terlentang di ranjang kamarnya dengan selimut putih tebal yang membungkus. Beberapa saat lalu pakaiannya telah ia ganti dan kini ia hendak beristirahat dengan tenang. Ia tak ingin memikirkan apapun lagi saat ini, pikirannya terlalu rumit. Yang ia ingin lakukan hanyalah segera beristirahat karena kepalanya pening yang membuatnya mual setelah cukup lama menangis.

Hari menjelang sore ketika seseorang memasuki kamarnya seraya membawakan cangkir yang mengepul asap di atasnya. Ia kemudian duduk di pinggir ranjang dengan pandangan teduh khas. Il Woo. Dengan isyarat gerakan, pria itu menyuruh Dara untuk bangun dan meminum hot chocolate buatannya. Dara dengan patuh menurut, masih dengan suasana hening yang tercipta di antara mereka.

“Terima kasih,” suara serak Dara melantunkan dua kata itu untuk Il Woo dengan senyum manis yang setengah dipaksakan.

Hati Il Woo berdesir miris melihat kondisi Dara saat ini. Semenjak kejadian tadi siang, gadis itu tak henti-hentinya menangis dalam diam. Tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya. Il Woo tahu Dara tengah mengalami guncangan berat kali ini dan ia menyesal untuk itu. Ia merasa semua kejadian buruk yang menimpa gadisnya hari ini adalah tanggungjawabnya. Ia bersalah karena telah meninggalkan Dara.

Il Woo tahu bahwa Ji Yong akan datang, namun ia sama sekali tak menyangka bahwa pria itu akan datang lebih awal dan memberitahunya mendadak saat masih berada di pabrik. Setelah mengetahui itu, Il Woo segera berlari dan melajukan kendaraannya bagai kesetanan dan ugal-ugalan. Ia juga berusaha menghubungi Dara, namun sialannya tak ada panggilannya yang dijawab oleh gadis itu. Pria itu menggeram sepanjang jalan dengan klakson yang ia bunyikan memekakan telinga ke setiap mobil lain yang menghalanginya.

Perjalanan dari pabrik ke kantor bagaikan neraka baginya. Ia hanya ingin segera sampai agar bisa melindungi Dara dari pria itu. Andai saja ia tahu Ji Yong akan datang lebih awal, maka ia sudah pasti tak akan meninggalkan Dara di kantor dan mempertemukannya pada pria yang sangat dihindarinya hingga kini. Hukumlah ia yang telah menyebabkan Dara pada kondisi terpuruk! Sungguh, ia tak bermaksud sama sekali untuk menyakiti hati gadisnya.

Mianhae…”

Pandangan Il Woo tertunduk setelah mengucapkan satu kata itu. Sungguh, berbagai penyesalan kini menggerogoti hati dan pikirannya hingga hanya kata itu yang dapat ia ucapkan. Dara melihat itu dengan tatapan sedih, ia tahu Il Woo menyesal namun menurutnya itu bukanlah kesalahannya sama sekali. Dara mengetahui bahwa Il Woo pun tak bermaksud untuk melukai hatinya.

Kenyataan lain membuat hati Dara lebih berdenyut ngilu, seorang pria di hadapannya yang tulus mencintainya dan saat ini berstatus sebagai tunangannya sedang bersedih hati karena telah mempertemukan ia dengan seorang pria masa lalunya yang masih ia cintai hingga kini. Dara memejamkan mata, bulir bening itu turun lagi membasahi pipinya. Ia merasa menjadi manusia paling terkutuk dan berdosa karena telah menyia-nyiakan hati tulus Il Woo padanya.

“Aku yang seharusnya minta maaf karena telah membuatmu bersedih,” pria itu hendak bersuara ketika gerakan tangan Dara menghentikannya, “Maaf telah membebanimu dengan semua masalahku. Kau tak seharusnya mengetahui hingga berada di lingkaran masa lalu kelamku, Il Woo-ya. Kau adalah pria yang baik, sangat baik.”

Pikirannya tak henti mengulang kejadian tadi siang. Umpatan-umpatan yang dikatakan Ji Yong membuatnya tersadar bahwa pria itu menyimpan luka yang teramat besar semenjak kepergiannya. Setelah mengingat lagi dengan baik, Dara menyadari bahwa Ji Yong tidak bermaksud membunuhnya. Buktinya pria itu hanya menggunakan salah satu tangannya untuk mencekik. Cengkeramannya juga tak terlalu kuat hingga tak menimbulkan bekas di lehernya walau sempat menyesakkan pernapasannya.

“Mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk aku mengutarakannya. Namun ku kira dengan melihat pengorbananmu selama ini hingga kau bahkan harus mengorbankan semua perasaan tulusmu demi gadis bodoh seperti diriku, izinkanlah aku untuk membalasnya,” ada jeda yang cukup lama sebelum Dara melanjutkan, “Aku ingin menetap pada hatimu Il Woo-ya. Izinkanlah aku menjadikanmu rumah yang nyaman untuk tempatku pulang dan bernaung. Kutuklah aku yang dengan tak tahu diri telah egois berpaling padamu meski ku tahu rasaku pada pria lain belum padam sepenuhnya. Cercalah aku yang selama ini menjadikanmu pelampiasan dengan segala rasaku yang masih tak tentu. Namun kali ini aku yakin untuk bersama denganmu menghabiskan seluruh sisa usiaku. Maukah kau menerima hati yang hina ini dan mencoba membantuku agar aku sepenuhnya bisa menatap padamu?”

Hal yang pria itu lakukan di detik berikutnya adalah merengkuh Dara pada dekapannya. Tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaaan membuncahnya saat ini. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, pengakuan itu datang juga dari bibir gadisnya. Dara akhirnya bersungguh-sungguh untuk membalas perasaannya. Pandangannya berbinar kini, ada rasa haru yang menyelimuti hingga mungkin saja ia menangis saat itu juga. Begitu pun dengan Dara yang kini tengah menangis di pelukan Il Woo.

“Bolehkah aku memiliki satu permintaan?”

Il Woo melepas pelukannya mendengar Dara berbicara, “Apa itu?”

“Izinkan aku berdamai dengan masa laluku,” Dara menjeda sejenak, “Aku tahu permintaan ini tak masuk akal dan mungkin membuat hatimu tambah tersakiti, namun aku janji inilah permintaan terakhirku sebelum aku benar-benar fokus denganmu. Ampuni aku Il Woo-ya, namun aku merasa bersalah karena telah mengubahnya menjadi pria picik seperti sekarang. Keputusanku untuk meninggalkannya adalah awal dari masa terpuruknya pria itu. Walaupun kesalahan pria itu masih membuatku takut untuk berhadapan dengannya lagi, namun aku sadar bahwa tak hanya aku yang tersakiti selama ini, namun juga dirinya. Anggaplah aku tolol karena berpikiran demikian dengan perlakuan biadabnya padaku, namun itulah yang aku rasakan. Izinkan aku menemuinya untuk terakhir kali.”

Manik hazel itu basah, bisa Il Woo lihat pancaran cinta yang masih besar dari gadisnya terhadap Ji Yong. Sungguh Tuhan, apakah ia salah dengan bersikap egois jika masih ingin bersama Dara? Ingin memiliki gadis itu hanya untuknya sementara perasaan gadis itu yang masih besar pada pria masa lalunya, “Kembalilah padanya jika itu yang kau inginkan, Dara-ya.”

Mata Dara membulat, tak percaya dengan apa yang terlontar dari mulut pria di hadapannya, “Tidak, Il Woo-ya!” Dara bereaksi keras, “Sungguh, ini akan jadi kali terakhir aku menemuinya. Aku tak ingin terkungkung dalam seluruh bayangan masa lalu kelam tentangnya, biarkan aku untuk berdamai dengannya. Akan ku akhiri semuanya dengan cara yang lebih baik. Setelah itu aku janji akan memantapkan hati padamu.”

Lengkungan senyum miris menghiasi wajah Il Woo. Di balik kebahagiaan karena Dara telah memilihnya, ia sadar bahwa gadis itu rapuh dan terluka, “Kau masih mencintainya, tak sadarkah kau dengan itu? Kalian bahkan saling mencintai. Mungkin di sini hanya aku yang memaksakan kehendak dan menambah beban bagimu.”

Tangan Dara terulur untuk meraih tangan Il Woo, menggenggamnya dengan penuh kesungguhan, “Tak ingatkah kau dengan janjimu? Kau akan membantuku untuk menghapus namanya hingga nantinya yang ku lihat hanya ada kau seorang. Bantulah aku, Il Woo-ya. Percayalah padaku, aku telah memilihmu.”

Il Woo tersenyum sebagai jawaban. Biarlah ia egois kali ini, ingin memiliki Dara sepenuhnya walau ia tahu bagaimana perasaan gadis itu yang masih mencintai pria lain. Apapun yang ada di benak Dara saat ini, biarlah Il Woo menjadi egois dan tidak peduli. Ia hanya yakin pada kesungguhan Dara. Kesungguhan gadis itu yang telah memilihnya.

“Baiklah jika itu maumu. Setelah kau selesaikan urusanmu dengannya, aku akan membantumu untuk lebih memantapkan hatimu padaku,” Il Woo menghela napas dengan pancaran mata kesungguhan, “Aku akan menikahimu, Dara-ya. Aku berjanji.”

*****

Seoul, May 2015

Kakinya baru saja menginjak bumi, keluar dari mobil sport mewahnya. Dengan jas yang tersampir asal di bahu serta dasi yang menggantung di leher ia melangkah memasuki pekarangan rumah untuk masuk ke dalamnya. Beberapa hari ini bebannya tambah berat saja, terlebih setelah dua minggu yang lalu ia bertemu dengan gadis itu. Dara. Sampai saat ini ia masih mengutuki dirinya karena hampir melenyapkan nyawa gadis yang masih disayanginya. Bodoh! Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga berbuat demikian?

Terkutuklah ia yang tak bisa menahan kendali saat bertemu dengan gadisnya! Tapi tunggu, gadisnya? Ia bahkan telah bertunangan dengan pria lain. Seringaian itu muncul lagi, Ji Yong mengacak-acak rambutnya frustasi seraya mengumpat. Aish, teringat dengan kejadian itu membuat kepalanya pening hingga rasanya ingin ia benturkan saja ke arah tembok.

Ji Yong memutuskan untuk pulang dari kantor ketika hari telah berganti menjadi malam. Dari matanya yang lelah, ia saat ini bisa melihat Seo ahjumma, wanita paruh baya yang bertugas untuk mengurus rumahnya berdiri di ambang pintu dengan tampang gelisah. Dahinya mengkerut, melirik sekilas arlojinya yang telah menunjukkan pukul 9. Aneh, biasanya wanita itu telah pulang sekitar dua jam yang lalu.

Waeyo?” tanya Ji Yong setelah berhadapan dengan Seo ahjumma.

“Ada… tamu di dalam.”

“Siapa?”

Kepala Seo ahjumma tiba-tiba tertunduk, jarinya tertaut satu sama lain. Kegelisahan terlihat jelas membuat Ji Yong bingung setengah mati.

“Siapa, ahjumma?” tanya Ji Yong dengan nada yang sedikit meninggi.

Jawaban yang terlontar dari mulut Seo ahjumma selanjutnya membuat tubuh Ji Yong membeku, melumpuhkan seluruh syaraf yang bekerja pada otaknya. Tangannya tiba-tiba mengepal, giginya bergemeletuk menandakan amarah yang tiba-tiba merayapi tubuhnya. Hal yang ia lakukan sebelum melangkah masuk ke dalam adalah meneriaki Seo ahjumma dan mengusirnya untuk segera pulang.

*****

To be continued…

Advertisements

22 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #7

  1. Itu yang jadi tamunya Jiyong eommanya Jiyong sendiri bukan sih?? makanya sampe bentak bentak Seo ahjumma gitu kan kasian. Semoga Dara unnie bisa nentuin keputusannya dengan tepat dan bisa ngebuat dirinya sendiri bahagia dengan keputusan yang diambil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s