HELLO BITCHES [Part. 8]

seung-ri-e28093-vvip-officidal-pics-from-daum-5

Author: Zhie | Main Cast: Sandara Park (2Ne1), Kwon Jiyong (Bigbang) | Support Cast: Lee Junki (Actor), Goo Junhee (Actress), All Member 2Ne1, All Member Bigbang, Lee Soohyuk (Model), Kwon Dami | Genre: Romance, Adult| Rating: NC-17 (Maybe 😛 | Lenght: Series

~~~

Annyeong. ^.^/ Hello Bitches muncul ge hari ini. Btw… nyinggung dikit di part. sebelumnya yang masih rada bingung napa Dara masih bisa sadar padahal  dia dicekokin ma obat perangsang >>> karena beberapa obat perangsang nggak memiliki dampak untuk ngilangin kesadaran (Ini setelah tanya ma mbah google loh ya hehe). So, Happy Reading! >.<

~~~

Guyuran air dari shower begitu terasa menyejukkan bagi Dara, ia tengah membasahi seluruh tubuhnya- membersihkan diri dengan pikirannya yang masih berkelana- mencoba kembali mencerna apa yang baru saja ia bicarakan. Itu seperti- sebuah penawaran? Sebuah perjanjian? Sebuah ikatan kontrak? Bibirnya tersungging singkat, itu masih terasa lucu baginya.

Flashback

“Aku hanya memerlukan dirimu untuk berada disisiku sekarang.”

“Mwo?” Dara mengerutkan keningnya tak mengerti- seakan apa yang ia dengar berasal dari bahasa planet di luar muka bumi ini.

“Apa aku harus mengulangnya?” tanya Jiyong yang masih belum mengubah posisinya- menahan Dara tetap berada di bawahnya- menatap intens.

Dara mengerjap. Ia mengalihkan pandangannya dari Jiyong- mencoba untuk berpikir sejenak, karena tatapan Jiyong membuat otaknya berhasil membeku seketika.

“Ehm… mmmm… ehm…” Dara memasang tampang seriusnya sekarang- serius menatap leher sexy Jiyong, lalu beralih ke bahu lebarnya, dan kemudian tertahan di dada yang terlihat bidang baginya, dan akhirnya… “Glek.” menelan ludah- ia gagal untuk kembali membuat otaknya berpikir jernih, “Aku menyerah, aku benar-benar tak mengerti. Ulanglah- obat itu membuat otakku melambat kurasa.” ucapnya kali membuat Jiyong mau tak mau kembali menghela nafas panjang.

Jiyong pun akhirnya mengangkat kembali tubuhnya- memposisikan dirinya kembali seperti semula, duduk di kursi dengan kaki disilangkan dan kedua tangan yang terlipat sempurna di dada. Itu masih terlihat menggiurkan bagi Dara.

“Oh, Tuhan! Kenapa ia tampak berbeda, eoh? Ia selalu terlihat hot dengan apapun yang ia lakukan, dan ini kembali mengecewakan karena ia menarik dirinya begitu jauh sekarang.” batin Dara mendesah.

“Bangunlah. Aku akan menjelaskannya.” ucap Jiyong kemudian- Dara menurutinya tak lagi berkomentar,  “Aku memerlukanmu untuk berada disisiku, itu berarti aku membutuhkanmu untuk terus ada bersamaku.”

“Mwo?” Dara masih tak paham.

“Aku butuh bantuanmu Sandara, karena itu beberapa hari ini aku terus mencarimu.”

“Terus mencariku?” gumam Dara mengingat sesuatu, “Tunggu. Apa kau pria yang dimaksud Bom?”

“Bom?”

“Ne. Wanita berambut merah yang juga rekan seprofesiku sekaligus sahabatku, kau tahu? Ia juga salah satu yang termahal di Octagon.

“Ah. Ne.” Jiyong menggangguk, “Aku sempat bertemu dan bertanya langsung dengannya tentang keberadaanmu, tapi ia tak menjawab dengan jelas… ia selalu mengatakan kau belum datang, kau tak kan datang hingga akhirnya aku memutuskan untuk selalu datang dan menunggumu setiap malam.” jawab Jiyong kali ini membuat Dara semakin tak mengerti apa yang diinginkan Jiyong sebenarnya.

“Kenapa?”

“Apanya?”

“Kenapa kau mencariku? Kau tidak membutuhkanku untuk melayanimu tapi kau mengatakan kau membutuhkanku untuk terus bersamamu? Kau-“ Dara sejenak menatap Jiyong lekat, “Kau tidak jatuh cinta padaku, kan?” lanjut Dara kali ini mampu membuat Jiyong hampir terjatuh dari duduknya.

“Ya! Itu tidak mungkinkan?” elak Jiyong kali ini tegas, membuat Dara bernapas lega.

“Huft. Syukurlah, karena jujur aku paling tidak suka jika ada seseorang yang tidak kukenal tiba-tiba menyatakannya- itu memuakkan. Itu seperti pria brengsek yang mencoba menjerat hanya agar ia dapat meminta secara gratis dengan alasan satu kata yaitu cinta. Cih! Bahkan itu terdengar lebih murahan.” cuap Dara kembali pada mode cerewetnya, membuat Jiyong lagi-lagi mencoba untuk lebih bersabar- menahan keinginannya untuk meledak.

Satu fakta yang kini Jiyong dapat : Dara tidak jauh berbeda dengan Dami- kakaknya.

Sigh.

“Baiklah. Bisa aku lanjutkan?” tanya Jiyong berusaha kembali ke topik semula.

Dara mengangguk, “Silahkan.”

Jiyong menghela nafas sejenak- berharap Dara akan langsung mengerti dengan penjelasannya kali ini, “Sandara. Aku ingin memintamu untuk berada disisiku dan selalu bersamaku dalam beberapa hari ke depan karena sesuatu hal, dengan kata lain aku tetap akan membayarmu- bukan untuk melayaniku atau menikmati tubuhmu… tapi untuk terus ada di sampingku dan tinggal bersamaku.” Jiyong menjelaskannya dengan sangat pelan kali ini.

Dara terdiam- membisu.

5 detik

10 detik

15 detik

“Kau mengerti, kan?” tanya Jiyong kemudian saat Dara tak juga menanggapinya.

Dara kembali membalas tatapan Jiyong padanya- menatapnya dengan penuh selidik, karena itu benar-benar terdengar aneh baginya.

“Kau akan membayarku, bukan untuk tidur denganmu?” Dara bertanya frontal sekarang- Jiyong mengangguk, “Tapi kau membayarku, agar aku selalu ada di sampingmu?”

“Dan tinggal bersama denganku lebih lengkapnya.” Jiyong menambahkan.

“Wae?” Dara tak mampu lagi untuk menahan berbagai pertanyaan yang kini memenuhi pikiran, pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak dari sebelumnya.

“Karena itu yang kubutuhkan. Aku butuh seseorang yang dapat kutunjukkan dan kukenalkan pada seluruh keluarga besarku sebagai pacar.”

“Mwo?”

“Sebagai wanitaku tepatnya.”

“Kau bercanda?”

“Anio. Aku serius.” jawab Jiyong dengan jelas- Dara masih tak bisa memahaminya.

“Lalu, kenapa aku? Kau tahu siapa aku dan itu-“

“Aku tahu, aku tahu siapa kau dan apa profesimu… karena itu aku memilihmu, itu akan semakin mudah bukan? Aku hanya perlu membayarmu dan kau hanya perlu berakting- mendampingiku.” potong Jiyong dengan cepat menjelaskan.

“Tapi- tapi mengapa harus tinggal bersama?”

“Untuk lebih meyakinkan mereka.”

“Meyakinkan mereka untuk apa?” tanya Dara tak puas membuat Jiyong berdecak.

“Aigo. Kau begitu banyak bertanya.” sungut Jiyong tak berniat menjelaskan lebih dari itu.

“Ya! Bukankah aku harus tahu alasannya dengan jelas? Setidaknya kau beritahu aku lebih detail apa masalahnya, hingga kau memerlukanku untuk menjadi wanita sesaatmu.” ucap Dara bersikeras.

“Cih. Apa kau juga selalu bertanya seperti ini dan meminta alasan yang jelas kepada setiap pelanggan yang menyewamu, hah?”

“Mwo?” Dara tertegun, “A- Anio.” jawabnya kemudian.

“Karena itu berhentilah bertanya. Kau hanya perlu tahu bahwa aku akan menyewamu sebagai wanitaku dan kurasa harusnya itu cukup menjelaskan maksudku.” ucap Jiyong kali ini membuat Dara mengerucutkan bibirnya kesal.

“Apa-apan itu, hah?” gerutu Dara membuang muka dari Jiyong, “Bagaimana jika aku tak mau?” tanyanya kemudian.

“Aku akan membayarmu mahal.” jawab Jiyong dengan sikap tenangnya.

“Berapa kau sanggup membayarku?”

“Lima kali lipat dari yang biasa kau dapatkan dari seorang pelanggan.”

Seketika Dara kembali melihatnya, dan sesaat kemudian… “Ha ha ha, apa kau bercanda? Aku bahkan bisa menerima dua hingga empat pelanggan dalam satu malam dan itu masing-masing dari mereka membayarku dua hingga tiga kali lipat dan kini kau hanya mau membayarku lima kali lipat? Cih! Yang benar saja.” cuap Dara tak terima.

“Lalu berapa yang kau mau, hah?”

Dara mengeluarkan seringainya dan menunjukkan angka melalui jari-jari tangannya, “Sepuluh kali lipat untuk setiap harinya.”

Jiyong tersentak, “Mwo?”

“Mungkin dengan begitu aku akan mempertimbangkannya.” ucap Dara santai, ia mulai menguasai dirinya sekarang… karena jika bertemu dengan kata uang- jangan harap Dara akan mengalah. Menjatuhkan harga jualnya? Itu tidak ada dalam kamusnya.

“Bukankah itu keterlaluan? Aku bahkan tidak akan menyentuhmu, Sandara.”

“Jika pun pada akhirnya kau tergoda untuk menyentuhku- maka itu akan bertambah, Tuan. Bahkan jika itu dihitung-hitung… harusnya itu lebih murah, kenapa? Karena kau ingin aku tinggal denganmu dan itu pastinya menyita seluruh waktuku- kau membeli waktuku 24 jam penuh. Aku rasa itu harga yang pantas… atau harusnya aku memintamu lebih mahal karena bila aku kalkulasi lagi dalam semalam dan itu hanya memerlukan waktu enam hingga tujuh jam aku telah mampu mengumpulkan enam hingga tujuh kali lipat dari dua atau tiga pelanggan sementara kau- aku hanya memintamu sepuluh kali lipat, itu telah kuperhitungkan karena aku tidak perlu melayanimu atau sejenisnya, jadi kupikir… itu harga yang pantas kuterima. Tentu saja itu tidak termasuk biaya makan dan transportku bila nanti aku tinggal denganmu, kau harus menanggungku untuk itu… sepuluh kali lipat dalam sehari, aku ingin itu kuterima bersih.” jelas Dara dengan panjang lebar membuat Jiyong hanya bisa ternganga akan perhitungan yang telah ia jabarkan.

“Kau gila.” desis Jiyong tak habis pikir bagaimana wanita di hadapannya kini terlihat begitu terobsesi akan uang, walaupun tak bisa dipungkiri- memang wanita seperti itulah yang ia butuhkan agar nantinya tidak larut akan perasaan.

“Omo. Aku tidak akan memaksamu bila kau tak sanggup untuk membayarnya, kau bisa mencari wanita bayaran yang lain. Itu mudahkan? Lagipula aku yakin- akan ada beberapa yang bahkan dengan sukarela secara gratis menawarkan diri menjadi wanitamu. Tapi maaf- itu bukan aku, walaupun jujur kuakui… kau cukup menggiurkan tapi tanpa adanya uang, aku akan sebisa mungkin menahan diri.” ucap Dara cukup terbuka untuk ini.

Jiyong masih menatap lekat dirinya, dan Dara berusaha keras untuk tak kembali goyah hanya karena tatapannya.

“Kau benar-benar mahal, neh.” gumam Jiyong akhirnya.

Dara tersenyum bangga, “Neh… dan kau akan menyesal karena tak ingin menikmatiku.” ucap Dara yang di balas Jiyong hanya dengan senyuman singkat, tapi seketika mematikan aliran oksigen di tubuh Dara.

“Ouch. Shit! Tahan harga dirimu, Dara… tidak- untuk melompat padanya.” rutuk Dara dalam hati mengingatkan dirinya yang lain- yang kini tengah berjuang untuk menghentikan hasrat gilanya.

“Baiklah. Aku rasa kita harus menghentikan pembicaraan ini sejenak- bersihkanlah dirimu dahulu, sementara aku membuat sarapan. Lagipula aku juga harus membersihkan sisa-sisa keliaran dirimu semalam.” ucap Jiyong yang kini telah berdiri dari duduknya- menatap pecahan kaca yang menghiasi lantai di sudut kamarnya.

“Ah. Araesso. Mian, untuk itu… aku akan membantumu?” tanya Dara kemudian akan beranjak dari posisi duduknya tapi Jiyong dengan cepat menahannya.

“Anio. Kau akan terluka- biar aku yang melakukannya.”

“Mwo?”

Jiyong menunjuk ke kakinya yang masih menggunakan sepatu yang bahkan tak sempat ia lepaskan semalam, “Aku akan aman karena itu, sementara kau… kau telah membuat sepatumu terbang ke segala arah. Jadi pergilah langsung membersihkan diri.” ucap Jiyong akhirnya- membalikkan posisi tubuh Dara menghadap ke arah lain, di mana itu menuju pintu yang akan langsung membawanya ke kamar mandi.

“Baiklah kalau begitu.” gumam Dara lirih- menurutinya, ia pun beringsut meninggalkan tempat tidur dan berniat menanggalkan bedcover  yang masih melilit tubuhnya tapi belum sempat itu ia lakukan…

“Ya! Bawa itu bersamamu- jangan lepaskan.” Jiyong dengan cepat mengingatkan.

“Wae? Apa kau takut tergoda, hah?” cuap Dara kali ini membuat Jiyong hanya mampu menggelengkan kepalanya.

“Kau jangan berharap untuk bermain denganku, Sandara.”

“Cih! Kau memang benar-benar pria suci, eoh? Tapi ngomong-ngomong, bagaimana aku harus memanggilmu? Aku baru sadar kita bahkan belum memperkenalkan nama satu sama lain. Benarkan?”

“Ne. Kau benar.” ucap Jiyong yang juga baru menyadarinya, “Kwon Jiyong.”

“Kwon Ji- yong?” ulang Dara mengeja namanya yang entah kenapa ia yakin akan lebih sering mengucapkannya nanti.

“Ne. Kau bisa memanggilku Jiyong.”

“Ah. Jiyong? Araesso… sementara aku Sandara- Park Sandara, tapi kau bisa memanggilku hanya dengan Dara.”

“Ah. Ne.”

“Baiklah, aku akan pergi mandi sekarang dan jujur akan aneh membawa ini bersamaku untuk pergi ke sana. Jadi-”  Dara sengaja menggantungkan kalimatnya saat ia benar-benar menanggalkan bedcover itu dari tubuhnya, membiarkan tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam kembali terekspos sempurna- membuat Jiyong hanya berdecak melihatnya.

Fakta kedua yang Jiyong dapat : Dara tak akan selalu menurut padanya.

Jiyong baru akan mengalihkan pandangannya saat tiba-tiba sesuatu berwarna hitam dengan cepat mendarat dan menutupi pandangannya. Ia meraihnya- memperhatikannya. Sebuah benda berbahan kain lembut dengan dua cup ditengahnya dan memiliki tali serta pengait di setiap sisinya membuat mata Jiyong membulat otomatis saat menyadarinya.

“Ops. Mianhe, Jiyong-ah­­… aku tidak tahu kalau itu akan melayang padamu. Mianhe, neh.” ucap Dara yang lebih terdengar seperti godaan dari pada permintaan maaf.

Seketika Jiyong melihat ke arah Dara yang kini hanya menutupi dadanya dengan kedua tangannya, “YA! SANDARAAAAAAA. BERHENTI BERMAIN-MAIN, NEH!” pekik Jiyong menggelegar di setiap sudut ruang, membuat Dara hanya terkikik- mencibir- dan dengan cepat melesat masuk ke kamar mandi yang telah Jiyong tunjukkan sebelumnya.

Fakta ketiga : Dara akan selalu menggodanya, tanpa perduli bagaimana kesalnya ia.

=To be continued=

Prolog | | 2 | 3 | 4 | 5 | 6| 7

<<back  next>>

Untuk di part. kali ini full author pov hehe… So, kajja kembali tinggalkan jejak. Hengsho. ^.^/

Advertisements

48 thoughts on “HELLO BITCHES [Part. 8]

  1. aigoooo dara eonni sepertinya jatuh cinta pada jiyong oppa, tapi dia masih memikirkan uang, padahal kalau misalkan dara eonni bisa merebut hatinya jiyong oppa dara eonni bisa lebih banyak dapet uang. uhh dara eonni goda terus tuh jiyong oppa hahahahah
    yang terakhir aku ngakak abis, bisa bisanya dara eonni menggoda jiyong oppa hahahah sabar ya oppa dara eonni emang diciptakan untuk menggodamu XD

  2. Astagaaa…Sandarapark nggak tau malu, genit bgt deh nggodai Jiyong keekeke…bikin ngakak bacanya 😄 dilempar kacamata 😄😄😄😄

  3. Boleh saran ga sih??? Buat author masih ada bbrapa kalimat yg sedikit baku mnrutku sbgai reader… mngkin pemilihan kata2nya kurang tepat sama kya di bbrpa chapter sblumnya. Sama pemakaian kata eoh sama neh nya jgn terlalu sering krna jatuhnya kaya aneh aja… contohnya kalimat “YA! SANDARAAAAAAA. BERHENTI BERMAIN-MAIN, NEH!” Lebih enak dibaca kalo nehnya diilangin.. lbih nunjukin kalo jiyong “memperingatkan” dara dg tegas… kalo penambahan neh mnrutku agak kurang pas…

    Sorry author sdh di bbrp chapter jd silent readers krna terlalu asik bacanya jd di next2 aja wkwk semangat terus bkin chap slanjutnya!!!

    Hwaiting!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s