MY BOY ~ That Vampire Sequel ~ [Oneshoot]

                                                                                            that copy

Title     :That Vampire sequel. My Boy

Author Defta

Cast     :Kwon Jiyong

             SanDara Park

            Kim Hanbin as Kwon Hanbin

Genre   :Romance, family, sad.

~~~

Wuh akhirnya selesai juga sequelnya, maaf lama.

Terimaksih komentarnya di FF That Vampir, jujur sebenarnya That Vampir saya mau buat Twoshoot tapi kalo digabung ceritanya gak nyambung. Jadi saya bikin sequelnya aja.

Happy Reading and RCL juseyo ….

~~~

2 buah keluarga tengah berkumpul bersama, bercakap-cakap dan saling berbagi cerita dan juga tawa, hingga 2 orang namja datang.

“Maaf kami terlambat”

“Kalian dari mana saja, kalian melewatkan banyak cerita lucu”

“Mianhae Dara-ah” salah seorang namja duduk disamping Dara.

“Eoh.. aku tak bisa membaca pikiranmu” Dara tiba-tiba berseru.

“Ne, aku juga” namja bermata panda bernama seungri ikut menimpali.

“aku juga” lanjut chaerin.

“Yeobo ?”  Eomma Dara menyenggol lengan suaminya.

Tn Park berdehem membuat semua orang fokus padanya. “Dara-ah beri Jiyong sedikit privasi, kemampuanmu itu bisa membuat Jiyong menjadi sebuah boneka, kau tau kau itu penyihir cantik yang permintaannnya tak bisa di tolak”

“APPA !” Dara merajuk membuat semua orang tertawa.

Jiyong memejamkan matanya, melepas protect brainnya sehingga Dara bisa kembali membaca pikirannya.

“Saranghae Dara-ah”

Dara terdiam, kemudian wajahnya memerah, semerah tomat.

“Hey Dara eonnie tersipu” Chaerin berseru.

“A…ani” Dara mencoba mengelak.

“Kau bohong Noona”

“Hya Seungri-ah kau adik kurang ajar “ Dara kembali merajuk membuat suasana kembali menjadi hangat akan tawa kebersamaan.

###

1 tahun kemudian.

“Kandunganmu baik-baik saja ?” Ny Park berbicara sambil menyodorkan segelas susu kepada Dara, perutnya sudah membuncit.

“Em, gwomawo eomma” Dara meminum susu yang diberikan padanya. “Dimana Appa ?”

“Dia ke Jepang pagi ini, dia tak bilang padamu ?”

Dahi Dara berkerut “Ani, untuk apa Appa kesana ?”

Ny Park hanya terdiam tak menjawab pertanyaan eommanya.

 Kedua orang tua Dara memang kebal akan kekuatan Dara, Dara tak bisa membaca pikiran ataupun memberi sugesti kepada orang tuanya.

“Eomma ?”

“DARA-AH” sebuah teriakan terdengar sangat menggelegar, diiringi nafas yang memburu menahan amarah.

“Jiyong Oppa ?” Desis Dara, iapun berdiri dan melihat kearah pintu.

#BRAK sebuah pintu lepas dari engselnya kerena seseorang membukanya dari arah yang belawan dengan seharusnya.

Pria yang membobol pintu itu terdiam di daun pintu melihat yeoja dihadapannya.

“Eomma akan pergi dulu” Ny Park bersuara diantara keheningan sepasang suami istri itu.

“Oppa.. aku… aku bisa…” Dara tergagap, antara takut, menyesal, ragu, dan gugup.

Jiyong berjalan dengan perlahan sambil berusaha mengontrol emosinya yang meluap-luap, setelah sampai dihadapan istrinya ia memeluk Dara dan mengecup puncak kepalanya.

#FLASHBACK.

“Aegy-ah mianhae, eomma harus merahasiakan keberadaannmu” Dara tengah mengikat perutnya dengan sebuah korset, membuat perutnya yang sedikit menonjol menjadi lebih rata.

“Chagi-ah ayo makan ma…..” Ny Park kaget ketika memasuki kamr Dara yang tidak terkunci, dan melihat perut Dara tang lebih menonjol.

“Eomma”

Ny Park berjalan kearah dara, kemudian menghentikan aktivitas dara. “Kau hamil sayang ?” senyum kebahagiaan terpancar dari wajah Ny park.

“Sudah berapa bulan eoh ?” Ny Park mengelus perut dara.

“Memasuki bulan ke 4 eomma”

“Apa ? buln ke 4, kenapa kau merahasiakannnya dari kami nak ?” wanitua itu mengelus surai panjang Dara.

“Eomma tolong, jangan bilang pada Jiyong oppa”

“Waeyo ? dia Appanya, dia harus tau kalau dia akan memiliki seorang anak”

“Aku takut ia tak akan menyetujuinya, dia masih trauma dengan putra abadinya, aku takut ia tidak akan menerima kehadiran anak ini karena ia takut anak ini menjadi anak abadi seperti putra abadinya” Dara menunduk dalam mencoba menahan tangis.

Ny Park mendesah. “lalu bagaimana kau akan menyembunyikannya eoh ? prutmu akan semakin besar dan Jiyong akan menyadarinya”

“Kenapa kalian lama sekali” Park JinYoung tiba-tiba datang. Sama halnya dengan Ny Park ia juga syok melihat dara.

“Appa, kumohon bantu aku, Appa pernah bilang akan menuruti semua keinginanku kan !, tolong Appa sembunyikan kehamilanku dari Jiyong oppa, aku mohon” Dara menggenggam tangan Appanya sambil menagis.

Dara kemudian menceritakan kehidupan kelam Jiyong kepad kedua orang tuanya.

“Aku datang” Jiyong berseru ketika memasuki rumah mertuanya, Dara bilang ia akan kerumah orangtuanya jadi Jiyong datang untuk menjemput istriya itu.

“Oh Jiyong-ah kau datang, ayo masuk” Ny Park menyambutnya dengan ramah.

Mereka berkumpul diruang keluarga.

Jiyong duduk disamping Dara kemudian mengamati wajah Dara yang sedikit pucat.

“Chagiya kau kenapa ? kau pucat apa kau sakit” ia menaruk telapak tangannya di dahi Dara.

“Aniya, aku baik-baik saja” Dara meningkirkan tangan Jiyong dari dahinya.

“Ah Jiyong beruntung kau datang, bisakah kau membantuku ?” Tn Park datang dengan tumpukan kertas di tangannya.

“Waeyo Abonim”

“Kau seorang arsitek bukan ? aku ingin membangun sebuah gedung di Jepang, tetapi arsitek yang aku kenal sudah memiliki job, dan aku tak mau menyerahkan proyek ini kepada sembarang orang”  Tn Park menyerahkan tumpukan kertas itu pada Jiyong.

“Gedung 20 lantai ?”

“ne, nantinya akan menjadi pusat perbelanjaan, atas nama kalian berdua, ini hadiah pernikahan kalian, sebenarnya akan kuberitahu setelah gedungnya jadi, tapi tak ada arsiteknya, jadi….”

“Aku akan melakukannya” Jiyong berseru. “Dara-ah bolehkah ?” ia menoleh kearah dara.

“Tentu, berapa lama itu oppa ?”

“Em mungkin 5 bulan akan selesai, kenapa  apa terlalu lama ?”

“Ani, jangan terlalu terburu-buru, buat gedung yang indah eoh”Dara tersenyum dalam hati, kemudian memeluk pinggang Jiyong.

#FLASHBACK END

“Kalian membohongiku” Nada Jiyong merendah, bahkan sedikit terkikik.

Dara memeluk tubuh Jiyong“Mianhae hiks hiks” Dara mulai terisak. “Kau pasti membenciku, aku menginginkan seorang anak dalam pernikahan kita.”

Jiyong melepas pelukan dara.

“Kita bisa mengadobsi anak, aku tak mau mengambil resiko kehilangmu dara-ah”

“Tapi aku ingin anak yang aku kandung sendiri hiks” Yeoja itu masih tetap terisak.

“Lalu kau ingin mempertaruhkan nyawamu hanya untuk melahirkan ? kau ingin meniggalkanku ? kau egois Dara ” Nada yang Jiyong lontarkan terengar penuh dengan penekanan.

“Aniya oppa.. aku tidak bermaksud..”

Jiyong menyela perkataan Dara  “Apa ? Kenapa kau tidak memahamiku Dara-ah aku tak ingin kehilanganmu, aku…”

“Kau yang tidak memahamiku” Dara menjerit dalam tangisnya. “Kau yang egois, aku tak akan mati, aku akan tetap hidup bersamamu dan anak kita nanti, kau yang seharusnya mengerti akh…” Dara menjerit kesakitan sambil memegang perutnya.

“Dara-ah kau kenapa …. Chagiya…” Jiyong ikut panik dibuatnya.

“OMONIM….” Jiyong berteriak memanggil ibu mertuanya.

“Akh Oppa… appo…. hiks” Dara menjerit sambil menangis.

“OMONIM !!”

“Waey… Dara-ah…..”

###

Suara tangis menggema diseluruh penjuru rumah yang tergolong mewah.

“Dia sangat tampan” Puji Bom yang sekarang tenggah menggendong bayi Dara dan Jiyong.

“Dia mirip Jiyong” Seunghyun menimpali.

“kwiyopta” ucap Chaerin sambil mencubit pipi bayi itu.

“Hanbin-ah….” Seungri memanggil nama dari sang bayi.

“Kemana Jiyong ?” Bom bertanya pada Dara yang sibuk menata baju-baju kecil milik Hanbin.

“Diruangannya” Dara membalas dengan nada datar.

Chaerin mendesah “Masih tidak mau menggendong Hanbin ?”, Dara mengangguk lemas.

“Kita harus memahaminya juga, ingat dulu Jiyong sangat menyayangi Minho, bahkan dia sendiri yang mengurus segala keperluan Minho, hingga Minho berhenti tumbuh di usia 6 tahun dan membuat keributan. Surat peringatan untuk membunuh Minho akhirnya turun, dan akhirnya Jiyong sendiri juga yang membunuh putra kesayangannya itu, mungkin ia takut hal itu akan terulang, jadi ia mencoba untuk tidak terlalu menyanyi Hanbin, agar nanti jika terjadi sesuatu pada Hanbin, Jiyong tidak kehilangan seperti dulu.” Seunghyun berbicara dengan bijak.

Bom ikut mendesah “Benar juga”

“Apa aku boleh bertanya ?”

“Tentu, apapun Noona selama kami bisa menjawabnya.” Seungri tersenyum hangat.

“Keributan apa yang dibuat Minho ?”

“Siapa yang mau menjelaskan ?”

Chaerin berseru “Aku, aku saja” Chaerin mengambil jeda beberapa detik. “saat berusia 6 tahun, minho masuk ke sekolah umum, karna masa itu belum ada sekolah khusus vampir seperi sekarang ini.keributan pertama Minho adalah meminum darah gurunya sendiri. Jiyong oppa menyamarkan itu dengan memenggal kepalanya dan membuangnya ke jurang membuat seolah-olah guru itu mengalami kecelakaan dan masuk jurang. Keributan kedua sebenarnya bukan disebabkan minho sendiri, Klan pusat ,mengetahui bahwa Minho sudah berhenti tumbuh, Jiyong oppa meminta agar klan pusat memberi kelonggaran agar Minho tetap hidup, Jiyong oppa berjanji jika Minho membuat sebuah kesalahan ia sendiri yang akan membunuh putranya. Lalu Jiyong oppa mendidik Minho dengan sangat ketat membuat anak itu tertekan dan kemudian marah, kemarahannya ia lampiaskan pada semua teman sekelasnya, ia membuat kelasnya menjadi lautan darah, semuanya mati karna Minho. Jiyong oppa mengetahui hal itu, ia membunuh minho dikelas itu juga, agar terlihat sama, Jiyong oppa juga menghisap darah minho hingga mati. Kematian satu kelas karna sebuah gigitan akan membuat geger negara ini, jadi kami berinisiatif untuk membakar kelas itu.”

Dara meneteskan air matanya “Dia pasti sangat terpukul”

“Sangat, Jiyong hyung sering menyiksa tubuhnya, saat musim dingin ia akan membuat suhu tubuhnya sedingin es, saat musim panas ia akan membuat suhu tubuhnya sangat panas, ia juga sering meminum soju dan memecahkan botolnya dengan kepalanya” Prihatin seungri.

“Guys ini sudah sore, ayo pulang” Ajak Seunghyun.

“Benar” bom memberikan Hanbin kepada Dara.

“Eonnie kami pulang dulu”  ucap Chaerin.

“Ne, hati-hati di jalan”

Tak seperti biasanya, malam ini Hanbin sagat rewel, sejak petang Hanbin terus menangis, badannya juga sedikit panas membuat Dara sangat khawatir, ia hampir terisak karnanya.

“Kau belum tidur ? ini sudah jam 10 malam” Jiyong datang dengan segelas susu di tangannya.

“Belum, Hanbin terus menangis, aku tak tau apa yang di inginkannya, badannya juga panas” ucap Dara sambil memegang dahi Hanbin.

“minumlah, kau belum makan dari tadi siang” ucap Jiyong sambil menyodorkan gelas yang ia bawa.

“Gwomawo oppa” Dara mengambil dengan sebelah tangannya kemudian mearuhnya di nakas samping ranjang.

Jiyong duduk disamping Dara sambil menyingkirkan anak rambut yang menjuntai kewajah Dara, yeoja itu terlihat sangat berantakan sekarang.

Sebuah inisiatif muncul di kepala Dara. “Oppa tolong gendong Hanbin sebentar, aku ingin meminum susu yang kau bawa”

“Kenapa harus aku ? aku tidak…” Jiyong mencoba menolak.

“Ayolah oppa, aku lapar, kau tak kasihan padaku ?” Dara memasang wajah memelas.

“Kau bisa menaruhnya di kasur”

“Dia akan tambah menangis”  Dara kembali memasang wajah memelas yang membuat Jiyong tak tega.

Yeoja itu tersennyum penuh kemenangan, lalu dengan hati-hati memindahkan Hanbin dari tangannya ke tangan Jiyong.

Sebuah keajaiban terjadi, Hanbin yang dari tadi menangis, kini diam seketika.

Dalam hati Dara melompat kegirangan, ia meraih susu yang tadi dibawa Jiyong dan meminumnya perlahan.

#TING TONG suara bel tiba-tiba berbunyi.

“Siapa yang datang semalam ini ?” Dara kembali bersyukur dalam hatinya. “Aku akan membukanya” Dara beralasan dan langsung keluar kamar, meninggalkan Jiyong yang tengah menggendong Hanbin.

Pintu besar itu mengayun terbuka dan kemudian menampakkan seorang pria paruh baya yang terlihat sangat khawatir.

“Appa !” seru Dara begitu mengetahui yang datang adalah ayahnya.

“Dara-ah apa Hanbin sakit ? perasaanku tidak nyaman”

“dia sedikit panas”

“Dimana dia ?” Tn Park menelisik kedalam rumah.

Dara meraih tangan Appanya kemudian berbicara dengan nada berbisik. “Appa, Hanbin sedag bersama Jiyong oppa, sejak lahir ini pertama kalinya Jiyong menggendong Hanbin, kumohon biarkan saja”

“Jinja” Tn Park membalas dnegan berbisik pula.

“Siapa yang atang Chagi ?” Suara Jiyog mengagetkan mereka berdua. “Oh Abomin, ada datang” lanjut Jiyong begitu tau yang datang adalah Appa mertuanya, ia membungkuk hormat walalu ia tengah menggendong Hanbin.

“Ne, ini aku, aku membawa obat herbal untuk Dara” ia menunjkkan tas kertas yang sedari tadi ia bawa. “urusanku sudah selesai aku akan pulang. Jaga diri kalian eoh” dan dengan itu Tn Park keluar dari rumah jiyng dan dara.

Dara membawa obat herbal yang diberi Appanya ke dapur, sengaja mengulur waktu.

“Apa Hanbin sudah tidur” Dara berjalan kearah Jiyong yang masih menggendong putra mereka itu. Jiyong mengangguk. “Tolong tidurkan dia di kasur, kemudian taruh tanganmu didahinya, seperi yang biasa kau lakukan saat aku demam”

“Memang kau mau kemana ?” Jiyong menuruti permintaan Dara, walau ia sebenarnya bisa saja menolak, karna ia memakai protect brain sekarang.

“Aku belum mandi sejak tadi siang, apa kau mau punya istri yang bau”

“Arraseo ! cepatlah”

Dara bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubunya, kembali ia sengaja memperlama durasi mandinya. Setelahnya Dara kembali ke kamar Hanbin untuk melihat suami dan anaknya.

Yeoja itu hanya memakai handuk kimono, dan rambutnya masih basah karna air. Dari belakang, Dara memeluk Jiyong.

“Gwomawo” bisiknya tepat di telinga Jiyong.

Jiyong membalikkan tubuhnya dan balas memeluk Dara, mereka berdua bertatapan untuk beberapa saat “Aku merindukanmu”

Pipi Dara bersemu merah. “Nado”.

Yang terjadi berikutnya adalah mereka saling berciuman satu-sama lain dan “Jangan disini yeobo” ucap Dara setengah terengah.

Jiyong menarik tangan Dara sambil tersenyum “Kajja”.

Tahun 2000

“Yeobo, tolong jaga Hanbin sebentar, aku harus membersihkan dapur” Dara menaruh Hanbin dalam pangkuan Jiyong, membuat mau tidak mau Jiyong memeluk perut Hanbin agar bayi berusia 2 tahun itu tidak jatuh.

“Tapi Dara….” Jiyong hendak protes tapi ia batalkan begitu melihat wajah Dara yang terlihat lelah.

“Saranghae” Dara tersenyum kemudian mengecup bibir Jiyong sekilas.

“Appa ppang.. Appa ppang…” (ppang 빵 = roti)

Jiyong berdiri sambil menggendong Hanbin dan menuju ke kulkas, Jiyong melihat kedalam kulkas, dan tidak menemukan Roti yang biasa Hanbin makan.

“Chagiya, dimana Roti milik Hanbin ? dikulkas tidak ada” tanya Jiyong sedikit berteriak.

“Jinja ?” Dara sedikit panik dan ikut melihat ke dalam kulkas. “Apa sudah habis ya ?, bagaimana ini ?”

“Eomma ppang… pppang…” Hanbin terus merengek.

“Rotimu sudah habis Hanbin-ah” Dara mengelus kepala Hanbin.

“Appa ppang… ppang…”

Jiyong mendesah. “Aku akan membelinya”

Wajah Dara berubah sumringah. “jinja ? tolong ajak Hanbin juga eoh aku masih sibuk”

Jiyong mengangguk kemudian meraih kunci mobilnya yang berada di meja ruang tamu.

“Saranghae” Teriak Dara saat Jiyong akan keluar dari rumah.

2005

“Tidak, anak itu tidak boleh masuk sekolah umum” Dengan nada bersungut-sungut, Jiyong berucap.

“Waeyo ? Dia belum meminum darah jadi apa yang kau takutkan ?”

Jiyong mendengus kesal. “Tidak ada sekolah umum, panggil seorang guru, guru terhebat di korea untuk mengajarnya dirumah, tak peduli dengan biayanya, dia akan tetap belajar di rumah”

“YEOBO !!” Dara berteriak.

“Sekali tidak tetap tidak” Jiyong berdiri dari posisi sebelumnya dan berjalan meninggalkan Dara yang terlihat kesal.

Seperti biasa, tak ada yang bisa melanggar keingian Jiyong, akhirnya Hanbin belajar di rumah dengan seorang guru nomor 1 di korea.

“Aku tidak mau belajar” Hanbin melempar semua buku yang ada di meja.

“Hanbin-ssi, kau harus belajar” Guru itu dengan sabar memberi pengertian.

“Aku bilang aku tidak mau…”

“Aku pulang” suara Jiyong menggema di dalam rumah, dia pulang cepat hari ini karna dalam hatinya ia ingin melihat Hanbin belajar. Tapi ketika kakinya memasuki rumah matanya melihat pemandangan yang sangat ia tidak suka.

Beberapa buku berserakan di lantai.

“KWON HANBIN !” Jiyong berteriak dengan murka.

“Kenapa kau tidak mau belajar” #PLAK PLAK PLAK Jiyong memukul kaki Hanbin dengan sebuah rotan.

“Hiks hiks hiks” Hanbin hanya bisa menangis.

Dara  tiba-tiba datang dan memeluk Hanbin “Yeobo apa yang kau lakukan ?”

“Jawab Hanbin-ah kenapa kau tidak mau belajar eoh !!” #PLAK PLAK namja yang tengah murka itu tetap memukul kaki putranya yang sudah membiru.

“Yeobo hentikan”  Dara meraih rotan di tangan Jiyong dan membuangnya ke lantai.

“Anak ini sendiri yang tidak mau belajar, maka aku yang akan mengajarinya sendiri”

“Yeobo dia bukan Minho, dia Hanbin, dia Kwon Hanbin, jangan samakan dia dengan Kwon Minho, mereka berbeda, mereka berbeda” Dara kemudian menggendong Hanbin yang masih menangis.

“Eomma siapa itu Minho ?” Dara tengah mnegobati memar Hanbin dengan beberapa tetes darahnya.

“Diam sayang, eomma akan mengobatimu eoh” Dara mencari aliby lain.

“Apa dia hyungku ?”

Dara hanya tersenyum menis. “Kenapa kau tak mau belajar ?”

“Aku …aku… hanya bosan, aku selalu sendirian, Hayi bilang dia punya banyak teman di sekolahnya, aku ingin seperti Hayi, aku ingin bersekolah bersama Hayi”

Dara menatap Hanbin dengan wajah kasihan “Eomma akan bicara dengan Appa, Eomma akan membujuknya”

“Jinja” Hanbin melompat senang kemudian memeluk ibunya.

Dara menuju  ruang kerja Jiyong, dimana namja itu sedang berada.

“Boleh aku masuk ?” Dara menyembulkan kepalanya.

“Masuklah” Suara Jiyong yang datar menyambutnya.

Dara menundukkan kepalanya sambil berjalan mendekat ke arah Jiyong. “Mianhae, aku terlalu emosi tadi, aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu aku hanya….”

“Gwaenchana, kau tak perlu merasa bersalah” Potong Jiyong.

“Tapi tetap saja aku bersalah” Dara kemudian mendongakkan kepalanya, “dan tentang Hanbin, bisakah dia masuk di sekolah yang sama dengan Hayi”

“Hayi ? Park Hayi ?” Jiyong mengerutkan dahinya.

“Ne, keponakkanku, dia putri Park Hanbyul dan se7en, dia bersekolah di sekolah khusus vampir di Busan, aku mengetahuinya seminggu terakhir, Hayi dan Hanbin sangat dekat, hampir setiap hari mereka berkomunikasi lewat telfon.”

Sunyi, keduanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing.

Suara lenguhan panjang terdengar dari nafas Jiyong “lalu kau akan bolak-balik Seoul-Busan setiap hari ?”

“Ne ?”

“Kalau Hanbin sekolah disana maka kau harus bolak-balik Seoul-Busan setiap hari ?”

“N..Ne”

“Berhenti menjadi dokter, dan aku akan mengizinkan Hanbin bersekolah disana”

Mata Dara membulat seketika. “Jinja ? baiklah aku akan mengajukan surat penguduran diriku besok”

“Kau tidak memikirkannya terlebih dahulu ?”

“Tidak perlu” Dara berhambur memeluk tubuh Jiyong. “Gwomawo…”

2015

Jiyong dalam perjalanan ke busan, untuk menjemput Hanbin, ya Dara memaksanya, Yeoja itu harus kejepang mengurus pusat pembelanjaan yang mereka miliki, ada beberapa masalah disana.

Jiyong sampai didepan Sekola Menengah Atas Hanbin. Ia menunggu beberapa jam, tapi Hanbin tak kunjung keluar sekolah, akhirnya Jiyongpun memutuskan untuk ke ruang staf untuk menanyakan kelas Hanbin, tapi nihil Hanbin tak ada di kelasnya.

#KRINNGGG Jiyong merogoh ponselnya di saku, dan melihat sang penelfon adalah istri kesayangannya.

“Yeobo… Hanbin-ah dia….” Ucap Dara disebrang sana dnegan sangat panik.

“Hey slow down baby, kenapa ?” Jiyong menenangkan.

Terdegar tarikan nafas Dara. “Aku mendapat firasat buruk, aku melihat sebuah ruangan yang gelap dan banyak barang, aku mendengar telepati dari Hanbin”

“Kelas ?”

“Aniya, ini sangat gelap”

“Gudang  !”

Jiyong kemudian berlari dengan ponsel menempel di telinganya, tak memperdulikan anak SMA yang melihatnya aneh.

Namja itu sampai disebuah ruangan yang gelap, samar-samar ia mendengar suara kikikan dari dalam sana, Jiyong hanya menatap pintu itu dan pintupun langsung terbuka dengan sendirinya, dengan perlahan Jiyong memasuki ruang gelap itu.

“Kwon Hanbin ku peringatkan padamu, jauhi Park Hayi”

Hanbin menggeliat, dia tengah terikat dengan sebuah kursi yang ia duduki. “Kenapa aku harus melakukannya ? kami bersahabat sejak kecil”

“Kau itu sombong sekali eoh, vampir yang tidak memiliki kekuatan seperti mu itu tidak berguna” Seorang namja menoyor kepala Hanbin.

“Benar, percuma kau memiliki ayah seorang ketua klan kalau anaknya tidak berguna” Namja lainnya menimpali.

Jiyong yang sudah mendidih geram, ia menatap meja-meja didepannya dan selanjutnya meja itu berterbangan kemana-mana bak bulu ayam yang berhambur dari sarung bantal.

“Bisa ulangi sekali lagi ucapanmu itu anak muda” Suara tegasnya menggema.

“Appa” desis Hanbin sambil tersenyum.

“An…anieyo… kami” Jiyong tersenyum kemudian merangkul kedua namja yang tadi membully Hanbin dan yang terjadi selanjutnya adalah mereka berdua berguling-guling di lantai karna kepanasan.

Jiyong bergegas melepaskan ikatan yang melilit Hanbin.

“Appa datang” Hanbin tersenyum senang. Tapi kemudian “APPA !!!” #BRAK

Sebuah kursi kini sudah tidak berbentuk, kursi itu hancur sebelum mengenai punggung Jiyong.

“Hanbin-ah” panggil Jiyong, ia melihat kesekitarnya. Itu sebuah perisai kasat mata terbentuk, bukan ia yang membuatnya. Jadi itu adalah perbuatan Hanbin.

Bahkan Hanbin sendiri tidak menyangka kalau dirinya punya kekuatan seperti itu.

“Tn Kwon, Hey Hanbin-ah kenapa kau bersembunyi dibalik ketiak ayahmu eoh ?” Seorang namja lain datang dengan wajah sombongnya.

Jiyong melihat tag nama yang tertera di dada kiri namja itu. Lee Chanyeol

“Chanyeol-ah sudah aku bilang, aku tidak ada hubungan apapun dengan Hayi, kami hanya sehabat sejak kecil” Hanbin berdiri disamping Appanya.

“Ahjussi, maaf ini urusan anak muda, bisa anda menyingkir”

Dengan wajah tak kalah sombog, Jiyong menyingkir ke tepi.

“Appa” desis Hanbin.

“Dasar pecundang”

Hawa panas mulai muncul di ruangan itu,di tangan kanan Chanyeol mulai timbul percikan api.

#WUS WUS WUS Chanyeol mengarahkan serangan bertubi-tubi kearah Hanbin

Hanbin hanya mencoba melindungi wajahnya dengan kedua tangannya, dia bersiap merasakan kepanasan karna terbakar. Tapi rasa itu tak kuncung muncul, jad ia memberanikan diri menurunkan tangannya, yang dilihatnya adalah bola-bola api yang tadi diarahkan padanya semuanya lenyap.

“Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan ?” Chanyeol terlihat terkejut.

“Apa urusanmu sudah selesai anak muda, Hanbin harus segra pulang, karna aku sibuk” Jiyong membuka suaranya.

Diam, Chanyeol hanya diam membuat Jiyong mengambil tindakan dengan menarik tangan Hanbin keluar dari ruangan itu.

Chanyeol tersenyum miring dan #WUS “AKH……!” Hanbin berteriak dengan keras, karna rasa panas yang ia rasakan dibahunya.

“Pecundang selalu menyerang dari belakang” Jiyong tetap menarik tangan Hanbin menjauh dari ruangan itu.

Samar-samar terdengar teriakan Chanyeol yang berteriak frustasi.

Sesampainya di mobil, Jiyong mencoba mengobati luka Hanbin dengan telapak tangannya yang dingin.

“Chanyeol adalah putra dari Ketua klan Lee, kalau Appa mau tau” Hanbin membuka suara.

“Aku tidak peduli, tak ada yang boleh menyakiti putraku”  Jantung  Hanbin serasa meoncat keluar. “Lukanya sedikit parah, kita obati dirumah”

Jiyong hendak menelfon Dara memberitahu keadan Hanbin, tapi langsung dicegah Hanbin, namja itu beralasan tak mau membuat eommanya khawatir.

Saat sampai dirumah,Hanbin diobati dengan darah dari eommanya yang di oleskan diatas luka bakarnya dan tak lama luka itupun hilang dengan sendirinya. Dan juga segelas  darah segar yang harus Hanbin minum.

“Kita akan latihan” Jiyong berseru.

“Latihan apa ?”

“Kau belum bisa mengontrol kekuatanmu, hari ini juga latih kekuatanmu agar kau bisa mengendalikannya an tidak menjadi boomerang bagimu”

6 Jam berlalu, Jiyong dan Hanbin masih tetap berlatih, beberapa kali Hanbin terpental karena kekuatan perisainya yang terlalu kuat, atau terjungkal karena kekuatan yang terlalu kecil dan tak mampu menahan serangan Jiyong.

“Bangun ! Cepat bangun” perintah Hanbin saaat terjatuh karena perisainya sangat kuat, dan hampir melukai pengendalinya.

Dengan sedikit merintih Hanbin berusaha berdiri, kemudian kembali membuat perisai dari kedua telapak tangannya.

“Tarik nafas, pusatkan pikiran dan fokus” ucap Hanbin dalam hati. Namja yang berusia 16 tahun itu kembali ngumpulkan kekuatannya, perlahan sebuah perisai perbentuk dari diameter 30 cm membersar hinga 50 cm membesar lagi dan kemudian… “HANBIN !!!!” sebuah teriakan cempreng mengganggu konsentrasi Hanbin hingga perisai yang ia buat pecah seketia membuatnya kembali terpental.

“Omo Hanbin-ah” Dara berteriak melihat putranya jatuh. “Yeobo apa yang kau lakukan pada Hanbin”

“Eomma, jangan marah pada Appa, dia menyelamatkanku tadi, dan membantuku menemukan kekuatanku” Hanbin berucap riang.

“Dara-ah berdiri disana” Jiyong menunjuk sebuah pohon besar. Dan dengan patuh Dara melakukannya.

Dari tanah Jiyong mengambil sebuah batu. “Kalau kau terlambat anak muda ia akan terluka” #WUS dengan cepat batu yang sebelumnya berada di tangan Jiyong telah melayang di udara dan selanjutnya… “Agh….”Darah mengucur dari dahi Dara.

“Eomma !!”

“Fokus, jangan kehilangan fokusmu, sekali kau kehilangannya orang yang kau sayangi akan terluka”

“Tapi aku belum siap !”

“Apa musuhmu akan menunggu kau siap untuk menyerangmu”

“Bisa kalian menolongku dan tidak bertengkar” Dara merintih sambil memegeng kepalanya.

“Hya chagi, lukamu kan bisa sembuh sendiri” Jiyong tertawa pelan disusul dengan Hanbin.

Dara menghentakkan kakinya karna kesempatannya mencari perhatian dari kedua namja itu gagal total.

###

2minggu  kemudian

“Kwon Hanbin bangun” Jiyong menendang tubuh Hanbin yang masih bergumul dengan selimut.

Yang terdengar hanya sebuah erangan malas khas orang bangun tidur.”Appa, kita sudah 2 minggu berlatih, bisa kita istirahat hari ini, aku benar-benar  mengantuk”

“Aku tunggu dibawah, jika kau telat 1 detik saja push up 10 kali, kau tau kan berapa jumlahnya bila kau telat 1 menit” #BRAK Jiyong menutup pintu kamar Hanbin.

“600 kali ?” dengan cepat Hanbin turun dari kasur begitu menghitung. Namja itu lari kalang kabut sampai menabrak pintu.

“105….106…107… 108…”

“ayo kwon Hanbin, masih kurang 292 lagi” sayup-sayup suara Jiyong dan Hanbin terdnegar di telinga Dara yang tengah berkutat di dapur, sampai ponselnya berdering.

“Yoboseyo…”

“Dara-ah ini aku Bom”

“Oh Bom Eonnie, waeyo ?”

“109…110…111”

“Suara siapa itu ? Hanbin ?”

“Ne, dia sedang disuruh push up sama Jiyong oppa”

“Waeyo ? apa Hanbin membuat kesalan ?”

“Anieyo, Sudah 2 minggu ini Jiyong oppa dan Hanbin berlatih, entahlah aku tak tau penyebabnya, tapi aku senang mereka bisa dekat seperti itu”

“Huh syukurlah… setelah ku pikir cara Jiyong mendidik Hanbin sama seperti Aboji mendidik Jiyong”

“Eoh ?”

“Ah apa aku belum membertitahumu ? aku dan Seunghyun adalah anak angkat dari Tn Yang, aku diadobsi saat ia masih bujang dan Seunghyun 1 tahun setelah Aboji menikah dengan Eomoni. 5 tahun setelahnya Jiyong lahir, sejak kecil ia tidak pernah sedikitpun dimanaja, ia selalu dididik dengan keras, aboji selalu bilang bahwa Jiyong adalah calon pemimpin, jadi Aboji mendidiknya agar menjadi seorang pemimpin yang benar-benar hebat, aku bahkan ingat saat ia berbohong karna menghilangkan lionin pemberianku, ia harus memutari rumah 100 kali tanpa berhenti, padahah rumah kami lumayan besar. Sepertinya dia mempraktekan yang ia dapat pada Hanbin”

“Tapi aku sedikit takut bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Hanbin”

“Aigoo, jangan terlalu memanjakannya Dara-ah, ingatlah dia itu putra dari pendiri klan Kwon dan dia juga cucu dari pendiri klan Park, kau harus mendukung Jiyong”

“em… baiklah”

“Oh iya aku menelfon untuk…..”

“Hanbin-ah sarapan” Dara berseru sambl membawa nampan berisi roti isi.

“Kami sedang latihan Chagi”

“Aku tidak peduli, Hanbin harus sarapan, aku tak mau Hanbin ku sakit” ucap Dara dengan nada mengejek.

Hanbin berdiri diahapan eommanya “Aku tak akan sakit hanya karna tidak sarapan eomma”

“Eomma ini seorang doktor, jadi Eomma tau apa yang terbaik untukmu” Dara menyodorkan sebuah roti isi pada Hanbin  “Dan ini untukmu Yeobo” dan segelas Darah untuk Jiyong.

Jiyong menerimanaya tanpa ekspresi. “Cepat habiskan dan kembali latihan”

###

Hanbin memasuki rumah dengan wajah sumringah, akhirnya latihan hari ini selesai juga, ia merebahkan badannya di sofa.

“Eomma aku haus” Hanbin berteriak.

….

Tapi tak ada jawaban dari eommanya, Hanbin yang penasanaran akan keberadaan eommanya mencoba mencari keseluruh ruangan di rumahnya, tapi ia tetap tidak menemukan Dara dimanapun.

“Appa dimana eomma” ia bertanya begitu melihat Jiyong memasuki rumah.

“Aku tidak tahu”

“Aku sudah mencarinya tapi tetap tidak menemukannya di dalam rumah”

Jiyong mulai panik, iapun menuju ke dapur, tempat favorit Dara. Dan sebuah benda asing menarik perhatiannya.

“Park Sandara ada pada kami, datang ke markas besar Lee, ingat datang sendirian”

Klan Lee, mendengar namanya saja sudah membuat Jiyong geram, ia penasaran apa yang akan klan itu lagi setalah membunuh klannya bebebrapa puluh tahun yang lalu.

“Hanbin, kirim telepati pada eommamu, dia di culik”

“Apa ?”

“Cepat lakukan, jangan tanyakan keberadaannya tanyakan keadaannya”

Hanbinpun menuruti perintah sang ayah, ia mengirim telepati pada Dara tentang keadaanya.

“Tidak bisa, aku tak bisa mengirim sebuah telepati pada eomma, eomma kehilangan kekuatannya”

“Sial” umpat Jiyong. Dengan perasaan khawatir Jiyong mengambil kunci mobilnya dan menyambar jaketnya.

“Appa aku ingin ikut” Hanbin berseru.

“Ani terlalu berbahaya untukmu, lebih baik kau jaga rumah” Dan dengan itu Hanbin pergi menginggalkan Hanbin sendirian dirumah

###

Jiyong mengnjkakan kakinya kedalam sebuah markas besar, yang pasti itu adalah markas klan Lee, klan yang telah menghancurkan klan Appanya.

Suasana gelap mendekapnya saat memasuki sebuah ruangan yang ditunjukkan oleh seseorang, hanya ada seberkas cahaya dari genteng kaca, dimana tepat dibawahnya Dara berada, yeoja itu terikat di sebuah kursi, rambutnya acak-acakan, membuat Jiyong yakin bahwa yeoja itu habis di siksa.

“welcome Kwon Jiyong-ssi, ehm atau aku harus memanggilmuYang Jiyong bagaimana kau bisa melarikan diri eoh ? bahkan aku tak tau kalau si tua Yang itu memiliki seorang putra” sebuah suara tak menghentikan Jiyong untuk mendekat kearah Dara.

“Dara-ah” Panggilnya, dan yang dipanggilpun menoleh.

Tinggal 1 meter lagi jarak mereka, tapi kemudian sebuah tangan besar mendorong Jiyong hingga namja itu jatuh tersungkur.

“YEOBO !!” Teriak Dara histeris.

“Wah wah wah kau benar-benar pemberani Jiyong-ssi”

Jiyong tersenyum miring sambil mencoba untuk berdiri “Tentu, aku bukan seorang pengecut yang selalu menyerang dari belakang”

Suara yang masih belum diketahui wajahnya itu terdengar tertawa. Tak memperdulikan hal tersebut Jiyong kembali berjalan mendekat kearah Dara, tapi kemudian gagal lagi karna tangan itu tetap mendorongnya jatuh.

Tak kehabisan akal, Jiyong melihat sebuah kursi di sudut ruangan, dalam pikirannya ia menyuruh kursi itu untuk melayang dan menghantam orang pemilik tangan yang selalu mendorongnya. Tapi entah apa yang terjadi kekuatannya tak berfungsi.

“Tak usah repot-repot Jiyong-ssi ruangan ini dirancang khusus untuk meredam kekuatanmu dan juga istrimu, jangan buang tenagamu”

“Sial” Jiyong mengumpat dengan keras. Ia mendongakkan wajahnya melihat orang yang sedari tadi menghalaunya, kemudian memukulnya dengan segeap kekuatan yang ia mlikiki.

Sebuah perkelahian tak dapat dihindarkan lagi, Dara tak henti-hentinya menangis melihat darah yang keluar dari beberapa tubuh Jiyong.

Perkelahian itu berhenti saat Jiyong jatuh di lantai yang dingin. Suara itu kembali tertawa dan kemudian menampakkan perawakannya.

“Apa maumu orang tua” Jiyong berucap dengan terengah-engah. “Sekanag aku tau kenapa si Chanyeol itu bersikap seperti pecundang, ternyata ayahnya juga seorang pecundang uhk …” Jiyong terbatuk dan mengeluarkan darah.

“Aku sepertinya bersikap terlalu baik” Senyuman tak lepas dari orang bernama Lee soo man itu. “Habisi saja dia”

“Andwe…” Dara berteriak. “Jangan bunuh suamiku”

“Habisi istrinya juga.. aku tak peduli dengan anggota klan Park itu” Orang itu kemudian menyingkir ke tepi melihat anak buahnya bersiap untuk menyiksa Jiyong dan Dara.

Sebuah kayu siap melayang ditubuh sepasang suami itu tapi kemudian #BRAK… kayu itu teronggok di lantai. Sebuah perisai kasat mata tercipta di sekeliling tubuh Jiyong dan Dara.

“Tn Lee, sepertinya ada belum merancang ruangan ini agar kebal akan kekuatanku ?” sebuah suara yang berasal dari arah pintu terdear.

“Hanbin-ah” Desis Dara pelan.

“siapa kau…”

“Anyeonghaseyo, Kwon Hanbin imnida”

Suara detapan kaki terdear selanjutnya setelah Hanbin memeperkenalkan diri. “Urusanmu denganku !” Pemilik suara derapan kaki itu mendorong Hanbin hingga perisai yang ia ciptakan dari telapak tangannya untuk kedua orangtuanya itu hencur.

Hanbin terkekeh “Mian Chanyeol-ah, aku datang kesini untuk menyelamatkan kedua orangtuaku, bukan berurusan denganmu”

“Brengsek kau Hanbin” Chanyeol mengarahkan tinjunya untuk memukul Hanbin, tetapi namja itu memiliki reflek yang bagus hingga tinju Chanyeol hanya mengenai udara kosong. Chanyeol tertawa  keras.”Kau benar-benar ingin berkelahi Hanbin-ssi”

“Seharusnya aku yang menayakannya, tapi berhubung kau yang memintanya baiklah, jika aku menang aku minta lepaskan orang tuaku” ucap Hanbin yakin.

Chanyeol menarik sudut bibirnya “Jika kau yang kalah”

“Kau bisa membunuhku dan lepaskan kedua orangtuaku, sejak awal kau ingin aku kan !”

“HANBIN !!” Jiyong dan Dara berteriak dengan kompak.

“Eomma, Appa, aku akan datang dengan selamat” Hanbin membungkuk hormat. “Dan Tn Lee bisa anda menjaga orang tua saya selagi saya bertanding ? itu akan menjadi lebih sportif”

Di sebuah tanah yang luas Hanbin dan Chanyeol berdiri saling berhadapan.

“Peraturannnya haya satu dilarang menggunakan kekuatan selainnya bebas” Chanyeol mengucapkan peraturannya dan Hanbin hanya mengangguk mengerti sambil menggigit bibir atasnya.

Tanpa menunggu waktu perkelahian itupun dimulai, keduanya saling menyerang dan membalas pukulan. Darah dan lebam mulai terlihat dibeberapa bagian tubuh kedua namja muda itu.

“Kau tau sebenarnya aku juga menyukai Hayi” #BUGH Chanyeol memukul tepat di pipi kanan Hanbin. “Dan sebenarnya, ciuman pertama Hayi adalah denganku” Tubuh Chanyeol membeku seketika, hal itu dimanfaatkan Hanbin untuk memukul Chanyeol beberapa kali hingga Chanyeol terjatuh.

“Kau… aku mengalah terlalu banyak padamu selama ini dan aku sudah muak” Dengan penuh amarah Hanbin menendang perut Chanyeol membuat namja yang sudah terjatuh itu susah untuk bangkit kembali.

“Kau sendiri yang menentukan peraturannnya bukan” Hanbin tersenyum. Hanbin membalikkan badannya, hingga punggungnya menghapdap Chanyeol.

#WUS Chanyeol melemparkan bola apinya kearah punggung Hanbin, tapi untuk sekali lali reflek Hanbin yang bagus membuat bola api itu jatuh ketanah karena ia melindungi tubuhnya dengan perisai yang ia buat.

“Ternyata Appa memang benar, seorang pecundang selalu menyerang dari belakang” Hanbin menginggalakn Chanyeol yang berlumuran darah. Ia berlari untuk menjemput kedua orang tuanya. Tapi betapa kagetnya dirinya saat 2 orang pria bertubuh besar sedang memukuli kedua orang tuanya.

Dengan cepat Hanbin perisai untuk melindungi kedua orang tuanya membuat kedua pria yang seelumnya memukuli Jiyong dan Dara jatuh karna kuatnya perisai yang ia buat.

“Anda seharusnya menepati janji anda Tn Lee” Geram Hanbin sambil berjalan menuju kedua orang tuanya dengan perisai yang tetap melindungi kedua orang tuanya.

“Kau terlalu banyak bicara anak muda” Lee soman akan menyerang Hanbin tapi terlambat, Hanbin membuat sebuah perisai yang melindungi dirinya dan kedua orang tuanya.

“Hanbin-ah” Dara memeluk tubuh Hanbin.

“Gwenchana ?” ia menatap kedua orngtuanya bergantian.

“Kau bahkan menyerang anak kecil Sooman-ssi” suara berat terdengar menggema diruangan gelap itu.

“Haraboji” Teriak Hanbin. “Bibi ? Samcheon ?”

“A..apa yang kalian lakukan … ?”

“Well, aku menjemput putri kesayanganku” Tn Park menunjuk Dara. “Juga Menantuku” menunjuk Jiyong. “ Dan cucuku” Menunjuk Hanbin.

“A…Apa ?” Tn Lee terbelalak kaget, mengetahui bahwa Dara adalah Putri dari pendiri klan terbesar di Korea Selatan “Hey apa yang kalian lakukan ..cepat lawan mereka” perintah Lee soo man pada anak buahnya suaranya terdengar gugup.

Seungri dan Senghyun berjalan maju dan melawan kedua anak buah Lee soman.

“Huh jangan repot berteriak lagi. Anak buahmu sudah kami lumpuhan semua” Bom berbicara dengan datar sambil meniup kukunya yang berwarna merah menyala.

“Hanbin-ah bawa kedua orangtuamu pergi dari sini, biar orang tua ini kami yang urus” Chanrin menambahkan.

Hanbin mengangguk mengerti kemudian memapah kedua orangtuanya dan keluar dari ruangan pengap itu.

“Dari mana kau belajar mengendalikan kekuatanmu eoh ?” tanya Dara lemah.

Hanbin tersenyum “Dari Appa”… “Oh ya Appa besok usiaku 17 tahun jadi apa boleh aku meminta sesuatu ?”

“Tentu, apa yang kau nginkan ? sebuah mobil ? motor ? rumah ? vlla ? atau Park Hayi ?” Jiyong sedikit terkekeh.

“Appa…” Hanbin merajuk.

“Hey anak eomma sudah menyukai seseorang ternyata” Goda Dara.

“Aniya…” Hanbin menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.

Jiyong berhenti berjalan kemudian menatap Hanbin. “Tapi bagaimana caranya kau sampai disini ?”

“emmm itu… aku… aku …. aku memakai Mobil sport putih milik Appa” Hanbin memejamkan matanya bersiap mendengar omelan dari sang Appa.

“KWON HANBIN”

“Appa mianhaeyo…mianhae…”

 

Jika ada seseorang yang bilang kalau masalahnya tak bisa diselesaikan itu adalah sebuah pernyataan terkonyol didunia. Semua masalah bisa diselesaikan oleh waktu tergantung bagaimana diri kita, mau atau tidak menunggu waktu itu berjalan. Sandara Park.

 -END-

<< back

Advertisements

15 thoughts on “MY BOY ~ That Vampire Sequel ~ [Oneshoot]

  1. Kereeeeeen pokoknya top bgt deh….
    Agak serem sih bunuh membunuh gtu….berdarah darah.
    Tpi kereeeenlah pokoknya..👏👏👏🎉🔥
    Ditunggu karya selanjutnya 🙆😘😘😘

  2. yuuuhhhhhh…. siiip ,masi kurang ni, shrusny chanyeol dtiadakan sj. haha… ga suka org pecundang yg slalu main dari blkang. wkeke…. hehe… happy ending jg eo. yaaapp stiap mslah da jlanny. hnya sj liat bisa mlwati ny apa mnyerah. kekekekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s