SNEEUWWITJE [Chap. 4]

swee-2

A storyline by. Cho Hana

Sandara Park || Kwon Jiyong

Park Sojin || Kim Jongin || Jung Soojung || Park Jiyeon || Park Hayeon

Kang Seulgi || Jung Taekwoon || Lee Seungri || Im Yoona

Romance || Drama || Marriage-Life

PG-15

.

She is a Snow White, not a Cinderella

.

Buat yang baru baca di chapter ini diharapkan baca prolog/chapter sebelumnya:

[Introduction+Prolog] [1] [2] [3]

 

Jongin melangkahkan tungkainya memasuki sebuah kedai kopi. Sekarang memang bukan jam makan siang, namun tak ada salahnya ia singgah sebentar ke sana. Sekedar untuk membeli secangkir kopi sekaligus menyelesaikan sebuah pekerjaan. Seulas senyum menyambut kedatangan Jongin. Pemuda itu langsung mengempaskan tubuhnya di salah satu meja dimana sudah ada seseorang yang menunggunya.

“Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?” Jongin meletakkan gelas kopinya di atas meja lalu menatap sosok pria yang duduk di depannya.

“Aku menemukan sesuatu semalam. Silahkan tuan lihat sendiri,” Pria berjaket kulit itu menyodorkan sebuah amplop coklat pada Jongin.

Jongin langsung menyambut amplop itu dan mengeluarkan isinya. Nampak beberapa lembar foto Sojin bersama dengan Jiyong, Seunghyun dan Seungri ada di dalamnya. Jongin meneliti foto itu satu per satu.

“Semalam saya sudah membuntuti Nona Sojin. Ia menemui ketiga pria itu di sebuah restoran,” Pria itu mulai menjelaskan detail kejadiannya.

“Ah begitu ya. Apa mereka membicarakan sesuatu yang mencurigakan?”

“Ah, saya kurang yakin dengan hal itu. Saya tidak terlalu bisa mendengar percakapan mereka. Hanya gambar-gambar itu yang bisa saya berikan pada anda.”

Jongin mengembuskan napasnya lalu memasukkan foto-foto tadi ke dalam amplopnya.

“Baiklah. Sejauh ini kerjamu bagus. Akan segera kutransfer bayaranmu. Untuk sementara terus awasi gadis itu. Aku akan menghubungimu lagi nanti.”

Jongin bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju pintu keluar.

~~~

Tak ada yang bisa mendeskripsikan betapa senangnya perasaan Dara saat ini. Dengan wajah yang cerah dan mata yang berbinar ia menggenggam erat kalung pemberian ibunya yang sempat hilang. Ia bersyukur karena kalung itu telah kembali padanya.

“Ah, syukurlah. Kau sekarang nampaknya senang.”

Suara itu membuat senyum yang menghiasi wajah Dara memudar. Kembali berganti dengan wajah dingin yang selalu ia pamerkan di depan orang. Sial! Ia pikir pemuda yang tadi menolongnya –Jiyong- sudah pergi meninggalkannya.

“Lega rasanya. Setidaknya sekarang kau tak nampak seperti anjing gila yang habis main-main di tengah hujan,“ Jiyong memeras jaketnya yang basah. Kini hujan sudah berhenti dan orang-orang sudah mulai meninggalkan halte. Hanya tersisa mereka berdua di sana.

“Anjing gila?” Dara merasa tersinggung dengan ucapan Jiyong tadi.

“Ya, anjing gila. Kau itu seperti anjing gila. Mana ada orang waras yang mau hujan-hujanan hanya untuk mencari kalungnya yang jatuh di rumput.”

“Anjing gila?” Tawa Dara mengudara, menertawakan ucapan Jiyong yang terdengar menggelikan untuknya. “Oke. Anggap saja aku memang seekor anjing gila. Tapi, sekarang aku jadi penasaran. Apa sebutan untuk orang waras yang mau menghampiri anjing gila? Apa dia masih bisa disebut sebagai orang waras?”

Jiyong terdiam. Rahangnya menganga mendengar ucapan Dara yang begitu menohok hatinya.

“Woah, anda benar-benar hebat, nona. Anda berteriak padaku, tidak mengucapkan terimakasih dan sekarang apa anda sedang berusaha menyebutku sebagai orang tak waras. Woah, aku tak percaya anda kasar sekali,” Jiyong menyibak-nyibakkan jaketnya ke udara sambil menahan rasa kesal.

Dara memilih untuk diam. Disimpannya kembali kalung yang tadi ditemukan Jiyong ke dalam sakunya. Diraihnya ponsel miliknya dari dalam tas.

“Ahjussi, jemput aku di halte depan Taman Hangang.”

Jiyong berharap untuk kali ini saja hati nuraninya akan mati. Ia ingin menjadi sosok yang jahat sekarang. Ia ingin melenggang pergi dengan santai meninggalkan gadis buta itu dan segera pulang ke apartemennya. Namun, nyatanya hati nuraninya masih tergerak. Ia tak tega meninggalkan Dara sendirian dan memutuskan untuk menunggu hingga ia dijemput.

Kira-kira setengah jam berlalu sebelum akhirnya sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti di depan halte.

“Nona,” Seorang pria berjas hitam –yang Jiyong tebak sebagai supir mobil itu- langsung menghampiri Dara. “Nona tidak apa-apa?” Pria itu langsung melepaskan jasnya lalu menyampirkannya ke pundak Dara.

“Aku tidak apa-apa. Segera bawa aku ke mobil. Aku ingin pulang.”

“Baik, Nona.” Pria itu langsung menuruti perintah Dara. Dituntunnya gadis itu ke dalam mobil. Sesekali diliriknya ke arah Jiyong yang masih berdiri di dekat halte. Merasa dilirik, Jiyong langsung mengalihkan perhatiannya. Berpura-pura sibuk dengan hal lain.

Setelah Dara masuk, mobil itu langsung melaju. Kini yang tersisa hanya Jiyong sendiri dengan tubuhnya yang masih basah kuyup.

“Ah dia seorang tuan putri rupanya,” Gumam Jiyong sambil menatap mobil sedan hitam yang melaju di ujung jalan. “Pantas saja dia sombong. Cih, sepertinya orang kaya zaman sekarang tak pernah belajar etika. Kuharap aku tak pernah lagi bertemu dengan orang seperti dirinya.”

~~~

Seungri baru saja menyalakan ponselnya saat tiba di tempat tujuan. Sebuah gedung yang didominasi warna merah muda itu menjulang di depannya. Seorang gadis keluar dari mobil yang tadi ia kemudikan lalu langsung bergelayut manja di lengannya.

“Oppa, ayo kita masuk,” Ucapnya dengan manja.

“Ne. Ayo.”

Mereka melangkahkan kaki bersama-sama memasuki gedung itu. Suasana tak jauh berbeda menyambut kedatangan mereka. Dekorasi bernuansa merah muda nampak mendominasi di sana. Ya, tidak heran sih, Seungri ‘kan memang sedang menemani kekasih barunya ke salon.

“Ah, Byulra-ssi.” Seorang pegawai menyapa kekasih Seungri dengan wajah riang. “Kau datang kembali minggu ini. Senang melihatmu.”

“Ne. Aku ingin melakukan beberapa perawatan hari ini,” Sahut gadis itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“Ah begitu ya. Baiklah. Aku akan melayanimu hari ini.”

Gadis bernama Byulra itu melirik Seungri sebentar, “Oppa, kau tunggu sebentar ya. Aku akan toning dulu di dalam.”

“Oke,” Mereka pun berpisah. Byulra masuk ke dalam toning room, sementara Seungri menunggu di tempat yang di sediakan untuk menunggu.

Disambarnya sebuah majalah fashion yang menumpuk di atas meja. Menunggu sambil membaca adalah pilihan yang tepat untuk Seungri lakukan saat ini.

Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting. Ting.

Entah berapa puluh kali ponsel Seungri berbunyi. Ia langsung merogoh ponselnya. Matanya nyaris saja melompat keluar kala di dapatinya puluhan pesan beruntun dari Jiyong.

‘Brengsek!’

 

 

‘Cepat kembalikan mobilku.’

 

 

‘Kunyuk sialan, cepat kembali. Aku ingin keluar sekarang.’

 

 

‘Cepat kembali atau akan kubunuh kau saat pulang.’

 

 

‘Seungri-ah, jangan menyesal! Kopermu sudah kubuang ke tempat sampah.’

Dan masih banyak lagi pesan berisi makian dan ancaman yang dikirimkan Jiyong untuknya. Bukannya merasa bersalah, Seungri justru terkekeh sekarang, “Ah, Jiyong-hyung nampaknya marah sekarang. Haruskah aku membawakannya Iced Mocca nanti?” Ia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku kemudian kembali fokus pada majalah yang tengah ia baca.

Kring

Lonceng yang terpasang di atas pintu masuk salon berbunyi –menandakan ada seorang pelanggan yang datang.

“Oh, Im Yoona-ssi.”

Glek. Seungri menelan salivanya dalam-dalam. Suara karyawan yang menjaga resepsionis tadi membuat tubuhnya beku di tempat.

“Oh, annyeonghasseo,” Suara itu terdengar familiar di rungu Seungri. Buru-buru Seungri menutupi wajahnya dengan majalah yang ia baca. Sial! Kenapa ia harus bertemu Yoona di saat seperti ini?

“Anda datang untuk melakukan perawatan? Kali ini perawatan wajah atau rambut?” Tanya penjaga resepsionis itu pada sosok gadis semampai yang berdiri di depannya.

“Hari ini aku ingin perawatan wajah. Aku ingin melakukan toning dan facial.”

“Ah, kebetulan sedang ada pelanggan lain yang melakukan toning. Anda bisa menunggu sebentar.”

“Baiklah.”

Seungri lagi-lagi menelan salivanya kala didengarnya suara langkah kakiku itu mendekat ke arahnya. Ia sedikit mengintip dari balik majalah dan mendapati jika gadis itu tengah duduk di depannya.

Sungguh sial! Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa ia harus tetap disana dan menunggu Byulra selesai toning? Apa ia harus pura-pura ke toilet? Atau ia lebih baik langsung kabur saja? Option terakhir terdengar cukup menjanjikan. Karena itu Seungri langsung bangkit dari tempat duduknya, tetap dengan posisi majalah menutupi wajahnya. Pelan-pelan dilangkahkannya kakinya menuju pintu keluar namun—

“Agassi.”

—suara sang penjaga resepsionis menjegal langkahnya.

“Maaf tapi majalah itu tidak boleh anda bawa keluar.”

Seungri buru-buru membalikkan tubuhnya -agar Yoona yang sedang duduk di ruang tunggu tak dapat melihat wajahnya- lalu dilemparkannya majalah yang ia bawa tadi ke arah si penjaga resepsionis. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia langsung berlari menuju parkiran.

“Dasar pelanggan aneh,” Runtuk si penjaga resepsionis.

“Ya dia memang nampak aneh—“ Yoona menatap sosok yang tengah berlari memasuki sebuah mobil sport di parkiran itu. “—dan badannya nampak familiar untukku. Dia seperti… Lee Seungri?”

Seungri menghela napas lega saat dirinya berhasil melarikan diri ke dalam mobil. Buru-buru dirogoh sakunya lalu mengirimi sebuah pesan pada Byulra.

‘Byulra sayang, maafkan aku. Perutku mendadak mengalami masalah. Maaf karena aku tak menunggumu. Kurasa aku harus segera pergi ke apotik untuk membeli obat. Nanti malam kita bertemu lagi. Oke?’

Setelah selesai mengirim beberapa baris kalimat itu, Seungri langsung menyalakan mesin lalu beranjak meninggalkan salon itu.

~~~

Jiyong baru saja keluar dari kamar mandi saat bel rumahnya terdengar berbunyi. Ia memasang pakaian sebentar lalu segera berlari menuju pintu keluar. Itu pasti Seungri. Ya, siapa lagi yang datang bertamu ke apartemennya kalau bukan bocah tengik itu. Jiyong sudah menyiapkan seribu satu macam makian yang siap ia lontarkan pada bocah itu.

“Yak, kunyuk sialan, kau—“

Jiyong berhenti memaki saat sadar jika sosok tamu yang datang bukan Seungri.

“Park Sojin?”

Gadis itu tersenyum lebar pada Jiyong, “Apa aku mengganggumu? Nampaknya kau sedang kesal.”

“Ah tidak tidak. Tadi kupikir kau adalah Seungri, makanya aku memaki dan—darimana kau tahu alamat apartemenku?”

“Aku menanyakannya pada Seunghyun. Sebenarnya aku sudah menghubungimu, tapi kau tidak mengangkat teleponku.”

“Ah maaf. Aku baru pulang jogging dan tadi ponselku tertinggal di rumah. Oh ya, silahkan masuk,” Jiyong mempersilahkan Sojin masuk.

Tak dapat dipungkiri jika Jiyong cukup kaget dengan kedatangan Sojin siang itu. Gadis itu nampak mengedarkan pandangannya, menelusuri setiap jengkal apartemen milik Jiyong.

“Oh duduklah. Akan kubuatkan minum untukmu,” Jiyong mempersilahkan Sojin untuk duduk lalu merajut langkahnya menuju dapur.

“Tak perlu repot-repot, Ji. Berikan saja aku sekaleng soda,” Sojin memekik pada Jiyong yang berdiri di depan lemari es.

“Oh benarkah? Baiklah. Akan kubawakan sekaleng soda untukmu,” Jiyong menyahut dari jauh lalu kembali dengan membawa dua kaleng soda di tangannya.

“Maaf jika kedatanganku membuatmu kaget. Aku hanya ingin membicarakan masalah pekerjaan kita lebih lanjut.”

“Tidak apa-apa. Santai saja,” Jiyong membukakan salah satu kaleng soda yang ada ditangannya lalu menyodorkannya pada Sojin.

“Terimakasih,” Sojin menyambutnya lalu meminumnya sedikit. “Aku ingin selama kau melakukan pekerjaanmu, kau harus merahasiakan identitas aslimu. Jujur aku khawatir jika ada orang yang tahu tentang dirimu, terutama pekerjaanmu. Kau mengerti maksudku ‘kan?”

“Ya ya. Aku mengerti. Biar bagaimana pun pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang membanggakan,” Ucap Jiyong sambil meneguk minumannya.

“Aku tak bermaksud menyinggungmu, tapi akan berbahaya jika identitas aslimu terbongkar. Aku bahkan tidak menceritakan hal ini pada ibu dan adikku. Katakan saja pada mereka jika kau adalah teman lamaku saat SMA. Ayah dan Ibumu sudah lama meninggal dan sekarang kau adalah seorang pengusaha.”

Jiyong terkekeh mendengar ucapan Sojin, “Itu terdengar bagus. Cita-citaku memang menjadi seorang pengusaha dan kurasa aku bisa mewujudkannya sekarang.”

Sojin ikut terkekeh lalu merogoh tasnya dan menyodorkan sebuah amplop pada Jiyong, “Itu adalah profil tentang kakak tiriku dan Jaeguk Group. Kau bisa mengenalnya melalui profil itu.”

Jiyong segera membuka amplop itu lalu mengeluarkan isinya. Ada beberapa selebaran dan foto di dalamnya. Atensi Jiyong tertarik sepenuhnya oleh selembar foto yang menampakkan wajah dingin seorang gadis. Detik berikutnya Jiyong mengerutkan keningnya.

“Anjing gila?” Tanpa sadar Jiyong melontarkan kalimat itu. Buru-buru ia membungkam mulutnya sendiri.

“Apa kau bilang tadi?” Sojin menatap Jiyong dengan heran.

“Ah tidak. Aku bilang kakakmu cantik,” Jiyong tersenyum –menunjukkan deretan giginya yang rapi.

Sojin terkekeh, “Jangan tertipu dengan wajahnya. Ia memang terlihat cantik dan manis, tapi kau takkan pernah menyangka seberapa tangguh dirinya.”

“Benarkah? Benarkah ia setangguh itu? Di foto ini sepertinya ia tampak lemah,” Jiyong berpura-pura bodoh. Padahal ia tahu jelas jika gadis yang ada dalam potret itu sangat dingin dan galak.

“Ya coba kau bayangkan saja, gadis buta mana yang bisa menjabat sebagai presdir di perusahaan sebesar Jaeguk Group?”

“Presdir?” Jiyong menatap Sojin dengan tatapan tak percaya.

“Kakakku buta sejak kecil dan sejak tiga tahun yang lalu ia menggantikan ayahku yang sedang sakit sebagai presdir. Kedengarannya tidak masuk akal, tapi ia benar-benar jenius. Jaeguk Group jadi semakin hebat setelah berada di tangannya.”

Jiyong menganggukkan kepalanya pelan, “Oh jadi dia bukan gadis sembarangan rupanya.”

“Kau sudah tahu ‘kan jika kakakku buta? Kurasa kau juga paham kesulitan apa saja yang akan kau temukan dalam pekerjaanmu nanti,” Sojin menatap Jiyong dengan serius. “Kakakku buta. Itu artinya ia tak bisa melihat apapun dan siapapun. Akan jadi lebih sulit karena kebanyakan orang jatuh cinta melalui pandangan mata. Itu sebabnya kurasa kakakku tidak pernah sekalipun merasakan jatuh cinta.”

“Itu bagus. Aku akan jadi cinta pertama untuknya,” Celetuk Jiyong.

“Tidak semudah itu, Kwon Jiyong. Kau mungkin punya wajah yang tampan dan pesona yang kuat untuk memikat banyak gadis, tapi apa kau pikir kakakku bisa melihat itu semua? Dia bukan hanya keras kepala, tapi hatinya juga sudah beku dan nyaris mati. Takkan mudah menaklukan gadis sepertinya.”

“Sojin-ah, kurasa kau lupa tentang satu hal,” Jiyong balik menatap manik Sojin. “Cinta itu bukan hanya perkara kau jatuh hati pada wajah atau pesona seseorang, tapi juga masalah hati. Kunci dari semuanya adalah hati. Jika kau bisa menjerat hatinya, maka kau bisa membuatnya dengan mudah jatuh cinta.”

Beberapa saat mereka berdua terdiam, sama-sama menikmati keindahan manik masing-masing dan membiarkan kesunyian hinggap di antara mereka.

“Jadi, dulu saat kau jatuh hati padaku, apa kau juga menjerat hatiku?” Sojin membuka suara lebih dulu.

“Menurutmu?” Jiyong tersenyum tipis.

“Aku tak tahu karena kau bilang kau yang lebih dulu jatuh cinta padaku.”

Perlahan Jiyong menepis jarak di antara mereka. Bahkan ia sampai berpindah posisi duduk.

“Benarkah aku pernah berkata seperti itu? Kenapa aku jadi lupa?”

“Yak, Kwon Jiyong, apa yang kau masukan dalam minumanku? Ini hanya soda kaleng ‘kan?”

“Ya, itu hanya soda kaleng biasa.”

Jarak mereka kini kian menipis.

“Tapi, kenapa rasanya aku jadi mabuk sekarang?”

“Benarkah? Kurasa itu karena perasaanmu sendiri. Bukankah kau masih menyukaiku?”

Deru napas Jiyong menerpa wajah Sojin. Bibir mereka nyaris saja saling bersentuhan andai saja—

“Hyung, aku pulang. Aku membawakanmu Iced Mocca, jadi hyung kau tidak boleh ma—“

—andai saja Seungri tak segera datang. Seungri menjeda kalimatnya sejemang. Ia melongo menyaksikan adegan-hampir-berciuman antara Jiyong dan Sojin. Namun detik berikutnya Sojin lebih dulu menjauhkan dirinya dari Jiyong.

“Sepertinya aku harus pulang,” Sojin buru-buru meraih tasnya lalu bangkit berdiri. “Aku akan menghubungimu lagi nanti. Kau baca saja dulu dokumen yang kuberikan. Aku pulang dulu.” Sojin melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju pintu keluar.

Tepat saat punggungnya menghilang di balik pintu, Seungri langsung menunjukkan cengiran bodohnya, “Hyung, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kalian akan—“

“Dasar kunyuk sialan! Enyahlah kau!”

Dan sebuah bantal pun melayang ke wajah tampan Seungri.

~~~

Seulgi masih sibuk mengeringkan rambut Dara saat Soojung datang dengan langkah terburu-buru.

“Eonnie,” Tanpa menunggu waktu lama ia langsung menghampiri Dara yang tengah duduk dengan manis di depan meja riasnya. “Eonnie, tak apa-apa? Kenapa eonnie meninggalkan mobil begitu saja. Eonnie benar-benar membuatku khawatir.”

“Aku pergi ke taman untuk mencari barangku yang hilang,” Dara menyahut dengan sangat tenang.

“Barang?” Soojung mengerutkan keningnya. “Seharusnya eonnie tunggu aku kembali. Kita ‘kan bisa mencarinya bersama-sama.”

“Aku tidak butuh bantuanmu, Soo.”

Soojung menghela napas panjang. Lagi-lagi kalimat yang sama terlontar dari mulut sepupunya itu.

“Nona, apa anda ingin minum obat? Saya takut nona akan demam karena tadi hujan-hujanan,” Seulgi bertanya setelah mematikan hair dryer.

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja.”

Tak lama seseorang terdengar mengetuk pintu. Seulgi buru-buru membukanya dan menemukan seorang pelayan berdiri di depan kamar.

“Sekretaris Kim datang dan ingin menemui nona Dara,” Ucap pelayan itu.

“Suruh dia masuk kemari,” Suara Dara menginterupsi. Pelayan itu langsung pergi. Tak lama Jongin muncul.

“Ah, aku malas sekali melihat wajahnya,” Gumam Soojung pelan, namun dapat didengar Jongin dengan jelas. “Ah Seulgi-ya, maukah kau menemaniku pergi ke halaman belakang?”

“Oh apa?” Seulgi menatap Soojung dengan heran.

“Aku tidak mau berada disini. Aku bosan. Temani aku mengobrol di halaman belakang. Oke?”

Sebelum sempat Seulgi menjawab, Soojung buru-buru meraih lengannya lalu membawa gadis itu keluar dari kamar Dara. Ia sempat melemparkan tatapan tajam pada Jongin saat mereka berpapasan. Jongin hanya tersenyum tipis lalu menghampiri Dara yang masih duduk dengan tenang di depan meja riasnya.

“Aku sudah melakukan apa yang samunim suruh,” Jongin mengeluarkan amplop yang ia terima tadi dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja rias Dara.

“Apa mereka menemukan sesuatu?” Tanya Dara.

“Oh ya. Orang itu bilang jika semalam Sojin pergi ke sebuah restoran untuk menemui beberapa orang pria.”

“Beberapa orang pria?”

“Ya benar, Samunim. Umur mereka nampaknya masih di bawah 30 tahun.”

Segaris kurva tercipta di wajah Dara, “Menarik. Jadi dia memiliki prajurit yang masih muda?”

“Apa kita perlu memata-matai mereka juga?”

“Apa kau pikir itu perlu?” Dara balik bertanya pada Jongin. “Kau tahu hal paling dasar apa yang membuat sebuah kerajaan runtuh dalam peperangan?”

Jongin hanya diam, tak menyahut pertanyaan Dara.

“Fokus,” Dara kembali bersuara setelah hening sejenak. “Ketika kau kehilangan fokus di medan perang, maka sudah dapat dipastikan kerajaanmu akan hancur. Kau akan kalah dalam peperangan. Karena itu penting untuk kita menjaga fokus masing-masing. Orang-orang yang ditemui Park Sojin… mungkin mereka adalah salah satu dari banyaknya prajurit yang akan membantunya, tapi… apakah kau tahu mereka prajurit jenis apa? Hanya ada dua jenis prajurit dalam medan perang. Prajurit yang lemah dan yang kuat. Di antara mereka mungkin ada prajurit yang kuat, tapi apakah kau tahu mana prajurit paling kuat itu?”

“Saya tidak tahu, Samunim.”

“Benar, kau tidak tahu. Aku juga begitu. Jadi, jangan membuang waktu kita untuk hal yang tak berguna,” Dara mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Tetap fokus pada Hayeon dan anak-anak. Sampai Sojin menunjukkan dengan jelas siapa prajurit terkuatnya, jangan lakukan apapun.”

“Baik, Samunim.”

~~~

Seulgi dan Soojung berjalan beriringan menuju halaman belakang kediaman keluarga Park. Tak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Seulgi dan Soojung memang tak memiliki hubungan yang dekat. Selama ini Seulgi hanya mengenal Soojung sebatas sepupu Dara –pun begitu sebaliknya. Soojung hanya mengenal Seulgi sebagai pelayan pribadi sepupunya itu.

“Umurmu berapa?” Tiba-tiba Soojung bersuara.

“Ya?” Seulgi menatap Soojung dengan wajah bingung.

“Aku bertanya, umurmu berapa? Kurasa mungkin kita seumuran.”

“Oh ne. Umur saya 23 tahun.”

“23 tahun?” Soojung menatap Seulgi dalam-dalam. “Woah, kau lebih muda setahun daripada aku. Ini akan sedikit merubah garis keturunan. Bagaimana bisa aku punya calon kakak ipar yang lebih muda dariku?”

“Apa?”

“Ah tidak. Jangan pedulikan aku. Aku hanya bicara pada diriku sendiri,” Soojung tersenyum lebar, menunjukkan senyumnya yang sangat manis pada Seulgi. “Baiklah. Karena kau lebih muda dariku, seharusnya kau memanggilku dengan sebutan ‘eonnie’, tapi asal kau tahu saja aku tak suka dipanggil demikian karena aku terlalu imut, jadi panggil saja aku Soojung.”

Seulgi tertawa pelan, “Tapi saya harus memanggil anda dengan sebutan ‘nona’. Sama seperti ketika saya memanggil Nona Dara.”

“Aish, jangan begitu. Rasanya sangat tidak nyaman dipanggil seperti itu. Aku dan Dara-eonnie… kami adalah orang yang berbeda. Aku ini orangnya santai dan tidak kaku seperti dia, jadi panggil aku Soojung saja. Anggap saja kita ini teman, Oke?”

“Ah, baiklah, Nona.”

“Aish, Soojung. Panggil aku Jung Soojung.”

Tak terasa langkah kaki mereka telah sampai dipondokkan, tempat favorit Dara menghabiskan waktu sarapannya. Seulgi dan Soojung duduk bersebelahan di sana, menikmati pemandangan taman belakang keluarga Park yang begitu indah.

“Aku mau minta maaf padamu.”

Ucapan Soojung itu membuat Seulgi menoleh padanya.

“Kenapa kau meminta maaf?” Seulgi nampak heran.

“Aku minta maaf atas nama kakakku. Jung Taekwoon.”

“Apa?” Seulgi nampak kaget ketika nama pemuda itu disebut.

“Tak perlu kaget begitu. Aku tahu jika kau punya hubungan dengan kakakku.”

“Ah tidak. Kami hanya berteman saja.”

“Ya, kau benar. Kalian hanya berteman, tapi aku tidak mengerti kenapa kakakku mendadak sedih saat ia akan pergi ke Prancis.” Soojung menatap langit cerah yang ada di atas mereka. “Apa kau menolak cintanya? Atau kau mencampakkannya?”

“Ah tidak. Ini sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Tuan Taekwoon mungkin sedih karena hal lain,” Seulgi menyahut dengan cepat. Ia takut jika Soojung jadi salah paham padanya.

Soojung tersenyum tipis, membuat mata besarnya menjadi sipit sekarang, “Seulgi-ya, kau tahu. Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi malam itu.”

Ucapan Soojung itu sukses membuat Seulgi membeku. Seulgi menelan salivanya dengan susah payah. Apa maksud Soojung? Apa Soojung benar-benar tahu apa yang terjadi malam itu?

5 tahun yang lalu…

 

 

Pesta meriah diadakan di kediaman keluarga Park malam itu. Seluruh keluarga, kolega serta rekan bisnis Jaeguk Group hadir di sana. Malam ini tepat peringatan ulang tahun pernikahannya yang keenam. Kesibukan tidak hanya terjadi di ruang utama pesta, namun juga di dapur. Seluruh pelayan yang bekerja di rumah itu nampak sibuk berlalu lalang menyiapkan berbagai penganan untuk para tamu.

 

 

Kepala pelayan Kang sebagai orang kepercayaan di rumah itu nampak sibuk memberi intruksi pada anak buahnya. Ia tak mau jika pesta malam itu kacau hanya karena pelayanan mereka yang kurang memuaskan.

 

 

“Hanseo-ya, bawa ini ke depan,” Kepala pelayan Kang menyerahkan sekeranjang penuh buah anggur kepada anak buahnya.

 

 

“Illa-ya, kau sudah mencicipi pudingnya? Apa rasanya terlalu manis? Kalau terlalu manis kurangi gula dalam krimnya. Para tamu tak boleh sampai merasa mual,” Ia mulai melirik anak buahnya yang bekerja di bagian memasak.

 

 

“Ambil persediaan wine di gudang. Para tamu mungkin akan minum lebih banyak malam ini.”

 

 

Di tengah kesibukannya mengatur segala perkara di dapur, tiba-tiba seorang gadis muda menghampirinya. Itu Kang Seulgi, putri semata wayangnya.

 

 

“Eomma, aku sudah menata semua saladnya di meja. Apa yang harus kulakukan lagi?” Seulas senyum mengembang di wajah cantik itu.

 

 

“Ah, Seulgi-ya, eomma rasa sudah cukup. Kembalilah ke kamar. Bukankah kau harus belajar untuk ujian besok?” Sahut sang ibu membuat Seulgi langsung menekuk wajahnya.

 

 

“Ah, eomma. Aku ‘kan sudah berjanji akan membantu eomma malam ini. Lagipula aku sudah belajar tadi siang. Eomma, jangan khawatir. Akan kubantu eomma malam ini.”

 

 

“Tidak. Tidak. Tidak,” Kepala pelayan Kang nampak mengayunkan jari telunjuknya di udara. “Tugasmu adalah belajar dan pekerjaan ini adalah tugas eomma. Kembali sekarang kembali ke kamarmu dan beristirahatlah. Besok kau harus sekolah bukan?”

 

 

Akhirnya Seulgi terpaksa harus melepaskan apron-nya lebih cepat malam ini. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan dapur dan bergegas menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar seseorang memanggil dirinya.

 

 

“Hei pelayan.”

 


Seulgi menoleh dan mendapati seorang gadis dengan rambut ponytail-nya yang cantik tengah kesusahan merangkul seorang pemuda yang bertubuh jangkung.

 

 

“Bisakah kau membantuku sekarang?”

 

 

“Oh ya ya,” Seulgi dengan sigap langsung mengaitkan tangan sebelah kiri pemuda itu ke lehernya.

 

 

“Kau pelayan di sini ‘kan?” Lagi-lagi gadis cantik itu bertanya pada Seulgi.

 

 

“Oh iya.”

 

 

“Baguslah. Namaku Jung Soojung dan ini kakakku Jung Taekwoon. Kami adalah sepupu Dara. Kami baru datang ke rumah ini dan sama sekali tak tahu seluk beluknya. Karena kau pelayan, kau pasti tahu ‘kan dimana letak kamar tamu?”

 

 

“Ya saya tahu.”

 

 

“Kalau begitu bawa kakakku yang bodoh ini ke sana,” Gadis itu langsung melepaskan tautan tangan pemuda itu dari lehernya, membiarkan tubuh pemuda itu sepenuhnya bertumpu pada Seulgi. “Dia tidak sengaja minum wine. Jika ayahku tahu, bisa-bisa ia akan dibunuh. Jadi, tolong sembunyikan dia untuk sementara. Kau bisa membantuku ‘kan?”

 

 

Seulgi menganggukkan kepalanya dengan cepat.

 

 

“Bagus. Aku akan memberikanmu uang tip setelah ini. Cepat bawa dia ke kamar tamu. Aku harus segera kembali ke pesta.”

 

 

Gadis itu berlalu dengan cepat, meninggalkan Seulgi yang nampak kesusahan mengangkat kakaknya. Dengan susah payah Seulgi membawa pemuda itu ke kamar tamu yang ada di lantai dua. Sesampainya di sana Seulgi langsung mengempaskan tubuh pemuda itu di atas kasur. Untuk sesaat ia berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Pemuda itu jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Apalagi pemuda itu tak bisa diam dan terus meracau hal-hal yang tak jelas.

 

 

Seulgi menatap wajah pemuda itu dengan seksama. Jika diperhatikan lebih jelas, wajah pemuda itu sangat tampan. Garis wajahnya terlihat tegas. Mungkin jika ia tidak sedang mabuk, ia akan nampak lebih sempurna di mata Seulgi

 

 

“Ah, Kang Seulgi, apa yang kau lakukan? Ah, kau ini bodoh sekali. Kau tidak seharusnya melamun.”

 

 

Seulgi meruntuki dirinya sendiri. Didekatinya lemari yang ada di pojok kamar itu. Ia mengambil sehelai selimut tebal. Ia berniat akan menyelimuti tubuh pemuda itu, namun hal lain justru terjadi. Pemuda itu tiba-tiba menarik lengan Seulgi lalu menindihnya. Manik mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat, membuat Seulgi tak dapat menyembunyikan rasa takutnya.

 

 

“Kau siapa?” Tanya pemuda itu dengan sorot mata tajam.

 

 

“Sa… Saya… Saya pelayan di sini,” Seulgi menjawab dengan gugup.

 

 

“Pelayan? Kau terlalu cantik untuk jadi pelayan,” Pemuda itu membelai surai panjang Seulgi. Jelas Seulgi dapat mencium aroma alkohol dari mulut pemuda itu. “Kau lebih pantas untuk jadi model. Aku adalah seorang calon photographer terkenal. Maukah kau jadi modelku?”

 

 

“Tidak. Tidak, terimakasih,” Seulgi berusaha meloloskan diri dari jeratan pemuda itu, namun ia tak berdaya. Kekuatan pemuda itu jauh lebih besar darinya.

 

 

“Kalau kau tidak mau jadi modelku, bagaimana kalau kau menjadi pacarku saja?” Sebuah senyum licik tercipta di wajah pemuda itu, membuat Seulgi ketakutan setengah mati.

 

 

“Tidak. Aku tidak mau. Tuan, jangan lakukan ini kumohon! Jangan!”

 

 

Dan selanjutnya yang terjadi adalah hal yang sama sekali tak pernah Seulgi harapkan dalam hidupnya. Yang membuat dirinya kesal, marah dan sedih dalam waktu bersamaan. Pemuda itu-Jung Taekwoon berhasil merenggut hartanya yang paling berharga.

“Pagi itu—“ Suara Soojung membuyarkan lamunan Seulgi. “—aku menemukan kakakku dalam keadaan nyaris bugil. Aku hampir saja memekik saat itu. Kupikir kakakku sudah berubah jadi monster hanya karena meneguk segelas wine. Apalagi aku menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi. Kau mau tahu?”

Seulgi hanya diam. Membiarkan Soojung menceritakan yang ia ketahui tentang masa lalunya.

“Aku menemukan bercak darah di atas sprei tempat kakakku tidur.”

Mata Seulgi langsung membulat sempurna.

“Aku sangat ketakutan saat itu. Aku khawatir kakakku akan dimarahi karena telah melakukan kesalahan dan kau tahu apa yang lebih kukhawatirkan?” Soojung kini beralih menatap wajah Seulgi. “Dirimu. Aku sangat khawatir dengan dirimu.”

Seulgi menghela napas panjang. Berusaha mengontrol emosinya yang telah diaduk-aduk dengan cerita yang Soojung tuturkan. “Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.”

“Ya, kau benar. Aku sangat senang melihatmu baik-baik saja hingga sekarang. Setidaknya aku tak akan merasa bersalah karena telah menitipkan kakakku padamu malam itu.”

Seulgi tersenyum, berusaha menutupi rasa gundah yang membuncah dalam dadanya, “Ne. Kau benar. Kau tak perlu khawatir lagi mulai sekarang. Aku akan terus baik-baik saja.”

Satu rahasia Seulgi telah terbongkar sekarang. Apakah ia harus membongkar rahasianya yang lain lagi sekarang?

~~~

Ny. Park melangkahkan kakinya dengan mantap menelusuri lorong panjang di depannya. Sesekali beberapa orang yang berpapasan dengannya nampak membungkukkan badan –memberi hormat kepadanya. Langkahnya terhenti kala tungkainya sampai di depan sebuah pintu. Tak perlu menunggu waktu lama, ia pun membuka pintu itu dan segera masuk ke dalam.

“Oh, Ny. Park,” Seulas senyum menyambut kedatangannya. “Ah, senang melihat anda berkunjung kemari. Silahkan duduk.”

Lelaki itu mempersilahkan Ny. Park untuk duduk di kursi yang letaknya bersebrangan dengan dirinya. Mereka kini sudah duduk saling berhadapan.

“Sekretaris Song, tolong bawakan dua cangkir teh ke ruanganku. Aku punya tamu penting sekarang,” Lelaki itu berbicara melalui telepon pada sekretarisnya yang ada di luar. Setelah itu, ia kembali menatap wanita yang tengah duduk dengan tenang di depannya. “Saya cukup terkejut melihat kedatangan anda hari ini. Apa Nyonya ada masalah?”

Ny. Park nampak terkekeh, “Apakah aku hanya boleh menemui pengacara keluarga jika ada sebuah masalah?”

“Ah, tidak. Bukan begitu, Nyonya,” Lelaki itu menyahut dengan cepat. “Saya hanya merasa khawatir. Sebagai pengacara keluarga sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menyelesaikan masalah dari keluarga anda.”

“Tak perlu khawatir, Pengacara Han. Aku hanya datang untuk berkunjung hari ini. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu.”

Lelaki itu –pengacara Han- menatap Ny. Park dalam-dalam. Entah kenapa perasaannya jadi tak enak sekarang. Seulas senyum kembali ia sunggingkan, berusaha agar tak terlihat gugup di depan wanita itu.

“Ah, begitu ya. Saya bersyukur jika sekarang anda tidak punya masalah,” Ucap Pengacara Han.

“Sudah terhitung hampir 2 minggu sejak pembacaan surat warisan. Sungguh tidak bisa dipercaya jika suamiku melimpahkanku tugas yang cukup berat.”

“Ah, ya. Suami anda pasti sangat mempercayai anda, makanya dia mempercayakan masalah pasangan hidup Nona Dara kepada anda.”

“Ya, ia memang sangat percaya padaku. Seumur hidupnya ia selalu membuatku bahagia. Bahkan di saat terakhir ia mengembuskan napas, ia sempat mengatakan bahwa ia sangat mencintaiku. Suamiku memang sangat baik, tapi—“ Ny. Park menjeda kalimatnya sebentar. “—apa kau berpikir kalo anaknya akan juga akan baik padaku?”

Pengacara Han mengembuskan napas panjang. Dialihkan maniknya dari wanita itu. Ia mulai mencium gelagat mencurigakan sekarang.

“Aku tahu kau adalah pengacara yang paling setia pada keluargaku. Suamiku pernah menceritakan masa lalumu padaku. Dia bilang kau adalah juniornya semasa kuliah. Dia bilang dulu kau punya masalah dengan ekonomi keluarga. Kau tak punya cukup biaya untuk kuliah, makanya suamiku menolongmu. Dia bilang kau itu sangat cerdas, makanya dia tidak ingin orang sepertimu menjadi sia-sia hanya karena terhalang masalah biaya sekolah. Kau pasti sangat berterimakasih padanya. Tidak heran kau jadi sesetia ini pada keluargaku.”

“Ya, itu benar, Nyonya. Saya sangat beruntung karena menerima banyak bantuan dari Tuan Park. Sudah sewajarnya saya membalas budi dengan melakukan semua ini.”

“Benar. Itu dia maksudku. Balas budi!”

“Hah?” Pengacara Han menatap wajah Ny. Park dengan bingung.

“Aku bilang, kau harus balas budi dan kurasa kau paham itu dengan baik,” Ny. Park membenarkan posisi duduknya. “Pengacara Han, sekarang suamiku sudah meninggal dan aku tahu kau sedang berpihak pada anak tiriku.”

Pengacara Han terdiam. Ia tidak tahu jika intuisi wanita itu sangatlah peka.

“Tidak perlu kaget. Itu hal yang biasa, Pengacara Han. Lagipula aku datang kemari bukan untuk membahas hal itu, jadi kau tak perlu tegang seperti ini,” Tawa Ny. Park meledak begitu saja. Ia merogoh tasnya lalu menyodorkan sebuah amplop pada Pengacara Han. “Tujuanku sebenarnya adalah mengantarkan ini.”

Pengacara Han menatap amplop itu dengan hati-hati. Ia tak langsung menyentuh amplop itu.

“Itu adalah profil calon suami Dara. Dia adalah yang terbaik yang bisa aku dapatkan. Dia memang bukan kalangan seperti kami karena –yah kau tau sendiri ‘kan jika kelas sosial keluarga kami sangatlah tinggi. Susah untuk mencari pasangan dari kelas yang sama. Dia adalah pengusaha yang punya penampilan dan kepribadian yang baik. Kuharap kau juga menyukainya.”

Pengacara Han diam sejemang sebelum akhirnya kembali mengulas senyum. Ia nampak lebih tenang sekarang, “Baik, Nyonya. Saya akan membaca profil ini dengan teliti.”

“Sebenarnya aku tidak berharap kau akan berada di pihakku, tapi apa aku menyadari sesuatu?” Ny. Park menatap Pengacara Han dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. “—Sandara itu… dia adalah sosok yang berbeda dengan ayahnya. Ia terlalu banyak mengalami luka sejak masih kecil. Kurasa itulah yang membuatnya menjadi sosok yang sangat dingin seperti sekarang. Kudengar kau sedang terlibat dengan sebuah kasus besar. Ummm—apa ya namanya? Kasus pembelaan Perdana Menteri Hwan? Ah, itu kasus yang cukup berat. Ia terlalu banyak meninggalkan jejak korupsi di masa kepemimpinannya. Mereka pasti tidak akan tinggal diam jika kau gagal meloloskan Perdana Menteri dari kasus ini.”

Pengacara Han masih terus diam. Dia sama sekali tak berkutik dengan ucapan wanita itu.

“Kau pasti tahu dengan jelas ‘kan jika Dara tak peduli dengan hal semacam ini. Ia hanya memikirkan masalahnya sendiri tanpa memikirkan masalah orang-orang yang ada di pihaknya. Pengacara Han, kau tahu, aku mengenal dengan baik jaksa yang akan memimpin persidangan di akhir pekan nanti. Jadi—“ Ny. Pak tersenyum dengan puas kala didapatinya wajah Pengacara Han berubah pucat. “—kau tahu ‘kan apa yang harus kau lakukan?”

~~~

Jiyong tengah asyik bersantai di balkon rumahnya. Menikmati pemandangan langit senja yang berubah menjadi jingga di balkon apartemenna adalah salah satu aktivitas favorit yang tak pernah ia lewatkan. Jiyong menyesap jus jeruknya saat deringan ponselnya terdengar nyaring. Seulas senyum tercipta di wajahnya saat nama Sojin tertera dengan jelas di layar ponselnya.

“Halo,” Jiyong buru-buru mengangkat teleponnya.

“Oh Jiyong-ah, apa kau sibuk malam ini?”

Lagi-lagi Jiyong tak dapat menyembunyikan senyumnya, “Tidak. Aku free malam ini. Kenapa?”

“Aku hanya ingin bilang jika tugasmu akan segera dimulai malam ini.”

“Hah?”

“Malam ini kau harus menemui kakakku. Temui kami di restoran Hotel Flitz. Persiapkan dirimu dengan baik.”

Sebelum Jiyong sempat menjawab, Sojin sudah lebih dulu memutuskan sambungan telepon. Jiyong terdiam untuk beberapa saat lalu pelan-pelan tersenyum.

“Ini bagus. Aku memang harus mulai bekerja sekarang.”

~~~

Dara tengah memoles wajahnya di depan meja rias, ditemani Seulgi yang sedang memilih gaun yang akan dipakainya malam itu.

“Apa gaun berwarna mencolok tak masalah untuk, Nona?” Seulgi bertanya sambil menenteng sebuah gaun berwarna merah terang yang baru ia keluarkan dari lemari.

“Terserah saja, Kang Seulgi. Aku selalu suka pilihanmu,” Sahut Dara sambil memoles bibir tipisnya dengan lipstick berwarna merah marun.

Seulgi mengulas senyum lalu membawa gaun pilihannya tadi menuju Dara. Malam itu Dara mendapat undangan mendadak dari Pengacara Han. Ia bilang ada suatu hal  penting yang harus mereka bicarakan. Dara takkan datang sendiri. Ia dengar pengacara Han juga mengundang Ny. Park dan kedua anaknya. Dara sudah mencium gelagat mencurigakan. Nampaknya malam ini Ny. Park dan anak-anaknya akan memberikan sebuah ‘kejutan’ untuknya. Dara telah mempersiapkan segala sesuatu, maka dari itu ia telah meminta Jongin untuk menemaninya.

“Woah, Nona sangat cantik,” Seulgi bergumam takjub. Gaun yang ia pilihkan terlihat sangat cocok untuk Dara. Gaun panjang tanpa lengan berwarna merah marun itu nampak sangat indah dikenakan di tubuh Dara yang ramping. Ia terlihat lebih seksi, namun tidak terkesan murahan.

Dara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Seulgi, “Bawa aku keluar. Sekretaris Kim akan segera datang untuk menjemputku.”

~~~

Jiyong sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam. Rambut merahnya telah disisir rapi. Penampilannya malam itu nampak sangat menawan.

“Hyung akan pergi kencan?” Seungri bertanya saat Jiyong melintas di depannya yang sedang bersantai di depan TV.

“Tidak. Aku akan mulai bekerja malam ini,” Sahut Jiyong sambil memperbaiki letak dasi yang ia kenakan.

“Jadi hyung akan bertemu dengan gadis itu?”

“Ya kira-kira begitu.”

Seungri membenarkan posisi duduknya lalu meletakkan toples keripik yang sejak tadi ia pegang ke meja, “Hyung, tadi siang aku coba mencari tahu tentang gadis itu. Umm-siapa namanya San… San…”

“Sandara Park,” Jiyong lekas menyela saat dilihatnya Seungri kesulitan mengingat.

“Ah ya, Sandara Park. Aku mencari profil dirinya di internet dan woah—dia cantik sekali, hyung.  Aku hampir kau akan menikah dengannya. Kudengar dia juga buta, tapi dia menjadi presdir di Jaeguk Group. Dia pasti orang hebat. Meskipun buta, dia bisa memimpin perusahaan sebesar Jaeguk Group.”

Jiyong tersenyum tipis mendengar ucapan Seungri, “Aku sudah tahu itu. Tadi siang Sojin sudah memberikanku dokumen profilnya.”

“Lalu apa hyung merasa sanggup melakukan pekerjaan ini? Kurasa ini akan jadi pekerjaan yang berat.”

Jiyong menghela napas panjang lalu menatap Seungri dengan lekat, “Entahlah. Gadis itu… dia gadis yang berbeda. Dia tidak bisa disamakan dengan gadis lain. Kurasa ini akan jadi sulit, tapi Sojin butuh bantuanku sekarang. Aku akan melakukannya demi Sojin.”

~~~

Tepat pukul 8 malam, Dara dan Jongin tiba di tempat pertemuan yang telah ditentukan. Sebuah restoran mewah bertempat di hotel bintang lima menjadi tempat yang dipilihkan Pengacara Han untuk bertemu. Saat mereka sampai salah satu pelayan langsung menyambut mereka dan membawa mereka menuju meja yang telah dipesan. Pengacara Han, Ny. Park dan kedua anaknya nampak telah datang lebih dulu dan menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang sulit untuk diartikan.

“Sebenarnya ini pertemuan keluarga, tapi samunim memintaku untuk menemaninya. Mohon maaf jika kedatanganku agak sedikit mengganggu,” Jongin berucap setelah membantu Dara duduk.

“Itu bukan masalah, oppa. Kau juga sudah seperti anggota keluarga kami,” Jiyeon mengerling manja pada pemuda itu.

“Tidak apa-apa, Sekretaris Kim. Kami semua tahu kau adalah salah satu orang kepercayaan Nona Dara. Kedatangan anda sama sekali tidak mengganggu,” Timpal Pengacara Han. Ia berdehem lebih dulu sebelum memulai pembicaraannya lebih lanjut. “Sebenarnya pertemuan dadakan ini kuadakan setelah ada salah satu karyawan yang melapor padaku. Dia bilang dia baru saja membaca dokumen aturan perusahaan Jaeguk Group. Dia menemukan beberapa poin yang bertentangan dengan struktur kepemimpinan sekarang.”

“Poin yang bertentangan? Maksud anda?” Jongin menautkan kedua alisnya, memasang ekspresi wajah heran.

“Seperti yang kita tahu, Tuan Park Yoonmin adalah pendiri sekaligus perintis pertama dari Jaeguk Group. Sebelum Jaeguk Group benar-benar menjadi perusahaan besar seperti sekarang, Tuan Park telah menulis semua aturan perusahaan dalam sebuah dokumen. Aturan itu tidak banyak dipublikasikan, namun selalu dipatuhi dan jadi pedoman dalam struktur kepemimpinan Jaeguk Group.”

“Lalu poin apa yang dianggap bertentangan itu?” Jongin kembali bertanya. Wajah kini semakin terlihat bingung.

“Status dari Samunim.” Ucapan Pengacara Han itu membuat Jongin kaget.

“Status?”

“Sesuai dengan dokumen yang telah ditemukan karyawan itu, ada poin yang dilanggar oleh Samunim saat ini. Di sana menyebutkan bahwa status seorang presiden yang kedepannya akan memimpin Jaeguk Group haruslah memiliki rentan usia yang matang dan sudah menikah. Hal ini harus dipastikan karena Jaeguk Group harus memiliki keturunan lebih lanjut untuk menjadi generasi berikut Jaeguk Group yang berikutnya.”

“Jadi, maksudmu—“ Dara yang sejak tadi hanya diam akhirnya bersuara juga. “—Aku tidak bisa jadi presdir resmi Jaeguk Group jika belum menikah?”

“Sesuai dengan isi dokumen itu, Nona Dara harus memenuhi kualifikasi lebih dulu,” Sahut Pengacara Han. “Sebelumnya Nona Dara diangkat menjadi presdir karena keadaan mendesak. Tuan Park sedang sakit dan kursi kekuasaan Jaeguk Group tidak bisa dibiarkan kosong. Selama ini Nona Dara telah memimpin Jaeguk Group dengan baik, tapi poin dalam dokumen itu mengharuskan anda untuk mengikuti prosedur yang ada.”

Jongin terdengar menghela napas panjang. Permasalahan menjadi semakin rumit sekarang.  Sementara Dara sibuk dengan pikirannya sendiri. Jelas ia tahu ada yang tidak beres dengan semua itu.

“Karyawan itu mengambil foto dokumen itu secara diam-diam dan ia mengancam akan menyebar luaskan foto tersebut. Jika foto itu tersebar, maka kredibilitas Jaeguk Group akan dipertanyakan di depan public,” Lanjut Pengacara Han.

“Karyawan yang sangat berani. Beri saja dia uang. Semuanya akan beres bukan?” Sojin terdengar bersuara.

“Itu juga yang dia inginkan, namun mungkin jumlah yang ia minta akan terus bertambah. Ia juga sepertinya tidak berminat untuk menghapus foto tersebut.”

“Pengacara Han,” Dara tiba-tiba menyela ucapan lelaki itu.

“Ya?” Pengacara Han menatap Dara dengan heran.

“Apa kesimpulan dari penjelasanmu tadi? Kau tahu ‘kan aku tidak suka bertele-tele. Katakan dengan jelas apa maksudmu sebenarnya,” Ucapan Dara itu mengundang seulas senyum tipis di wajah ibu serta adik-adik tirinya.

“Ummm-saya rasa Nona Dara harus segera menikah. Bagaimana pun kita memang bisa membayar karyawan itu, tapi bukankah lebih baik jika segera menuntaskan masalah yang ada? Jika Nona telah menikah, tentu saja kelak dokumen ini takkan jadi masalah. Sekalipun karyawan itu membocorkan fotonya ke media, tentu saja  kredibilitas Jaeguk Group akan tetap aman,” Sahut Pengacara Han dengan nada yang sedikit gugup. Bahkan peluhnya mulai bercucuran kala didapatinya sorot mata tajam dari Dara.

Suasana menjadi hening sejemang. Tak ada yang bersuara sampai akhirnya Dara membuka percakapan.

“Itu adalah poin sebenarnya, Pengacara Han. Kenapa kau harus sampai basa-basi segala?” Nada bicara Dara terdengar riang. “Bagaimana pun keluarga tiriku pasti telah menyediakan calon suami untukku. Benar begitu ‘kan?”

Ny. Park terkekeh pelan. Sesuai dugaannya, Dara cukup pintar untuk membaca situasi saat ini. Gadis itu pasti telah mengetahui strategi perang apa yang akan mereka jalankan malam ini.

“Ya, kau benar. Aku telah mencarikan calon suami yang hebat untukmu,” Ucap Ny. Park sambil menatap Dara dengan lekat. “Apa kau keberatan jika aku mengundangnya malam ini?”

Dara semakin memperlebar senyumnya. Peperangan mereka semakin mencapai puncak sekarang, “Aku punya hak untuk menolak? Undang saja dia. Aku jadi penasaran sekarang.”

Ny. Park menatap Sojin yang duduk di sebelahnya, memberi isyarat agar anaknya itu segera memanggil calon suami Dara. Sojin menepuk tangannya dua kali. Bersamaan dengan itu sesosok pemuda tampan dengan setelan jasnya yang rapi melangkah dengan mantap memasuki area restoran. Manik semua orang yang ada di meja itu tertuju padanya. Wajahnya tampan dan senyum ramah ia kembangkan. Pemuda itu Kwon Jiyong.

“Selamat malam semuanya,” Jiyong menundukkan badannya, memberi hormat pada semua tamu yang duduk di sana. “Nama saya Kwon Jiyong.”

Jongin memperhatikan wajah pemuda itu dengan seksama. Ia merasa cukup familiar dengan wajah Jiyong.

“Kwon Jiyong adalah pengusaha muda. Ia memang bukan dari kalangan seperti kita, tapi ia cukup sukses di bidangnya. Saya mengenal keluarganya dengan cukup baik,” Ny. Park memperkenalkan sosok pemuda bersurai merah itu. “Jiyong-ssi, ini adalah Sandara. Dia adalah putriku yang akan kujodohkan denganmu.”

Jiyong beralih melirik gadis berwajah dingin yang duduk di dekatnya. Ia meraih tangan gadis itu-bermaksud untuk bersalaman.

“Namaku Kwon Jiyong. Sepertinya kita sebaya. Senang bertemu denganmu,” Tiba-tiba Jiyong menarik tubuh Dara, membuat jarak diantara mereka menjadi sempit. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Dara dan membisikkan sesuatu. “Kau pasti mengingatkanku bukan? Anjing gila!”

Dara terdiam untuk beberapa saat. Ya, dia ingat pemuda itu. Pemuda yang pertama kali ia temui di taman. Pemuda yang menyebutnya anjing gila. Pemuda yang telah menggendongnya di tengah hujan. Ya, dia adalah pemuda itu.

==Chapter 4 : END==

 

Aloha reader-nim~

Akhirnya Chapter 4 selesai dan ternyata jeng jeng jeng panjangnya ga jauh beda sama chapter 3 kemarin :”)

Sekali lagi, reader-nim semua yang berhasil baca chapter 4 ini sampe tamat, kalian semua luar biasa /ala-ala Ariel Noah

Fiuh, lelah sekali rasanya karena Chapter 4 ini aku kerjakan ditengah kesibukan tugas kampus yang menggila, tapi aku seneng soalnya FF-ku ini sangat diapresiasi oleh readers setia DGI /gummawo semuanya /aku cinta kalian /tebar-tebar bunga

Dari komentar chapter-chapter sebelumnya ada beberapa readers yang nanya : “Thor, ini daranya gada niatan buat dibikin jadi normal? Operasi mata atau apa kek?”

Nah disini author juga pengennya nanti Dara bisa ngeliat soalnya author juga ga tega kalo bikin dara jadi buta terus sampe ending :”) tbh, author belum punya ide buat ceritanya :”)

Terus ada juga yang ngomen “Kak, kok disini Seungri di pasangin ama Yoona? Feelnya kurang dapet aja”

Jujur disini author random aja milih couple buat cast lain (kecuali Kaistal) karena author adalah penganut aliran shipper anti-mainstream(?), jadi author suka banget bikin pairing sendiri yang jarang dipake sama author lain. Alasannya kenapa milih Yoona soalnya dia cantik banget.  Kemaren aku kesemsem sama dramanya dia yang The K2. So, Seungri ganteng, Yoona cantik, cocok dong mereka di couplein /iyain aja biar author-nya seneng :”)

Maaf banget kalo pun nantinya couple abal-abal ini bakal bikin kalian gak nge-feel ama jalan ceritanya (terutama buat couple Seungri-Yoona), semoga kalian gak jera aja baca ff ini.

 

Tetap tinggalkan komentar kalian ya. Beberapa komentar mungkin nanti bakal author bahas juga di bagian A.N ini.

Tengkyu readernim~

 

 

N.p: Maaf banget di chapter ini momen daragonnya juga masih sangat minim :”) Semoga di chapter selanjutnya author bisa bikin lebih banyak momen daragon

 

 

-Hana

 

Advertisements

40 thoughts on “SNEEUWWITJE [Chap. 4]

  1. kok aku deg2an ya dara sama ji akhirnya bertemu secara resmi…hehehhe
    ok….perang dunia ke 3 siap dimulai.
    dara jgn sampe kalah ya.
    aku gk nyangka ternyata seulgi punya masa lalu yg serem sama kakaknya krystal. berarti seulgu udh punya anak dong thor?

  2. Entah kenapa aku gk suka dengan keberadaannya soojin, tapi bukan bermaksud nyalahin author kok bukan. Emang sih setiap cerita ada konfliknya tapi aku takut konflik itu bakalan ngebuat dara unnie rapuh😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s