Bad Boy For Bad Girl [Chap. 11]

BFB Cover

Author: ElsaJung | Cast: Sandara Park/Dara – 2NE1, Kwon Jiyong/G-Dragon – BigBang, Jung Sooyeon/Jessica | Support Cast: Choi Seunghyun – BigBang, Park Bom – 2NE1, Dong Youngbae – BigBang, Kang Daesung – BigBang, Lee Seunghyun/Seungri – BigBang | Genre: Comedy, Romance, a little bit sad | Rating: Teen | Lenght: Chaptered/Series

.

.

.

.

Bab 11

Baru saja hendak berjalan mendekat, tubuh Dara tiba-tiba terhuyung dan tersungkur ke depan setelah benda tumpul mengantam punggungnya. Sakit sekali. Dara tidak pingsan. Ia masih setengah sadar dan merasakan rasa sakit di tubuh bagian belakangnya. Seseorang yang memukulnya serasa mengeluarkan tenaga ekstra saat memukul Dara. Sungguh, sakit yang tidak dapat didefinisikan. Dara yakin, pukulan itu pasti membuat punggungnya mendapat luka memar atau mungkin berdarah.

Gadis di dalam mobil itu tersenyum. Ia meraih ponsel dari dalam tasnya.

Beep!

Dara merasa benda di dalam sakunya bergetar.

Pesan masuk.

Pesan itu berisi, ‘Kau akan bertemu denganku setelah kau sadar.’

Lalu, semuanya gelap. Mata Dara terpejam.

***

“Hei, apa dia marah karena aku membohonginya?” tanya Jiyong dengan kepala menyembul dari belakang seorang perawat yang tengah melepas selang infus dari tangannya. Yap! Jiyong mengorbankan tangannya untuk diinfus demi membohongi Dara.

Bom mengendikkan bahunya. “Entahlah, Dara tidak terlihat memasang ekspresi marah saat meninggalkan ruangan ini. Yang kulihat, dia gugup dan gemetar.”

“Benarkah?” Jiyong menaikkan sebelah alisnya.

Jadi, Bom melihat apa yang dilihatnya?

“Dara bertingkah aneh akhir-akhir ini.”

Dan, Bom juga memiliki pemikiran sama dengannya.

Saat ini, di ruangan rawat inap VIP dengan fasilitas modern itu hanya ada Jiyong dan Bom. Jiyong meminta keempat kawannya untuk meninggalkan mereka berdua karena alasan tertentu. Ia ingin mencari tahu mengenai perubahan sikap Dara yang menurutnya tidak seperti biasanya. Benak Jiyong berkata, Bom lah satu-satunya orang yang dapat memberitahunya informasi tentang Dara karena dia sahabat sang empu.

“Aneh? Maksudmu?”

“Entahlah. Aku serasa tidak mengenal Dara yang sekarang. Dia seperti tengah menyembunyikan banyak hal dariku. Aku sempat ingin bertanya, tapi aku mengurungkan niatku karena dia tampak kacau. Penampilannya, raut wajahnya.” Bom mendengus pasrah. “Apa dia menceritakan sesuatu padamu?”

“Kalau dia bercerita padaku, aku tidak mungkin bertanya-tanya tentangnya.”

Berbeda dari apa yang ada di dalam benaknya, ternyata Bom tidak tahu-menahu mengenai permasalahan Dara. Shit! Bahkan Dara tidak memberitahu Bom? Sebenarnya, rahasia macam apa yang disembunyikan Dara?

Tunggu. Mungkinkah Chanyeol tahu?

Jika Dara tidak bercerita kepada Bom, kemungkinan besar gadis itu menceritakannya kepada seseorang yang dapat dipercaya olehnya. Seingat Jiyong, Dara pernah berkata kalau dia dan Chanyeol sudah berteman sejak kecil. Ya. Mungkin Chanyeol.

Jiyong tahu apa yang harus dilakukannya.

***

“Apa yang harus kulakukan padanya?” tanya seorang laki-laki pada gadis berpakaian serba hitam di hadapannya. “Haruskah kita memulai permainan utama?”

Gadis itu menyodorkan telapak tangannya. “Jangan. Aku memiliki banyak permainan untuknya. Aku hanya ingin tahu, apa Jiyong benar-benar menyukainya atau tidak. Kalau Jiyong menyukainya, dia pasti akan melakukan segala cara untuk mencari keberadaannya. Tapi, jika Jiyong tidak menyukainya, dia akan membiarkan gadis mengerikan ini mati membusuk.” Ujarnya tersenyum penuh kemenangan. “Dan, aku akan memberinya sedikit pengarahan agar tak lagi bersikap sok di hadapan Jiyong.”

“Lalu, apakah-”

“Siram dia!”

“Tapi-”

“Kubilang, siram dia!! Apa aku pernah menuliskan dalam perjanjian kalau kau bisa menentangku sesuka hati?!” Si rambut pirang itu berteriak dengan mata membelalak. “Siram.” Tukasnya geram.

Laki-laki itu mengangguk pelan, kemudian meraih sebuah ember berisi air. Sebenarnya, ia tidak memiliki niat untuk menentang atau apa pun, hanya saja sebagai manusia, ia memiliki rasa belas kasih meski ia telah membuat kesepakatan dengan si rambut pirang. Bagaimana ia tidak merasa kasihan? Laki-laki bernama Song Mino itu tahu Dara mengalami luka yang serius di bagian punggung akibat pukulan darinya. Dan, apa yang terjadi jika luka kalian yang belum mengering disiram air sebegitu dinginnya? Tidakkah terasa sakit?

Mino menatap si rambut pirang dengan kening berkerut. Gadis itu membalas tatapan Mino dengan anggukan mantap seolah berkata, lakukan!

Dengan satu kali hentakan, seember air itu sukses mengguyur tubuh Dara.

BLAM!

Sepasang mata Dara terbuka lebar. Ia merasakan sesuatu yang menyengat di bagian punggungnya. Terasa perih, sakit, ngilu dan jangan lupakan, dingin. Dara menyatukan giginya, mencoba menahan rasa perih pada punggungnya.

Dan, tempat apa ini?

Semacam gudang bernuansa gelap dengan kondisi tidak terawat. Sarang laba-laba di mana-mana, interior yang tampak kumuh, cat mengelupas dan banyak lagi seakan-akan gudang ini tak digunakan selama bertahun-tahun. Dara bahkan tidak ingat, berapa lama ia pingsan karena Dara yakin tempat di mana ia berada sekarang terletak cukup jauh dari Seoul.

Samar-samar, setelah indra penglihatnya berfungsi genap seratus persen, Dara melihat seorang laki-laki berambut hitam dengan perawakan tidak terlalu tinggi maupun pendek berdiri di hadapannya dilengkapi masker yang menutupi separuh bagian wajahnya. Tepat di belakangnya, seorang gadis dengan pakaian lebih tertutup terlihat menatap penuh kemenangan ke arahnya. Bagaimana Dara tahu dia seorang perempuan? Hal itu tampak jelas dari rambut pirangnya yang digerai.

Gadis itukah orang yang menerornya?

Benarkah?

Sial!!

Dara ingin berlari menghambur ke arah mereka berdua tanpa memedulikan rasa sakit yang masih menyengat punggungnya. Ia tak lagi merasa takut. Yang ada di benaknya adalah ia harus membunuh orang yang menerornya secepat mungkin atau ia tak akan merasa bahagia selamanya. Tapi, untuk saat ini, Dara tidak bisa melakukan apa pun. Tubuhnya terikat dalam keadaan duduk dengan kedua tangan dan kaki yang juga diikat. Sangat kuat sampai Dara yakin kulitnya memerah karena ikatan kuat itu.

“Mencoba melepaskan diri, Dara?” si pirang berjalan mendekat dengan suara berat yang dibuat-buat. Tentu ia tidak ingin Dara mengenali suaranya. Ah, suara akan menjadi bumerang untuknya.

“Lepaskan aku, brengsek!” Dara memekik tajam, mengerahkan seluruh tenaganya.

“Apa? Brengsek?” Gadis itu berbicara dengan nada mencibir. “Bukankah kau yang lebih pantas disebut brengsek, gadis-miskin-yang-tak-lebih-baik-dari-anjing?”

Dara mendengus geram. Siaga satu! Ia tidak mungkin mengumpat sumpah serapah kalau ia masih memiliki keinginan untuk bernapas. Si rambut pirang ini pernah membuat Dara hampir kehilangan nyawanya dan Dara tak ingin gadis itu mencoba membunuhnya untuk kali kedua.

Gadis itu berjalan mendekati Dara. Ia melangkahkan sepasang kaki beralaskan stilleto-nya. Suara derap langkah itu terdengar sangat mengerikan di telinga Dara. Sungguh, hal itu membuat Dara mengingat masa lalunya. Derap langkah misterius yang dipenuhi aura negatif.

Si rambut pirang menghentikan langkahnya tepat di samping kiri Dara. Tangannya bergerak perlahan, membelai rambut Dara. Sesekali gadis itu membalut jari telunjuknya dengan rambut coklat halus itu. Sesaat kemudian, setelah sampai diujung, si pirang menarik rambut Dara dengan satu kali hentakkan, membuat Dara meringis kesakitan. Beberapa helai rambutnya berjatukan.

“Apa yang kau inginkan dariku, huh?” tanya Dara mendelik tajam sembari menahan sakit.

“Masih berani bertanya?” tekan gadis itu terus menarik rambut Dara. Lebih kuat dan kuat. “Sudah berapa kali aku mengatakan kepadamu, aku membencimu, aku tidak menyukaimu dan aku tidak suka melihatmu dekat dengan Jiyong. Kubilang, jauhi Jiyong!” Gadis itu menoyor kepala Dara hingga terhempas kuat. “Kenapa kau terus bertingkah menggelikan di hadapannya? Apa kau muak melihatmu yang bertingkah seperti gadis jalang. Kalau kau tidak menyukainya, jauhi dia. Kenapa sulit sekali?!”

“Jiyong?”

Kwon Jiyong?

Jadi, Jiyong penyebabnya?

Tunggu. Apa hubungannya semua ini dengan Jiyong?

***

Sial!

Jiyong mengumpat selama perjalanan. Tidak ada yang lebih menyebalkan dari apa yang dialaminya saat ini. Semalam Jiyong tidak bisa tidur nyenyak. Ia tak berhenti memikirkan Dara, apa yang dilakukan gadis itu dan apa gadis itu baik-baik saja. Dara tidak mengiriminya satu pesan pun—meski Dara memang tidak pernah mengirim pesan lebih dulu padanya—tapi kali ini benar-benar aneh. Dara tidak membalas pesan Jiyong. Ponselnya pun tidak aktif.

Sungguh malam yang menyiksa.

Pagi ini Jiyong sengaja berangkat sekolah lebih awal dari sebelumnya meski ia tidak terjaga dengan baik semalaman. Ia berniat menghampiri Dara dan berangkat sekolah bersama-sama.  Kalau pun Dara tidak memberitahu rahasianya kepada Jiyong, setidaknya Jiyong bisa merasa sedikit lega setelah tahu Dara dalam kondisi baik-baik saja.

Sebelah tangannya meraih kenop pintu rumah Keluarga Park. Perlahan tapi pasti, Jiyong mulai memutarnya. Pikirannya kalut dan diselimuti oleh kekhawatiran.

Seperti biasa, Jiyong memasuki rumah itu tanpa pemisi. Bukan bermaksud tidak sopan. Jiyong berulang kali mengetuk pintu, tetapi tak satu orang pun membukakan pintu untuknya. Toh resiko terbesar yang biasa diterimanya adalah mendapat pukulan keras dari Dara karena bersikap lancang.

Jiyong memasuki rumah itu lebih dalam sampai ia menemukan seorang wanita tua tengah berdiri di depan wastafel sembari memijat kepalanya. Wanita tua itu adalah Nenek Park. Jiyong mengenali perawakan Nenek Park yang lebih gempal dan pendek beberapa senti dari Dara.

“Nenek Park,” Panggil Jiyong mengetuk tembok, berharap Nenek Park mendengarnya.

Benar saja. Nenek Park menoleh, kemudian tersenyum lemah saat menyadari kedatangan Jiyong yang memang sudah ditunggu-tunggu olehnya.

“Apa Dara bersamamu, Nak? Nenek sangat cemas.”

Kening Jiyong berkerut, menampakkan garis-garis halus di kulit putihnya.

“Maaf. Justru saya datang untuk menjemputnya.”

Kali ini, giliran kening Nenek Park yang berkerut. “Seingat Nenek, dia kemarin meminta izin untuk menemuimu. Lalu, ke mana dia?”

“Jadi, Dara tidak pulang semalam?”

Apa-apaan ini?

“Tidak. Nenek berusaha meneleponnya, tapi ponselnya tidak aktif.” Nenek Park memainkan jarinya. Wanita tua itu tampak ketakutan. “Nak, apa Dara pernah menceritakan sesuatu padamu? Dia bertingkah tidak biasa akhir-akhir ini. Nenek merasa, ada seseorang yang mengganggunya.”

Jadi, Nenek Park tahu sesuatu tentang Dara?

“Tidak, Nenek Park.” Jiyong menggeleng cepat. “Mengganggu? Maksud Anda?”

“Saat kalian liburan, seseorang mendatangi Nenek. Dia berkata, dia teman Dara. Dia seorang perempuan berambut pirang. Nenek tidak terlalu ingat seperti apa wajahnya. Beberapa jam setelah kedatangannya, Dara pulang dan marah-marah seperti orang kerasukan. Malamnya setelah pulang entah dari mana, dia bertingkah aneh. Lebih tepatnya, seperti seseorang yang ketakutan.”

Liburan? Malamnya? Jadi, itu alasan Dara membentak Jiyong, memintanya untuk menyiapkan penerbangan pulang secepatnya? Lalu, di malam harinya. Bukankah itu tepat setelah Jiyong bertemu dengan Dara? Dara memang tampak cemas sejak awal.

“Setahu Nenek, hanya dua hal yang ditakuti Dara, yaitu: Diikuti seseorang dan berenang. Dia tidak pernah menceritakan kenapa dia takut akan kedua hal itu. Dara tidak suka saat seseorang menguntit di belakangnya. Dia juga benci kolam renang. Dia tidak menceritakan banyak hal pada Nenek. Dia orang yang tertutup.”

Ya. Jiyong ingat. Dara tidak pernah mau mengikuti pelajaran olahraga yang mengharuskannya berenang setiap seminggu sekali. Dan, tunggu. Dara tidak suka diikuti oleh seseorang, tapi kenapa dia tidak bercerita saat seseorag menguntitnya?

“Nenek yakin, seseorang berusaha mengganggunya.” Nenek Park membelai dadanya.

Fuck!

“Jangan khawatir. Aku akan menemukannya, Nenek Park.”

Segalanya terasa semakin rumit sekarang. Jiyong belum sepenuhnya tahu apa yang terjadi, tetapi dia harus menghadapi kenyataan bahwa Dara menghilang. Baik! Cukup! Ini benar-benar menguras tenaga. Sekarang yang harus dilakukannya: pertama, menemuni Chanyeol karena sudah menyusun rencana pertemuan sebelumnya; kedua, melacak keberadaan Dara. Semua akan baik-baik saja. Jiyong berjanji pada dirinya sendiri.

***

“Jiyong? Apa hubungan semua ini dengan Jiyong?” Dara mengerutkan keningnya.

Si gadis pirang menaikkan sebelah alis sembari tersenyum licik.

YA! Katakan padaku!”

“Aku akan bertanya terlebih dahulu padamu. Kau menyukai Jiyong?”

Dara terdiam sejenak. “Tidak.” Jawabnya. “Aku tidak menyukai si tengil itu.”

“Lalu, kau pikir, apa yang kau rasakan saat kau menyukai laki-laki yang ternyata menyukai gadis lain sementara gadis itu tidak menyukainya? Ah, bukan. Gadis itu bertingkah menggelikan, seperti gadis jalang, dan membuat laki-laki itu tergila-gila.” Gadis pirang itu membungkukkan tubuhnya. “Menurutmu, siapa yang tidak marah?” Ia kembali menegakkan badannya. “Mau kau menyukainya atau tidak, kau tetap menjijikkan.”

“Apa?! Kau mengataiku jalang, menggelikan dan-”

“Menjijikkan, jangan lupa.” Desisnya.

“Keparat ini! YA! Kalau kau menyukai Jiyong, katakan saja! Kenapa kau menerorku?! Aku tidak lagi takut padamu, kau tahu?!” Dara meludahi pakaian gadis pirang di sampingnya.

Gadis itu terperangah. “Sungguh tidak tahu terima kasih. Sudah baik aku tidak membunuhmu. Beraninya kau meludahiku!” Sedetik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. Tawa misterius yang terdengar menyeramkan. “Tapi, tenang saja. Aku masih cukup sabar menghadapimu. Kalau kau membuatku marah, aku tidak segan-segan menyakiti orang-orang terdekatmu. Jangan kira aku tidak bisa membuatmu serasa hidup di neraka.”

“Jika kau membuat hidupku serasa di neraka, maka aku akan membuatmu tinggal di neraka di kehidupan berikutnya.”

Dia berdecak. “Neraka? Baik. Pesankan untukku satu ruangan di neraka bagian terbawah, okay?

Dara menggertakkan giginya geram, sementara gadis pirang dengan pakaian serba hitam malah tertawa semakin keras seakan-akan kemarahan Dara adalah suatu hiburan baginya. Ya, mungkin itu benar. Ia tidak takut pada Dara. Persetan memiliki urusan dengan gadis berandalan. Menurutnya, jika Dara adalah gadis berandalan yang tega meninju siapa pun yang berurusan dengannya, maka ia adalah gadis psikopat yang tega membunuh siapa pun yang berurusan dengannya. Simpel, bukan?

“Jika kau bertanya, kenapa kau berada di sini, aku akan menjawabnya.” Gadis itu berjalan mengitari Dara yang tengah duduk dengan tali yang melilit tubuhnya. “Sederhana. Aku ingin melihatmu menderita dalam jarak yang lebih dekat. Selain itu, aku juga ingin tahu, seberapa besar rasa peduli Jiyong padamu.” Ia tersenyum licik. “Kencangkan ikatannya.” Tambahnya, kali ini berbicara pada Mino.

Mino hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti intruksi yang diarahkan padanya. Ia mengikat tubuh Dara lebih kencang. Kalau bukan karena memiliki dendam pada Jiyong, ia tidak akan pernah mau bekerja sama dengan gadis pirang kejam itu. Ya. Dendam itu membutakannya. Ia hanya ingin melihat Jiyong menderita seperti apa yang telah Jiyong lakukan padanya. Mungkin Jiyong telah menganggapnya mati tiga tahun lalu. Tapi, terkadang Tuhan sengaja membiarkan seseorang yang teraniaya hidup lebih lama agar bisa menyaksikan karma.

Apa pun yang terjadi di antara Jiyong dan Mino, hanya mereka berdualah yang tahu.

***

Dan, Jiyong terpaksa harus bertemu Chanyeol. Ini memang menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi? Jiyong tidak mungkin menolak pertemuan itu sementara ia membutuhkan bantuan Chanyeol. Selain menyebalkan, ini juga terdengar memalukan. Namun, sekarang, Jiyong tak lagi peduli pada harga dirinya. Baginya, Dara lebih berharga dari apa pun. Jiyong bahkan sudah siap jika Chanyeol tidak memperlakukannya dengan baik mengingat ia telah melakukan banyak kesalahan pada murid baru itu.

“Aku tidak bisa lama-lama di sini. Setengah jam lagi bel sekolah berbunyi. Ada apa?” tanya Chanyeol yang sejak tadi mengecek arlojinya.

“Hei, bocah ingusan! Eh, maksudku, Chanyeol,” Jiyong menggosok hidungnya. Pelajaran pertama agar seseorang mau menceritakan rahasianya padamu adalah bersikap sopan. Jiyong hampir lupa poin itu. “Aku ingin bertanya beberapa hal padamu—mengenai Dara.”

Mata Chanyeol membulat sempurna. “Apa sesuatu terjadi padanya?”

Okay. Jiyong sudah bisa menebak respon Chanyeol terhadap ucapannya.

“Sepertinya begitu. Justru aku-”

Chanyeol tiba-tiba menarik kerah seragam Jiyong. “Ada apa?! Apa yang terjadi padanya?”

“Hei! Hei! Seharusnya aku yang memberi respon seperti itu. Ah, lupakan.” Ujar Jiyong sembari mengibaskan tangannya. Menurutnya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjadi egois. “Nenek Park berkata padaku, tingkah Dara aneh belakangan ini. Dia sering bertingkah seakan-akan tengah diawasi dan diikuti oleh seseorang. Karena kau sahabatnya, kupikir kau tahu sesuatu.”

Cengkraman jemari Chanyeol mulai melonggar. Ia menghela napas sejenak, kemudian melangkah menjauh—menuju bangku taman dan mendaratkan tubuhnya di sana. Air muka Chanyeol menunjukkan jika ia tidak dalam kondisi baik. Sebelumnya, Chanyeol telah mewanti-wanti, firasatnya pasti benar. Seseorang pasti mengikuti dan bahkan mengganggu Dara.

“Jadi,” Chanyeol memulai pembicaraan. “Aku mengecek CCTV beberapa hari lalu. Dan, apa yang kutemukan benar-benar mencengangkan. Kau tentu ingat perihal Dara yang tenggelam di kolam renang bawah tanah. Dia bukan terpeleset, tapi didorong. Orang yang melakukan perbuatan keji itu adalah gadis dari sekolah kita—kurasa. Gadis itu mengikuti Dara. Gadis yang bernama Jessica Jung.”

Kali ini, Jiyong-lah yang tercengang.

Tunggu.

Apa ia tidak salah dengar? Dara tenggelam di kolam renang bawah tanah, diikuti oleh seseorang, dan orang itu adalah Jessica Jung? Yang benar saja!

“Jangan coba-coba melawak, Chanyeol. Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku jika kau bersungguh-sungguh kali ini.”

Tentu. Jiyong tidak akan pernah siap untuk mengeluarkan kalimat itu dari balik bibirnya. Pasalnya, jika orang itu benar Jessica, maka hal buruk akan menimpa Dara. Ya. Hal itu telah terjadi, tapi apa yang terjadi selanjutnya akan lebih buruk dari hanya sekedar tenggelam dan diikuti. Semua orang tahu, Jessica sangat berbahaya. Obsesinya pada Jiyong membuatnya tega mencelakai siapa pun gadis yang dekat dengan Jiyong.

Ucapan Chanyeol membuat wajah Jiyong pucat pasi. Terlebih setelah Jiyong ingat, Dara menghilang secara misterius semalam. Jiyong tidak dapat membodohi dirinya dengan berpikir Dara sengaja pergi ke suatu tempat karena ia frustasi dengan hidupnya (meski itu mungkin saja terjadi). Tapi, mengingat Dara begitu menyayangi neneknya, dia tentu tidak akan tega menelantarkan neneknya begitu saja. Dan, dengan seluruh pertimbangan yang baru Jiyong pikirkan, ia seratus persen yakin, seseorang telah menculik Dara.

Jiyong menatap Chanyeol, berharap laki-laki itu mengucapkan beberapa kalimat yang mampu menenangkannya, seperti: seseorang yang mengikuti Dara hanya seorang bocah culun yang tidak berbahaya, kabar menghilangnya Dara ini hanya rekayasa belaka, atau mungkin kenyataan kalau Dara mencintainya (baik, ini berlebihan).

“Aku tidak bercanda. Ini permasalahan serius, Jiyong. Aku baru saja pergi ke ruangan guru dan menginterogasi beberapa siswa di sekolah untuk mendapatkan catatan kekerasan yang telah dilakukan Jessica selama ia bersekolah di sini. Sangat mengejutkan, kupikir. Maka dari itu, aku berniat memberitahu Dara dan meminta waspada.” Jelasnya, sukses membuat lutut Jiyong lemas. “Kau tahu di mana Dara sekarang?”

Tidak tahu. Jiyong tidak tahu di mana Dara berada. Sungguh.

“Dia,” Jiyong berusaha menenangkan dirinya sendiri karena jawaban Chanyeol membuatnya semakin tak karuan. “menghilang.”

Chanyeol memicing tajam. “Menghilang? Kau bilang, dia menghilang? Bagaimana kronologisnya? Hei, Kwon Jiyong, apa kau bercanda? Itu tidak lucu!”

YA! Mana bisa aku bercanda disaat-saat genting seperti ini? Aku bersikap tenang karena aku frustasi, kau mengerti?!” amarah Jiyong memuncak. “Dan sekarang, aku tidak tahu tentang apa yang harus kulakukan, ke mana aku harus pergi untuk mencarinya dan bagaimana aku menemukannya. Jika orang itu benar Jessica, maka Dara dalam bahaya.”

“Kau putra direktur, bukan? Aku akan membolos hari ini untuk mencari Dara. Pastikan ibumu tidak memanggil orang tuaku karena aku tidak masuk sekolah.” Tukas Chanyeol.

“Hei, kau tidak bisa melakukannya. Dia kekasihku. Aku yang akan mencarinya.”

“Aku sahabat Dara. Lagipula, kau terlalu sering membolos. Aku akan mengabarimu nanti.”

“Mimpi saja kalau kau bisa memintaku untuk menuruti keinginanmu. Sudahlah, kita cari saja dia. Setelah itu, siapa pun yang berhasil menemukan informasi, maka dia harus memberi kabar pada yang lainnya. Bagaimana?”

Chanyeol mengangguk. “Aku tahu kau bodoh. Tapi, rencanamu lumayan.”

“Terserah kau saja.”

Pencarian dimulai.

***

Hari semakin siang. Yang dirasakan oleh Dara hanya lapar dan perih. Jujur, ia hanya memakan beberapa potong apel sepulang kerja, tepatnya sebelum Seunghyun memberinya kabar bahwa Jiyong dirawat di rumah sakit. Rasa lapar itu kian menyiksa seiring ikatan tali yang melilit tubuhnya semakin kencang hingga menorehkan luka-luka tipis di permukaan kulitnya.

Dara tak habis pikir. Apa keuntungan yang didapat gadis brengsek itu setelah ia menculik dan menyiksa Dara? Ini tidak kriminal, okay? Jika gadis itu melakukan semua ini dengan tujuan untuk mendapat kesenangan, maka Dara dapat mengambil kesimpulan kalau dia benar-benar gila.

“Bagaimana kabarmu, Bitch? Apa kau baik-baik saja?”

Belum sempat menjawab, gadis itu lebih dulu menyela Dara dengan kikikan tawanya.

“Apa aku baru saja menanyakan kondisimu? Ya Tuhan, itu menggelikan!” ujarnya histeris. “Tenang saja. Aku selalu mendoakan kemungkinan terburuk untukmu. Jangan khawatir.” Tambahnya sembari menepuk pipi Dara.

“Kau tidak lebih dari orang gila yang sedang meracau, kau mengerti?”

Gadis itu menoleh, menunjukkan seringai penuh kelicikannya. “Aku memang gila, kau mau apa?” ia meletakkan telapak tangannya di permukaan rambut Dara. “Kau mungkin tidak tahu, tapi aku bisa membuatmu lebih menderita, Sandara. Apa yang terjadi padamu sekarang, ini tidak ada apa-apanya. Aku masih memiliki banyak orang yang harus kusiksa agar kau tahu rasa. Ada nenekmu yang baik itu, Chanyeol sahabat masa kecilmu, Bom sahabatmu yang tolol, atau bahkan anggota BigBang—termasuk Jiyong. Menurut pemikiranku, jika aku tidak bisa mendapatkan Jiyong, maka tak ada yang boleh bersamanya. Jadi, bukankah lebih baik dia kusingkirkan saja? Aku benar, ‘kan?

Tidak. Dara tidak akan membiarkan siapa pun terlibat dalam masalah ini, entah itu neneknya, Chanyeol, Bom, anggota BigBang, Jiyong, atau orang terdekatnya. Tidak, apa pun alasannya. Kenapa? Karena dengan gadis itu membuntutinya, membuatnya teringat pada kenangan masa lalunya yang mengerikan, itu sudah cukup menekan mentalnya. Lalu, apa yang akan terjadi jika orang lain yang bahkan tidak tahu apa pun ikut terlibat dalam masalah ini? Ya, okay, Dara sendiri memang tidak mengerti, bagaimana bisa gadis itu menyangkut pautkan dirinya dengan Jiyong—yang notabene adalah laki-laki yang disukai gadis itu. Ini diluar akal sehat.

Dara diam seribu bahasa. Rasa takut kembali menyelimutinya. Ia harus berhati-hati pada apa yang dilakukannya. Karena apa? Karena si gadis brengsek itu tidak pernah bercanda. Jika ia berkata akan membunuh orang yang dibencinya, entah itu kapan dia akan membunuhnya. Seperti yang dikatakannya pada Dara. Kini, gadis itu benar-benar menangkapnya.

“Takut, huh? Sudah kuduga. Kau harus tahu, semakin kau takut, permainan ini semakin menarik bagiku. Terima kasih karena membuatku lebih bersemangat untuk membuatmu sengsara.”

Tiba-tiba, gadis itu menghempaskan kepalanya ke dinding sekuat tenaga. Hal itu spontan membuat Dara pusing tujuh keliling. Matanya serasa berkunang-kunang. Lalu, tanpa menunggu lama, gadis itu kembali membenturkan kepala Dara ke dinding beberapa kali tepat sebelum ia menarik rambut Dara secepat kilat, membuat Dara meringis kesakitan.

Dan, dalam keadaan Dara yang kini setengah sadar, gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Dara. “Aku hanya ingin tahu, berapa banyak nyawa cadanganmu dan sampai sejauh mana kau bisa menahan sakit agar aku bisa menemukan cara yang tepat untuk membunuhmu.”

***

Bingo! Aku menemukannya!” Laki-laki itu bergegas meraih coat-nya. “Sandara, jangan khawatir, aku akan datang dalam beberapa menit untuk menyelamatkanmu.”

***

Note:

Haiiii.. long time no see :” Maaf, banget, ya. Author hiatus mungkin hampir satu buan tanpa pamit-pamit :’ Ya, mau pamit gimana? Author mau nyelipin notes, tapi gaada satu pun ff yang bisa diposting gegara sibuk sama persiapan UN dan UN itu sendiri. Ya, alhamdulillah, UN-nya udah selesai dan semoga aja nilainya sesuai yang diharapkan.

Sekali lagi, maaf banget kalo author mengecewakan kalian. Maaf juga karena kalian ‘mungkin’ terpaksa harus baca chap.10 (kalo ada yang lupa). Author usahakan bakal sering update dan up ff baru. Author menyiapkan banyak ff baru buat nyambung ff ini. Ya, atau buat sambilan juga boleh :v

So, stay tune. Love u all… Hope you like it. I love you so much, guys. Thankssss… Pyoonggg^^

 

Advertisements

27 thoughts on “Bad Boy For Bad Girl [Chap. 11]

  1. Woahhh.. Jesica bener bener psikopat gila yang tega banget nyelakain Dara unnie gitu. Jesica butuh bimbingan psikiater. Semoga Dara unnie cepet cepet ditemuin sama Chanyeol atopun Jiyong. Next chapter, Authornim🙆

  2. Jessica gila, itu yg nemuin dara siapa Jiyong ap Chanyeol, pengennya sih Jiyong yg nemuin dara dlu tp siapapun yg nemuin dara dluan smoga bsa cept menyelamatkn dara,,,
    dara tertutup bgt sih, sma neneknya aja gk mau cerita,, memangnya ap yg dlu terjadi smpe dara trauma gtu,,,

  3. Bener” dah jessica parah gila bener,, mana si mino ikut”an lagi, duh Ji kenapa baru sadar sih kamu semoga dara cepet d.slamatkan N jessica segera dimusnahkan aja biar aman,, itu yang nemuin lokasi dara siapa ya chanyeol kah atw jiyong ???
    Next chap thor d.tunggu ,,, semangat ,,,

  4. Jesica bener2 sakit jiwa
    Dia harusnya bukan disekolahin tapi dibawa kerumah sakit jiwa
    Bener2 psikopat gila
    Ayo jiyong..chanyeol..atau memberi bigbang selamatkan dara sebelum rubah itu nyakitin dara lebih jauh lagi

  5. jessica aduh….bener2 nih orang kejam banget pantesan jiyong gak mw sma dia dara sabar ya….jiyong pasti datang nyelametin kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s