The King’s Assassin [46] : Dead End

TKA

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

 

Hari berikutnya, seluruh penghuni istana disibukkan oleh tugas masing-masing dalam persiapan penobatan Putra Mahkota mereka tercinta menjadi Raja. Lady CHoi memimpin Dapur Kerajaan sementara Lady Han memimpin persiapan lain seperti dekorasi dan serta tata cara ritual serta upacara. Lady Gong ditugaskan untuk mendampingi Keluarga Kerajaan sementara para Penjaga Istana memastikan penjagaan diperketat.

“Jeoha,” Dara berlari kembali ke arah Jiyong dan pasukan mereka setelah mengintip situasi di luar. Dia mengenakan seragam militernya sementara Jiyong mengenakan hanbok bangsawan biasa. Keduanya memutuskan untuk menyamar dan keluar dari Istana pagi-pagi sekali, namun gerbang Istana Selatan pun dijaga ketat oleh Penjaga Kerajaan.

“Apa? Apakah kita sudah bisa pergi? Bagaimana penampilanku?” Jiyong merentangkan tangannya ke samping dan Dara menyipitkan mata sambil mengelus dagu.

“Anda, Anda benar-benar tampan,” dia tertawa karena berhasil membuat sang Pangeran tersipu malu – meskipun tahu bahwa mereka bersama dengan pasukan. Jiyong mengedarkan pandangan dan melihat Hong dan Harang meringis sementara Seunghwan menutupi wajahnya, menggeleng-gelengkan kepala merasa malu atas kelakuan sang Pangeran.

“Beraninya kalian melihat!!!” bentak Jiyong dan menatap pasukannya tajam. Mereka segera bergegas mengalihkan pandangan, berdeham canggung.

“Anda tersipu, Jeoha,” Dara mencubit pipi Jiyong – langsung ditepis oleh pria itu.

“Oh, oh… berhenti menggodaku di hadapan pasukan kita! Aku tidak siap jika mereka melihat sisimu yang satu ini. Harusnya ini ekslusif untukku!”

“Kenapa, apakah saya terlihat seperti sedang menggoda Anda sekarang, Jeoha?” dia mengerutkan alis dan menarik tali topinya, membuat pria itu harus menundukkan badan. Dara mengecup bibir Jiyong, dan tahu bahwa pria itu tidak akan bisa menolaknya, dia mempedalam ciuman mereka, membuat Jiyong menarik wanita itu semakin ke arahnya – namun Dara kemudian mendorong Jiyong menjauh.

“Dara…” kata Jiyong kehabisan nafas, namun wanita itu melangkah mundur.

“Saya tidak ingin Anda bersikap seperti ini di hadapan pasukan kita,” Dara menyeringai dan melangkah menjauh meninggalkan pria itu ternganga.

“MARI KITA BERGERAK MENUJU KE GERBANG, TUAN-TUAN!” seru Dara kepada para pasukan yang semuanya bermuka merah, meskipun mereka tidak sedang menatap wanita itu.

“YEH, KOMANDAN!”

“Sekarang… kita… kita pergi?” Jiyong mengerutkan alisnya, masih merasa bingung namun terkesan.

“Yeh, Jeoha.”

“Aisht!” Jiyong melompat naik ke punggung kuda jantannya dan menoleh pada Seunghwan dan Hawang.

“Awasi semua orang. Katakan pada Lady Gong untuk berada di kamar Dara setelah makan siang untuk membantunya bersiap-siap,”

“YEH, JEOHA! BERHATI-HATILAH!”

“Kau benar-benar penggoda yang handal, Dara…” Jiyong menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan pikirannya dari ciuman mereka tadi.

“Kita harus segera pergi, Jeoha. Maafkan saya. Saya menjanjikan malam nanti untuk Anda, jangan khawatir,” bisik Dara sebelum ikut melompat naik ke atas kuda betina putihnya sambil tertawa mendengar keluhan tidak jelas dari sang Pangeran.

**

“Apa yang Ilwoo katakan?” Master Wu tiba-tiba berjalan memasuki dapur saat Sanghyun tengah mempersiapkan sarapan.

“Oh… Master, kau sudah pulang,” Sanghyun mengelapkan tangannya di celana. “Dia terluka. Dia kembali pergi keluar.”

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku tahu saat ini kita tidak bisa menghentikannya. Aku tidak bisa… aku tidak bisa melakukan itu, Master.” Sanghyun duduk di salah satu bangku, menunggu dirinya kembali dimarahi.

“Bukankah sudah kukatakan padamu apa alasannya kita membutuhkannya berada di sisi kita? Itu demi keselamatan noona-mu! Jika kita tidak bisa meyakinkannya, maka harus ada seseorang yang bersedia untuk—,”

“Apa? Membunuhnya demi noona? Apa menurutmu noona akan senang jika dia tahu mengenai hal ini?”

“Sanghyun, ingatlah hal ini…” kakek tua itu menggenggam pundak Sanghyun, mata kosongnya terpejam begitu kenangan menyakitkan muncul di kepalanya. Tidak ada yang mudah bagi seseorang yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Dia tidak pernah menganggap kemampuannya ini sebagai kutukan sebelumnya, bagaimana Harang selalu ketakutan dengan kemampuan seperti ini. Namun sekarang dia ingin menganggapnya demikian.

“TIDAK ADA BISA MENGHENTIKAN APA YANG SUDAH TUHAN RENCANAKAN. TIDAK ADA YANG BISA MEMISAHKAN DUA ORANG YANG SUDAH DITAKDIRKAN DARI SURGA. DAN SETIAP KALI ADA ORANG YANG BERANI MENCOBANYA… SETIAP KALI ADA ORANG YANG BERUSAHA MEMISAHKAN MEREKA… AKAN ADA DARAH. SEMAKIN BANYAK DARAH DAN HINGGA AKHIRNYA KITA SADAR, KITA AKAN MENYESAL KARENA KITA TIDAK MELAKUKAN APA PUN PADAHAL KITA MEMILIKI KESEMPATAN UNTUK MELAKUKANNYA,”

**

“Jeoha, ada yang berkemah di pinggir hutan!” Hong kembali dengan kudanya, melaporkan apa yang dia lihat setelah melakukan pemeriksaan area sekitar. Jiyong menarik nafas dalam-dalam kemudian menoleh pada Dara, meraih tangan wanita itu. Kali ini para pasukan itu sudah tahu dan tanpa diminta mereka segera berpaling.

“Apa kau masih ingin melakukan ini? Aku tidak tahu kenapa orang-orang itu di sana. Apa kita akan tetap mengambil resiko?”

Dara tersenyum menenangkan. “Saya hidup bahagia bersama Anda tapi saya tidak akan pernah bisa benar-benar hidup bahagia mengetahui Ilwoo oppa sendirian, sayalah yang memintanya untuk kembali ke Hanyang,” Dara meremas tangan Jiyong dan pria itu mengangguk mengerti.

“KITA COBA RUTE BARAT, TUAN-TUAN! KITA HARUS SEGERA KEMBALI KE ISTANA!”

“YEH, JEOHA!!!”

Mereka segera memacu kuda mereka ke arah sisi barat hutan dan untungnya, tidak ada seorang pun yang berkeliaran di sana dan mereka segera masuk ke dalam hutan. Memang jalan yang mereka ambil ini adalah ruter terjauh dibandingkan yang satunya lagi, namun setidaknya mereka tahu mereka akan lebih aman jika lewat sana. Dara memberikan instruksi kepada Hong dan pria itu segera mengikuti arahnya dan tak lama kemudian, sebuah gubuk tua tampak dalam pandangan. Tempat itu terlihat kecil, kotor, dan memerlukan banyak perbaikan. Jiyong menyipitkan matanya menatap Dara.

“A-a-a-pa?”

“Kau tinggal di tempat ini bersama dengan pria itu dan Harang?” tanyanya tak percaya.

“Kenapa, apa yang salah dengan tempat ini?”

“Apa yang salah??? Tsk… Dara. Tempat ini tidak memiliki cukup kamar untuk tiga orang. Dan kau ini adalah seorang wanita, demi Tuhan!” Putra Mahkota melompat turun dan membantu wanita itu turun dari kudanya, pasukan mereka segera berjaga di sekitar area itu.

“Yang sudah berlalu biarlah berlalu, semua yang sudah terjadi tetaplah telah terjadi. Anda tidak bisa mengubahnya. Lagipula apa salahnya tinggal bersama dengan mereka?”

“Apa? Aku tahu tentang mimpi burukmu, dan bagaimana Ilwoo dan Harang biasanya menenangkanmu!”

“Lalu? Anda… Anda lebih menenangkan saya lagi,” cetus Dara, tapi kemudian begitu kenangan akan malam-malam kebersamaan mereka, dia segera mengalihkan pandangan dengan muka memerah. “L-l-lihat… saya… saya… saya… saya tidak pernah bermimpi buruk lagi,”

“Oh, jangan memulai topik itu. Kau mengalihkan perhatianku,” Jiyong mengusap keningnya merasa tidak nyaman.

“Memang itu tujuan saya! Untuk membuat Anda berhenti terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang telah berlalu!”

“Aisht. Lalu bagaimana jika aku tinggal di rumah yang penuh dengan wanita. Bagaimana perasaanmu mengetahui hal itu?”

“Kalau begitu, itu persoalan yang lain lagi karena Anda tidak pernah bisa puas jika menyangkut tentang ber—,”

“Dara!” mata JIyong melebar sambil menutupi mulutnya dan memandang sekeliling. Dia terkikik dan mendorong Jiyong menjauh.

“Saya tantang Anda untuk melakukannya. Tinggal bersama wanita? Akan saya pastikan hidup Anda menderita sampai mati,” bentak Dara pada Jiyong sebelum berbalik dan berjalan menuju ke gubuk tua itu. “Tunggulah saya di sini,”

“Aisht!!! Berhati-hatilah!!!”

**

“Oppa…” Dara melepaskan tali topinya dan mulai menapaki pijakan menuju pintu. “O-o-ppa… apakah kau di dalam?” Dara mulai mengetuk pintu. “Oppa?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Dara mengerutkan alisnya mendengar suara kasar dari balik pintu.

“O-o-ppa… saya telah meminta ijin dari Putra Mahkota untuk datang kemari dan mengunjungimu. Bisakah… bisakah kita bicara?”

“Bisa-bisanya kau melakukan ini padaku?” itu adalah sebuah pertanyaan yang penuh dengan bermacam emosi.  Marah? Sakit? benci? Dara merasa dihantam akan rasa bersalah.

“O-o-ppa… aku hanya ingin bertemu denganmu…”

“Kau meninggalkanku…” Dara mendengar pria itu menahan isakan. Hatinya mulai berdebar keras dalam dadanya. Dia menoleh dan melihat wajah Jiyong dipenuhi kecemasan. Dia berusaha memaksakan sebuah senyuman dan memberikan tanda dengan tangannya agar pria itu berhenti di tempat – dia tahu Jiyong bermaksud mendekatinya.

“Mari kita bicara… biarkan aku masuk, kumohon,”

“Tidak, pergilah!”

“Oppa… jangan seperti ini. Aku sangat mencemaskanmu,”

“Cemas?” Dara mendengar Ilwoo tertawa. Dia menggelengkan kepalanya. Apakah dia bersalah dan menjadikan pria itu menjadi seperti ini?

“Oppa kumohon… aku—,” sebelum dia bisa melanjutkan Ilwoo membuka pintu dan menangkup wajahnya. Ilwoo lalu mengalihkan pandangan pada pria yang menatap mereka tajam dan menyeringai sembari menarik Dara masuk ke dalam. Jiyong berlari ke arah mereka namun Ilwoo sudah menutup pintu terlebih dahulu.

“Dara!”

“Jangan cemas, tetaplah di sana. Saya baik-baik saja!” balas Dara sambil mengamati wajah Ilwoo.

Dara menelan ludah berat. Kapan terakhir kali mereka bertemu? Ilwoo terlihat lelah dan kurang istirahat waktu itu, namun sekarang… dia tampak muram dan sedih. Matanya, oh Dara tidak bisa mengenali mata yang dulunya selalu penuh keceriaan dan harapan. Dara memeluk pria itu.

“Bagaimana… bagaimana kabarmu? Maaf, maafkan aku karena sudah pergi,” katanya pelan.

“Bagaimana kabarku?” tanya Ilwoo “Di sini… aku di sini… sendiri,” dia mencium puncak kepala Dara. “Sendirian,”

“Maafkan aku. Semuanya terjadi begitu cepat. Tapi kau tidak sedang sakit, kan?” Dara menjauhkan dirinya dan memegangi kedua lengan Ilwoo. “Kau baik-baik saja, kan? Katakan padaku—,”

“Arrrghhh,” Ilwoo mengerang dan segera mata Dara melebar saat merasakan lengan pria itu basah. Dia menatap jemarinya yang kini sudah terkena darah.

“D-d-arah…” Dara menutup mulutnya. “Kau terluka! Biar kulihat!”

“Ini bukan apa-apa.” Ilwoo kembali menarik Dara dalam pelukannya. “Tidak apa-apa. Kau sudah ada di sini. Itulah yang terpenting. Kau akan tinggal bersamaku lagi, kan? Tolong katakana padaku. Kita akan kembali ke gunung lagi, kan? Kita akan kembali hidup dengan tenang di sana, kan?”

“O-o-ppa,”

“Katakan padaku, Dara. Kumohon, kau juga jangan meninggalkanku. Jangan kau. Kaulah satu-satunya yang kumiliki. Aku membutuhkanmu. Kaulah satu-satunya yang tersisa untukku. Kumohon,” Ilwoo meremas tubuh kecil Dara dalam pelukannya. Oh, betapa hati Dara sakit mendengarnya. Ingin sekali Dara menghiburnya, tapi bagaimana?

Bagaimana jika dia akan mengatakan pada Ilwoo bahwa dirinya akan segera menikah dengan Pangeran begitu segala urusan mengenai kasus mereka selesai?

“Tunggu… oppa…”

“Jangan tinggalkan aku, kumohon. Bagaimana bisa kau memilih berada di sisi Pangeran? Dia meninggalkanmu saat kau membutuhkannya. Aku di sana… selalu ada untukmu.”

“Oppa, apa yang kau katakan?” rasa takut mulai menjalar dalam tubuh Dara.

“Aku mencintaimu Dara. Aku sangat mencintaimu… aku bersedia membunuh demi dirimu. Apa kau lihat? Aku sudah membunuh mereka semua. Komandan So? Aku sudah membunuhnya untuk dirimu. Kau ingin balas dendam, bukan? Aku sudah melakukan semuanya untukmu. Jangan meninggalkanku, kumohon,” Ilwoo mulai menciumi kepala Dara, bergerak turun sampai ke pipi, membuat bulu kuduk wanita itu mulai meremang dan tubuhnya gemetaran begitu menyadari semuanya.

“Aku sangat mencintaimu… sangat… Dara… kaulah segalanya bagiku,” kata Ilwoo di sela-sela ciumannya dan Dara merasakan wajahnya basah oleh air mata, air matanya sendiri dan pria itu, namun semua itu terasa salah. Dara mencintai pria itu, tapi bukan seperti ini. Oh, bagaimana bisa pria itu salah paham. Ilwoo sudah Dara anggap seperti kakaknya sendiri.

“Hentikan oppa, kumohon,” Dara mencoba mencoba mendorong Ilwoo menjauh, namun pria itu terus menarik tubuhnya mendekat, menciumi wajahnya.

“Oppa, hentikan!” akhirnya Dara berhasil mendorong Ilwoo menjauh saat pria itu hampir saja mencium bibirnya. Perasaannya buruk. Apakah dirinya yang telah merubah pria ini menjadi seorang monster?

“Dara…”

“Kumohon. Jangan. Jangan lakukan ini. Jangan seperti ini.”

“Kenapa kau tidak bisa mencintaiku seperti kau mencintainya?” tanya Ilwoo di sela-sela isak tangisnya. “Kau tidak pernah melupakan pria itu. Aku yang terima semua rasa sakit setiap kali kau memanggil namanya ketika kau bermimpi buruk. Aku yang memelukmu, tapi namanya yang terus kau sebut. Kau selalu memikirkannya meskipun kau bilang kau membencinya. Kau mencintainya padahal akulah yang ada di sisimu…”

“Oppa, aku bersumpah, aku mencintaimu… tapi bukan seperti yang kau inginkan… kau sudah seperti kakak bagiku… seperti Seunghyun oppa… dan aku sangat menyayangimu. Aku peduli padamu. Tapi tidak—,” Dara memejamkan matanya saat melihat rasa sakit tersirat jelas di mata Ilwoo. Dia melangkah mundur dan menghapus air mata dari wajahnya.

“Aku bisa menunggu. Berikan aku kesempatan, Dara…” mohon Ilwoo.

“Tidak bisa…” Dara menggigit bibirnya. “Setelah penobatannya, dia akan menghukum Penasehat Choi dan para pengikutnya. Putra Mahkota akan menjadi Raja… dan… aku akan menikah dengannya,”

“Tidak!” Ilwoo merangsek maju mendekati Dara, memegang kedua lengan wanita itu keras hingga dia. Kesakitan.

“O-o-ppa…”

“Kita akan kembali ke Utara. Kita akan tinggal di rumah Master Wu. Kita akan tinggal di sana—,”

“Hentikan…” Dara menggigit bibirnya mencoba mengabaikan rasa sakit yang dirasakannya, dan meskipun sebenarnya dia bisa melawan pria itu – dia bisa melindungi dirinya, namun dia enggan. Dia sudah terlalu banyak menyakiti pria itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, Dara sudah melukai Ilwoo tanpa sadar.

“Tidak… tidak… kita harus pergi sekarang. Katakan pada mereka, kau tidak akan kembali,” Dara mencoba menyingkirkan pikiran untuk menyerang Ilwoo, namun itu tidak mudah. Hanya dengan sekali lihat, sudah bisa diketahui bahwa pria itu tidak sedang menjadi dirinya sendiri. Kuku Ilwoo menancap di kulitnya dan itu membuatnya meringis kesakitan.

“Oppa! Hentikan! Kau menyakitiku!” serunya ketakutan dan dia hanya bisa berdoa semoga Jiyong tidak akan ikut campur, namun sepertinya hal itu sudah terlambat.

“DARA! DARA!” Dara mendengar suara langkah kaki Jiyong dan mata Ilwoo mencerminkan kemarahan dan rasa takut.

“Aku akan membunuhnya!”

“Tidak! Oppa, jangan lakukan ini!”

“Kau seharusnya dulu tidak ikut campur! Aku pasti sudah akan membunuhnya jika kau tidak menyelamatkannya! Tidak! Kau sudah mengkhianatiku, Dara!”

“Oh Tuhan, oppa, katakan padaku itu bukan kau yang—,” Dara menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

“Kenapa kau menyelamatkannya? Dia harusnya sudah mati sekarang dengan panah terkubur di dadanya! Kita harusnya sudah bisa hidup dengan tenang sekarang! Tapi kau berpihak padanya! Bagaimana bisa kau mengorbankan hidupmu demi pria itu?”

Ilwoo segera melangkah mundur dan menghunuskan pedangnya, tepat ketika pintu terayun terbuka dan Jiyong muncul. Sang Pangeran segera memeriksa keadaan Dara dan melihat wajah kekasihnya dipenuhi ekspresi kesakitan, ketakutan, dan air mata, dengan marah dia pun menarik pedang dan mendelik memandang Ilwoo.

“Kita bertemu,” bunyi nafasnya terdengar. “Akhirnya,” Jiyong menunggu pria itu untuk bersuara. Jika pria itu mengatakan sesuatu mungkin dia bisa mengenali suaranya, namun Ilwoo tetap diam, bergantian menatap Dara dan sang Pangeran. Ilwoo mulai mengayunkan pedangnya, sementara sang Pangeran mengambil posisi bertahan, bersiap untuk sebuah pertarungan.

“Hentikan ini!” Dara memperingatkan keduanya.

“Keluar,” kata sang Putra Mahkota kepada Dara, namun wanita itu malah menempatkan di antara mereka berdua dengan tangan terlentang lebar.

“Tidak.” Katanya tegas. “Jangan lakukan ini,”

“Dara, keluar!”

“Tidak!”

Jiyong menoleh pada Ilwoo yang kini memiringkan kepalanya dengan senyum meremehkan terpasang di bibirnya. Pria itu melangkah muncur dan setelah berada dalam jarak yang aman dari mereka, dia segera berlari menuju ke dapur dan kabur melalui pintu belakang.

“HONG!!! TANGKAP DIA DAN BAWA PRIA ITU PADAKU!!!” Jiyong melongok keluar dan memberikan perintah yang langsung dilaksanakan oleh pria itu tanpa banyak bertanya, mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya, dan sesaat kemudian, Dara terjatuh lemas.

“DARA!!!” Jiyong mengembalikan pedangnya dalam sarung dan memeluk kekasihnya yang ekspresinya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dara masih tercengang, terdiam membatu di tempat.

“Jangan sakiti dia, saya mohon! Sayalah yang bersalah kenapa dia sampai seperti ini!”

“Ini bukan kesalahanmu,”

“Ini adalah kesalahan saya… oh, Jiyong,” Dara membenamkan wajahnya di dada Jiyong. “Jika sesuatu terjadi apdanya, saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya,”

“Dara, jangan seperti ini,”

“Katakan pada mereka untuk tidak menyakitinya. Biarkan dia pergi, saya mohon,”

**

Ilwoo berlari menuju kea rah selatan, secepat yang dia bisa tanpa mempedulikan semak-semak yang diterobosnya begitu saja, membuat kulitnya lecet. Dia ingin memanjat pohon, namun lengannya yang terluka sudah kembali terasa sakit. Dia harus segera pergi dari tempat ini, menemukan tempat persembunyian dan menyusun rencana baru.

Dia sudah dekat dengan daerah terbuka saat dia merasakan kehadiran orang lain. Beberapa orang? Ah tidak, sekelompok orang menunggu di tepi hutan. Siapa mereka? Dia mulai bertanya-tanya. Dia mundur dengan capat, namun sosok orang-orang Putra Mahkota mulai tampak, dia kemudian mengambil pedangnya.

Pilihannya adalah antara dia menghadapi orang-orang Putra Mahkota atau mengambil resiko menghadapi orang yang tidak ditahuinya sama sekali. Dia memutuskan untuk mengambil pilihan kedua. Dia berlari kembali ke arah daerah terbuka dan memutuskan untuk berlari melewati mereka, nmun dia mengenali mereka. Orang-orang itu adalah orang-orang yang memburunya. Dia berhenti, tapi kemudian sadar dia sudah terlambat. Dia tidak berpikir kali ini. Dia bersikap ceroboh, dan sesaat kemudian orang-orang di perkemahan itu menatapnya dengan tatapan tajam bertanya-tanya. Lengannya yang terluka! Oh tidak, lengannya yang terluka.

“Berhenti di sana, anak muda!” salah seorang dari mereka mendekatinya, memeriksa Ilwoo yang berjalan memutar, namun salah seorang lagi mengenali luka di lengan kirinya dan memberitahukan kepada pemimpin mereka – dan Ilwoo menyadari hal itu. Dia segera menghunuskan pedangnya dari sarungnya dan mulai mengayunkan pedangnya kepada siapa pun yang mendekatinya.

“Dia adalah si pembunuh gelap! Tangkap dia!”

**

“BERANINYA KAU MENGANCAM CUCUKU!!!” Ibu Suri memarahi Penasehat Choi.

“Daebi Mama… saya tidak mengancamnya. Tentu saja saya tidak memiliki niat seperti itu,”

“Dia sangat ketakutan! Beraninya kau!”

“Saya tidak bermaksud demikian—,”

“Putri mengatakan sesuatu tentang Keluarga Park dan aku tahu… seseorang memberinya informasi,” Ibu Suri menatap pria tua itu seksama. “Apakah mungkin anakmu sendiri yang perlu menjaga sikap dan mulutnya?!”

“Mama…”

“Bagaimana bisa kau begitu yakin Park bersaudara… putri Profesor Lee, dan putra Menteri Jung tidak akan kembali?”

“Teror membuat mereka tidak akan kembali, Mama… harusnya itu cukup untuk membuat mereka ketakutan seumur hidup.”

“Bagaimana jika… bagaimana jika mereka masih hidup? Bagaimana jika mereka ada di sini?”

“Kalau begitu dengan senang hati saya sendiri yang akan memberi mereka pelajaran yang tidak juga mereka pahami,”

“Tapi kau sudah bertindak ceroboh! Sudah kukatakan padamu untuk berhati-hati! Sekarang, mungkin saja Putra Mahkota sudah mengetahui apa yang diketahui oleh Putri mengenai targetmu selanjutnya, Menteri Kim dan Menteri Lee. Dan itu semua adalah kesalahanmu! Kau tahu betapa sulitnya mengontrol cucuku!”

“Kalau begitu kita harus menghentikannya menjadi Raja,” balas Menteri Kim.

“Tidak ada yang bisa menghentikan mereka sekarang,”

“Kalau begitu kenapa kita tidak mencoba untuk menjinakkan Pangeran?”

“Apa maksudmu?”

“Pasti ada sesuatu yang menjadi kelemahannya… sama seperti yang kita lakukan kepada Raja,”

**

“Katakan pada Hong untuk menemuiku begitu mereka kembali,” perintah Jiyong kepada pasukannya saat mereka sampai di Istana Selatan. Dia memerintahkan Hong dan beberapa orang lain untuk mengejar Ilwoo dan membawa pria itu hidup-hidup kepadanya, seperti yang diminta oleh Dara. Dia membantu Dara turun dari kudanya dan menuntunnya ke dalam kamar di mana Lady Gong sudah menunggu.

“Jeoha,” Lady Gong membungkukkan badan kepada Pangeran dan Dara begitu mereka tiba. Dia langsung menyadari wanita itu masih dalam keadaan shock, terlihat pucat, dan lemah.

“A-a-pa yang terjadi?” Lady Gong tidak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya.

“Si bajingan itu benar-benar sudah kehilangan akal!” kata Jiyong marah sambil duduk di sebelah Dara. “Tolong beri kami waktu sebentar, Lady Gong,”

“Baiklah, Jeoha,” Minzy melangkah mundur dan menutup pintu.

Jiyong segera menangkup wajah Dara dengan tangannya dan mencium kening wanita itu sebelum menatap kembali menatap matanya.

“Dara, kumohon. Bertahanlah. Dara…”

“Saya baik-baik saja,” Dara tersenyum lemah. “Saya hanya… saya mencemaskannya. Di mana dia berada? Hati saya sakit memikirkannya, Jeoha.” Dara menutup mata dan seketika itu juga, air matanya mengalir menuruni pipinya.

“Sshhhh…” Jiyong mencium kedua mata Dara dan menghapus air matanya. “Jangan berpikir untuk menyalahkan dirimu, kumohon. Jangan,”

“Saya tidak pernah tahu dia memiliki perasaan seperti itu… saya tidak tahu,”

“Kumohon, tenanglah… ini bukan kesalahanmu dia menjadi sepert iitu.” Jiyong menarik Dara semakin dekat dan memeluk wanita itu, mengelus punggungnya untuk menenangkannya. “Katakan padaku, hal ini tidak akan membuatmu berubah pikiran, kan? Dara. Kita sudah melewati berbagai macam hal. Katakan padaku hatimu tidak berubah,” ucap Jiyong cemas, namun Dara menatapnya dan menggelengkan kepala.

“Tentu saja… saya tidak akan berubah pikiran… saya hanya mencemaskannya,”

“Kumohon, jangan. Aku sudah meminta Hong untuk menemukannya dan membawanya ke mari, mari kita tunggu mereka,”

“Hong tidak akan melukai Ilwoo oppa?”

“Tidak, tidak… aku sudah memberitahu untuk membawanya kepada kita… mungkin kita bisa sedikit menyadarkannya…” Jiyong menyipitkan matanya. Dia memang memebenci pria itu, namun melihat Dara begini terpengaruhnya, dia tidak mungkin melakukan apa pun kecuali mendengarkan permintaan wanita itu.

“Terima kasih,” Dara memeluk Jiyong dan kemudian menghapus air matanya sendiri. “P-per-gilah sekarang… saya masih harus bersiap. Kapan kita akan menemui Raja?”

“Malam ini setelah makan malam,” Jiyong memaksakan sebuah senyuman dan menggenggam tangan Dara. “Jangan cemas. Aku tidak akan pernah terpengaruh. Apakah itu cukup?”

Dara menganggukkan kepalanya dan mendekat untuk mencium ringan bibir Jiyong. “Terima kasih…”

“Kumohon berhentilah menangis, cintaku,” kata Jiyong menyentuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung Dara. “Jangan menangis lagi…”

“Maafkan saya,”

“Aku mencintaimu,” dia memejamkan mata dan menempelkan bibirnya pada bibir Dara, menciumnya dengan sangat lembut dan pelan, dan Dara merespon dengan sama.

“Saya juga mencintai Anda, Jiyong. Maafkan saya karena sudah menyebabkan banyak masalah,”

“Shhh,” Jiyong menyentuh bibir Dara dengan ibu jarinya, mengisyaratkan dirinya seolah tidak akan pernah cukup dengan itu. “Tidak masalah. Aku mengerti,”

“Saya akan menemui Anda nanti,” kata Dara.

“Ya, nanti,” dia menghembuskan nafasnya di bibir Dara sebelum memutus kembali jarak mereka dengan sebuah ciuman. “Oh, bagaimana bisa aku cukup dengan ini?”

Dara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Sekarang pergilah. Saya perlu bersiap dan Anda pun begitu,”

“Aku memang harus pergi. Kita mungkin akan melewatkannya jika aku lebih lama berada di sini,”

“Nanti… saya akan menemui Anda nanti,”

**

“Tuan!”

Salah seorang orang kepercayaan Penasehat Choi bergegas menuju ke kantornya, tergesa dan terengah-engah, membuat pria tua itu menyipitkanmatanya.

“Apa yang membawamu ke mari?”

“Anda pasti akan senang,”

“Bagaimana kau bisa yakin?”

“Kami sudah mengetahui siapa pembunuh gelap itu,”

Penasehat Choi menggebrakkan tangannya ke meja dan berdiri, siap mendengar informasi tapi yang disampaikan pelayannya ini justru lebih mengejutkannya.

“Apa? Bagaimana bisa— apa kau yakin kalian menangkap orang yang tepat?”

“Salah seorang dari kami melukainya semalam. Dan suatu kehormatan bagi saya untuk memberitahukan kepada Anda… kami berhasil menangkapnya. Masih hidup dan dia sepenuhnya kami serahkan kepada Anda,” pria itu menyeringai. “Dan katakan saja perintah Anda dan kami akan langsung melaksanakannya,”

“Begitukah?” tanya Penasehat Choi. “Bagus. Bagus… itulah yang ingin kudengar,”

“Ada yang lain lagi, Tuan…”

“Apa itu?”

“Salah seorang dari kami melihat pasukan Putra Mahkota berlari mengejar pembunuh gelap itu, jadi kami mencoba mengikuti mereka, namun sayangnya kami tidak bisa mendekat karena mereka penuh bersenjata. Tapi, Tuan… kami percaya Komandan dan Putra Mahkota ada bersama mereka,”

“Putra Mahkota dan Komandan pasukannya?”

“Yeh… dan, Anda mungkin tidak akan percaya ini… ini pertama kalinya saya melihat Komandan secara sekilas… tapi maafkan saya. Pria itu begitu mirip dengan putri mendiang Penasehat sebelumnya,”

“Menarik sekali,” Penasehata Choi menyeringai. “Itu bisa menjelaskan apa yang menantuku katakan kepada Daebi Mama…”

**

“LEPASKAN AKU!!!” bentak Ilwoo pada orang-orang yang mengelilinginya, mencoba membaskan diri, namun tali yang mengikat tubuhnya sangatlah kuat.

“Oh… maaf, tapi kami baru saja menangkapmu. Akan sayang sekali jika kami melepaskanmu terlalu cepat. Lagipula kau harus membayar karena sudah membunuh saudara-saudara kami!” seseorang berjalan mendekati Ilwoo dan meraih lengannya, meremas luka di lengannya – membuatnya mengerang kesakitan.

“AARRRRGH!!!”

“SEKARANG TUTUP MULUTMU DAN BERDOALAH KEPADA TUHANMU!!!”

“Tuhan? Aku tidak memiliki Tuhan!” Ilwoo meludahi pria itu.

“Begitukah? Mungkin kau bisa mulai mengenal satu,”

Ilwoo menolehkan kepalanya ke arah pintu yang terayun terbuka, dan seketika itu juga matanya melebar melihat Penasehat Choi tiba.

“Omona!” sang Penasehat tidak percaya begitu melihat wajah Ilwoo. Dia bertepuk tangan dan mengerutkan alisnya penuh keterkejutan dan berjalan mendekat, mengamati wajah pemuda dan segera sebuah seringaian penuh kemenangan tersungging di wajahnya.

“Ya Tuhan… lihat ini… siapa yang akan menyangka bahwa pembunuh gelap itu tidak lain dan tidak bukan adalah putra mendiang Meteri Jung?” Penasehat Choi melebarkan kedua lengannya penuh dramatisasi. “Salam, Menteri Jung muda. Selamat datang di kerajaanku,”

“Bunuh saja aku,” desis Ilwoo. “Kenapa kau tidak membunuhku saja?”

“Aisht! Masih terlalu dini untuk melakukan itu. aku percaya surga mengijinkan hal ini terjadi karena suatu alasan. Mungkin… aku bisa memanfaatkanmu… bagaimana menurutmu?”

“Apa yang membuatmu berpikir aku akan mendengarkan apa pun yang kau katakan? Surga katamu? Neraka lebih cocok, tempat di mana kau mengabdi… kita ini tidak banyak berbeda, Penasehat,” Ilwoo balas menyeringai pada pria tua itu.

“Kita tidak banyak berbeda? Bisa kulihat aku bebas… penuh kekuasaan. Tidak ada yang bisa mengontrolku. Tapi kau, lihat dirimu. Kau terikat pada keinginanku, anak muda. Aku memilikimu sekarang, baik kau suka ataupun tidak!”

“Kau harap, pria tua!”

“Kenapa kau terlihat sedih dan sedih, nak… kau mencoba bersikap berani tapi aku tidak bisa melihat keberanianmu sekarang. Di mana teman-temanmu? Oh. Kita harus bicara! Katakan padaku, di mana Lee Chaerin? Park Sanghyun lalu… mungkin kau tahu… bagaimana tentang… Park. San.da.ra?”

Mata Ilwoo membesar penuh ngeri hanya karena nama Dara disebut dan Penasehat Choi bisa melihat hal itu.

“Park Sandara? Aigoo. Siapa yang bisa melupakan wajah cantik itu. Apakah dia juga masih menghantui mimpimu?” pria tua itu mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka saling bertatapan.

“Kenapa, apakah dia juga menghantui mimpimu?”

“Ya… ya… dalam mimpiku aku sudah menangkapnya berkali-kali. Aku sudah menghukumnya berkali-kali… aku sudah membunuhnya berkali-kali, mengutuk mimpi-mimpi ayahnya. Mengutuk kekuasaan Putra Mahkota, dan melihat semua orang jatuh dan tinggal aku yang tersisa berdiri di atas,”

“Dasar orang tua serakah!”

“Dengan bangga aku mengakuinya. Dan tidak seorang pun yang bisa menghentikanku. Bahkan kau pun tidak!” bentak Penasehat Choi pada Ilwoo. “Dan kau… kurasa aku harus mulai membuatmu mengakui semuanya,”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakah!”

“Oh, kau tentu tahu. Berhenti menutup-nutupi, karena kau sudah tidak akan bisa keluar lagi, Ilwoo-sso. Mari kita saling membantu, neh? Lagipula kita akan bertemu lagi nanti di neraka…”

“Jangan berpikir aku akan berpihak padamu, Choi! Sekarang ini tanganku sudah gatal untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri! Dan kau tidak bisa menakutiku karena aku tidak takut untuk kehilangan apa pun. Ingat, kaulah yang merencanakan pembunuhan ayahku. Dan sekarang, aku memiliki kehendakku sendiri! Aku tidak takut pada apa pun—,”

“Oh, aku sudah mengirim orang-orangku untuk menangkap putri mendiang Penasehat,” Penasehat Choi meringis pada Ilwoo, pemuda itu langsung membeku, wajahnya memucah dan suara tawa sang Penasehat menggema di area itu.

“HAHAHAHA!!! Oh, kupikir kau tidak mengenal rasa takut, pembunuh gelap kecil? Apa kau menyukai wanita itu? Aww…”

“JANGAN BERANI-BERANI MENYENTUHNYA!!!” Ilwoo berusaha memberontak dari dua orang pria yang membangunkan tubuhnya dan meski dia tahu, tubuhnya terikat tali, dia masih berusaha memberontak untuk melepaskan diri.

“Jadi dia benar-benar di sini?” Penasehat Choi meringis penuh kemenangan. “Komandan Pasukan dari Istana Selatan… mungkinkah dia? Aigoo… itu pasti sangat menyakitkan! Putra Mahkota melindunginya. Dia menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kau cintainya dan… oh. Kasihan sekali kau! HAHAHA!!! Aigoo… pasti akan sangat menyenangkan membawanya ke mari bersama dengan teman-temanmu yang lain. Aku bertaruh, pasti akan mudah menemukan mereka satu per satu. Mari kita mulai dengan Park Sandara,”

“Tidak! Jangan menyakitinya! Jangan—!!!”

“Bagus, nak. Terima kasih karena kau sudah mau bekerja sama,” Penasehat Choi menyeringai pada orang-orangnya. “TUAN-TUAN, TANGKAP KOMANDAN DARI ISTANA SELATAN YANG SUDAH MENYAMAR MENJADI SEORANG PRIA PADAHAL SEBENARNYA DIA HANYALAH SEORANG BUDAK BURON!”

“TIDAK!!! JANGAN MENYAKITINYA!!!” Ilwoo mengerahkan seluruh sisa kekuatannya dan berputar, menendang dua orang yang ada di sisinya kemudian berusaha menerjang sang Penasehat, namun bahkan sebelum dia bisa meraih pria tua itu, ada orang lain yang menahannya dan detik setelahnya dia telah tepuruk di lantai, meringis kesakitan karena orang-orang it uterus menendangi dan memukuli wajah dan tubuhnya – yang dia terima begitu saja. Ilwoo sudah tidak berdaya dan lemas, dan tubuhnya sudah kebas kerena merasa takut dan cemas untuk Sandara.

“HENTIKAN!” Penasehat Choi mengangkat tangannya, memerintahkan orang-orangnya dan segera mereka mundur dari Ilwoo yang berlutut, wajahnya sudah tidak bisa dikenali lagi dan lengannya yang terluka mengeluarkan darah.

“DASAR BODOH! AKU MASIH MEMBUTUHKANNYA!!! PANGGIL TABIB!!!”

“Tapi kenapa, Tuan?” salah seorang dari mereka bertanya.

“Percayalah padaku… setelah ini dia akan berlutut dan menerimai penawaranku yang jenius, bukan begitu anak muda?”

Ilwoo mencoba membuka matanya. Deru nafasnya terdengar keras saat dia berusaha menangkap udara sebanyak-banyaknya, dia meludahkan darah dan menggelengkan kepalanya. “Jangan… jangan sakiti dia… aku mohon padamu,”

Penasehat Choi menunduk dan menatap Ilwoo dengan seringaian yang selamanya terpasang di wajah pria tua itu.

“Tsk… sekarang kau memohon kepadaku? Jangan cemas. Aku tidak akan menyakitinya… tapi kau harus melakukan sesuatu untukku… dan aku janji, kau akan hidup bahagia bersama dengan wanita yang kau cintai itu selamanya. Lagipula, aku tahu ini pasti akan mudah bagimu untuk melakukannya. Kau sangat membenci Putra Mahkota dan Raja, bukan begitu?” tanya Penasehat Choi, tapi Ilwoo tidak menjawab.

“Aku tahu, kau membenci mereka… dan sekarang, percaya atau tidak. Aku adalah penyelamatmu. Sebaiknya kau dengarkan aku baik-baik dan mengikuti permintaanku. Dan aku akan membiarkan kau dan Sandara untuk pergi dan hidup jauh dari sini,”

Ilwoo menelan ludah. Sekarang ini pikirannya dipenuhi oleh rasa cemas akan Dara dan jika itu menyangkut tentang keselamatan wanita itu, dia dengan senang hati akan melakukan apa pun.

Apa pun resikonya, bahkan jika dia harus menjual jiwanya pada iblis berwujud Penasehat Choi, dia akan melakukan apa pun demi keselamatan Dara. Dan bayaran yang ditawarkan pun sungguh menggiurkan, dan entah kenapa di telinganya hal itu seperti sebuah janji.

Karena dia telah kehilangan banyak hal. Dan seumur hidup bersama dengan Dara-lah yang dibutuhkannya.

**

<< Previous Next >>

Advertisements

26 thoughts on “The King’s Assassin [46] : Dead End

  1. Kesel am illwoo pengen ngelempar dy ke jurang yang penuh dngan buaya dan hewan” buassss bareng penasehat choi -_-
    illwoo terobsesi am dara bukan cinta itu nama nya -_-
    ahh kenapa seh tuh cii ibu tua jahat bangett malah ngehalangin cucu nya jdi raja -_-
    part ini penuh dengan kekesalan. -_-

  2. Yah….yah…yah knp jdi kek gni ilwoo jgn bergabung dgn c iblis licik jgn mau,hadeeh seunghyun tiba2 dtg kek mergokin ayah nya biar anak nya sndri yg nnti bkal ngsih hukuman greget bcanya pgen ngunyah asbak rsanya….

  3. Q mrsa kesal nd kasian sm il woo dlm wktu yg b’samaan,,
    T’lalu ceroboh nd gampang d’manipulasi,
    Jka il woo krja sama sm penasehat choi untk b’buat jahat sm raja nd pangeran apa dy pikir dara bakal mau hidup nd maapin il woo ???

  4. Gimana bisa coba ilwoo oppa nolak tawaran nya penasehat choi. Jangan jangan, penasehat choi punya rencana bakal ngebunuh jiyong oppa n raja, gawaat. Semoga jiyong oppa, raja, dara unnie, chaerin unnie, dkk bakalan selamat dari rencana licik si penasehat choi, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s