FAULT IT’S TRUE – Honeymoon ??? [Chap. 21]

Unti21tled-1

Author : Zhie / @Zhiedara44

Main Cast  : Park Sandara (25 Th) , Kwon Jiyong (25 Th)

Support Cast  : Kim Jin Ah (25 Th) , Kim Jaejoong (26 Th),  Choi Seung Hyun (27 Th), Park Bom (29 Th), Park Sang Hyun (18 Th)

FIT Ver. Daragon Comeback yeyyyy… ^.^/

Mungkin ada yg rindu??? Atau mungkin malah lupa ma ne cerita ^-^’

Yg jelas q minta maaf untuk up yang bener2 gak bisa diprediksi 😦

Sempet pingin off nulis karena udah nyoba segala cara untuk numbuhin mood ngerangkai kata dgn baca novel, nonton drama bahkan aq pun berulang kali baca ceritaku dari awal plus mentengin video2 daragon yg emang numpuk di laptop tapi… itu tetap gak ngebantu ideku bisa berkembang.

Sampai akhirnya temenku nyaranin tuk ngubah/remake ke versi lain… dia bilang mungkin aq ada di posisi jenuh saat itu, dan butuh penyegaran cerita biar bisa ngegali ide yg sama dari awal dan inilah hasilnya.

Karena itu mungkin ada juga dari kalian yg udah baca FIT vers.indo >>> https://www.wattpad.com/story/104085183-fault-it%27s-true dan menyadari ada beberapa part baru atau beberapa scane yg emang gak ada di versi daragon, yah begitulah… ide kembali dapat sedikit demi sedikit berkembang dari sana.

Dan inilah akhirnya, aku kembali bisa melanjutkan… 

So… tanpa lagi berlama-lama.

Happy Reading, neh.

>.<

~~~

Hooaam

Dara beberapa kali menguap, itu sudah memakan waktu lebih dari satu jam dan kembali ia lihat Jiyong yang fokus mengemudi… “Apa masih lama?” tanyanya kemudian.

Jiyong mengangguk, “Tidurlah. Aku akan membangunkanmu bila kita sudah sampai di sana.”

Dara pun mengangguk– menurutinya. Ia memilih posisi yang nyaman untuk beristirahat… dan untuk memecahkan kesunyian Jiyong memutar musik yang cukup menenangkan.

“Ah. Indah.” gumam Dara saat dentingan piano mulai terdengar.

“Ini Kiss The Rain dari Yiruma, lebih baik dari lagu taman anak-anakmu itukan?” sindir Jiyong kemudian, membuat Dara hanya mendengus tak lagi menanggapinya. Dara lebih memilih menikmati musik itu dan membiarkan dirinya larut lebih dalam hingga akhirnya terlelap.

~~

Jiyong Pov

Kini aku melihat yeoja yang duduk di sampingku telah memejamkan mata, dan masih butuh satu jam lagi untuk tiba di Resort yang kutuju. Sejenak aku pun meminggirkan mobilku, dan melepas jas yang kukenakan untuk menyelimutinya… Ah. Apa ini melelahkan untuknya? Apa aku membawanya terlalu jauh? Dengan hati-hati kuletakkan jas menutupi tubuhnya, setidaknya ini akan membuatnya lebih hangatkan? Dan aku yakin Dara pasti akan menyukai tempat yang kupilih untuknya, ia telah sangat membantuku untuk dapat menghabiskan waktu dengan Jin Ah dan kini aku hanya ingin membalasnya. Yah. Hanya itu.

Aku pun kembali memperhatikan Dara sekarang, dan entah kenapa kali ini mataku tak beralih darinya, aku seolah tak mampu mengangkat tubuhku untuk menjauh darinya… kusingkirkan rambut yang sebagian menutupi wajahnya dan itu semakin membuatku dapat lebih jelas melihatnya– melihat bagaimana cantik dan menenangkannya ia.

Deg

“Omo! Jiyong… sadarlah, ingatlah kau baru saja mengobati rindumu dengan Jin Ah. Tak seharusnya kau memperhatikan wanita lain sekarang.” rutukku kembali mengingatkan dan segera menjauh dari Dara, “Shit! Ini tidak benarkan?” pikirku seolah diriku yang lain akan menjawab dan kufokuskan diriku kembali untuk meneruskan perjalanan.

~~~

Resort Harbor Park, Incheon adalah tujuan Jiyong saat ini. Resort yang tidak jauh dari Seoul hingga tak membutuhkan waktu lama, di mana Resort itu memiliki view yang sangat indah– mengarah langsung ke bibir pantai Eurwangni, dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, mereka pun tiba.

Jiyong menghentikan mobilnya tepat di depan Resort dan terlihat seorang petugas dengan segera menghampirinya. Jiyong pun membuka bagasi belakang mobil dan membiarkan petugas itu mengeluarkan satu koper yang berisi pakaian dan perlengkapan Dara yang sebelumnya berada di rumah kakeknya. Jiyong kembali pada Dara yang masih tertidur.

“Dara. YA! Dara. Bangunlah.” Jiyong membangunkannya, terlihat Dara mengerjapkan mata.

“Eh. Sudah sampai?” tanyanya seraya melihat sekitar.

Jiyong mengangguk, ” Ayo turun… jika kau ingin melanjutkan tidur, maka kau bisa-“

Blag

Belum selesai Jiyong bicara Dara telah keluar dari mobil dengan bersemangat, Jiyong pun melihat jas yang tadi ia kenakan pada Dara jatuh begitu saja… ia berdecak dan mengambil jasnya, ia tak kan mengomel kali ini karena ia cukup puas melihat bagaimana reaksi Dara karena itu berarti… ia tak salah memilih tempat.

Jiyong kini keluar dari mobilnya dan memberikan kuncinya pada salah satu petugas Resort yang lainnya untuk segera memindahkan mobilnya, dan setelah itu ia pun segera menyusul Dara yang tanpa menunggunya kini telah menuju ke bibir pantai.

Jiyong dengan menyampirkan jas di bahu, berjalan mendekati Dara yang kini tengah menatap jauh ke depan- seakan menikmati indahnya pemandangan yang tersaji di hadapannya dan membiarkan angin menyapu lembut wajahnya.

Pantai itu tak terlalu ramai hari ini… karena pertama itu bukanlah hari libur, dan yang kedua pantai yang berada disekitar Resort hanya ditujukan untuk para pengunjungnya.

“Meninggalkanku, eoh?” ucap Jiyong saat ia hanya tinggal beberapa langkah di belakang Dara.

“Pantai, Ji.” gumam Dara yang tak juga mengalihkan pandangannya.

“Yah. Apalagi? Kau tidak berpikir itu padang pasirkan?” celetuk Jiyong yang kini telah berada di sampingnya membuat Dara sesaat melihatnya.

“Cih! Apa susahnya sih menjawab yah tanpa embel-embel yang lainnya.” sungut Dara kemudian.

“Itu karena kau mengucapkan sesuatu yang jelas-jelas sudah terlihat.” bela Jiyong.

Dara pun berdecak, namun tak berusaha untuk membalasnya. Kini ia lebih memilih melepas flat shoes nya dan berlari kecil mendekati gulungan ombak yang sedari tadi menarik perhatiannya…

“Ya… ya… Dara. Kenapa kau harus berlari huh?” pekik Jiyong saat melihatnya, Dara yang sempat berbalik tapi hanya untuk mencibirnya- menjulurkan lidah… Yah! Apa-apaan dia? Dia pikir aku tidak bisa mengejarnya hah? batin Jiyong kali ini melepas sepatunya dan dengan segera menuju ke arah Dara.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” pikir Dara terkejut saat melihat Jiyong mengejarnya namun ia selalu berhasil menghindar dan kembali berlari menjauh darinya, tanpa sadar itu membuat mereka sama-sama tersenyum dan bahkan tertawa karenanya.

Jiyong bukannya tak bisa mengejar Dara, itu mudah sebenarnya… hanya saja ia lebih ingin melihat wajah Dara yang tertawa puas begitu ia merasa telah berhasil mengalahkannya. Kali ini Jiyong sadar, ia sangat jarang melihatnya… atau mungkin itu pertama kali ia bisa melihat Dara yang tertawa tanpa beban, karena selama ini wajah kesal bahkan marahlah yang sering ia lihat… sedangkan senyum dan tawa lepas seperti itu, malah selalu Jiyong dapati saat Dara bersama Jaejoong bukan dengan dirinya.

Sigh

Yah. Jiyong mulai sadar, ia suami yang buruk sekarang… tapi bukankah memang harus seperti itu adanya, karena pada akhirnya mereka juga akan berpisah bukan?

Deg

Ada yang salah, benar-benar salah… hanya memikirkan kata berpisah itu membuat Jiyong merasakan denyutan aneh di dadanya, itu sesak.

Shit!

“Jiyong, kau baik-baik saja?” pekik Dara saat Jiyong tak lagi berusaha mengejarnya, “Baiklah. Kau sepertinya lelah, kita akhiri. Ok!” lanjut Dara kembali berbalik bermain air yang telah membasahi kakinya, dan…

Grap

Dara terkejut saat tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya di pinggangnya, “Hei! Apa yang-“

“Tenanglah. Sebentar saja.” Dara seketika terdiam saat menyadari Jiyonglah yang berada di belakang tubuhnya– memeluknya.

Dara Pov

Aku tak mengerti apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia memelukku erat seperti ini? Apa dia mulai gila? Atau ia masih berpikir ia tengah berlibur dengan Jin Ah? Cih. Aku pun mendengus karenanya… entah kenapa akan menjadi mengesalkan jika itu memang benar.

“Ji?” panggilku kemudian saat ia tak juga bersuara, dan bisa kurasakan hembusan teratur nafas Jiyong di bahuku sekarang… “Eh. Apa yang kau lakukan?” tanyaku akhirnya saat ia menyampirkan jasnya di pinggangku- melilitkannya dengan tenang- dan mengikat erat, hingga kupastikan ini takkan terlepas.

“Kau pikir apa? Anginnya cukup kencang Dara, bajumu berkibar dengan jelas. Kau tidak ingin dalamanmu terlihatkan?” Jiyong menjawabnya santai membuatku melihatnya tak percaya…

Mwo? Jadi itu tadi hanya karena ini? Ha ha… aku tak bisa menahan tawa bodohku, yah… bodoh karena aku sekali lagi hampir tertipu oleh sifatnya yang seakan membutuhkan kehadiranku di sisinya, namun pada kenyataannya…

Sigh

“Dasar mesum. Jadi kau memperhatikannya dari tadi hah?” sungutku akhirnya berusaha untuk menanggapinya secara wajar, sementara ia hanya terkekeh membalasnya.

Cih! Kasian sekali kau, Dara.

~~~

Jiyong dan Dara kini telah berada di lobi Hotel Resort, setelah sebelumnya sempat menikmati indahnya pantai. Mereka baru saja mengambil cardlock kamar mereka saat tiba-tiba Jiyong melihat seseorang yang tak asing berjalan mendekat.

Srrrtttt

Jiyong tiba-tiba meraih pinggang Dara yang berdiri di sampingnya dengan posesif, merapatkan tubuh Dara padanya.

“Apa lagi sekarang?” tanya Dara menautkan alisnya.

“Untuk saat ini, bisakah kita benar-benar berperan sebagai sepasang suami istri?” ucap Jiyong yang menjawab pertanyaan Dara sebelumnya.

Dara menyipitkan matanya− menatap curiga, “Kenapa?”

“Arah jam sembilan.”

“Hah?”

“Arahkan kepalamu pada jam sembilan bodoh.” cuap Jiyong, Dara pun mendengus karenanya… Jiyong selalu berhasil membuat moodnya menjadi buruk seketika.

Menyebalkan! sungut Dara dalam hati namun tetap menurutinya dan ia dapat melihat seorang pria berpenampilan tak jauh beda dengan Jiyong dengan postur lebih tinggi dan badan yang dapat terbilang atletis tengah menghampiri mereka dengan kacamata yang menggantung sempurna di wajahnya, “Siapa dia?” tanya Dara kemudian− tak begitu tertarik sebenarnya.

“Dia saingan bisnisku Dara, jadi bersikap manislah.” jawab Jiyong cepat dengan berbisik, karena jarak seseorang yang ia maksud sudah sangat dekat dari mereka sementara Dara hanya memutar bola matanya. Jujur. Dara terlalu malas terlibat di dalamnya.

“Waaahh… waaah, sungguh kebetulan bertemu dengan penerus Keluarga Kwon… apakah ini sebuah keberuntungan? Senang bertemu denganmu Tuan Kwon.” ucap pria itu dengan sikap sopan yang siapa pun tahu kalau itu hanya dibuat-buat, karena senyum miringnya diakhir kalimat itu terlihat mengesalkan.

Jiyong pun menarik ke dua ujung bibirnya berusaha meladeninya, “Suatu kehormatan juga bagiku bertemu denganmu Mr. Lee.”

“Ah. Benarkah begitu? Baguslah, membahagiakan bila kau senang bertemu denganku saat ini.” ucap Donghae kali ini hampir membuat Jiyong mengumpat di hadapannya, lalu pandangan mata Donghae beralih pada Dara yang tetap tenang di samping Jiyong… terlihat ia mengamati Dara sejenak, “Apa dia istrimu?”

“Yah. Perkenalkan Nyonya Kwon, dia-“

“Lee Donghae.” potong Donghae mengulurkan tangannya pada Dara, terang-terangan mengabaikan Jiyong.

Dara dengan canggung pun membalas uluran tangannya, “Dara.”

Cih. batin Jiyong benar-benar berusaha menahan diri.

“Aku cukup terkejut mendengar berita kau menikah, dan sempat berpikir itu hanya kabar burung karena tak ada satu media pun bahkan surat kabar yang merilis tentangnya. Kau benar-benar menutupinya. Wae?”

“Untuk itu aku sengaja. Agar istriku tetap merasa nyaman menjalani hari-harinya seperti biasa, aku tidak ingin kehidupannya yang tenang sebelumnya berubah menjadi pusat perhatian karena menikah dengan seorang pengusaha yang sangat terkenal dan ternama seperti diriku Kwon Jiyong. Kau tahu maksudku kan?” jelas Jiyong dengan angkuhnya, namun kali ini Dara mendukung sikapnya karena entah kenapa pria di hadapannya tak memiliki kesan baik di matanya.

Terlihat Donghae mengangguk− menanggapi ucapan Jiyong, “Ah. Yah. Tentu aku mengerti, sangat mengerti dan jujur istrimu ini… cantik, manis, dan sekarang aku baru menyadari wanita hamil bisa terlihat begitu sexy.” ucapnya membuat Jiyong menatapnya tajam.

“Jaga bicara anda.” Jiyong mengatakannya tegas.

“Ops. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Aku benarkan… dia−”

“Hentikan! Hentikan tatapan mata menjelajahmu itu, istriku bukan sebuah objek untuk memuaskan indera penglihatanmu. Kuingatkan itu.”

Donghae tersenyum, “Kau suami yang posesif ternyata.”

Jiyong mendesis, “Terserah bagaimana kau menyebutnya.” sungutnya tak lagi mempertahankan keramahtamahan palsunya.

“Ok. Ok. Aku tak akan lagi menganggu waktu kalian, karena aku harus mengecek ballroom yang akan digunakan untuk acaraku nanti malam. Oya… karena sudah bertemu di sini, ada baiknya aku undang kau dan istri cantikmu ini untuk datang dan sudah seharusnya juga kau untuk datang karena jika tidak.. mereka yang diantaranya juga pemegang saham di perusahaanmu tentunya akan berpikir kau tidak sopan karena tak menghadiri undanganku saat aku mengatakan… Penerus Keluarga Kwon berada di hotel ini dan menginap lalu aku dengan rendah hati mengundangnya secara langsung namun dirinya sepertinya tidak berkenan untuk hadir. Ehm… kau tahu apa artinya bila itu terjadikan? Jadi datanglah. Pestaku selalu menyenangkan, dan kupastikan istrimu ini akan menyukainya.”

~~~

“Jadi kita akan datang?” tanya Dara begitu mereka telah berada di kamar mereka. Yah. Mereka kembali ada dalam satu kamar, karena mengetahui akan ada rekan bisnis Jiyong di sana membuat mereka tak ingin mengambil resiko tentangnya.

“Kita?” gumam Jiyong seakan bertanya seraya membuka kancing kemejanya.

“Bukankah dia yang bernama Donghae mengundang kau dan aku?”

“Tidak. Kau tetaplah di kamar hotel… aku akan datang seorang diri.”

Dara sekejap menoleh ke arahnya, “Kenapa?”

“Haruskah kau bertanya? Kau tak perlu tahu bukan? Jadi tinggallah nanti di kamar, jangan berkeliaran di luar bila aku tak ada.” jawab Jiyong tak lagi memberikan kesempatan Dara untuk meminta penjelasannya lebih jauh, dengan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sementara itu beberapa saat yang lalu…

Donghae menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik, melihat sepasang suami istri yang baru ditemuinnya masuk ke dalam lift. Keningnya mendadak berkerut- mengingat sesuatu, ia pun segera menghubungi sebuah nama yang berada di ponselnya. Terlihat senyuman tipisnya saat seseorang di seberang sana menerima panggilannya.

“Hei, Nana! Apa kabarmu? Latihan untuk pertunjukkanmu lancar? Tidak. Aku tidak akan melewatkannya. Aku pasti datang, tapi ada yang ingin kupastikan… kau pernah katakan padaku. Kau berlatih dan berteman dengan wanita yang menyebut dirinya tunangan dari Kwon Jiyong? Siapa namanya? Jin Ah? Kim Jin Ah. Jadi mereka benar berhubungan? Hingga sekarang? Tidak. Tidak. Aku tak bermaksud mengganggunya, hanya saja… ini mengejutkan. Ah. Tidak… kembalilah berlatih my little sister. Aku akan menelponmu nanti.”

Tut… tut… tuut…

Sambungan berakhir.

Smile Evil kembali tergambar jelas di wajah seorang Lee Donghae, Pengusaha yang juga bergerak di bidang penyedia alat-alat kesehatan dan tak ragu untuk selalu menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Clap clap clap

Dara? Jin Ah?

“Ini hebat! Fakta mengejutkan. Kita lihat… bagaimana aku akan menggunakannya?”

~~~

Dara Pov

Aku tengah menikmati angin pantai malam ini dari balkon hotel kamar yang Jiyong sewa, sementara Jiyong… entahlah- mungkin ia tengah bersiap-siap. Cih. Aku tak peduli.

“Sedang apa? Masuklah kau bisa masuk angin.” terdengar suara seseorang yang baru saja berada dipikiranku. Jiyong. Sempat kulihat ia masih sibuk dengan dasinya.

“Huft! Ini bukan berlibur namanya. Kau memintaku tetap di kamar sementara dirimu bersenang-senang sendirian, ini tidak adil.” ucapku akhirnya dengan tangan yang terlipat di dada sementara ia kini malah terkekeh sekarang, “Apa yang lucu hah? Dasar tidak peka, aku sedang kesal Jiyong bukannya melawak.” lanjutku kembali berbalik tak lagi melihatnya.

“Wajahmu lucu saat marah Dara, pipimu menggembung merah seperti ikan buntal.”

“YA!!!”

“Ha ha ha.”

“Sialan.” Aku akan benar-benar mengabaikannya, namun terdengar langkah Jiyong yang mendekat…

“Bisa bantu aku?” tanyanya kemudian yang telah berada di sampingku- menunjukkan dasi yang tak rapi.

Kulihat sekilas ke arahnya malas, namun pada akhirnya kuhelakan nafas panjang dan membantunya…

“Kau marah?” tanyanya saat kami telah berhadapan.

“Kau bertanya?” balasku dingin seraya tetap fokus membetulkan dasinya.

“Maaf.”

Maaf?

“Ini memang tak seperti rencana awal, bertemu dengan Lee Donghae adalah kesalahan terbesar… dia menggagalkan seluruh rencana yang kubuat.”

Aku meliriknya sekilas kali ini, “Rencana? Apa?”

“Ehm… haruskah aku memberitahumu, itu kejutan sebenarnya.”

“Kejutan? Untukku?” tanyaku tak percaya.

“Bukan, untuk nenekmu.”

Huft

“Sudahlah jika kuberitahu bukan kejutan namanya, mungkin lain kali… lain kali saat kau kembali membantuku untuk menghabiskan waktu bersama Jin Ah.”

Deg

“Kenapa?” tanyanya saat pergerakan tanganku di dasinya terhenti.

Aku pun tersadar, “Sudah selesai.” jawabku cepat dengan helaan nafas panjang kembali ke posisi semula tak lagi menghadapnya yang masih memperhatikan.

“Gomawo… aku akan pergi sekarang, atau Donghae akan lebih dulu menyebarkan rumor tentangku.” ucapnya kemudian beranjak pergi, “Ah. Ne- Dara!”

Kali ini aku mau tak mau menoleh untuk sekedar melihatnya.

“Aku hampir lupa memberitahumu, akan ada petugas resort yang mengantar makan malam untukmu… jadi segera makanlah begitu makanan tiba, tak usah menungguku. Aku tak yakin bisa pergi dari sana dengan mudah jadi nikmatilah malam ini untuk beristirahat dan besok aku berjanji akan melanjutkan rencana bulan madu kita, ne.”

Aku tersenyum getir, “Bulan madu? Yang seperti ini dibilang bulan madu? Cih!” sungutku pelan dan kembali berbalik tak lagi melihatnya saat ia telah membuka pintu kamar hotel.

Blaaam

Terdengar suara pintu yang tertutup.

Dia pergi. batinku yang entah kenapa benar-benar kecewa karenanya, tapi tiba-tiba seseorang melingkarkan selimut ditubuhku dari belakang dan mendekap bahuku hangat.

Deg

Deg deg

Deg deg deg

Aku tak bisa menghentikan detakan jantungku yang semakin kencang, saat hembusan nafas yang sangat kukenal berada tepat di samping wajahku sekarang.

“Jiyong?”

“Jangan marah terlalu lama Dara, anginnya semakin kencang… kau bisa masuk angin nanti. Masuklah segera, atau Ji Hyun di sana akan ikut marah padaku.” ucapnya dengan satu tangannya yang kini beralih pada perutku- mengusap lembut.

“Ke- kenapa dia harus marah padamu?”

“Karena aku sekali lagi membuat wanita yang mengandungnya merasa kesepian, bukankah dia juga dapat merasa apa yang kau rasakan? Jadi jangan membuat ia menyimpan dendam padaku Dara.”

Cih! Aku tersenyum karenanya… “Kalau begitu harusnya kau berlaku lebih baik padaku, Ji.”

“Apa selama ini aku kurang bersikap baik padamu hah?”

“Kau harusnya tak lagi bertanya, kau selalu membuatku kesal.”

“Ah. Benarkah?”

Aku mengangguk pasti, dan masih dengan posisi yang sama namun keheningan sempat terasa di antara kami sampai akhirnya helaan nafas panjangnya kembali terasa dan aku tahu itu berarti ada yang akan kembali ia katakan. Aku sudah bersiap dengan segala yang akan Jiyong ucapkan karena aku tak akan lagi menduga-duga atas dasar apa ia bersikap seperti ini sekarang.

“Aku serius.”

Eh?

“Aku serius saat mengucapkan maaf.”

Maaf?

“Beberapa hari meninggalkanmu, menghabiskan waktu bersama Jin Ah… jujur aku tak bisa tenang, bersamanya… aku harusnya tak lagi memikirkan apapun, tapi sekarang tak lagi sama Dara. Tak sama saat dirimu dan calon bayi yang ada dalam kandunganmu telah masuk ke dalam kehidupanku… aku mengkhawatirkan kalian, mencemaskan kalian setiap saat, hingga hari yang kulalui bersama Jin Ah terasa begitu lama. Aku-“

“…”

“Aku merindukan Ji Hyun,”

Ah. Yah… Itu sudah pastikan?

“… dan dirimu Dara.”

Mwo?!!

– To Be Continued –

~~~

Yup. Kembali TBC ^.^

Aku tidak akan memaksa kalian untuk comment atau apapun itu,  karena dgn kalian menyempatkan membaca aku sudah sangat berterimakasih… tapi tetaplah ingatkanku bila ada typo ya. ^.~

Dan mungkin dari kalian ada yang ingin tanya kapan cerita yg lain di up, aku cuma bisa jawab… “Tidak sekarang”, kenapa? Karena aku sadar, kemampuan menulisku tidaklah selancar dulu… aku harus membagi waktu dan pikiranku untuk berbagai hal, entah itu pekerjaan yg sekarang memasuki kurikulum baru dan itupun harus fullday lalu perencanaan my wedding yang Insyallah akan terlaksana di akhir tahun atau awal tahun depan… jujur, dengan itu semua aku merasa tua >.< tapi kembali disadarkan… aku tidak bisa begitu saja pergi dari hobiku ini.

So, harap memberiku pemakluman. 

Menulis adalah sesuatu yg hanya bisa kulakukan diwaktu senggang, menulis adalah hobiku dan aku sekedar ingin berbagi dengan kalian… jadi aku tak bisa menjadikan menulis sebagai prioritas. 

Jadi maaf… bila terlalu sering mengecewakan atau membuat kalian penasaran dengan banyaknya cerita dariku yang sampai skrg belum di up, yang pasti aku ingin berterimakasih bagi yang selalu support and masih menunggu cerita2q dgn saaaaangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat sabar… 

 Smoga kita segera bertemu di part selanjutnya, dan senang bisa kembali menyapa karena bagaimana pun aku juga kangen dgn kalian. 

Miss U Applers & Hengsho. 😀

– Zhie –

15-07-2017

.

Advertisements

35 thoughts on “FAULT IT’S TRUE – Honeymoon ??? [Chap. 21]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s