[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] The True Of Love Story #1

cover-unria2

Author : Yussie

Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jung Yonghwa, Krystal Jung, Lee Donghae, dll

Genre : love, romance

 

 .

The True Of Love Story (part 1)

.

Sandara sedang menimang bayi mungil yang berada dalam gendongannya sambil terus bersenandung merdu agar bayi cantik itu segera tertidur. Setelah bayi cantiknya tertidur, perlahan Sandara meletakkan bayi tersebut di box tempat tidurnya. Ceklek, tak lama terdengar suara knop pintu dibuka dari luar dan perlahan muncul wajah yang sudah tak asing bagi Sandara. Namja itu tersenyum pada Sandara dan dibalas dengan senyuman pula oleh Sandara sambil memberikan pandangan isyarat bahwa namja itu akan menunggu Sandara di mobil, yang dijawab dengan anggukan oleh Sandara.

Setelah memastikan bayi mungil cantik kesayangannya sudah tertidur lelap, perlahan Sandara mengecup kening bayi tersebut dan segera beranjak keluar kamar, menutup pintu dengan sangat hati-hati agar bayi kesayangannya tidak terbangun. Sandara tersenyum manis ketika dia sudah akan sampai di pintu gerbang namun dilihatnya namja yang tadi mengajaknya untuk segera pulang malah asyik bermain dengan anak-anak di sekelilingnya. Anak-anak perempuan berebut untuk dipangku olehnya, sedangkan anak-anak lelaki berebut minta digendong di pundaknya. Sandara hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat isyarat dari namja itu agar dia segera membantunya. Perlahan Sandara mendekati anak-anak yang masih berebut ingin dipangku dan digendong oleh namja yang saat ini paling dekat dengannya.

“Ayo, siapa yang mau coklat enak ini?” ucap Sandara sambil mengambil beberapa buah coklat dari dalam tasnya. Dan seperti yang sudah diduga, tiga anak laki-laki yang tadinya berebutan minta digendong langsung menghampiri Sandara untuk mengambil coklat-coklat tersebut.

“Terima kasih Dara noona yang semakin cantik.” Kata mereka serempak. Sedangkan anak-anak perempuan masih saja tidak bergeming, masih meminta dipangku oleh oppa kesayangan mereka.

Aigo, Na Ra, Hye Mi, kalian tidak mau coklat enak ini?” ucap Sandara sambil mengerucutkan bibirnya pura-pura kecewa. Kedua gadis kecil itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak Dara unnie, aku mau tapi nanti saja. Aku masih sangat rindu pada Yonghwa oppa, sudah lama sekali oppa tidak berkunjung kesini.” Ucap gadis kecil imut yang bernama Na Ra yang tambah mempererat pelukannya pada namja yang bernama Yonghwa. Gadis kecil yang bernama Hye Mi pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju atas ucapan temannya dan ikut mempererat pelukannya pada Yonghwa.

Arraso, baiklah maafkan oppa neh. Oppa janji akan lebih sering berkunjung ke sini. Kemarin oppa sedang sangat sibuk sehingga tidak bisa sering mampir kesini. Tapi oppa janji, oppa akan lebih sering kesini dan besok siapa yang mau dibawakan boneka kelinci oleh oppa?” ucapnya sambil tersenyum dan mempererat pelukannya pada dua gadis kecil di sampingnya.

“Hye Mi mau oppa!” ucap Hye Mi.

“Na Ra juga mau oppa, belikan yang berwarna pink oppa, aku suka warna pink!” jawab Na Ra.

Arra, arra, oppa akan belikan boneka kelinci yang besar untuk Hye Mi dan Na Ra neh.” Jawab Yonghwa yang langsung membuat kedua gadis kecil itu melompat-lompat kegirangan. Dara yang melihat hal itu hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua gadis kecil itu.

Tak lama kemudian, Dara dan Yonghwa segera pamit pada anak-anak manis tersebut dan segera menuju ke mobil Yonghwa. Ketika mobil mereka akan segera melaju, anak laki-laki gembul yang bernama Woo Ri tiba-tiba berteriak minta dibawakan mainan mobil-mobilan juga ketika mereka berdua besok akan datang lagi. Dan Yonghwa pun segera menjawabnya dengan mengacungkan jempolnya tanda setuju atas permintaan tersebut. Tak lama terlihat anak-anak tersebut melompat-lompat kegirangan mengetahui besok mereka akan dibawakan mainan oleh Yonghwa dan Dara. Dara yang melihat hal tersebut hanya terus tertawa melihat kelakuan anak-anak yang lucu tersebut. Lalu mobil segera melaju, mengantarkan Yonghwa dan Dara kembali menuju Seoul.

Selama di perjalanan menuju Seoul, mereka tidak berhenti berbincang mengenai kegiatan masing-masing selama sebulan belakangan. Maklum, karena Yonghwa baru saja pulang dari tugas luar kota, sehingga baru hari ini mereka bisa bertemu lagi dan kebetulan saat Dara bilang bahwa dia akan berkunjung ke panti asuhan milik Nyonya Kim hari ini, Yonghwa juga ingin ikut berkunjung karena dia sudah rindu dengan keceriaan anak-anak di sana.

Akhirnya mereka tiba di apartemen Dara dan Yonghwa pun mengantar Dara sampai di pintu apartemennya. Ketika Dara mengajak Yonghwa untuk masuk, namun dengan halus Yonghwa menolaknya karena dia ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat, karena jujur saja, dia benar-benar baru tiba dari luar kota, namun ketika Dara mengajaknya untuk berkunjung ke panti asuhan, Yonghwa dengan antusiasnya ingin ikut.

Noona maafkan aku neh, lain kali aku pasti akan mampir. Namun aku sangat lelah sekarang, jadi aku ingin segera tidur di kasurku noona. Aku sangat rindu dengan kamarku noona dan..aku juga rindu padamu noona.” Ucap Yonghwa sambil memeluk Dara dengan manja.

“Aisht anak ini, tentu saja aku juga rindu padamu Yong. Bagaimana mungkin aku tidak merindukan dongsaeng kesayanganku.” Jawab Dara sambil membalas pelukan Yonghwa.

“Ya sudah, sekarang kau segeralah pulang agar bisa beristirahat neh. Tapi kau harus hati-hati di jalan, jika mengantuk, menepilah dulu arra!” ucap Dara sambil menepuk-nepuk pipi Yonghwa.

“Aisht noona, apartemenku kan hanya lima menit dari sini, seperti apartemenku jauh saja.” Jawab Yonghwa sambil mengerucutkan bibirnya tanda protes.

“Iya, iya, hahaha, aku kan hanya ingin seperti noona yang baik untukmu Yong. Sudah jangan cemberut seperti itu neh!” ucap Dara dengan memamerkan aegyonya yang membuat Yonghwa tertawa melihat kelakuan noona kesayangannya itu.

“Kau selalu menjadi noona yang terbaik bagiku, lebih tepatnya noona yang kusayang. Bye noona, mimpikan aku neh.” Ucap Yonghwa. Dara pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Lalu mereka saling melambaikan tangan sampai Yonghwa menghilang dari pandangan. Dan tak lama kemudian, Dara pun segera masuk ke dalam apartemennya.

Sementara itu, tanpa Dara sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang terus mengamati Dara. Dia menunggu di dekat pintu apartemen Dara dan sangat antusias untuk dapat bertemu kembali dengan Dara. Dia membayangkan sebuah pertemuan yang mengharukan dengan Dara. Namun semua harapan dan angan itu hilang seketika ketika dia melihat Dara pulang diantar oleh seorang namja yang tidak dikenalnya. Dan yang membuat hatinya sakit adalah namja itu terlihat sangat dekat dengan Dara dan begitu pula sebaliknya. Dia sadar bahwa dia tidak bisa menyalahkan Dara, dia yang menginginkan semua ini. Dia yang pergi meninggalkan Dara tanpa alasan yang jelas, walaupun sebenarnya dia mempunyai sebuah alasan yang kuat mengapa dia memilih untuk menghilang dari kehidupan Dara selama hampir lima tahun ini.

Ya, dia adalah Kwon Jiyong, cinta pertama Dara dan juga orang yang menghancurkan hati Dara. Walaupun sebenarnya dia tidak bermaksud melukai hati Dara, karena tentu saja dia juga sangat mencintai Dara. Namun penyakit yang dideritanya mengharuskan dia memilih untuk melukai hati yeoja yang sangat dicintainya selama ini, karena dia sendiri tidak yakin bahwa dia akan bisa membahagiakan Dara ketika dia tahu bahwa kesempatan hidupnya sangat kecil. Dengan langkah gontai, Jiyong berjalan mendekati pintu apartemen Dara. Lalu dilihatnya sandal rumah Dara masih tergeletak di luar pintu apartemennya. Jiyong hanya tersenyum melihat satu hal yang belum berubah dari Dara, Dara-nya, yang sering lupa menaruh sandal rumahnya di luar pintu. Masih sama seperti ketika mereka masih bersama dahulu, setiap kali Jiyong ke rumah Dara, dia pasti akan menemukan hanya sandal rumah milik Dara-lah yang tertinggal di luar pintu rumahnya, karena Dara sering lupa menaruh sandal rumahya. Jiyong memakai sandal kepunyaan Dara yang masih tertinggal itu, merasakan dengan segenap hatinya keberadaan yeoja yang sangat dicintainya lewat sandal yang sekarang dipakainya.

Jiyong mulai merasakan sakit bercampur dengan kerinduan di dalam hatinya, dia berjongkok dan menumpahkan semua rasa rindunya pada Dara. Dara-nya berada dekat dengan dirinya, hanya terhalang oleh sebuah dinding. Dara yang sangat ingin sekali dipeluknya, bahkan Jiyong berpikir bahwa dia rela jika dia harus pergi saat berada dalam pelukan Dara, Dara-nya. Airmata perlahan menetes dari matanya, dia sangat merindukan seorang Dara.

Sudah lima tahun ini sejak kepergiannya untuk berobat di luar negeri, berharap akan kesembuhan dengan melakukan segala macam pengobatan, bahkan dengan mencari donor untuk tranplantasi jantung. Namun semua itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Kini Jiyong hanya bisa pasrah, menunggu saat ajal akan menjemputnya. Dengan hidupnya yang kini hanya menghitung waktu saja, Jiyong memutuskan untuk kembali ke Korea untuk mencari Dara. Dia selama ini tetap berusaha mencari tahu kabar Dara-nya dan dia mengetahui bahwa Dara sekarang sudah pindah ke Seoul. Maka dari itu, setibanya Jiyong kembali ke Korea, dia segera menghampiri alamat apartemen Dara dengan sangat antusias. Namun sekarang dia hanya bisa merasakan sakit sendiri, sakit karena kerinduan yang teramat dalam pada Dara.

Akhirnya setelah berhasil menguasai diri dan sambil menahan rasa sakit yang kini mulai menyerangnya lagi, Jiyong perlahan berdiri, melepas sandal rumah milik Dara dan perlahan berjalan menuju lift. Dengan langkah yang gontai, Jiyong memencet tombol lift dan segera masuk ketika pintu lift terbuka. Sementara itu, setelah Jiyong perlahan menjauh dari pintu apartemen Dara, pintu apartemen Dara terbuka. Terlihat Dara keluar karena lupa akan sandal rumahnya yang masih ditaruhnya di luar. Namun sebelum dia memakai sandalnya, dia sempat melihat bayangan seseorang yang sedang menuju lift, dan tiba-tiba hatinya berdetak sangat keras. Aroma ini, dia mengenal aroma ini. Seperti aroma tubuh seseorang yang sangat dikenalnya. Dara pun segera berlari mengejar seseorang yang tadi diyakininya sedang berjalan menuju lift, dan semakin dekat dengan lift, aromanya semakin kuat, harum mint yang maskulin. Namun ketika Dara sampai dekat lift, pintu lift sudah hampir tertutup rapat. Dara sempat melihat seseorang yang berada dalam lift tersebut, walaupun wajah orang tersebut sedang menunduk, tapi Dara sangat yakin bahwa dia tidak mungkin salah orang, Jiyong. Setelah lima tahun yang Dara lewati, Dara bisa melihat wajah orang yang selalu mengisi hatinya, walaupun orang itu pula yang menyakiti hatinya. Tanpa terasa air mata mengalir di kedua pipi Dara. Setelah pintu lift benar-benar tertutup rapat, tubuh Dara langsung jatuh terduduk lemas. Semua rasa bercampur aduk sekarang di dalam hati Dara. Perasaan sakit, marah namun yang paling kuat adalah perasaan rindu setelah dapat melihat kembali wajah Jiyong-nya.

Tak lama kemudian pintu lift kembali terbuka. Dengan sangat berharap, Dara segera mendongakkan kepalanya, berharap bahwa Jiyong-lah yang kembali padanya, namun semua itu hanyalah harapan belaka, karena yang terlihat di sana adalah wajah khawatir Yonghwa yang kaget melihat kondisi noona-nya saat ini. Yonghwa segera menghampiri Dara dan Dara dengan refleks langsung memeluk tubuh Yonghwa. Lalu Dara menangis semakin kencang di pelukan Yonghwa, sambil terus menyebut nama Jiyong. Yonghwa yang belum mengerti akan apa yang terjadi pada Dara, hanya berusaha menenangkan noona-nya itu dengan mengelus rambut Dara. Namun ketika Dara terus menerus menyebut nama Jiyong, perlahan Yonghwa mulai mengerti bahwa ini semua ada kaitannya dengan seseorang yang selalu mengisi hati Dara, yang membuat Dara belum bisa membuka hatinya untuk namja lain, bahkan dirinya sekalipun. Seseorang dari masa lalu Dara yang telah melukai hatinya namun orang itu selalu mempunyai tempat teristimewa di hati Dara.

Perlahan Yonghwa langsung memapah tubuh Dara dan berjalan menuju apartemen Dara kembali. Dara masih terus menangis ketika mereka sudah sampai di dalam apartemen Dara. Setelah membantu Dara untuk berbaring di kasurnya, Yonghwa menaruh tas Dara yang masih tergantung di bahunya. Ya, Yonghwa tadi kembali ke apartemen Dara karena ingin mengembalikan tas Dara yang tadi tertinggal di dalam mobilnya. Namun dia begitu kaget saat melihat Dara sedang menangis histeris sambil terduduk di depan pintu lift. Setelah memastikan bahwa Dara sudah tenang dan mulai memejamkan mata, maka Yonghwa segera berjalan keluar. Namun ketika baru akan membuka pintu kamar Dara, terdengar suara lirih Dara.

“Yong, tadi aku melihat Jiyong. Aku tidak berhalusinasi kan Yong?! Aku benar-benar melihatnya Yong, Jiyongie-ku, hiks hiks.” Ucap Dara lirih dan mulai terisak lagi. Yonghwa pun segera mendekati Dara dan berusaha menenangkan Dara kembali.

Noona, tenanglah, mungkin kau memang benar-benar melihat Jiyong hyung tadi. Tapi kumohon sekarang kau tenang, neh. Kau jangan sampai sakit lagi noona. Sekarang beristirahatlah, kau memerlukannya noona.” Yonghwa berujar sambil menghapus air mata Dara yang masih mengalir di pipinya. Akhirnya Dara pun mengangguk dan kali ini benar-benar berusaha untuk beristirahat.

“Beristirahatlah noona, besok aku akan menjemputmu dan mengantarmu pergi kerja, neh.” Ucap Yonghwa pelan dan dijawab anggukan oleh Dara. Lalu Yonghwa segera pergi keluar kamar apartemen Dara, membiarkan agar Dara bisa beristirahat.

Setelah berada di dalam mobil, Yonghwa kembali memikirkan ucapan Dara tadi mengenai pertemuannya dengan Jiyong. Yonghwa langsung teringat bahwa di lobby tadi saat dia akan masuk ke dalam lift, dia sempat berpapasan dengan seorang namja yang sepertinya pernah dilihatnya, namun dia tidak ingat dimana dia pernah melihatnya. Setelah diingat-ingat, Yonghwa baru sadar bahwa mungkin orang itu adalah Kwon Jiyong, satu-satunya namja yang dicintai Dara di hidupnya. Yonghwa hanya berharap bahwa kedatangan Jiyong kali ini bukanlah untuk menyakiti Dara lagi, mengingat Dara sudah berusaha selama lima tahun ini untuk mengobati luka hatinya. Namun jika Jiyong berniat menyakiti Dara kembali, maka Yonghwa siap memasang badannya untuk melindungi Dara. Namun apabila Jiyong justru datang untuk membahagiakan Dara, maka Yonghwa dengan senang hati akan merelakannya, demi kebahagiaan noona-nya itu, walaupun pasti akan terasa sakit di hatinya, namun dia rela jika Dara bisa bahagia bersama pria yang dicintainya. Yonghwa pun segera melajukan mobilnya pulang ke arah apartemennya.

 

 

 

Jiyong POV

Akhirnya aku tiba di Seoul, pulang kembali ke negara asalku setelah selama ini aku berusaha mencari pengobatan untuk penyakitku di beberapa negara, namun semua itu tidak membuahkan hasil seperti yang aku harapkan selama ini. Mungkin memang inilah jalan yang ditakdirkan untukku. Setelah selama ini berjuang, namun penyakitku ini tak kunjung sembuh, malah semakin bertambah parah. Akhirnya setelah dokter memvonis bahwa penyakitku ini sudah tidak dapat diobati lagi kecuali dengan tranplantasi dan kemungkinan hidupku hanya tinggal beberapa bulan, aku memutuskan untuk pulang kembali ke negaraku, pulang kembali kepada cinta sejatiku, Dara-ku, Sandara Park.

Oh aku sangat-sangat merindukannya, rindu akan senyum manisnya, rindu akan wajah cantiknya, rindu akan semua yang ada pada dirinya. Aku selalu memantaunya lewat teman-temanku walaupun aku sedang berada jauh darinya. Mereka selalu mengirimkan foto Dara saat masih kuliah. Bagusnya Yongbae satu kampus dengan Dara sehingga dia sering mengirimiku fotonya. Namun setelah lulus kuliah, Dara mendapatkan pekerjaan di Seoul sehingga mengharuskannya pindah ke Seoul. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat wajah cantiknya melalui foto yang dulunya sering dikirimkan oleh teman-temanku. Aku hanya bisa melihat foto-foto lamanya saat kuliah dulu. Namun aku yakin dia pasti semakin cantik. Apakah sekarang sudah ada namja yang menjadi pacarnya? Pikiran-pikiran itu selalu terlintas dalam benakku.

Namun sebulan kemarin, adik sepupuku, Krystal, yang juga tinggal di Seoul tidak sengaja bertemu dengan Dara. Dan tanpa sepengetahuan Dara, dia berhasil mengikuti Dara sampai apartemen tempat Dara tinggal sekarang. Sejak saat itu Krystal berusaha mencari tahu segala sesuatu tentang Dara, dimana Dara tinggal, dengan siapa, dimana tempat Dara bekerja, dan yang paling penting, Krystal sudah mengetahui bahwa sampai saat ini Dara belum menikah, bertunangan ataupun memiliki seorang kekasih. Dengan berbekal informasi berharga yang didapatkan oleh Krystal, aku memantapkan hatiku untuk segera pulang dan menemui Dara. Aku tidak terlalu berharap bahwa kami akan bisa bersama lagi, tapi paling tidak aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamanya, walaupun hanya menjadi temannya, namun aku ingin pergi dengan perasaan yang bahagia karena bisa bersamanya sampai akhir hidupku nanti.

Setibanya di Seoul, aku dijemput oleh Krystal dan aku meminta langsung diantarkan ke apartemen tempat Dara tinggal. Aku sungguh tidak sabar untuk segera bertemu dengannya. Rasa bahagia dan rindu sudah sangat bergejolak di dalam dadaku membayangkan pertemuan kami nanti. Sementara Krystal menunggu di mobilnya, aku segera masuk ke gedung apartemen Dara dan sesampainya di pintu kamar apartemen Dara, aku segera memencet bel, namun tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya di depan pintu, karena kurasa Dara mungkin sedang keluar.

Setelah dua jam menunggu, akhirnya aku mendengar suara Dara datang dari arah lift. Aku langsung berdiri dan bersiap memberinya kejutan dengan kemunculanku yang tiba-tiba. Namun aku mengurungkan niatku untuk menyapa Dara saat itu juga karena kulihat Dara ternyata sedang bersama seorang namja yang wajahnya tak pernah kukenal sebelumnya. Aku segera bersembunyi di balik dinding dekat tangga darurat di sebelah kamar apartemen Dara. Dan keterkejutanku semakin bertambah ketika melihat Dara dan namja itu terlihat begitu dekat, bahkan sangat dekat. Apakah dia adalah namjachingu Dara? Pikirku. Tapi Krystal bilang bahwa dia sangat yakin bahwa Dara belum mempunyai kekasih. Seketika hatiku terasa semakin sakit, sakit karena melihat Dara bersama namja lain dan sakit karena penyakitku yang mulai kambuh lagi. Air mata tak terasa mengalir di kedua mataku ketika melihat Dara dan namja itu berpelukan. Apakah ini artinya bahwa aku sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menghabiskan sisa waktuku bersama Dara? Apakah ini hukuman bagiku karena sudah meninggalkan Dara tanpa menjelaskan mengenai penyakitku dan membiarkan Dara dalam kesakitan dan kehancuran saat aku meninggalkannya lima tahun lalu?

Setelah melihat Dara masuk ke dalam apartemennya dan namja yang tadi bersamanya juga sudah tak terlihat lagi, aku perlahan berjalan ke depan pintu apartemen Dara. Kulihat Dara masih meninggalkan sandal rumahnya di luar pintu, kupakai sandalnya dan kulepaskan semua kerinduanku padanya. Aku terduduk dan air mata kembali mengalir di kedua pipiku. Hatiku terasa sakit, sangat sakit. Tuhan, aku benar-benar merindukannya, rindu pada Dara-ku. Setelah beberapa saat aku menangis, akhirnya aku bisa menguasai diri dan aku segera menuju lift untuk menuju ke mobil Krystal, karena pasti dia sudah kelelahan menungguku berjam-jam. Ketika aku sudah sampai di lobby dan pintu lift terbuka, kulihat namja yang tadi bersama Dara sedang menunggu pintu lift terbuka dan segera masuk begitu aku keluar. Segera kupercepat langkahku menuju tempat dimana mobil Krystal terparkir. Kulihat Krystal sedang tertidur dan begitu aku mengetuk kaca mobil, Krystal segera terbangun dan membuka pintu mobil agar aku dapat segera masuk. Kulihat wajah Krystal begitu penuh pertanyaan begitu aku duduk, namun setelah melihat wajah sedihku, Krystal tidak jadi menanyakan apa-apa padaku dan dia memutuskan untuk segera melajukan mobilnya menuju rumahnya, tempat tinggalku selama aku berada di Seoul.

Sesampainya di rumah Krystal, aku segera disambut hangat oleh ayah dan ibu Krystal yang juga merupakan paman dan bibiku. Aku segera beristirahat di kamar yang biasa kutempati jika aku sedang berkunjung ke sini. Tak lama kudengar suara ketukan di pintu kamarku dan bisa kutebak bahwa pasti Krystal yang ingin mendengar cerita langsung dariku. Akhirnya aku memperbolehkannya masuk dan segera kuceritakan semua yang terjadi di apartemen Dara. Krystal hanya bisa memelukku erat dan ikut menangis bersamaku, karena dia tahu betul bagaimana kisahku dengan Dara. Sebab Krystal adalah yeoja yang dilihat Dara sedang memelukku saat lima tahun yang lalu. Aku sengaja tidak memberitahukan pada Dara saat itu juga bahwa Krystal adalah sepupuku, karena aku memang ingin Dara membenciku sehingga dia bisa merelakanku pergi.

~ * ~

Keesokan paginya, Yonghwa menepati janjinya untuk menjemput Dara dan mengantarnya ke kantor tempat Dara bekerja. Yonghwa masih merasa sangat khawatir pada noona-nya itu karena Dara menjadi tidak bersemangat. Yonghwa banyak melontarkan lelucon-lelucon konyol ketika mereka di perjalanan. Namun seperti yang sudah diduga, Dara tidak tertawa maupun tersenyum sama sekali, pandangannya kosong menatap lurus ke depan.

Yonghwa tahu bahwa noona-nya saat ini tidak akan fokus jika diajak berbicara maupun bercanda, karena terlihat jelas bahwa Dara sedari tadi hanya melamun, pikirannya jauh berkelana ke tempat lain dan tertuju pada satu orang, Kwon Jiyong. Yonghwa hanya bisa menghela nafas melihat kondisi Dara seperti ini lagi. Dulu saat Yonghwa masih menjadi adik kelas Dara di kampus mereka di Busan, Yonghwa sering melihat Dara sedang melamun. Bahkan pertemuan pertama mereka pun saat Dara tidak sengaja menabrak Yonghwa karena sedang melamun ketika berjalan di lorong kampus. Sejak saat itu mereka menjadi dekat, tentu saja Yonghwa yang mengajak berkenalan dengan alasan dia masih mahasiswa baru dan membutuhkan bantuan seniornya. Tidak mudah menjadi dekat dengan Dara karena sikap Dara yang memang suka menyendiri. Namun akhirnya mereka bisa bersahabat karena sikap pantang menyerah Yonghwa dan Dara merasakan bahwa Yonghwa benar-benar ingin berteman dengannya. Semenjak itu mereka berdua menjadi sangat dekat, Dara menganggap Yonghwa seperti adiknya sendiri. Oleh karena itu Yonghwa juga mengetahui kisah cinta Dara dengan Jiyong.

Akhirnya mereka tiba di kantor Dara, setelah mengucapkan terima kasih pada Yonghwa, Dara segera berjalan menuju ruangannya setelah terlebih dulu menunggu mobil Yonghwa sudah melaju kembali. Ketika Dara tiba di ruangannya, Dara hanya bisa menghela nafas kesal karena lagi-lagi di meja kerjanya ada sebuah buket bunga, dan Dara tahu siapa yang mengirim buket bunga tersebut hampir setiap hari. Satu..dua..tiga..Dara menghitung dalam hati, dan munculah seorang namja si pengirim bunga tersebut dari balik pintu ruangannya.

Good Morning Jagiya.” Ucap namja itu sambil tersenyum mencoba menebarkan pesonanya ke Dara. Namun yang digoda hanya diam saja, tidak menanggapi.

“Lee Donghae, aku sedang tidak mood untuk bercanda.” Jawab Dara dengan muka masam. Lalu Dara segera menaruh tasnya di meja kerja dan menyalakan komputer, siap untuk bekerja.

Aisht Jagiya, kau sedang PMS ya? Kau tahu, aku merindukanmu jagiya.” Donghae segera bergerak mendekati Dara, namun Dara langsung berdiri dan membawa buket bunga dari Donghae ke luar ruangannya, dimana para fan girl Donghae sudah menunggu di luar untuk mendapatkan buket bunga tersebut. Sudah jadi kebiasaan untuk mereka menunggu Dara memberikan buket bunga tersebut, dan Donghae tahu hal tersebut. Namun tetap saja Donghae selalu memberikan buket bunga setiap hari untuk Dara walaupun sudah sangat jelas bahwa Dara menolak pemberiannya tersebut. Setelah Dara memberikan buket bunga tersebut pada salah satu fan girl Donghae, Dara segera masuk ke ruangannya, dan Donghae masih duduk manis di kursi Dara, tidak peduli dengan apa yang baru saja dilakukan Dara.

“Donghae, kumohon, bisakah hari ini kau tidak menggangguku? Aku benar-benar sedang tidak dalam kondisi yang baik. “ Ucap Dara sambil mengusir Donghae dari kursinya dan Donghae mengalah dengan duduk di kursi yang ada di depan meja Dara.

“Yah Dara! Aisht kau sungguh tidak asyik!” sahut Donghae sambil memanyunkan bibirnya, namun ketika dia melihat Dara tidak memberikan respon dan hanya melamun, Donghae langsung khawatir. Perlahan dia mendekati Dara dan menempelkan telapak tangannya ke dahi Dara, tidak panas, batinnya. Lima menit posisi mereka tetap seperti itu dan Dara tetap tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Cetuk.

“Aww, yah Donghae, sakit! Kenapa kau menyentil dahiku, hah?!” protes Dara sambil mengusap dahinya yang memerah sekarang.

Omo mianhae jagiya, sakit ya?” lalu tiba-tiba ‘chup’ Donghae mengecup kening Dara yang tadi disentilnya dan Dara langsung mengeluarkan tatapan laser membunuhnya dengan mata membulat penuh ke arah Donghae. Sementara Donghae hanya tersenyum nakal tanpa dosa.

“Dara, apa yang mengganggu pikiranmu? Apa Yonghwa terus saja menempel padamu ketika dia sudah pulang dari tugas luar kotanya? Jika iya, akan kuberi pelajaran anak manja itu. Mana bisa dia terus saja menempel pada noonanya yang cantik ini tanpa seizinku!” oceh Donghae sementara Dara hanya bisa memutar bola matanya mendengar celotehan Donghae.

“Jiyong,, dia kembali Hae.” Ucap Dara lirih sambil menunduk.

“APA?? Bagaimana bisa? Apa aku tidak salah dengar?” Donghae terbelalak mendengar berita tersebut. Dara hanya mengangguk lemah mengiyakan bahwa Jiyong memang kembali. Mendengarnya, tiba-tiba seluruh tubuh Donghae terasa lemas, dia pun terduduk lemas di kursi.

Donghae tahu bahwa Jiyong adalah pria yang sangat dicintai Dara, bahkan sampai saat ini pria itu tetap mengisi relung hati terdalam Dara. Dan karena pria itu pula, Donghae bahkan Yonghwa sekalipun tidak pernah bisa merebut hati Dara karena sepertinya hati Dara sudah tertutup semenjak kepergian Jiyong lima tahun silam. Dan sekarang, entah karena alasan apa, pria itu kembali lagi ke kehidupan Dara. Hal ini benar-benar membuat Donghae menjadi geram.

“Dara, tolong dengarkan aku, jika pria itu kembali hanya untuk membuka luka lamamu, jangan biarkan itu terjadi, neh. Kau sudah berusaha keras untuk menyembuhkan luka hatimu itu Dara. Tolong, jika kau memang tidak bisa menerima cintaku ataupun Yonghwa, tapi kuminta kau jangan sampai mau dilukai lagi oleh orang itu Dara.” Ucap Donghae sambil berdiri berjalan ke arah Dara.

“Aku tahu mungkin aku memang bukan pria yang baik untukmu, aku tadinya berandalan, aku suka mempermainkan wanita, tapi aku berubah semenjak kau hadir Dara. Hanya kau yang mau tulus berteman denganku saat orang lain berusaha menjauhiku karena reputasiku yang buruk. Kau yang menemaniku menjalani hari-hari dimana aku sangat terpuruk karena perpisahan orangtuaku. Kau yang selalu menyemangatiku dan mau mendengarkan keluhanku. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul tapi perasaan ini semakin dalam tiap harinya.” Donghae berujar sambil memegang lembut pipa Dara.

Dara yang mendengar ucapan Donghae langsung menangis. “Mianhae Hae-ah, mianhae, tapi aku, aku tidak bisa membalas perasaanmu, mianhae, hiks hiks. Aku tidak tahu kenapa sampai saat ini aku tidak bisa juga melupakan Jiyong, huhu.” Ujar Dara disela isak tangisnya yang semakin kencang. Donghae hanya bisa memeluk sahabatnya itu untuk menenangkannya.

“Baiklah, sekarang kau jangan bersedih lagi neh, aku dan Yonghwa akan berusaha menghiburmu. Walaupun kau tidak bisa memilih diantara aku ataupun Yonghwa, tapi tolong jangan buat dua orang namja yang cute ini menjadi sedih karena yeojanya sedang bersedih terus, ok!” ucap Donghae dengan wajah dibuat seimut mungkin, yang mau tidak mau membuat Dara tersenyum karena melihat usaha Donghae yang selalu bersikap cool namun mau menunjukkan aegyonya demi menghibur Dara.

Neh, Lee Donghae, aku akan berusaha untuk tidak memikirkannya. Hm, sekarang tolong kau biarkan aku untuk bekerja dan yah, kau juga harus bekerja kan!” seru Dara sambil tersenyum.

“Siap bos!” jawab Donghae sambil memberi hormat ala tentara kepada Dara.

Gomawo Hae.” Ucap Dara tulus. Donghae pun segera beranjak meninggalkan ruangan kantor Dara.

“Dara-yah, tetap tersenyum neh, kau lebih cantik jika tersenyum.” Goda Donghae sebelum benar-benar keluar dari ruangan Dara.

Akhirnya hari demi hari pun berlalu semenjak kedatangan Jiyong. Donghae dan Yonghwa selalu berusaha membuat Dara tidak memikirkan Jiyong saat mereka bersama Dara. Mereka berusaha membuat hati Dara bahagia dan selalu tersenyum karena tingkah konyol mereka yang seperti anjing dan kucing ketika mereka berdua bertemu untuk sekedar makan siang bersama Dara. Dara pun berusaha untuk selalu tersenyum ketika sedang bersama Donghae dan Yonghwa, berusaha untuk menutupi rasa sedih dan sakit di hatinya yang entah kenapa walaupun dia coba untuk tidak memikirkannya, tetapi ketika Dara sedang sendirian, rasa sakit itu selalu datang, sakit yang dibarengi dengan rasa rindu yang teramat dalam untuk Jiyong.

Sementara itu, dari kejauhan ada sepasang mata yang sudah berhari-hari selalu mengamati Dara dan kedua teman namjanya ketika mereka sedang berada di restoran dekat kantor Dara. Matanya tidak pernah lepas dari wajah cantik Dara. Dara-nya, Dara yang selalu dirindukannya, Dara yang selalu tersenyum hangat dan tertawa. Ya, orang itu adalah Kwon Jiyong, namja yang sudah berhasil menguasai hati Dara sampai saat ini. Sebenarnya Jiyong ingin sekali menghampiri Dara, memeluknya, menciumnya, namun dia sadar bahwa dia tidak boleh egois. Kehadirannya lagi di kehidupan Dara hanya akan membuat Dara terluka lagi. Jadi, Jiyong hanya ingin memandangi Dara dari kejauhan, sampai saatnya pergi telah tiba, saat dia tidak akan bisa kembali lagi untuk sekedar memandangi Dara dari kejauhan saja. Oleh karena itu, Jiyong memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya cukup dengan rasa bahagia karena telah melihat Dara-nya.

Siang itu seperti biasanya, Jiyong sudah duduk di salah satu bangku paling pojok di restoran tempat Dara biasa makan siang bersama Donghae dan Yonghwa. Dia sengaja memilih bangku yang paling pojok, jauh dari tempat favorit Dara, namun di tempat itu, dia bisa melihat wajah Dara, walaupun dari kejauhan. Dia bahagia melihat senyum dan tawa yang keluar dari bibir mungil yeojanya itu. Hari ini hanya Dara dan Donghae yang makan siang bersama. Setelah mereka selesai dan pergi, Jiyong langsung menghampiri bangku tempat Dara duduk tadi. Sudah menjadi rutinitasnya selama dua minggu ini untuk duduk sejenak disana dan merasakan aroma parfum Dara yang masih bisa terhirup olehnya. Membayangkan bahwa Dara masih duduk disana, bersamanya, ketika tiba-tiba, greb! Ada seseorang yang bersiap memukulnya dengan menarik kaos yang dikenakannya.

“Kau, siapa kau?! Mengapa kau selalu memandangi Dara dan selalu duduk disini ketika kami telah pergi, hah?! Ayo jawab aku!” teriak namja yang bernama Donghae sambil bersiap memukul Jiyong dengan kepalan tangannya. Jiyong hanya memandangi Donghae tanpa rasa takut dan tak ada niat untuk melawan.

“Hae-ah, apa yang tertinggal? Bukankah tadi kau sudah memasukkan ponselmu ke dalam saku kemejamu? Aku tadi sudah memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal di si…Ji-Ji-Jiyong??” terdengar suara lembut dari seorang yeoja. Dara yang berniat untuk menyusul Donghae yang tadi masuk kembali ke restoran dengan alasan ponselnya tertinggal di meja hanya bisa terdiam, mematung memandangi wajah Jiyong yang terlihat sangat pucat. Oh, ternyata aku benar, orang yang waktu itu kulihat benar-benar Kwon Jiyong. Tanpa terasa, air mata menetes di kedua pipi Dara. Jiyong yang melihat air mata Dara langsung melepaskan cengkeraman Donghae dan tanpa sadar, dirinya langsung memeluk tubuh Dara. Dara-nya, Dara yang sangat dirindukannya. Dara langsung menangis sejadi-jadinya, rasa sakit, rasa bahagia, rasa takut, semuanya berkumpul menjadi satu. Sakit mengingat saat Jiyong pergi begitu saja, bahagia karena rindunya yang teramat dalam pada Jiyong. Dan takut karena Jiyong pasti akan meninggalkannya lagi.

DUG. BRUK!!

Jiyong langsung jatuh tersungkur akibat pukulan keras dari Donghae, sementara Dara sangat kaget melihat Donghae yang tiba-tiba memukul Jiyong, namun Dara hanya diam terpaku melihatnya, tidak tahu harus berbuat apa karena masih sangat shock.

Oh My God, Oppa!” terlihat seorang yeoja berlari ke arah Jiyong dan langsung memapah tubuh Jiyong yang terlihat semakin pucat.

Oppa, gwenchanayo?” Tanya yeoja itu, Jiyong mengangguk pelan namun tiba-tiba tubuh Jiyong limbung dan gubrak, tubuh Jiyong jatuh ke lantai karena yeoja itu terlalu kecil untuk menahan tubuh Jiyong.

Oppa, yah, oppa, bangunlah oppa! Hiks hiks kan sudah kubilang kau tidak boleh terlalu lelah. Kau kan tahu kondisi kesehatanmu sangat buruk oppa. Kau selalu memaksa untuk tiap hari ke sini untuk melihat Dara unnie, tapi sekarang malah seperti ini, huhuhu..oppa…” yeoja itu terus menangis melihat keadaan Jiyong yang sekarang sudah jatuh pingsan.

“Yah, Dara unnie! Kenapa kau diam saja melihat keadaan Jiyong oppa  seperti ini? Apakah kau sudah tidak mencintai oppaku lagi seperti dia yang selalu mencintaimu? Huhuhu..” yeoja itu terus menangis sementara Dara yang tersadar langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi rumah sakit terdekat dengan tangan yang terus gemetaran. Setelah berhasil menghubungi rumah sakit, dengan langkah gemetar, Dara berjalan mendekati Jiyong dan yeoja itu. Ya, Dara akhirnya ingat dengan wajah yeoja yang sekarang sedang memeluk tubuh lemah Jiyong. Dia adalah yeoja yang waktu itu terlihat sangat mesra dengan Jiyong. Yeoja yang selama ini Dara pikir menjadi pihak ketiga dalam hubungan mereka sehingga Jiyong meninggalkannya begitu saja. Tapi, Dara tidak mengerti apa yang tadi dibicarakan oleh yeoja itu, kenapa yeoja itu bilang kalau Jiyong masih mencintainya?

Belum sempat Dara menanyakan apa maksud perkataan yeoja itu, terdengar suara sirine ambulans. Akhirnya petugas paramedis datang dan langsung menggotong tubuh Jiyong ke dalam mobil ambulans, membawanya ke rumah sakit. Dara dan Donghae mengikuti ambulans tersebut dengan mobil Donghae yang terparkir di luar restoran, sedangkan yeoja yang tadi bersama Jiyong ikut dalam ambulans tersebut. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, Dara dan Donghae hanya diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya, karena masing-masing masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju UGD untuk melihat keadaan Jiyong. Terlihat yeoja yang tadi bersama Jiyong terduduk lemas menunggu di luar UGD. Saat mengetahui kedatangan keduanya, yeoja itu langsung berdiri dan menghampiri Dara. Melihat raut wajah Dara yang penuh dengan kebingungan, yeoja itu mulai menjelaskan semua hal yang selama ini tidak Dara ketahui. Nama yeoja itu adalah Jung Krystal, dia adalah adik sepupu Jiyong. Selama Jiyong tinggal di Busan, Dara belum pernah dikenalkan padanya karena Krystal tinggal di Seoul. Dan selama ini, Dara sudah salah paham padanya dan pada Jiyong, namun karena suatu keadaan, Jiyong sengaja membiarkan kesalahpahaman tersebut.

“Dara unnie, kuharap kau bisa mempercayai semua hal yang sekarang kuceritakan padamu, karena memang begitulah kenyataannya. Ji oppa sangat mencintaimu, dia sengaja membiarkan kesalahpahaman lima tahun lalu dan pergi begitu saja meninggalkan dirimu karena dia tidak ingin kau berharap dia selalu bisa menemanimu. Jiyong oppa mempunyai kelainan jantung semenjak kecil. Oleh karena itu, dia tidak bisa jika terlalu lelah. Dia memang tidak pernah memberitahukan hal ini kepadamu karena dia tetap ingin dipandang sebagai namja yang normal, seseorang yang sehat dan namja yang keren di matamu. Sudah kubilang itu hal yang konyol dan aku maupun Yongbae oppa sudah menyarankannya untuk memberitahumu saja daripada membiarkan kesalahpahaman ini, karena kami tahu bahwa mungkin kau akan mengerti kekurangannya itu. Tapi oppa bilang bahwa pasti dia jadi tidak terlihat keren jika kau tahu mengenai penyakitnya, haha..dia sungguh keras kepala apabila hal itu berhubungan denganmu. Kami sudah berusaha membawa oppa berobat kesana kemari hanya demi kesembuhannya, tapi sejauh ini tidak ada hasil, malah penyakitnya semakin bertambah parah. Jalan satu-satunya adalah dengan transplantasi jantung, tapi Ji oppa bersikeras dia tidak mau menerima jantung orang lain yang tidak dikenalnya ataupun tidak mengenalnya. Intinya oppa sudah pasrah akan hidupnya yang mungkin hanya tinggal menghitung waktu saja.” Krystal berhenti untuk menyeka airmatanya yang jatuh di kedua pipinya. Sementara Dara hanya diam terpaku mendengar semua penjelasan Krystal. Dia benar-benar sungguh tidak menyangka bahwa semua ini, selama ini hanyalah kesalahpahaman yang disengaja karena Jiyong tidak ingin Dara tahu bahwa dia sedang menderita penyakit yang sangat berat.

“Kau tahu unnie, oppa sangat bersemangat saat kembali ke Korea. Dia langsung ingin tinggal di rumahku saat dia tahu bahwa kau sudah pindah ke Seoul. Katanya, dia ingin melihatmu lagi, melihat senyummu, mendengar tawamu, meskipun itu hanya dari kejauhan. Dia bilang- hiks, oppa bilang- hiks, dia akan pergi dengan bahagia karena dia sudah bisa melihat tawa dan senyum dari yeoja yang paling dicintainya..huhuhu..andwae oppa..jangan tinggalkan kami..huwaa..” Krystal tidak dapat melanjutkan perkataannya karena sekarang dia sedang berjongkok dan menangis sangat keras.

Sementara Dara tidak dapat lagi menahan airmata yang daritadi sudah terbendung di kedua pelupuk matanya, dia menangis sejadi-jadinya setelah mengetahui kenyataan yang ada. Jiyongnya, Jiyongie-nya sedang sakit parah dan dia tidak tahu apa-apa dan selama lima tahun ini, dia menyalahkan Jiyong atas semua sakit hati yang disebabkan olehnya, tanpa tahu apa-apa tentang alasan di balik kepergian Jiyong. Donghae langsung memeluk Dara, berharap bisa sedikit mengurangi kesedihan yang sekarang dirasakan Dara.

– TBC –

Advertisements

16 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] The True Of Love Story #1

  1. Wah nyesek bgt pas baca chap akhir….
    ternyata jiyong ninggalin dara bukan krn jiyong bad boy tp krn penyakit yg diderita sm jiyong….. semoga jiyong cpt sembuh dan bisa bahagia lg sm dara….

  2. Ni npa ff nya nyesek gini kak 😭😭😭😭
    tegaa bener bkin jenong nya skit ,huhuhu
    lah ni gmn klo ntar sad end.. aku enggak mau jenong nya metong kak 😭😢

  3. Yahh aku nebak *cuma nebak gak usah dianggep serius* ini bakalan sad ending nggak sih? kok kayak kelihatan mustahil banget ngeliat Jiyong sembuh tapi bakalan masuk akal kalo Dara bersedia ngasi jantungnya buat Jiyong *apaan sih?* Tapiii aku masih berharap DaraGon bakalan punya kisah happy ending lainnya😝😍😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s