FATE [Chap. 5]

12346798_1016594028383065_2142506412_n

Author : dinasptvd

Main Characters:

Kwon Jiyong [26th] ; Sandara Park [28th].

Support Characters:

Dina Park [22th] ;Song Daehan [2th] ; Kiko Mizuhara [26th] ; Kim Jaejoong [26th] ; 2NE1 Members ; BIGBANG Members.

******

Note:

Hi J. Sebenernya aku cukup stuck untuk memikirkan kelanjutannya karena that damn proposal “skripsi” menghantuiku dari hari ke hari hehe. Tapi aku akan berusaha selalu kembali secepat mungkin jadi maklumin tentang kapan update atau length storynya yaa karena i’ll do the bestest thing i can. Btw, untuk kalian yang punya acc wattpad pls vote dan komen FF pertamaku “Lost in Love” J dan mgkn utk yang blm baca dan mgkn  pengen baca sambil nunggu next chap, Lost in Love available di DGI juga loo hihi.

Enjoy.

Sandara Park menyusuri jalanan Seoul yang padat dengan Range Rover miliknya. Kedua tangannya menggenggam erat setir kemudi dan pandangannya jauh menerawang ke depan, memikirkan hal yang baru-saja-terjadi di dalam studio kurang lebih sekitar 15 menit yang lalu dan sukses semburat merah jambu menghiasi kedua sisi pipinya.

Flashback

“Dara..kau membuatku gila.”

Tatapan tajam Jiyong yang mengarah padanya, lengan kekar yang memeluk pinggangnya, aroma maskulinnya.. membuat dunia Dara serasa berhenti. Dan di saat itu pula, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak begitu kencang. Lagi.

Mereka berdua masih berada dalam posisi itu, posisi dimana jarak wajah keduanya amatlah dekat, kedua mata hazel yang saling menatap lekat, dan hening. Sesaat yang Dara tahu ia melihat bibir Jiyong mulai mendekat padanya, salah satu tangan namja itu menyentuh pipinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

‘Apaini? Ada apa denganku?’ pikir Dara. Namun setelah itu dering ponsel miliknya seolah menyadarkan keduanya dan kemudian segera saling melepaskan diri. Jiyong lantas memijat pelipisnya pelan, mengalihkan pandangannya.

tut.

“Y-yeoboseyo?” Dara akhirnya memutuskan untuk mengangkat telponnya.

“Dara? Eodiya? Apa kau sudah berada di rumah? Oh, aku meminta Dina mengantarkanku ke rumahmu malam ini..”

“Arasseo. Aku akan segera pulang. Apa ada sesuatu yang kauinginkan untuk malam ini? Aku akan mampir ke supermarket dan memasak untukmu.”

“Jinjja? Mm.. geurom, kimchijigae? Dan es krim Jagung! Neeeeh?”

Dara tersenyum, sesekali menatap Jiyong di hadapannya yang tengah menyilangkan kedua tangan menatapnya.

“Aigoo, arasseo.” Balas Dara lagi sebelum mengakhiri panggilan lalu mendesah pelan.

“Apa itu Bom noona?”

“Hmm.”

Jawaban Dara membuat Jiyong tersenyum, “Kau harus mengajarinya masak sesekali.”

“Geurae? Dia hanya terlalu mencintai kuku-kukunya..”

“Dan kau sangat memanjakannya, Dara. Kau seperti memiliki dua orang anak. Ara?”

“Ya!” Dara pun tertawa hingga kedua matanya tenggelam. Ya baiklah, Dara tidak pernah “sempurna” dalam hal memasak tapi ia selalu berusaha. Dan dia mulai terbiasa memanjakan setiap orang yang disayanginya mengingat bahwa ia adalah anak tertua dalam keluarganya.

“Baiklah, aku harus segera pergi. Kau tau..”

“Supermarket?”

“Ya, supermarket.”

Jiyong dan Dara pun tertawa.

“Dan kurasa aku juga harus segera pulang. Ini melelahkan.” Namja itumenghela nafasnya lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan sekali lagi.

“Berhentilah menyusahkan dirimu sendiri. Apa ada hal yang kau pikirkan, Jiyong?”

Keduanya bersama-sama keluar dari studio recording dan berjalan menuju lift di ujung ruangan.

“Aniya..hanya cukup bosan. Hanya untuk hiburan.”

Ah..keheningan di dalam lift nampaknya akan menjadi hal yang biasa untuk Dara. Sesekali ia menggingit bibirnya sambil menatap Jiyong di sampingnya yang tengah memejamkan kedua matanya. Tampan.

Namja itu mendadak menoleh, menyadari sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi. Sebuah smirk pun tertuju pada Dara dan seketika itu pula membuatnya berdeham canggung.

Ting.

“Annyeong.” Ucap Jiyong sembari mengusap lembut rambut Dara sebelum melangkah keluar dari lift, meninggalkan Dara yang hanya dapat berkedip menatap punggung namja itu dari kejauhan.

Ya.. dirinya mengagumi namja itu sejak mereka berada di akademi. Namja misterius yang sangat suka menghabiskan waktu senggangnya dengan menulis lagu di rooftop akademi seorang diri, namja yang sangat menyukai sandwich dan ramyun, namja yang selalu menolongnya disaat-saat tak terduga. Ya..ia selalu mengagumi Jiyong. Kwon Jiyong. Jiyong sahabatnya, sahabat suaminya, baby brother-nya…Lalu apa maksud dari degup jantungnya tadi?

Flashback End

 

Suara klakson yang bersautan menyadarkan Dara dari lamunan singkatnya, ia pun menyadari bahwa mobilnya kini masih berhenti di depan sebuah lampu lalu lintas yang telah berganti warna. Dara mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.. lalu segera menginjak pedal gas dan kembali melaju menyusuri jalan. Bayangan wajahnya terpantul dari cermin yang bergantung di atas kemudi, menampakkan kerutan tipis di keningnya yang menunjukkan adanya beban di dalam sana. Perjalanan itu telah berlangsung selama kurang lebih 10 menit, setelah ia tiba disupermarket yang ditujunya dan baru saja akan keluar dari mobil, pandangan Dara terpakusejenak pada sebuah pigura foto mini yang terletak di atas dashboard.

edited

Ia tersenyum, “Saranghae..neo aelji?” [aku mencintaimu, kau tau itu bukan?]

“Wasseo?” Dong Youngbae menoleh ke arah pintu masuk kamar apartemen dan mendapati salah satu sahabatnya –namja dengan tubuh tinggi dengan coat dark gray panjangnya- memasuki ruangan dengan wajah lelah yang terpampang jelas.

“Eo. Dan kau, kau sungguh tidak pernah mengganti passwordmu.”

Youngbae tertawa ringan,“I’ve been always welcoming.. bagaimana perjalananmu? Apa yang kau dapatkan kali ini, hyeong?”

Choi Seunghyun, berjalan menuju kulkas dua pintu yang terletak di sudut ruangan minimalis itu dan segera mengambil sebotol air putih dingin, menenggaknya dengan rakus. “Baik. Hm mengenai apa saja yang kubeli,itu tidak banyak, hanya lukisan Mark Grotjahn, lukisan Andy Warhol, lukisan Jina Park, kursi buatan..ah sudahlah, kuyakin kau tidak akan tau semua ini.”

“Ckckck.. seni adalah istrimu, benar? Apa noona tidak merasa cemburu pada lukisan-lukisan atau bahkan semua kursimu itu,hyeong?”

Seunghyun mendekat, memainkan jari telunjuknya dan menggoyangkannya ke kanan lalu ke kiri di hadapan wajah Youngbae sambil tersenyum bangga, “Aaaani. Bom sangat mengerti tentang perasaanku. Sejak dulu hanya dia yang memahamiku. Ohapa sebaiknya akumemberinya sebuah kursi sebagai hadiah ulang taun? Kursi dengan pita raksasa? Kursi-bermotif-jagung?” Kini namja itu merangkul pundak Youngbae yang hanya dapat menggelengkan kepalanya pasrah.

“Kau sungguh tidak pengertian..”

“Aish, aku hanya bercanda, i paboya! Aku paling tau betapa menyeramkannya dia saat marah.” Seunghyun melompat dari balik sofa dan duduk di sisi Youngbae, menyandarkan tubuhnya.

“Kenapa kau tidak langsung pulang kerumahmu dan harus datang kemari?”

“Andwenya?! [apa tidak boleh?!] Aku harus menjemput Bom di rumah Dara malam nanti dan itu jauh lebih dekat dari sini. OH. Aku merindukanmu.”

Youngbae tersenyum lebar, membuat kedua mata sipitnya semakin menghilang.

“Kapan Seungri dan Daesung akan kembali, Bae?”

“Mungkin lusa.”

“Aah, geurae?”

“Kita semua berhak menikmati liburan.” Balas Youngbae singkat sebelum pada akhirnya ia teringat akan sesuatu, ia lekas mendongak. “Hyeong.”

“Mwo?”

“Berbicara tentang ‘kita’, kau tau, Kwon leader sangat aneh beberapa hari ini.”

Seunghyun pun mengerang malas di sisinya, “Dia memang tidak pernah bisa ditebak,  biarkan saja atau kau akan menjadi pelampiasan emosinya.”

“Ani.. dia sungguh bertingkah aneh, hyeong. Sebelumnya dia menulis beberapa lirik lagu melankolis hingga berhari-hari terlihat seperti seorang zombie, lalubeberapa hari belakangan kuperhatikan ia sering berpesta di beberapa club seperti orang kurang waras. Apa menurutmu yang mengganggu pikirannya?”

Namja yang lebih tua darinya mengerutkan alis, nampak berpikir, menegakkan posisis duduknya sambil memainkan bibir bawahnya dengan telunjuk. “Mwoji?” [apa ya?]

Youngbae mengangkat bahunya lagi.

“Aaaah, seolma?!” [ aaah, apa mungkin?! ] Mata Seunghyun terbelalak sempurna.

“Mwoyaa?”

“Kurasa ini ada hubungannya dengan Dara.”

“Dara noona? Dara noona wae..”

“Ckckck, kau sungguh lupa atau memang ingin menyangkalnya eoh? Kau tau jelas bagaimana perasaan Jiyong pada Dara sejak SMA bukan? Kau tau, Park Sandara cinta pertamanya. Dan kurasa kini dia sedang mengalami dilema.”

Youngbae menaikkan sebelah alisnya, “Mwo? Bukankah Jiyong sudah lama menyerah pada perasaannya itu? Dia telah menyerah 2 kali untuk Dara noona, hyeong. 2 kali. Apa mungkin dia masih-“

“Dia masih menyukai Dara, Bae. Jiyong bukan seseorang yang mudah untuk menyerah. Kau tau itu.”Kini Seunghyun menatap Youngbae dengan serius, membuat namdongsaengnya segera menghela nafas panjang.

“Woah..ini adalah hal yang serius. Maksudku, bagaimana mungkin perasaannya pada Dara noona masih bertahan begini lama. Jiyong sungguh pintar menutupi perasaannya. Bahkan aku tidak lagi memikirkan kemungkinan itu bila kau tidak menjelaskannya padaku.”

“Geurae.. sejak SMA. Itu artinya sudah hampir 10 tahun. Daebak.”

“Dan bagaimana kau bisa begitu yakin tentang ini, hyeong?”

“Dara tidak pernah mengingat Jiyong sejak pertemuan pertama mereka dulu, Bae. Hingga datang Kiko ke dalam hari-harinya dan yeoja itu pun perlahan berhasil membawa Jiyong pada perasaan yang baru. Tapi Kiko memilih pergi. Lalu.. aku menjumpai kalian semua di akademi. Kau, Jiyong..dan juga Jae. Awalnya aku tidak tau siapa itu Sandara-nya. Seperti apa yeoja yang membuat sahabatku begitu jatuh cinta? Dan tidak lama setelah itu aku semakin menyadari bahwa Dara Park yang kukenal adalah Sandara-nya. Pertemuan hari itu, hari dimana Jiyong kembali melihatnya lagi, Dara tidak lagi mengenalinya. Aku juga semakin memahami bila cinta Jiyong pada Dara tidak pernah hilang sepenuhnya. Tidak pernah. Meski..”

“Meski Jae memiliki hatinya sekalipun?”

“Bingo.”

Hh..keduanya pun mendesah, saling memandang memahami perasaan sahabat mereka.

“Jadi..menurutku apa yang menjadi beban pikiran Jiyong adalah, ia hanya tidak mampu lagi meredam perasaan cintanya. Ya. Kurasa seperti itu.”

“Karena ia akan merasa bersalah pada Jae.”

“Ya..kurasa kau benar.” Seunghyun menjawab pernyataan Youngbae sembari menatap pemandangan kota Seoul yang mulai petang dari balik dinding kaca, semburat jingga pun perlahan menyinari ruangan itu.

“Apa yang harus kita lakukan, hyeong..”

Hening..

“Kita akan membantunya, Bae. Kita semua, akan membantunya. Jae, pasti akan merestui mereka di atas sana.. geji?”

Youngbae terdiam, lalu keduanya pun tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

“Woaaah. Masakanmu semakin mengalami peningkatan, Dara-ya. Gomawosseo, kimchijigae jjang!” ucap Park Bom mengacungkan kedua ibu jarinya.

Hari itu tepat pukul 7 malam, atau sekitar setengah jam yang lalu Dina Park dan Bom tiba dirumahnya seusai bekerja. Dara yang memang telah menyiapkan makan malam segera menyambut keduanya dan menuntun mereka menuju ke meja makan. Kini ia dan Dara tengah duduk di ruang tengah, menonton berbagai acara televisi bersama Daehan yang masih sibuk memainkan legonya dengan acuh. Sedangkan Dina telah berada di kamarnya untuk menyelesaikan beberapa ilustrasi yang akan dirancang untuk koleksi terbaru Chaerin.

“Daaara-yaaaah..”

“Mwooo?”

“Dimana es krimku?”

“Heol. Di F­reezer, nona alien.”

Sahabat tercintanya itu pun lantas menaik-turunkan bahunya beberapa kali sebelum berdiri karena terlalu senang. Percayalah, membahagiakan Bom adalah hal yang sederhana.

“Kau masih belum kenyang? Seberapa besar perutmu itu eoh?”

“Hm? Cukup besar untuk mengandung 5 anak Seunghyun. Oh, ini dia!”

Park Bom tersenyum lebar memandang satu cup harta karunnya, lalu baru saja akan kembali ke ruang tengah namun ia berhenti sesaat. Memandang foto yang bergantung di dinding dan menyapanya seperti biasa.

“Joong-i, annyeong! Lihat, Dara saaangat mencintaiku bukan? Dia bahkan sangat memanjakanku melebihi putramu sendiri. Satu es krim lagi untukku kali ini!”

“..Bommie-ya, mwohae? Berbicara padanya lagi?”

Bom mengangguk dan tersenyum, membuat Dara tertawa.

“Dia juga temanku, Dara. Dan mengingat bahwa kau masih menyimpan segala tentangnya hampir di seluruh bagian rumah ini, bukankah lebih baik bila aku menyapanya saja? Itu terkesan lebih baik.”

“Bommie, kau tau aku-“

“Jangan katakan padaku kau belum siap merelakannya.” Ucapan Bom membuat Dara terdiam menatapnya dengan pandangan sedih.

“D.. cinta kalian akan selalu hidup. Kau ingat itu ne? Tapi bukan karena kau mencintainya, sangat mencintainya, lalu kau tidak bisa lagi melanjutkan hidupmu.”

Bom mendekat, namun kali ini ia duduk di sisi Daehan.. mengusap lembut rambutnya.

“Kau tau.. kau bisa melakukan apapun demi malaikat kecil ini, Dara. Hanya bila kau telah merasa siap.”

Dara tertegun pada ucapan sahabatnya. Ia tau itu, ia tau bahwa hidupnya harus selalu berjalan. Ia tau bahwa demi Daehan ia harus kembali menata hidupnya. Ia sangat tau tapi..mungkinkah ia boleh melakukannya? Ekspresi Dara yang nampak terbebani tidak luput dari pandangan Bom, yang segera menghela nafasnya.

“Dara-ya.”

“E-eo?”

Bom tersenyum dan menggenggam tangan mungilnya, menatap kedua manik matanya lekat. “Look around. Cobalah untuk membuka hatimu..mungkin saja, sudah ada seseorang yang lain yang telah lama menunggumu untuk membukanya. Kau tau, kau telah menutupnya rapat-rapat. Tidakkah kau ingin..mencintai sekali lagi ng?”

“Orang..lain?”

Bom mengangguk. Namun sebelum keduanya kembali berbicara, suara narator sebuah tayangan berita di televisi mengalihkan pandangan dua yeoja itu.

‘Leader boygroup terkenal BIGBANG, Kwon Jiyong diketahui tengah berpesta di salah satu club ternama kawasan Gangnam-gu kemarin malam. Rekaman ini diambil oleh salah satu penggemar yang kebetulan berada di tempat yang sama. Beberapa foto menangkap gambar leader BIGBANG tersebut tengah mabuk berat dikawal oleh beberapa bodyguard memasuki mobil managernya..diduga…’

Bom dan Dara kemudian saling berpandangan, raut wajah keduanya menampakkan keterkejutan yang sangat jelas.

“Omo.” Ucap mereka bersamaan.

Dara menatap layar televisinya lagi,lalu sesaat yang ia tau ia tengah menggigit bibir bawahnya dan memandang Bom dengan gelisah. Entah kenapa.. secara tiba-tiba kekhawatiran merasuki pikirannya. Ini memang telah menjadi hal yang tidak asing baginya karena seorang Kwon Jiyong yang dikenalnya adalah seorang Badboysejak dulu dan Dara juga telah lama mengerti bila kebiasaan clubing Jiyong susah untuk dihindari. Tapi.. Jiyong tidak pernah lagi melakukannya selama kurang lebih 2 tahun terakhir, sejak Jae-nya pergi..Jiyong tidak pernah lagi mabuk berat seperti itu dan berita barusan sangat mengejutkannya.

“Seunghyun akan menjemputku sebentar lagi, aku akan bertanya padanya soal ini.”

“Dia sudah kembali?”

Bom memandang Dara sekilas lalu sibuk menekan diall call dari ponselnya dan mulai menghubungi kekasihnya. “Hm, sore tadi. Ia bilang akan pergi ke rumah Youngbae untuk beristirahat sebentar.”

“Yeoboseyo? Seunghyun-a, kau sudah dijalan? Oh kau sudah dekat? Arasseo.” Tut

Sekitar 5 menit ia menunggu dan bel pintu rumah Dara pun berbunyi. Dara menggendong putranya yang mulai terlelap di pundaknya lalu mengantar sahabatnya itu keluar. Namja berambut hitam dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya pun menyambut mereka.

“Annyeong, Dara noona.”

Dara tersenyum, “Annyeong!”

Bom sibuk memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan miliknya dan melangkar keluar, mengaitkan jemarinya ke jemari namjanya.

“Kau menikmati waktumu?”

“Tentu! Dara membuatkan makanan yang enak sekali.”

“Aigoo.” Seunghyun memandang Bom yang tengah tersenyum lebar dan mengacak pelan rambut merahnya.

“Dia tidak merepotkanmu, kan noona?” tanya namja itu membuat Dara tertawa kecil dan menggeleng.

“Aniya.. itu sudah menjadi kebiasaan. Selebihnya kuserahkan dia padamu neh?”

Seunghyun pun memainkan matanya pada Dara, membuat Bom tertawa.

“Oh, Seunghyun! Aku melihat berita, tentang Jiyong.”

Raut wajah Dara pun berubah, mencoba untuk mendengarkan penjelasan Seunghyun.

“Aku baru kembali siang ini tapi aku telah mendengarnya dari Youngbae. Dia hanya memiliki sedikit masalah.” Seunghyun menarik masker hitamnya untuk berbicara lebih jelas. “Dan..aku sudah  menghubunginya beberapa kali namun tidak ada jawaban. Begitu juga dengan member lainnya. Aku berencana untuk mengunjungi apartemennya besok pagi.”

“Begitu? Ah.. Jiyong sungguh merepotkan aish. Troublemake.” Saut Bom mengerucutkan bibirnya.

“Ah,Dara noona. Cobalah untuk menghubunginya, ne? Kalian sungguh dekat dan mungkin.. Jiyong mau menjawab telponnya. Kita semua cemas padanya.” Ekspresi Seunghyun berubah serius. Oke, katakan itu adalah hasil dari skill acting terhebatnya.

Bom mengalihkan pandangannya pada Seunghyun dan menggenggam tangan namja itu lebih erat, yang dibalas dengan hal yang sama oleh namjanya.

Dara terlihat terkejut, namun segera mengangguk dan tersenyum tipis. “Arasseo”

“Geurae, gomawo noona. Kami..pergi dulu.”

Bom melambaikan tangannya dengan sangat semangat bersamaan dengan Seunghyun dan keduanya pun pergi.

Dara menghela nafasnya perlahan, masih menggendong putranya, ia pun berjalan menuju tangga. Ia segera menempatkan Daehan di tempat tidurnya dengan hati-hati sebelum kembali ke kamarnya sendiri.

02:01am

Dara masih terjaga. Ia bangun dari posisinya, menyingkap tirai jendela dengan tangannya yang kurus.

Hujan.

Suasana tenang menyelimutinya, namun tidak dengan rasa cemas yang kembali merasuki pikirannya. Jiyong. Ia memikirkannya. Dengan gelisah ia menatap ponselnya yang terletak di meja sisi tempat tidur, baru saja akan menghubungi namja itunamun tiba-tiba ponselnya bergetar.

“Jiyong?!”

“…”

“Jiyong, kau ada dimana? Apa kau baik-baik saja?”

“…”

“Oh ayolah Ji jawab aku. Aku..melihat berita tentangmu kemarin malam.  Ada apa denganmu..ng?”

“…”

“Ji..”

“Dara..”

Suara seraknya membuat nafas Dara tercekat. Ia pun menggenggam ponselnya lebih erat.

“Buka..pintumu.”

“M-mwo?”

“Hanya buka..pintumu.”

Mata Dara terbelalak sempurna karena terkejut. Tanpa berpikir panjang ia pun segera berlari kecil keluar dari kamarnya menuju ke pintu utama. Saat ia membukanya..

Kwon Jiyong dengan turtle-neck strips sweater blackrednya menatap Dara dengan raut wajah yang sulit dipahami. Tubuhnya basah kuyup. Berpegangan pada sisi pintu untuk menahan dirinya agar tetap berdiri tegak. Namun namja itu jelas sedang mabuk berat di hadapan Dara saat ini.

“Jiyong? Astaga kau, ada apa denganmu?” Dara dengan sigap menahan tubuh Jiyong.

Namja itu mendongak, menatap manik matanya lekat-lekat dan tersenyum samar.

“Dara.. bolehkah aku..mencintaimu?”

Itulah ucapan terakhir Jiyong sebelum segalanya berubah menjadi gelap beriringan dengan tubuhnya yang jatuh ke pelukan yeoja itu.

***

Yeoja berambut pendek dengan wajah Asia yang sangat cantik nampak kesal di dalam kamarnya. Ia melempar ponselnya sembarangan dan berdiri menatap pemandangan kota Tokyo dibalik dinding kaca apartemennya.

Namja kesayangannya lagi-lagi tidak menjawab teleponnya dan ini sudah hampir 3 minggu sejak mereka terakhir bertemu.

“My dear Jiyong.”

Bibir merahnya pun membentuk sebuah senyuman, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Queen-sizes bed miliknya dan mendapati sebuah tiket pesawat yang terletak dengan manis di atasnya.

See you in 3 days..”

To be continued..

Next>>

 

 

Advertisements

29 thoughts on “FATE [Chap. 5]

  1. Jiyongggg tersiksa bangettt ituu sampe segitu nyaaa 😦kiko ? Uhhh diaa udhh dtnggg gimnaa inii pastii semakinn rumittt ceritanyaaaaa

  2. homaygahd nice fiction. kata yang bagus “bolehkah aku… mencintaimu?” boleh banget bang!!!! cintailah dara noona seperti kau mencintai ibumu. aigooo ceritanya keren. next chap

  3. aigooo jiyong ini benar2 ckckck…
    apakah dara mau menerima jiyong? atau menolaknya??
    aku harap mereka bisa bersama dan menghabiskan lebih bnyak waktu bersama lagii..
    apa kiko mau ke korea? aku harap dia nggk akan merusak hubungan ji dan dara…

  4. Omo Ji gg sadar bilang kek gtu kan ke Dara , kasian bangt am Jiyong 10 tahun bray mencintai orang yang jelas” gg sadar , kasian Jiyong 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s