Gonna Get Better [Chap. 1]

untitled-1

Author : rmbintang

Category :Romance

Main Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong

Sandara Pov

Cinta?

Apa itu cinta? Awalnya aku pikir kata itu adalah sebuah omong kosong atau setidaknya satu kata yang hanya memiliki arti sama dengan kata-kata yang lain, sebuah kata yang berguna untuk melingkapi satu kalimat ‘aku mencintaimu’. Satu kata yang tidak pernah bermakna apapun untukku.

Sejak kecil aku sering mendengar kata-kata itu keluar dari bibir kedua orangtuaku. Mereka selalu mengatakan bahwa mereka mencintaiku, mereka mengatakan bahwa mereka saling mencintai satu sama lain tapi pada akhirnya apa? Mereka berpisah, saling mengatakan kebencian dan saling menyalahkan lalu kemudian meninggalkan aku.

Meninggalkan aku yang merupakan puteri mereka satu-satunya untuk dibesarkan oleh nenekku yang sudah renta. Itulah alasan kenapa aku tidak percaya dengan cinta apalagi sebuah hubungan asmara. Aku takut aku akan tersakiti sebagaimana rasa sakit yang kedua orangtuaku torehkan di hatiku yang bahkan masih bisa aku rasakan sampai saat ini.

Aku bertahan dengan pemikiran itu sampai aku menyelesaikan kuliahku, aku bertahan dengan pemikiran itu sampai aku tidak pernah memiliki seorang pacar, semua pria yang menyatakan cinta kepadaku selalu aku tolak dengan alasan bahwa aku tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan.

Namun semua pemikiranku itu runtuh saat aku mengenal seorang pria yang mampu meluluhkan hatiku dan pada akhirnya pria itu berhasil membuatku menjadi kekasihnya, membuatku mencintainya dengan sepenuh hatiku dan membuatku kembali percaya dengan arti dari kata cinta.

Aku bersama dengan pria itu selama beberapa tahun, aku mencintainya dan selalu memberikan yang terbaik untuk membuatnya bahagia karena aku pikir dia juga mencintaiku sampai pada saat di mana aku melihatnya bercinta dengan salah satu teman kerjaku, aku melihat mereka bercinta di tempat tidur yang sama yang menjadi tempat kami berbagi cinta. Dan saat itulah aku tahu bahwa pria itu sama brengseknya seperti pria-pria brengsek yang bertebaran di dunia.

Aku hancur setelah melihatnya, aku sakit dan rasa sakitnya bahkan melebihi rasa sakit yang kedua orangtuaku torehkan di hatiku. Aku berjanji untuk tidak akan lagi jatuh cinta kepada pria brengsek. Aku pikir aku tidak akan mampu lagi jatuh cinta setelah kejadian itu, aku pikir aku akan trauma karena luka yang aku rasakan begitu dalam, tapi ternyata aku salah karena tidak lama kemudian aku kembali jatuh cinta.

Awalnya aku tidak memiliki perasaan apapun untuk pria itu, aku menganggapnya sama seperti teman priaku yang lain namun seiring berjalannya waktu aku mulai mengaguminya dan perlahan rasa kagum itu pun berubah menjadi perasaan suka.

Aku menyukai pria itu sudah cukup lama dan sekarang aku pikir aku sudah mulai mencintainya namun aku tidak pernah mengatakan apapun kepada pria itu atau pun pada orang lain. Aku memilih untuk memendam dan menyimpan perasaanku untukku sendiri karena aku pikir akan lebih baik seperti ini. Akan lebih baik jika aku tidak mengatakan apapun tentang perasaanku kepada orang itu karena aku tahu pada akhirnya perasaanku hanya akan membuatku kembali terluka dan yang paling penting aku tidak ingin membuat orang lain terluka karena perasaanku ini.

“Dara!” Suara Jiyong menarikku kembali dari lamunan. “Kenapa kau hanya diam saja?” Katanya lagi saat aku mengalihkan pandanganku kepadanya. “Apa kau masih memikirkan kejadian barusan?” Aku menggelengkan kepalaku.

“Aku hanya sedang memikirkan alasan apa lagi yang harus aku katakan nanti kepada halmeoni.” Ujarku sambil mengalihkan lagi pandanganku darinya “Dia pasti sangat marah karena aku mengacaukan rencananya lagi.” Ujarku kemudian aku mendesah. Aku mendengar Jiyong sedikit tertawa ketika mendengar apa yang aku katakan. Dia sedang mengejekku, sialan!

“Katakan saja yang sebenarnya, aku yakin halmeoni akan mengerti jika kau menjelaskan seberapa brengsek pria tadi.” Ujarnya setelah beberapa saat.

“Aku akan mencoba mengatakan itu dan aku harap dia akan berhenti untuk menjodohkan aku dengan pria-pria yang direkomendasikan oleh teman-temannya. Kau tahu sendiri semua ini percuma saja.” Ujarku lagi kemudian aku kembali mengalihkan pandanganku kepada Jiyong yang masih fokus dengan kemudi. “Jiyong-ah bisakah kau menemaniku ke Myeong-dong setelah pulang bekerja?” Tanyaku setelah beberapa saat. “Aku butuh baju dan tas baru untuk mendinginkan kepalaku.”

“Aku tidak bisa.” Ujar Jiyong tanpa menatapku. “Dan berhentilah menghabiskan uang setiap kali kau sedang kesal.” Katanya lagi kini sambil melihatku kemudian kembali melihat ke depan.

“Biarkan saja, toh yang aku habiskan adalah uang milikku sendiri.” Balasku sambil mendengus kepada Jiyong yang selalu komplain jika aku akan menghabiskan uang untuk berbelanja. “Tapi kenapa kau tidak bisa?” Tanyaku dengan sedikit penasaran, Jiyong sama sekali tidak pernah menolak jika aku memintanya untuk mengantarkanku pergi. Jiyong bahkan akan langsung datang saat aku memintanya untuk datang. “Apa kau ada kencan dengan salah satu pacarmu besok?” Aku menatapnya dengan pandangan curiga. Jiyong membalas dengan menggelengkan kepala.

“Dara aku hanya punya satu pacar jadi berhenti mengatakan seolah-olah aku punya segudang wanita.” Aku tertawa mendengar apa yang dia katakan yang berhasil membuat Jiyong mendengus.

“Ah mian aku hanya bingung karena terlalu banyak nama wanita yang kau ceritakan kepadaku.” Kataku sambil terkikik. “Jadi kenapa kau tidak bisa?”

“Aku tidak bisa karena besok aku harus pergi ke Jepang.”

“Kau akan pergi ke Jepang?” Tanyaku lagi kini sambil menatap Jiyong dengan penuh antusias. Jiyong menganggukkan kepalanya kali ini. “Ke mana tepatnya kau pergi?”

“Tokyo.”

“Tokyo?” Jiyong kembali mengangguk. “Memangnya apa yang akan kau lakukan di Tokyo?” Tanyaku lagi. “Apa kau akan pergi berlibur?” Jiyong melirikku sebentar kemudian menggelengkan kepalanya.

“Ada beberapa masalah yang terjadi di kantor cabang Tokyo.”

“Berapa lama kau akan berada di Jepang?”

“Aku akan pergi besok pagi dan harus memberikan laporan pada hari rabu jadi sepertinya aku akan pulang selasa malam.” Jelas Jiyong tanpa melihatku. “Kenapa?”

Anni, tidak apa-apa.” Kataku sambil tersenyum kemudian Jiyong hanya menatap heran lalu kembali fokus pada jalan. “Jiyong-ah kau pergi dengan siapa?” Tanyaku lagi setelah beberapa saat.

“Aku pergi sendirian.”

“Hanya sendirian?” Jiyong mengangguk tanpa melihatku, aku kemudian diam lagi karena bingung harus mengatakan apa. Aku ingin ikut dengannya namun aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.

“Kenapa?” Tanya Jiyong tiba-tiba setelah beberapa saat. Mungkin dia merasakan ada yang aneh denganku. “Kenapa sepertinya kau sangat tertarik dengan hal ini?”

“Tidak apa-apa.” Ujarku sambil menggeleng. “Aku hanya iri karena itu berarti kau bisa bekerja sekaligus berlibur di sana.” Aku menyandarkan punggungku kemudian menyilangkan tangan di depan dada. “Aku harap bisa berlibur dan keluar dari Korea untuk beberapa hari.”

“Kau mau ikut denganku?” Tanya Jiyong tiba-tiba.

“Huh?” Kataku sambil melihatnya dengan sedikit bingung. “Memangnya aku bisa ikut?”

“Aku bisa meminta kepada Sung Kyung, dia yang mengurus semua hal tentang ini.” Kata Jiyong sambil kembali melirikku.

“Kau masih menggodanya huh?”

“Aku tidak pernah menggodanya, kau tahu sendiri semua wanita di kantor kita sangat menyukaiku karena sikap baikku pada mereka.” Katanya sambil tersenyum bangga.

“Kau hanya bersikap baik pada wanita cantik itu berarti kau menggoda mereka.” Ujarku sambil berdecak.

“Aku akan mencoba untuk bicara dengan Sung Kyung bahwa aku membutuhkanmu untuk membantuku nanti dan aku rasa jika aku bicara sepertinya dia akan bersedia untuk membiarkanmu ikut.” Katanya sama sekali tidak peduli dengan apa yang aku katakan barusan.

“Kenapa kau sangat yakin dia akan melakukan apa yang kau minta?” Tanyaku dengan pandangan curiga. “Apa kalian pacaran? Bukannya kau punya pacar?” Tanyaku lagi yang Jiyong balas dengan gelengan kepala.

“Kau tahu sendiri bahwa tidak ada wanita yang mampu menolak apa yang aku katakan.” Katanya dengan sebuah smirk. “Jadi bagaimana?” Jiyong kini berbicara sambil menatapku. “Kau mau ikut?” Tanyanya lagi, aku tersenyum kemudian menganggukkan kepalaku dengan bersemangat.

“Tentu saja aku mau ikut kalau bisa.”

“Bereskan saja barang-barangmu, aku yang akan mengurus semuanya. Kau hanya perlu menunggu aku menjemputmu besok pagi.” Ujar Jiyong yang aku balas lagi dengan anggukan kepala.

“Ah akhirnya aku bisa liburan. Ini lebih baik dari belanja baju baru.” Senyuman terus tersungging di bibirku dan aku juga bisa melihat Jiyong tersenyum setelah mendengar apa yang aku katakan barusan.

“Ingat babe, kita ke Jepang untuk bekerja bukan untuk berlibur.” Ujar Jiyong memperingatkanku sambil sedikit tersenyum.

Arasseo.” Ujarku setuju dengan apa yang dia katakan. Aku mengalihkan pandanganku dengan pura-pura melihat ke luar kaca mobil. Aku tidak ingin Jiyong melihatku yang terus tersenyum, aku tidak ingin dia menyadari bahwa aku sangat senang karena bisa ikut pergi ke sana dengannya.

****

Annyeong!” Dara langsung menyapa ketika dia sampai di depan sebuah mobil yang sudah menunggu di dekat apartemen sepupunya Chaerin sejak satu jam yang lalu. Di sana sudah berdiri Jiyong yang terlihat sempurna dengan t-shirt hitam yang dipadukan dengan kemeja flanel berwarna hijau tua, rip jeans dan sebuah cap yang dipakai terbalik. Kaca mata hitam yang pria itu kenakan membuatnya terlihat semakin menawan.

“Ya!” Dara mendengar suara Jiyong yang sedikit kesal ketika dia akan membuka pintu mobil. “Kenapa kau lama sekali?” Dara mengalihkan pandangannya kemudian melirik Jiyong yang masih menatapnya di balik kaca mata hitam yang pria itu pakai.

Wae?” Tanya Dara bahkan tanpa merasa bersalah. “Penerbangannya juga masih lama, kenapa kau ribut sekali?”

“Tapi aku bosan menunggumu.” Ujar Jiyong sambil membuka kaca matanya. “Lihatlah bahkan sopir kantor hampir berakar karena kau tidak kunjung datang.” Ujar Jiyong hiperbola sambil menunjuk sopir yang duduk di balik kemudi, namun Dara hanya mendengus kemudian masuk ke dalam mobil, sama sekali tidak terganggu dengan kekesalan Jiyong.

“Tolong masukkan barangku ke dalam bagasi.” Ujarnya kepada Jiyong sambil menunjuk travel bag yang masih berdiri di luar. Jiyong mendengus kesal namun menuruti apa yang Dara pinta lalu langsung masuk ke dalam mobil setelah menyimpan koper milik Dara.

“Apa yang kau bawa huh? Kenapa kopermu besar sekali?” Tanya Jiyong setelah dia duduk di samping Dara.

“Hanya beberapa stiletto dan baju milik Chaerin.” Ujar Dara ketika sopir mulai melajukan mobil.

“Tapi kita di sana hanya satu hari dua malam jadi aku pikir kopermu terlalu besar.”

“Aku sengaja membawa koper besar, siapa tahu di sana nanti ada sesuatu yang menarik untuk aku beli lagipula aku harus membelikan oleh-oleh untuk halmeoni sehingga dia tidak akan mengomel karena aku pergi tanpa meminta izin darinya terlebih dulu.” Ujar Dara lagi kemudian dia menguap lebar. Jiyong memperhatikan Dara yang kini sedang menutup mulutnya dengan telapak tangan dan saat itu tiba-tiba dia mengingat sarapan yang selalu dia buatkan untuk wanita itu.

“Kau pasti belum makan.” Ujar Jiyong tiba-tiba setelah beberapa saat. Dara yang sedang menguap karena masih mengantuk langsung mengalihkan pandangannya kepada Jiyong. “Makanlah ini!” Dara kini melihat Jiyong mengulurkan sebuah sandwich kepadanya. Rasa kantuknya langsung hilang ketika dia melihat makanan kesukaannya itu. Dara tersenyum kemudian mengambil sandwich yang masih berada di tangan Jiyong.

Aigoo, Thank you so much.” Dara langsung melahap makanan itu karena dia memang sedang kelaparan. Dia belum sempat sarapan karena bangun kesiangan.

“Makanlah pelan-pelan!” Dara mendengar suara Jiyong lagi. “Kau bisa tersedak.” Ujar Jiyong yang melihat Dara lahap makan. “Dan bagaimana bisa seorang gadis makan dengan cara seperti itu di depan seorang pria huh?” Jiyong kini melihat Dara sambil berdecak lalu menggelengkan kepalanya namun Dara sama sekali tidak peduli dengan komplain Jiyong dan terus melahap makanannya.

“Ngomong-ngomong ini enak sekali.” Ujar Dara yang masih sibuk mengunyah. “Aku suka sandwich buatanmu.” Katanya kini sambil tersenyum, Jiyong ikut tersenyum kemudian mengambil air mineral lalu membuka tutupnya kemudian menyerahkannya kepada Dara. “Thanks.” Kata Dara sambil mengambil botol air mineral itu dari tangan Jiyong kemudian kembali mengunyah sandwich yang masih tersisa setengahnya lagi. Ketika sandwich-nya telah habis Dara langsung menatap Jiyong. “Aku masih lapar.” Katanya sambil memegang perutnya yang rata.

“Masih ada satu lagi kalau kau mau.” Ujar Jiyong sambil mengambil lagi satu sandwich yang tersisa dari dalam kotak makannya.

“Kau belum memakannya?” Tanya Dara. Dara tahu Jiyong hanya selalu membuat dua sandwich. Satu untuknya dan satu untuk Jiyong sendiri.

“Makan saja aku tidak lapar.” Ujar Jiyong sambil kembali mengulurkan sandwich kesukaan Dara itu. Dara mengambil sandwich itu kemudian sedikit mencubit ujung sandwich.

“Kau juga harus makan.” Ujar Dara kini sambil menatap Jiyong. “A…!” Katanya sambil membuka mulutnya lebar sedangkan tangannya memegang sandwich yang tadi dia cubit tepat di depan mulut Jiyong, Jiyong tersenyum kemudian membuka mulutnya sehingga Dara bisa menyuapkan sandwich itu kepadanya.

Jiyong mengunyah sandwich itu sambil memperhatikan Dara yang kini mulai memasukkan lagi sandwich ke dalam mulutnya. Jiyong sedikit tersenyum karena melihat Dara yang makan dengan begitu lahap. Jiyong tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ketika dia melihat sudut bibir Dara yang kotor akibat saos tomat kemudian Jiyong mengusap sudut bibir Dara dengan sangat perlahan untuk membersihkan noda itu.

Aigooo kau selalu mengotori bibirmu jika makan sandwich buatanku.” Ujar Jiyong sambil berdecak sedangkan jempol tangannya masih membersihkan noda itu. Dara langsung menatap Jiyong setelah Jiyong menurunkan tangannya lagi.

“Jiyong-ah kau manis sekali,” Dara berbicara dengan nada serius kemudian dia diam sebentar membuat Jiyong menaikkan satu alisnya untuk menunggu Dara melanjutkan apa yang ingin dia katakan, lalu setelah beberapa saat Dara tersenyum lebar. “Tapi sayangnya aku sudah tahu bahwa kau itu seorang player.” Jiyong hanya memberikan sebuah smirk ketika mendengar Dara berbicara seperti itu.

Jiyong Pov

Cinta? Love? Sarang?

Apa itu? Itu adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk diungkapkan. Aku bilang begitu karena aku sangat mudah untuk mengatakan cinta kepada wanita yang sedang aku kencani. Aku bilang aku mencintai mereka sehingga akhirnya mereka terpesona dan percaya dengan sihir dari kata itu. Aku sangat mudah mengucapkan satu kata penuh makna itu pada wanita yang bahkan tidak aku cintai namun sampai saat ini aku masih belum bisa mengungkapkan kata itu kepada satu wanita yang sangat aku kagumi.

Seorang wanita yang bahkan saat pertama kali aku melihatnya mampu membuat detak jantungku berhenti berdetak untuk seketika, seorang wanita yang saat pertama kali aku melihatnya tersenyum mampu membuat aku tertegun dan hingga saat ini hanya senyuman dari wanita itu yang bisa membuatku merasa waktu berhenti untuk sesaat.

Pertama kali aku melihat wanita itu adalah pada saat aku sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjaku yang baru di salah satu bank asing yang berada di Seoul. Aku saat itu sedang berjalan terburu-buru karena aku sudah sangat terlambat padahal itu adalah hari pertama aku bekerja sehingga tanpa sengaja aku menabrak seseorang hingga membuat semua barang yang dia bawa menjadi jatuh ke lantai.

Aku membantu orang itu untuk memungut semua barangnya yang jatuh dan saat aku akan memberikan nametag-nya yang jatuh aku langsung tertegun karena melihat wajah cantiknya. Aku sudah banyak melihat wanita cantik di Seoul namun kecantikan wanita ini benar-benar berbeda hingga membuatku terus menatapnya dan lupa dengan apa yang akan aku lakukan.

Wanita itu juga sepertinya sedang terburu-buru karena dia langsung berdiri setelah dia mengumpulkan semua barangnya lalu mulai berlari kearah lift meninggalkan aku yang masih berjongkok sambil memegang nametag miliknya. Aku menatap punggung wanita mungil itu yang perlahan semakin menjauh dan saat dia telah masuk ke dalam lift saat itulah aku baru kembali sadar bahwa aku sudah terlambat. Aku kembali menatap nametag itu lalu langsung tersenyum setelah melihat namanya, namanya yang sangat indah.

“Dara bangun!” Aku melihat mata Dara mulai berkedut-kedut ketika aku membangunkannya, beberapa saat kemudian Dara mulai membuka matanya lalu langsung mengangkat kepalanya yang tadi dia letakkan di lenganku ketika sedang tidur.

“Kita sudah sampai?” Tanyanya yang masih berusaha mengumpulkan semua kesadarannya. Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Dia lalu mengambil iPod dari saku mantel yang dia pakai lalu mematikannya. Dara menoleh kepadaku dan aku langsung tertawa ketika melihat rambutnya yang sedikit berantakan. Aku mengangkat tanganku kemudian mulai mengusap rambutnya membuatnya langsung menatapku dengan sedikit merenggut. Dara paling tidak suka jika rambutnya di sentuh.

“Rambutmu berantakan, bereskan dulu sebelum kita ke luar dari pesawat. Aku yakin kau tidak ingin ke luar dengan penampilan seperti ini, kan?” Ujarku. Dara hanya menatapku dengan raut wajahnya yang masih terlihat ngantuk namun dia langsung mengangguk setelah mencerna semua yang aku katakan. Aku melepaskan safety belt yang melingkar di perutku kemudian berdiri untuk menurunkan barang kami dari overhead luggage compartment.

Dara sedang merapikan rambutnya dengan tangan ketika aku kembali meliriknya, matanya berbinar dan berkilat penuh semangat, sepertinya dia benar-benar senang karena bisa pergi ke Jepang. “Sepertinya kau senang sekali karena aku ajak ke sini.” Ujarku sambil mengulurkan tas kecil miliknya. Dara menatapku lalu langsung tersenyum kemudian mengambil tasnya yang aku ulurkan.

“Aku bahagia karena bisa berlibur.” Bahkan dari suaranya saja aku bisa tahu bahwa Dara benar-benar bahagia. “Ups maksudku bekerja sambil berlibur.” Ralatnya yang membuatku sedikit tertawa. Dia berdiri kemudian kami berdua langsung berjalan untuk meninggalkan pesawat.

Sepanjang lorong-lorong panjang bandara Narita Dara terus berceloteh tentang betapa senangnya dia karena bisa datang ke Jepang. Dia juga mengatakan bahwa kami harus datang ke beberapa tempat. Dia menceritakan semua tempat-tempat itu seolah dia sudah berpuluh-puluh kali datang ke tempat itu padahal yang aku tahu ini adalah kedua kalinya Dara datang ke Jepang. Pertama untuk mengikuti seminar keuangan selama dua hari jadi sepertinya dia tidak akan punya waktu untuk pergi ke beberapa tempat dan yang kedua adalah sekarang untuk menemaniku.

“Tapi dari mana kau bisa tahu semua tempat-tempat itu?” Kami sekarang sedang mengantri di konter imigrasi. Dara langsung berhenti berceloteh kemudian menatapku.

“Seorang teman memberitahuku.”

“Kau punya teman di Jepang?” Aku menatapnya heran. Dara sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa dia mempunyai teman di Jepang. Aku melihatnya menggelengkan kepala. “Lalu?”

“Temanku orang Korea juga hanya saja beberapa bulan terakhir ini dia sering pulang-pergi Jepang-Korea untuk urusan pekerjaan. Dia sering pergi ke Shibuya dan Tokyo dan banyak merekomendasikan tempat-tempat bagus yang harus aku datangi jika aku pergi ke sana.” Senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya ketika dia berbicara, Dara pasti sangat ingin pergi ke tempat-tempat itu.

“Jadi itu sebabnya kau ingin ikut ke Jepang?” Dara menganggukkan kepalanya.

“Aku memang butuh liburan dan kebetulan sekali kau juga akan pergi ke Jepang jadi aku pikir ini mungkin saat yang tepat karena aku tidak tahu kapan lagi kita bisa pergi ke Jepang. Kau tahu pekerjaan kita merenggut waktu bebas kita.” Aku mengangguk mengerti, pandanganku tidak pernah aku lepaskan darinya. “Jadi kau mau menemaniku ke tempat-tempat yang tadi aku sebutkan, kan?”

“Jika pekerjaanku berjalan lancar dan jika masih ada waktu tersisa aku pasti akan menemanimu.” Ujarku. “Lagipula kapan lagi kita bisa berlibur berdua.” Sambungku yang langsung membuat Dara kembali tersenyum bahagia.

Gomawo Jiyong-ie.” Ujarnya dengan penuh semangat membuat orang-orang yang mengantri di dekat kami langsung melihatnya karena kegaduhan yang dia buat namun Dara sepertinya tidak peduli dengan hal itu. “Aku pasti akan membantumu jadi pekerjaanmu bisa selesai dengan lebih awal lalu kita akan menghabiskan banyak waktu di tempat-tempat yang aku sebutkan tadi.” Katanya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

****

“Tunggu! aku akan menghubungi Sung Kyung.” Aku mengambil ponsel yang aku simpan di saku celana yang aku kenakan lalu mulai berjalan menjauh dari meja resepsionis hotel yang telah di booking oleh perusahaanku. Aku berbicara dengan Sung Kyung selama beberapa saat, dia adalah sekretaris utama di tempatku bekerja. Aku kembali berjalan menghampiri Dara yang menunggu di meja resepsionis setelah aku selesai berbicara dengan Sung Kyung.

“Bagaimana?” Tanya Dara sesaat setelah aku sampai di hadapannya.

“Sung Kyung bilang dia lupa untuk membooking ulang dan sepertinya akan susah untuk membooking ulang sekarang karena biayanya sudah dimasukkan ke dalam anggaran lagipula resepsionisnya bilang bahwa semua kamar sudah dibooking jadi tidak ada kamar kosong.” Kataku kemudian diam sebentar untuk melihat reaksi Dara. “Jadi sepertinya kita terpaksa harus berbagi kamar.” Aku melihat raut wajah Dara yang menunjukkan ketidaksetujuan. “Bagaimana?” Tanyaku untuk meminta pendapat Dara.

“Benar-benar tidak bisa di ubah? Atau setidaknya minta kamar dengan dua tempat tidur?” Tanya Dara dengan wajah memohon.

“Tunggu sebentar.” Aku kemudian mulai berbicara lagi dengan resepsionis hotel ini sementara Dara menunggu di sampingku. Aku kembali menatapnya setelah mendengar bahwa kamar kami sudah tidak bisa diubah. Aku menatapnya dengan tatapan memohon maaf.

“Kau bilang tidak ada wanita yang mampu menolak apa yang kau katakan.” Ujar Dara setelah melihat raut wajahku. Aku sedikit tersenyum setelah mendengar apa yang dia katakan.

“Sepertinya sihirku tidak berlaku di sini.” Aku melihat Dara sedikit merenggutkan bibirnya lalu menatap ke bawah. “Kau ingin pindah hotel saja?” Dara langsung kembali mengangkat kepalanya lalu pandangannya langsung ditujukan kepadaku. “Atau kau bisa tidur di sini. Aku akan mencari hotel lain di dekat sini.” Dara langsung menggelengkan kepalanya.

Mianhae karena aku terlalu rewel.” Katanya sambil menatapku lalu tersenyum. “Aku tidak keberatan kita berbagi kamar.”

Jinjja?” Dara menganggukkan kepalanya sambil terus menatapku.

“Asal kau tidak berbuat macam-macam kepadaku.”

“Memangnya apa yang akan kau katakan jika aku berbuat macam-macam kepadamu?” Tanyaku untuk menggodanya.

“Kau tahu sendiri aku pernah mengikuti klub karate jadi siap-siap tulangmu remuk jika kau berani menyentuhku!” Ancamnya yang berhasil membuatku tertawa.

“Ayolah babe, aku tidak mungkin berbuat sesuatu yang tidak-tidak kepadamu,” Kataku sambil tersenyum. “Kecuali kalau kau juga menginginkannya.” Gurauku sambil mengedipkan satu mataku kepada Dara. Dia hanya meringis kemudian berjalan mendahuluiku yang kini sedang meminta kunci kamar kepada resepsionis.

TBC

Annyeong!!!!

Mian karena lama update-nya . berhubung dua minggu terakhir lebih suka baca daripada nulis jadi ya telat dehh buat update chapter pertama tapi diusahakan buat chapter selanjutnya aku bikin cepet *gak janji tapi*. aku harap ff ini sedikit bisa menghibur para Blackjack yang lagi patah hati. hengshooooo!!!!! makasih karena udah baca dan please tinggalkan komentar biar semangat nulisnya. Oh iya, jangan repost atau copy tanpa izin ya!!!

Advertisements

26 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 1]

  1. Ini TEMEN rasa PACAR ato emang udah PACARAN?? kalo misalnya beneran TEMEN rasa PACAR waduhh bener-bener romantis dah. Ngelebihin PACARAN beneran. Maafkan capslock yang berlebihan wkwkwk😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s