The Letter [Oneshoot]

TL5

Story by : ElsaJung

Title : The Letter

Genre : Sad, Angst, Drama and Romance

Rating   : Teenager

Backsound  : Davichi – The Letter

.

.

.

.

.

.

Jiyong’s side

Sandara Park. Seperti arti dari namanya, yaitu diberkahi kecantikan, dia gadis yang sangat cantik. Dia adalah mahasiswa baru yang masuk kuliah saat semester akan berakhir. Entah apa yang sudah dilakukannya, Dara memiliki popularitas tinggi di universitas. Yang kutahu hanya satu, karena dia putri dari seorang dosen jurusan seni di universitasku. Tapi, menurutku, itu tidak cukup membuatnya dikenal seisi kampus. Ada cerita lain dibalik popularitasnya.

Berdasarkan atas apa yang kudengar dari beberapa mahasiswa, Dara adalah master dalam bidang musik. Dia memenangkan banyak penghargaan dan selalu menjadi juara 1 setiap mengikuti kontes. Selain itu, ada beberapa mahasiswa lain yang berkata, Dara mengalami kecelakaan setelah bermain biola di sebuah kontes. Seperti dugaan, dia mendapat juara. Tapi, peristiwa buruk itu merenggut segalanya. Kecelakaan yang menimpanya membuatnya kehilangan ingatan dan juga penglihatan. Terkadang nasib buruk datang pada orang-orang baik.

Jujur, selama hidupku, aku belum pernah bertemu dengannya meski kami berada di bidang yang sama. Kesan pertamaku saat melihatnya minggu lalu, ia berbeda dari gadis lainnya. Dia pendiam dan terkesan menjauhi semua orang. Dia tidak bergaul dengan siapa pun. Berangkat kuliah, mengikuti kelas, lalu pulang. Hanya itu. Aku yang selalu penasaran dengan hal-hal baru pun mulai mengikutinya. Aku seperti seorang penguntit. Mengikuti dan memperhatikannya dari kejauhan.

Jauh dari nasib buruknya, dia memiliki banyak kelebihan. Rambut coklat berombaknya yang melambai ketika angin berhembus, mata amber-nya yang memancarkan semburat tatapan kosong ke depan, bibirnya yang tak pernah tersenyum. Itu merupakan kelebihan bagiku. Dia tampak cantik. Entah apa yang membuatku gila ketika memikirkannya, namun kupikir aku mulai menyukainya. Aku menyukai Dara dengan alasan yang sederhana, yaitu karena dia berbeda.

Dara resmi menjadi kekasihku mulai sehari lalu. Awalnya, dia sempat kebingungan karena aku tiba-tiba datang, kemudian menyatakan perasaanku tanpa penyebab yang jelas. Mungkin Dara menganggapku gila. Ya, bagaimana tidak? Aku bukan seseorang yang dikenalnya. Aku juga belum mengenalnya. Bahkan, kami tidak pernah berbincang-bincang. Tapi, Dara mengangguk pertanda menerimaku meski ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hubungan ini aneh dan aku tahu itu.

Sekarang, kami duduk di bangku taman halaman rumahku. Kami hanya duduk tanpa berbicara. Aku menyeka darah sialan yang mengalir dari balik hidungku. Ya, ini tidak akan berlangsung lama. Darah bandel itu selalu keluar kapan pun ia mau.

“Um, apakah kau menyukaiku juga?” tanyaku mencoba memecah keheningan dengan tangan yang masih berada di sekitar hidungku. Darah itu terus mengalir tanpa henti, membuatku sedikit kewalahan.

“Tidak tahu.” Jawabnya. Sungguh, ini pertama kalinya aku mendengar suara lembut Dara.

“Bukankah kau menerimaku? Kau bahkan menganggukkan kepalamu.”

“Aku bukannya tidak menyukaimu, hanya saja aku belum menyukaimu.”

Dia benar. Tidak ada alasan baginya untuk menyukaiku secepat ini.

Bibir tipisnya kembali terbuka, “Kenapa kau menyukai orang yang tidak kau kenal sepertiku?”

“Ada banyak hal yang ingin kutahu tentangmu.”

“Apa yang membuatmu penasaran?”

“Karena kau berbeda.” Jawabku terus terang.

“Bukan karena aku buta dan aneh?”

“Bukan.”

Dara menghembuskan nafasnya-lega. “Baguslah.”

“Pikiranmu aneh sekali.” Celetukku tertawa garing. Aku melirik Dara yang tak berkutik.

“Biasanya orang-orang bertanya apa yang membuatku buta dan kenapa aku ada di sini. Itu adalah pertanyaan yang paling kubenci. Sejujurnya, aku bingung harus menjawab apa. Mereka tahu siapa aku lebih dari aku mengetahui diriku sendiri. Ya, ini karena amnesia yang kualami. Amnesia yang membuatku lupa akan segalanya.” Ia bercerita tanpa kutanya. Menarik dan misterius.

Aku menatapnya lekat-lekat. “Jadi, itu merupakan alasan kenapa kau menghindari semua orang?”

“Begitulah. Aku benci mendengar pertanyaan mereka. Sangat menyiksa.”

“Lagipula, apa yang buruk dari buta dan amnesia? Bukankah kau bisa melupakan masa lalu yang tidak ingin kau ingat? Melupakan hal yang terjadi sebelum kau amnesia. Tidak melihat hantu saat kau dilanda takut karena film horor. Tidak melihat hal menjijikkan yang terjadi di dunia ini. Tidakkah kedua hal itu membawa manfaat?”

Sebuah senyum menghiasi bibirnya. Tuhan, dia sangat manis!

“Kau sangat lucu.” Gadis yang duduk di dekatku ini tiba-tiba menitikkan air mata meski senyum masih tergambar di bibir tipisnya. “Bagaimana bisa sebuah keburukan membawa manfaat? Kau tahu, aku seakan gila mencoba mengingat apa yang pernah kulihat. Bahkan, aku tidak mengerti kenapa ayah ingin aku bermain biola padahal aku tidak ingat kapan aku menyentuh biola meski hanya dengan ujung jariku. Aku juga ingin melihat langit yang selama ini disebut indah dengan warna birunya. Tunggu. Warna biru? Apa itu? Aku mencoba mengingat apa yang kulakukan di masa lalu, kenapa Tuhan memberiku takdir mengerikan seperti ini. Jika kau jadi aku, kau akan mengerti, inilah rasanya hidup bagaikan bayi yang baru lahir. Tidak melihat dan tidak mengingat apapun.”

Ini sangat menyedihkan. Mungkin tidak seharusnya aku memancingnya untuk bercerita. Apa yang menimpa Dara memang terdengar klise. Bagaimana pun juga, penderitaannya sudah melewati batas. Menyimak ucapannya tentang ia tidak bisa melihat, tidak memiliki kenangan yang dapat diingatnya dan tidak bisa tersenyum. Bukankah itu menyakitkan? Mungkin aku akan bunuh diri jika Tuhan memberiku kehidupan sepertinya. Tapi, Dara tak berkutik meski aku tahu dia sengsara.

“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya bercanda.”

“Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku memang tidak tahu apa yang namanya bercanda.”

Betapa mengerikannya hidup Dara. Aku tidak bermaksud merendahkannya. Tidak. Bagaimana bisa dia hidup tanpa tahu sesuatu yang dinamakan bercanda? Aku salah satu orang yang memiliki banyak masalah dan kondisi buruk di dunia ini, tapi setidaknya aku bisa melupakan masalahku dengan bercanda. Aku tidak dapat membayangkan, seperti apa hidupnya sejak kecelakaan itu.

“Aku akan membuatmu melupakan hal itu selama kau menjadi kekasihku, Dara. Membuatmu melupakan segala masalahmu. Kau tidak perlu mengingat apapun dan tetap fokuslah padaku. Tak ada yang perlu kau sesali. Aku tidak ingin melihatmu bersedih.” Ujarku berusaha memeluknya yang duduk di ujung bangku. Dia tidak melawan maupun membalas. Bukannya aku mengatainya, tapi Dara bak mayat hidup. Tak ada semangat dalam dirinya.

“Berhentilah berusaha nyaman denganku.”

“Bukan berusaha nyaman, kau memang membuatku nyaman.” Aku mengusap ujung kepalanya.

“Pernahkah kau berpikir, bagaimana cara orang sepertiku jatuh cinta? Aku buta. Bagaimana aku bisa menyukai seseorang kalau untuk melihatnya saja aku tidak bisa? Aku takut usahamu membuatku tersenyum berakhir sia-sia. Aku pun tak ingin menjadikanmu sebagai satu-satunya yang menyimpan rasa suka dalam hubungan ini.” Mata amber-nya kembali menitikkan air mata. Kepalanya tertunduk sedih. Aku semakin mengencangkan pelukanku di tubuhnya. Memeluk orang asing bukanlah hal yang mudah dilakukan, tapi akan berbeda jika orang itu adalah orang yang perlahan kusayangi.

“Jauhkan segala pikiran burukmu. Tidak ada yang pantas untuk kau takutkan. Di dalam hidup ini, satu hal yang harus kau ingat, ada banyak orang yang lebih menderita darimu. Kau bisa menjadikanku contoh. Aku bisa melihat dan tidak kehilangan ingatan. Tapi, hidupku tidaklah sempurna. Nikmati hidupmu selagi kau bisa menikmatinya. Yang kau takutkan bukanlah apa yang terjadi, melainkan kapan Tuhan akan mengambil kehidupanmu.” Seruku dengan senyuman lemah sembari menatapnya. “Lagipula, kau tidak perlu melihatku agar bisa mencintaiku, Dara. Kau cukup mendengar suaraku dan tersenyum dengan caraku. Aku bisa membuatmu mencintaiku dengan kedua hal itu. Percayalah.”

***

Hubunganku dengan Dara? Jangan menanyakannya, kami baik-baik saja. Selama aku bersama-nya, dia tampak semakin membaik. Dara mulai bisa tertawa sekarang. Dia tertawa ketika aku menceritakan kisah anehku, seperti kejadian memalukan di panggung, kejailanku saat Sekolah Dasar, bahkan sampai cerita tentang gigi geraham bungsuku yang dioperasi beberapa bulan lalu.

Tidak ada yang kuharapkan dari status Dara sebagai kekasihku selain membuatnya bahagia. Dalam suatu hubungan, kita memang tidak diwajibkan saling membahagiakan satu sama lain. Tetapi, kita diwajibkan menghibur pasangan kita yang bersedih. Itulah peran kekasih. Aku tidak bisa membiarkan ekspresi muram menghiasi wajah cantik Dara walau hanya sepersekian detik. Aku selalu berusaha membuatnya tersenyum, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya.

Jauh di hadapanku, Dara tengah memainkan biolanya di panggung. Dia tidak sedang mengikuti kontes atau semacamnya. Dia sedang mengikuti kelas musik. Dara menggunakan ruang seni ini sebagai kelas khususnya. Tidak ada alat musik yang dipelajarinya selain biola. Meski tidak bisa melihat dan tahu cara memainkan biola, Dara terlihat lihai memainkan alat musik gesek tersebut. Alunan lagu musikal dari Yiruma yang berjudul River Flows In You terdengar sangat indah ketika masuk ke dalam rongga telingaku, sama indahnya dengan suara lembutnya.

Sayangnya, sebuah peristiwa yang tidak kuharapkan terjadi tiba-tiba menimpaku. Selembar kertas yang merupakan bagian dari buku catatanku terkena cairan kental berwarna merah. Cairan itu keluar dari hidungku. Terus keluar tanpa henti. Sial! Aku tidak membawa tisu hari ini karena kupikir darah sialan itu tak akan keluar disaat tubuhku terasa segar. Aku merasa sehat sejak pagi. Entah kenapa hal ini selalu terjadi di waktu yang salah.

Aku segera beranjak dari kursi, kemudian berlari menuju toilet, meninggalkan Dara yang masih asyik bermain dengan biolanya didampingi Seunghyun-kakak tingkatku. Aku tidak mungkin tetap duduk di sana sementara darahku terus mengucur keluar tanpa henti, membiarkan noda merah di buku catatanku semakin banyak.

Basuhan pertama, darah itu hilang, tapi kembali mengalir dari lubang hidungku. Basuhan kedua pun tetap sama. Ketiga dan seterusnya tetap sama. Tidak! Aku harus menghentikan mimisan ini secepat aku bisa. Perlahan, aku menekan hidungku dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jariku. Aku selalu melakukan hal ini selama sepuluh menit setiap aku berada dalam situasi yang sama.

Berada dalam situasi yang sama. Benar. Aku sering mengalami mimisan yang tak kenal waktu dan tempat. Peristiwa mengerikan tersebut berawal ketika aku berumur 17 tahun, setelah penyakit hepatitis C yang kuderita dinyatakan berganti nama menjadi sirosis hati. Tidak ada yang tahu kenapa aku seperti ini. Kedua orang tuaku sudah meninggal, begitu juga dengan adik perempuanku yang meninggal tujuh tahun lalu. Aku tidak memiliki tempat untuk bercerita. Jaslyn? Lebih baik aku tidak mengatakan apapun padanya. Aku tidak sanggup menghapus senyuman dari bibirnya.

Kutatap sejenak bayanganku di cermin, apakah ‘itu’ masih mengintaiku? Kukira ‘itu’ telah pergi.

Setelah sepuluh menit berlalu, hidungku berhenti mengeluarkan darah. Aku segera membersihkan sisa darah di sekitar hidungku, lalu pergi dari toilet untuk kembali ke kelas Dara. Aku tidak ingin dia menungguku terlalu lama. Kelasnya akan berakhir hanya dalam beberapa menit. Dan, benar saja. Ketika aku datang, dia tengah mengemasi biola beserta lembaran kertas yang berisi partitur lagu.

“Ternyata kau sudah selesai.” Seruku dengan nada gembira sembari berjalan mendekat.

“Ya.” Balasnya. “Permainanku bagus?”

Aku menuntunnya berjalan menuruni panggung. Meskipun aku tahu dia sudah terbiasa dengan tongkatnya, tapi sebagai kekasih yang baik, aku akan turun tangan membantu setiap gerakannya. Toh aku tidak dirugikan hanya karena membantunya.

“Tentu saja. Permainanmu semakin baik dari hari ke hari.”

Dara mengembangkan senyumnya. Hal itu berhasil membuatku melupakan pikiran burukku.

“Hei, kau sudah terbiasa tersenyum sekarang?” ledekku menyenggol bahu mungilnya.

“Kau yang membuatku terbiasa. Kaulah alasan kenapa aku tersenyum.”

Jujur, senyuman Dara adalah senyumanku juga. Seperti tujuan awalku, yaitu membuatnya terus tersenyum, aku ingin melihat bibirnya tertarik ke atas setiap waktu. Tapi, aku tidak yakin setelah mendengar kalimatnya. Aku alasannya tersenyum? Apakah aku bisa memastikan dia selalu tersenyum? Ah, tidak! Aku mulai lagi. Otakku dipenuhi prasangka buruk.

“Kau banyak berubah, Dara. Aku merasa tenang ketika melihatmu tersenyum, bukan menangis.”

“Aku tidak akan menangis selama aku masih bisa tersenyum.”

“Itu benar.”

“Ah, Seunghyun berkata kau keluar kelas beberapa menit lalu. Kau pergi ke mana? Ada masalah apa?”

“Tidak ada masalah apa-apa. Aku pergi ke toilet sebentar. Tidak perlu merasa khawatir.”

Kalimat kebohonganku yang pertama. Mungkin, ini akan berlanjut di hari-hari berikutnya.

***

Dari semua yang ada di hidupku, ada satu yang sangat kusesali. Kenapa aku menimbun alkohol dalam tubuhku? Kenapa ketika bersedih atau memiliki masalah, aku selalu meluapkan segalanya dengan meminum alkohol? Kenapa? Bahkan, diusia mudaku, aku menghabiskan waktuku untuk melakukan hal yang tidak berguna.

Tujuh tahun lalu memang titik terberat dalam hidupku. Bagaimana tidak? Aku hanya tinggal berdua bersama adikku yang berumur lima tahun sejak ayah dan ibu meninggal. Di dunia ini, aku tak memiliki siapa pun kecuali dia. Sampai pada akhirnya, karena kemarahanku, dia meninggal. Athela-adikku-meninggal ketika ia mencoba mengambil boneka barbie-nya yang kubuang di tengah jalan. Sebuah truk menabraknya. Pada detik yang sama, aku harus menerima kenyataan bahwa aku hidup sendirian. Aku tidak memiliki keluarga.

Berhari hari setelah kematian Athela, aku frustasi berat sehingga menjadikan alkohol sebagai pelarianku. Setiap hari aku meminum alkohol, mabuk berat bahkan sampai masuk kantor polisi karena membuat masalah. Aku tidak mempedulikan reputasi maupun kesehatanku. Sebelumnya, aku pernah mengidap penyakit hepatitis C. Aku sangat berharap, alkohol akan membunuhku. Yang kuingin hanyalah melupakan segalanya. Lalu, tak lama setelahnya, aku sakit keras. Dokter berkata, organ hatiku tidak terlalu kuat mencerna alkohol. Tidak perlu dijelaskan lagi, nama penyakitku berganti menjadi sirosis hati yang lama kelamaan berganti lagi menjadi kanker hati.

Kemarin malam setelah mengantar Dara pulang, aku memutuskan untuk mengunjungi Dokter Dawson-memintanya memeriksaku. Dia menunjukkan hasil rontgen yang menyatakan penyakitku benar-benar berkembang, bahkan memasuki stadium 4. Aku sudah menduganya. Stadium 4 terdengar sangat mengerikan. Tapi, aku tidak pernah peduli apa yang terjadi padaku. Ketika kesakitan, aku hanya akan berteriak sekeras mungkin, menunggu rasa sakit itu reda dengan sendirinya. Aku ingin mati, itu sudah cukup.

Itu dulu. Sekarang jalan pikirku berbeda.

Pandangan hidupku berubah setelah aku mengenal Dara. Dia membuatku seakan memiliki tanggung jawab lebih dalam hidup. Membuatku berpikir bahwa aku masih berguna untuk orang lain. Membuaku tersadar bahwa hidupku tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hidup Dara. Aku membuat nyawa adikku terenggut tujuh tahun silam dan itu membuatku gila. Lalu, bagaimana aku tega merenggut senyum cerah Dara? Aku hanya menunggu takdir baik.

“Jiyong, apa kau suka hujan?” tanyanya memecah lamunanku.

“Suara hujan membuat imajinasiku berantakan. Aku tidak terlalu suka. Kenapa? Apa kau suka?”

Dara mengangguk pelan. “Aku sangat menyukai hujan. Suara gemericiknya seakan alunan musik yang indah bagiku. Ketika air hujan menyentuh permukaan telapak tanganku, aku merasa senang. Dingin dan basah. Hatiku damai dan bebanku hilang sesaat.”

“Jadi, apa suasana hatimu sedang tenang sekarang?” aku menggodanya.

“Ya. Terlebih kau bersamaku. Hujan, musik dan kau. Aku suka itu.”

“Setidaknya, tempatkan aku di urutan pertama.” Ketusku mendengus kesal.

“Baiklah. Kau, hujan dan musik.” Ujarnya terkekeh.

“Itu baru kekasihku.”

Saat ini hujan melanda Kota Seoul. Hujan di musim gugur. Angin yang berhembus serasa menusuk sampai ke tulang di setiap langkah. Jika Dara tidak merengek berkunjung ke rumahku, aku mungkin tak akan sengaja melakukannya. Bukannya aku tidak suka ada tamu di rumahku, aku hanya merasa sekarang waktu yang tepat bagi kami untuk berteduh di gedung universitas, berbincang-bincang sembari menunggu hujan reda. Tapi, Dara menginginkan hal lain dan aku bukan tipe laki-laki yang bisa menolak keinginan kekasihku semudah membalikkan telapak tangan.

“Aku memiliki permintaan.”

“Apa itu?”

“Bisakah kau selalu bersamaku?”

“Ya?”

“Kau ingin aku selalu tersenyum, ‘kan? Kalau begitu, tetaplah di sisiku.”

“Kenapa permintaanmu sangat aneh? Kenapa kau memikirkan hal itu?” tanyaku yang mulai gugup.

“Aku tidak mau bersedih untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau kehilangan senyumanku lagi.”

Tuhan, sorot matanya yang kosong membuatku tidak tahu harus memberi jawaban apa. Aku ingin melakukannya, mengingat betapa mengerikannya hidupku di masa lalu yang kian berubah sejak Dara datang di kehidupanku. Hidup kami berdua tidaklah baik dan aku ingin mengubahnya secara perlahan. Tapi, rasanya, Tuhan memiliki jalannya sendiri.

“Aku tahu, tapi-”

“Dapatkah kau melakukannya?”

Tidak, aku tidak yakin bisa melakukannya.

Aku ingin mempertahankan kehidupanku dengan menyembuhkan penyakit mematikan yang tak memiliki obat tersebut. Keinginanku semakin besar setelah mendengar kalimat-kalimat Dara yang secara tidak langsung menyimpan harapan kepadaku. Tapi, rasa percaya diriku menciut ketika teringat pesan Dokter Dawson. Dia berkata, aku tidak memiliki harapan untuk tetap hidup. Kalau pun aku melakukan pengobatan, itu hanya akan membantu sisa hidupku bertambah beberapa menit saja.

“Jiyong?”

Penganganku pada ujung payung berwarna biru itu melemah.

“Jiyong?”

Aku merasakan sebuah cairan mulai mengalir dari hidungku.

“Jiyong?”

Panggilan Dara membuatku takut dan linglung disaat yang bersamaan.

“Kau baik-baik saja?”

Langkah kami terhenti. Tanganku berusaha menyeka darah sialan yang lagi-lagi keluar di saat yang tidak tepat. Kepalaku terasa pusing. Aku seakan merasakan putaran dunia. Berputar semakin cepat dan cepat membuat tubuhku hampir ambruk saking pusingnya. Tak lama, aku merasa perutku bermasalah. Rasanya sangat sakit bak ditusuk-tusuk jarum. Rasa sakitnya sama dengan yang biasa kualami. Suara rintihan lirih dari bibirku kalah dengan suara hujan yang semakin deras. Aku ingin meraung-raung mencoba menetralisir rasa sakit itu. Keberadaan Dara menghambatku. Situasi akan memburuk jika dia mendengar rintihanku.

“Jiyong? Kau mendengarku? Kau baik-baik saja?”

Aku tidak dalam kondisi baik, sungguh.

“Kumohon, jawab aku!” aku bisa melihat kekhawatiran Dara dari mataku yang mulai menyipit.

Dia tidak bisa melihat rona wajahku yang sedang merasakan kesakitan tiada tara. Pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang sesakit ini. Peganganku perlahan semakin melemah dan melemah. Melemah sampai aku membiarkan Dara menggenggam pangkal payung itu sendirian. Tubuhku terhuyung ke belakang. Mataku terasa berat, lalu semuanya gelap.

***

“Kau sudah merasa lebih baik?” kudengar suara seorang gadis di telingaku.

Mataku yang semula tertutup mulai terbuka sedikit demi sedikit.

“Tif-fa-ny?” ujarku berusaha mengeja namanya.

“Ya, aku Tiffany. Ada apa denganmu?”

“Kau yang membawaku ke sini? Ke mana Dara?” tanyaku masih dengan suara lemah.

Tiffany mengangguk cepat. “Aku kemarin melihat kalian berdua di jalanan. Aku menghentikan mesin mobilku saat menyadari ada keanehan dalam dirimu. Kau tampak kesakitan. Dara mungkin tidak tahu apa yang terjadi padamu. Dia terus menggengam payungnya erat-erat. Ketika aku melihat-mu terjatuh, aku segera berlari ke arah kalian berdua. Aku memanggil taksi, meminta Dara pulang lebih dulu. Dia setuju. Setelah itu, aku membawamu ke rumah. Aku terlalu takut sehingga tidak tahu harus berbuat apa.” Gadis itu mengusap pipiku. “Kau sakit?”

Kurasa aku membutuhkan seseorang sebagai tempatku bercerita. Dan, aku memilih Tiffany sebagai satu-satunya orang yang mengetahui rahasiaku. Tiffany adalah mantan kekasihku. Sejak dulu kami berhubungan tanpa memiliki perasaan satu sama lain. Oleh karena itu, ketika kami memutuskan untuk hidup di jalan masing-masing, kami masih memiliki hubungan yang baik. Menurutku, tidak akan menjadi masalah jika aku bercerita kepadanya karena dia tahu cukup banyak tentang masa laluku.

“Aku mengidap kanker hati.”

“Jiyong, apa maksud-”

“Kanker hati stadium 4. Dokter berkata, hidupku tidak lama lagi.”

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya kepadaku? Kenapa kau membiarkannya?”

“Sejak Athela meninggal, aku tidak peduli pada apapun. Aku menyesalinya sekarang.”

“Apa Dara tahu?”

“Tidak.” Jawabku singkat.

“Dia berhak tahu! Aku akan memberitahunya.”

Aku menahan tangan Tiffany sambil menatapnya penuh harap. “Dia harus selalu tersenyum.”

“Kau tidak membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tahu hal ini setelah kau-”

“Setelah aku meninggal?”

“Kau tidak akan meninggal, Jiyong.”

“Ya, aku akan meninggal.”

“Tidak!” gertaknya bersikeras meyakinkanku. Itu tidak ada gunanya bagiku.

“Selagi aku masih hidup, aku ingin membuatnya tersenyum. Dia memiliki hidup yang kurang baik.”

***

Hari demi hari kujalani dengan canda tawa bersama Dara. Dia semakin dan semakin sering tertawa. Aku senang mendengar tawa bahagianya. Jika dia berkata hujan bagaikan alunan musik baginya, maka berbeda denganku, tawanya adalah alunan musik terbaik bagiku. Dara membuatku merasa bahagia. Dia tidak pernah mengungkit nasib buruknya lagi. Dia seakan lupa dengan semua itu.

Hari demi hari juga kujalani dengan penuh sandiwara. Intensitas mimisan yang kualami lebih sering dari sebelumnya. Bisa empat sampai lima kali sehari. Bahkan, aku nyaris pingsan karena kehabisan darah. Aku sering meminta izin kepada Dara untuk pergi ke toilet dengan alasan menerima telepon. Sejujurnya aku merasa sedih harus membohonginya setiap hari. Bagaimana pun juga, dia kekasihku.

Tidak hanya itu, setiap malam aku merasakan sesuatu yang sama seperti yang kurasakan seminggu lalu. Kepalaku pusing dan sakit bak dihantamkan ke dinding. Perutku terasa nyeri tak tertahankan. Aku hanya bisa berdoa malaikat maut tidak datang mencabut nyawaku disaat yang tidak kuinginkan. Tiffany sempat membawaku ke dokter, menyarankanku untuk melakukan pengobatan. Tapi, aku menolaknya. Aku lebih memilih menghabiskan sisa hidupku daripada membuang waktu untuk melakukan pengobatan yang tidak akan pernah membuahkan hasil.

Jum’at siang ini aku meminta Dara datang ke rumahku. Seperti biasa, kami duduk di bangku taman halaman rumah. Taman berukuran sedang yang dikelilingi pohon mapel dengan daun-daun berwarna oranye yang berguguran.

“Jiyong, belakangan ini suaramu serak. Aku takut kau sakit.”

“Aku baik-baik saja.” Ujarku mengecup keningnya sekejap.

Tangan mungilnya bergerak menyentuh dahiku.

“Kau demam? Badanmu panas.” Ia terkejut, namun matanya tetap tanpa ekspresi.

“Kemarin aku kehujanan. Hanya pusing. Selebihnya aku baik-baik saja.”

“Kalau kau sakit, kau harus berterus terang kepadaku.” Dara mengerucutkan bibirnya.

“Ya Tuhan, ternyata kau bisa marah.” Seruku mengacak-acak rambut coklat berombaknya. “Aku ingin bertanya, jawablah dengan jujur. Apakah kau memiliki keinginan untuk melihat? Apa kau pernah menginginkannya?” aku menelan ludah, bersiap mendengar jawabannya.

“Tidak perlu memintaku menjawab jujur. Semua orang buta pasti menjawab ‘iya’. Kau mungkin tidak mengerti, buruknya menjadi buta dan amnesia. Aku tahu, di dunia ini bukan hanya aku orang yang menderita, aku baru menyadarinya. Tapi, tidakkah keterlaluan jika aku hidup dengan ingatan dan pandangan yang kosong? Setidaknya dapat melihat tetapi amnesia jauh lebih baik daripada tidak bisa melihat dan tidak bisa mengingat.” Jelasnya mengatakan kalimat-kalimat yang sejujurnya tak ingin kudengar. Dara membuatku merasa sakit hanya dengan mendengar segala kisahnya. “Kenapa?”

“Lalu, kenapa kau tidak mencari donor kornea?”

“Kau ‘kan tahu, orang hidup dilarang mendonorkan korneanya. Aku sudah mencari, tapi tak ada.”

“Kupikir aku menemukan donor kornea itu.” Seruku dengan riang.

“Benarkah?” tanyanya antusias.

“Ya. Mungkin sebulan lagi kau bisa melihat.”

“Astaga! Aku tidak sabar. Dia pasti malaikat yang Tuhan berikan untuk membantuku.”

Dara menganggap pendonor itu adalah malaikat dari Tuhan. Aku senang dia menyamakanku dengan para malaikat yang baik hati. Ya. Aku akan mendonorkan korneaku padanya setelah aku tiada esok hari nanti. Entah kapan waktu mengerikan itu datang, aku belum tahu. Yang pasti, hidupku tak lama lagi. Kalian pikir, berapa lama waktu yang bisa diharapkan orang yang sudah divonis sepertiku? Dua bulan? Satu bulan? Tiga minggu? Jangan terlalu berharap. Dua minggu pun itu sudah paling lama.

Ada beberapa hal yang kukhawatirkan setelah aku pergi. Aku ingin melihat Dara tersenyum dari surga. Aku ingin melihatnya tetap menjadi Dara yang sekarang. Tapi, apakah dia akan hidup baik mengingat dia berkata tawanya ada padaku, dia ingin aku selalu berada di sisinya. Bagaimana aku akan pergi dengan tenang meninggalkannya? Aku takut kondisinya memburuk. Dia akan menjadi lebih murung dari sebelumnya. Tidak. Aku tidak mau itu terjadi.

Jika Dara mampu menggunakan indra penglihatannya, mungkin ia bisa melihat wajah pucatku. Warna kulitku semakin memudar dari hari ke hari. Semakin pucat dan pucat. Oh, tidak! Darah sialan kembali meleleh dari hidungku. Aku tersiksa seperti ini. Perutku terasa terkoyak. Tidak, Tuhan, jangan buat aku kesakitan di hadapan Dara.

“Aku harus pergi. Kau mengizinkanku?” tanyaku dengan suara melemah.

“Pergi ke mana?” Dara tampak kebingungan. “Berapa lama? Kapan?”

Bagaimana aku menjawabnya? Aku tidak bisa menjelaskan kemana aku akan pergi.

“Entahlah. Sepertinya minggu depan. Aku harus pergi ke luar kota untuk mengisi sebuah acara pernikahan. Seseorang memintaku datang. Kuharap kau mengerti. Aku tidak tahu kapan akan kembali. Tapi, kumohon, jangan menungguku.”

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menunggumu? Aku akan menunggu meski kau pergi lama.”

“Kau tidak seharusnya menungguku. Bersenang-senanglah bersama Tiffany dan yang lainnya.”

Dara menoleh ke arahku, tetap dengan tatapan kosongnya. “Bolehkah aku ikut?”

“Tidak. Kau harus tetap di sini bersama ayahmu. Jangan sampai kehilangan senyumanmu.”

“Janji akan menemuiku setelah kau pulang?”

Aku tidak menjawabnya. Mengatakan kalau aku akan meninggal dalam waktu seminggu. Itu terdengar lucu sekaligus mengerikan. Kalian pikir, apa yang akan kulakukan jika aku di posisi Dara? Akankah aku menangis? Tentu. Apakah aku akan kehilangan senyum? Itu pasti. Aku telah mengambil resiko terberat dengan mencintai Dara. Dan, bukan hakku untuk menyalahkannya. Dara tidak bersalah. Hanya saja, aku terlalu menyia-nyiakan hidupku dulu.

Aku menarik tubuh mungil Dara ke dalam pelukanku. Aku mencoba menghirup aroma tubuhnya yang harum. Kalau saja Tuhan membiarkan rasa sakit ini tidak datang sehari, aku pasti akan melakukan banyak hal bersama Dara selagi aku bisa melakukannya. Tapi, kedatangannya yang tiba-tiba membuatku takut mengajak Dara pergi ke tempat lain selain taman ini. Aku takut peristiwa yang tidak kuinginkan menimpaku. Lalu, apa yang akan kujelaskan nanti kalau suatu saat aku pingsan ketika sedang bersamanya? Apa yang akan kukatan jika dia bertanya?

Dara mendengus. “Kau tahu bagian tersedih dari perpisahan?”

“Perpisahan? Tidak tahu.”

“Perpisahan. Sesuatu yang sangat menyedihkan. Tapi, ada bagian paling sedih dari perpisahan, yaitu berpisah karena kematian.” Perpisahan karena kematian? Aku tidak menyangka dia akan membahas perihal kematian. “Tidak peduli seberapa besar rasa rindumu padanya, tak peduli sesering apa kau berdoa kepada Tuhan agar dia memberikan kuasanya, orang itu tidak akan datang. Apa kau mengerti? Seseorang yang meninggal pergi selamanya, ‘kan? Bisa kau bayangkan betapa sedihnya orang-orang yang ditinggalkan olehnya?” sebuah senyuman mengembang di bibirnya. “Aku merasa lega karena kau tidak pergi selamanya. Aku bukan salah satu diantara orang-orang itu, ‘kan?”

Aku menginginkan hal yang sama, tapi apa itu mungkin?

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Dara. Aku tidak mau berbohong lebih banyak.

Dara mengarahkan tangannya ke arahku. Dia tampak meraba-raba, mencoba menemukan wajah-ku. Aku yang mengerti apa yang diinginkannya pun menuntun tangannya, kemudian meletakkannya di atas permukaan kulit wajahku yang pucat pasi. Dara merabanya, menyentuh segala bagian di wajahku tanpa ada yang terlewati. Sesekali aku mengarahkan tangannya ke bagian lain ketika ia hampir menyentuh area hidungku.

“Hanya ini yang bisa kulakukan. Meraba wajahmu dan merasakan ciptaan sempurna Tuhan yang ditakdirkan menjadi penolongku. Aku akan berterus terang bahwa ketika aku sudah bisa melihat nanti, orang pertama yang ingin kulihat adalah kau dan ayah.”

Bendungan air mata tidak tertahankan di ujung mataku membuat dadaku sesak.

Darah. Darah dari hidungku mengucur lebih deras. Kupikir mimisan ini akan berhenti dengan sendirinya. Tapi, tidak. Celana dan tanganku telah dipenuhi darah. Darah itu memilih hidungku sebagai jalan keluar favoritnya. Mataku mulai berkunang-kunang. Aku mendengar Dara memanggil namaku berulang kali. Namun, aku tidak memiliki cukup tenaga untuk menjawabnya. Kepalaku terasa sakit. Sangat sakit, lebih parah dari sebelumnya. Perutku juga menunjukkan kontraksinya. Tuhan, apakah aku akan mati hari ini?

“Jiyong?”

“Pulanglah, kumohon.” Ujarku ketika seseorang menjemputnya di depan pagar rumah.

“Kau baik-baik saja?”

“Te-tentu. Kau harus pulang. Aku sangat lelah hari ini.” Suaraku terdengar memilukan.

“Baiklah.”

Bayangan Dara menghilang bertepatan dengan mataku yang terpejam.

***

“Jiyong, bangun. Kumohon, bangun.”

Suara seorang gadis mengalun di telingaku. Suara itu tidak seindah suara yang biasa kudengar. Tidak, karena dia bukan Dara. Suara yang kudengar sekarang adalah suara seorang gadis yang kukenal bernama Tiffany.

“Tiga hari kau tidur, kenapa kau tak kunjung bangun?”

Tanganku terasa basah oleh air matanya.

“Aku sudah bangun, Fany.” Jawabku dengan suara parau. “Jangan menangis lagi.”

“Jiyong!” serunya menatapku lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca.

Sesuatu mengangguku. Aku baru sadar ketika sebuah selang oksigen menyumbat hidungku. Tidak hanya itu, selang infus pun tertancap di tanganku. Sebuah monitor yang menayangkan garis bergerak naik turun terus berbunyi di dekatku. Tit..tit..tit. Begitulah bunyinya. Benda itu menunjukkan jantung-ku yang masih berdetak. Seisi ruangan yang kutempati penuh benda-benda aneh.

“Apa kau berada di sini selama tiga hari berturut-turut?”

“Aku menunggumu bangun. Kau tahu, Dara menghubungiku setiap hari. Dia mencarimu.”

“Lalu, apa yang kau katakan padanya?”

“Aku berkata, kau sedang sibuk, jadi tidak bisa menemuinya.”

“Terima-”

“Hidungmu!”

Sial! Seharusnya mimisan ini tidak terjadi ketika Tiffany sedang bersamaku. Berbeda dengan Dara, dia bisa melihat apa yang terjadi, termasuk darah yang kembali melancarkan aksinya, yaitu meluncur dari hidungku. Aku berusaha menggapai kotak tisu yang terletak di atas meja di dekatku. Terasa sangat sulit sekali. Tubuhku lemah. Benar-benar lemah tak bertenaga.

“Kau lihat, hidupku tidak lama lagi.”

“Jangan mengatakannya! Aku tidak mau mendengar kalimat itu! Kumohon, Jiyong.”

Suara tangis Tiffany mengingatkanku pada Dara. Apakah gadis itu akan menangis lebih keras ketika melihatku sekarat seperti saat ini? Kepalaku terasa sangat sakit. Sudah pernah kukatakan sebelumnya, rasa sakit itu semakin menjadi dari hari ke hari. Dan, kupikir, inilah puncaknya. Puncak dari rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyakit kanker hati yang kualami. Aku merasa, hari ini akan menjadi akhir dari hidupku.

“Bisakah kau merelakanku pergi?”

“Tidak pernah ada orang yang mau ditinggalkan.”

“Kumohon. Aku ingin sedikit lebih tenang setelah pergi.” Ujarku dengan suara semakin melemah.

“Aku akan memanggil dokter. Tunggu!”

Aku meraih pergelangan tangan Tiffany. “Tidak, Fany.” Tanganku mulai kaku. Bibirku kelu untuk berbicara, tapi aku tetap berusaha menyampaikan beberapa pesanku. “Jangan katakan apapun kepada Dara tentang keadaanku yang sebenarnya. Jangan katakan bahwa aku sudah pergi meninggalkannya. Sampaikan pesanku kepada dokter, aku akan mendonorkan korneaku untuk Dara. Aku ingin memberikan kesempatan padanya agar bisa melihat dengan apa yang kumiliki. Sesuatu yang bisa kuberikan untuk terakhir kalinya. Meski aku tidak bisa memenuhi keinginannya untuk melihat wajahku secara langsung. Kumohon, berbohonglah untukku.” Kuhirup udara yang sepertinya menjadi nafas terakhirku. “Berikan kotak yang kusimpan di lemari padanya di waktu yang tepat.”

Sama seperti hidup yang memiliki waktu, cinta pun memiliki waktu. Hidup memang bukan suatu hal yang abadi, begitu pula dengan cinta. Mungkin cintaku di dunia untuk Dara telah berakhir bersamaan dengan kepergian rohku yang terbawa angin. Tapi, cinta di dalam hatiku tidak akan pergi. Meski ragaku sudah mati, cintaku tetap hidup untuknya. Jika aku tidak bisa mencintainya di dunia, tidak bisa melihat dan merasakannya di tempat yang sama, maka aku akan mencintai, melihat dan merasakannya di dimensi lain.

Hari ini, penderitaanku hilang sepenuhnya. Selamat tinggal, Dara.

***

Dara’s side

Mataku terbuka lebar-lebar menampakkan iris berwarna amber di baliknya. Sekarang jalan empat hari setelah aku membuka mataku dengan kornea pemberian seseorang yang kusebut malaikat karena kebaikan hatinya. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pandanganku semakin jelas. Aku mulai mengenal warna-warna yang ada di muka bumi. Aku belajar mengenali alam sekitarku dengan semangat yang menggebu-gebu. Senyuman di bibirku melebar setiap harinya. Perasaanku lebih dari senang. Aku seribu persen merasa senang.

Kutatap orang pertama yang kulihat setelah dokter membuka perban dari mataku. Ya, ayah. Ayah tampak tampan mengenakan pakaian serba hitam. Ia menata rambutnya dengan sangat rapi. Ayah membalas tatapanku sesaat, sebelum menutup pintu dan berlalu dalam langkahnya.

“Ayah,” panggilku saat ia hendak menutup pintu kamarku.

“Ya? Ada apa?” ayah mengumbar senyum hangatnya.

“Ayah mau pergi ke mana? Bolehkah aku ikut?”

Ayah terlihat gugup. Itu sangat jelas dari sorot matanya.

“Seorang rekan kerja meminta ayah menemuinya di restoran. Tidak perlu ikut.”

“Kalau begitu, bisakah ayah menghubungi Jiyong? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.”

Ya. Sudah lama. Bahkan, aku tidak melihatnya sejak penglihatanku kembali. Belum sama sekali.

“Jiyong?”

“Aku merindukannya. Biarkan dia berkunjung ke sini, ayah.”

“Dia-”

“Apa Jiyong belum pulang? Dia berkata, dia hadir di acara pernikahan bulan ini.”

“Sepertinya, dia belum pulang.” Jawab ayah, kemudian bergerak cepat menutup pintu.

Jujur, aku ingin membagi kebahagiaanku pada Jiyong. Dia harus tahu kalau aku sudah bisa melihat. Tidak sabar rasanya menunggu kepulangannya. Awalnya, aku memang sempat kecewa karena dia bukan orang pertama yang kulihat. Tapi, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa Jiyong pasti akan datang menemuiku. Dia memberi kejutan untukku. Mungkin, sebuket bunga dari acara pernikahan itu. Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin tahu, seperti apa rupa orang yang sangat berharga di hidupku. Seperti apa wajah orang yang selama ini kuagungkan.

Jiyong memintaku untuk tidak menunggunya. Lelucon macam apa itu? Apakah sesuatu yang benar jika aku tidak menunggu kedatangan orang yang sangat ingin kulihat? Kenapa pula dia bertindak seolah aku tidak akan bertemu dengannya lagi? Jiyong memang terbiasa berlebihan dengan lelucon-nya. Dia seharusnya berkata jika kalimatnya adalah lelucon. Kalau pun bukan lelucon, dia berkata seperti itu pasti karena dia akan kembali meski aku tidak memintanya pulang.

***

Lagi-lagi, mereka memandangku dengan tatapan penuh rasa kasihan.

Aku tidak mengerti, kenapa orang-orang selalu menatapku ketika aku berjalan melewati mereka. Semua orang seakan membicarakanku. Mereka menunjuk ke arahku, menjelaskan betapa menyedihkannya diriku. Apakah aku terlihat menyedihkan? Aku sudah bisa melihat. Pantaskah mereka mengataiku menyedihkan? Lagipula, apa yang membuatku terlihat se-menyedihkan itu?

Di ujung koridor, seorang gadis melambai ke arahku. Aku berjalan mendekatinya.

“Dara?”

Suaranya terdengar seperti seseorang yang kukenal.

“Tiffany?”

“Kau mengenaliku dengan cepat.” Serunya sembari tersenyum. “Senang bertemu denganmu.”

“Aku juga.” Balasku memberikan senyuman.

“Operasi korneamu berjalan lancar? Tidak ada hambatan?”

“Seperti yang kau lihat, tidak ada hal buruk terjadi.”

“Mau makan bersama?”

“Tidak. Aku harus pergi ke rumah Jiyong.”

Tiffany mengerutkan keningnya. “Rumah Jiyong?”

“Aku ingin memastikan, apakah dia sudah pulang atau belum.”

Ekspresi Tiffany berubah. Tatapan matanya membuat otakku dipenuhi tanda tanya.

***

Berlangsung lebih dari dua minggu dan Jiyong belum menampakkan batang hidungnya. Dua minggu aku mengunjungi rumahnya, menunggu kedatangannya di bangku yang dikelilingi pohon maple. Dua minggu aku memandangi ponselku yang layarnya tak kunjung menyala. Dua minggu aku mengiriminya pesan. Dua minggu aku berusaha menghubunginya. Dua minggu pula aku tidak beranjak dari pintu rumahku. Kupikir, Jiyong akan datang dengan bunga di tangannya. Tapi, dia tidak kunjung datang. Dia tidak ada.

Ke mana Jiyong pergi?

“Ah, kau datang lagi?”

“Aku hanya berpikir ia akan datang jika aku menunggunya di sini.”

“Kau harus menunggu kalau kau ingin menunggunya.”

“Maka dari itu, aku menunggu kedatangannya, Mino.”

Seorang laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Mino-menjelaskan bahwa dia adalah teman Jiyong. Mino bukan orang jahat. Seperti Jiyong, dia bersikap baik padaku. Sesekali dia mengajakku masuk ke dalam rumah Jiyong. Entah apa yang terjadi, aku memiliki satu pertanyaan, kenapa Jiyong meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu? Pertanyaan yang konyol! Mungkin dia sengaja menitipkannya kepada Mino.

“Aku ingin membersihkan rumah Jiyong. Apa kau mau ikut denganku?”

Meski sudah berpuluh-puluh kali aku memasuki rumah itu, aku tidak bisa menolak tawaran Mino.

“Hei, man, apa kau baik-baik saja?” Mino selalu mengucapkan kalimat yang sama setiap pintu rumah Jiyong terbuka. “Tidak ada yang kurindukan darimu selain candaan bodohmu. Kau selalu membuat semua orang tertawa. Ini terdengar aneh, tapi aku sangat merindukanmu.” Mino menitikkan air matanya. Nafasnya tidak teratus seiring tangisnya yang semakin deras.

“Mino, kenapa kau bersedih?”

“Sama sepertimu, aku merindukan Jiyong. Bukankah kau juga bersedih?”

“Aku memang sedih, tapi Jiyong memintaku untuk tetap tersenyum.”

“Kau sangat beruntung memiliki kekasih seperti Jiyong, Dara.”

“Mino!” Panggilku saat ia sedang sibuk membersihkan debu yang menyelimuti permukaan sofa. Laki-laki keturunan setengah Asia itu berdehem bermaksud mempersilahkanku berbicara. “Aku bertanya-tanya, apakah Jiyong tidak merindukanku? Aku menghubunginya, tapi nomornya dinyatakan tidak aktif. Menurutmu, apa dia akan kembali? Apa dia baik-baik saja?”

Mino menundukkan kepalanya sejenak-menghirup nafasnya dalam-dalam. “Entahlah, dia sangat sibuk di sana. Aku yakin, kondisi Jiyong baik-baik saja. Dia tipe orang yang selalu tersenyum. Tapi, kau tidak perlu memikirkan semua itu. Yang harus kau tahu, dia merindukanmu.”

***

“Seunghyun!” panggilku pada salah satu senior sekaligus orang yang memantau permainan biolaku.

Dia tampak terkejut melihatku.

“Ada apa, Dara?”

“Kau dekat dengan Jiyong, ‘kan? Apa kau tahu di mana dia?”

“Jiyong?”

Seunghyun terlihat gugup. “Bu-bukannya di-dia sibuk?” ujarnya balik bertanya dengan terbata-bata.

“Benarkah? Dia menghubungimu?”

“Tidak. Tapi, dia berkata, kau hanya perlu tahu kalau dia menyayangimu.”

“Baiklah, terimakasih.”

Aku meninggalkan Seunghyun, kemudian berlari menghampiri Chaerin-teman dekat Jiyong lainnya.

“Chaerin, kau tahu di mana Jiyong?”

Dia tertegun, tak menjawab pertanyaanku lalu lari pergi menjauh.

***

Waktu terus berjalan sedangkan aku tidak memiliki satu pun petunjuk di mana Jiyong berada. Aku sudah bertanya kepada semua orang yang dekat dengannya. Tapi, jawaban mereka selalu sama. Mereka berkata, Jiyong sedang sibuk. Mereka juga berkata, aku hanya perlu tahu dia menyayangi dan merindukanku. Bukan hanya jawaban yang sama, mereka terlihat gugup setiap aku mengucapkan nama Jiyong. Ada apa sebenarnya? Apakah ada yang mereka sembunyikan dariku.

Kalaupun ada, hal apa itu dan kenapa mereka menyembunyikannya?

Hari demi hari terus kulalui tanpa kehadiran Jiyong. Sedikit demi sedikit senyum dari bibirku mulai memudar. Aku kembali menjadi diriku yang dulu-sebelum mengenal Jiyong. Aku menjadi pemurung dan terkesan mudah emosi. Intensitasku berada di taman halaman rumah Jiyong pun semakin sering. Bahkan, aku nyaris tertidur di sana. Aku tidak mau beranjak sebelum mendengar suara Jiyong yang terbiasa memanggilku dengan nada lembutnya.

Musim demi musim kulewati. Tidak terasa, sepuluh bulan dia pergi. Mungkin, ini sangat cepat bagi orang lain. Tapi, bagiku menunggu Jiyong selama 10 bulan sama halnya dengan menunggu dunia ini kiamat. Sangat lama. Waktu seakan berjalan, tapi itu tidak berlaku untukku. Aku menunggunya. Tetap setia menunggunya setiap detik. Aku tidak peduli entah itu hujan atau badai sekali, aku tidak akan meninggalkan tempatku. Aku tidak peduli pada orang-orang yang merengek memintaku untuk pulang. Aku hanya ingin Jiyong kembali. Aku percaya, dia akan datang kalau aku menunggunya.

Aku percaya dia akan datang. Aku percaya. Percaya.

Kalian harus tahu, bagaimana menyedihkannya kondisiku. Aku menunggunya siang malam tak kenal lelah. Aku hanya ingin dia kembali, tidak lebih. Mencarinya? Ke mana aku harus mencarinya? Ke mana aku harus mencari orang yang tidak kuketahui ke mana perginya? Tidak mencarinya? Bagaimana aku bisa tahan menunggu tanpa mencarinya? Aku takut. Aku takut dia pergi lebih lama. Aku takut kepergiannya tidak hanya 10 bulan.

Aku takut, mereka semua menyembunyikan sesuatu dariku. Aku takut mereka menyembunyikan sesuatu yang akan membuatku sakit hati setelah mengetahuinya. Bagaimana jika aku benar-benar kehilangan senyumanku sementara Jiyong-satu-satunya orang yang membuatku tersenyum tidak ada disisiku? Bagaimana aku akan mendapatkan senyumanku kembali? Aku tidak mau menjadi diriku yang dulu. Oleh karena itu, aku berharap Jiyong segera pulang dan mendatangiku, membuatku tersenyum seperti di hari-hari yang kujalani bersamanya.

Bip!

Layar ponselku menyala. Aku begitu antusias menggeser layar benda tipis tersebut. Senyumku sempat mengembang saat mengira Jiyong yang mengirimiku pesan. Ternyata bukan. Itu adalah pesan dari Tiffany yang memintaku menemuinya di taman halaman rumah Jiyong.

Aku segera berangkat menuju tempat tujuanku dengan menumpangi taksi. Kuharap Tiffany memberi kabar baik untukku. Aku tidak sabar bertemu dengannya. Aku menepis pikiran burukku sejenak. Mungkin Tiffany ingin bertemu denganku karena Jiyong mengabarinya akan segera kembali. Mungkin saja. Ya, itulah yang kupikirkan.

“Fany,” ujarku lirih berjalan mendekatinya.

“Sudah datang?”

Tiffany tidak jauh berbeda dari orang lainnya. Menurutku, justru dia yang paling aneh. Sekarang, dia tengah berdiri menghadapku sembari mendekap sebuah kotak berukuran cukup besar berwarna coklat. Aku tidak tahu pasti apa isi kotak itu. Apakah sebuah hadiah dari Jiyong?

“Apa ada hal penting yang hendak kau bicarakan? Kalau boleh tahu, kotak apa itu?”

“Jiyong memintaku memberikannya kepadamu.” Tiffany mengulurkan kedua tangannya yang menopang kotak itu. “Dia ingin aku memberikannya di waktu yang tepat. Aku tidak tahu kapan waktu yang tepat yang dimaksud Jiyong karena menurutku tidak ada waktu yang tepat untuk hal ini. Baik aku maupun teman-teman lainnya tidak bisa terus melakukan perbuatan buruk kepadamu.” Butiran bening tiba-tiba menetes membasahi pipi merah meronanya. “Lihatlah isinya.”

Meskipun dalam keadaan bingung, aku tetap membuka kotak itu. Aku membuka tutupnya perlahan, mencoba membuat diriku setenang mungkin karena perasaanku tak enak. Di dalam kotak itu terdapat banyak foto seorang laki-laki berwajah tampan dengan rambut coklat mudanya. Wajahnya asing bagiku sebab aku memang belum pernah melihatnya. Selain itu, terdapat benda-benda lainnya, seperti ponsel, bunga mawar merah yang sudah mengering, buku harian berwarna coklat tua, alat perekam suara dan sebuah amplop. Perhatianku tertuju pada amplop yang diletakkan di lapisan paling bawah dari segala benda yang ada di kotak itu.

Tiffany menatap nanar ke arahku ketika aku membuka segel amplop yang tampak lusuh tersebut. Sebuah kertas coklat kusut menyembul dari baliknya. Aku kembali membuka bagian dari amplop itu, kali ini lipatan kertasnya. Sungguh, perasaanku tidak enak sekarang. Aku berpikir hal buruk akan terjadi. Ya, aku yakin hal buruk terjadi atau mungkin telah terjadi.

Dengan tangan bergetar, aku mulai membacanya.

‘Hai, Dara. Jika kau membaca suratku, itu tandanya aku sudah tiada.’

Tiada?

‘Sebelumnya, maafkan aku karena meninggalkanmu tanpa berpamitan terlebih dahulu. Maafkan aku juga karena tidak bisa berterus terang. Maaf karena menggunakan surat sebagai pesan terakhirku. Jadi, sebenarnya, aku mengidap penyakit kanker hati.’

Sungguh. Ini dari Jiyong? Apa yang terjadi padanya? Ini lelucon, ‘kan?

‘Aku tidak bermaksud menjadi orang jahat karena tidak menjelaskannya kepadamu. Aku hanya tidak tega melihatmu menerima kenyataan kalau umurku tak lama lagi. Kau berkata, kau ingin aku selalu berada di sisimu. Kau ingin aku terus membuatmu tersenyum. Dan, kau tahu kenapa aku tidak menjawabnya? Karena aku tidak yakin bisa melakukan dua hal itu. Bagaimana aku akan membahagiakanmu jika hubungan kita diakhiri dengan perpisahan? Tahukah kau seperti apa rasa sakit yang kurasakan setiap aku mendengar ucapanmu? Tahukah kau seperti apa rasa sakit yang kurasakan setiap melihat senyummu? Mungkin aku senang kau bisa tersenyum. Tapi, apa yang dapat kulakukan ketika kau kehilangan senyumanmu padahal kau berkata aku adalah sumber senyumanmu sementara aku sendiri tidak bisa berada di sisimu selamanya? Ini menyiksaku, Dara.’

‘Aku merasa menjadi kekasih yang tidak berguna. Aku tahu kau akan bersedih ketika mendengar kabar kematianku. Aku tahu kau tidak bisa menerimanya. Tapi, apa yang akan kulakukan untuk mencegahnya? Harus berapa kali lagi aku berdoa kepada Tuhan? Harus berapa kali aku berdoa kepada-Nya agar rasa sakitku menghilang sehingga aku bisa hidup lebih lama bersamamu? Maaf, aku berbohong kepadamu. Aku selalu berkata kondisiku baik-baik saja, padahal tidak ada satu pun hal baik yang terjadi padaku. Aku kesakitan dan merasa sekarat setiap saat. Maafkan aku, Dara.’

‘Pada awalnya, aku sudah memberimu isyarat akan kepergianku, oleh karena itu aku memintamu untuk tidak menungguku. Seperti apa yang kau katakan tentang perpisahan yang disebabkan oleh kematian-seberapa lama kau menungguku, seberapa besar kau merindukanku, aku tidak akan pernah bisa kembali padamu. Aku tahu, kau akan menjadi salah satu diantara orang-orang itu. Maka, di kehidupanku yang terakhir, aku ingin kau hidup lebih baik. Ya, akulah orang yang mendonorkan korneaku. Akulah orang itu. Sekali lagi, maaf. Maaf karena aku bukanlah orang yang pertama kali kau lihat. Aku sempat berpikir, bagaimana kau akan melihatku ketika aku sudah tiada? Bagaimana kau bisa melihatku? Sebagai gantinya, aku menyimpan beberapa fotoku di kotak ini. Kuharap, foto itu bisa mengobati rindumu.’

‘Sebenarnya, aku merasa bersalah karena mencintaimu. Cinta saja tidak cukup, Dara. Kalau ada cinta tapi tidak ada kehidupan, siapa yang akan membawa cinta itu? Siapa yang akan menjadi penyampai cinta itu? Aku membuatmu tersenyum dengan cinta dan membuatmu kembali bersedih dengan cinta. Detik terakhir kehidupanku dipenuhi rasa bersalah.’

‘Aku mengingat pertemuan pertama kita. Aku langsung menyatakan perasaanku padamu. Kau harus tahu, aku melakukannya bukan karena berbagai macam alasan. Aku melakukannya karena kupikir inilah takdir Tuhan. Dia ingin aku bertemu denganmu dan aku sangat bersyukur untuk itu. Kau yang terbaik. Selamanya akan menjadi yang terbaik.’

‘Hiduplah dengan senyuman, Dara. Kau tidak perlu bersedih karena kepergianku. Kau harus melanjutkan hidupmu. Jangan pernah menyia-nyiakan hidupmu. Percayalah, cintaku selalu menyertaimu, entah aku ada di sampingmu atau berada di tempat yang jauh. Sama seperti aku yang pergi selamanya, cintaku pun akan tetap untukmu selamanya. Aku mencintaimu, Dara. Hiduplah dengan baik. Aku pergi. Tertanda, Kwon Jiyong.’

Jiyong belum meninggal. Aku percaya itu. Dia masih ada. Apakah aku benar? Aku menatap Tiffany yang tengah menangis sesenggukan. Aku merasa gila sekarang. Tidak ada yang bisa kulakukan selain termenung dengan surat yang masih kugenggam. Tak lama, pandanganku mengarah pada alat perekam suara.

Dengan mata sembap, aku meraih alat perekam itu. Aku menekan tombol play.

‘Hai, Dara. Aku menulis sebuah lagu singkat untukmu.’

‘Jangan ucapkan kata maaf
Bagiku, cinta belum berakhir, namun
Jika kita berpisah dengan cara seperti ini
Bagaimana? Apa yang harus kulakukan?

Hanya ada satu cinta namun aku tak dapat mencintainya
Aku benar-benar ingin melakukannya, tak dapat kulakukan
Cinta perlahan-lahan menjauh, tak dapat ku jaga dan membuatku menangis

Meskipun cinta itu menyakitkan, tak mengapa
Meskipun aku menghapus cinta terakhir di hidupku, aku tak bisa menghapusnya karena itu dirimu
Meskipun takdir itu menyedihkan, aku tak bisa membiarkanmu pergi, aku mencintaimu, karena itu dirimu’

Tidak berhenti di sana, aku segera membuka buku catatannya. Beberapa halaman dari buku itu dipenuhi darah. Di lembaran-lembaran berikutnya, tidak ada yang tertulis selain namaku. Ribuan namaku tertulis di sana. Dia menulis namaku di buku catatannya. Buku itu penuh dengan namaku. Jiyong tidak menulis apapun di sana.

Tangisku pecah di taman itu. Jadi, selama ini aku menunggu seseorang yang sudah meninggal? Aku menunggu Jiyong-orang yang tidak akan pernah kembali meski aku menunggunya sampai akhir hayatku? Jadi, aku salah satu dari orang-orang itu? Orang yang ditinggalkan oleh seseorang yang disayanginya? Seseorang yang berpisah karena kematian? Apakah Tuhan mengira ucapanku doa? Tidak benar, ‘kan? Jiyong tidak meninggal, ‘kan? Dia sedang bercanda, bukan begitu?

“Aku tahu, Jiyong tidak pergi. Kau harus jujur kepadaku, Tiffany.”

“Jiyong meninggal, Dara. Sudah 10 bulan lalu.”

“Kenapa kau tidak menjelaskannya kepadaku? Kenapa?” protesku yang terus menggila.

“Karena dia tidak ingin kau bersedih.”

Cukup! Aku tidak peduli dengan penjelasan Tiffany. Aku tidak peduli. Sekeras apapun aku mendengarnya, kenyataannya tetap sama-Jiyong sudah meninggal. Tidak! Tuhan, tidak! Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa takdirku sangat menyedihkan?!

Aku berjalan terhuyung ketika menemukan nama Jiyong yang terpahat di batu nisan berkuran besar di hadapanku. Kakiku bersimpuh tepat di atas gundukan tanah itu-tempat Jiyong tertidur di bawahnya. Tubuhnya tengah beristirahat di sana dan rohnya tengah melihatku dari surga. Ternyata ini bukan candaan. Tak ada yang bercanda dengan kematian.

Senyumanku hilang untuk yang kedua kalinya.

***

“Ya, acara ulang tahun ke 22 Dara akan dimeriahkan oleh sang tuan rumah dari pesta ini sendiri, kita saksikan alunan piano indah dari Sandara Park!!” Seru Seunghyun dengan suara menggelegarnya sembari menunjukkan jarinya padaku.

Sekarang tanggal 12 November-kalender menunjukkan bahwa hari ini aku berulang tahun. Aku sudah mempesiapkan segalanya matang-matang. Selain hari ulang tahunku, hari ini bertepatan dengan dua tahun meninggalnya Jiyong. Saat ini aku siap dengan gaun putihku. Aku siap mengantarkan laguku ke surga. Aku berharap dia bisa mendengarku.

“Pertama, terima kasih kepada semua teman-temanku dan tamu-tamu lainnya. Saat ini, aku berdiri di sini untuk memainkan lagu ciptaanku sendiri. Aku menciptakan lagu ini untuk seseorang yang sangat kucintai. Dialah orang yang telah memberiku kesempatan untuk melihat. Dia mendonorkan kornea matanya kepadaku.” Aku tersenyum pilu ketika mengingat kenanganku bersama Jiyong. “Dia orang yang merubah duniaku. Dia orang yang membuatku merasakan kasih sayang. Dia orang yang pergi meninggalkanku untuk selamanya.”

Pandanganku beredar pada semua orang yang duduk di dalam gedung tempatku merayakan pesta ulang tahun. Mereka diam tak berkutik, tak bicara dan hanya fokus memandangku dengan tatapan iba. Ya, mereka merasa kasihan padaku. Mereka kasihan karena aku mengalami hal itu, sebuah perpisahan yang disebabkan oleh kematian. Perpisahan yang sejujurnya tidak pernah kuharapkan. Terkadang, Tuhan memang memiliki kehendak tersendiri.

“Aku menunggunya lama. Sangat lama. Dan, aku akan tetap menunggunya meski itu sampai akhir hayatku. Melalui lagu ini, aku ingin mengutarakan isi hatiku, terlebih perasaanku kepadanya yang belum pernah kuucapkan lewat kata-kata. Lagu ini kupersembahkan untuk Kwon Jiyong, kekasihku.”

Matamu luar biasa bengkak hari ini
Aku yakin bahwa kamu menangis sepanjang malam
Kamu ingin mengatakan sesuatu padaku tapi aku tak bisa mendengarnya
Sekarang, aku kembali khawatir

Sepertinya kamu akan menangis kapanpun lagi
Jadi, aku tidak bisa mengatakan apapun padamu
Pegang tanganku seperti kau ingin mempertahankanku,
lalu kau menghilang dibelakangku

Tulisanmu yang acak
Surat itu, aku membacanya
Dan aku mulai tak waras
Aku mencoba mencarimu, tetapi
Angin dingin membuatku tak berkutik
Menyapu ujung hidungku seperti mengatakan padaku
Kau ingin pergi dan memintaku melepaskanmu
Kumohon, kembalilah

Cahaya matahari tampak bersedih
Setiap hari tanpamu
Aku mencintaimu namun, dalam beberapa hal, cinta saja tidak cukup
Kau, aku, kita

Sepertinya aku akan menangis kapanpun lagi
Aku memikirkanmu lagi
pegang tanganku seperti kau ingin mempertahankanku
kau yang meninggalkanku

Tulisanmu yang acak
Surat itu, aku membacanya
Dan aku mulai tak waras
Aku mencoba menghubungimu, tetapi
Angin dingin membuatku tak berkutik
Menyapu ujung hidungku seperti mengatakan padaku
Kau ingin pergi dan memintaku melepaskanmu

Ya. Jiyong pergi begitu saja tanpa berpamitan, tanpa berterus terang dan tanpa petunjuk yang jelas. Dia menuliskan pesan terakhirnya di sebuah surat dengan kertas coklat lusuh yang dipenuhi noda darah dan air mata. Melalui surat itu, dia membuatku terpukul. Melalui surat itu, dia membuatku gila. Melalui surat itu, dia mengambil senyuman dari bibirku. Melalui surat itu pula, dia mengucapkan selamat tinggal padaku. Sebuah ucapan selamat tinggal yang menyakitkan. Maaf. Hanya itu yang dapat kusampaikan. Maaf, aku belum sempat berkata padanya kalau aku juga menyukainya.

Jiyong, dapatkah kau kembali?

***

Note:

Halooo!!! Ceritanya kayaknya agak maksa, ya.. Overall aku mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Kalau boleh jujur, ini oneshoot pertamaku. Aku ngetik ff ini dua hari dan jadilah sesuatu yang seperti ini. Maaf, kalo kurang memuaskan. Ff ini murni ideku. Pikiranku akhir-akhir ini diisi sama hal-hal berbau(?) sedih, jadi bawaannya pengen nulis yang sad. Ff ku juga terkesan panjang pakek banget. Ya, aku hanya berharap kalian menikmatinya. Oh iya, ff ini juga merupakan selingan Bad Boy For Bad Girl. Waktuku terbatas buat melanjutkan cerita itu. Maaf, banget. Aku kelas 9 dan sedang disibukkan dengan IB juga belajar. Belum lagi sebentar lagi UAS. Okelah. Sekian curahan hati dari murid yang tersakiti :’v Aku menunggu comment kalian, guys. Lap yu ❤ Big hug and big love from me. Pyoonggg!

Advertisements

23 thoughts on “The Letter [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s