[Oneshoot] Friend Will Never Change

image

va panda present

***

Will you miss when i’m gone?

If you miss me, i’ll try to not let my back turn to you.

poster by : IndriDevagate

***

Friend Will Never Change

***

“Kemarin, teman sekelasmu itu mampir ke toko ibuku. Bagaimana menurutmu? Usianya sama denganmu tapi dia terlihat lebih dewasa.”

“Siapa? Si marga Lee itu?”

Kau menganggukkan kepalamu sebagai balasan. Air mukamu menandakan bahwa kau tengah berbahagia sekarang. Memberikan aku lukisan senyum lepas tepat saat wajahmu tersorot mentari senja, piluh di keningmu tak sedikitpun membuat kecantikanmu luntur. Kau justru terlihat semakin elok di mata.

“Jiyong, boleh aku minta minummu?”

Kali ini dahimu berkerut. Napasmu tersenggal karena kelelahan setelah tes lari selesai.

Aku bisa saja tak mengubris permintaanmu, setidaknya mengolok seseorang yang berusia di atasku sangat jarang dapat Aku temui waktu yang tepat. Namun … alih-alih menyembunyikan botol minumku, tangan kananku justru tergulur memberikan minuman mineral yang masih dingin padamu.

Lantas kau tersenyum dengan tak lupa memberikanku sensasi lain sampai perutku tergelitik.

“Temanku yang baik,” setelah melepaskan cubitan di kedua sisi pipiku, Kau mengatakan hal yang mengembalikan sadarku saat ini.

Ya. Posisiku memang hanya teman, tak akan lebih melewati batas itu.

“Eh? Bukan kah itu Chanyeol?” tanyamu dengan antusias setelah sukses air segar itu melewati kerongkonganmu yang kering.

“Ya, benar. Lagipula siapa lagi orang yang berlari terbirit-birit seperti menemukan idolnya?”

Kau tersenyum penuh kemenangan karena jelas Kau sudah tahu maksud perkataanku tadi. Tak membuang waktu lama, kau memberikan kembali botol minumku lalu berdiri dengan menepuk celanamu yang kotor meninggalkan rurumputan kering tadi.

“Ada apa?” kali ini Aku menemukan Dara tersenyum lembut di hadapan Chanyeol.

Gadis itu sedikit berlebihan. Tindakan manisnya barang sedikitpun pasti langsung membuat rona merah di kedua pipi Chanyeol. Lihat saja dia sekarang, kepalanya tertunduk menatap rurumputan dan Aku selintas menemukannya tersenyum dengan memeperlihatkan sederet giginya yang memang harus aku akui sangat rapi.

“Ini coklat untukmu, Dara noona.”

“Oh, terima ka-”

Chanyeol sangat tidak sopan. Dara belum sempat membalasnya, tapi pria tinggi itu justru lari meninggalkannya.

Aku kini berbalik menatap Dara, sekarang dia sedang memanyunkan bibirnya karena bingung tapi setelahnya fokusku beralih pada Chanyeol yang sudah cukup jauh di sana, saat pria itu berteriak nyaring sampai teman sekelas Dara yang sedang bermain bola mencibir ke arah Dara.

“DARA NOONA, SARANGHAE!”

Gila. Aku pantas menyebut Chanyeol seperti itu kan? Karena nyatanya urat malunya sudah terputus.

****

Lagi-lagi Kau mengeratkan jaketmu. Aku hanya mampu menghela napas risih. Kau menangkupkan kedua pipiku dan Aku dengan cepat dapat menyimpulkan perasaanmu saat ini setelah tangan dinginmu menyentuh pipi hangatku.

“Aku gugup sekali, Ji.”

Aku temanmu, jadi sebagai teman Aku memberikan apapun yang aku bisa untuk menyemangatimu.

“Kau pasti bisa. Peran utama sudah menanti sebagai posisimu nanti.”

Tak perlu seorang ilmuan meneliti sekalipun, Kau pasti mengulas senyuman di bibir merahmu dengan menyesampingkan rasa gugup yang mungkin sudah menjalar sampai kakimu kaku untuk melangkah.

“Sandara Park,”

Berkali-kali, Kau mengembuskan napasmu sebagai tanda untuk menghilangkan rasa gugup bercampur takut. Tak bermaksud untuk memakan waktu karena Miss. Ahn terus mengulang namamu, Aku menangkap kedua tanganmu.

Sejurus mata coklat kehitaman tertangkap pada retinaku, punggungku merasa linu saat itu. Pesonamu terlalu memenuhi lingkup ruangan ini. Aku terbuai dengan keindahan yang kau berikan sampai akhirnya hati kecilku memaksakan untuk memutuskan kontak mata denganmu pertama kali.

“Fighting! Kau pasti mampu melakukannya!”

***

Waktu sudah berlangsung cukup lama setelah Kau sukses mendapatkan posisi sebagai pemeran utama pada festival tahunan sekolah kita, Aku dan Kau juga otomatis jarang bertatap muka.

Banyak guru juga para siswa maupun siswi mengeluhkan kemahiranmu saat di panggung. Sekarang yang Aku lihat adalah seorang putri dalam pementasan juga terjun ke dunia nyata.

“Jiyong!”

Suara lantangmu menyusup ke pendengaranku. Tak ingin membuang harap, aku lekas-lekas berbalik dan hanya mampu menampilkan senyum kecut sekalipun pria bernama Lee Seungri yang tengah merangkul bahumu mencoba untuk merentangkan tangan seolah mengatakan ‘selamat datang di dunia kami’ padaku.

“Oh, hai Noona!”

Sekelibat Kau mengernyitkan dahi saat Aku menyapamu dengan formal. Sekalipun kakiku terasa berat, tapi justru mencoba melangkah ke arahmu. Selintas aku melihat gadis-gadis tenar di sekolah kita berbisik ke telingamu tapi kau justru bungkam menunggu kedatanganku.

“Hai Noona,” sekali lagi aku menyapa.

“Dara? Kau tidak pernah mengatakan bahwa memiliki kenalan adik kelas jenius sepertinya.” Salah satu gadis berambut panjang bertanya padamu tapi kau justru meringis. Tampak dari raut wajahmu kalau kau tak setuju dengan pernyataan mereka. Jelas kau tahu, aku selalu merajuk untuk membuatmu datang ke rumahku dengan alasan belajar bersama tapi nyatanya … aku justru mengajakmu bermain games.

“Jiyong, sekarang kau ingin bergabung dengan kami?” Pria jangkung dengan suara berat menyipitkan mata ke arahku. Jelas dari pantulan matanya dia mengolokku.

Aku hanya tersenyum sopan padanya. Dara membulatkan mata padaku seperti ingin menemukan jawaban dari Seunghyun hyung padaku.

“Jadi Dara, mungkin kau bertanya-tanya kenapa TOP hyung berkata demikian ‘kan? Itu karena, Jiyong selalu menolak bergabung dengan kami. Katanya, menjadi tenar itu merepotkan.”

Menghela napas dengan puas, aku membungkukkan badan sedikit ke arahmu dan teman barumu.

Satu pelajaran yang sudah bisa aku mengerti adalah … kita tidak akan lagi menghabiskan waktu bersama untuk membicarakan alasan apalagi perihal cerita yang tak penting.

Aku membaca ekspresimu. Di sana ada rasa kesal karena yang jelas, aku menyembunyikan sesuatu padamu.

“Kwon! Kita perlu bicara!”

Terdengar lucu. Kau memanggil margaku dengan mudah mengartikan bahwa Kau marah.

***

“Kenapa?”

“Apa maksud dari pertanyaanmu, Noona?”

Dara berdiri kaku. Kepalanya tertunduk, enggan bertemu muka dengan wajahku yang kini menatap penuh pada dirinya.

“Bahkan Kau sekarang berbicara formal seperti ini.”

Dara kini menjuruskan matanya padaku. Aku memang terus menatapnya dalam tanpa membuang detik mengalihkan pandangan, namun Aku baru tahu bahwa air matanya telah meluncur di kedua sisi pipinya.

“Hey, mengapa menjadi cengeng seperti ini.”

Bermaksud menenangkanmu, seperti biasa dadaku menjadi sandaranmu. Tak peduli beberapa pasang mata menyaksikan kami berdua berpelukan, aku masih berusaha menenangkannya dengan mengelus lembut punggungnya sampai terasa ia berhenti terisak.

“Maafkan aku jika memang aku salah, Jiyong. Aku tanpa sadar mengacuhkanmu. Kau seorang pria yang dingin. Bukan seperti teman yang sama seperti aku kenal, Kwon Jiyong yang tidak pernah hormat padaku sekalipun aku lebih tua darimu … aku merindukanmu yang dulu, Jiyong.” Dara telah berbicara banyak sekalipun kepalanya masih bertumpu di dadaku.

Aku lebih memilih untuk diam. Menghembuskan napas setidaknya menjadi caraku untuk mencari alasan dari jawabannya. Aku masih berdebat dengan diriku sendiri. Dara memang benar, aku sengaja menjauh darinya karena mungkin Dara sudah tidak membutuhkanku tapi nyatanya aku salah mengasumsikan dirinya. Dara hanya terlalu buta akan situasi. Dara hanya terlalu lama memakan waktu dengan teman baru dan bodohnya, aku mencari jalan lain untuk menjauh darinya.

“Aku temanmu yang buruk, Dara.”

“Tidak. Itu tidak seperti itu. Aku yang salah dan mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika itu yang terjadi padaku.”

Masih sedikit terdengar sendu dari suaranya, aku menghela napas dengan berat. Teman tak selamanya akan ada waktu untuk temannya bukan? Tapi tidak dengan kami.

Seluruh orang di sekolah ini bahkan sudah sangat sering melihat kami berdua.

Sejak dulu, Dara dengan pesonanya sudah menghindari banyak pria dan dia lebih memilih Aku seorang temannya sampai membuat pria-pria yang mengagumi Sandara mencapai pada emosi.

Katakanlah bahwa aku egois hingga akhirnya aku mencampakan kekasihku demi temanku juga.

Kami menghabiskan waktu sangat lama dengan kondisi pertemanan yang bahkan sudah aku akui bahwa aku telah salah mengartikan hubungan kami berdua.

Jika aku menaruh ekspektasi lain padanya … mungkinkah Dara dapat menerima?

“Dara, Aku rasa ini salah.”

“Apa yang salah, Jiyong?” perlahan Dara melepaskan pelukannya lalu menatapku dengan tanda tanya besar di sana.

“Aku mencintaimu, Dara.”

Sejenak hening tercipta pada kondisi saat ini. Aku menunggu setidaknya satu patah kata dari mulutmu, namun yang aku tunggu justru tak juga datang.

Dara justru memalingkan wajahnya padaku tanpa mampu aku baca arti dari segalanya. Namun yang dia lakukan setelahnya adalah memundurkan langkahnya, mengibaskan lenganku yang mencoba menggapainya, dan tak lama … Dara berucap dengan dingin. “Ya, ini memang salah.”

Ada sedikit rasa sakit saat telapak tangannya menampar pipi kiriku. Aku tahu dan Darapun demikian, ini memang salah karena dari awal seharusnya aku membiarkan hatiku terisi dengan gadis lain hingga akhirnya bukan Dara yang mengisi ruang di hatiku.

Aku menyesal tapi ini jalan yang benar.

“Kalau begitu. Hiduplah masing-masing sebelum kau menemukan wajahku di hadapanmu, jangan mencoba untuk menampakkan punggungmu ke arahku karena itu akan membuatku ragu, Dara”

Setelah itu, aku menemukan diriku berbalik meninggalkannya sendiri. Tak berbeda dengan yang aku lakukan, terdengar kakinya berlari menjauhiku.

Memang aku rasa, langkah ini adalah cara yang aku lakukan sejak awal.

Sampai aku pergi meninggalkannya di Seoul sampai sosok dirinya telah memudar di ruang hatiku.

FIN


Well, nulis di hp bukan perkara mudah kalo gak biasa ternyata. Banyak terimakasih buat indri udah buatin poster yg sebenernya udah lama dibuat tapi terkendala karena laptop rusak -_- dan perlu diingetin lagi yah…. cepet kirim ff kalian buat di lombakan. Oke, aku niat nih hari ini cari-cari inspirasi terus lanjut nulis. Yuk! Kita bareng-bareng secara jarak jauh

Advertisements

15 thoughts on “[Oneshoot] Friend Will Never Change

  1. hikssssss author-nim nyesek banget ceritanya. tapi bagus! gak mainstream, cuma ngarepnya sih daragon bersatu dengan jalan apapun/? ending nggantungnya jadi ciri khas dari author vapanda, hehe..

  2. Ehm, paling dara unnie suka sama jiyong oppa tapi nggak mau ngaku paling :v #maksa_ngubah_jalan_cerita😆 bercanda, unnie deul #peace✌ tapi, mereka cuman jadi temen doang ya? nggak lebih gitu? tapi tetep keren kok meski agak nggantung ceritanya(?) maafkan sayaa, author unnie😣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s