[Oneshoot] Promise

promise

PARK SANDARA | KWON JIYONG | KIM SOO HYUN

Vignette    Romance, Slice of Life, Sad | G

©2015, Haru and VA Panda

Note : Bisa kalian sebut ini dengan ff kolaborasi xP


Tak peduli sekalipun waktu telah beranjak sampai hampir menyesap di antara pergantian empat musim berlalu, Dara tetap menengadah ke depan sekalipun Ia dibatasi dinding transparan. Dara masih tetap melengkungkan senyum. Suatu senyum di mana Ia masih menaruh ekspektasi pada seorang yang justru membuatnya demikian. Merengkuh seribu harap di langit angkasa, di antara banyak pernik bintang di sana, Dara masih terus menunggu satu bintangnya kembali menemuinya.

Setiap orang yang mengenalnya menatap rapuh sekalipun Dara melontarkan tawa lepas, mereka yang terdekat kadang lebih tahu dibandingkan pemikiran diri Dara sendiri. Chaerin adalah salah satu temannya. Gadis itu terkesan hangat dengan memperlihatkan kedekatannya pada seluruh keluarga Dara, namun satu hal yang tak bisa Chaerin tutupi adalah tidak akan bisa berkutik jika menyangkut Dara.

“Unnie, satu tahun yang pahit sudah Kau lalui. Tidakkah Kau bersedia untuk membuka hatimu untuk pria lain?”

Tentang rasa dan perasaan, terkadang orang yang dikenal bisa berbanding terbalik walaupun banyak simpanan topeng di lemari kaca.

Untuk Dara dan kisahnya, semua di mulai sejak dua tahun yang lalu atau bahkan tahun sebelum mereka memutuskan berpisah sejenak.

***

“Tidakkah Kau peduli denganku?” paru-parunya seakan kehabisan oksigen. Ia tertatih dengan menatap pilu pada pria yang sudah menghisi hidupnya selama ini. Hatinya sudah meluap dengan kehadiran pria tersebut, gendang telinganya sering kali berdengung menggumamkan satu nama yang sama setiap sekon detik hidupnya, bahkan hidungnya sudah nyaman menghirup semerbak parfum khas prianya. Tapi sekarang? Sekalipun pria itu menghunuskan seribu belati untuknya, Dara tak dapat berkutik selain memohon dan tetap mencoba mengerti kesibukan prianya.

“Dara, Aku sibuk,” tanpa perlu menghabiskan banyak tenaga, Jiyong melonggarkan dasinya. Tak sedikitpun arak matanya enggan menengok pada Dara di hadapannya.

Jiyong tahu, Dara tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya tapi Ia terlalu penat dengan berbagai tumpukan berkas di meja kerja yang telah tergores tinta olehnya dan jika Ia banyak bicara, mungkin itu akan menjadi pintu masuk pertengkaran mereka. Pria itu memilih untuk tidak perduli juga mencoba tak acuh sebanyak yang Ia bisa sedangkan Dara di depannya telah menganak aliran air mata di permukaan pipi.

“Aku sudah mencoba mengerti, Jiyong. Tiga tahun, bukankah itu waktu yang lama untuk Aku tidak terlalu berharap banyak untukmu? Sekalipun Kau sibuk, tidakkah Kau bisa meluangkan waktu untuk kita berkencan?”

Samar-samar, Dara melihat Jiyong menumpukan kepala pada meja kaca dengan lelah. Dara menunggu balasan dari Jiyong, namun pria itu masih tetap memberikan ceritanya pada meja kerja. Gadis itu terlalu lelah, tak banyak kata setelah Ia tak dapat mengatur napasnya dengan baik.

Jiyong berbeda atas setiap perilaku di depannya.

Pria yang dipandang dengan tatapan buram oleh Dara seperti refleksi dari pria asing yang tak sengaja Dara kenal kini.

“JIYONG!”

“APA MAUMU, DARA!”

Tangisnya pecah. Dara amat tahu jika Jiyong sangat membenci jika dirinya mendapatkan oktaf lebih dari seseorang tapi Dara juga benci dengan Jiyong yang seakan tak merasakan kehadirannya.

Bagi Dara, Jiyong adalah yang pertama membuat dirinya untuk mengenal arti dari sebuah kata sabar tapi kali ini ia terlampau kesal dengan Jiyong yang tak bisa mengerti dirinya. Jiyong terlalu egois tanpa memperdulikan apa yang harusnya mereka ciptakan dari suatu hubungan kekasih. Tidak terlalu banyak kebahagiaan setiap harinya untuk Dara namun Ia terus bertahan.

Dara terus bertahan dan Jiyong … enggan untuk mempertahankan apa yang Dara perjuangkan.

“Kalau begitu,” Jiyong mencoba menyembunyikan emosinya yang membludak. Ia menatap Dara, tak memperdulikan bekas air mata seorang gadis, Jiyong melanjutkan, “kita selesaikan hubungan kita.”

“Kenapa? Apa karena menurutmu Aku tidak mencoba mengertimu lebih dari ini? Kenapa?”

“Tidak banyak alasan yang Aku punya Dara. Ada baiknya kita saling menenangkan pikiran kita masing-masing.” Bisa dengan mudah Jiyong melontarkan pernyataannya. Ia berjalan mendekat kearah Dara yang berdiri kaku menahan tangisan lain yang lebih menyakitkan.

Jiyong merengkuhnya, memeluknya dengan hangat sekalipun itu sangat menyakitkan bagi Dara tapi bahu Jiyong menjadi penghilang resahnya sejenak. “Ingatkan janji saat kita pertama menjalin kasih? Aku harap, dalam waktu dua tahun ke depan, Kau masih tetap menungguku dan kita bisa melanjutkan hubungan kita Dara.”

***

Hampir setiap malam yang Jiyong punya dihabiskan pada tempat yang sama. Gemerlap sorot lampu bar sudah menjadi teman bagi Jiyong. Bayangan Dara terkadang sering mengusik pikirannya, tapi yang Jiyong bisa lakukan hanyalah menyegak berbotol minuman keras untuk membuatnya lupa akan hal yang Ia sesalkan.

Dara. Gadis berhati lembut itu baru disadari oleh Jiyong bahwa dirinyalah yang memegang bangku kemudi hingga kisah mereka masuk ke dalam juram. Dia menyesal, pada akhir cerita, Jiyong tersadar akan sikapnya yang tidak sebanding dengan semua kesabaran Dara selama ini.

“Dara-ah,” suara seraknya terdengar getir.

Jiyong kembali memandang dengan buram pada langit temaram bar. Di sana, bayangan Dara tengah tersenyum padanya bersama kilasan masa lalunya yang indah. Dara begitu hangat seperti aroma bunga di musim semi.

“Dara…” tanpa tersadar Ia membalas senyum bersama kepalanya yang menengadah langit bar tadi.

“Jiyong? Mau berdansa?”

Kiko. Gadis bertumbuh langsing itu terus meliukkan badannya pada Jiyong yang tengah terduduk. Tangannya membelai punggung Jiyong sedangkan bibirnya tanpa sabar mencuri kecupan pada wajah Jiyong yang terjangkau olehnya.

“Ji,” sekali lagi Kiko bertanya dengan perasaan yang campur aduk, sekarang.

Jiyong sama sekali tidak merespon seperti biasa. Kiko hampir kesal karena bagaimanapun ini adalah waktu untuknya setelah dua hari terakhir, Jiyong menghabiskan waktu dengan Choi Sulli yang terus menyombongkan diri pada Kiko bahwa Jiyong menghabiskan malam panjang di apartemennya.

“Biarkan Aku sendiri,” Kiko tersadar dari lamunan setelah Jiyong mendorong Kiko dengan malas.

“Hey, tapi ini waktuku denganmu.” Tak habis kata, Kiko menyuarakan bibir semerah darah itu di dekat telinga Jiyong berharap Jiyong akan ikut menari dengannya di lantai dansa atau bila perlu ke tempat lain yang memabukkan.

“Kiko! Biarkan Aku sendiri!”

***

“Namanya Kim Soo Hyun. Mahasiswa semester akhir ilmu hukum. Dia itu sopan, santun, baik, tampan dan bahkan semua mahasiswi di kampus terpikat olehnya ….”

Dara mengulum senyum. Dia masih terus melihat pada selimut salju di pekarangan rumahnya dari balik kaca jendela kamar Chaerin. Waktu sudah berlangsung selama satu tahun setengah dan selama itu pula Ia tidak sekalipun berkontak dengan Jiyong bahkan bertatap muka sekalipun mereka belum pernah. Memang sempat suatu waktu, teman kampusnya mengajak Dara berjalan-jalan di dekat kantor Jiyong dan saat itu sekilas Dara melihat Jiyong dengan seorang gadis berambut panjang kecoklatan tengah tertawa bahagia namun Dara berpikir tentu itu bukanlah Jiyong –bukan Jiyongnya, bukan Jiyong yang Ia kenal.

“Unnie! Apa Kau mendengarku, huh?”

“Ya? Um … tentang Soo Hyun bukan?”

“Iya. Kau masih mendengarku ternyata. Jadi apa Kau mau?”

“Huh? Mau … apa maksudmu Chae?”

“Maksudku, apa Kau mau berkencan buta dengan Soo Hyun oppa?”

***

Di langit sana, bersama udara yang menguar setelah deru napas hangatnya beradu lembut dalam pekatnya malam … Dara tersadar akan suatu hal. Seperti apa yang dikatakan Soo Hyun kepadanya, milyaran janji yang terlepas suka rela dari mulut manusia telah menatap muka langit tanpa memandang waktu juga tanpa memandang logika karena hanyalah langit yang menjadi saksi. Semua membisu, jika manusia justru lebih hebat mempermainkan janji yang ia buat dari bibir manisnya yang dulu -sama seperti Jiyong kepadanya.

“Dara-ah?”

Pria berdasi dengan jas hitamnya menyapa bersama senyum hangat ke arah bias muka Dara di cermin persegi. Membalas dengan rentetan hangat yang sama, Dara menyapa tangan sang pria yang diberikan untuknya.

“Tidak seharusnya kau menemuiku, seharusnya kau tetap menunggu di bawah bersama keluargaku yang lain.”

“Jika boleh jujur, itu sangat membosankan dan hanya dengan itu kau bisa membuatku mati penasaran menunggu persiapanmu yang menghabiskan banyak waktu sampai otakku memanas.”

“Oh, apakah kau berkata sungguh-sungguh?”

“Dan apakah wajah yang kau lihat seperti tengah berbohong?”

“Tidak sama sekali, hanya saja … cukup aneh untuk orang–“

Dara. Kedua sisi pipinya tengah berubah warna menjadi seburat rona merah nan lucu, matanya membulat tak percaya sedangkan pria dihadapannya justru tak membantu dengan mengubris tawa ringan seolah Dara baru mendapatkan perlakuan manis itu pertama kali setelah mereka telah mengenal dalam waktu setengah tahun.

“Kau … curang!”

“Bahkan hanya ciuman singkat bisa membuatmu sangat lucu dihadapanku.”

“Soo Hyun-ah,”

“Apa kau ingin membiarkanku menghabiskanmu sekarang juga atau hanya mengambil tanganku untuk kita bertemu dengan yang lain, huh?”

“Tentu! Aku akan turun setelah sepuluh menit kau menutu pintu kamarku, ok?”

“Baiklah, tapi jangan terlalu lama karena mungkin saja aku akan berubah pikiran.”

Langit tak mampu bersuara ataupun bertindak tapi pada waktu, ia dapat mengubah pada masa selanjutnya namun tak bisa untuk memposisikan dirimu ke waktu sebelumnya -masa lalumu. Dua tahun telah berlalu, sesuai dengan harapan kosong yang selalu ia pegang teguh akhirnya Dara lebih mempersilakan seorang Kim Soo Hyun untuk mempersuntingnya sedangkan pria yang sangat lama Dara tunggu tak sedikitpun memperlihatkan kemunculan dihadapannya. Ia lelah, menghabiskan waktu seperti orang bodoh untuk menunggu orang yang ia harapkan sedangkan di depan matanya sudah terlihat dengan jelas ada pria yang menunggu dengan memberikan sandaran untuknya.

“Jiyong-ah, mianhae ….” air matanya mengalir lembut di pipi. Lewat jendela kaca kamar yang ia buka, ia menangis saat melihat sosok Jiyong yang lemah menghadap ke arahnya dengan tangan kanan memegang sebungket bunga kesukaan Dara.

Sudah terlambat. Meskipun hanya satu detik yang Jiyong lepaskan, namun Dara telah memilih sosok Kim Soo Hyun untuknya.

-the end-

A/N :
wakakakak alien – vampire, tau sendiri lah kalo berita ini lagi seru-serunya dari obrolan kita hehe
Awal mula sih, aku nentuin castnya bukan Kim Soo Hyun, tapi …. Bocin juga sama-sama setuju sama pembertiaan jadi berhubung ini fic kolab jadi yaudahlah yah ambil aja cast yang kita restui sama-sama.
Sebenernya lagi sih, ini ff udah lamaaaa kebangetan. Mungkin dari bulan Maret kali yang terus ada kendala laptop kelelahan dan kendala lupa naruh file dan karena gedek, di simpan aja di draf yang akhirnya baru ditengok lagi sekarang.

But, i hope u like our fic yaaah

DARAGON Hengsho!
-Bocin & Pinda-

Advertisements

23 thoughts on “[Oneshoot] Promise

  1. kok DARAGONnya gak bersatu sih unn……..huah…hiks hiks hiks.
    nyesekkkk…….kasihan jga pas ji bawa bunga buat dara…tapi daranya?… 😥
    ji nya jga sih kelamaan…… 😦

  2. Apaaaaaaa?? Kenapaaa soo hyun 😦 yg salah sih emang jiyong tapi kasian juga jiyongnya 😦
    Okee fix nangis bombay 😦

  3. ummm bersa nyata haha
    kim soo hyun yahh pria ini pilihan tepat dara unnie *evilsmile
    makanya Jidong jangan kelamaan
    ahhhh tapi aku masih tetap berharap DARAGON yang akan menikah di dunia nyata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s