PERFECT MATCH (Tweet 4.25.13) : Chapter #3

poster

perfect

True Tittle : Tweet 4.25.13

Author      : RuiShi

Link          : Tweet 4.25.13 on AFF

Translator : dillatiffa

Ampun~ jadi malu sendiri karena keluhan super panjang kemarin… Maaf ya… >.<

Ah, dan maaf juga karena semalam membatalkan niat saya untuk update gara-gara males ngetik… LOL

 ~ Injury ~

 

 

Dara dan Minzy sedang berada di gym, menjalankan latihan yang sudah mereka janjikan pada Hwangsabu-nim. Minzy yang sudah selesai dengan treadmill, mengecek ponselnya yang tadi menerima pesan sebelum dia mulai lari. Dia melihat kearah Dara dan membuat gerakan seolah melepas airphone – dan Dara langsung paham kemudian melepas airphonnya.

“Ada apa, Minji-ah?” tanya Dara masih berjalan di atas treadmill.

“Jiyong oppa keseleo dan kakinya terluka.” Beritahu Minzy dengan perhatian tercurah pada ponselnya. “Deuky bilang padaku…” dia berhenti begitu mendengar suara keras sesuatu – atau seseorang – terjatuh ke lantai. “Dara unnie?” dia mengalihkan pandangan dari layar ponsel, dan menatap Dara yang buru-buru bangkit dari lantai.

Dara tersenyum canggung dan menghentikan mesin. “Aku memencet tombol yang salah. Tenanglah, aku tidak apa-apa. Aku akan pergi mandi dulu dan melihat jadwalku. Sampai ketemu nanti, Minji-ah!”

Minzy mencoba menahan tawanya. “Kenapa kau berusaha menutupinya? Sekarang, kau benar-benar lucu, unnie. Sudah jelas-jelas kau cemas!”

**

“Ahhhhh… tunggu… ahh… tunggu…” Jiyong merintih pada Sabu-nim.

“Jiyong, kita bisa kembali kesana lagi tapi kau tidak akan bisa perform.” Sang pelatih YG memberitahunya.

“Itu bukan pilihan. Kumohon, aku harus keluar. Tenang tidak akan terjadi apa-apa. Cukup berikah aku penghilang rasa sakit.” Pintanya lagi.

“Ji, kelihatannya parah.” Yongbae berdiri disebelah Jiyong.

Manajernya turut berbicara, “Kalau kau ingin bisa tampil besok, kita harus…”

“Apa yang kau bicarakan? Itu bukan pilihan! Aku akan kembali kesana, entah kalian suka atau tidak! Aku harus perform didepan mereka, mereka sudah datang untuk melihatku dan aku tidak ingin mengecewakan mereka. Kumohon…” Jiyong hampir berteriak, putus asa ingin rasa sakitnya segera hilang.

Hwangsabu menyiapkan obat-obatan dan menyerahkannya pada Jiyong.

Dalam beberapa menit, Jiyong sudah siap untuk kembali ke panggung.

**

Jjangmae menyadari Dara terlihat kurang istirahat. Dia terus saja memandangi dan memeriksa ponselnya namun sepertinya gadis itu tidak mendapatkan apa yang dia harapkan. “Dara-ah! Ada masalah?”

Dara menghentikan kegiatannya dan melihat kearah Jjangmae. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkah. “Ngomong-ngomong Jjangmae, aku akan ke gym.”

“Tapi kau baru saja latihan!” protes Jjangmae. “Kenapa kau tidak pulang saja?”

“Aniyo, mungkin nanti. Aku hanya butuh sedikit latihan lagi. Tidak apa-apa, bukan masalah besar. Jangan khawatir. Bye!”

“Tunggu! Apa kita sudah sepakat masalah jadwal? Kau tidak ingin mengganti apapun?” Dara hanya mengacungkan ibu jarinya dan berlalu.

Jjangmae menatap punggung Dara lalu mengelus tengkuknya. “Ada apa dengan gadis itu? Apa dia ingin menjadi pegulat atau bagaimana?”

**

Dara menjatuhkan diri ke lantai dan menatap ponselnya. Gym benar-benar kosong sekarang. Dia kemudian melakukan perenggangan dan menatap ke cermin…

Dan mulai membuat wajah-wajah aneh pada bayangannya di cermin…

“Apa kau ingin bertengkar denganku? Apa masalahmu? Apa cemas menanti kepulanganmu masih belum cuku[? Apa kau masih harus… argh!” dia kembali menjatuhkan diri ke lantai setelah bertengkar dengan bayangannya sendiri.

Dara lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Kalau ada orang yang melihatku, mereka pasti akan berpikir mungkin aku sudah gila.” Matanya menangkap cctv. “Hmmm…” dia beranjak mendekati kamera dan mulai lagi membuat wajah-wajah aneh, seolah dia sedang bertengkar dengan seseorang.

**

Gedung YG, lantai 7…

“Menurutmu apa dia tahu kalau kita bisa melihatnya?” tanya Jinu kepada sang presiden saat dia melihat kelakuan ajaib Dara didepan kamera cctv. “Dia seharusnya tahu ini bukan 2ne1 tv atau semacamnya, iya kan?” Jinu menertawakan ekspresi Dara.

Sang presiden melihat kearah layar lalu tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ini mungkin gara-gara aku terlalu keras mempekerjakan mereka atau aku yang terlalu memberi mereka kebebasan. Terakhir kali, Jiyong malah melakukan tarian ritual tribal atau sejenisnya.” Jinu semakin tertawa keras.

“Kadang-kadang aku jadi berpikir ini bukannya perusahaan musik, tapi rumah sakit jiwa.” Jinu tidak bisa berhenti tertawa.

**

Dara kembali menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

“Apa yang sedang terjadi, Ji? Bagaimana kakimu? Kau pasti sedang kesakitan sekarang.”

Dia terus menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan mulai mengambil beberapa foto latihannya. Tiba-tiba, dia memiliki ide dan mendekati mesin treadmill yang tadi dia gunakan. Untung saja, catatannya masih ada. Dia beruntung tidak yang menggunakan mesin ini. Dara mengambil foto dan memposting di twitter – dia tujukan untuk Hwangsabu-nim.

“Jika jawabannya lama, kurasa aku baru boleh cemas.” Pikirnya. “Tapi jika dia cepat membalas, aku yakin semuanya baik-baik saja. Tentu saja, jika Jiyong tidak baik-baik saja, Sabu-nim tidak akan punya waktu untuk membalas twitter-ku, iya kan?”

Dan Sabu-nim tidak mengecewakannya – jawabannya langsung datang pada saat itu juga. Beberapa saat kemudian, Dony, satu dari kembar Kwon yang merupakan penari latar untuk Bigbang, bergabung dalam pembicaraan mereka tentang lari.

**

Minzy sedang mengecek twitter saat melihat postingan unnie-nya dan tertawa. “Jadi yang mereka bicarakan adalah tentang lari waulaupun padahal yang ingin dia tahu adalah keadaan Jiyong oppa. Pintar sekali, Dara unnie!”

**

Yongbae melirik kepada temannya. “Apa masih sakit?” jiyong menatapnya dan menggelengkan kepala.

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah mengabarinya kalau kau baik-baik saja? Mereka tahu kalau kau terluka.”

“Aku sudah memposting pesan di Line, kurasa. Aku tidak begitu yakin. Aku benar-benar berdebar-debar karena efek obat antibiotik yang kuminum tadi.” Jawab Jiyong.

“Kadang-kadang, kau ini bisa sangat telmi, ya?” komentar Yongbae, membuat Jiyong menatap temannya itu.

“Apa yang kulakukan?”

“Apa kau  sudah memeriksa pesanmu? Belum kan?” Jiyong menggelengkan kepalanya. “Aigoo, dia pasti sedang merasa sangat cemas sekarang.” Jiyong berpikir sejenak tentang orang yang Yongbae maksud ini. Apakah yang dimaksud adalah ‘dia’?

“Bagaimana kau bisa tahu? Dan kuharap kita sedang membicarakan tentang ‘dia’ yang sama!” Jiyong agak skeptis.

“Minzy memberitahuku untuk membahas tentang ‘dia’ begitu kau agak baikan. Katanya ‘dia’ bersikap agak aneh sejak dia tidak sengaja mengatakan kau keseleo.” Jiyong menggaruk kepalanya mendengar banyaknya kata ‘dia’ yang disebut dan Yongbae tahu temannya itu bingung.

“Kita sudah membicarakan ‘dia’ yang sama selama bertahun-tahun, dan bahkan kita juga menyanyikan tentang ‘dia’ dalam satu lagi. Jadi tolong jangan bingung!” mereka saling tatap dan kemudian tertawa.

Sesaat kemudian mereka berjalan keluar dari bandara, foto tentang G-Dragon menyebar di internet, dia tiba di bandara dengan senyum lebar di wajahnya bersama dengan sahabatnya dan sebuah aksesoris baru yang menambah gaya ‘swagger’-nya… sebuah tongkat.

**

Kembali ke gedung YG, Jiyong dan manajernya menuju ke studio. Dia meminta makanan dan minuman, sehingga manajernya harus kembali meninggalkannya. Setelah menutup pintu dan melihat ke sekililing ruangan, dia baru menyadari bahwa dia tidak sendiri. Sang artis muda tersenyum lebar dan langsung menelepon manajernya – memintanya pergi jauh sehingga akan kembali lebih lama. Dia butuh privasi sekarang.

“Aku tidak mau yang dari kafetaria, hyung! Terserah, aku tidak akan mempermasalahkan kalau kau membutuhkan waktu yang lebih lama! Terima kasih!” katanya pada penerima telepon dan langsung memutuskan sambungan kemudian meletakkan ponselnya di meja.

“Gwenchanah?” tanyanya sambil menarik sebuah tangan, meminta si pemilik tangan mendekat padanya.

“Bukannya aku yang harusnya bertanya begitu?” Dara menaikkan sebelah alisnya sambil memperpendek jarak mereka dan menggenggam tangan Jiyong. Dia membantu Jiyong duduk di kursi, dan langsung berjongkok untuk memeriksa pergelangan kakinya. “Chincha! Aku paham kau selalu memiliki passion dalam setiap yang kau lakukan, tapi jika sakit begini, jangan terlalu memaksakan diri, arasso? Kau menjadi alasan kenapa aku cepat bertambah tua!”

“Aniyo, semua orang bilang kau justru bertambah muda.” Dia mencoba bercanda tapi kemudian menyadari raut cemas di wajah Dara – hatinya justru langsung girang bukan main. “Mianhe, kalau aku membuatmu cemas.” Ungkapnya jujur. Matanya terpaku menatap Dara yang sedang melonggarkan ikatan tali sepatunya untuk membuatnya merasa semakin nyaman. Dara hanya tersenyum singkat dan mengambil tongkat dari tangan Jiyong, lalu meletakkanya di bahunya, berlagak seperti gangster. Jiyong harus memaksa dirinya untuk berhenti tertawa.

“Serius, tongkat ini, justru akan semakin meningkatkan egomu. Chincha!” Dara menatap Jiyong dan berpura-pura seperti sedang mengunyah permen karet dan memukul-mukulkan tongkat itu ke telapak tangannya.

“Kau masih ingin hidup, iya kan?” Jiyong tidak bisa menahannya lagi. Dia masih tertawa keras saat Tablo yang lewat di depan studio melongok kedalam, dan terkejut.

“Omo, apa yang sedang terjadi disini? Selamat datang kembali, Jiyong!” Dara tersenyum pada Tablo dan melambaikan tangan. “Apa dia sudah baikan sekarang?”

“Aniyo, Blo oppa! Dia hanya berpura-pura sakit. Dia hanya ingin mempunyai tongkat ini!” Dara tersenyum manis, sementara Jiyong berusaha menyembunyikan senyumnya.

“Baiklah, aku harus pergi dan meninggalkan kalian berdua di dunia kalian sendiri. Aku kurang tidur dan sedang tidak bisa memproses apapun sekarang. Senang bisa melihatmu Ji, Darong!” dia melambaikan tangan dan berlalu.

Dara kembali berjongkok didepan Jiyong dan meletakkan tangannya menyandar pada tongkat. “Sebaiknya aku kembali pada Teddy oppa.” Dia berdiri dan berjalan menuju ke pintu.

“Hei Ji?”

“Ne?”

“Terkadang, kau harus bersikap selayaknya manusia yang lain dan lupakan bahwa kau ini seorang selebriti. Tolong jangan lukai kakimu lagi. Koreografinya sudah cukup parah tanpa harus kau tambah dengan melukai dirimu sendiri.”

“Ya! Harusnya kau bersikap baik pada orang yang memakai tongkat!”

“Aku tahu, aku tahu, Grandpa!”

“Grandma!” Dara berhenti dan berbalik dengan mata membulat lebar.

“Tidak ada apa-apa. Ka!” Dara mengangguk dan pergi setelah menutup pintu.

Beberapa saat kemudian, manajer Jiyong kembali dan menempatkan makanan yang diminta di meja dan mereka mulai membahas tentang jadwal. Namguk menyadari Jiyong terlalu banyak tersenyum.

“Hei, apa kau sedang mabuk?” tanya sang manajer dengan wajah serius. “Apa kau terlalu banyak minum obat?”

“Eh?”

**

 

 

to be continue…

Rui's note >>
^.^
Thank you for reading!

WOW, sepertinya saya terlalu on fire pas translate cerita ini.. LOL kilat… >.< ada yang bingung, kenapa yang ini bisa cepet sementara HTSAL sama Phases lama?? Sedikit memberi alasan…

Model penulisan HTSAL itu kalo dianalogikan di sastra Indonesia, kaya jenis2 trilogi Cermin – butuh mikir panjang pas baca, emosi ikutan masuk, akhirnya pengaruh ke penggunaan bahasa terjemahan yang sok2 nyastra… Sementara Tweet ini modelnya kaya Season series-nya Ilana Tan – manis, slice of life, emosi tersampaikan, tapi tetap ringan… Sedangkan Phases, lebih karena saya harus melalui siklus proses mengkhayal – mengarang – menulis – membaca – hapus – ketik – hapus – ketik – baca – mengkhayal; dan itu terus muter.. Jadi kalo dibandingkan intensitasnya emang lebih cepet update yang terjemahan, karena karyanya sudah ada… XD

Oh ya, ada yang tanya *tapi maaf saya lupa gimana persisnya pertanyaannya*.. Biar saya jelaskan… Tweet ini adalah cerita fiksi yang mencoba mengadaptasi kehidupan real OTP, berbasis pada hal2 kecil yang terjadi disekitar mereka, yang coba Rui (author) telaah dalam bentuk narasi cerita. Jika bertanya benarkah ini terjadi? Mungkin saja… Apakah tweet mereka itu emang bener? Iya, memang bener. Tweet, IG, m2day, atau berita artikel yang ada disini memang benar adanya, dan disadur Rui sebagai bahan dasar cerita… Jadi yang bener nyata hanyalah sadurannya, sementara alur dan jalan cerita 100% imajinasi Rui… Jelas? ^_<

Please do:

1. Scroll kebawah, klik kotak komen

2. Tinggalkan komentar tentang cerita chapter ini

3. Gunakan nama dan akun yang jelas

Terima kasih…

<< Back Next >>

Buka lagi front page DGI dan baca aturan poin kedua >> RLC(stand for Read, Like, Comment).. artinya, buka DGI buat baca FF atau yang lainnya, Like yang sudah dibaca, dan terus ninggalik Komentar... Nggak susah kok aturannya...
Author-nya kan udah berbaik hati berbagi imaginasi, jadi nggak ada salahnya juga kan kalo sedikit ngasih support lewat like sama komentar...
Buat silent reader yang berpikiran 'aku udah komen, tapi nggak ada tanggapan.. aku kan udah capek2 komen,' dibalikin lagi, authornya udah capek2 ngetik berhalaman2, mau repot2 upload buat ngirim kemari.. mungkin aja authornya bingung nggak nemu balasan yang tepat buat komentar temen2.. tapi kami yakin kok, komentar yang masuk jadi support tersendiri buat authornya biar tambah rajin...
Satu hal lagi, bisakan kalau ninggalin komen pake nama? buat yang pake akun fb atau twitter, oke..kami ngerti.. nah, yang pake email buat, kasih nama sama alamat email yang valid ya.. sewaktu2 kami tetiba kami pengen pw-in postingan, kemungkinan besar bakal kami kirim via email..
Jadi kami harap, ikutin aturan diatas ya... RLC...

Admin.
Advertisements

61 thoughts on “PERFECT MATCH (Tweet 4.25.13) : Chapter #3

  1. tjieeeee… aku tuh sukanya kalo baca ngebayangin gimana ceritanya, unnie… jadi, kdg sampe senyum2 sendiri baca ini hehe

  2. Ih sumpah deh liat pasangan ini tuh bisa kering gigi, senyum2 tawa2.. apalagi di chapter ini liat kelakuan Dara yg aneh bin ajaib, omona!
    GD sepertinya mah seneng2 aja sakit klo diperhatiin sama ‘dia’ ahahahaa pembahasan yg lucu antara GD n Taeyang

  3. Bacanya smpe ketawa ngakak karna ngebayangin dara yang masang wajah aneh
    Padahal tinggal sms atau telpon tapi malah ribet” cari alasan lain

  4. Aigo .ngakak deh baca part ini..
    Dara eoni aiigo klakuan. A. Geleng” kepala deh.
    Gga kbyang sma prkataan jinu oppa klo yg’e tu RSJ.
    Shame snang hatii aqu mah mau msuk k. Sana. Hhaaahahaaa……..

  5. Aigo .ngakak deh baca part ini..
    Dara eoni aiigo klakuan. A. Geleng” kepala deh.
    Gga kbyang sma prkataan jinu oppa klo yg’e tu RSJ.
    Dngan snang hatii aqu mah mau msuk k. Sana. Hhaaahahaaa……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s