The King’s Assassin [Special Chapter] : The King’s Heir Part 2

 

TKH

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

“Sepertinya Pangeran sudah mulai belajar sekarang, Jeonha,” ujar Seunghwan kepada Raja yang sedang membaca beberapa laporan. Dia mengamati ekspresi sang Raja sebelum berdeham. “Aigoo, hamba sangat lega Anda bisa menghabiskan waktu bersama dengan Yang Mulia Ratu semalam. Sepertinya masalah telah terselesaikan,” kata sang Eunuch dengan nada senang, sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

“Diam,” kata Raja tanpa menatap Eunuch Seunghwan, membuat pria tua itu bingung. Kenapa suasana hati Raja masih saja buruk?

“J-j-eonha… apakah ada masalah—,”

Raja menggebrak meja dengan tangannya sebelum mendelik kesal kepada sang Eunuch. Dia menyipitkan mata dengan tangan mengepal dan gigi mengeram. “Jika kukatakan padamu apa yang terjadi kau harus bisa membantu atau aku akan menghukummu selama sisa hidupmu!!!”

Seunghwan mundur dan gemetaran, terpeleset pada kaos kakinya sendiri dan terjatuh di lantai, memohon ampun kepada Rajanya. “Jeonha! Aigoo, Jeonha! Hamba mohon kasihanilah hamba!”

“Anak itu benar-benar menguji kesabaranku. Beraninya dia menantangku, huh???” sekali lagi Raja menggebrak meja dengan marah.

“Jeonha, hamba mohon jangan marah, aigoo! Saya akan mencoba untuk menemukan jalan keluar! Apa yang sebenarnya terjado? Tolong beritahu pelayan Anda ini, apa yang mengganggu Anda,”

“Dia perlu didisiplinkan! Kau tahu, beraninya dia memelototkan matanya padaku saat dia sedang memeluk ibunya. Dan… itu… anak nakal itu… dia berani menjulurkan lidah padaku! Aku ini adalah Raja Joseon dan anak nakal itu berani bersikap tidak sopan padaku???”

“Jeonha, tolong tenanglah, dia adalah putera Anda!”

“Aku tahu! Dia adalah putraku! Dan aku sama sekali tidak pernah tahu sebelumnya jika aku memiliki seorang putra! Dulu ayah dan ibuku tidak pernah menghabiskan waktu denganku. Justru aku lebih banyak menghabiskan waktu denganmu! Para pelayan! Para Dayang Istana dan pengiringku! Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? Dia sangat beruntuk karena Ratu selalu memperhatikannya. Aku harus memberinya pelajaran. Dia harus belajar keras! Dia akan menjadi penerusku. Tidak boleh dia terus bersikap seperti ini!”

“Jeonha, hamba mohon cobalah untuk lebih mengerti.,” sang Eunuch mencoba menenangkannya. “Hamba akan mencoba mencari cara… hamba akan mencoba melakukan sesuatu, Jeonha. Hamba mohon pertimbangkanlah perasaan anak itu,”

“Mempertimbangkan perasaanya??? Apa menurutmu aku masih belum mempertimbangkan perasaannya??? Yah! Aku adalah Raja dan aku tidak menghendaki kelakuannya yang menyimpan! Dia perlu didisiplinkan!!!”

**

Sang Eunuch yang malang segera berlari kabur demi keselamatannya setelah berbicara demikian dengan Raja, dia memutuskan untuk menggelar rapat di Kantor Sekretariat Istana.

“Yang Mulia Raja sangat marah…” ucap Seunghwan tak berdanya kepada para rekan Raja. “Aku tidak bisa menenangkannya. Beliau bahkan marah padaku. Dan sekarang beliau sedang sibuk di kantornya.”

“Aigoo… kita tidak bisa menyalahkan Paduka. Kenapa Pangeran bersikap seperti itu?” Seunghyun bertanya-tanya. “Kurasa kita benar-benar harus mencoba remcana Daesung.”

“Rencana dari lulusan terbaik?” Seunghwan segera merangkak mendekati Seunghyun. Seunghyun menjawab dengan anggukan. “Kalau begitu harus kuta coba!”

“Apa kau yakin, hyung?” tanya Yongbae pada Seunghyun dan Seunghwan.

“Kita harus mencoba melakukan sesuatu. Lebih baik begitu dari pada melihat Jeonha semakin terpuruk saban harinya. Aku bisa melihat, kita semua bisa melihat bahwa beliau sangat terbebani oleh masalah ini. Beliau bahkan tidak memperhatikan saat sedang rapat.”

“Aku setuju. Mari kita beri Raja malang itu waktu istirahat.” Kata Seungri. “Tapi itu bukan berarti aku setuju dengan semua usulan Daesung. Rencana ketiganya membunuhku! Putriku sudah pernah sekali dilecehkan dan dia masih sangat muda. Aku bersumpat aku akan membunuh Pangeran nakal itu jika dia sampai—,”

“Yah, apa kau salah makan?” tanya Seunghyun pada Seungri. “Itu adalah kecelakaan. Lagipula, Hayi sudah diputuskan akan menikah dengan Taehyun saat mereka sudah besar nanti. Ingat istriku sudah merencanakan semuanya dengan Chaerin.”

“Aisht, kenapa kau malah mengomongkan masalah perjodohan saat kita sedang membahas masalah serius di sini? Sebaiknya kita fokus pada masalah ini,” Eunuch memarahi keduanya yang kemudian saling tatap menyalahkan satu sama lain.

“Jadi apa sekarang?” tanya Seungri, mencondongkan tubuhnya mendekat kepada para hyung-nya.

“Daesung sebenernya memiliki tiga rencana, jika gagal kita segera pindah ke rencana selanjutnya…” jelas Yongbae.

“Kedengarannya menarik… ceritakan lagi,”

“Pertama… kita harus berpikir lagi bagaimana Raja bisa berubah bersikap baik dulu. Kita semua tahu tentang sikap arogannya. Dan orang yang yang paling tahu tentang itu sudah ada di sini, bersama dengan kita,” kata Yongbae sambil melirik ke arah Seunghwan. Pria tua itu menelan ludah berat.

“Jika aku berjanji untuk memberitahu kalian bagaimana mendiang Raja terdahulu menangani Yang Mulia… apakah kalian akan menyelamatkanjku jika Raja Jiyong tahu tentang ini? Karena dia pasti akan membunuhku,”

Ketiganya hanya bisa saling tatap bersimpati pada sang Eunuch dan mengangguk serempak.

“Tentu saja, Eunuch Seunghwan!!!”

Sang Eunuch mengangguk pasrah dan mendesah. “Arasseo… jika ini demi Yang Mulia, maka aku bersedia bekerja sama,”

“Kalau begitu rencana yang pertama… ini dia,”

**

“Dia terlihat seperti malaikat,” kata Jiyong sambil menyingkirkan rambut dari wajah putranya. “Aisht… kenapa dia sangat membenciku?”

Dara hanya bisa mengelus punggung sang Raja, menenangkannya dan menyandarkan kepalanya di pundak Jiyong. Hanbin baru saja tertidur dan dia baru akan tidur saat Raja tiba-tiba datang untuk melihat mereka.

“Jangan berkata demikian. Anda tahu itu mustahil. Anda adalah ayahnya. Mungkin dia hanya sedang mengalami masa sulit. Mohon berikan waktu lagi untuknya agar bisa menyesuaikan diri dengan aturan Istana, Jeonha,”

“Aku mengerti, memang berat baginya untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Tapi… dia sangat tidak menghormatiku. Bagaimana mungkin dia berani menjulurkan lidahnya padaku? Memelototkan matanya padaku? Aisht,”

“Kita tidak sedang berdebat dengan masalah ini lagi, bukan?” tanya Dara membuat Raja segera menolehkan kepala padanya.

“T-tidak… tentu saja tidak. Maafkan aku. Aku hanya…”

“Saya tahu saya kurang dalam mendidiknya. Dan saya sangat minta maaf untuk hal itu. Saya akan mencoba untuk lebih mendidiknya lagi, Rajaku,”

“Dara,” Jiyong meraih tangan Dara dan mengenggamnya. “Kita berdua sama-sama tahu bukan itu masalahnya. Aisht. Jika aku tidak sibuk aku mungkin akan bisa menyelesaikan semua ini. Tapi kau tahu, bahkan aku pun sulit untuk bisa menemuimu. Aku memikul nasib seluruh negeri di bahuku. Aku hanya berharap itu semudah yang kubayangkan,”

“Anda terdengar sangat lelah,” Dara menatapnya cemas. “Dan Anda benar. Saya mengerti situasi Anda. Maafkan saya jika saya kelihatan lebih sering memilih berada di sisi Hanbin. Saya melakukannya karena Anda pasti akan mengerti. Dan dia ini masih anak-anak, benar bukan? Saya mohon, Anda sedikit lebih bisa bersabar dengan anak ini.”

“Akan kucoba. Kau tahu aku pasti akan selalu mencobanya,”

“Terima kasih.” Dara tersenyum dan mengecup bibir Jiyong dan sebelum dia bisa menjauh, Jiyong segera menarik tubuhnya mendekat dan mengklain bibirnya.

“J-j-eonha…” Dara mencoba untuk menjauh dan melirik cemas pada putranya yang tengah tertidur.

“Maaf… aku hanya sangat merindukanmu,” Raja meringis lebar.

“Saya juga merindukan Anda. Tapi kita ada di sini dan—,” bisik Dara sebelum dipotong oleh Raja.

“Hmm… apakah kita harus meninggalkannya sendiri dan kita pindah ke kamar kita?” tanyanya, mengelus wajah Dara dengan punggung tangannya. “Bisakah, Ratuku?”

Dara hanya bisa berkedip, pipinya memanas dan memerah di bawah tatapan Jiyong, namun sebelum dia bisa berkata ya, keduanya tersentak saat mendengar sebuah suara.

“O-o-mma… aku kedinginan,”

Dara segera berpindah ke sisi putanya, langlung menyelimuti tubuh kecil putranya dengan selimut tebal dan mengelus tangan putranya, meninggalkan Jiyong ternganga, mata melebar kaget dan tak percaya atas kemalangannya.

“Aisht, putra kecilku,” Dara tersenyum pada putranya. “Kau masih belum terbiasa dengan udara dingin di sini? Aku tahu kau merindukan sinar matahari hangat di Jeju. Tapi kau pasti akan terbiasa dengan semua hal yang ada di Hanyang,” katanya, hampir melupakan keberadaan pria yang sudah cemberut seperti anak kecil.

“D-d-ara-ah…” rengek Jiyong.

“Shhh…” sang Ratu menyuruh Rajanya diam, telunjuknya diletakkan di bibir.

Jiyong hanya bisa menutup mulutnya dan memejamkan mata erat, mencoba bersabar dan menahan kekesalannya. Jelas sekali, dia merindukan Dara karena mereka sudah terpisah selama bertahun-tahun. Tapi melihat situasinya sekarang, dia butuh banyak penyesuaian. Mereka sudah menjadi orang tua sekarang. Dan semuanya tidak akan mungkin sama seperti dulu lagi.

Mendesah pasrah, sang Raja mendekati istri dan putranya. Dia terpesona dengan putranya yang bergumam tidak jelas dalam tidur. Jiyong menggelengkan kepalanya dan menggigit bibir. Bagaimana mungkin seorang anak nakal bisa terlihat begitu polos saat sedang tidur? Raja merangkul bahu Ratu kemudian mencium pelipis sebelah kiri wanita itu. “Mala mini kau tinggallah di sini. Aku pergi dulu,”

“Tapi… Jeonha…” Dara mendongak menatap Raja.

“Tidak apa-apa. Dia membutuhkanmu. Jangan cemas. Kita masih memiliki banyak waktu. Selamat malam,” dikecupnya bibir Dara.

“Y-ya. Selamat malam. Saya minta maaf—,”

“Shhh. Hentikan. Tidak apa-apa. Aku pergi dulu,”

“Terima kasih karena sudah mengerti, Jeonha,”

Sang Raja hanya mengangguk sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuk kepala Hanbin, mengacak rambut bocah itu sebelum menundukkan kepalanya untuk mencium kening putranya. “Paling tidak aku senang bisa melihatnya seperti ini. Kau juga pergilah tidur. Besok pasti akan menjadi hari yang sibuk lagi. Dan aku ingin kau mendampingiku besok di pesta jamuan makan untuk para peserta ujian yang lulus gwageo.”

**

Matahari sudah bersinar cerah dan semua orang di Aula Upacara Istana sibuk mempersiapkan tempat itu untuk menyambut para peserta ujian sipil yang berhasil lulus, dan tak lama kemudian gerbang Istana mulai terbuka, memberi jalan kepada para peserta yang lulus ujian, pelajar, profesor, dan pejabat masuk sembari menunggu kedatangan Raja.

Saat upacara berjalan, Chaerin dan Bom datang mengunjungi Dara dan Minzy untuk saling bertukar kabar. Mereka sangat tahu tentang masalah yang dialami oleh Dra dan keduanya butuh informasi terbaru mengenai bagaimana sang Ratu megatasi dilemanya.

“Kami semua tahu bagaimana sikap adikku itu kepada anak-anak. Bahkan Taehyun, putraku, takut padanya. Apalagi bagi yang tidak pernah melihatnya?” kata Bom sambil menyilangkan lengannya, menatap putranya yang tengah bermain bersama Hanbin dan Hayi di jembatan kayu kecil yang ada di kolam, sementara ketiganya duduk di paviliun menikmati the sembari bercakap-cakap.

“Apa yang Anda bicarakan? Hayi-saya tidak takut pada Raja. Kenyataannya, dia ingin menjadi bawahan Raja suatu hari nanti. Aisht, anak itu.  Dia sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada seni,” kata Chaerin berdecak lidah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Chincha?” mata Bom melebar. “Gadis kecil itu berani sekali,”

“Aigoo… aku bertanya-tanya kapan Hanbin akan mulai menerima ayahnya. Aku pusing dibuatnya,” kata Dara, matanya tak pernah lepas menatap putranya.

“Jangan terlalu memikirkan hal itu, Ma-ma… Yang Mulia Raja sangat mencintai Anda dan saya yakin dia juga menyayangi anak itu. Beliau pasti akan menemukan cara,” kata Chaerin.

“Kumohon, Chaerin berhenti dengan sebutan gelar itu, kulitku merinding mendengarnya,” Dara memutar bola matanya.

“Anda pasti akan terbiasa. Kita tidak ingin jika anak-anak sampai salah pengertian, bukankah begitu?”

“Aisht, kita bisa saling memanggil nama seperti biasanya jika hanya kita bertiga saja!” tolak Bom. “Benar kan, Dara?”

“Tentu saja,”

“Aisht, terserahlah kalian berdua…” Chaerin menggelengken kepalanya dan meraih cangkir teh dan segera menyesapnya, dia langsung menyemburkan cairan di dalam mulutnya begitu melihat Hayi tiba-tiba saja meninju Hanbin.

“HAYI!!!”

“Omona!”

“Yang Mulia!!!”

Para pelayan segera berlari mendekati anak-anak itu dan mencoba menarik Hayi menjauh dari Pangeran sementara Dara hanya bisa memeluk putranya, pada Dayang Istana membantunya.

“Hanbin, apa kau baik-baik saja? Huh?” Dara memeriksa wajah anak itu, ekspresinya tak terbaca dan tak berapa lama dia mulai menangis keras dalam pelukan ibunya.

“Ommaaa Mamaaaaa!!!”

“Hayi!” Chaerin segera menarik putrinya. “Kenapa kau melukai Pangeran?!”

“Omma.” Mata Hayi melebar penuh air mata. Dia mengusap hidung dan matanya. “Itu salahnya! Dia tidak mau bermain denganku. Dia hanya mau bermain dengan Taehyun orabeoni!” kata gadis kecil itu sambil menunjuk ke arah sang Pangeran.

“Itu bukan alasan kau bisa memukulnya… demi langit, Hayi… dia adalah Pangeran. Apa aku tidak mengajarimu dengan baik?” Chaerin memarahi anaknya tapi di saat bersamaan hatinya merasa sakit. Pipi hayi merah dan matanya terus saja mengeluarkan air mata, bibirnya melengkung ke bawah dan bergetar.

“D-dia mengejekku… katanya dia tidak mau bermain dengan gadis lemah sepertiku!” Hayi mengadu pada ibunya sebelum mendelik pada Hanbin. “Anda lihat Yang Mulia? Saya tidak lemah!”

“Omona, Hayi!” Chaerin menutup mulut putrinya.

“Kau tidak akan lolos begitu saja!” ancam Hanbin pada Hayi, tapi Dara segera menghentikan anak itu.

“Hanbin!”

“Tapi Hanbin hanya ingin bermain dengan anak laki-laki sepertiku. Aku juga ingin bermain dengan anak laki-laki saja. Hayi adalah anak perempuah. Dia kadang-kadang sangat cerewet,” sela Taehyun, alis tebalnya menyatu saat berkata demikian kepada ibunya.

“Aku??? Cerewe???”

“Neha! Kau itu sangat berisik! Tidak heran Pangeran tidak ingin bermain denganmu,”

“Taehyun, kumohon, jangan ikut campur atau aku akan mengadukanmu pada ayahmu!” Bom memperingatkan putranya.

Dara hanya bisa memejamkan matanya, mengelus keningnya sambil menatap putranya. “Oh Tuhan, Hanbin, berapa kali lagi aku harus memintamu untuk tidak bersikap kasar?”

“Maafkan saya, Omma Mama. Tapi dia benar-benar sangat menyebalkan,”

“Maafkan saya, Yang Mulia, tapi saya rasa Anda sudah sedikit keterlaluan… bagaimana bisa Anda berkata bahwa putri saya menyebalkan?” Chaerin tidak lagi bisa menahan diri dan bertanya kepada sang Pangeran, tapi anak itu tidak bisa menjawab.

“Kami pulang dulu, Jungjeong Mama, tolong maafkan kekasaran putri saya,” Chaerin lalu berbalik kepada sang Ratu dan membungkukkan badan meminta maaf.

“Chaerin, tidak. Kumohon, tinggallah dulu,” Dara mencoba menghentikannya, tapi kemudian Bom juga memberikan isyarat kepada pelayannya.

“Well, kalau begitu saya juga harus pergi,” kata Bom sambil menyerahkan Taehyun kepada pelayannya. “Maaf atas kejadian ini, Chaerin, Jungjeong Mama,”

“Oh, Tuan Putri itu bukan apa-apa,” Chaerin tersenyum padanya. “Mari kita mengobrol di lain waktu, neh? Saya rasa kita semua perlu bicara kepada anak-anak kita atas… kelakuan mereka, benar bukan, Jungjeong Mama?” kata Chaerin, perlahan menoleh kepada Ratu yang wajahnya memerah karena rasa malu.

“N-neh… tentu saja. Maafkan aku,” Dara hanya bisa meminta maaf sebelum mendelik menatap Hanbin.

**

“Jungjeong Mama… apakah Anda baik-baik saja?” tanya Lady Gong setelah duduk di hadapan Ratu yang meletakkan sikunya di atas meja sambil memijat pelipisnya.

“N-n-eh… aku baik-baik saja… bagaimana dengan Hanbin?”

“Dia sudah berhenti menangis, Mama… tapi Pangeran membuat para Dayang Istana kesulitan. Dia ingin bertemu dengan Anda—,”

“Aku tidak lagi apa yang harus kulakukan, Minzy-ah… dia tidak seperti ini saat kita di Jeju… apa yang terjadi pada putraku?”

Dayang Istana itu menutup mulutnya, berdebat dalam hati apakah dia harus mengatakan pikirannya pada sang Ratu, tapi akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya. “M-m-ama… saya rasa anak itu sedang berkompetisi untuk mendapatkan perhatian Anda dengan Yang Mulia Raja,”

“Apa?”

“Saat kita masih di Jeju, dia menjadi pusat perhatian Anda. Tapi begitu kita tiba di sini, kita terikat dengan protokol Istana yang semuanya berpusat pada Yang Mulia Raja. Kita perlu mendengarkan perkataan, mengikuti aturan Yang Mulia dan saya rasa Pangeran merasa dia berada dalam bayang-bayang ayahnya. Dia tidak lagi menjadi pusat perhatian Anda, dan dia merasa Anda hanya memperhatikan Yang Mulia Raja. Saat kita tiba di sini, dia adalah nomor dua setelah ayahnya. Saya rasa anak itu mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diir,”

“Itu tidak mungkin. Jiyong… maksudku, Jeonha adalah ayahnya. Bagaimana mungkin dia menganggap ini adalah kompetisi?”

“Mama… jika… well…”

“Apa itu?”

“Kita… kita berdua sama-sama tahu bagaimana nakalnya Raja dulu saat beliau masih kecil… saya rasa… entah bagaimana dalam diri malaikat yang kita besarkan di Jeju ada… ada… safat kasar yang tersembunyi dari Yang Mulia Raja. Dan ya… itu karena Pangeran adalah putranya.

“Oh Tuhan…” Dara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah menyangka akan hal ini. Hanbin-ku…”

“Tenanglah, Mama… hal ini pasti akan berlalu, tapi saya tidak tahu sampai berapa lama Pangeran akan melakukan hal ini,”

“Katakan padaku di manakah kesalahanku saat membesarkan anakku, Minzy-ah…” Dara memegangi kepalanya dengan kedua tangan. “Di mana salahku?”

“Oh, tidak Mama… saya mohon jangan menyalahkan diri Anda,”

“Tidak… aku bertanggung jawab membesarkan penerus Raja dan melihat putraku berubah menjadi seperti ini, kurasa aku telah gagal,”

“Oh tidak, Mama… jangan berkata demikian—,” Minzy segera berdiri dan beranjak mendekat ke sisi Ratu, menenangkan wanita itu sambil mengelus punggungnya. “Kita semua sudah melakukan perjuangan berat. Hal ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua yang telah Anda lalui,”

“Aku tahu. Tapi bahkan Yang Mulia Raja juga mengalami masa-masa sulit. Aku malu setiap kali putraku menunjukkan sikap buruk kepada ayahnya. Aku bahkan mendengar Yang Mulia bertanya kepada putraku kenapa dia enggan memanggil Yang Mulia dengan benar. Oh, ini sangat memalukan bagiku sebagai seorang ibu,”

Minzy hanya bisa menarik Ratu ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggungnya sebagai tanda bahwa dia mengerti akan apa yang Dara rasakan. Hanbin adalah anak yang sangat baik saat mereka masih di Jeju. Dia selalu menuruti semua perkataan Dara dan melihat bagaimana anak itu bersikap di dalam Istana, dia rasanya tidak mengenali Pangeran yang sekarang. “Semuanya pasti akan baik-baik saja, tolong tenanglah, Yang Mulia Ratu,”

Beberapa saat kemudian keduanya mendengar sedikit keributan dari luar kamar Ratu dan tidak berapa lama Raja dan Seunghwan menerobos masuk tanpa adanya pemberitahuan.

“Jeonha…” Seunghwan mencoba menghentikan Raja yang tidak diragukan lagi sedang merasa sangat kesal. Dia sudah menunggu Ratu dan putranya untuk hadir di upara jamuan makan bagi para pejabat baru, namun mereka tidak datang karena Ratu harus berurusan dengan kenakalan dari Pangeran.

“Aku sudah menunggumu dan Pangeran,” Jiyong mengerutkan alisnya, tapi Minzy menggelengkan kepalanya sambil memberikan sinyal kepada Raja, membuat pria itu bertanya-tanya bingung. Minzy menuntun Ratu untuk memberikan penghormatan kepada Jiyong.

“Lady Gong, tolong tinggalkan kami,” katanya kepada Dayang Istana itu.

“Apakah Anda akan baik-baik saja, Mama?”

“Kau tahu, aku akan baik-baik saja.” Dara memaksakan sebuah senyuman. “Tolong temuilah Pangeran.”

“Yeh, Mama…” Minzy membungkukkan badannya sebelum pergi.

“Seunghwan, tolong temani Dayang Istana ini.”

“Tapi, Jeonha…”

“Aku sungguh-sungguh… tinggalkan kami berdua,”

“Y-y-eh… Jeonha, Mama…” Eunuch itu membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruanga. Dengan tangan ditelakkan di belakang tubuhnya, Raja berjalan lambat-lambat mendekati Ratu yang meremas-remas jemarinya. Bagaimana dia akan menjelaskan semuanya saat dia tahu itu justru akan memperburuk hubungan Raja dengan putra mereka? Dia semakin menundukkan pandangannya.

“Kenapa kau tidak datang?” suara Jiyong penuh keseriusan dan muram. “Aku menunggu. Semua orang menunggu kedatangan kalian,”

“Maafkan saya, Jeonha…”

“Apa yang terjadi?”

Dara menelan ludah, dia melirik ke kanan dan ke kiri sebelum memejamkan matanya, tidak ingin Raja tahu tentang kenakalan Pangeran.

“Bisakah kau katakan padaku?”

“Saya… saya minta maaf, saya kurang enak badan,” ucapnya.

“Apa?” suara Jiyong meninggi, dan segera dia menangkup wajah Ratu, menengadahkannya agar dia bisa menatap Dara dengan lebih baik. “Kau merasa kurang enak badan? Aisht! Kenapa kau baru bilang sekarang?! Tsk. Seunghwan! Seung—,”

“Tidak! Tolong, jangan! Jangan memanggil Eunuch ke mari.” Pinta Dara. “Saya… saya hanya perlu beristirahat. Maafkan saya karena tidak datang,” dia menggenggam tangan Raja yang masih menangkup wajahnya, mereka masih bertatapan.

“Dara… kau terlihat sangat pucat. Kau harus diperiksa oleh tabib,”

“Tidak! Tidak…” Dara menggelengkan kepalanya. Jiyong mulai bersikap berlebihan dan dia sadar tidak akan ada yang bisa menenangkan sang Raja kecuali dirinya, dia sangat tahu hal itu.

“Aku tidak akan mendengarkanmu kali ini. Maafkan aku. Tapi kau harus diperiksa. Tunggu di sini—,”

“Tidak! Tolong… Anda sudah berada di sini… saya akan… saya akan baik-baik saja,” Dara segera memeluk Jiyong, membuat pria itu tersentak karena Dara semakin mempererat pelukannya.

Alis Jiyong terangkah, terperangah dengan perkataan dari Ratu. “Dara…”

“Tinggallah di sini,” katanya membuat Raja semakin ternganga. “Saya hanya sedikit sakit kepala… hanya sedikit lelah. Bisakah Anda tinggal sebentar di sini?”

Jiyong hanya bisa berkedip beberapa kali sambil menarik Dara semakin mendekat padanya. Dia mengangguk dan mengelus punggung wanita itu. “Aigoo… kau membuatku terkejut, Dara. Selalu saja…” Jiyong mulai tertawa setelah sadar dari rasa ketidakpercayaannya. “Apa yang terjadi? Apa yang sudah membuat Ratuku sakit kepala? Apakah Pangeran?”

Dara terkesiap dan matanya melebar, dia segera menggelengkan kepalanya. “Tidak! Tidak… tentu saja tidak.” Katanya semakin mempererat pelukannya pada Raja. “H-h-anya saja… menjadi Ratu, semua ini baru bagi saya. Saya menyadari saya belum mempelajari buku yang Anda kirimkan untuk saya. Saya tidak menyadari banyak hal dan saya harus mengetahui apa yang sedang terjadi di Joseon. Saya tidak ingin mempermalukan Anda dan—,”

“Oh Dara, kau harusnya bilang padaku jika kau mengalami kesulitan. Aisht. Kemarilah. Bagaimana perasaanmu?” Raja menarik Ratunya dalam pangkuannya, dia duduk di lantai. “Kau haruanya bilang padaku jika kau belum siap…”

“Maafkan saya, Jeonha… karena sudah membuat Anda menunggu,”

“Tidak, tidak… itu bukan masalah. Aisht. Jika hal seperti ini terjadi lagi nanti, tolong… tolong pastikan untuk memberitukannya kepadaku.”

“Ya… tentu saja,” Dara mencoba tersenyum.

“Oh, ngomong-ngomong, aku berpikir untuk… mengunjungi Provinsi Utara besok. Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku bertemu dengan Master Wu.” Jiyong memberitahu Dara, meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.

“K-k-enapa tiba-tiba?” Dara langsung panik mendengar keputusan dari Raja, namun pria itu hanya menyipitkan mata dan mencium punggung tangan Dara, tapi dalam pikirannya sang Raja terus saja memikirkan tentang rencana Seunghwan. Usulannya sepertinya bagus, dia hanya perlu menyetujuinya.

“Itu adalah kunjungan penting dan aku akan pergi ke sana dengan para rekanku,” ujar Raja padanya. “Lagipula, kupikir kau perlu beristirahat dari semua ini dan melanjutkan pelajaranmu dan mempelajari semua yang terjadi di Joseon yang kau lewatkan selama ini… aku tidak memburu-buru. Dan ngomong-ngomong… ijinkan aku membawa putra kita bersama kami…”

“A-a-pa? Tidak… tidak… Jeonha, dia masih terlalu muda,” Dara langsung saja protes.

“Dara, Provinsi Utara sudah tidak berbahaya dulu. Sekarang tempat itu sudah tenang dan meskipun Master Wu enggan menerima posisi yang aku tawarkan kepadanya, orang-orang di sana sangat menghormatinya karena pengalaman dan ucapan dan perbuatan baiknya. Jadi—,”

“Jiyong—,” wajah Dara dipenuhi oleh kecemasan. “Terakhir kali kita berdua di sana, kau hampir saja terbunuh—,”

“Dan kau juga… tapi Dara, sudah kukatakan padamu untuk melupakan kejadian itu.”

“Bagaimana? Anda terluka saat masih berusia enam belas tahun dan empat tahun yang lalu hal yang sama kembali terjadi… dan jika saya tidak berada di sana pada waktu itu—,”

“Sshhhhh…” Jiyong mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir Daa. “Berhenti mencemaskan semuanya, Dara. Aku sangat yakin kali ini. Sudah kukatakan padamu untuk tidak memikirkan tentang hal itu lagi. Apa kau sudah lupa tentang itu? Oh… aku sangat kecewa,”

“Huh?” Dara mengerutkan alisnya, bingung dan tidak mengerti. “Apa maksud Anda?”

“Dara…” Jiyong memegang dagu Dara di antara ibu jari dan telunjuknya, mendekatkan wajah wanita itu padanya. “Sudah kubilang padamu untuk melupakan semyanya dan hanya mengingat tentang malam itu… hanya kau dan aku… dan malam itu,” dia menghembuskan nafas di bibir Dara, membuat sang Ratu merinding mengingat kenangan akan malam pertama mereka. Pipinya memanas dan memerah, dan sebelum dia bisa berbicara, bibir sang Raja sudah mengklaim bibirnya.

“Bagaimana kau bisa lupa?” ucap Jiyong menuduh di bibir Dara, menghujani bibir itu dengan kecupan yang membuat kehabisan nafas.

“M-m-aaf,” ucap Dara. “Saya minta maaf…”

“Kau terlalu camas.” Raja mengecup ujung hidung istrinya. “Aisht… aku hanya ingin membawa putraku ke suatu tempat agar kami bisa semakin akrab dan mencari pengalaman bersama. Apakah Ratuku akan mengijinkan kami untuk pergi?”

Dara menarik nafas dalam sebelum menundukkan pandangan, masih ragu mengenai hal itu. Apakah ayah dan anak itu akan baik-baik saja? Tentu saja, Raja benar. Dia bisa mendekatkan diri dengan Hanbin, dan sementara keduanya pergi, Dara bisa memiliki waktu untuk fokus pada tanggung jawabnya sebagai Ratu Joseon. Dia menghembuskan nafas berat.

“T-tolong, berhati-hatilah,”

“Jadi kau setuju?” mata Raja berbinar senang.

“Anda adalah Raja, kenapa Anda meminta persetujuan saya—,”

“Dara, di hadapan seluruh negeri, aku adalah Raja dan kau adalah ratunya… tapi jika hanya ada kita berdua, sendirian, di kerajaan kecil kita, aku adalah Jiyong… dan kau adalah Sandara… dan kita hanyalah sepasang suami dan istri… sebuah keluarga yang normal. Dan seorang suami yang baik tidak akan pernah menentang keputusan istrinya. Seorang suami yang baik mendengarkan semmua perkataan istrinya.

Dara hanya bisa menggigit bibir, matanya berkaca-kaca sambil mengelus wajah sang Raja. “Katakan pada saya, apa yang telah saya lakukan di kehidupan saya yang sebelumnya sehingga saya layak mendapatkan seorang suami yang sangat baik seperti Anda?”

Raja meraih tangan Dara dan mencium telapak tangannya. “Aku tidak tahu…” dia tertawa. “Mungkin kau sudah menggodaku di kehidupan sebelumnya atau mungkin kau sudah memanggil semua shaman untuk mengguna-gunaiku. Tuhan pasti merasa kasihan padamu. Dan sekarang akhirnya kau berhasil. Selamat,”

“Y-y-ah!”

“Hahaha!”

“Saya berbicara serius,” Dara memberengut dan mencoba menjauhkan diri, tapi Raja memeluknya.

“Aku mencintaimu…” Raja tersenyum tulus pada Dara dan wanita itu memutar bola matanya, bukan karena tindakan pria itu, tapi karena dia tahu yang Jiyong lakukan sudah membuat hatinya bersorak.

“Jaga diri Anda dan putra kita selama perjalanan menuju Utara. Itu adalah perintah,” justru itu yang dia katakan, menyipitkan mata menatap Jiyong.

“Yeh, Ma-ma… aku tahu dan aku pasti akan melakukannya. Aku mencintaimu,” Raja menaik-turunkan alisnya.

“Anda tahu, saya juga mencintai Anda. Saya akan mengemasi barang-barang Anda. Ayo mari,” katanya, tapi Raja menggelengkan kepala.

“Dara… senang rasanya tahu bahwa kau bersedia untuk mengemasi barang-barangku, tapi…”

“Tapi?”

Raja berdeham dan mengedipkan matanya pada Dara. “Well… uhm… apa menurutmu aku tidak layak menerima yang lebih dari itu?”

“Lebih dari itu apa, Jeonha?” Dara memiringkan kepalanya dan bertanya-tanya bingung.

“Uhmmm… seperti… pelukan selamat jalan mungkin? Atau bercinta sebagai pembawa keberuntungan? Bagaimana kalau begitu?” Jiyong menaik-turunkan alisnya pada Dara membuat wajah wanita itu langsung memerah. “Kau tahu itu akan menjadi perjalanan yang sangat lama. Kau tahu itu pasti akan sangat dingin dan sepi dan…”

“J-j-eonha!”

“Kumohon?”

“Tapi… A-a-nda tahu… k-k-ita tidak bisa melakukannya… sekarang…” Dara tergagap, matanya melirik ke arah pintu, sadar akan keberadaan beberapa Dayang Istana yang menunggu di luar.

“Oh, kau tahu kita bisa melakukannya,” Raja mulai mengecap dagu Dara dan tangannya melilit kuat tubuh Dara, membuat waniat itu merinding dan butuh banyak fokus untuk bisa mengendalikan diri dan mendorong pria itu menjauh.

“Jeonha… tunggu…” dia meletakkan telapak tangannya di dada Jiyong sambil mencari alasan. Bagaimana jika memberikan Raja sesuatu untuk ditunggu, sehingga dengan demikian akan membawanya segera kembali dengan selamat bersama putra mereka? Dara bangkit dari pangkuan Jiyong dan mendekatkan bibirnya di telinga pria itu.

“Pulanglah dengan selamat dan saya akan pastikan untuk memberi Anda malam yang tak terlupakan. Hanya Anda dan saya… saya akan menghilangkan lelah dari tubuh Anda… saya akan menghangatkan Anda. Bagaimana dengan itu, Raja-saya?” bisiknya penuh goda membuat Jiyong mengerang.

“Dara… Tuhan. Jangan menggodaku.

“Saya tidak sedang menggoda Anda… bisa dibilang, saya hanya sedang memberi Anda inspirasi.” Katanya memberikan sebuah kecupan di bibir Raja dan merapikan diri sementara sang Raja masih ternganga, tidak percaya pada ketidakberuntungannya.

“Kau pasti bercanda, Dara…” dia berdiri dan mengikuti sang Ratu yang sudah beranjak ke pintu.

“Tidak, saya tidak sedang bercanda… ayo cepat, Jeonha. Saya akan mangemasih barang-barang Anda. Ayo cepat,” dia meringis pada Jiyong sebelum menghilang dari balik pintu.

Raja akhirnya menyerah pasrah. “Seunghwan, pastikan ini akan memecahkan masalah dengan putraku. Bagaimana bisa kau memintaku untuk pergi dengannya dan meninggalkan Ratuku?! Aisht… ini harusnya bisa menjadi malam yang sempurna… aisht! Aku akan membunuhmu, Seunghwan…” Raja menghentak-hentakkan kakinya sambil mengikuti Ratu keluar dari kamar, masih bergumam tidak jelas sepanjang jalan.

**

“Jika Anda ingin ibu Anda memaafkan Anda, maka Anda harus ikut dengan ayah Anda tanpa protes apa pun.”

Anak itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya mengingat perkataan Kepala Eunuch di kepala kecilnya. Dia duduk di dalam tandu besar, menatap ke luar jendela, duduk di sebelah ayahnya yang seperti biasa, tampak berwibawa dengan jubah merah sutranya. Hanbin meremas-remas jemarinya.

“B-b-agaimana perasaanmu? Jika kau masih mengantuk, kau bisa tidur di sini. Kemarilah,” dengan canggung Jiyong menepuk pangkuannya dan membuka lengan, tapi anak itu hanya menggelengkan kepala.

“Saya rindu pada Omma Mama…” katanya sedih membuat Jiyong berkedip pdanya. Mereka meninggalkan istana sebelum matahari terbit dan sudah melakukan perjalanan ke Utara selama beberapa jam dan putranya, sudah merindukan Dara. Raja terkekeh.

“Aku juga merindukannya,” aku Jiyong membuat Hanbin menoleh cepat padanya.

“Anda merindukannya?”

“Tentu saja,”

“Saya rasa omma lebih merindukan Anda dibandingkan Anda merindukannya sekarang,” kata anak itu kembali menatap jemarinya.

“Apa maksudmu?” Jiyong mencoba untuk bertanya tapi anak itu terus saja diam sambil mendesah.

Beberapa jam kemudian mereka sampai di Aula Gubernur dan mereka disambut oleh Gubernur yang sekarang menjabat dengan jamuan makan sederhana. Musik, makanan, dan anggur dihidangkan tanpa henti, membuat para Prajurit Istana girang dan para rekan Raja memanfaatkan hal itu untuk mereka beristirahat.

“Yah, kita harusnya juga membawa Eunuch ke mari,” bisik Seungri pada Yongbae dan Seunghyun.

“Aisht, kau tidak berpikir, benar kan? Ratu juga membutuhkan bimbingan di Hanyang!” kata Yongbae.

“Berilah kesempatan orang tua itu untuk beristirahat, tuan-tuan,” kata Seunghyun. “Kita semua tahu tubuhnya sudah tidak bisa menerima untuk perjalanan jauh.”

“Saya protes. Bagaimana mungkin Master Wu masih bisa bepergian ke sana ke mari saat dia masih seusia Eunuch?” tanya Harang, mengenakan seragam barunya – hitam dan merah, dia kemarin baru saja ditunjuk untuk menjadi Kepala Pengawal Raja karena berhasil lulus tes militer dengan nilai tertinggi.

“Aigoo… Master Wu itu cerita lain. Secara fisik dia masih kuat sementara Seunghwan hyung tidak,” sela Daesung, terlihat gagah dengan seragam birunya – kemarin dia ditunjuk sebagai tutor Pangeran.

“Katakan padaku, apa yang sedang kau lakukan di sini padahal kau harusnya berada di sisi Pangeran untuk mengajarkan tata krama padanya?” tanya Seungri pada Daesung, membuat mantan pelayannya itu terkesiap begitu ingat dan segera berlari menjauh dari mereka untuk menemani Pangeran di meja lain.

“Dan kau, Harang, harusnya kau menjaga Yang Mulia Raja. Kau tidak boleh meninggalkan sisinya. Sekarang pergilah,” kata Seunghyun pada pemuda itu yang segera menurut meski dengan disertai gumaman tidak jelas.

“Aku tidak percaya Raja menunjuk Harang untuk menjadi Kepala Pengawalnya. Kita semua tahu bagaiman kacaunya jika Raja dan Harang bersama.” Yongbae menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aisht, Harang itu masih seperti anak kecil. Meskipun begitu ilmu bela dirinya sangat baik. Aku mengakui itu,” kata Seungri, karena menjadi saksi bagaimana anak itu tumbuh menjadi pemuda yang bisa diandalkan.

“Lalu… kita akan mengirim mereka ke Master Wu siang ini?” Yongbae menoleh kepada dua orang lainnya.

“Tentu saja,” balas Seunghyun.

“Lalu apa? Kita juga harus berada di sana!” kata Seungri membuah Seunghyun menarik nafas dalam.

“Meskipun kita sangat ingin memberikan privasi kepada ayah dan anak itu, kita tidak bisa melepas mereka begitu saja di gunung tanpa keamanan yang cukup. Kita tidak bisa meninggalkan junior kita – Daesung dan Harang. Kita harus menjadi contoh yang baik,”

“Jadi itu artinya, kita akan pergi dengan mereka?” Yongbae memberikan ekspresi ngeri.

“Kita harus… dan ya kita akan pergi dengan mereka,” kata Seunghyun.

**

 

<< Previous Next >>

Advertisements

29 thoughts on “The King’s Assassin [Special Chapter] : The King’s Heir Part 2

  1. Hayi sama taehyun udah dijodohin nih, kasian deh hanbin😝 kira kira chaerin unnie sama bom unnie nggak marah kan sama dara unnie gara gara perbuatan hanbin? hanbin nih nggak mau jadi lebih deket sama jiyong oppa, gimana caranya nih biar ngedeketin mereka berdua? ya semoga karena ke provinsi utara itu mereka berdua jadi lebih deket😆😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s