SOMETHING CALLED LOVE – Masih Dalam Pelarian [Chap. 2]

1478513266448

Author: astarinur/ @daragonintheair

 

 ~~~

Dia mengencangkan jaket tebalnya dan memasangkan topi dan penutup kepala untuk menutupi wajahnya. Dadanya bergemuruh tegang, gugup, dan tentunya takut namun wajahnya terlihat tenang dan dingin.

Dia menunduk lalu berjalan saat bis berdatangan di halte bis bersamaan dengan penumpang lainnya. Namun bukannya berjalan masuk ke dalam bis didepannya dia terlebih dahulu memutari bis  beberapa kali, bis yang berjejer dia kelilingi beberapa kali sampai pada akhirnya dia naik ke bis yang paling terakhir. Dia duduk di tempat yang paling pojok dimana dia yakin dia bisa diam lebih aman sekaligus bisa tertidur lelap.

Sedangkan di sisi lain, seseorang berpakaian dinas polisi berlari-lari terengah-engah dari ujung halte bis sampai memeriksa seluruh bis yang akan bepergian disana. Dia membawa sebuah foto lalu beberapa kali menunjukan kepada lalu lalang orang dan bertanya jika mereka pernah bertemu dengan orang yang ada di foto itu, namun sampai saat ini belum ada yang tahu. Dia tak mau menyerah, dia terus mencari.

Dia dengan beberapa orang lainnya berpencar ke seluruh bis yang berada disana. Matanya tajam mencari, ketika dia melihat seseorang dengan postur tubuh dan rambut yang mirip dengan orang yang ia cari dia lalu menepuk dan memutar tubuh orang itu.

“Ada apa?” Tanya orang itu bingung. Namun dia menghempaskan orang itu dan berjalan pergi, dia kecewa karena dia ternyata bukan orang yang ia cari.

Orang-orangnya sudah berkumpul didepannya, mereka menggeleng. “Gak ada, kayanya dia gak pake bis disini buat kabur! Coba kita cari di tempat lain!” Hyejin memegangi kepalanya dan mengumpat kesal.

“Fuck! Bajingan itu kabur kemana! Aku yakin dia pasti akan menggunakan bis karena ini cara yang paling aman, kita cari lagi bajingan itu pasti belum jauh!” Perintah hyejin dan semua anak buahnya lalu berpencar kembali.

Hyejin pun siap untuk mencari tempat lain namun sebelum itu dia melirik kembali ke bis-bis yang berada dibelakangnya itu memiliki perasaan tertentu. Dia menatapnya tajam, namun selang kemudian dia mendengus dan berjalan kearah mobilnya. Dia masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya dengan kencang. Dia mengeluarkan napasnya dengan kencang, “FUCK! BAJINGAN KAU, PARK! DIMANA KAU BERSEMBUNYI?” Dia memukul stir didepannya dengan kesal, Lalu tak lama kemudian ponselnya berdering dia dengan segera mengangkatnya mungkin saja ada kabar tentang orang yang sedang dia cari ini.

“Bagaimana?” Katanya tanpa basa-basi.

“Komandan, kami menemukan seseorang mencurigakan yang mirip dengannya! Harap anda segera ke markas untuk mengkonfirmasi!” Mendengar kabar itu moodnya langsung naik dan senyuman licik terpampang diwajahnya.

“Baik, saya akan segera kesana! Kalian gali lebih dalam!” Balas hyejin segera menancap gas mobilnya.

“Siap komandan!” Hyejin lalu menutup telpon itu dan segera menuju markasnya.

***

Sudah berapa lama dia berada di dalam bis? Terlihat dari cahaya terang matahari sepertinya dia sudah hampir 24 jam berada dalam bis, which means dia menghabiskan semua waktunya untuk tertidur. Dia terbangun dari tidurnya ketika bis berhenti, dia melirik keluar jendela melihat sekelilingnya tapi masih belum pada tujuannya. Hampir semua kursi sudah kosong dan tersisa tinggal dia bersama 3 orang lainnya yang masih tersisa.

“Rest area dan sebentar lagi menuju tujuan terakhir! Kalian hanya memiliki 30 menit waktu untuk beristirahat!”

Dia bejalan kedepan mengikuti para penumpang lainnya untuk keluar. Sekedar menghirup udara luar setelah perjalanan panjangnya, dia juga meregangkan otot-otot tubuhnya yang sudah kaku karena posisi tidurnya di dalam bis.

Dia memperhatikan penumpang lain yang berjalan bersamaan ke sebuah tempat. Setelah dia teliti ternyata itu adalah tempat makan kecil dipinggir danau. Dia mengkerutkan dahinya dan menerawang keseluruh arah. Menemukan ada danau besar dan hutan cukup lebat mengelilinginya, dia juga baru sadar jika jalanan masih dataran tanah belum dilapisi aspal atau macam beton lainnya. Dia sudah berada dimana? Dia merogoh tiket bisnya didalam saku celananya dan menemukan jika dia bertujuan di tempat antah berantah. Mungkin karena dia sudah terburu-buru dan ingin pergi sejauh-jauhnya dia tidak sadar dia berakhir ditempat seperti ini.

Tiba-tiba dia mendengar suara yang tidak mengenakan didalam perutnya. Dia kembali merogoh saku celananya lalu menghitung seberapa banyak uang cash yang ia punya. Dia lalu menelan ludahnya saat menemukan uang yang sangat minim disana. Dia tidak bisa memakai kartu kreditnya kalau dia masih ingin aman bersembunyi dan sekarang uang yang ada adalah uang yang tersisa didompetnya dan juga pemberian dari nenek tua yang kemarin malam. Merasakan perutnya berbunyi kembali terpaksa dia berjalan ke rumah makan itu.

“Air mineral dan satu buah roti!” Pelayan yang sepertinya sudah beranak 3 itu menaikan alisnya lalu meliriknya sebentar. Dia hanya diam tak bereaksi melihat ekspresi pelayan didepannya yang jelas-jelas meremehkannya. Tidak apa-apa yang penting dia bisa mengganjal perutnya.

“15 won totalnya.” Dia lalu memberikan uang pas kepada pelayan itu namun saat dia akan pergi pelayan itu menahan tangannya.

“Siapa namamu anak muda?” Pertanyaan simpel itu seakan pertanyaan yang saat ini rumit dan menakutkan baginya. Menunjukan identitas aslinya sama saja dia menyerahkan diri. Jadi dia memberikan identitas falsu kepadanya, lagipula orang yang didepannya adalah orang asing.

“Jiyong, Kwon Jiyong!” tanpa berpikir panjang dia membalasnya singkat, lalu pelayan itu tersenyum dan memberikan sesuatu kepadanya. “Ini untukmu!” Dia mengerutkan dahinya dan terlebih dahulu melihat apa isi dari kantung plastik hitam itu, ternyata sebuah makanan. Dia lalu menatap pelayan itu dengan bingung sekaligus kesal. Jika dia kira dia pantas untuk dikasihani lebih baik dia tidak pernah membeli sesuatu ditempat ini.

“Tidak terimaksih!” Dia dengan dingin menolak makanan itu namun pelayan itu yang baru dia ketahui namanya Park Soomin saat melihat name tag-nya kembali menyentuh tangannya.

“Anak muda, terima saja! ini sebagai salam perkenalan dariku. Kamu adalah perantau yang akan tinggal didaerah sini bukan?” Senyumnya lebar seperti sudah tahu dan sering melihat orang sepertinya. Niatnya untuk pergi kembali tertahan lagi karena penasaran.

“mengapa anda tahu?” Tanyanya.

“Hah.. anggap saja orang-orang sepertimu sering kesini, entah karena ingin melarikan diri atau hanya bosan diam di kota!” Pelayan itu tersenyum lagi membuatnya sedikit takut, pikirannya campur aduk, apa dia benar-benar terlihat seperti orang-orang yang sedang melarikan diri.

“Kamu pasti belum mempunyai tempat tinggal, iya kan?” Tanya pelayan itu lagi dan seperti dia sedang menemukan peramal semua pertanyaannya memang benar adanya. Namun sebelum dia menjawab, pelayan itu menunjukannya sesuatu,

“Ini ada rumah kecil yang berada diujung dan ditengah hutan yang bisa kamu pakai, harganya murah pula!” Dia mengambil foto yang diberikan pelayan itu dan setelah melihat keadaan rumah itu dia sedikit ragu tapi juga merasa tidak punya pilihan lain. apalagi harganya murah dan keadaannya sepi jadi dia tidak harus dipusingkan dengan tetangga-tetangga barunya. Dia melirik pelayan itu,

“Dimana ini? Kepada siapa saya harus membayarnya?” Tanyanya kepada pelayan yang tak henti tersenyum itu.

“Kau tidak perlu membayarnya anak muda, kerja saja disini dan bantu rumah makan kecil ini bersama saya. Kau lihat kami disini hanya bertiga dan pelanggan yang datang cukup banyak. Tapi rumah itu bukan berada di daerah sini, kamu harus pergi kedesa ujung disana rumahnya berada tepat pemberhentian bis terakhir!”

Dia, yang saat ini memakai nama, kwon jiyong, akhirnya menerima tawaran itu tapi dia berprinsip jika dia akan membayar sewa rumah itu kepada pelayan, yang sebenarnya bukan pelayan melainkan pemilik rumah makan itu.

Dia melahap roti dan air mineral yang ia beli. Dia melirik kearah kantung plastik hitam yang berisi makanan itu, jujur dia masih merasa curiga dengan orang itu, mana ada di dunia ini orang yang baik cuma-cuma. Hah..tapi dia kelaparan dan perutnya masih berisik menagih makanan. Tak apalah untuk kali ini saja! Pikirnya.

bis pun berhenti, dia dan sisa-sisa penumpang lain pun turun. Dia perhatikan penumpang lain berjalan kearah danau dimana ada beberapa perahu besar yang terpampang di pinggir danau. Baru ia ketahui mereka adalah sebuah kelompok nelayan. Dia juga memperhatikan sekelilingnya, ada sebuah toko kecil dipinggir danau dan sebuah rumah cukup besar disampingnya, lalu ada beberapa perumahan yang berjejer rapih namun selebihnya yang bisa ia lihat hanya pepohonan lebat yang menjulang tinggi. Dia melirik foto rumah yang diberikan pelayan-pemilik rumah makan tadi.

Dia lalu berjalan menelusuri jalan setapak sekitar 15 menit dia baru menemukan rumah tersebut.

Dia termenung menatap rumah usang dan pastinya tak berpenghuni itu. dia mengelilinginya sebentar. Beberapa bagian rumah sudah bolong-bolong. Jiyong memercak pinggang lalu menerawang kesekeliling rumah itu, sepertinya dia harus berhati-hati dengan hewan yang berada di hutan ini, terutama ular dan monyet-monyet liar.

Perlahan jiyong berjalan mendekati pintu rumah panggung itu. Dia naik ke tangga menuju pintu namun senyumnya mengembang melihat tangga itu pun sudah rapuh dan bolong-bolong. Banyak PR! pikirnya tersenyum, menurutnya ini lebih baik dan menenangkan jauh dari siapapun jadi tidak ada yang mengganggunya. Lagipula dia sudah mempunyai kerja disini, dia hanya harus bisa adaptasi dengan cepat dan tinggal disini sebisa mungkin. Jiyong lalu masuk ke dalam rumah, dia lagi-lagi mengecek isi dalam rumah terlebih dahulu.

“Hmm… kayanya ini rumah cukup untukku. Tempat tidur sudah ada tinggal diganti bagian penutupnya saja. Lalu kamar mandi pun tidak terlalu buruk..” dia memeriksa airnya dan tersenyum saat air keluar dengan lancar dan bersih disana. Walaupun kamar mandi ini tidak bisa disebut kamar mandi karena ruangannya sama sekali tidak terpisah dari tempat tidur dan pintu yang membatasinya hanya mampu menutupi sampai perutnya saja, tapi baginya ini sudah cukup untuk apa memikirkan hal lain lagipula dia hanya akan tinggal sendiri.

Lalu dia berjalan lagi, dia menemukan sebuah tempat yang mungkin dulu disebut dapur oleh penghuninya. disana adalah tempat yang paling berantakan yang ia lihat dari keseluruhan rumah, tapi sebelum memikirkan hal lain jiyong mengecek kompor gas dan sebuah panci, menurutnya itu adalah 2 hal paling utama karena dia hanya sanggup menghidupi dirinya dengan ramyeon. Dia merasa lega karena panci ada dan kompor gasnya juga menyala.

Setelah menerawang keseluruh rumah jiyong sudah mencatat apa saja yang mesti dia beli. pertama paling utama adalah persediaan ramyeon, lalu beberapa lilin yap, lupakan tentang lampu karena diilihat  dari keadaannya aliran listrik sepertinya sulit didapatkan apalagi rumahnya ditengah hutan, cat kayu, koas dan masih banyak yang harus dia beli. Setelah menghitung dengan keuangannya yang ada dia yakin uangnya akan cukup karena dia belum bayar sewa rumah jadi uangnya masih banyak, Thanks to Soomin halmoni tadi dia bisa mengirit uang untuk sekarang.

Sore itu, jiyong berjalan tenang, tangannya dia masukan ke dalam saku celananya. Matanya yang dingin menatap lurus dengan tenang memandangi pemandangan hijau yang mengelilinginya serta birunya langit yang menyertai kelembutan lembaian angin sejuk. Dia tersenyum, sepertinya dia menemukan persembunyian yang sangat bagus.

Agendanya saat ini adalah untuk berbelanja. Dia tidak pernah membayangkan hari ini akan tiba, dimana dia harus melakukan pekerjaan wanita yap, shopping!

Hah.. dia mendesah.

Sekitar 15 menitan dia pun sampai di depan sebuah toko yang tadi pernah dia liat saat pemberhentian bis dan dia juga yakin itu adalah satu-satunya toko serba guna didesa ini.

teng tong…

 

Selamat datang

Jiyong masuk dan mendapatkan sapaan dari seorang anak perempuan mungil yang sangat lucu.

“Ada yang bisa saya bantu!” Dengan suara cadelnya anak itu menyapa jiyong. Dahi jiyong mengkerut dan menghampirinya yang terlihat sedang duduk diatas meja kasir sambil mengemut sebuah lolipop. Melihat jiyong menghampirinya anak itu tersenyum manis kepadanya.

“Anyeonghaseyo.. samchoen.. ada yang bisa dibantu!!” Lagi-lagi suara cadelnya membuat jiyong tersenyum lalu tanpa sadar dia mengelus rambut anak itu merasa terhipnotis atas tatapan manis anak itu.

“Aigoo anak manis… kamu namanya siapa? Kemana orangtuamu?” Anak itu tersenyum lebar membuat jiyong sangat gemas kepadanya.

“Namaku sarang, omma sedang sibuk membereskan barang-barang lain, kalo appa sudah meningg…!” “Sarang~ah.. turun dari meja!!” Tiba-tiba ada suara yang memotong dan muncul seorang wanita berambut coklat panjang yang lalu melirik jiyong. Mata jiyong menangkap matanya, hatinya terenyuh menatapnya seakan menyaksikan seseorang yang sangat ia kenal.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu? Atau anda mau keliling dulu memilih barang!” Jiyong menatap matanya sebentar lalu mengangguk kecil sebelum dia pergi berkeliling toko.

Setelah beberapa menit Jiyong lalu berjalan kembali ke tempat kasir dengan belanjaannya dimana anak kecil itu berada. Entah mengapa jiyong sangat senang melihat anak itu.

“Sudah semua samcheon? Ah.. samcheon baru pindah yahh…? Wah kalo gitu harusnya samcheon beli peralatan mandi dan make up juga!” Jiyong tak sadar tertawa renyah mendengarnya.

“Aigoo..kok kamu tahu? Aigoo.. tapi samcheon tidak menggunakan make up..” jiyong tersenyum lebar, anak manis itu ikut tersenyum… “oh iya.. aku lupa samcheon kan bukan wanita kaya aku yah heheh..

“Kamu pintar sekali, dan samcheon salut kamu juga pintar berjualan!Aigoo manisnya..” Balas jiyong mengelus-elus rambut anak itu lagi.

“Iya dong, kalo aku gak pinter nanti omma gak akan kasih aku uang saku bulanan heheh…!” Jiyong tertawa namun wanita itu menatapnya dengan tajam membuat jiyong harus menutup mulutnya dengan canggung.

“Ssst .. sarang~ah, ayo cepat kamu berikan barang-barangnya biar omma hitung sekarang!”

“Ndeh..!” Balas anak itu semangat. Lalu dia memberi kode mengunci mulutnya kepada jiyong. Jiyong membalasnya dengan anggukan dan memberinya wink membuat anak itu, sarang, tersenyum lebar.

“Ekhemm..!” Tiba-tiba terdengar suara batuk dan keduanya yaitu jiyong dan sarang langsung terdiam. Namun belum juga lama sarang sudah bersuara lagi.

“Samcheon!” Panggilnya,

“Ndeh! Weoh?”

“Aniyo… !” Pelan dan cute balas sarang sambil melirik ommanya. “hmm.. samcheon kalo  jadi beli peralatan mandi dan cat kayunya beli dua nanti gratis satu ramyeon ..otte?? Menarik kan?” Jiyong tersenyum lebar..

“Aigoo… kamu ini pintar sekali!hmm… araseo samcheon akan membeli itu tapi satu ramyeon terlalu kecil bagaimana kalo 3!”balasnya sambil memperagakan angka 3 dengan cute membuat sarang tertawa, lalu  sarang menggoyang-goyangkan ommanya.

“Omma.. boleh yah.. kan samcheonnya beli banyak!” Rengek sarang dan saat ommanya mengangguk sarang dan jiyong bersorak lalu berpelukan.

ibunya sarang menatap mereka dengan terkejut. Laki-laki didepannya ini adalah orang asing dan dia yakin baru kali pertama mereka bertemu tapi sarang sudah bisa sedekat ini dengan laki-laki asing itu.

Setelah pembayarannya selesai jiyong pamit dan melambaikan tangannya kepada sarang. Tapi sarang malah turun dari meja dan menghampirinya.

“Apa itu berat?” Sarang menunjuk belanjaan jiyong yang seabreg itu.

“Hmm.. enggak kok!” Bales jiyong tersenyum.

“Aigoo.. samcheon pasti boong. Pasti berat iya kan!” Seru sarang, lalu  menghampiri ommanya.

“omma..omma.. tolongin samcheonnya yah..! Kan dibelakang ada sepedah yang gak ke pake pinjemin aja yah… yah… !” Rengek sarang kepada ibunya, namun mendengar hal itu jiyong merasa dia tidak enak dan merepotkan apalagi mereka yang masih asing baginya.

“Aniyoo.. tidak usah saya bisa sendiri kok!” Sarang menatapnya sedih dan cemberut.

“Tidak apa-apa sepedahnya memang tidak terpakai sama sekali, kamu baru kan disini pasti butuh kendaraan untuk kemana-mana iya kan! Pakai saja!” Sarang mengangguk kencang mendengar perkataan ommanya.Karena dipikir-pikir lagi dia juga kasihan kepada orang itu jadi ibunya sarang setidaknya ingin membantu tanpa maksud lainnya tapi jiyong menggeleng.

“Tidak terimakasih. Kalo begitu permisi! Anyeong sarang~ah.. !” Jiyong tersenyum kepadanya lalu berjalan keluar toko sambil menjinjing kantong besar dan sangat banyak itu ditangannya.

Jarak yang belum juga jauh dari toko itu jiyong lalu menurunkan belanjaannya dan berbalik melirik toko tadi yang ternyata sarang dan ibunya masih melihatnya dibalik kaca. Menyadari kondisi apa yang terjadi mereka bertiga pun tersenyum lalu tertawa. Jiyong akhirnya berjalan kembali,

“Sepertinya memang saya butuh sepedah itu!” Kata jiyong canggung kepada ibunya sarang dan dia hanya mendapatkan senyuman canggung juga dari ibunya sarang.

“Aigoo.. samcheon heheh.. tuh kan udah aku bilang apa tadi!” Seru sarang percaya diri.

“Aigoo.. iya bener deh samcheon yang salah!” Balas jiyong geli.

“Omma.. biar aku aja yang nunjukin sepedahnya yah..!”

“Araseo.. hati-hati!”

Sarang lalu membawa jiyong kebelakang rumah sarang dan menunjukan sepedah itu. Setelah itu mereka berdua kembali kedepan toko dan membereskan barang bawaan jiyong.

Sebelum jiyong pergi dia berjongkok menghadap sarang. “Sarang~ah siapa nama ommamu?” Bisiknya, sarang lalu mendekati telinga jiyong

“Dara omma!” Jiyong lalu melirik wanita itu, ibunya sarang yang bernama dara itu lalu tersenyum kepadanya sambil mengangguk kecil kepadanya.

 ♡TBC♡

^^ saranghaeoo..

Send Sarang sarang …to the people who love DARAGON till the end.. STILL HAVE FAITH LIKE ME… KYAHHH.. HENGSHO GUYS♡♡

 

Advertisements

15 thoughts on “SOMETHING CALLED LOVE – Masih Dalam Pelarian [Chap. 2]

  1. Kak masih agak bingung hehehe….. itu knp jiyongnya jd buronan sih…. dan masih penasaran sm nama aslinya jiyong dan knp haejin nyebut marga jiyong itu park???? Itu sarang kok bisa langsung akrab aja sih sm jiyong dan kayaknya mereka bertiga tuh kaya udah ditakdirkan tuk bersama….. next chap aja deh kak makin penasaran aja nih sm kisah mereka bertiga……

  2. lah.ttu knpa ji oppa jd buronan ??
    apa dia yg d.cari ma haejin .
    tp knpa haejin nyebut marga.a park ??
    sarang ank.a dara unie dari sapa ???
    ahh..pnsarann …

  3. itu bneran jiyong?atau siapa?pnsran sama identitas aslinya jiyong dan masa lalunya dia,aigoo dara udah punya anak ana disini kkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s