CHANGE [Oneshoot]

By :Oktyas

Pleasee baca dulu sampe akhir😊🙏 habis itu tulis pendapat kamu. Its new genre for me so im lacking so many point. Ayo saling bekerja sama😊

. . .

“Dara?” Suara panik sahabatnya langsung memenuhi telinga saat gadis bersurai emas itu menjawab panggilannya.

“Ada apa Hyoni-ah?”

Suara nafas Hyoni terdengar panik. “Hyoni-ah?”

“Aku tidak suka berbasa-basi tapi-” Hyoni menggantungkan ucapannya.

Dara menjadi tidak sabar. “Hyoni ada apa? Kau membuatku takut.”

“Aku melihat Jiyong.”

DEG.

Nama lelaki yang selalu ia rindukan tiga tahun ini. Yang selalu singgah di mimpinya. Yang selalu terbayang senyumnya. Kwon Jiyong, kekasihnya yang tiba-tiba menghilang.

“D-di mana?” Suara Dara menjadi lemah dan serak.

“Di Seoul.”

Hati Dara menjadi sesak. “Di Seoul?” Bagaimana bisa lelaki itu tidak memberitahunya jika ia sudah di Seoul?

“Tapi-” Keraguan bercampur rasa sakit terasa jelas di suara Hyoni.

“A-ada apa?”

“Dia tidak mengingatku Dara.”

Mata Dara membulat. “Mwo?! Bagaimana bisa?!” Apa yang terjadi sebenarnya.

“Dan, dia bersama perempuan lain.” Kata Hyoni lirih.

Nafas Dara tercekat. Hatinya seperti diremas. Sakit. Sesak.
“A-apa?”

“Mianhae Dara-ya. Mianhae.” Hyoni terus mengucapkan minta maaf saat mendengar suara isakan Dara.

“A-apa dia terlihat bahagia Hyoni-ah?” Bisik Dara.

“Kenapa kau tanyakan itu?”

“Katakan padaku?!!” Suara Dara bercampur dengan suara tangisnya membuat Hyoni ikut menangis.

“Dia bahagia Dara-ya, mereka berdua bahagia. Mian.” Hyoni mengutuk dirinya karena tidak mampu berbohong demi kebaikan sahabatnya.

“N-nanti aku a-akan meneleponmu lagi.” Dara mencoba menahan tangisnya.

“Aku menyayangi Dara. Hubungi aku secepatnya.”

“Neh.”

***

Dara menatap foto yang dipasang di dinding kamarnya. Itu adalah foto dirinya dan Jiyong, tersenyum bahagia melihat ke arah kamera dengan pria itu merangkul erat tubuhnya.

Inikah akhirnya? Dia rela menunggu lebih dari tiga tahun, asal Jiyong kembali padanya.

“Waeee?!!!” Teriak Dara histeris sambil melempar bantalnya. “Apa cintaku tidak cukup?!!! Kenapa Tuhan mengujiku seperti ini?!!”

Dara meraung-raung, air matanya tidak berhenti mengalir.

“Jiyong-ah, Jiyong-ah, kau berjanji ke mana pun kau akan pergi kau akan kembali padaku.” Bisiknya lelah. “A-apa kau lelah mencintaiku?”

Malam itu, Dara menghabiskan waktunya dengan memandangi foto Jiyong di pelukannya. Tanpa lelah memanggil namanya. Hingga ia tertidur, dengan air mata yang masih tetap mengalir.

***

Dara masuk ke dalam kantornya dengan lesu. Matanya sembab, wajahnya pucat, dengan berjalan gontai, ia seperti tidak hidup. Bahkan dia tidak menyapa staf-stafnya.

Dara menghidupkan komputernya, lalu mengecek email masuk. Ada beberapa dari rekan kerjanya, pemberitahuan event baru, dan temannya. Itu dikirim semalam.

From : Kiko Mizuhara
To : Me

Hi Dara! Tebak aku di mana?! Aku ada di Seoul! Ayo bertemu, sudah lima bulan tidak bertemu! Katakan di mana tempatnya aku akan datang 😊.

From : Me
To : Kiko Mizuhara

Hi! Maaf aku baru membukanya. Kapan kau free? Aku bisa siang ini. Aku tinggal di daerah Gangnam.

TING!

Tidak menunggu lama, Kiko pun membalasnya.

From: Kiko Mizuhara
To : Me

Great! Aku juga di Gangnam. Di mana?

From : Me
To : Kiko Mizuhara

Bagaimana jika di cafe dekat Chanel Store? Kau tahu tempatnya kan? Atau aku bisa menjemputmu.

From : Kiko Mizuhara
To : Me

Tidak perlu. Aku bisa datang sendiri. CU at lunch Dara 😘.

***

Dara melambaikan tangannya saat melihat seorang gadis dengan rambut hitam pendek, ciri khasnya memasuki cafe. Kiko tersenyum, dan segera menghampirinya.

“Halo! I miss you!” Pekik Kiko. Dara berdiri untuk memeluk perempuan yang lebih tinggi beberapa senti itu.

“Bukankah kita memang jarang bertemu?” Goda Dara. Awal mula pertemanan mereka terjalin ialah saat keduanya menghadiri sebuah seminar sastra bersama. Lalu mereka selalu berusaha untuk datang di event yang sama. Meski pun jarang bertemu, tapi mereka sering bertukar kabar lewat email, dan karena kedua gadis itu adalah penulis, mereka saling mereview tulisan satu sama lain.

“Pokoknya aku senang bertemu denganmu! Dan aku bisa melihatmu setiap hari.” Kata Kiko girang.

“Bagaimana bisa?” Dara mengerutkan keningnya.

“Karena aku pindah ke Seoul. Aku menandatangani perusahaan penerbitan di sini. Dan kekasihku juga tinggal di sini.”

Dara tersenyum lebar. “Kabar gembira. Apa pacarmu orang Korea?”

“Iya. Kami bertemu di Los Angeles.” Jawab Kiko.

“Kau tinggal di Los Angeles? Aku kira kau di Jepang?!”

Kiko tertawa. “Asalku memang dari Jepang, tapi aku tinggal di mana pun ku mau.”

Dan seperti teman normal lainnya, mereka berdua mengobrol sampai tak ingat waktu. Bercerita tentang event-event yang mereka hadiri, dan banyak hal lainnya.

“Ayo kita bertemu lagi. Aku akan mengenalkan pacarku.” Usul Kiko. “Dan bawa juga pacarmu itu.”

Jantungnya terasa seperti berhenti sejenak. “Aku, aku tidak punya.”

“Bohong! Bagaimana?! Ke mana dia? Oh Dara.” Suara Kiko meninggi.

“D-dia pergi.”

***

Sejak Hyoni mengatakan ia bertemu Jiyong di Seoul, dirinya sendiri belum pernah bertemu, dan ia tidak berniat untuk mencarinya saat ini. Kabar itu seperti angin topan yang memporak porandakan dirinya. Dan dia belum siap melihat Jiyong-nya bahagia dengan perempuan lain, melalui matanya sendiri.

Dara berjalan menuju rak display yang menyajikan buku-buku terbaru. Ia bersama Hyoni mengunjungi pameran buku di salah satu mall di Gangnam.

“Dara!” Dara menoleh dan melihat Youngbae berjalan ke arahnya.

“Youngbae-ah! Sudah lama tidak bertemu.” Dara berjabat tangan dengan lelaki itu.

“Apa kau ke sini sendiri?”

“Aniyo. Aku bersama Hyoni.” Dara menunjuk Hyoni yang sedang di rak sebelahnya.

“Kenapa kau tidak pernah berkunjung lagi uh?” Tanya Youngbae merujuk pada rumah makan yang ia miliki.

“Mianhae. Aku sibuk. Tapi aku selalu delivery order kok.” Kata Dara. “Bae-ah, kenapa kau sendirian? Tidak mungkin kau sendirian di tempat ramai seperti ini.”

Youngbae tertawa. “Memang tidak. Di mana ya mereka?”

“Siapa?” Dara heran melihat sahabatnya itu sedang mencari seseorang.

“Ah itu!” Seru Youngbae sambil menunjuk ke arah dua orang yang sedang berjalan ke sini.

Dara melihat ke arah Youngbae menunjuk.

“Dara!” Panggil Kiko bersemangat.

Air mata tiba-tiba sudah di sudut matanya. Kakinya menjadi lemas saat melihat lelaki di samping temannya itu.

“Perkenalkan ini Jiyong, pacarku. Kita sudah berpacaran selama dua tahun.” Terpancar kebahagiaan dari mata Kiko.
“Dan ini temanku yang sering aku ceritakan, Dara.”

“Jiyong.” Dengan senyum manisnya yang tak pernah berubah, Jiyong mengulurkan tangannya.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, Dara menjabat tangan tersebut. Tangan yang seharusnya menggenggam jemarinya. “D-Dara.”

“Dara-ssi kau tidak apa-apa?” Tanya Jiyong.

Tiba-tiba Hyoni datang, ia terkejut ketika melihat Jiyong dan perempuan yang ia lihat beberapa hari lalu. Perhatiannya beralih pada Dara yang sudah pucat, dan tidak fokus.

“Dara, ayo lita pulang.” Hyoni merangkul bahu Dara, tapi perempuan itu tidak bergeming.

“Dar-“

BRUK!

Dara terjatuh di pelukan Hyoni dengan mata terpejam.

***

Haruskah aku mati? Alasan kenapa aku bertahan tiga tahun ini pun sudah tidak ada. Lalu aku bertahan untuk siapa?

Dara memikirkan kejadian menyakitkan kemarin berulang kali.

Apakah dirinya harus menyalahkan takdir? Atau Tuhan yang menuliskan takdir?

Karena sekeras apa pun ia berpikir, ia sudah memberikan segala yang ia punya pada Jiyong. Bahkan tidak ada cinta yang tersisa untuk mencintai dirinya sendiri. Cintanya, hatinya, rindunya hanya untuk lelaki itu.

Mengakhiri hidupnya malam ini tidak buruk. Bahkan itu adalah pilihan terbaik yang ia punya. Dara berjalan menyusuri jembatan tinggi ini, sambil sesekali melihat ke bawah. Pekatnya sungai di bawah sana mungkin saja kebahagiaannya.

“Apa kau berniat bunuh diri?”

Dara menoleh, ia terkejut melihat alasan kenapa ia ingin mati sekarang juga. “Ya.”

“Kenapa?”

Dara memilih diam. Ia takut suaranya mengkhianatinya. Ia takut menangis di depan lelaki ini.

“Aku pernah membaca bukumu sekali. Kiko meminjamkanku.” Ujar Jiyong. “Di situ kau menulis tentang keajaiban ketika kau menemukan belahan jiwamu. Kau harus memberikan seluruh cintamu padanya, karena belahan jiwa itu akan mengubah cintamu menjadi bubuk sihir yang terus membuatmu tersenyum, tertawa, bahagia, dan berharga.” Jiyong menghela nafas.

“Kau terlihat bahagia di buku itu.”

“Itu empat tahun yang lalu.” Dara menjawab dengan suara bergetar. “Ketika dia belum membawa seluruh cintaku dan bertemu cinta lain.”

“Tiga tahun lalu, aku mengalami kecelakaan. Aku kehilangan memoriku. Selama seminggu aku tidak ingat orang tuaku. Namun lama-lama ingatanku. Ada beberapa orang yang aku tidak pernah aku lupakan, tapi ada pula beberapa orang yang aku tidak ingat sama sekali. Kau tahu? Aku takut, jika ingatanku belum benar-benar pulih. Aku stress memikirkan itu. Namun, kenapa aku harus berusaha mengingat sesuatu yang aku tidak yakin ada atau tidak. Kenapa aku tidak membuat memori baru? Itu yang kau pikirkan.” Jiyong berhenti sejenak. “Dan aku bertemu Kiko. Dia gadis cerewet, dan menyebalkan, tapi itulah yang membuat aku jatuh cinta. Sebenarnya ini yang ingin aku katakan, aku mengalami hal buruk, tapi aku di sisi lain aku mengalami sesuatu yang luar biasa, aku bertemu kekasihku. Dara, selalu ada alasan untuk bertahan hidup, dan berbahagia.”

Dara menatap Jiyong dengan air matanya yang membasahi pipinya.

“Jiyong-ah.” Dara sungguh rindu memanggil nama itu. Lalu ia menunjukkan cincin di jari manisnya. “Empat tahun lalu, setelah aku merilis bukuku, kekasihku melamarku. Aku sangat bahagia, hatiku dipenuhi oleh rasa cinta yang ia berikan. Kau bilang daripada kau harus mencari tahu apa saja memorimu yang hilang, atau pun siapa lagi orang yang kau lupakan, kau lebih memilih membuat memori baru.”

Jiyong mengangguk.

“Apakah kau pernah berpikir bahwa ada mungkin seseorang yang sudah memberikan segalanya padamu, dan kau tidak mengingatnya. Kenapa kau tidak berusaha lebih keras untuk mengingat? Kau tahu bagaimana sakitnya menjadi orang itu? Orang yang sudah memberikan segalanya, dan terlupakan begitu saja? Yang dia minta bukanlah bulan atau bintang! Dia hanya minta orang yang dicintainya kembali ke pelukannya. Tidak peduli berapa lama, orang seperti itu akan tetap menunggu.” Tangis Dara pecah. Ia tidak peduli lagi jika Jiyong tahu.

Jiyong terkejut saat Dara mulai menangis kencang. “Dara.”

“How dare you call my name after you said you fall in love with another girl. Do you know how hurt my heart?!” Dara memukul dadanya.

“Sakit Jiyong, sakit. Jadi izinkan aku mati kumohon, aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain, aku tidak bisa.” Dara terus menangis. “Karena aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaanmu, karena aku tahu kau tidak akan kembali padaku.”

Jiyong membeku. Apa yang gadis di hadapannya katakan? Siapa dia? Kepalanya mulai sakit. Tapi dia harus membawa Dara pergi sebelum ia melakukan hal gila di sini.

Jiyong memeluk tubuh Dara erat namun gadis itu terus meronta. Dara yang berhasil meloloskan diri dari Jiyong langsung berlari. Ia tidak peduli dengan kendaraan yang berlalu lalang. Ia berharap ia mati di tengah jalan. Dirinya masih berpikir mati adalah jalan satu-satunya.

Saat melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya, Dara tersenyum. Ini adalah waktunya. Tubuh kecilnya melayang, lalu terhempas keras ke jalan yang keras.

“Dara!” Jerit Jiyong. Ia menghampiri tubuh gadis itu sudah berlumuran darah. “Aku terlambat.. aku terlambat.”

***

Hyoni menangis histeris sambil terus memukuli Jiyong.
“Brengsek! Brengsek! Aku membencimu!”

Jiyong diam membiarkan Hyoni memukulnya. Rasa sakit ini tidak seberapa dengan rasa sakit gadis itu. Gadis yang terbunuh karenanya.

Ya, Sandara Park berhasil. Ia berhasil menuju kematiannya.

“Kau meninggalkannya tiga tahun, lalu kau kembali hanya untuk membunuhnya?!!” Hyoni menjerit. “Dengar Kwon Jiyong, selama aku hidup, aku akan memastikan hidupmu tidak akan pernah bahagia. Camkan itu!”

Dalam perjalan ke rumah sakit, Jiyong mengambil ponsel Dara di saku mantelnya. Betapa terkejutnya dia melihat fotonya dengan Dara menjadi wallpaper. Galerinya penuh dengan fotonya dan foto mereka. Dada Jiyong terasa diremas, dijatuhkan, dan dihancurkan berkeping-keping. Ada beberapa video di sana, salah satunya video setelah ia melamar Dara. Gadis itu memamerkan cincinnya, dengan Jiyong di belakangnya, memeluk mesra.

Mrs. Kwon terdengar bagus bukan?

Itu terdengar sempurna.

Jiyong terisak, meski pun ia belum mengingatnya, namun dia bisa merasakan betapa besar cinta Dara padanya. Tapi semuanya terlambat. Lelaki yang seharusnya bisa melindungi, mencintai dan menjaga, dirinya malah menjadi penghancur, dan pembunuh gadisnya, Sandara Park.

Aku akan melanjutkan hidupku, dan memastikan penyesalan menghantuiku, dan rasa bersalah menggerogotiku. Ini satu-satunya cara, bagaimana aku menebus kesalahanku. Karena bagaimana pun, bernafas rasanya tak lagi sama, hanya ada sesak dan perih tertancap di dalam lubuk hatiku.

END
***

Plz dont kill me! First time buat angst, hurt, dan sad ending.

Jangan tanya rasanya aku gimana😢😢😢😢 Aku nangis waktu ngayal cerita ini. Pengennya cepet2 ending.😭😭😭

Apa feelnya dapet? Apa nyeseknya dapet? Apa kalian nangis? Sori kalu kecepeten soalnya emang ga sesuai rencana alur awal, soalnya aku udah ga tahan😢😭.

PS : ini terakhir kalinya aku bikin sad ending!

 

Advertisements

8 thoughts on “CHANGE [Oneshoot]

  1. Nyesek banget, sedih banget
    Emang ga bisa nyalahin Jiyong 100% sih tapi jadi kasian ma Dara deh
    Dan kenapa saat akhirnya ketemu dan saat Jiyong mulai inget lagi Dara harus pergi ga rela!!!

  2. tadinya q pikir jiyong bakalan lindungi dara n dia yg kecelakaan….sempat ngebayangin juga dara selamat n mereka bisa bersama.
    setuju thor, jangan buat cerita kayak gini lagi, hehehhe…

  3. Aku smpet ngira kalau sebelum dara ketabrak jiyong melindungi dara, mereka tertabrak bersama, nd krn kecelakaan itu jiyong jadi inget sama dara nd mereka hidup bahagia,,
    Atau saat saat mereka tertabrak bersama, mereka meninggal bersama tapi ternyata jiyong…. oh… ini begitu menyakitkan
    Janji ya ini terakhir kalinya kamu bikin ff sad ending😭😭

  4. sial,, aku nangis . oh maafkan mulut jahatku telah berkata ksar. sumpahh ni nyesek bngt, aku spenuhnya ga bsa salahin ji, karna dia hilang ingatan. tpi yg aku kesalkan dia ngga berusaha untuk mengingat kenanganny. ya ampunn, tiga thun penantian dara sia2. sumpahhh jantung serasa berenti pas dara ditabrak, ya ampuunn gak bisa byangin btapa sakitnya ditinggalkan kekasih dgn moment kaya gtu. feelny dapet bngt kak, aku nangis bacany lohh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s