Gonna Get Better [Chap. 4]

untitled-1

Author : rmbintang

Category : Romance

Main Cast : Sandara Park,Kwon Jiyong

Dara sedang berdiri di salah satu sudut Pelabuhan Mediterania. Matanya menatap keluarga kecil yang sedang berlayar menggunakan gondola di kanal yang menyerupai kanal-kanal di Venice. Bibirnya sedikit melengkungkan senyuman saat bayangan masa lalu melintas di kepalanya, adegan saat Dara kecil dan kedua orangtuanya berlayar di tempat yang sama.

Eomma, Appa. Aku kembali ke sini.’ Bisiknya dengan suara pelan. Dara kemudian memegang dadanya ketika dia merasakan ada perasaan sakit yang tiba-tiba muncul di dadanya. Dia memejamkan matanya sesaat untuk meredam rasa sakit yang perlahan mulai membesar, dia ingin menangis untuk mengurangi rasa sakitnya namun dia masih mencoba untuk menahan perasaan itu karena dia tidak ingin terlihat lemah. Jika saja dia tidak sendiri, dia pasti tidak akan sesakit ini.

“Aku menemukanmu!” Dara langsung membuka matanya ketika dia mendengar suara seseorang yang sudah tidak asing baginya. Dia kemudian langsung membalikkan badannya lalu melihat Jiyong yang kini telah berdiri di hadapannya.

“Jiyong?” Tanyanya dengan kening berkerut. “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya lagi, masih bingung dengan kehadiran Jiyong yang tiba-tiba. “Bukannya kau ada kencan dengan gadis Jepang malam ini?”

“Aku berubah pikiran.” Ujarnya. “Aku tidak bisa membiarkan gadis bodoh ini berkeliaran sendirian karena dia selalu terlibat masalah jika sedang sendiri.” Ujarnya lagi membuat Dara kembali mengerutkan keningnya.

“Kau membatalkan kencanmu demi menemaniku?” Tanya Dara masih dengan kening berkerut.

“Ada apa dengan reaksimu? Apa kau tidak suka dengan kehadiranku?” Tanya Jiyong dengan nada kecewa, Dara langsung menggelengkan kepalanya sambil terus memperhatikan Jiyong. “Lalu kenapa? Apa kau lebih suka jika aku pergi dengan Nana?” Dara kembali menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya sedikit terkejut.” Ujar Dara. “Jadi kau benar-benar membatalkan kencanmu demi aku?” Jiyong menganggukkan kepalanya sambil sedikit tersenyum.

Why so sweet?” Ujar Dara kini sambil menyimpulkan senyumannya. “Aku bahagia karena kau ada di sini.” Sambungnya kini sambil sedikit berlari kecil kearah Jiyong yang masih berada beberapa langkah di hadapannya. Jiyong langsung tersenyum setelah melihat senyuman gadis itu kemudian merentangkan tangannya untuk menyambut Dara. Dara kemudian langsung memeluk Jiyong ketika dia telah tepat berada di hadapan sahabatnya itu.

“Maafkan karena aku terlambat.” Bisiknya di telinga Dara yang hanya dibalas gelengan oleh wanita itu.

“Tidak usah meminta maaf karena walaupun tadi siang kau menolak untuk menemaniku tapi anehnya aku merasa sangat yakin bahwa pada akhirnya kau pasti akan datang dan lihatlah sekarang!” Ujar Dara setelah dia melepaskan dirinya dari pelukan Jiyong. “Kau tepat di hadapanku.” Sambungnya dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya dan hal itu benar-benar menenangkan Jiyong karena bisa melihat wanita yang paling dia kagumi dapat tersenyum seperti itu.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang huh?” Tanya Jiyong sambil memasukkan kedua tangannya pada saku mantel yang dia kenakan dan saat itulah dia sadar bahwa Dara sama sekali tidak memakai jaket untuk melindungi tubuhnya dari hawa musim dingin. Jiyong berdecak menghasilkan tatapan bingung dari sahabatnya itu, lalu tiba-tiba Jiyong melepaskan mantel yang masih dia pakai kemudian memberikannya kepada Dara. “Pakailah ini!” Dara langsung menerima mantel yamg Jiyong berikan sambil tersenyum.

Gomawo chinggu.” Ujar Dara sambil memakai mantel yang Jiyong berikan pada tubuhnya sendiri kemudian dia melingkarkan tangannya pada lengan Jiyong. “Ayo kita melihat pertunjukkan fantasmic.” Ujarnya sambil sedikit menyeret tubuh Jiyong.

“Pertunjukkan apa itu?”

“Mickey mouse.” Jiyong langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar jawaban dari Dara kemudian dia melihat ke sisi Dara.

Excuse me?” Tanya Jiyong. “Kita sudah besar dan aku datang ke sini bukan untuk menonton binatang pengerat itu.” Ujar Jiyong sarkas yang membuat Dara sedikit merenggutkan bibirnya.

“Tapi aku ingin menontonnya. Mereka itu sangat cute Jiyong.”

“Aku berani bertaruh bahwa wajahku seribu kali lebih cute daripada mereka.”

Shut up and follow me. Arasseo?” Jiyong menggelengkan kepalanya yang membuat Dara berdesis.

“Ayo kita pergi ke tempat yang lebih sesuai untuk usia kita daripada menonton mickey mouse.” Ujar Jiyong sambil merangkul bahu Dara dan akan melangkahkan kakinya namun Dara hanya mematung di tempatnya, sama sekali tidak ingin menuruti keinginan Jiyong. Jiyong kembali menatap Dara yang masih bertahan pada keinginannya. Dia tidak berniat kalah dari Jiyong.

“Jiyong kau datang ke sini karena kau tahu bahwa hari ini adalah ulang tahun ibuku, kan?” Tanya Dara. Jiyong sedikit bingung dengan pertanyaan Dara namun dia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan itu. “Jadi kau juga pasti tahu bahwa aku sedang bersedih, kan?” Tanya Dara yang kembali Jiyong balas dengan anggukan. “Lalu apakah kau datang kemari untuk menghiburku?” Tanya Dara lagi kemudian Jiyong kembali mengangguk. “Kalau begitu kau harus melakukan apapun yang aku inginkan supaya aku tidak lagi bersedih dan bisa terhibur.”

“Kau tadi tersenyum ketika melihatku, itu berarti kau sudah tidak bersedih dan itu berarti aku sudah berhasil menghiburmu.” Ujar Jiyong sambil mengangkat bahunya.

“Aku tersenyum karena aku bahagia kau ada bersamaku tapi itu bukan berarti bahwa aku sudah melupakan kesedihanku.” Kata Dara lagi. “Ayo kita melihat pertunjukkannya!” Ujar Dara final dan tanpa menunggu jawaban dari Jiyong Dara langsung membalikkan badannya lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Dara sedikit melirik ke sampingnya saat dia merasakan Jiyong sudah kembali berjalan di sampingnya dan hal itu membuat bibirnya mengulumkan senyuman, Dara berpikir Jiyong mengikutinya sambil merutuk di dalam hati tapi yang dia tidak ketahui adalah bahwa Jiyong sebenarnya sedang menahan senyumannya. Senyuman bahagia setelah mendengar bahwa Dara bahagia karena Jiyong ada bersamanya.

Dara Pov

“Ngomong-ngomong Jiyong bagaimana bisa kau menemukanku diantara ribuan manusia yang berada di sini?” Aku berkata sambil melirik Jiyong yang kini berjalan di sampingku.

“Aku punya caraku sendiri.” Katanya so misterius yang aku balas dengan berdecak.

Aku sebenarnya sedikit kaget ketika mendapati Jiyong berdiri di hadapanku padahal tadi siang dia menolak ketika aku terus memaksanya untuk menemaniku pergi. Aku sedikit kecewa ketika Jiyong menolakku dan lebih memilih untuk pergi berkencan dengan salah satu wanita yang dia kenal di Jepang namun anehnya aku sangat yakin bahwa pada akhirnya Jiyong akan menemani dan ternyata keyakinanku benar karena sekarang dia ada di sini, di sampingku.

Kami baru saja menonton acara pertunjukan fantasmic di arena Mediteranian Harbour. Awalnya Jiyong menolak untuk menemani menonton pertunjukan iu karena menurutnya pertunjukkan itu hanya untuk anak kecil namun pada akhirnya dia tetap menemaniku. Aku heran juga sebenarnya kepada Jiyong yang selalu menolak jika aku memintanya melakukan sesuatu tapi pada akhirnya dia akan melakukan apa yang aku minta tanpa banyak berkomentar dan aku sangat menyukai sifat Jiyong yang satu ini. So jual mahal dan murahan di saat yang sama, kekeke.

Kami sekarang sedang berjalan menuju ke sebuah restoran. Dia bilang dia sudah mem-booking tempat duduk sehingga kami bisa langsung makan tanpa perlu mengantri terlebih dahulu.

“Setelah ini kau ingin pergi kemana lagi?” Tanya Jiyong setelah dia menghabiskan air minum yang dia pesan. Kami sekarang sedang makan malam di salah satu restoran itali yang berada di Pelabuhan Mediterania. Aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku kemudian menatap Jiyong.

“Menurutmu kemana?” Tanyaku. “Aku tidak punya ide.” Ujarku kemudian memotong ice cream cake semifreddo dengan sendok kecil kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

“Kau memutuskan datang ke tempat ini tanpa ide sama sekali?” Tanya Jiyong sambil menatap tidak percaya kepadaku. Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.

“Aku datang ke sini hanya untuk datang ke tempat kita tadi.”

“Hanya tempat itu?” Tanya Jiyong yang aku balas dengan anggukan kepala. “Kenapa?”

“Tempat itu adalah tempat terakhir kami mengambil gambar, aku pergi kesana untuk mengenang semuanya sekaligus membuang kenangan itu.” Kataku, tatapan Jiyong melembut ketika mendengar apa yang aku katakan dan hal itu berhasil membuatku sedikit tersenyum, aku senang karena aku tahu dia khawatir kepadaku. “Jangan berwajah seperti itu Jiyong. Aku baik-baik saja.”

“Dara-ah jika kau ingin menangis aku dengan senang hati akan mendengarkannya.” Suaranya terdengar sangat lembut. Aku kembali tersenyum kemudian menggelengkan kepalaku.

“Sudah aku bilang aku baik-baik saja. Aku sudah membuang kenangan terakhirku dengan mereka jadi tidak akan ada lagi kesedihan dan air mata. Sekarang saatnya untuk bahagia.” Aku melihat Jiyong tersenyum.

“Kau bahagia?” Aku menganggukkan kepalaku.

“Aku sudah bahagia sejak melihatmu tadi.” Jawabku dengan jujur dan itu membuat senyuman Jiyong semakin merekah.

“Syukurlah kalau begitu.” Ujar Jiyong kemudian, aku tersenyum lalu kembali tertarik pada dessert yang masih belum habis.

“Kau mau?” Tanyaku sambil menatap Jiyong. “Ini sangat lezat!” Jiyong menggelengkan kepalanya. “Tapi aku kenyang.” Ujarku. “Bantu aku untuk menghabiskannya.” Bujukku namun Jiyong masih enggan untuk menurutiku.

“Simpan saja jika kau sudah kenyang.” Aku menggelengkan kepalaku.

“Tidak baik membuang makanan.”

“Jika kau tahu itu tidak baik lalu kenapa kau memesan sangat banyak huh?” Tanya Jiyong sambil berdecak, aku mengerucutkan bibirku.

“Aku sangat lapar jadi aku memesan semua yang aku suka karena semua terlihat lezat ketika perutku sedang kosong.” Kataku membela diri. “Ayo bantu aku!” Bujukku lagi namun Jiyong hanya mengangkat bahunya tidak peduli dengan rayuanku.

Aku berdesis sambil mengambil dessert itu dengan sendok kemudian menyodorkannya kepada Jiyong, berniat untuk menyuapinya namun Jiyong sama sekali tidak membuka mulutnya. “Argh Jiyong-ah.” Kataku lagi dengan sedikit merajuk, masih tidak menyerah. Jiyong berdecak dan akan menjauhkan tanganku namun hal itu malah membuat makanannya jatuh lalu mengotori baju yang dia kenakan.

Ya!” Teriak Jiyong sedikit keras yang langsung membuat meja kami menjadi pusat perhatian.

“Ah mianhae Ji. Aku tidak sengaja.” Kataku kemudian menggigit bibir bawahku. “Ottokeo?” Tanyaku sambil terus menatap Jiyong yang sedang membersihkan bajunya dengan tisu dan itu malah membuat nodanya semakin tersebar.

“Aku tidak mungkin terus memakai baju kotor ini.” Ujar Jiyong kini sambil menatapku dengan tatapan tajam, Jiyong pasti sangat kesal. “Ayo kita pulang!” Ujarnya lagi. Tapi aku masih belum ingin pulang. Aku masih ingin menikmati waktu sebelum kembali ke Korea. Aku berpikir apa yang harus aku lakukan supaya Jiyong tidak meminta untuk pulang lagi.

“Jiyong tunggu di sini.” Ujarku kepada Jiyong sambil berdiri kemudian memakai tas selempang milikku.

“Kau mau ke mana?” Tanyanya dengan tatapan bingung.

“Aku akan membelikan baju ganti. Banyak pusat oleh-oleh di sini.” Kataku menjelaskan.

“Cepatlah! Dan belikan baju yang sesui dengan wajah tampanku.”

Arasseo.” Ujarku kemudian langsung berlari keluar restoran.

****

Are you kidding me?” Tanya Jiyong kepadaku dengan tatapan tajam.

“Aku tidak bisa menemukan baju yang lebih cocok. Itu yang terbaik Jiyong.”

“Tapi ini,..” Jiyong tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan kemudian menatap kaos yang aku belikan untuknya. “Aku tidak ingin memakai baju ini.” Katanya kini sambil melihatku. “Ayo kita pulang!”

“Argh Jiyong-ah aku masih ingin di sini. Kita belum pergi ke Indiana Jones Ride.”

Ya!” Ujar Jiyong. “Kau tadi bilang tidak punya ide.”

“Aku berubah pikiran. Aku ingat Chaerin pernah mengatakan bahwa itu salah satu tempat yang wajib dicoba di Desney Sea.” Ujarku namun Jiyong terlihat masih enggan untuk memakai baju itu. “Lihatlah aku membeli dua jadi aku akan memakai baju itu juga sehingga kau tidak akan malu.”

“Kau akan memakai baju yang sama denganku?” Aku menganggukan kepalaku.

“Walaupun nanti kita akan terlihat seperti pasangan tapi aku tidak keberatan asal kau masih mau menemaniku.”

“Memangnya kau pikir aku akan berubah pikiran jika kau juga memakai baju yang sama?” Tanya Jiyong kini sambil mengangkat satu alis matanya.

“Ayolah Jiyong kau pasti sangat senang bisa memakai baju yang sama denganku.” Kataku sambil tersenyum. “Aku tahu kau sudah lama naksir kepadaku.” Sambungku sambil mengedipkan mata kearahnya dan raut wajah Jiyong seketika langsung berubah serius.

“Apa maksudmu?” Tanyanya juga dengan suara yang serius dan itu sangat lucu karena Jiyong jarang berbicara dengan nada suara seperti ini, aku langsung tertawa karena tidak tahan melihat wajah Jiyong yang kini mulai memerah.

“Aku hanya bercanda.” Kataku masih sambil tertawa. “Kenapa kau menganggap serius perkataanku huh?”

Ya!” Bentaknya. “Jangan pernah bercanda tentang hal itu lagi.”

Arasseo.” Ujarku sedikit merenggut karena Jiyong tiba-tiba membentakku. Aku menatapnya dan jelas terlihat wajah Jiyong yang kini menunjukkan raut merasa bersalah. “Ayo kita pulang.” Kataku dengan suara pelan.

“Dara-ah.” Seru Jiyong. “Mianhae, aku tidak bermaksud membentakmu tadi.” Ujarnya lagi, aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Aku tahu. Kau pasti merasa terbebani dengan bercandaanku tadi. Aku tahu aku bukan tipe wanita idealmu jadi wajar jika kau terkejut dengan apa yang aku katakan tadi. Aku tidak akan bercanda lagi tentang hal itu.” Kataku masih dengan suara pelan. Sebenarya aku berbicara seperti itu hanya untuk menggodanya dan membuatnya lebih merasa bersalah lagi. Jika dia merasa bersalah kepadaku maka aku yakin Jiyong akan bersedia melakukan apa yang aku katakan.  “Ayo kita pulang!” Aku akan berdiri namun tiba-tiba Jiyong menahan tanganku.

“Bukan begitu,” Katanya kemudian diam sebentar. Aku menatapnya dan menunggunya untuk melanjutkan apa yang akan dia katakan. “Sebenarnya aku..” Aku masih mendengarkan apa yang akan Jiyong katakan namun suara ponsel langsung mengalihkan perhatianku. Ada telpon masuk dan aku tahu orang itu yang menelpon karena nada dering khusus untuknya kini yang berbunyi. Aku langsung mengambil ponselku lalu mengangkat panggilan itu dan sama sekali tidak fokus dengan apa yang Jiyong katakan kepadaku.

Jiyong Pov

“Dara kau tidak apa-apa?” Tanyaku beberapa saat setelah Dara mematikan telpon masuk ke ponselnya. “Wajahmu sedikit pucat.” Tanyaku lagi dengan sedikit panik. Apa dia seperti itu karena apa yang aku katakan tadi? Apa Dara terbebani dengan pengakuan cintaku sebelum dia mengangkat telpon itu.

“Aku baik-baik saja.” Katanya sambil tersenyum, namun aku tahu senyumannya dipaksakan.

“Dara jika kau seperti ini karena apa yang aku katakan tadi,..”

“Oh iya, apa yang kau katakan tadi? Aku tidak mendengarnya karena telpon tadi.” Aku membuka mulutku dengan sedikit lebar karena sangat terkejut. Aku berusaha mengumpulkan keberanianku untuk mengatakan bahwa aku menyukainya namun ternyata dia tidak mendengarnya. Aku berdehem untuk menyembunyikan kedongkolanku kemudian tersenyum kepadanya.

“Jangan pikirkan, apa yang aku katakan sangat tidak penting.”

“Oh.” Katanya. “Bukankah kita akan pulang?” Tanya Dara lagi. “Ayo!”

“Kau ingin pulang?” Tanyaku dengan sedikit bingung. Bukankah tadi dia memaksaku untuk tetap menemaninya? Kenapa dia malah ingin pulang sekarang. “Bukannya kau masih ingin berada di sini?”

“Aku berubah pikiran.” Katanya dengan suara pelan kemudian berdiri namun aku kembali menahan tangannya.

“Ada apa?” Tanyaku dengan sedikit khawatir. “Siapa yang tadi menelpon?” Aku yakin suasana hati Dara berubah karena telpon yang tadi dia angkat.

Halmeoni.”

“Apa sesuatu telah terjadi?” Dara menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak ingin memakai bajunya dan tidak ingin menemaniku jadi ayo kita pulang saja.” Katanya beralasan tapi aku tahu bukan itu alasan yang sebenarnya.

“Apa yang kau katakan huh? Siapa bilang aku tidak ingin memakai bajunya? Dan siapa bilang aku tidak ingin menemanimu?”

“Eh?” Tanyanya. “Bukankah kau tadi memaksa supaya kita pulang?”

“Aku tidak ingat.” Kataku kemudian mengambil kaos yang Dara belikan.

“Ada apa denganmu?” Tanyanya dengan tatapan bingung. “Kenapa kau mendadak amnesia seperti ini?” Tanyanya lagi namun aku hanya mengangkat bahuku.

“Tunggu, aku akan mengganti baju di toilet restoran ini.” Kataku sambil berdiri kemudian langsung pergi menuju toilet.

****

“Berhenti tertawa.” Kataku kini sambil melirik kepada Dara yang dari tadi tidak bisa menahan tawanya setelah aku memakai kaos yang dia belikan, kaos putih bergambar mickey mouse.

Cute, itu cocok sekali untukmu.” Katanya kemudian kembali tertawa.

“Dara aku sudah cukup malu karena memakai kaos ini jadi berhentilah tertawa karena itu sama sekali tidak membantu.” Kataku. “Lagipula kau yang membuatku harus memakai baju memalukan ini.”

Aigoo Jiyong-ah sudah aku katakan untuk pulang tapi kau bilang kau akan memakai baju itu jadi jangan salahkan aku.” Jawabnya membela diri. “Lagipula kau tidak perlu malu karena aku juga memakai baju yang sama. Lihatlah bukankah aku sangat cantik dengan baju ini?” Tanyanya sambil memegang kaos yang dia kenakan. Aku harus aku akui bahwa Dara terlihat sangat cantik dan baju yang dia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya yang sangat kecil dan rip jeans yang dia kenakan benar-benar membuatnya terlihat lebih sempurna. Hanya dia satu-satunya wanita yang selalu terlihat cantik dengan pakaian feminim maupun pakaian boyish tapi tentu saja aku tidak mengatakan hal itu kepadanya.

“Cantik?” Tanyaku sambil menggelengkan kepalaku lalu berdecak. “Kau lebih terlihat seperti anak kecil dengan baju itu.” Kataku yang menghasilkan pukulan pelan di bahuku.

Ketika kami sedang berjalan untuk menuju Indiana Jones Ride tiba-tiba aku merasakan Dara menahan pergelangan tanganku. Aku langsung berhenti berjalan lalu melirik kearahnya.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Ayo kita nonton itu!” Aku mengikuti arah tunjuk Dara. “Sepertinya ada konser band indie.” Katanya kini sambil menatapku. “Ayo kita tonton itu!” Katanya lagi.

“Bukankah kau ingin pergi ke Indiana Jones Ride?”

“Aku berubah pikiran.” Katanya sambil tersenyum.

“Berubah pikiran lagi?” Tanyaku tidak percaya. Pertama dia bilang tidak tahu harus ke mana lalu tiba-tiba dia bilang ingin pergi ke Indiana Jones Ride kemudian tiba-tiba ingin pulang dan sekarang dia ingin menonton konser. Ada apa dengan mood Dara hari ini?

“Aku sudah lama tidak menonton konser musik. Kita bisa menikmati musiknya dan menggerakkan badan kita seperti mereka.” Aku menggelengkan kepalaku tanda menolak permintaannya. “Ayolah Jiyong!” Bujuknya.

“Dara-ah aku takut kita tiba-tiba terpisah diantara kerumunan orang itu.” Kataku sambil menunjuk kerumunan orang-orang yan sedang menonton konser itu. “Akan sangat susah menemukanmu diantara orang-orang itu.”

“Kita tidak akan terpisah.” Katanya namun aku kembali menggelengkan kepalaku. Dara sedikit merenggut kemudian tiba-tiba aku merasakan Dara menautkan tangannya pada tanganku. “Aku janji kita tidak akan terpisah karena aku akan selalu memegang tanganmu dan tidak akan pernah melepaskannya.” Katanya sambil tersenyum.

Aku menahan napas ketika merasakan kehangatan tangan Dara yang masih menggenggam tanganku dengan erat. “Jiyong-ah.” Bujuknya lagi sambil menggoyangkan tangan kami yang masih bertautan. Aku kembali menatapnya dan saat ini Dara sedang menatapku dengan tatapan memohon. Bagaimana bisa aku menolak dengan semua tingkahnya yang seperti ini? Aku akhirnya mengangukkan kepalaku dan itu berhasil membuat Dara kembali tersenyum. Dia kemudian sedikit berlari kearah kerumunan orang-orang yang sedang menonton konser musik itu, dia berlari dan sama sekali tidak melepaskan tangan kami. Jika ini mimpi maka aku akan memilih untuk tidak pernah terbangun selamanya.

****

Aku dan Dara langsung duduk di rumput setelah konser yang kami tonton akhirnya selesai. Napas kami berdua sedikit terengah-engah akibat kelelahan setelah bergoyang dan menggerakan badan ketika menikmati penampilan band indie Jepang itu. Kami berdua tidak tahu band tersebut atau mengenal lagunya apalagi arti lagu yang mereka nyanyikan tapi walaupun begitu kami berdua masih menikmati penampilan mereka yang menurut Dara sangat keren.

“Jiyong aku lelah.” Ujarnya sambil melirik kearahku, aku mengangguk setuju dan saat itu aku melihat ada keringat yang jatuh dari kening kemudian meluncur perlahan di pipinya dan hal itu benar-benar membuat Dara terlihat sangat seksi. Aku menggelengkan kepalaku untuk menjernihkan pikiran kotor yang tiba-tiba merasuki jiwa kelelakianku. “Jiyong aku bilang aku lelah.” Katanya lagi kini berhasil membuatku kembali dari lamunan kotorku.

“Oh, lalu?”

“Berbaring!” Perintahnya. Aku semakin bingung dan apa yang dia katakan sama sekali tidak membantu pikiranku.

“Dara kau mau apa?” Tanyaku. “Kita sedang di tempat umum dan kau ingin aku berbaring? Apa yang ingin kau lakukan kepadaku?”

“Ya apa sekarang kau sedang berpikiran kotor huh?” Tanyanya sambil mendengus. “Buang pikiran kotormu itu.”

“Aku tidak berpikiran kotor, aku hanya bingung kenapa kau tiba-tiba memintaku untuk berbaring.” Kataku mencoba setenang mungkin dan berusaha untuk menyembunyikan apa yang aku pikirkan sebenarnya.

“Aku butuh bantal untuk berbaring.” Katanya. “Berbaring!” Perintahnya lagi dan tanpa disuruh dua kali aku langsung melakukan apa yang dia perintahkan. Lalu beberapa saat kemudian Dara berbaring. Aku menahan napas ketika aku merasakan kepala Dara bersandar pada perutku. “Perutmu keras Ji pasti banyak otot di sana.” Ujarnya sambil sedikit tertawa. Aku tidak membalas apa yang Dara katakan, aku tidak bisa berpikir jernih dalam kondisi seperti ini namun aku masih berusaha untuk bersikap tenang, Dara tidak boleh tahu bahwa hal ini perlahan bisa membuatku sesak napas.

“Lebih baik?” Kataku dengan suara tenang dan aku merasakan Dara menggerakan kepalanya untuk menjawab pertanyaanku. Kemudian kami diam, menikmati pemandangan langit malam yang berkelip bintang.

Aku merasakan semilir angin musim dingin menyentuh tubuh kami, dalam kondisi aku yang tidak memakai mantel seharusnya aku merasa kedinginan tapi yang aku rasakan sekarang adalah malah rasa panas yang diakibatkan oleh posisi kami berdua ini.

Jika dengan wanita lain aku yakin pasti aku sudah mengajaknya ke ranjang saat ini juga. Tapi ini Dara, dan aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya apalagi menyeretnya ke ranjang. Aku harus puas hanya dengan ini, ini saja sudah cukup untukku.

“Jiyong-ah ayo kita pulang!” Aku kembali pada kesadaranku ketika mendengar suara lembut Dara. Aku merasa bersyukur sekaligus kecewa ketika melihat Dara mengangkat kepalanya dari perutku. “Kita hampir terlambat untuk penerbangan kita.” Katanya lagi. Aku langsung bangkit dari posisiku kemudian melihat jam tangan di pergelangan tanganku lalu sadar bahwa ini sudah hampir tengah malam.

“Dara apa kau masih lelah?” Tanyaku ketika kembali menatap Dara. “Apa kau ingin pergi ke bar?” Tanyaku lagi yang berhasil membuat Dara mengerutkan keningnya.

“Apa maksudmu? Kita harus pulang ke Korea.”

“Aku akan meminta izin supaya kita bisa menghabiskan waktu sehari lagi di sini.” Kataku. “Bagaimana?” Tanyaku sambil tersenyum, Dara diam masih menatapku dengan bingung. “Bukankah masih banyak hal yang harus kau lakukan? belanja mungkin.” Wajah Dara sedikit berseri ketika aku mengatakan kata itu. Insting belanja Dara pasti langsung aktif. “Lagipula aku ingin mengajakmu untuk mencoba restoran sushi terbaik di Tokyo.” Wajahnya semakin berseri ketika aku menyebut makanan kesukaannya.

“Sushi?” Tanyanya yang aku balas dengan anggukan. “Cepat telpon Sungkyung dan bilang kepadanya bahwa kira akan pulang besok malam.” Ujar Dara sambil tersenyum sumringah. Aku tertawa melihat tingkah menggemaskannya saat ini, aku sengaja melakukan ini karena aku masih ingin menghabiskan banyak waktu berdua saja dengannya dan yang paling penting aku ingin menghapuskan kesedihan Dara yang aku rasa belum hilang.

****

“Ji kau sedang apa sih?” Tanya Dara yang kini sedang duduk di samping sahabatnya Jiyong.Mereka berdua sedang berada di sebuah bar yang berada di Tokyo. Mereka pergi ke tempat ini setelah sebelumnya membersihkan diri di hotel tempat mereka menginap.

“Tidak ada.” Jawab Jiyong sambil mengalihkan pandangannya yang tadi sedang mengetik sesuatu pada layar ponselnya.

“Jangan bohong!” Kata Dara sambil mendengus. “Siapa yang sedang kau kirimi pesan?” Sambungnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.

“Sekretaris baru Yang Sajang.” Katanya akhirnya sambil nyengir.

“Kau mendekati dia sekarang?” Tanya Dara dengan sedikit terkejut yang langsung dibalas dengan anggukan cepat oleh pria yang duduk di sampingnya itu. “Pergerakanmu cepat sekali.”Katanya masih sambil berdecak. “Lalu Sohee bagaimana?” Tanyanya lagi. “Perempuan Jepang itu bagaimana?”

“Aku hanya berteman dengan Nana.” Jawab Jiyong dengan tenang. “Dan tentang Sohee, sebenarnya aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya.”

Jinjja?” Tanya Dara dengan sedikit terkejut yang kembali dibalas dengan anggukan pasti. “Bukannya kalian baru sebulan pacaran?”

“Kami tidak pacaran.” Ujar Jiyong kemudian dia menengak minuman yang tadi dia pegang. “Kami hanya berkencan dan setelah kami mendapatkan apa yang kami inginkan kami memutuskan untuk tidak melanjutkannya.” Sambungnya yang Dara balas dengan gelengan kepala sambil berdecak.

“Aku harap keponakanmu tidak akan mendapatkan karma karena kelakuanmu yang selalu menyakiti hati wanita yang kau dekati.” Kata Dara sambil berdecak. Jiyong tertawa setelah mendengar apa yang Dara katakan.

“Aku tidak pernah menyakiti mereka Dara. Kau juga tahu aku tidak pernah serius menjalin suatu hubungan dengan wanita dan aku juga selalu berkencan dengan wanita yang memiliki pemikiran yang sama denganku jadi mereka tidak pernah merasa aku rugikan. Take and give, itulah kami mengatakannya.”

“Laki-laki seperti dirimu lah yang membuat para wanita tidak percaya dengan apa yang namanya cinta.” Kata Dara sambil menyodorkan gelasnya yang telah kosong kearah Jiyong, menyuruh sahabatnya itu mengisi gelasnya dengan whisky.

“Apa gunanya menjadi pria baik-baik zaman sekarang?” Tanya Jiyong kepada Dara sambil menuangkan whisky pada gelasnya. “Pria baik-baik itu tidak pernah dihargia, kau tahu?”

“Itu sih alasan pria-pria brengsek spesiesmu saja.” Kata Dara kemudian menenggak whisky yang baru Jiyong tuangkan padanya.

“Sudahlah jangan bahas tentang diriku karena kita tidak akan pernah berhenti berdebat.” Ujar Jiyong lagi yang masih terus menatap Dara. “Bagaimana nenekmu?” Tanya Jiyong lagi yang langsung membuat Dara melihatnya. “Apa yang dia katakan saat menelponmu tadi?” Tanya Jiyong dan hal itu membuat wajah Dara berubah menjadi sedikit sendu namun beberapa detik kemudian Dara memasang senyuman kepada Jiyong.

“Dia sangat marah dan terus mengumpat setiap kali aku menerima telpon darinya.” Ujar Dara sambil menaruh gelas di meja bar.

“Nenekmu marah makanya kau bersedih?” Tanya Jiyong lagi yang Dara balas dengan anggukan. Bohong! Itulah yang Jiyong pikirkan sekarang, ada hal lain yang membuat Dara bersedih dan itu jelas bukan neneknya karena setahu Jiyong, Dara sama sekali tidak pernah marah jika neneknya mengumpat kepada Dara. “Aku yakin nenekmu pasti sangat frustasi karena memiliki cucu tidak berguna sepertimu.” Kata Jiyong lagi yang membuat Dara mendengus setelah mendengarnya.

“Sialan!” Ujar Dara namun mereka berdua kemudian tertawa.

“Apa kau tidak kasihan kepada nenekmu yang selalu harus memperbaiki kekacauan yang kau lakukan saat menolak semua pria yang dia kenalkan kepadamu?” Tanya Jiyong setelah mengingat semua hal konyol yang Dara lakukan untuk mengacaukan pertemuan dengan pria-pria yang neneknya kenalkan. Dan salah satu hal konyol yang Dara sering lakukan adalah dengan menyuruh Jiyong untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Jiyong tidak pernah keberatan karena sebenarnya dia sangat menikmati saat dia sedang menjadi ‘kekasih Dara’ walaupun itu hanya pura-pura.

“Aku juga merasa bersalah kepada nenek tapi mau bagaimana lagi? Aku belum mau menikah lagipula semua pria yang dia kenalkan kepadaku tidak ada satupun yang memenuhi kriteria pria idealku.” Ucap Dara sambil menatap kosong ke depan.

“Memangnya pria seperti apa yang memenuhi kriteriamu?” Tanya Jiyong sambil terus menatapnya. Dara langsung menatap pria itu lalu tersenyum.

“Pria yang sangat baik, ramah, pekerja keras, punya selera humor, dan yang pasti menghargai wanita.”

“Itu persis seperti diriku.” Kata Jiyong yang langsung membuat Dara tertawa. “Ayolah, aku selalu menghargai semua wanita. Kau juga tahu itu.” Kata Jiyong sambil merenggut karena Dara menertawakannya.

Arasseo.” Ujar Dara sambil mengangguk setuju yang membuat Jiyong tersenyum bangga. “Kau memang menghargai semua wanita yang ada di sekitarmu, kau memperlakukan wanita dengan sangat baik makanya kau itu disebut playboy.”Kata Dara kemudian diam sebentar untuk tertawa karena melihat Jiyong kembali merenggut ketika dia mengatakan pria itu adalah playboy. “Aku juga mengakui kau itu baik, ramah dan pekerja keras, tapi ada satu kekuranganmu.”

“Kekurangan?” Tanya Jiyong bingung yang Dara balas dengan anggukan. “Apa kekuranganku?” Tanyanya lagi karena penasaran. Semua wanita yang Jiyong kencani selalu mengatakan bahwa dirinya adalah pria sempurna namun kini Dara mengatakan bahwa Jiyong memiliki kekurangan dan itu sangat membuatnya penasaran.

“Kau tidak bisa menghargai arti sebuah hubungan, itulah kenapa kau dengan cepat selalu berganti pacar secepat kau mengganti bajumu.” Ujar Dara. Jiyong kemudian mengangguk menyetujui hal itu namun dia tidak bisa terima hal itu keluar dari mulut wanita yang dia kagumi.

“Itu terlalu berlebihan.” Katanya sambil berdecak yang Dara balas dengan tertawa.

“Itu memang berlebihan tapi itu pas untuk menggambarkan dirimu.” Katanya dengan tatapan serius.

“Apa aku seburuk itu?” Tanya Jiyong sambil terus menatap Dara, Dara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Kau yang terburuk dari semua pria yang aku kenal.” Ujarnya sambil melihat Jiyong dengan mata hazelnya. Jiyong diam dan hanya terus menatapnya yang kini kembali menyunggingkan seulas senyuman. “Tapi kau yang terbaik dari semua sahabatku.” Katanya lagi dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya. Dara mengatakan bahwa Jiyong yang terbaik dan harusnya dia senang karena hal itu, namun entah kenapa Jiyong malah merasakan hatinya serasa teriris saat mendengar apa yang Dara katakan.

Aku tidak ingin menjadi yang terbaik jika itu hanya untuk menjadi sahabatmu.’ Ujar Jiyong di dalam hatinya namun dia membalas senyuman Dara walaupun sangat sulit baginya untuk tersenyum saat ini. ‘Tapi apapun yang kau inginkan Dara, aku akan melakukannya walaupun itu hanya menjadi sahabatmu. Bagiku itu cukup selama kau masih mengizinkan aku untuk berada di sampingmu.’

TBC

Annyeong!! Ada yang kangen sama reni ga????? Okay, pasti jawabannya enggak!

Btw, aku kembali dengan chapter terbaru dan ini aku persembahkan buat para readers setia. makasih untuk komentar di chapter sebelumnya. Aku mau nanya dong? Kalian enjoy gak sih sama cerita ini? soalnya cuma ada beberapa orang yang meninggalkan komentar jadi takutnya ceritanya jelek atau gimana gitu! wkwkwkwk

love love readers-nim pokoknya selalu ditunggu ya komentarnya.!!! Hengsho!!!

Advertisements

23 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s