Gonna Get Better [Chap. 13]

untitled-1

Author : rmbintang

.

.

Kita bisa merubah status kita, kita bisa memulai awal yang baru untuk hubungan kita,”

“Anggap saja kau mencintaiku dan aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu lalu kita mulai menjalani hubungan yang lebih beresiko dari hubungan kita yang sekarang. Kita mungkin akan bahagia pada awalnya namun bagaimana jika tiba-tiba kau melukaiku? Bagaimana jika tiba-tiba aku melukaimu? Siapa yang akan memelukku jika aku terluka karena dirimu? Siapa yang akan menghiburku jika satu-satunya orang yang selalu membuatku merasa lebih baik adalah orang yang melukaiku?”

.

.

     Hari ini Dara resmi menolak Jiyong kemudian pergi meninggalkan pria itu yang sama sekali tidak mampu mengatakan apapun untuk meyakinkan wanita itu. Jiyong masih mematung di tempatnya duduk selama beberapa saat, menatap lurus pada kursi yang tadi Dara duduki, berharap wanita itu akan berbalik untuk menarik lagi semua yang telah dia katakan kepada Jiyong. Jiyong menghitung dari satu sampai seratus namun sampai saat itu sosok Dara tidak lagi dia lihat.

     Suara musik klasik terus berputar di kantin kantornya itu diiringi oleh suara riuh orang-orang yang sedang berkumpul untuk menyantap makan siang, namun Jiyong sama sekali tidak mendengar keriuhan itu. Jiyong tidak mampu mendengar apapun lagi, Jiyong merasa bahwa waktu telah berhenti setelah Dara berjalan meninggalkannya sendirian. Yang bisa pria itu lakukan hanya mengenang semua hal yang pernah mereka berdua lakukan selama ini. Memutar ingatannya pada saat-saat di mana mereka berdua tertawa bersama dan pada saat dirinya terluka ketika menahan perasaannya untuk Dara. Jiyong mengulang kembali semua yang telah Dara ucapkan tadi dan hal itu membuatnya mengepalkan kedua tangan dengan sangat erat.

     Jiyong marah, karena Dara tidak ingin percaya bahwa Jiyong mampu membuat Dara bahagia bahkan sebelum mereka mencobanya. Jiyong terluka, mendengar Dara mengatakan bahwa mereka berdua hanya bisa menjalani hubungan sebatas teman. Jiyong berpikir bahwa mungkin apa yang Dara katakan adalah benar sehingga dia tidak akan lagi terluka karena wanita itu, namun entah kenapa saat memikirkan bahwa dia harus menyerah terhadap Dara malah membuat hatinya semakin terluka. Jiyong tidak bisa, sampai kapan pun Jiyong tidak akan bisa menyerah kepada wanita yang selalu ada di hatinya.

     Suara ponsel adalah satu-satunya hal yang akhirnya menarik pria itu lagi dari pikirannya tentang Dara, Jiyong mengambil ponselnya lalu melihat ada sebuah pesan masuk yang ternyata dikirim oleh ibunya. Setelah membalas pesannya Jiyong lalu melihat jam tangannya lalu sadar bahwa waktu sudah berlalu lama sejak Dara pergi. Jiyong langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan meninggalkan tempat itu, tempat yang mungkin akan menjadi salah satu tempat yang tidak pernah ingin Jiyong datangi lagi.

     Setelah sampai di ruangannya, Jiyong langsung kembali bekerja, berusaha bersikap seolah tidak ada yang terjadi kepada dirinya. Jiyong hanya terus mengurung dirinya di dalam ruangan sambil menyelesaikan semua pekerjaannya dengan teliti, Jiyong bahkan tidak menyadari bahwa jam kerja sudah habis jika saja tidak ada yang memberitahunya.

     Jiyong langsung pulang ke apartemen, duduk sejenak untuk beristirahat sebentar kemudian berdiri lagi lalu langsung mengganti baju dengan kaos dan celana cargo pendek. Jiyong mengambil iPod juga earphone lalu memasukannya ke dalam saku celana. Jiyong keluar dari kamar lalu langsung membuka ruangan khusus tempatnya menyimpan alat-alat olahraga. Jiyong mengambil sepeda lipat lalu membawanya keluar.

     Jika Dara selalu memilih berbelanja dan menghabiskan uang sebagai salah satu cara untuk melarikan diri dari masalah yang sedang dia hadapi maka lain dengan apa yang Jiyong lakukan. Saat sedang bimbang untuk mengambil sebuah keputusan penting maka yang akan Jiyong lakukan adalah mengayuh sepedanya, menyusuri semua jalan tenang sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu yang berputar dari earphone yang terpasang di kedua telinganya, menghirup udara segar untuk kembali menjernihkan pikirannya.

     Lain dengan Dara, yang Jiyong lakukan saat ini bukan untuk lari dari masalah atau melupakan sejenak masalah yang kini menimpanya. Jiyong butuh udara segar dan pikiran yang fokus untuk memutuskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Memilih menyerah lalu melupakan Dara atau bertahan tanpa ada jaminan bahwa wanita itu akan membalas perasaannya dengan perasaan yang sama yang selalu Jiyong berikan kepada wanita itu.

     Jiyong terus mengayuh sepeda sampai kakinya terasa sangat sakit dan lelah, Jiyong berhenti di depan sebuah mini market yang berada di persimpangan jalan. Jiyong meyimpan sepedanya di tempat khusus untuk menyimpan sepeda lalu masuk ke dalam mini market itu untuk membeli air mineral. Jiyong keluar lagi sambil membuka tutup botol lalu langsung meminumnya, dia berjalan kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di depan mini market itu.

     Setelah meminum setengah botol Jiyong lalu menyimpan air mineral itu di atas meja di hadapannya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi plastik itu. Jiyong mendongkak menatap langit yang malam ini penuh dengan bintang yang berkelip. Ini tidak adil, setiap kali dirinya merasa terluka karena Dara maka semesta selalu saja tampak sangat indah, seolah semesta ikut bahagia karena penderitaannya. Jiyong menghirup udara lagi lalu kembali duduk tegak dan saat itulah dia melihat dua orang siswa SMA, laki-laki dan perempuan yang berjalan melintas di depannya lalu duduk di salah satu kursi lain di dekatnya.

     Jiyong memperhatikan mereka yang saat ini sedang memperdebatkan sesuatu. Jiyong tersenyum ketika melihat gadis SMA itu merenggut sambil menyilangkan tangannya di depan dada ketika dia kalah berdebat dari rekannya. Jiyong kembali menyunggingkan senyuman ketika melihat apa yang rekannya lakukan, anak lelaki itu mengangkat tangannya lalu mengusap lembut rambut gadis itu dengan perlahan. Anak lelaki itu lalu mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu lalu membisikkan sesuatu yang berhasil membuat anak gadis itu tersenyum senang kemudian mengalihkan perhatiannya kepada rekannya lagi.

     Apapun yang anak lelaki itu katakan pasti sangat berarti sehingga bisa membuat temannya kembali tersenyum. Jiyong tiba-tiba mengingat Dara lagi, mereka juga sering berdebat dan Dara selalu kesal setiap kali dia kalah dari Jiyong. Dara tidak akan berbicara kepada Jiyong sampai akhirnya Jiyong mengalah lalu membiarkan Dara menang.

     Melihat kedua anak SMA itu benar-benar mengingatkan Jiyong kepada Dara dan dirinya sendiri, apalagi ketika melihat tatapan si anak laki-laki kepada anak perempuan itu, tatapan yang hanya ditujukan pada seseorang yang kita kagumi. Tatapan yang juga selalu Jiyong berikan setiap kali dirinya sedang bersama dengan Dara.

     Lamunannya tiba-tiba terhenti ketika Jiyong mendengar suara ponselnya berbunyi. Jiyong merogoh saku celana yang dirinya kenakan lalu mengambil ponselnya kemudian langsung menerima panggilan dari ibunya. Jiyong berbicara dengannya selama beberapa saat kemudian dia berdiri dari tempat duduknya lalu kembali mengayuh sepeda, kini untuk kembali pulang karena ibunya telah menunggu di tempat tinggalnya.

 

Jiyong Pov

     Aku langsung memasukkan lagi sepedaku ke tempatnya setelah sampai di unitku. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi aku baru menghampiri eomma yang saat ini sedang memasukan beberapa makanan yang telah dia buat ke dalam mesin pendingin. Aku merasa bersalah ketika melihat dapur kini telah rapi dan bersih, eomma pasti yang telah membersihkan semuanya.

     “Eomma sudah aku bilang jangan pernah membersihkan tempat tinggalku lagi, eomma bisa kelelahan.” ujarku sambil menarik kursi lalu duduk di kursi itu.

     “Kau sudah selesai mandi?” tanyanya tanpa menanggapi apa yang aku katakan tadi.

     “Eomma kenapa datang sekarang? Ini sudah malam,” ujarku sambil mengambil gelas lalu menuangkan air putih pada gelas itu. “Eomma kan bisa datang besok saja.” ujarku lagi setelah meminum habis air putih tadi.

     “Eomma tidak bisa lagi menahan perasaan rindu kepadamu Jiyongie, kau kan tidak pulang hampir dua bulan ini.” aku mendengarnya menjawab namun dia belum menatapku.

     “Mianhae, aku sedang sibuk akhir-akhir ini.”

     “Kau sudah makan?” tanyanya kini sambil berbalik lalu menatapku yang aku balas dengan gelengan. “Aigoo inilah kenapa eomma selalu mengkhawatirkanmu, kau selalu saja lupa untuk mengisi perut dan lihatlah lipatan matamu itu. Apa kau kurang tidur? Kenapa penampilanmu kacau sekali?” tanyanya panjang lebar kemudian berdecak melihat wajahku yang sekarang memiliki lipatan mata.

     “Aku sedang memimpin tender penting jadi aku banyak mengisi waktu malamku untuk bekerja.” ujarku sambil nyengir lebar yang eomma-ku balas dengan desisan.

     “Kenapa kau sangat bekerja keras huh? Padahal kau bisa bekerja di perusahaan kita dan tidak perlu bekerja sekeras ini.”

     “Biarkan noona saja yang mengurusnya, dia cukup handal untuk meng-handle semua kegiatan perusahaan appa. Eomma kan tahu sendiri bahwa ak…..”

     “Kau ingin hidup mandiri dan sukses dengan usahamu sendiri.” Ujar eomma memotong perkataanku. Aku mentapnya dengan mata yang dipicingkan setelah mendengar dia melanjutkan apa yang ingin aku katakan. “Eomma tahu kau akan kembali mengatakan hal itu lagi,” ujar eomma-ku kini sambil memutar bola matanya yang membuatku langsung tertawa ringan.

     “Eomma aku lapar.” Kataku setelah beberapa saat sambil memegangi perutku. “Beri aku nasi.” Sambungku sambil merenggut.

     “Aigoo kapan kau akan dewasa huh? Kau selalu melakukan hal itu saat meminta makan.” Ujarnya sambil berdecak kemudian berbalik lagi lalu mulai menyiapkan makanan untukku.

     “Eomma aku sudah dewasa, kau boleh memastikan hal itu kepada semua wanita yang telah aku kencani.” ujarku sambil tertawa.

     “Jangan berkata seperti itu, eomma selalu malu jika mengingat kelakukanmu terhadap wanita-wanita malang itu.” ujar eomma sambil menggelengkan kepala lalu menaruh semangkuk nasi di hadapanku. “Makanlah semua ini,” Aku tersenyum kemudian mulai memakan apa yang telah eomma siapkan.

     “Eomma jika tender yang aku kerjakan sekarang berhasil maka aku akan naik pangkat,” ujarku disela-sela mengunyah.

     “Benarkah?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan masih sambil mengunyah makanan. “Jadi tidak akan ada lagi tulisan assistant di kartu namamu?” tanyanya lagi yang kembali aku balas dengan anggukan.

     “Tidak akan ada lagi tulisan assistant, yang ada hanya Vice President di atas kartu namaku.”

     “Wah Jiyongie kau sudah menjadi bos besar ternyata di tempatmu bekerja.” ujar ibuku lagi dengan suara berseri dan penuh kebanggaan namun aku kembali tertawa.

     “Eomma jabatanku masih jauh dari kata bos besar, aku masih harus melewati empat posisi lagi untuk menjadi CEO di tempatku bekerja dan aku sangat berharap eomma akan selalu mendukungku sampai aku bisa mencapai posisi itu.”

     “Eomma pasti akan selalu mendukungmu,” ujar eomma-ku sambil tersenyum.

     “Gomawo eomma.” Ujarku sambil tersenyum kemudian kembali melahap makan malamku.

     “Yongie, kau akan datang ke acara pertunangan sepupumu, bukan?” tanya eomma setelah beberapa saat.

     “Tentu saja. mana mungkin aku melewatkan acara pertunangan itu.”

     “Kau datang dengan siapa?” tanyanya lagi, kali ini aku mendongkak lalu menatapnya.

     “Sendiri, memangnya kenapa?”

     “Apakah kau tidak punya kekasih? Kau masih bermain-main dengan gadis-gadis cantik?” tanyanya lagi yang membuatku mengerutkan kening.

     “Eomma sebenarnya ingin bicara apa?”

     “Eomma juga ingin melihatmu bertunangan.” Katanya kini sambil merenggut.

     “Aku pasti akan bertunangan jika waktunya sudah tiba.”

     “Tapi kapan?”

     “Jika wanitanya sudah ada.”

     “Jiyongie apakah eomma perlu mencarikan seseorang untukmu?” tanyanya lagi, aku kembali menatap eomma lalu memicingkan mataku.

     “Yah eomma jadi apakah ini alasan sebenarnya kenapa kau tiba-tiba ingin menemuiku?” tanyaku yang dia balas dengan senyuman lebar menandakan bahwa apa yang aku pikirkan adalah benar.

     “Teman eomma mengatakan bahwa puterinya baru kembali dari luar negeri dan dia juga menyarankan agar menjodohkan kalian berdua. Eomma pikir kenapa tidak kita coba saja.”

     “Ayolah eomma, kau tahu aku tidak suka dengan cara seperti ini.”

     “Coba saja dulu.”

     “Sirrheo.”

     “Ayolah Jiyongie lakukan itu demi eomma, eomma tidak enak menolak permintaan teman eomma itu. Hanya sekali saja, jika kau tidak suka maka eomma tidak akan memaksamu lagi.”

     “Baiklah tapi hanya kali ini saja. Kapan aku harus bertemu dengan wanita itu?”

     “Eomma akan mengenalkannya saat acara pertunangan sepupumu itu.” ujarnya sambil tersenyum bahagia. Aku hanya mengangguk lalu kembali melahap makananku.

****

     Sepuluh hari berlalu sejak kejadian siang itu, sejak Dara mengatakan semua yang ada di dalam pikirannya dan sejak itu aku sama sekali belum bertemu dengannya. Aku selalu menahan diri untuk menemui Dara setelah mengingat apa yang dia katakan pada hari itu, bagaimana pun aku tidak bisa menerima apa yang dia katakan tapi aku juga tidak bisa memaksa Dara untuk menerima perasaanku kepadanya. Aku merindukan Dara, berhari-hari tidak melihat senyumnya membuatku merasakan ada yang hilang di dalam hidupku, di dalam rutinitas yang biasanya aku jalani sehari-hari.

     Selama sepuluh hari ini aku selalu rajin pergi ke pantry, berharap Dara juga ada di sana untuk membuat kopi sehingga setidaknya aku bisa melihatnya walaupun untuk sebentar tapi Dara sama sekali tidak pernah datang ke pantry sejak saat itu. Dara mungkin tahu bahwa aku akan sengaja mencuri waktu untuk melihatnya di sana itulah sebabnya dia tidak pernah muncul.

     Kami bekerja dalam satu gedung tapi sama sekali tidak ada cosmic coincident yang membuatku bisa bertemu Dara atau sekedar berpapasan dengannya selama sepuluh hari ini. Seolah semesta telah berkonspirasi supaya aku dan Dara tidak lagi bertemu dan itu membuatku sedikit sedih karena mungkin ini cara Tuhan untuk menunjukkan kepadaku bahwa aku dan Dara memang tidak punya kesempatan untuk bersama.

     “Oppa jadi bagaimana?” aku langsung melirik ke sampingku ketika aku merasakan tangan Hara menyentuh bahuku. Dia adalah seseorang yang ibuku kenalkan saat acara pertunangan sepupuku minggu lalu. Dan hari ini adalah ketiga kalinya kami berdua pergi untuk berkencan.

     “Kau mengatakan apa tadi?” tanyaku sambil tersenyum kepadanya yang duduk di sampingku, aku melihatnya mendesah setelah mendengar pertanyaanku.

     “Aku bicara panjang lebar tapi kau sama sekali tidak mendengarkan aku?” ujarnya sebelum merenggutkan bibirnya. “Apa kau sedang ada masalah? Kenapa dari tadi kau hanya diam saja?” tanyanya lagi setelah beberapa saat. Aku menggelengkan kepalaku lalu kembali tersenyum.

     “Aku hanya sedikit lelah karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini.” ujarku yang dia balas dengan anggukan mengerti.

     “Aigoo, kau pasti sangat kerepotan karena bekerja di sebuah bank asing terbesar di Asia.” ujarnya dengan wajah prihatin lalu dia mengangkat tangannya kemudian mengusap wajahku dengan sangat lembut. Aku tersenyum dengan apa yang dia lakukan ini.

     “Gomawo, aku merasa lebih baik sekarang.” ujarku yang menghasilkan senyumannya yang sangat cantik. Tidak aku pungkiri bahwa wanita ini dan semua yang ada pada dirinya memang diciptakan begitu sempurna, Hara benar-benar tipe ideal untuk semua pria normal di dunia ini tapi tidak untukku. Aku menyukainya, tapi hanya sebatas itu. Aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya, dia hanya salah satu wanita yang aku pilih untuk membantuku membunuh Dara di dalam kepalaku.

     “Oppa sebenarnya aku penasaran.” ujarnya sambil mengambil gelas minumannya lalu meminumnya lewat sedotan. “Kenapa kau memilih menjadi pegawai biasa di bank itu saat kau bisa menjadi bos di perusahaan keluargamu?” tanyanya setelah dia kembali menyimpan minumannya di atas meja. Aku tersenyum miris ketika mengingat apa alasan sebenarnya kenapa aku bekerja di tempatku bekerja sekarang.

     Hanya sedikit orang yang tahu bahwa sebenarnya aku adalah salah satu pewaris dari perusahaan keluargaku yaitu sebuah perusahaan real estate yang cukup terkenal di Korea. Aku memang sengaja tidak mengatakan kepada orang lain tentang diriku yang sebenarnya, aku tidak ingin orang lain memperlakukanku sebagai seorang pewaris keluargaku, aku ingin semua orang memperlakukannya hanya sebagai diriku sendiri. Bahkan Dara tidak tahu tentang diriku yang sebenarnya. Dan alasan sebenarnya kenapa aku lebih memilih bekerja di tempatku bekerja sekarang adalah karena satu-satunya wanita yang ingin aku miliki, yaitu Dara.

     Awalnya aku hanya ingin bekerja di sana selama beberapa bulan sebelum aku bekerja secara resmi di perusahaan ayahku. Namun setelah mengenal Dara aku langsung mengubah rencanaku. Aku tetap memilih untuk bekerja di tempatku sekarang supaya aku bisa terus dekat dengan wanita itu, tapi sekarang aku berpikir apakah keputusan yang aku buat dulu adalah keputusan yang benar? Karena kini kami bukannya semakin dekat namun malah semakin menjauh.

     Aku akan menjawab pertanyaan Hara tadi namun entah kenapa mataku tiba-tiba langsung tertuju ke arah pintu masuk cafe ini dan saat itulah aku melihat sosok orang yang selalu menjadi pemeran utama di dalam hatiku berdiri di sana sambil menepuk-nepuk bajunya yang sedikit basah karena terkena air hujan. Aku terus melihat pemandangan itu dan aku merasakan ada perasaan hangat yang menjalar di dalam hatiku saat Dara berdiri tegak lalu matanya langsung dia tujukan kepadaku.

     Aku sama sekali tidak bisa mengalihkan mataku dari tatapannya yang sangat lembut namun di saat yang sama selalu berhasil membuatku gugup, lalu setelah beberapa saat aku melihat Dara mengalihkan tatapannya kini pada seseorang yang duduk di sampingku. Shit! Aku lupa bahwa aku sedang dengan wanita lain. Dara pasti semakin tidak mempercayaiku sekarang, aku mengatakan bahwa aku mencintainya tapi masih saja berkencan dengan wanita lain. Shit! Semesta kenapa kau sangat jahat kepadaku? kenapa cosmic coincident itu harus terjadi di saat yang sangat tidak tepat? Aku sangat yakin, pasti semesta sangat membenciku sehingga membiarkan hal ini terjadi kepadaku.

 

Dara Pov

     Sepuluh hari tanpa Jiyong dan itu benar-benar membuatku merasakan kesepian yang teramat sangat. Aku sangat merindukan Jiyong tapi aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk menemuinya setelah apa yang aku katakan hari itu. Aku telah melukai Jiyong dan aku tidak sanggup menghadapinya karena aku takut akan menjadi lemah ketika kembali menatapnya. Aku selalu berusaha menahan diriku untuk tidak menghubungi Jiyong karena aku benar-benar ingin mendengar suaranya lagi, suara tawanya jika dia berhasil membuatku kesal karena lelucon garingnya.

     Awalnya aku berpikir bahwa hubungan kami pasti akan baik-baik saja jika kami terus berhubungan hanya sebatas teman tapi ternyata aku salah karena kini aku merasa bahwa aku telah kehilangan Jiyong, baik itu sebagai seorang sahabat atau sebagai seorang pria yang tulus mencintaiku. Mungkin Jiyong pada akhirnya menyadari bahwa aku memang tidak pantas untuknya sehingga dia sama sekali tidak menghubungiku ataupun menemuiku setelah kejadian hari itu.

     Malam ini aku kembali memutuskan untuk pergi ke cafe tempat aku dan Jiyong biasa menghabiskan waktu jika kami berdua pergi bersama karena bosan. Sebenarnya sudah seminggu ini aku rutin datang ke tempat itu. Aku pergi ke cafe itu setelah selesai bekerja, aku memesan minuman yang biasa Jiyong pesankan untukku lalu duduk selama hampir dua jam, berharap Jiyong tiba-tiba datang ke sini lalu aku akan mengatakan bahwa kami berdua kebetulan bertemu. Mungkin dengan cara itu, aku dan Jiyong bisa kembali menjadi diri kami yang dulu namun Jiyong tidak pernah datang. Mungkin dia tahu bahwa aku akan berada di sana jadi dia sama sekali tidak ingin datang karena tidak ingin melihatku.

     Hari ini seperti biasa, aku datang pukul tujuh malam. Aku masuk ke dalam cafe itu lalu menepuk bajuku yang sedikit basah karena hujan yang tiba-tiba saja turun saat aku sedang berjalan di depan cafe ini. Saat aku sedang menepuk bajuku tiba-tiba aku merasa bahwa ada orang yang sedang menatapku, aku langsung berdiri tegak lalu mataku secara otomatis aku arahkan ke tempat duduk yang biasa menjadi tempatku menunggu Jiyong dan ternyata di tempat itu kini telah ada seseorang yang sangat ingin aku lihat.

     Detak jantungku langsung berpacu dengan sangat cepat ketika aku melihat Jiyong, aku merasakan ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku ketika mata kami berdua saling beradu tatap. Akhirnya aku bisa kembali melihat tatapan lembutnya. Setelah beberapa saat aku mulai menggeserkan tatapan mataku dan saat itulah aku baru menyadari bahwa ada seseorang yang menemani Jiyong.

     Ada perasaan ngilu saat aku melihat seorang wanita muda yang sangat cantik telah duduk di sampingnya. Aku tidak pernah tahu bahwa Jiyong akan dengan mudahnya membiarkan wanita lain duduk di tempat yang biasa aku duduki. Apa ini juga artinya bahwa Jiyong dengan mudah telah menendang diriku di dalam hatinya? Semudah itukah Jiyong melupakanku padahal baru beberapa hari yang lalu dia mengatakan bahwa dia mencintaiku? Shit! Kenapa aku harus sesakit ini ketika berpikir Jiyong melupakanku? Padahal aku sendiri yang telah memintanya untuk melakukan hal itu.

     Aku tiba-tiba langsung tersadar dari lamunanku ketika merasakan seseorang menabrak bahuku. Aku langsung meminta maaf karena telah menghalangi jalan kemudian kembali menatap Jiyong yang masih belum melepaskan tatapannya dari diriku. Aku menjadi salah tingkah dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku berpikir untuk keluar dari cafe ini lalu pulang ke rumah namun aku langsung membuang pikiran itu. Akan sangat menyedihkan jika aku melarikan diri dari kenyataan yang aku lihat saat ini. Walau bagaimana pun juga aku yang menginginkan hal ini jadi aku harus bisa menghadapi semuanya.

     Aku akhirnya memutuskan untuk menghampiri Jiyong dan menyapanya sebentar. Aku berjalan pelan ke arahnya yang masih menatapku kemudian berhenti tepat di hadapannya yang membuat wanita yang bersamanya menatapku dengan sedikit kebingungan.

     “Hai Ji!” ujarku sambil tersenyum kemudian menarik kursi di hadapannya lalu duduk.. Aku berusaha bersikap seperti biasa walaupun hatiku sebenarnya sedang sangat terluka.

     “Dara.” ujarnya dengan suara lembut.

     “Apa kabar?” tanyaku

     “Aku baik.” jawabnya sambil tersenyum. “Kau sengaja datang ke sini?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan.

     “Aku tiba-tiba ingin minum americano di tempat ini jadi aku datang kemari.” ujarku berbohong. “Kebetulan kita bertemu,” ujarku lagi sambil tersenyum. ‘Aku merindukanmu!’ ujarku lagi tapi di dalam hati.

     “Oppa?” aku mengalihkan tatapanku kepada wanita yang duduk di sampingnya itu dan itu menyadarkanku bahwa aku hanya orang ketiga di tempat ini. “Nugu?” tanyanya kepada Jiyong ketika Jiyong menatapnya.

     “Ini Dara,” ujar Jiyong sebelum dia kembali menatapku. “Dia….” ujarnya lagi sebelum diam sebentar sambil menatapku dalam, seolah mencari kata yang tepat dari sorot mataku. “Chinggu.” Katanya setelah beberapa saat. “Dia temanku.” Ujarnya lagi kini sambil mengalihkan tatapannya kepada wanita tadi kemudian tersenyum.

     Aku melihat wanita itu langsung tersenyum sumringah setelah mendengar apa yang Jiyong katakan seolah dia bahagia dengan status kami yang hanya sebatas teman namun lain dengan apa yang wanita itu rasakan, aku merasa sangat terluka ketika mendengar jawaban Jiyong bahwa kami berdua hanya berteman. Shit! Kenapa aku harus terluka? Bukankah aku sendiri yang mengatakan kepada Jiyong bahwa kami berdua tidak bisa menjalani hubungan yang lebih dari sebatas teman.

     “Unnie.” Aku langsung tersadar dari lamunan ketika mendengar suara lembut wanita itu yang kini dia tujukan kepadaku. “Aku Hara, Jiyong Oppa’s date!” ujarnya dengan suara riang sambil mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambut tangannya lalu tersenyum sebelum kembali melepaskannya.

     “Jadi kalian sedang berkencan?” tanyaku kepada wanita itu yang dia balas dengan anggukan senang.

     “Unnie apa kau sendirian?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan. “Kalau begitu bergabung saja dengan kami.” ujarnya lagi masih dengan suara riang. “Benarkan oppa?” tanyanya kini sambil menoleh kepada Jiyong. Aku langsung mengalihkan tatapanku lalu melihat Jiyong yang kini menganggukkan kepalanya.

     “Kau mau bergabung?” tanya Jiyong kini kepadaku, aku tersenyum lalu menggelengkan kepalaku.

     “Aku tidak mau mengganggu kencan kalian, aku kemari hanya untuk menyapa.” ujarku masih sambil tersenyum kemudian aku kembali menatap kepada Hara. “Terimakasih dengan ajakanmu, tapi aku harus pergi karena ada yang harus aku lakukan.” ujarku sambil tersenyum kemudian berdiri dari posisiku. “Aku pergi, selamat menikmati kencan kalian.” Ujarku sebelum berbalik lalu langsung berjalan keluar.

     Semua senyumanku langsung hilang setelah aku berhasil keluar dari cafe itu. Aku langsung menghembuskan napas setelah sebelumnya aku sangat kesulitan bernapas di dalam sana. Aku kembali berjalan kini sambil menggeser-geserkan layar ponselku kemudian langsung menyentuh tanda telpon setelah menemukan nomor yang aku cari.

     “Dara!” tanpa menunggu terlalu lama aku langsung mendengar suara Donghae. “Akhirnya kau menelponku.” Ujarnya lagi dengan suara sangat riang, aku sangat yakin dia pasti sedang tersenyum senang sekarang.

     “Kau bilang mau menjadi temanku, kan?” tanyaku langsung tanpa basa basi.

     “Iya tentu saja.” aku langsung mendengar jawabannya.

     “Kalau begitu temui aku di taman dekat rumahku. Aku membutuhkan teman saat ini juga.” ujarku lagi lalu langsung menutup telpon tanpa menunggu jawabannya.

****

     Aku langsung menuju taman di dekat rumahku setelah aku keluar dari tempat itu, aku butuh ketenangan sekarang setelah aku melihat apa yang terjadi. Aku pikir aku dan Jiyong bisa kembali berteman seperti dulu namun ketika melihatnya dengan wanita lain di sampingnya membuatku merasakan rasa sakit yang teramat sangat.

     Jiyong sering membicarakan wanita lain kepadaku sebelumnya, dia selalu memberitahuku jika sedang dekat dengan seseorang dan aku selalu merasakan perasaan asing setiap kali Jiyong membicarakan wanita yang dia kencani kepadaku tapi aku membiarkan perasaan itu begitu saja namun kini aku baru menyadari perasaan itu, aku cemburu namun aku terlalu egois untuk mengakui hal itu.

     Setelah sampai di taman aku langsung duduk di sebuah ayunan lalu mulai menggerakan tubuhku sehingga ayunan itu bergerak. Aku ingat, Jiyong pernah menemaniku di sini, dia saat itu mendorong tubuhku sehingga aku bisa terbang tinggi dengan ayunan yang saat ini aku duduki. Namun dia sekarang tidak di sini lagi, dan itu karena kesalahanku. Aku langsung berdiri dari tempatku karena ayunan ini malah mengingatkan aku kepada Jiyong padahal aku datang kemari untuk melupakan sejenak tentang masalah kami.

     Aku berjalan pelan lalu langsung berhenti di depan sebuah bangku tidak jauh dari tempatku tadi kemudian aku mulai merenung, memikirkan apakah keputusan yang aku buat adalah keputusan yang tepat? Aku mulai ragu dengan keputusanku setelah aku melihat Jiyong dengan wanita lain. Aku sedang menatap pada tanah saat aku merasakan seseorang memegang bahuku. Aku langsung mendongkak lalu melihat kini Donghae sedang berdiri di hadapanku dengan senyuman lebarnya.

     “Aku di sini,” katanya setelah aku menatapnya, aku menganggukkan kepalaku lalu kembali menatap tanah. “Jadi kenapa kau tiba-tiba menelpon? Apa kau akhirnya menyadari bahwa aku ini terlalu tampan untuk kau acuhkan?” aku kembali mendengar suaranya yang membuatku menoleh kepadanya yang kini sudah duduk di sampingku, dia lalu tertawa karena leluconnya sendiri.

     “Bisakah kau diam dulu?” ujarku dengan nada sedikit keras. “Aku sedang berpikir dan kau menggangguku dengan ocehanmu itu!”

     “Yah! Kalau merasa terganggu dengan kehadiranku lalu kenapa kau menyuruhku datang huh?” katanya sambil memegang dadanya.

     “Temani aku saja, jangan banyak bicara.” ujarku.

     “Yah apa kau sedang ada masalah huh?” Tanya Donghae yang membuatku kembali menatapnya kini dengan tatapan kesal karena dia kembali menggangguku. “Aku jauh-jauh datang kemari untuk menemuimu tapi kau malah menatapku dengan tatapan itu huh?” Ujarnya kini sambil merenggutkan bibirnya dan itu membuatku sedikit merasa bersalah. Donghae benar, aku yang menyuruhnya datang tapi aku malah mengacuhkannya. Kenapa aku sangat egois kepada semua orang?

     “Mianhae,” ujarku akhirnya dengan suara pelan.

     “Kenapa tunanganku murung seperti ini huh? Aku lebih suka melihatmu marah dari pada melihatmu murung seperti ini. Sandy-ku sangat jelek jika berwajah seperti itu.”

     “Sandy?” tanyaku dengan kening berkerut.

     “Itu nama panggilanku untukmu, semacam nama panggilan sayang.” Ujarnya kini sambil tersenyum hangat. “Dan kalau kau mau kau juga bisa memanggilku dengan panggilan sayangmu untukku, mungkin kau bisa memanggilku babe atau baby atau jagiya atau…”

     “Bodoh.” ujarku memotong perkataannya dan hal itu membuatnya langsung menatapku.

     “Kau ingin memanggilku bodoh huh?” tanyanya dengan mata yang sedikit dibuka lebar. “Yah itu terlalu…” katanya mengerutkan kening lalu menggelengkan kepalanya. “Tapi baiklah jika itu maumu, kau boleh memanggilku bodoh asalkan kau bahagia.” Ujarnya lagi yang kini berhasil membuatku sedikit tertawa.

     “Kau ini memang bodoh ya?” tanyaku sambil berdecak lalu aku melihat dia tersenyum.

     “Yah aku bodoh dan akhirnya aku bisa membuatmu tertawa.” Ujarnya dengan suara riang kemudian tersenyum. “Jadi kenapa kau murung huh?” tanyanya setelah beberapa saat dan itu kembali mengingatkanku tentang apa yang aku pikirkan tadi.

****

      Dara sedang berjalan pelan menuju pantry untuk membuat kopi, tadi malam dia pulang sangat larut karena melupakan waktu saat dia dan Donghae berbicara di taman yang berada di dekat rumahnya. Tadi malam Dara meminta pria itu untuk menemaninya merenung di taman itu namun akhirnya mereka berdua saling bercerita dan hal itu membuat Dara merasa lebih baik dan melupakan sejenak masalahnya dengan Jiyong.

     Awalnya pria itu meminta Dara untuk menceritakan alasan kenapa wanita itu sangat murung dan tiba-tiba meminta Donghae menemaninya namun Dara yang masih merasa asing dengan Donghae menolak menceritakannya jadi akhirnya Donghae menceritakan kejadian lucu yang pernah dia alami dan hal itu berhasil membuat Dara tertawa. Donghae lebih dari sekedar bersyukur karena akhirnya wanita itu mau membuka hatinya untuk dirinya walaupun masih jauh dari apa yang dia harapkan tapi Donghae sudah merasa cukup karena Dara mau berteman dengannya.

     Saat akhirnya berhasil mencapai pintu pantry Dara langsung menghentikan langkahnya karena dia melihat punggung seseorang yang sangat dia kenal. Jiyong sepertinya sedang membuat kopi, Dara berdiri selama beberapa saat karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak ingin Jiyong tahu bahwa dirinya kini ragu dengan keputusan yang telah dia buat sendiri.

     Jiyong yang sedang mengaduk kopinya langsung berbalik ketika dia merasa ada seseorang yang sedang menatapnya lalu setelah dia berbalik dia  melihat sosok wanita yang tadi malam hadir di dalam mimpinya. Jiyong menatap Dara selama beberapa saat, terlalu bingung bahkan hanya untuk mengatakan kata ‘hello’.

     Akhirnya Dara tersadar dari rasa terkejutnya lalu dia berjalan pelan ke arah Jiyong dengan senyuman yang dia sunggingkan, senyuman palsu yang tak pernah gagal untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dia rasakan.

     “Good morning,” ujar Dara sambil tersenyum setelah dia berdiri di samping Jiyong.

     “Good morning,” balas Jiyong juga sambil tersenyum.”Apa kau kemari untuk membuat kopi?” tanyanya yang Dara balas dengan anggukan.

     “Aku kurang tidur tadi malam.”

     “Apa ada yang mengganggumu sehingga kau kurang tidur?” tanya Jiyong kini dengan nada sedikit khawatir. Dara menggelengkan kepalanya lalu kembali tersenyum.

     “Aku hanya tidak bisa tidur setelah menyelesaikan pekerjaan yang aku bawa ke rumah.” Jawabnya berbohong. Dara tidak mungkin mengatakan bahwa tadi malam dia memikirkan Jiyong. Jiyong mengangguk lalu kembali berbalik lagi kemudian mengambil mug berisi kopi yang telah dia buat.

     “Minum ini kalau begitu, americano two shoot.” Ujar Jiyong sambil menyerahkan mug itu kepada Dara.

     “Gomawo.” Ujar Dara setelah menerima mug itu, dia tersenyum sebelum menyesap kopi itu. Ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya ketika dia berpikir bahwa Jiyong sengaja menunggunya di tempat ini dan sengaja membuatkan kopi ini untuknya karena Jiyong tahu Dara akan datang.

     “Dara,” ujar Jiyong yang saat ini sedang membuat kopi lain untuknya.

     “Huh?” ujar Dara sambil menatap Jiyong yang saat ini mengangkat mug miliknya.

     “Jangan salah paham dengan apa yang kau lihat tadi malam.” ujar Jiyong membuat Dara sedikit bingung.

     “Apa maksudmu?” tanya Dara lagi dengan kening berkerut.

     “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku masih mencintaimu, aku memang berkencan dengan Hara tapi itu bukan berarti aku telah melupakanmu atau memutuskan untuk mengikuti kemauanmu untuk melupakan semua perasaanku untukmu.”

     “Huh?” ujar Dara sedikit tercengang dengan apa yang Jiyong katakan.

     “Aku tidak akan mengikuti apa yang kau katakan, bagaimana bisa aku berpura-pura bahwa tidak ada yang berubah dengan hubungan kita setelah malam itu?” ujar Jiyong kini sambil menatap Dara dalam.

     “Tapi Jiyong ini yang terbaik yang bisa kita lakukan,”

     “Aku tidak mau melakukan hal itu, jika kau mau bersikap seperti biasa maka silahkan lakukan, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa aku mencintaimu dengan sangat tulus, bahwa aku serius ketika aku mengatakan bahwa aku ingin memilikimu di hidupku, aku akan berhenti berkencan dengan wanita lain mulai saat ini, aku akan terus mengatakan tiga kata itu sampai kau tidak punya alasan untuk menolakku lagi.” Ujar Jiyong yang membuat Dara mematung, karena wanita itu tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menjawab apa yang Jiyong katakan. “Aku akan terus mencintaimu walau pun aku harus kembali terluka karena dirimu, aku akan terus berada di sampingmu walaupun kau selalu mendorongku untuk menjauh, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu mengakui perasaanmu yang sebenarnya kepada, aku akan melakukan apapun sehingga kau tidak punya pilihan lain selain membalas cintaku.” ujar Jiyong lagi yang sama sekali tidak pernah melepaskan tatapan matanya dari mata Dara selama dia mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. “Biarkan aku untuk mencintaimu Dara, biarkan aku membuktikan bahwa ketakutanmu itu sungguh tidak beralasan karena aku sungguh-sungguh mencintaimu dengan segenap hatiku dan aku sangat yakin bahwa aku bisa membuatmu bahagia.” Ujar Jiyong dengan seluruh kesungguhan yang dia miliki.

     Tidak bisa Dara pungkiri bahwa jantungnya berpacu dengan sangat cepat karena tatapan mata Jiyong yang seolah bisa menembus ke dalam hatinya, karena apa yang pria itu katakan kepadanya. Dara tidak pernah tahu bahwa seorang brengsek seperti Jiyong mampu mengatakan kata-kata seperti itu kepada seorang wanita, terlebih kepada dirinya. Apakah Jiyong benar-benar mencintai Dara sehingga dia rela berubah untuk bisa memiliki Dara di dalam hatinya? Apakah ini artinya Jiyong ingin Dara menjadi wanita terakhir di dalam hidupnya?

TBC

Advertisements

11 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 13]

  1. Astagaaaaa, dari awal aku mbacaaa sungguh udah buat paber parahhh, gilakk, ya ampunn, thor anda orang tercedas, aku sarankan untuk membuat novel wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s