[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #9-End

SB Cover

Author : aitsil96

Category : PG15, Romance, Sad, Chapter

Main Cast : Kwon Ji Yong, Park Sandara

Author’s Note :

FF ini hasil remakedengan beberapa perubahan yang cukup besar di dalamnya dari judul FF yang sama dengan main cast yang berbeda yang sudah pernah saya post di blog lain. Kali ini saya juga menggunakan nama author baru. Main cast asli adalah Kwon Ji Yong dan Yong Na Ra. I’m not plagiator!

This is just my wild imagination. Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Don’t bash if you think my story isn’t perfect. Be a good reader, please. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thanks and happy reading all…

.

*perhatikan waktu karena alur maju mundur*

.

Summary         :

“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”

-Kwon Ji Yong-

“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”

-Park Sandara-

.

-PART 9 (END)-

 .

Seoul, August 2015

Pria itu kini dikawal oleh dua orang polisi di samping kiri dan kanannya. Jalannya lemah seraya menunduk, memperhatikan ubin putih sel penjara. Pembacaan putusan telah ia dengarkan saat sidang akhir yang baru digelar tadi pagi. Kini ia tidak bisa berkata apapun. Tak ada lagi sesuatu yang dapat ia lakukan, tak ada lagi orang yang dapat membantunya. Perusahaannya telah habis dilikuidasi karena hutang yang menumpuk dimana-mana serta denda yang harus ia bayar. Yang tersisa saat ini hanyalah rumah pribadi dengan segala asetnya yang beruntung masih bisa terselamatkan.

Ji Yong kini duduk di kursi besuk dengan mengenakan pakaian berwarna oranye khas orang pesakitan. Sipir penjara mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu dengannya setelah persidangan pembacaan putusan. Ia hanya diberi waktu tak lebih dari tiga puluh menit untuk menemui seseorang yang tak ia ketahui itu. Dengan dua orang polisi yang berjaga-jaga di belakangnya, ia menatap pintu di seberang ruangan yang terpisah oleh kaca tersebut. Betapa terkejutnya ia bisa melihat tubuh itu lagi. Matanya terbelalak menatap kehadiran gadis yang kini tengah duduk di hadapannya dengan kaca yang membatasi jarak di antaranya.

“Dara-ya?”

Gadis itu tersenyum, menampakkan senyum tulus yang sudah lama tak pernah Ji Yong lihat lagi. Matanya berkaca-kaca, ia juga terharu melihat pria itu lagi berada dalam jarak pandangnya. Setelah kematian Il Woo, Daradinyatakan depresi. Tekanan beban berat dalam pikirannnya membuat ia tak sanggup menahannya seorang diri. Ia bahkan harus menjalani terapi di salah satu psikiater ternama sebulan lamanya.

Baru kali ini ia memberanikan diri untuk bertemu dengan Ji Yong, bertatapan muka lagi dengannya setelah semua kejadian buruk menimpa dirinya. Ia harus kehilangan Il Woo, tunangannya yang dengan tulusnya mencintai bahkan mungkin jika ia masih hidup dapat menikahinya. Pria tulus itu kini telah tiada, terkubur bersama jasa-jasa baiknya dan segala angan-angan bahagia yang tak dapat ia wujudkan bersama Dara.

Kini ia memberanikan diri untuk melihat pria itu. Ji Yong. Pria bajingan yang dengan tak tahu malu telah membodohinya, membuat hatinya tercabik-cabik hingga ke dasar, melakukan hal nista padanya, hingga membuat ia harus kehilangan Il Woo untuk selama-lamanya. Segala macam dosa yang pria itu lakukan mungkin tak dapat lagi ia sebutkan satu-persatu. Kesalahan pria itu bertumpuk terlalu banyak, membuat ia merasa tolol dan terkutuk karena dengan konyolnya masih mencintainya sekeras apapun ia menyangkal.

Dara hanya tak ingin membuang waktunya lebih lama lagi. Sudah cukup waktu yang ia habiskan untuk mencoba melenyapkan semua rasa serta kenangannya dengan pria itu. Sekeras apapun ia mencoba bahkan hingga bosan, kenyataan akhirnya akan selalu sama. Hatinya akan selalu kembali mengingat nama itu. Kwon Ji Yong. Ia tak ingin terus mengingkari hatinya dengan mencoba terus-menerus berpaling dari pria menyedihkan yang kini berada di hadapannya itu. Ia akan mencoba untuk jujur pada dirinya sendiri.

“Ji Yong-ah… Priaku.”

*****

“Ji Yong-ah… Priaku.”

Tetes air mata kini dengan lancangnya turun mengalir di pipiku. Mendengar bibir cheri itu melantunkan kata yang luar biasa membuatku ingin merengkuhnya saat ini juga jika tak terhalang kaca sialan di hadapanku. Priaku. Ia menganggapku sebagai miliknya? Ya, gadisku. Aku priamu. Pria bajingan yang dengan lancangnya merenggut seluruh kebahagiaanmu bahkan kesucian yang seharusnya kau jaga. Aku menunduk. Menangis. Berharap waktuyang dapatterulang kembali. Berharap waktu diulang jauh di saat sebelum aku mengenalnya. Ck, pengharapan bodoh.

Jika memang waktu bisa diulang kembali, aku lebih memilih untuk tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis ini untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya.

Tubuhku selalu bereaksi di luar kendali saat melihatnya berada dalam jarak pandangku, aku terlalu terobsesi menjadikan ia milikku tanpa pernah tahu penderitaan macam apa yang akan ia alami setelahnya. Rasaku padanya membuatku menghancurkan diriku sendiri dan juga dirinya. Tolol! Aku seharusnya bisa mengendalikan semua ini dan menjaganya baik-baik. Namun aku malah membuat semuanya hancur berantakan. Bahkan pria lain yang seharusnya bisa menjaga dan mengasihinya saat ia berada dalam kesusahan telah ku renggut nyawanya dengan tangan kotor ini.

Bejat! Kau pikir kau mencintainya, Ji Yong? Tidak! Kau pria yang menghancurkan masa depannya! Merenggut seluruh kebahagiannya yang tersisa hingga tak menyisakan sedikitpun alasan untuk membuat gadis ini tertawa ceria kembali seperti dulu. Kini aku hanya bisa mengasihani diriku sendiri, menyesali semua kelakuan mengerikan bagaikan iblis di penjara. Ku rasa ini adalah tempat yang pantas untuk orang sepertiku. Atau bahkan haruskah aku membusuk di sini bersama seluruh dosa-dosa yang tak terampuni?

“Berhentilah menyesali segala sesuatu yang telah terjadi.”

Wajahku mendongak, sadar bukan Dara yang mengucapkan kata-kata itu.

Eomma?”

*****

Eomma?”

Ji Yong menatap wanita itu dengan ekspresi wajah yang terkejut. Hye Mi kini berada di hadapannya dan dapat ia lihat dengan jelas. Mungkinkah matanya masih normal? Seingatnya bahkan wanita itu koma, tergeletak di ranjang rumah sakit setelah terjadinya insiden kecelakaan di tangga karena kesalahan Ji Yong yang bersikeras untuk mengusirnya. Dokter mengatakan harapannya untuk pulih seperti sedia kala amatlah kecil. Namun apa yang ia lihat sekarang ini? Walau terlihat lemah, wanita itu duduk di kursi roda sebelah Dara dengan kepala yang masih diperban.

“Tak ada yang perlu disesali atas semua kejadian buruk yang menimpamu, Yong-ah. Sejujurnya aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku lagi di hadapanmu, apalagi untuk datang menjengukmu. Aku minta maaf karena terlalu berdosa padamu,” Hye Mi mengusap air mata yang mengalir di pipinya, “Aku minta maaf, Yong-ah. Aku memang ibu yang tak tahu diri telah meninggalkan kau hingga harus berjuang sendirian menghadapi hidup. Aku egois, wanita hina yang dengan lancangnya kembali padamu hanya karena merasa tak ada lagi pegangan dan mengincar kemewahan dari anak yang telah aku tinggalkan.”

Ji Yong tak dapat membendung lagi tangis hebatnya. Ia meluapkan segala emosi yang ia rasakan sekarang. Marah, sedih, kecewa, sesal kini bercampur baur dalam isak tangisnya. Kini ia bisa melihat pancaran mata tulus sekaligus penyesalan dari Hye Mi. Ia juga merasa telah berdosa atas kecelakaan yang menimpa ibu kandungnya. Seberapa besar ia menyimpan dendam pada Hye Mi, namun tetap ia adalah darah dagingnya. Anak kandungnya.

“Jalani sisa hukumanmu dengan baik di sini. Setelah itu, kau harus berjanji akan menata kehidupanmu lagi dari awal. Kau harus jadi manusia yang berguna. Jangan kau jadikan dirimu manusia hina layaknya aku. Aku yang kini berlumur dosa masa lalu dan penyesalan seumur hidup,” Hye Mi menghela napas, “Dan aku pun berjanji, setelah ini aku akan pergi menjauh dari hidupmu. Akan ku pastikan kau tak akan pernah melihat wajah menjijikkan ini lagi.”

Hening kini menyelimuti ruangan itu. Tak ada yang mampu bersuara selain detak jarum jam yang menandakan waktu kunjungan yang sebentar lagi akan habis.

Mianhae.”

Satu kata terucap dari bibir gemetar Ji Yong.

“Atas seluruh dosaku pada kalian, aku minta maaf. Semua kejadian masa lalu yang penuh dengan kenangan kelam, aku akan menebusnya dengan seluruh daya yang dapat aku lakukan. Bagaimanapun caranya, bahkan jika kalian menginginkanku membusuk di penjara.”

“Yong-ah…”

Ji Yong menunduk lagi, “Dosa-dosaku telah melebihi manusia terkutuk yang pernah ada di muka bumi. Aku telah merenggut harta berharga gadis yang kucintai, merampas seluruh kebahagian yang ia miliki. Bahkan tunangannya sendiri yang harusnya bisa menjadi tumpuan telah aku habisi nyawanya dengan tangan hina ini. Walau mungkin kata maaf tak pantas terlontar dari mulut bajinganku, namun aku hanya bisa mengatakan itu. Mianhae, Dara-ya.”

Dengan punggung tangan lemahnya gadis itu menyeka asal air matanya yang sedari tadi tak berhenti mengalir, “Tak peduli seberapa besar kau melakukan hal nista padaku, tak peduli seberapa besar dosa yang telah kau perbuat hingga menyakiti hatiku, kau tetap priaku.”

Dara meraba kaca di hadapannya, seakan-akan menyentuh Ji Yong dengan tangan lemahnya, “Hatiku akan selalu memaafkanmu, Ji Yong-ah.”

Seiring dengan kalimat itu terlontar, maka mereka bertatapan. Air mata semakin deras menganak sungai di pipi dua insan yang penuh haru. Pandangan mereka tulus, menandakan perdamaian dengan segala masa lalu kelam yang pernah mereka lewati. Mereka bahkan tersenyum kini, tanda saling memaafkan tanpa perlu berkata-kata lebih jauh. Ini sudah cukup mengartikan segalanya. Mengakhiri segala kesalahan mereka di masa lalu.

Tanpa sadar, Hye Mi juga tersenyum dan turut terharu dengan perdamaian tersirat antara Ji Yong dan Dara. Kini ia rasa tugasnya telah selesai setelah datang ke tempat iniuntuk menemui Ji Yong, memohon maaf darinya. Ia juga merasa lega, setidaknya ia tak perlu lagi mengkhawatirkan putranya karena ada Dar. Walaupun ia baru bertemu dengannya tadi pagi saat akan menjenguk Ji Yong dan mereka hanya berbicara sekadarnya, namun ia yakin gadis itu baik untuk Ji Yong.

“Kau akan pergi?” Ji Yong bertanya ketika Hye Mi menggerakkan kursi rodanya, memutar menuju pintu.

Hye Mi kemudian hanya sekilas menolehkan kepalanya pada Ji Yong dan Dara secara bergantian seraya sedikit mengulaskan senyum tanda perpisahan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia segera mendorong kursi rodanya untuk segera meninggalkan tempat itu.

“Tetaplah di sisiku.”

Terhentilah dengan tiba-tiba seluruh pergerakan Hye Mi.

“Jika Dara saja bisa memaafkan segala kesalahan bajingan sepertiku yang fatal di masa lalu, maka izinkanlah aku juga untuk memaafkanmu. Ku harap kau sudi membukakan pintu maaf untuk anak durhaka yang telah begitu berdosa menyimpan dendam untukmu. Mari kita buka lembaran baru dengan kau yang tak akan meninggalkanku lagi, eomma.”

Ji Yong mengucapkan itu. Kata yang telah lama tak pernah menyambangi telinganya semenjak keegoisannya bertahun-tahun lalu. Eomma. Kata itu bahkan tak pernah Hye Mi kira akan mengalun begitu merdunya keluar dari bibir putranya. Tangis haru itu pecah lagi, bahkan kini dihiasi dengan senyum tulus berarti dari bibirnya seraya menatap mata cokelat keturunannya. Jika saja ruangan mereka tak dibatasi dengan kaca, mungkin saat ini juga Hye Mi telah mendekap erat Ji Yong dalam pelukannya.

Mereka bertiga menangis, meluapkan segala emosi kebahagiaan juga perdamaian yang telah tersampaikan setelah sekian lama. Walaupun gadis itu tak mengerti dengan jelas masalah antara keduanya, ia juga turut lega atas perdamaian Ji Yong dan Hye Mi. Mereka semua kini telah saling meminta maaf dan memaafkan satu sama lain atas segala dosa yang telah diperbuat di masa lalu. Dara bahkan dengan berani merangkul Hye Mi dari samping dan tersenyum tulus padanya. Tanda perkenalan yang sungguh manis Hye Mi rasakan dari rangkulan lembut Dara.

Tak terasa, bunyi alarm menandakan waktu kunjungan mereka akan segera habis. Hanya tinggal satu menit yang tersisa kini. Ji Yong dengan sigap langsung didatangi oleh dua orang petugas yang sedari tadi menjaganya. Walau bagaimanapun, ia harus menjalani sisa hukuman tiga tahun yang telah divonis hakim. Sebenarnya ia bisa dinyatakan tidak bersalah karena kasus pembunuhan itu terjadi karena perlindungan diri dari serangan Il Woo selaku korban. Namun karena setelah kejadian itu Ji Yong menghilang untuk kabur dan membiarkan Il Woo meregang nyawa sendirian, maka ia diputuskan menjadi tersangka dan bersalah atas kematian Il Woo.

Ji Yong untuk terakhir kalinya hanya bisa mengumbar senyum pada dua orang perempuan yang kini masih berangkulan di hadapannya. Dua perempuan yang amat sangat ia cintai. Ji Yong bersumpah, setelah terbebas dari hukumannya, ia akan menata kehidupannya lagi dari awal seperti permintaan Hye Mi. Ia juga akan merebut kembali kesuksesannya. Ia akan menjadi pengusaha muda, tampan, dan kaya layaknya dulu. Ji Yong bersungguh-sungguh untuk janjinya.

Dalam lubuk hatinya, ia amat berterima kasih. Ia bersyukur pada Tuhan, yang telah memberikan kesempatan kedua untuknya agar bisa terlahir kembali menjadi manusia yang utuh dengan bergelimang kasih sayang terutama dari orang-orang yang berarti di hidupnya. Terima kasih untuk Hye Mi, ibu kandungnya yang walaupun telah menelantarkannya, namun kini ia telah kembali dan sanggup untuk memaafkan kesalahan yang hampir merenggut nyawanya. Terutama untuk gadis itu, ia tak henti mengucapkan rasa syukur. Sandara. Gadis yang telah ia lukai namun dengan tulusnya masih mencintai bajingan egois seperti dirinya.

Saat hendak melangkah keluar dari pintu untuk kembali ke sel, tiba-tiba Dara berteriak memanggilnya hingga Ji Yong berhenti sejenak lalu menolehkan kepalanya.

“Kembalilah setelah tiga tahun, Ji Yong-ah. Aku dan ibumu akan tetap setia menunggu hari kebebasanmu,” Dara tersenyum tulus, “Bersama anak kita juga,” ucapnya untuk terakhir kali seraya mengelus perutnya dengan tangan kiri yang di jari manisnya tersemat cincin pemberian Ji Yong.

*****

Seoul, August 2020

“Pergi dari hadapanku!”

Dara memaki. Membuat Ji Yong terbelalak di hadapannya.

“Sudah kubilang pergi!”

“Ada apa denganmu?”

“Aku tak suka kau berada di dekatku. Kumohon pergilah.”

Mwoya? Yak, apa maksudmu?”

Pria itu masih mengenakan setelan jas resminya. Ji Yong bahkan baru saja tiba sesaat setelah bergelut dengan tumpukan berbagai macam dokumen perusahaan. Ia menghabiskan seharian penuh berada di kantor, dan pulang ketika hari telah berganti malam. Begitu masuk kamar, ia langsung memeluk tubuh Dara dari belakang yang tengah duduk di meja rias. Berniat untuk bermanja padanya, namun sebuah reaksi tak terduga didapatkan dari gadis itu.

Bukan sapaan lembut dan sentuhan hangat darinya, namun makian yang keluar dari mulut gadis itu? Apakah ini masuk akal, huh? Bagaimana mungkin suami yang baru pulang kerja diusir di hadapan istri yang amat dirindukannya?

“Aku tak suka bau tubuhmu.”

Keningnya berkerut. Ji Yong mengarahkan hidung pada masing-masing ketiaknya. Ia mengendus, merasa tak ada yang salah dengan aroma tubuhnya. Ia memang berkeringat, tapi bukankah itu sudah biasa bagi Dara yang selalu menyambut kedatangannya setelah pulang kerja? Mengapa harus dipermasalahkan saat ini? Bahkan aroma parfum yang dipakainya tadi pagi masih tercium samar-samar, “Aku tidak bau.”

Dara menutup hidung dengan kedua tangannya. Ia menggeleng tegas, “Pergilah. Aku mual.”

Setelah mengucapkannya, gadis itu pergi ke kamar mandi. Ji Yong mengikuti, namun langkahnya terhenti dengan pintu kamar mandi yang dibanting di depan mukanya. Sial! Pria itu mengumpat. Apa yang terjadi dengan istrinya? Seingatnya, tadi pagi gadis itu masih baik-baik saja, bahkan berperilaku manis terhadapnya. Tak lama kemudian, terdengar suara Dara yang sedang mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi. Apa ia sedang sakit? Ah, Ji Yong pun tak tahu dan hanya bisa menggeleng bingung.

Ia segera beralih pada lemari, berniat untuk mengambil baju gantinya. Namun tebak apa yang didapatinya saat ini! Lemari putih miliknya yang memang sengaja dipisah dengan milik Dara kini kosong. Bersih tak menyisakan satupun untuknya berganti baju. Lemari yang asalnya dipenuhi tumpukan kaos dan seluruh pakaiannya kini menghilang tak berbekas. Sederet gantungan pakaian kantornya pun raib. Bersih. Tak ada yang tersisa. Kejadian tak masuk akal apa ini? Kemana pakaiannya?

“Apa yang sebenarnya telah kau lakukan di rumah selama aku tidak ada?”

Dara telah keluar dari kamar mandi dan langsung dicecar pertanyaan oleh Ji Yong. Pria itu mengarahkan dagunya ke arah lemari, mengisyaratkan maksud ucapannya.

“Pakaianmu sudah ku pindahkan ke kamar lantai satu.”

Kamar lantai satu? Maksudnya… kamar tamu? Ia makin tak mengerti arah pembicaraan gadis itu.

“Semua barang-barangmu telah berada di sana.”

Ji Yong meneliti lagi sekeliling. Ternyata semua barangnya memang benar-benar telah lenyap dari ruangan itu, bahkan lemari aksesoris miliknya yang berada di sudut ruangan. Demi Tuhan! Ji Yong benar-benar telah lelah dan ingin segera beristirahat, namun gadis yang menjaga jarak di hadapannya ini membuat ia memutar otak ratusan kali akibat ulahnya. Ia menghembuskan napas kasar, lalu melempar tubuhnya ke kasur.

Persetan dengan keringat beserta pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya! Ia sungguh tak peduli. Ji Yong hanya ingin segera memejamkan matanya dan tidur dengan tenang. Sejujurnya, ia sangat bernafsu untuk meneriaki Dara, menanyakan apa maksud kelakuan sintingnya, namun rasanya tidak untuk malam ini. Tubuhnya memilih untuk menyerah. Lihat saja besok, ia akan mempunyai sejuta rencana untuk memberi pelajaran pada istrinya.

“Apa yang kau lakukan? Bangun, Ji Yong-ah!”

Ji Yong yang baru saja memejamkan matanya, ditarik paksa oleh Dara dengan kekuatan yang tak main-main. Tubuhnya limbung. Bokongnya mencium lantai setelah mendarat dengan cukup keras hingga ia menjerit luar biasa gaduh, “Yak, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau mengatai suamimu bau, menghilangkan semua barang miliknya dari kamar, dan bahkan kau tak mengizinkanku untuk tidur?” Ji Yong berdiri seraya meringis mengusap pantatnya, “Aku lelah, Dara-ya. Bicaralah yang jelas agar aku mengerti maksud dari perlakuan bodohmu.”

Wajah gadis itu tak bersahabat. Dara menatap Ji Yong kesal seraya mendengus. Setelah mengambil sesuatu di laci nakas tempat tidur, gadis itu melemparkan sebuah benda ke atas kasur. Ji Yong melihatnya. Merasa tak asing dengan benda putih kecil panjang itu. Ia melihat ada dua garis merah di sana. Ini… test pack? Ya, bukankah ini alat tes kehamilan? Dan apa yang kini dilihatnya? Dua garis? Mungkinkah… positif? Istrinya hamil?

“Kau…”

Dara menghela napas, “Itu semua akibat ulahmu yang tak sabaran. Bukankah sudah ku bilang untuk pakai pengaman? Aish, kau memang selalu bertindak sesukamu.”

Ji Yong takjub. Rasa kantuk dan kesalnya beberapa saat lalu sempurna hilang tak berbekas. Dara hamil! Perasaannya membuncah, meluap-luap tak henti. Sungguh tak terkira betapa bahagianya ia saat ini. Kilatan matanya berbinar, menatap wajah Dara serta perutnya yang masih rata bergantian. Inilah kabar yang ia tunggu-tunggu selama ini. Terima kasih Tuhan, kau wujudkan keinginan yang terpanjat dari pria itu di hampir setiap malamnya.

Tubuhnya spontan mendekat, membawa Dara dengan cepat dalam dekapannya. Ji Yong memeluk erat tubuh istrinya, mengecupi helaian rambutnya dengan penuh kasih sayang, “Terima kasih, Dara-ya. Terima kasih.”

“Lepaskan aku!”

Dengan sekali hentak, gadis itu mendorong tubuhnya. Membuat manik Ji Yong melebar karenanya.

“Mulai malam ini, kau tidur di kamar lantai satu.”

Mwo?”

Dara memegang perutnya, “Anakmu tak suka berdekatan dengan ayahnya.”

“Yak! Bagaimana mungkin…”

“Tak bisakah kau dengar aku muntah setelah kau datang tadi? Asam lambungku langsung naik setelah menghirup aroma yang menguar dari tubuhmu. Bahkan aroma dari barang-barangmu saja aku tak bisa menahannya.” Dara menyela, “Aish, aku mulai mual lagi karenamu. Pergi, Ji Yong-ah. Untuk sementara, kau dilarang dekat-dekat denganku.”

“Hei, kau pikir ini masuk akal? Kau istriku. Bagaimana mungkin aku harus menjaga jarak denganmu?”

“Lalu kau ingin aku muntah-muntah setiap berada di dekatmu?”

Ji Yong sempurna menganga. Ekspresinya tak dapat dijelaskan lagi saking tak mengerti dengan situasi tak waras ini. Beberapa saat lalu dirinya bahagia bukan main saat mendapati istrinya hamil, namun kini ia bahkan dilarang untuk berdekatan dengannya? Ia harus tidur terpisah karena keinginan calon bayi mereka? Astaga, apakah kenyataan harus menamparnya sesakit ini?

Appa?”

Perhatian kedua orang yang sedang berdebat itu tiba-tiba teralihkan. Di sana terdapat seorang gadis kecil yang berdiri di ambang pintu. Mengenakan piama motif polkadot seraya membawa boneka beruang kesayangannya. Ia datang setelah berlarian dari kamarnya yang berada di seberang kamar Dara dan Ji Yong.

“Da Mi-ya, kau belum tidur?”

Ia menggeleng lemah, “Aku tak bisa tidur karena suara appa dan eomma yang terdengar ke kamarku.”

Ji Yong menatap tajam Dara yang masih melipatkan tangan, lalu beralih pada Da Mi, “Ah, mian, Da Mi-ya. Eomma sepertinya sedang sensitif hari ini.”

Gadis berusia empat tahun itu mengucek mata sayunya saat Ji Yong berjongkok di hadapannya. Kwon Da Mi. Gadis mungil cantik dengan wajah perpaduan Dara dan Ji Yong yang terbingkai manis di dirinya. Siapapun yang melihatnya akan langsung gemas dengan pipi tembamnya. Merah meronabagai buah tomat. Jangan lupakan manik hazel dan hidung bangirnya yang ia warisi dari Dara.

Sementara bibir merah mudanya berbentuk hati, mengingatkan pada Ji Yong. Lihat ketika ia tersenyum! Lengkungan garis bibir jelmaan Ji Yong dalam bentuk seorang bocah perempuan menggemaskan. Perpaduan yang sempurna. Ji Yong mencubit pipinya dengan gemas seraya membuahkan satu kecupan kemudian di pipi Da Mi. Membuktikan rasa sayangnya yang begitu besar terhadap putrinya.

“Bisakah appa tidur di kamarmu malam ini?”

Waeyo?”

Ji Yong merengut, menimbulkan ekspresi menyedihkan yang dibuat-buat, “Appa diusir oleh eomma.”

“Yak! Ji Yong-ah….”

“Lihat! Ia bahkan meneriaki appa, Da Mi-ya,” ucap Ji Yong seraya membuat suara tangisan menyebalkan, memekakkan telinga Dara.

Eomma, kasihan appa.”

Dara memutar maniknya kesal, apa-apaan pria itu? Bagaimana mungkin ia berlaku kekanakkan? Saat ini Ji Yong tengah mengadu domba dirinya dan Da Mi? Oh Tuhan, bahkan ia juga bersembunyi di belakang tubuh putrinya. Menjulurkan lidah dengan cara yang super menyebalkan. Astaga, ulahnya benar-benar keterlaluan.

“Da Mi-ya, eomma tak berniat untuk mengusir appa,” Dara mendekati putrinya perlahan, “Lihatlah, di dalam sini akan segera tumbuh seorang adik kecil untukmu,” ucapnya seraya memegang perut ratanya.

Maniknya membulat, “Adik? Untukku? Jinjja, eomma?”

“Eoh,” Dara meyakinkan, “Bukankah kau juga menginginkannya?”

Dami mengangguk mantap dengan pandangan berbinar.

“Apakah ia laki-laki? Atau perempuan? Mengapa ia tinggal di perut eomma?”

Eomma belum tahu, sayang. Saat ini ia masih sangat kecil sehingga belum terlalu terlihat. Perut eomma adalah tempat paling nyaman baginya untuk saat ini.”

“Lalu kapan aku bisa melihatnya?”

Dara menggumam, “Mungkin… sekitar sembilan bulan lagi.”

Da Mi mengangguk semangat setelahnya. Maniknya tak lepas dari perut ibunya. Tak sabar menanti adik yang memang diinginkannya belum lama ini. Sesekali juga menyentuhnya takut-takut. Ia akan jadi seorang kakak, pikirnya.

“Tapi… ia tak suka jika berdekatan dengan appa.”

“Memangnya kenapa?”

Appa-mu… bau.”

Dara menutup hidung dengan sebelah tangannya. Sementara tangan lain mengipasi udara di sekitarnya. Meskipun sebenarnya ia juga tak tahan dengan aroma suaminya, namun tujuan utama ia melakukan ini adalah untuk balas dendam atas perlakuan Ji Yong. Rasakan kau!

Appa, kau belum mandi?”

Mwo?”

Da Mi meneliti Ji Yong yang masih mengenakan pakaian kantornya, “Pantas saja appa diusir. Kau harus segera mandi, appa. Kasihan adikku jika appa mengganggunya. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya.”

Ji Yong terbelalak mendapati putrinya bagai orang dewasa yang sedang menegurnya, “Da Mi-ya, kau berpihak pada siapa sebenarnya?”

“Tentu saja pada adikku yang sedang berada dalam perut eomma.”

“Da Mi-ya…”

“Dan aku tidak mau appa tidur di kamarku jika belum mandi. Appa bau,” ucapnya seraya menjulurkan lidah pada Ji Yong.

Ji Yong dan Dara berpandangan. Seringaian terukir jelas dari bibir cheri istrinya. Ia berdecak. Sial! Ji Yong harus mengaku kalah untuk kali ini.

*****

Seoul, December 2020

“Kau sudah bangun?”

Pria itu datang dengan pertanyaan basa-basi. Tak terasa empat bulan telah berlalu setelah kabar kehamilanku. Kini aku tak lagi alergi untuk berada di dekatnya. Aku bahkan sering menanyakan keberadaannya saat ia tak berada di sisiku. Aku merindukannya. Hampir di setiap waktu. Pria yang tampan. Bahkan hanya dengan mengenakan celana jeans selutut dan kaus putihnya. Seperti saat ini. Kedatangannya membawa secangkir minuman panas dengan kepulan asap di atasnya.

Aku yang sedang berbaring kemudian menutup buku di pangkuan. Aku bangun, lalu menyandarkan punggung pada dashboard ranjang. Menyambut kedatangannya. Akhir-akhir ini aku banyak menghabiskan waktu dengan banyak membaca buku. Mungkin ini karena Ji Yong yang memintaku untuk lebih banyak tinggal di rumah selama masa kehamilan. Rata-rata novel dengan genre misteri atau thriller koleksi Ji Yong. Apakah ini pengaruh bayiku? Entahlah. Yang jelas aku sangat menikmati kegiatanku.

“Bukankah sudah ku bilang untuk menutup jendela? Kau gemar membiarkan tubuhmu terkena angin musim dingin, huh?”

Aku memang suka semilir angin musim dingin, namun ia terus saja mengomel karena kebiasaanku itu. Jantungku serasa berhenti berdetak tiba-tiba untuk beberapa saat. Kejadian sama dengan pria berbeda. De javu! Aku mengamatinya. Ji Yong mengomel seraya menutup jendela kamar yang memang sengaja ku buka setelah meletakkan teh hangat yang ia bawa di atas nakas. Mengingatnya kembali serasa melemparku paksa ke masa lalu.

Ji Yong mendekat untuk duduk di sebelahku, “Kau sedang hamil, Dara-ya. Perhatikan juga kondisi bayiku, arrasseo?”

“Yak! Ini juga bayiku.”

“Bayi kita,” ucapnya dengan senyuman seraya mengusap lembut perutku yang sudah mulai membuncit.

“Da Mi sudah pergi?”

“Eoh, eomma sudah membawanya saat kau tidur tadi sore.”

Gadis kecil itu memang telah mempunyai janji dengan neneknya untuk pergi saat malam tahun baru. Mereka berencana untuk menghabiskan malam yang penuh kemeriahan dengan mengelilingi pusat kota dan tentunya belanja beberapa barang. Eommoni. Begitulah aku memanggil ibu Ji Yong. Perkenalan kami untuk pertama kali saat di penjara berlanjut menjadi hubungan yang lebih erat setelah Ji Yong menikahiku.

Pria itu bebas tiga tahun lalu. Karena mendapat keringanan, ia hanya menjalani masa tahanan selama dua tahun lima bulan. Sebuah waktu yang cukup lama dengan aku yang berjuang untuk merawat bayi yang saat itu masih berada dalam kandungan, hingga akhirnya ia lahir ke dunia. Eommoni juga tentunya sangat membantuku selama masa itu. Ia rajin datang ke rumah dan membawakanku beberapa makanan.

Kwon Da Mi. Itulah nama yang diberikan Ji Yong saat putri kecil kami lahir. Nama itu adalah nama yang sama dengan mendiang kakak kandungnya. Nama yang cantik. Sebuah pengharapan agar ia dapat memperlakukan gadis manis ini sebagaimana ia memperlakukan saudaranya dengan penuh kasih sayang. Sebuah pengobat rindu bagi Ji Yong maupun ibunya, tentang sosok cantik yang sayangnya harus meninggal tragis di usia muda. Dan juga sebuah penebus dosa bagi Hye Mi atas kesalahannya di masa lalu.

Aku sebelumnya tak mengetahui ia pernah mempunyai saudara. Selama beberapa tahun aku berkencan dengannya, ia selalu tertutup jika menyangkut soal keluarganya. Setelah aku mengandung, barulah ia terbuka padaku. Tentang semua hal di hidupnya. Aku tak pernah tahu ia menyimpan luka yang amat besar selama bertahun-tahun. Aku tak tahu jika pria menyebalkan itu berusaha seolah tegar dengan hidupnya yang jauh lebih nelangsa dibanding aku.

Tolol! Sumpah serapah adalah hal pertama yang aku tujukan pada diri sendiri setelah mengetahui kebenaran tentangnya. Aku terlalu bodoh. Gadis yang tak pernah peka, bahkan untuk pasangannya sendiri yang telah lama bersamanya. Maafkan aku, Ji Yong-ah. Maaf telah membuatmu merasakan sakit seorang diri selama ini.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

Pertanyaan darinya menyentakku ke alam sadar, “Tidak, hanya saja rasanya kepalaku dipenuhi berbagai macam pikiran.”

“Ibu hamil tidak boleh stres. Bukankah kau tahu jika kesehatanmu akan berpengaruh pada bayinya?”

Aku tersenyum, ia menjadi lebih perhatian akhir-akhir ini.

Aigoo, kau membaca novel ini lagi? Bagaimana mungkin ibu hamil membaca novel pembunuhan seperti ini?” Ji Yong mengambil buku yang sedaritadi berada di dekatku.

“Memangnya kenapa? Aku menyukainya, Ji Yong-ah. Lagipula itu juga koleksimu. Bisakah kau belikan lagi untukku? Ku dengar sudah ada buku series ketiga di toko.”

“Kau ketagihan, huh?” Ji Yong mendesah, “Ini memang koleksiku, tapi ini bukanlah bacaan yang sesuai bagimu. Mungkinkah… ini pengaruh dari bayinya?”

Aku berpikir sejenak, “Mungkin saja. Mungkin ia akan lahir menjadi lelaki yang menyeramkan sepertimu. Yang dapat membunuh lawannya dengan sekali tatapan tajam.”

Ji Yong tersenyum masam, “Asalkan ia tak menjadi pembunuh sepertiku, ku rasa ia akan baik-baik saja.”

Aku menutup mulut, sadar akan kesalahan ucapanku terhadapnya. Aku hanya berusaha menggodanya tadi. Oh Tuhan, aku sungguh tak bermaksud untuk mengungkit hal itu lagi.

Gwaenchana, Dara-ya.”

“Ji Yong-ah.”

Ia menatapku.

“Sejujurnya aku teringat Il Woo,” aku menjeda, “Aku… rindu padanya.”

Rindu? Ku rasa itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini terhadap pria yang telah tiada itu. Bukan bermaksud menduakan hatiku pada Ji Yong, aku pun yakin pria itu mengerti akan maksudku. Bagaimanapun juga, Il Woo telah memberikan kenangan yang sampai kapanpun tak akan tergantikan untukku. Walau hingga akhir kami tidak bisa bersama, namun setidaknya aku pernah berjanji padanya. Berjanji untuk memilihnya. Namun kenyataan berkata lain dengan ia yang harus mempertaruhkan bahkan kehilangan nyawanya demi gadis munafik sepertiku.

Aku bersalah terhadapnya? Ya. Harus ku akui bahwa aku memiliki dosa yang sangat besar terhadapnya. Pengorbanannya yang belum sempat terbalas membuatku menyesal dengan kenyataan bahwa pria sebaik itu harus pergi lebih cepat. Ji Yong pun begitu, walau ia tak sengaja melukainya, namun ia memiliki peran besar dalam musibah yang merenggut nyawa pria itu. Aku mengerti bagaimana perasaannya.

Kematian Il Woo adalah hal yang harus kami sesali sepanjang hidup. Kami akan terus terbayangi dosa karena kepergiannya. Itulah kenyataan yang harus kami terima. Terutama aku yang dengan bodoh tak bisa membalas semua rasanya hingga akhir karena takdir yang memisahkan. Aku menyesal untuk itu. Sangat. Namun aku akan tetap menjalani hari-hariku dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa syukur.Bukankah hidup harus tetap berjalan?

“Kau ingin menemuinya?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, akan ku antar besok. Aku juga akan membelikan mawar putih untuknya. Ku harap ia menyukainya,” Ji Yong tersenyum, “Oh ya, ini untukmu.”

Aku tertegun. Melihat sebuah kotak berukuran sedang di hadapan yang baru diambil Ji Yong dari dalam laci. Ia telah menyiapkan ini sebelumnya? Apakah… kado tahun baru untukku? Romantis sekali pria itu. Aku tak sanggup berkata-kata setelah mendapati isi di dalamnya. Kado ini… luar biasa. Sangat indah. Sebuah sepatu mungil berwarna biru, lengkap dengan kaus kakinya. Kami berpandangan untuk yang kesekian kalinya.

“Kado tahun baru kali ini ku berikan khusus untuk calon bayi kita.”

Aku tidak bisa untuk tidak memeluknya. Meraih leher pria itu seraya mengelus surai hitamnya dengan pandangan yang mulai samar. Tergenangi dengan air mata di pelupuk. Katakanlah aku memang cengeng dan lebih sensitif setelah menjadi seorang ibu. Dengan kejadian yang telah dialami, aku sadar bahwa hal ini merupakan pendewasaan bagi kami berdua. Baik aku meupun Ji Yong. Di balik semua peristiwa menyedihkan, Tuhan pasti telah menyiapkan rencana yang jauh lebih baik. Dengan kehadiran Da Mi, serta calon bayi dalam kandungan yang telah diprediksi berjenis kelamin laki-laki, hidupku serasa telah lengkap.

Juga jangan lupakan pria di hadapanku. Priaku. Titik balik di hidupnya lima tahun lalu merubahnya begitu banyak ke arah yang positif. Aku bahagia bisa melihat perubahannya yang luar biasa setelah menjadi seorang ayah. Perhatian tulusnya meluluhkanku, tak disangka ia memiliki sifat yang jauh lebih lembut dari sekadar yang dibayangkan. Iaadalah ayah yang bertanggung jawab. Walaupun tak sebesar dulu, namunia saat ini telah berhasil untuk membangun lagi perusahaannya. Aku bangga terhadapnya.Ji Yong adalah sosok seorang suami perhatian dan ayah yang pekerja keras bagi keluarga.

Walaupun kesombongannya masih setinggi langit dan sering menggoda dengan mulut besarnya yang menyebalkan itu, namun aku sungguh mencintainya. Sangat. Katakankah aku gila. Kenyataannya aku memang tergila-gila pada pria tampan ini. Kasih sayangku tak terkira hanya untuknya. Seperti janji saat pernikahan, kami tak akan terpisahkan. Kami telah saling terikat satu sama lain hingga tak ada celah bagi kami untuk melarikan diri kemanapun. Aku tak akan pernah meninggalkannya lagi. Aku akan tetap bersamanya. Sampai kapanpun. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk menghabiskan sisa usiaku hanya dengannya.

Ahjussi mesum-ku. Kwon Ji Yong.

“Terima kasih, Ji Yong-ah.”

*****

 

END!

 

Note:

Finally END!!! Terima kasih bagi pembaca setia dan maaf bila masih banyak kekurangan di FF ini. Diharapkan review-nya ya readers^^

Advertisements

24 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #9-End

  1. Udahh ending ajaa,sumpah ya kirain gabakal happy end loo nih ff:( but finally happy end walaupun prjalanan ji sama dara di ff ini gak mulus bgttt tp sneng bacanyaa kkkk di tggu karyanya yg lain thor^^

  2. Udahh ending ajaa,sumpah ya kirain gabakal happy end loo nih ff:( but finally happy end walaupun prjalanan ji sama dara di ff ini gak mulus bgttt tp sneng bacanyaa kkkk di tggu karyanya yg lain thor^^

  3. Kyaaaa so sweet banget ending nya. Sempet deg2an pas Ji jd pembunuh tp akhirnya bebas dan punya kisah bahagia sm Dara. Thanks thor udh bikin cerita yg happy ending buat couple ini 🙂

  4. Jujur. Awalnya aku mikir ff ini genrenya romance comedy setelah baca gimana cara pacaran mereka dulunya di chapter awal. Memasuki chapter pertengahan(?) Mulai kerasa genre angst dimana Dara ninggalin Jiyong ke London. Dan chapter terakhir memasuki genre pembunuhan(?) ato lebih tepatnya sih horror *ini menurutku aja karena ada adegan pembunuhan wkwkwk* So.. baca ff ini bikin aku deg-degan melulu. Rom-com nya ngena, angst juga, horrornya pun ngena. Suka dengan cara penulisan yang nggak ribet. Keren kerenn. Good Job buat author yang udah berbaik hati meluangkan waktu utk berpatisispasi sama FF Parade taun kemarin. Selamat berkarya. Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s